HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Berakhir Bencana



"Semesta, barulah aku menurunkan air derasmu.. " Gumam Hazel.


Di menit kemudian, suara gemuruh petir menyambar, air hujan tiba-tiba membasahi Negeri Castor, Zhietta tak sempat menyelamatkan dirinya, air hujan itu mematikan api iblis yang ada ditubuhnya. Zhietta menjerit kesakitan, Alaric membawa Hazel menjauh dari Zhietta.


"Ibu..." Teriak Hazel.


"Kau mau kemana?" tanya Alaric mencegahnya.


"Ibuku kesakitan, aku harus menolongnya."


"Dia hanya berpura-pura sebagai Ibumu, dia Zhietta penyihir jahat."


Alaric tetap mencegah Hazel, tangannya ia lingkarkan ke tubuh Hazel agar gadisnya itu tidak menyelamatkan Zhietta. Sementara suara jeritan Zhietta menggelegar, teramat mengerikan.


Efrat yang sedang berjalan ke hutan mendengar jeritan Zhietta, langkahnya terhenti karena rasa cintanya masih cukup besar kepada cinta pertamanya itu.


"Zhietta.. ada apa dengannya?"


Efrat mendengar lebih kelas lagi, suara Zhietta terdengar menjerit kesakitan, karena tak. sanggup mendengar pujaannya demikian, singa tampan itu berputar arah, dia berlari kembali menuju ke istana kegelapan Zhietta.


"Sakit ..." Jeritan Zhietta.


Hazel mulai bercucuran air mata, dia berusaha melepaskan diri dari Alaric untuk Ibunya. Bagaimanapun kesalahan Zhietta, tetap. Zhietta adalah Kammy, Ibu angkatnya selama 18 tahun.


"Lepaskan aku Alaric," pintanya.


"Tidak, Hazel. Tindakan mu sangat berbahaya," sahut Alaric.


Tubuh Zhietta menghitam, hangus namun ia malah hidup. Ia merasakan hukuman atas kejahatannya selama ratusan tahun ini. Zhietta melihat siluet yang dikerjakan di masa silam, seluruh penduduk Castor menderita karenanya.


"Zhietta..." Suara Efrat dari kejauhan.


Zhietta menoleh perlahan ke Efrat, dia menitikkan air mata melihat pria yang mencintainya itu. banyak berkorban. Efrat berlari ke arah Zhietta yang telah bebaring di tanah.


"Zhietta... maafkan aku.." Ucap Efrat. Dia merasa bersalah karena telah meninggalkan Zhietta sesaat.


Zhietta menitikkan air mata menyambut pelukan Efrat, walaupun dalam bentuk fisik singa, namun tetap Zhietta merasakan kehangatan cinta dari. Efrat.


"Aku minta maaf Efrat.. aku sudah menjadi jahat dan membawamu ikut bersamaku."


"Tidak, Zhietta. Kita malah bisa memperbaikinya, kita sudahi semua dan hidup di tempat yang berbeda," ujar Efrat yang merindukan kedamaian hidup bersama Zhietta.


Zhietta tersenyum mendengar itu, ia mungkin hidup tenang, tetapi dendam teramat menguasainya, iblis pun ikut menjajahnya.


"Aku akan pergi, semua akan kembali seperti semula, kau juga akan menjadi Efrat yang dulu, semua sihir akan berakhir.."


Efrat memeluk erat tubuh Zhietta, dia tidak ingin ditinggalkan oleh Zhietta. Efrat tahu, wanita pujaannya itu memiliki hati yang baik, hanya saja orang-orang di masa lalu tidak berbuat adil kepadanya sehingga menyimpan dendam kesumat yang mendarah daging.


"Bertahanlah Zhietta..." pinta Efrat.


Singa tampan itu menghampiri Hazel dan Alaric, dia duduk memohon layaknya hewan yang memohon kepada seorang manusia.


"Ku mohon.. selamatkan Zhietta, dia tidak aakan mengulanginya lagi. Aku yang akan menjadi jaminannya." Efrat memohon dengan sangat.


Alaric melayangkan isyarat gelengan kepala ke Hazel, pertanda ia tidak menyetujui hal itu. Hazel yang dilema hanya berdiam diri. Hatinya ingin membantu Zhietta, tetapi logikanya menyuruhnya untuk mentaati Alaric.


"Maaf, kami sudah memberikan Zhietta kesempatan hingga ratusan tahun lamanya, itu sudah cukup.." Ujar Alaric.


Zhietta batuk-batuk mengeluarkan darah yang banyak, dia memanggil-manggil nama Efrat. Suaranya kian mengecil hingga Zhietta terlihat tidak melakukan pergerakan lagi, Efrat bergegas kembali ke Zhietta.


"Zhietta bangun... jangan pergi dulu.." Efrat menepuk-nepuk pipi Zhietta, namun tak ada lagi pergerakan.


"Berhenti, jangan Kumohon.." Singa tampan itu menolak tubuh Zhietta musnah.


Namun harapan Efrat tak terkabul, sedikit demi sedikit tubuh Zhietta musnah, dari kaki hingga ke bentis menuju ke seluruh tubuhnya. Zhietta musnah dalam hitungan menit, bak setumpuk debu yang diterbangkan oleh angin.


"Zhietta!" Teriak Efrat. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak becus menjaga Zhietta.


Hazel saat itu juga sangat terpukul, dia tersungkur di tanah sembari memegang dadanya yang sesak menahan pedih. Alaric mencoba menguatkan dia, namun Hazel tetap bersedih karena kematian Ibu angkatnya.


"Aku telah membunuh ibu angkatku sendiri.." Lirih Hazel.


"Tidak Hazel, ini semua hukum tabut tuai," sahut Alaric.


Suara angin merdu di telinga mereka menghampiri Negeri Castor. Langit yang ratusan tahun lalu mendung berubah menjadi warna biru cerah. Pohon-pohon yang tadinya mati perlahan memunculkan batang dan dedaunan baru. Para hewan yang dikutuk telah menjelma sebagai manusia kembali. Seperti Efrat yang kembali menjadi pria tampan.


"Hazel.. semua kembali seperti semula.." ucap Alaric.


Hazel melihat semua yang ada di negeri Castor kembali hidup, negeri Castor kembali menjadi negeri yang indah seperti sebelum Zhietta menghancurkannya.


"Hazel.. kamu berhasil." Alaric girang memeluk Hazel dengan erat.


Terlepas dari kesedihannya kematian Ibu angkatnya, Hazel bahagia karena telah menyelamatkan Negeri Castor dari kejahatan Zhietta. Hazel melohat Efrat yang bersedih, memandangi baju bekas Zhietta.


"Aku minta maaf Efrat.. tapi ini semua harus terjadi," ucap Hazel.


Dengan mata yang sembab, Efrat menoleh ke Hazel.


"Ini bukan kesalahan mu, ini memang kesalahan kami." Efrat berbesar hati mengucapkan kesalahannya secara gamblang.


Hazek dan Alaric terenyuh, mereka berharap Efrat hidup jauh lebih baik lagi setelah ini. Suara pria memanggil dadi kejauhan.


"Pangeran.." Ujar pria dengan tubuh tinggi tegap itu.


"Jasper.." Ujar Alaric. Yang memang itu adalah pria yang menjelma sebagai kuda terbang Jasper, kutukan Zhietta telah lepas juga darunya hingga kembali dengan tubuh gagah seorang panglima.


Hazel dan Alaric kembali ke istana bersama Jasper, mereka mengendarai kereta kuda Zhietta. Betapa senangnya mereka melihat perubahan Castor setelah ratusan tahun lamanya. Desa-desa kembali asri, para penduduknya lun bersorak memanggil nama Hazel dan Pangeran Alaric.


"Lihatlah Hazel, kau membawa kebahagiaan kepada mereka."


"Tidak, ini karena usahamu juga, kau pangeran yang luar biasa."


Mereka tiba di istana, keadaan istana kembali seperti semula. Alaric disambut oleh Ratu Florida, juga Ayahnya Raja Carlos, mereka memeluk putranya dengan penuh kebanggaan.


"Kau berhasil, Nak.." Ucap Ayahnya.


"Bukan aku Ayah, tapi Hazel... dialah sesungguhnya."


Ratu Florida memeluk Hazel, dia mengucapkan banyak terimakasih kepada gadis cantik itu. Raja Carlos ikut mengucapkan rasa terimakasih, begitu pula para pelayan istana.


"Kita akan merayakan pesta rakyat untuk ini, lakukanlah persiapan." Raja Carlos memutuskan untuk merayakan pesta bersama rakyatnya.


Setelah berbincang-bincang dengan Raja dan Ratu, Alaric mengajak Hazel untuk istirahat di kamarnya, karena lelah, Hazel menurut saja. Alaric membawa Hazel berduaan dengannya karena ia ingin memeluk Hazel.


"Kau pasti lelah, tidurlah di sampingku." pinta Alaric.


"Apakah aku akan melakukan sesuatu?" tanya Hazel yang tidak polos lagi.


"Jika kau mengizinkannya, aku mencintaimu.. apa salahnya aku memiliki semuanya," bisik Alaric.