HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Pesan Alaric



Setahun berlalu..


Setelah kembalinya Jasper ke Castor, Hazel menjalani hari-harinya seperti biasa. Melahirkan bayi perempuan yang dinamai Helena, bayi cantik dengan bola mata hijau. Wajahnya sangat mirip Alaric, bahkan warna rambutnya mengikuti gen Alaric.


"Ibu sudah memandikan Helena?" tanya Hazel yang baru saja pulang bekerja.


"Tentu, cucuku ini harus cantik setiap saat," sahut Zhietta.


Semenjak menikah kembali dengan Tommy, Zhietta lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya menjadi sesosok yang lebih baik. Kematian Valencia membuatnya belajar bahwa mereka yang berasal dari Castor akan musnah jika tetap melawan hukum alam dunia.


"Aku ingin masuk ke kamar dulu, Bu.. jaga Helena sebentar ya," ucap Hazel.


Jika sepulang kerja, Hazel memberikan waktu untuk dirinya di kamar sejenak, menyendiri sambil membuka buku dongeng Castor. Dia membaca pesan-pesan Alaric yang dituliskan untuknya lewat kertas dibuku dongeng itu.


"Hai istriku, apa kabar? kau dan Helena pasti baik-baik saja hari ini, Ibu dan Ayah juga pasti baik-baik. Aku baru saja pulang peresmian bersama Jasper, hari ini begitu melelahkan, aku berharap kau ada disini, tapi seperti apakah itu? harapan kita hanya sebatas harapan," tulis Alaric diasta kertas buku dongeng ajaib.


Hazel hanya bisa membaca pesan Alaric, karena ia sudah kehabisan tinta pena ajaib, dia hanya menunggu kabar dari Alaric setiap saat, sebab tulisan di kolom hanya bertahan satu jam setelah Alaric menulisnya.


"Aku harap kamu menjaga kesehatan sayang, aku dan Helena akan menjaga diri disini," ucap Hazel.


Dia kembali menutup buku dongeng Castor yang sudah tamat itu. Ternyata akhir cerita dari hukum dongeng itu adalah ketika Alaric di nobatkan menjadi Raja. Pemimpin Castor yang memilih bersumpah untuk tidak menikah lagi.


"Kapan kita bisa bertemu lagi? kenapa waktu begitu lama?" gumam Hazel.


Dia kembali keluar mengecek Helena yang dijaga oleh Zhietta, bayinya sudah tertidur lelap di ayunan. Bila melihat wjaha Helena, Hazel merasa kasihan kepada putrinya, sampai saat ini Helena belum bertemu dengan Ayah kandungnya.


"Kau bersedih lagi setelah menerima surat dari Alaric?" tanya Zhietta.


"Iya, Bu. Aku tidak sabar menunggu buku itu terbuka kembali, aku ingin bertemu suamiku," sahut Hazel.


Zhietta yang memiliki segudang akal tetap mencari cara agar Hazel kembali ke Castor, walaupun Tommy belum sepenuhnya mengikhlaskan anak dan cucunya untuk tinggal selamanya di negeri Castor.


"Aku tanya kamu sekali lagi, apakah kamu ingin tinggal di Castor bersama anak dan suamimu? Kamu rela meningalkan kita semua?"


Hazel terdiam, dia melihat foto Ayahnya yang terpajang di dinding rumah. Mereka baru mengetahui setelah kematian Valencia, salah satunya untuk menetap di Castor ialah Hazel harus ikhly meninggalkan dunia nyatanya. Hazel harus rela menjadi bagian dari kehidupan Castor jika ingin mendampingi Alaric sebagai Raja Castor.


"Saya sudah mulai untuk berpikir hidup disana, membawa Helena menjadi bagian Castor, Ibu.."


"Jangan setengah-setengah Hazel, kau harus membulatkan tekadmu, jika kau ingin hidup bersama Alaric di Castor, kau harus rela seutuhnya, jangan ada penyesalan," ucap Zhietta.


Hazel meminta waktu berpikir, dia menata hatinya agar lebih membulatkan tekadnya meninggalkan belahan semesta yang ia pijaki.


"Ibu akan meminta Ayau juga untuk merelakan kau dan Helena, kau setiap hari tersiksa dengan perasaan bersalah juga rindumu kepada Alaric, Ibu yakin kau tidak akan baik-baik saja jika seperti ini," kata Zhietta. Setiap hari dia mengamati Hazel yang bak tidak memiliki semangat hidup lagi.


"Apa Ibu memiliki cara? apakah aku bisa ke Castor?" tanya Hazel.


Pertanyaan itu seringkali ia tanyakan, namun Zhietta belum menjawab, dia tidak ingin cara ituembuat Hazel gagal kembali ke Castor hanya karena putri tirinya itu tidak siap meninggalkan Ayahnya.


"Pikirkan saja dulu kerelaau, katakan jika kau sudah siap, jika kita melakukannya tanpa kau rela, maka yang ada hanya Helena yang bisa ke Castor, kau dan putrimu akan terpisah selamanya, dan dia akan bersama Alaric saja," jelas Zhietta.


Hazel panik, dia berdiri dari tempat duduknya, "Tidak, bagaimana bisa kau hidup tanpa suami dan anakku? aku tidak ingin terpisah dengan Helena, Bu."


Zhietta mengusap pipi Hazel,


"Maka dari itu pikirkan baik-baik, kau sudah rela atau tidak, rundingkan ini dengan Ayahmu, kau memiliki kesempatan untuk meluapkan rasa cintamu kepada Ayahmu, Hazel.."


Hazel bergumul dengan kedilemaanya, ini bukan lagi tentang keputusan pindah negera, melainkan pindah dari universe yang berbeda dari kehidupannya. Tentang seorang Ibu yang juga ingin memperjuangkan hak putrinya yang layak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Tentang seorang suami yang berhak didampingi oleh istrinya yang sudah menjadi penanggung jawab atas kesejahteraan Negeri Castor.


***


Di ujung malam, Alaric masih berdiri di balkon kamarnya. Istana megah itu terasa hampa baginya, tak ada satupun yang membuatnya semangat kecuali tugas yang harus ia kontrol setiap harinya. Mata Alaric sembab memandang rembulan yang sudah redup. Seredup hatinya yang merapuh karena terkikis rindu tak terobati.


"Raja, kau sudah lama berdiri disini,istirahatlah.." ucap Jasper yang sedari tadi mengamati Alaric.


"Aku berdiri atau tidur tidak akan merubah apapun, aku akan tetap baik-baik saja," sahut Alaric tanpa menoleh.


Jasper tahu, ini sangat berat bagi Alaric. Kematian Ayahnya, Ibunya, lalu disusul oleh Pak Van Hill membuatnya terpukul. Alaric merasa hidup sebatang kara mengembang tugas menjadi seorang Raja. Pemimpin yang harus mensejahterakan rakyatnya namun keadaan hatinya malah berbanding terbalik.


"Hidupku memang sudah sangat menyedihkan Jasper," ucapnya.


Alaric kembali meneguk minumannya, dia udah sangat mabuk namun tak ingin melepaskan botol minumannya. Jasper bahkan kewalahan membujuk Alaric, setiap malam Alaric selalu bertingkah seperti itu. Merenungkan nasibnya sembari memabukkan diri hingga lupa segalanya.


"Aku ingin anak dan isteriku disini Jasper, aku ingin tidur dengan mereka malam ini," ucap Alaric yang sudah meracau lagi.


Alaric terjatuh ke lantai, Jasper memanggil pengawal istana agar membantunya mengangkat Alaric ke atas ranjang.


"Buka sepatu yang mulia Raja," ujarnya.


Alaric meracau sambil menangis, berteriak memanggil nama Hazel dan putrinya Helena. Jasper yang mendengar itu sangat tersayat hatinya. Jasper juga tahu rasanya kehilangan sesosok yang sangat kita cintai, kematian Valencia masih menjadi luka baginya, yang mungkin akan menjadi luka seumur hidupnya.


"Kalian keluar, biarkan saya yang menjaga yang mulia Raja, " kata Jasper.


Dia memilih duduk di sofa, menjaga Alaric yang masih belum tertidur, Alaric masih saja bergumam menyebut nama Hazel dan Helena secara bergiliran.


"Seharusnya kalian ada yang mengalah untuk menemukan solusi ini," gumam Jasper.