
Seorang pria berkepala plontos memegang gambar-gambar Alaric, dia memandang gambar Alaric dengan seksama. Terhenyak karena aura Alaric berbeda dari manusia pada umumnya, aura kebangsawanan dari seorang pangeran sangat melekat di tubuh Alaric walaupun menempatkan diri di tempat yang berbeda.
"Memangnya pria ini menyakiti mu? atau kau?" tanya pria berkepala plontos itu kepada Collins.
"Dia sangat menyakitiku, merampas yang seharusnya menjadi milikku," Sahut Collins menahan geram.
Albert, nama pria yang dimintai Collins untuk menelusuri latarbelak Alaric itu terheran. Dari dulu dia mengenal Collins, adiknya sangat bersahabat dengan Collins, mengenal karakter Collins yang baik hati dan lemah lembut, tapi melihat Collins memendam amarah, membuat Albert yakin, sakit hati Collins tidaklah main-main.
"Aku tidak tahu apanyang terjadi, tetapi jika amarah menguasai mu, jangankan orang lain, bahkan dirimu sendiri saja kau akan benci," Ucap Albert.
Collins sadar, bahwa perasaan tidak dapat dipaksakan, namun dia tidak lagi berniat memaksa Hazel untuk bersamanya, tetapi memerlukan latar belakang Alaric untuk dijadikan bukti bahwa pria itu akan menjadi pembahasan berita jika memiliki latar belakang buruk.
"Lakukan saja yang aku minta, ini bisnis, jika kau tidak ingin, aku bisa membayar orang lain," Kata Collins.
Dia memilih meniggalkan Albert bersama foto-foto Alaric, Collins merasa tidak pelru dinasehati hal-hal seperti itu, dia merasa tahu yang ahrus ia lakukan untuk membela dirinya yang telah tersakiti.
"Siapa pria ini? Mengapa Collins sangat membencinya?" Albert bertanya-tanya dalam hati.
Albert mulai menelusurinya, sebagai detektif yang handal, tak cukup lama jika ingin menemukan infromasi riwayat seseorang. Albert bahkan mampu menemukan siapa saja yang memalsukan identitasnya. Ketika berada di kantor, Albert sedang memeriksa seluruh filenya.
"Sepertinya kamu memiliki tugas baru?" tanya satu se profesinya itu.
"Iya, hanya tugas kecil, menelusuri latar belakang anak muda," Jawabnya singkat sembari menatap layar monitornya.
Albert terheran dengan sosok Alaric, setelah bergelut beberapa jam komputer, Albert menemukan pertanda untuk menelusuri keberadaan sebenarnya Alaric. Dia terkesiap dengan keanehan yang ia temukan.
"Apa ini?!" Albert bahkan memekik hingga terdengar oleh teman-temannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya salah satu dari temannya.
Albert hanya menganggukkan kepala, dia tersenyum miring menghadap ke layar monitornya. Sepertinya bukan hanya Collins yang penasaran siapa Alaric, sebagai pihak kepolisian, Albert juga bertugas untuk menelusuri siapa saja yang memalsukan identitas atau orang-orang yang ilegal masuk ke negaranya.
"Kau mau kemana?" tanya temannya.
"Tugas baru," sahut Albert yang kembali mengenakan jaket hitamnya.
Albert ke suatu tempat untuk memastikan yang dipikirannya memang benar atau tidak. Kali ini bukan lagi soal tugas Alaric, tetapi rasa penasarannya yang kuat.
***
Zhietta lebih banyak melamun di kursi goyangnya, semangat hidupnya kian memudar, harapan kembali ke London ialah dapat memperbaiki hubungannya lagi dengan Tommy, tetapi Tommy malah memilih untuk melupakannya, hingga bersama wanita lain. Bukan hanya Tommy yang membuatnya menyesal, tetapi telah menyia-nyiakan Efrat yang satu-satunya orang yang tulus mencintainya.
"Kau selalu menasehatiku untuk tetap terus berlanjut, tapi sementara kau yang seperti ini," ketus Valencia yang mengejutkan Zhietta.
Zhietta hanya melirik sejenak, "Kisahku lebih parah darimu, telah banyak ku korbankan, tapi akualu pada diriku sendiri, menikmati kesendirian dengan penyesalan," sahutnya.
Valencia memahami kesedihan Zhietta, tidak mudah bertahan hingga ratusan tahun untuk mengembangkan ambisinya, waktu, dan orang-orang yang ia cintai ikut terseret, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kegagalan dan penyesalan.
Zhietta tertawakan terbahak-bahak, dia yang memiliki kepribadian gengsi tidak akan memulai hal itu, Zhietta ingin inisiatif Tommy yang mencarinya, jika memang pria itu masih menyimpan rasa terhadapnya.
"Aku lelah untuk memulai, aku lelah untuk mencoba, itu adegan tujuh ratus tahun yang lalu, usaha itu ratusan kali aku coba, berpura-pura baik, berpura-pura melupakan, berpura-pura baik-baik saja, tapi itu hanya menemukan ini sekarang, aku diam melamun dinkuros goyang ini memikirkan Efrat dan cemburu kepada Tommy," jelas Zhietta mengutarakan segala isi hatinya kepada Valencia.
"Tapi kita juga harus melanjutkan hidup kita, tidak selamanya hanya mengandalkan emas yang kau kumpulkan iti, semuanya akan habis bila waktunya, apalagi usiaku malah muda, disini berusia 25 tahun, aku masih butuh kehidupan, ayo kita mulai kehidupan baru disini," ujar Valencia.
Gadis itu lelah juga untuk mengejar sesuatu yang semakin berlari menjauh darinya, setidaknya dia sudah menunjukkan kepada Alaric bahwa dia telah tersakiti oleh Alaric dan Hazel.
"Aku akan coba mencari orang yang pernah membuatkan identitas kepadaku, dia adalah orang ahli disini, lagipula aku masih tercatat sebagai istri Tommy secara hukum," kata Zhietta. Dia beranjak dari tempat duduknya.
Zhietta masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian, usai berdandan ala wanita London yang fashionable, Zhietta bersiap-siap ke suatu tempat.
"Kau hanya memakai pakaian itu?" tanya Zhietta.
Valencia memandangi penampilannya sendiri.
"Gantilah pakaiannu sekarang juga!" Perintah Zhietta.
Mendegar lengkingan Zhietta, Valencia bergegas masuk ke kamarnya pula untuk berganti pakaian.
"Anak itu, dia masoh suka memakai gaun-gaun kerajaan, memangnya di kira tidak aneh memakai gaun seperti itu di era modern, ahgg.." Zhietta mengomel.
Usai berganti pakaian, Valencia bergegas kembali ke Zhietta, wanita yang sudah dianggap adik olehnya itu memang harus belajar memadupadankan pakaian.
"Sudahlah, pakai itu saja. Akau akan membeliksn majalah nanti untuknu, biar kau tahu bahwa warna kuning dan hijau itu khusus untuk orang sirkus!"
Zhietta memesan taksi, dia segera ke kantor kependudukan untuk menemui seseorang, ada seorang perempuan yang seusianya ada di kantor itu. Dia sangat akrab dengan Zhietta.
"Hai, kau lama baru mengunjungi ku, pasti kau ingin meminta bantuan lagi," kata wanita itu yang tahu maksud Zhietta.
Zhietta mengajaknya makan siang di restoran terdekat, wanita itu tidak mengetahui bahwa Zhietta berasal dari Negeri dongeng, dia hanya diminta oleh Kakeknya agar memberikan Zhietta identitas palsu.
"Berikan dia kehidupan baru disini, sama seperti ku," pinta Zhietta.
Wanita paruh baya itu menengok ke arah Valencia. Dia kebingungan, mengapa Zhietta meminta identitas baru lagi.
"Memangnya gadis ini dari negara mana? apakah dia kabur dari negaranya?"
"Ya, dia harus memulai kehidupan baru disini, seperti bayi yang baru lahir, kau bisa 'kan? akua kan membayar mu, cukup mahal kali ini," jelas Zhietta.
Wanita itu pun mengiyakan, dia meminta sidik jari Valencia dan beberapa gambar foto formal Valencia. Itu akan menjadi identitas gadis itu untuk memulai kehidupan baru di London.
"Sudah beres, jadi mulailah belajar menjadi manusia normal di era moderni ini," ucapan Zhietta kepada Valencia.