HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kejanggalan



Hazel terpaksa menandatangani surat perjanjian kontrak itu, dia harus menjadi model selama enam bulan untuk menebus harga gaunnya, selain mendapatkan uang hasil dari sebagai model di majalah pemilik toko itu.


"Kau gadis beruntung, karena wajahmu yang cantik, tanpa bersusah-payah kau bisa menjadi model terkenal," ucap pemilik toko itu sekaligus pemilik perusahaan di bidang modeling.


"Aku hanya ingin menjadi model selama enam bulan, selebihnya aku akan kembali ke rutinitas ku semula," sahut Hazel.


Pemilik toko itu malah geleng-geleng kepala mendengar keinginan sederhana Hazel. Asa banyak peluang didepan matanya, namun Hazel malah memili jalan yang berbeda dari yang diinginkan kebanyakan orang.


"Hmm kalau boleh tahu, kenapa kau menginginkan gaun itu? diantara banyak bagun yang cantik, mengapa harus warna Hazelnut? apakah karena namamu sama dengannya?" tanya pemilik toko itu penasaran.


Hazel enggan menjawab, dia meminta agar pemotretan itu segera dilakukan hari ini agar ia dapat segera pulang ke rumah membawa gaun itu. Collins hanya diam mengamati segala pergerakan Hazel, dia seperti seorang kekasih yang menemani aktivitas kekasihnya.


"Kamu mau tetap menungguku?" tanya Hazel kepada Collins.


"Yeah, lagipula aku tidak memiliki kegiatan hari ini, aku cuti dari restoran Ayahku," sahut Collins. Dia ingin menemani Hazel dalam keadaan apapun.


Hazel mulai diarahkan ke ruang ganti, dia mulai memakai baju sesuai dengan intruksi pemilik toko itu. Beberapa kali sesi pemotretan, Hazel mendapatkan pujian sebab setiap sudut kamera, aura Hazel memancarkan aura bersinar layaknya model berkelas.


"Kau sungguh mengagumkan, tidak salah kami memilih mu, hari ini telah selesai, esok akan ada kegiatan lagi, jaga kesehatan mu," ucapan pria berkepala plontos itu.


Hazel meminta Collins untuk mengantarkannya kembali ke rumah, ia merasakan terlalu lelah hari itu karena dari pagi hingga sore, Hazel tak. hentinya berganti baju lalu berpose di depan kamera. Diperjalanan menuju pulang ke rumah, Collins mengajak Hazel mengobrol santai, saat itu pusat perhatian Hazel telah tertuju ke Collins, dia sangat menghargai Collins yang meluangkan waktu menemaninya.


"Apa kau dari dulu bercita-cita sebagai model?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya sedang mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian Ayahku."


Selalu saja Collins kehabisan topik jika bersama Hazel, bukan karena tidak ingin berbicara lebih banyak, tetapi Hazel selalu menutup pembicaraan.


"Apakah kau masih ingin melanjutkan kuliah?" tanya Collins.


"Aku pikir tidak dulu, otakku sekarang tidak berjalan dengan baik, entahlah.."


Dari jauh dia melihat ada sosok wanita yang wajahnya tidak asing, tetapi sebelum Hazel memperhatikan dengan jelas, wanita itu masuk ke dalam taksi. Hazel menyuruh Collins untuk menepikan mobilnya dengan segera, ia keluar dari mobil berlari ke arah taksi yang sudah melaju menjauh darinya itu.


"Aku terlambat," gumam Hazel dengan nafas yang tersengal-sengal.


Collins keluar dari kamar untuk menyusul Hazel, "Ada apa? kau mengejar seseorang?"


Hazel menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak yakin dengan yang dilihatnya tadi, mana mungkin ia mengutarakan kejanggalan yang terjadi pada Collins yang tidak tahu apa-apa.


"Tenangkan dirimu, kau hanya lelah, aku antar kamu pulang sekarang," kata Collins menarik tangan Hazel masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Hazel berusaha mengingat jelas wajah wanita itu, tetapi di sisi lain dia juga tidak yakin wanita itu adalah sosok yang ia curigai.


Setiba di rumah, Emma menyambut Hazel di pintu, raut wajah Emma bersedih, dia menceritakan bahwa ada yang sengaja ingin mencelakakan Tommy. Ada bekas pisau yang menyabit tangan Ayah angkat Hazel itu. Tangan sudah terbalut perban itu masih menyisakan darah.


"Bagaimana bisa Ayah di sabit orang?"


"Mungkin dia ik ngin mencuri ponsel Ayah," tambah Tommy.


Mereka pun mengiyakan itu, sementara Collins minta pamit dari Hazel. Dia menawarkan dirinya jika Hazel membutuhkan bantuan, dia akan selalu ada untuk keluarga Hazel. Setelah mobil Collins keluar dari halaman, Hazel melirik pintu gudang yang terbuka.


"Kenapa pintu itu terbuka? apakah Ayah sehabis dari gudang?" gumam Hazel bertanya-tanya.


Hazel menuju ke gudang yang terletak disamping rumahnya itu, dia melihat gembok di pintu terbuka, tetapi tak ada kunci yang bergelantungan. Hazel masuk mengecek kondisi gudang, barang-barang di gudang itu berserakan, tidak seperti biasanya Ayahnya membuat gudang berantakan.


"Apakah baru saja ada pencuri yang masuk ke gudang ini?"


Hazel segera menanyakan perihal itu ke Ayahnya, tetapi Ayahnya menjawab tidak pernah ke gudang selama kepergian Hazel. Sementara kunci gembok tidak di rusak, terbuka seperti seseorang yang membukanya juga memegang kuncinya.


"Kunci gudangnya mana Ayah?"


"Ada di laci sana, ada dua kunci gudang di laci."


Ketika Hazel memeriksa laci, dia hanya mendapati satu kunci gudang, Hazel membawa kunci itu ke Ayahnya.


"Hanya ada satu kunci Ayah," kata Hazel.


Tommy mengerutkan alisnya, dia meminta kunci itu dari Hazel, kunci gudang itu miliknya, yang satu milik Kammy tidak ada di laci. Padahal terakhir kali kunci gudang khusus Kammy itu ia letakkan di laci bersama kuncinya.


"Aneh... siapa yang membuka gudang," gumamnya.


Hazel dan Emma saling melirik, mereka curiga jika ada pencuri yang masuk ke rumah Tommy.


"Kalian jangan mengira ini pencurian, mungkin saja aku yang lupa melepaskan kuncinya, atau itu tetangga kita yang meminja alat perkakas," kata Tommy tetap berpikir positif.


Masuk di akal Hazel dan Emma, Hazel juga tahu, tetangga Tommy sebelah itu sangat akrab dengan mereka, sehingga jika ada yang diinginkan, mereka mengambil secara langsung.


"Apa yang kau bawa Hazel?" tanya Emma melihat tas kertas di tenteng Hazel.


"Ini gaun yang aku pakai saat di Negeri Castor," sahutnya.


Emma dan Tommy salin tersenyum, mereka tahu Hazel belum bisa melupakan kenangan ketika di negeri Castor. Hazel tidak akan melupakan kisah cintanya dengan Pangeran Castor yang tampan dan kharismatik itu.


Ketika Hazel keluar dari kamar Tommy, Emma mengutarakan kekhawatirannya.


"Aku takut jika Collins sakit hati dengan Hazel, sepertinya Hazel juga tidak tega menolak secara langsung Collins, sampai kapanpun Hazel akan menyimpan Alaric id hatinya," ujar Emma.


Tommy memahami kekhawatiran Emma, hal itu juga mengusik pikirannya, Hazel enggan lagi menlanjutkan kuliah untuk saat ini, pikirannya terlihat kacau, bahkan untuk tersenyum, putrinya itu terlihat berat.


"Bantu aku jaga dia, setidaknya dia tidak kehilangan sosok perempuan di sampingnya, dulu Kammy tidak mampu menjadi Ibu, ternyata dia memiliki tujuan buruk terhadap Hazel."


Di balik pintu yang tertutup rapat, Hazel mendengar perbincangan Emma dan Tommy. Ia merasa memang sedang berada di tahap itu, tak ada niat melanjutkan hidup bertujuan masa depan di London.