
"Ada beberapa cairan yang sudah aku buat," kata Valencia mengikuti langkah Alaric menuju ke ruang lab.
Hazel mengikuti pula dari belakang, ketika ia hendak ingin masuk ke lab, dia di cegat oleh Valencia.
"Kau tidak boleh masuk, ini ruangan rahasia," ujarnya.
Mendengar itu Alaric menegur Valencia, "Hazel berhak melihat kita, dia pahlawan Castor."
Valencia tetap menahan pintu itu, tidak membiarkan Hazel masuk. Hazel menghela nafas, ia pikir di manapun ia berada akan selalu bertemu dengan sosok yang tidak menyukainya.
"Aku seorang mahasiswi sekolah di penelitian salah satu di kampus terbaik dunia, aku tahu ilmu ini juga," ujar Hazel, dia mendorong pintu lalu melewati Valencia begitu saja.
Alaric hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua gadis itu, sementara Valencia mengepalkan tangan menahan amarah. Dia menuju ke mejanya, beberapa eksperimen ramuan ia lakukan, sesekali melirik ke Hazel, di meja lain Hazel sedang membuat ramuan bersama Alaric, sesekali mereka berdua melayangkan candaan.
'Alaric .. secepat itu kau mengabaikan ku,' ucapnya dalam hati.
"Hazel, kau mencampurkan ini? Apakah ini tidak berbahaya?" tanya Alaric, ia terkejut dengan cara Hazel eksperimen bahan-bahan Valencia.
"Ini Digra, Bevil, harusnya berlawanan," ketus Valencia.
Hazel memperlihatkan campuran cairannya yang berhasil, "Itu kalau tidak ada Gunila menemaninya, lihat, seperti Alaric yang menemani kita, jika tidak, kita akan berlawanan secara langsung," sahut Hazel.
Alaric tertegun, cairan yang dicampurkan Hazel bergelembung, mengeluarkan suara percikan air. Alarc tampak tegang dengan hasil eksperimen Hazel.
"Tenanglah, ini akan berfungsi untuk kekebalan tubuh, mati kita coba ke pohon mati itu," Hazel mengajak Alaric dan Valencia ke pohon dekat kastil rahasia.
Wajah Valencia selalu tertekuk karena Hazel mengambil peranannya sebagai pencipta obat di Castor. Hazel menuangkan ramuan itu ke pohon mati. Mereka mengamati secara seksama, beberapa menit berlalu tak ada tanda-tanda ramuan itu berfungsi sebagaimana keinginan Hazel. Melihat itu, Valencia tertawa mengejek.
"Sudahi semua uji coba-coba mu, bagaimana bisa kau dari dunia lain mengerjakan itu?"
Hazel menghela nafas, ada banyak yang sudah ia pelajari, dia dari dunia modern abad-12, bila pengetahuan Castor yang berasal dari abad-19, maka seharusnya dia bisa menjadi penemu bagi Negeri Castor. Namun yang terjadi hasil pengetahuannya tak berdaya di Castor.
"Ayo kita masuk, Hazel .. kita cari cara lain saja," ucap Alaric menetralisir kekecewaan Hazel.
Hazel menurut, ketika mereka hendak masuk ke dalam kastil rahasia kembali, suara riuh yang berasal dari tanah mengejutkan mereka. Hazel dan Alaric berbalik melihat keadaan pohon itu, begitupun juga Valencia.
Srrrhhhhh ...Srrrhhh..
Suara akan pohon meliuk-liuk, satu persatu tangkai yang mati patah dan terjatuh, kemudian di tumbuhi oleh tangkai yang bertunas, beberapa tunas tangkai tumbuh di pohon yang tadinya mati itu. Mereka bertiga ternganga, takjub dengan penampakan pohon yang sudah kembali hidup.
"Hazel .. kau berhasil," lirih Alaric yang tak melepaskan pandangan dari pohon itu.
"Terimakasih Pak Robert, ini pelajaran dari Pak Robert," ujar Hazel lompat kegirangan memeluk Alaric.
Valencia mengecam dalam hati, dia meninggalkan Hazel dan Alaric yang begitu bahagia karena keberhasilannya. Hazel menyusul Valencia, dia mengikuti sahabat Alaric itu masuk ke dalam lab.
"Kau bisa mengambil penemuan ku menjadi namamu, lagipula aku 'kan hanya sementara di Castor, nanti akan ku buatkan lagi ramuan yang bisa kau campur dengan obat mu," ujar Hazel. Dia ingin berdamai dengan Valencia, tidak ingin dirinya dibenci oleh siapapun.
Valencia yang kesal malah mendorong Hazel, "Aku tidak butuh kamu! Keluar dari ruanganku!"
Hazel menggeleng-gelengkan kepala, ternyata Valencia sama seperti teman-teman kampusnya. Kebencian mereka sudah mendarah daging terhadap Hazel.
Di luar para pelayan menyediakan makanan untuknya, dia di arahkan ke ruangan yang sudah disiapkan Alaric. Hazel terperangah melihat ada banyak lilin tersusun rapi untuknya.
"Kau menggoda ku?" tanya Hazel bercanda kepada Alaric.
"Hampir seperti itu, aku tahu kau tidak pernah mendapatkan seperti ini, biarkan aku yang pertama membuat mu terpukau," sahut Alaric memberikan sebuket bunga kering.
Hazel terkekeh melihat bunga kering Castor, sungguh lucu baginya.
***
Tommy di temani oleh Collins kembali menyusuri sekitar kampus Hazel, beberapa teman kampus Hazel yang bermasalah dipanggil satu persatu, tapi tak ada satupun mereka yang mempedulikan dengan Hazel. Tommy terpukul mengetahui perlakuan teman-teman kampus Hazel terhadap putrinya, ia tidak menyangka seberat itu kehidupan sehari-hari Hazel, bahkan di rumahnya pun anaknya tidak mendapatkan kebahagiaan selayaknya anak gadis-gadis pada umumnya.
"Kita harus kemana lagi?" tanya Tommy duduk menundukkan wajahnya, sejak dua hari yang lalu, Tommy belum tidur.
Collins mengamati perpustakaan Pak Van Hill, "Kita ke perpustakaan itu lagi, kita ketemu dengan pemiliknya," ujar Collins.
Semenjak kehilangan Hazel, Pak Van Hil sudah tidak pernah lagi membuka perpustakaannya. Beberapa kali Collins mengetuk pintu, tapi tak ada respon dari Pak Van Hill.
"Apa dia pergi?" tanya Tommy pada Collins.
Tommy menggedor-gedor pintu itu, dari dalam ada yang memutar kunci, dibaliknya ada Pak Van Hill yang baru saja bangun dari tidurnya. Dia terkejut dengan kehadiran Tommy bersama seorang pemuda.
"Aku meminta waktu mu sebentar, Tuan," ucap Tommy.
Pak Van Hill mengangguk, dia meminta Tommy dan Collins masuk ke perpustakaannya. Pak Van Hill duduk gemetar berhadapan dengan kedua pria itu. Collins meneliti bahwa ada yang aneh pada Pak Van Hill, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Apa Hazel belum pernah mengunjungi mu?" tanya Tommy.
Pak Van Hill memilin jemarinya sendiri.
"Belum, tapi dia akan kembali di waktu yang tepat," sahutnya.
"Maksud mu? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau yakin Hazel akan kembali? Kau tahu dia ada dimana?" tanya Tommy.
Pak Van Hill gelisah, dia ingin berkata jujur tetapi ia ragu jika Tommy akan mempercayai ceritanya. Gelagat Pak Van Hill sangat mencurigakan di mata Collins.
"Tuan, kasihanilah Tuan Tommy, dia lelah mencari Hazel, katakanlah jika kau mengetahui keberadaan Hazel," ujar Collins.
Pak Van Hill menarik nafas, tinggal seorang diri di London tanpa sanak saudara, dia merasa tertekan, masuknya Haz ke dalam buku 'The Castor's Land' dia gelisah dengan kehilangan yang Hazel jalani di negeri Castor.
"Tuan? Kau kenapa diam?" tanya Collins menanti jawaban.
Pak Van Hill memberanikan diri menatap wajah Tommy, "Baiklah, anakmu sekarang sedang menjelajah di Negeri Castor, Negeri yang ada dibelahan dunia lainnya, Hazel sedang melakukan kebaikan disana," papar Pak Van Hill.
Collins mengerutkan alisnya, sesaat dia saling berpandangan dengan Tommy.
"Kau baru bangun tidur, tolong perbaiki ingatan mu," timpa Collins.
"Tidak, ini sungguhan. Hazel masuk ke Negeri dongeng ajaib, Negeri Castor," jelas Pak Van Hill. Dia akan berusaha meyakinkan Tommy dengan yang menimpa Hazel sebenarnya.