
Pagi itu Valencia tidak ikut sarapan bersama Alaric dan Hazel, dia lebih mengurung diri di kamar, tak mengindahkan panggilan Alaric yang berkali-kali mengetuk pintu. Pangeran Castor itu sampai bingung dengan sikap Valencia.
"Kamu kenapa Valencia? Adakah yang membuat mu kesal?" tanya Alaric dari balik pintu, Valencia tak menggubris itu.
Karena tak ada tanggapan dari Valencia, Alaric kembali di meja makan menemani Hazel. Raut wajah Alaric teramat lesih menghadapi sikap Valencia yang semakin berubah.
"Valencia semakin aneh, cepat marah." Keluh Alaric.
Hazel yakin penyebab Valencia marah karena dirinya. Namun Hazel pikir pula dia datang karena takdirnya menyelematkan Castor, harusnya Valencia menyambut baik kedatangannya.
"Kau kenapa Hazel?" tanay Alaric seraya menggenggam tangannya.
"Kau masih terngiang-ngiang ciuman ku semalam?" Sambung Alaric.
Hazel mendelik, dia malu karena ada pelayan saat itu mendengarnya, Alaric tertawa kecil, sangat puas karena mengerjai Hazel.
"Kamu bilang kalau masih mau lagi," kata Alaric menggoda.
"Tindak akan lagi," ketus Hazel.
"Sarapan?"
"Hahh?! Ini bahas sarapan?" Hazel terheran.
"Memangnya kamu mengartikan apa? Hm ciuman kita?" Lagi-lagi Alaric menggoda Hazel.
Hazel menutupi wajahnya dengan kain Serbet, teramat mau dengan ke lima pelayan yang ada di sisi Kanan-kirinya. Alaric yang terkekeh merasa puas karena menyuguhkan Hazel sarapan candaan lagi itu. Namun tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap Jasper dari balik jendela. Jasper datang memberikan laporan tentang keadaan kastil utama.
"Ada apa Jasper?"
"Terbanglah ikut ke istana bersamaku, ada sesuatu buruk yang terjadi di sana," papar Jasper.
Alaric tersentak, dia melirik ke Hazel yang juga mendengar berita dari Jasper. Alaric belum ingin melibatkan Hazel, ia merasa gadis pujaannya itu belum siap melawan segala sihir Zhietta. Alaric mengambil pedangnya, dia menyiapkan alat tempurnya untuk menuju ke kastil utama bersama Jasper.
"Aku ikut Alaric," ucap Hazel mencegat jalannya.
Alaric menggelengkan kepalanya, "Kau memang pahlawan Castor, tapi belum saatnya, aku tidak ingin kau terluka, tetap disini," ujar Alaric.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
Alaric melayangkan usapan lembut di pipi Hazel, "Pakailah kalung itu, jangan kemana-mana, aku mencintaimu Hazel.."
Alaric bergegas naik ke punggung Jasper, sebelum pergi sejenak Alaric memandangi Hazel, berharap Hazel baik-baik saja meksipun tak dia tak ada menemaninya. Jasper terbang membawa Alaric menuju ke kastil utama. Sementara Hazel duduk dengan kegelisahan yang membekuk nya.
"Bagaimana caranya melawan Zhietta," Gumam Hazel.
Dia melihat lukisan-lukisan keluarga kerajaan, senyuman Raja Van Hill begitu sumringah di masa Negeri Castor damai dan tentram. Hazel belum mendapatkan petunjuk tentang kebenaran jati diri Pak Van Hill, jika benar Pak Van Hill adalah Raja kedua Castor, bagaimana bisa ia keluar dari dongeng lalu hidup dari generasi ke generasi? Masih menjadi misteri yang belum terungkap.
Hazel ke kamarnya, dia mencari kotak kalung Alaric, setelah mendapatkannya, kalung itu di pandangi secara seksama, mengapa di untuk induk kalung itu hiasannya kosong? Yang biasanya berhiaskan permata tetapi kalung itu amat berbeda dari yang kalung-kalung pada umumnya.
"Apa kalung ini memang tidak memiliki hiasan? Atau hiasannya lepas?" Hazel bertanya-tanya seorang diri.
"Ini semakin aneh, batu Ruby di sampul buku 'The Castor Land' sama dengan hiasan kalung ini, " lirih Hazel.
***
Di tempat yang berbeda, Alaric tiba di kastil utama, para prajurit dan pelayan istana sudah terkulai lemas, diantaranya ada mual-mual hingga mengeluarkan darah hitam. Alaric menenangkan rakyatnya, dia memberikan obat yang dibuat oleh Hazel. Satu orang hanya dapat satu tetes, setidaknya dapat menyelematkan mereka dari bencana virus Zhietta.
"Apalah Ayah dan Ibuku terkena juga?" tanya Alaric kepada Tuan Ernest.
Sembari terbatuk-batuk Ernest mengangguk, dia tak dapat lagi berbicara, tenggorokannya seakan membatu. Alaric tekejut saat mendengar suara krek dari ujung kaki pamannya.
"Astaga.." Alaric terkejut dengan kaki Tuan Ernest yang menjadi keras seperti patung batu.
Tuan Ernest mengeluh kesakitan, dari ujung kaki menuju ke perutnya semua menjelma menjadi batu.
"Paman, bertahanlah.. minum ini," ujar Alaric.
Obat Hazel hanya tersisa sedikit, hanya cukup untuk satu orang saja, jika menyelamatkan pamannya, Alaric tidak akan bisa menyelamatkan kedua orangtuanya, tetapi sungguh jahat bila membiarkan Tuan Ernest menjadi patung batu dihadapannya, mengingat pengabdian Tuan Ernest terhadap Negeri Castor. Alaric memutuskan untuk memberi sisa obat itu kepada pamannya.
"minumlah paman," ujarnya meneteskan kbat itulah ke dalam mulut Tuan Ernest.
Setelah meneguk obat Hazel, virus batu itu terhenti menyebar ke seluruh tubuh Tuan Ernest. Alaric mengusap baju pamannya.
"Paman untuk sementara harus seperti ini, maaf aku terlambat membawa obat ini," ucapnya.
"Kamu harus liat Raja dan Ratu, virus ini disebarkan di udara, kami tidak tahu kenapa bisa tembus ke kastil, padahal mantra kastil masih kuat, ada yang membawanya secara diam-diam masuk, itu yang paman curigai," jelas Tuan Ernest.
Alaric tidak menyangka ada pengkhianat di dalam kastil, namun sulit baginya untuk mencari tahu siapa mereka, saat ini dia ingin melihat kondisi Ayah dan Ibunya di lantai dua. Alaric meniggalkan Tuan Ernest yang bersandar di sofa, di lantai dua para pelayan sudah menjadi patung batu, Alaric berteriak memanggil Ayah dan Ibunya. Namun kedua orang tuanya tak ada di kamar.
"Ibu, Ayah.."
Alaric terhenti di balkon, Raja Carlos dan Ratu Florida berdiri tegak di sana, namun telah menjadi patung batu sama seperti pelayannya. Tubuh Alaric lunglai, dia tersungkur ke lantai sembari meratapi nasib orang tua dan rakyatnya.
"Zhietta! Kamu sudah keterlaluan!" Umpatnya.
Alaric tertunduk menangis di kaki Ibunya, Ratu Florida. Dia merasa gagal menjadi pelindung bagi Ibunya.
"Maafkan aku, Ibu."
Jasper masuk menenangkan Alaric, nasib baik Alaric dan Jasper semalam sudah meminum obat yang dibuat Hazel, sehingga virus menjadi patung itu tak berefek kepada mereka berdua.
"Pangeran, kita harus menghentikan Zhietta, kematian Zhietta akan mengembalikan Castor seperti semula, mantra Zhietta akan gugur di tubuh penduduk Castor," kata Jasper, kuda coklat yang dulunya pengawal handal kerajaan.
Alaric menenangkan dirinya, dia melihat Ayahnya yang sudah menjadi patung. Dia mengucapkan janji kepada Ayahnya jika ia dapat mengembalikan Castor seperti semula.
"Aku janji dihadapan Ayah dan Ibu, aku akan mengembalikan Castor seperti semula," ucapnya.
Alaric menyiapkan pedangnya. Dia naik ke punggung Castor menuju ke lembah Zhietta, memang tidak mudah melalui perjalanan menuju ke lembah hitam, tetapi dengan keahlian terbang Jasper, Alaric akan sampai dengan selamat di lembah wanita penyihir itu.