HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Mengutarakan Isi Hati



Alaric memeluk erat tubuh Hazel, aroma tubuh gadis itu sangatlah wangi hingga membangkitkan naluri lelakinya. Merasa sudah menjadi pria tampan seutuhnya, Alaric lebih percaya diri lagi mendekati Hazel.


"Aku bukan Vampir lagi, aku sekarang lebih tampan 'kan?"


Hazel tersipu malu, memang wajah Alaric tampan nan rupawan, kayaknya kaum bangsawan pada umumnya. Alaric mendekatkan wajahnya ke wajah Hazel, tatapannya nakal ingin melemahkan Hazel agar pasrah menerima perlakuannya.


"Aku mencintaimu Hazel.."


Hazel tertunduk, raut wajahnya bersedih.


"Kamu kenapa? Kamu tidak suka mendengarnya?"


"Bukan seperti itu, aku hanya memikirkan untuk apa memiliki perasaan seperti itu, sebab kota juga akan berpisah nantinya," jelas Hazel secara logis. Akan ada perpisahan yang terjadi antara dia dan Negeri Castor.


"Kau tetap memutuskan untuk keluar dari Castor?" tanya Alaric.


Hazel menatap Alaric dengan tatapan sendu, dia tak menginginkan perpisahan, tetapi itu ia harus lakukan karena ada Ayahnya menunggu di London. Ayahnya harus tahu dengan yang terjadi dengan dirinya juga Ibu angkatnya.


"Aku harus kembali, ada Ayahku menunggu, dia juga pasti sangat mengkhawatirkan ku," sahut Hazel.


Nafas Alaric sesak seketika, ia mengira Hazel akan selamanya tinggal di Castor, menjadikan Hazel sebagai Ratu pendampingnya. Namun harapan itu diruntuhkan begitu saja oleh pernyataan Hazel.


"Kau membuatku terkejut," kata Alaric.


Hazel mengangguk, ia meyakinkan Alaric untuk lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa mereka memang tak dapat bersatu. Alaric membuang pandangan dadi Hazel, ia tak sanggup menatapa wajah Hazel yang tentu akan selalu membayanginya.


"Aku minta maaf... Tapi inilah yang memang kita harus lalui," ucap Hazel.


Alaric tak bergeming, dia masih berusaha menata hatinya untuk tetap merespon baik Hazel tanpa memperlihatkan kekecewaannya. Hazel yang memahami suasana hati Alaric bergegas memeluk pria itu. Ia menumpahkan tangisannya yang selama ini tertahankan, Hazel selalu memendam kesedihan di London, kini ia menemukan bahu ternyaman untuk bersandar setelah Ayahnya, Alaric pria yang ia yakini mencintainya seperti Tommy mencintainya sebagai putri.


"Aku hanya gadis bernasib malang di London, tak ada yang peduli padaku selain Ayahku, aku gadis buruk rupa disana, kau jangan terlalu menginginkan ku," ucap Hazel dia ingin Alaric menyadari bahwa tak ada yang istimewa dari dirinya selain menjadi pemeran utama di Negeri Castor.


Alaric mengusap kepala Hazel, dia paham kondisi Hazel saat di London, hanya gadis yang memiliki jiwa kuat dan murni dipercayakan menjadi pemeran utama, tentu untuk menjadi kita, Hazel telah melewati berbagai peristiwa yang tidak mudah.


"Aku tahu itu, makanya kau harus berpikir lebih jauh lagi, kau yakin akan kembali ke London? kau merasa aman disana?"


Hazel malah menangis semakin keras, dia merasa di London tidak nyaman baginya, tetapi ia memiliki tanggungjawab ialah menemani Ayahnya.


"Aku khawatir Ayahku semakin bingung dengan menghilangnya Ibuku juga secara tiba-tiba, dia telah Mengkhawatirkan aku, ditambah lagi kehilangan Zhietta," tukas Hazel.


Alaric mengerti bahwa ini bukan tentang cintanya di tolak oleh Hazel, melainkan cinta seorang putri kepada Ayahnya, seorang putri yang ingin membalas jasa-jasa Ayahnya.


"Aku mengerti, kalau begitu mari kita bicarakan semunya secara mendalam, aku ingin berbagi cinta denganmu malam ini.."


Alaric menyeka rambut Hazel, dia memandangi Hazel dengan tatapan penuh cinta dan nafsu. Beberapa detik kemudian, bibirnya telah menempel di bibir Hazel. Ini pertama kalinya Hazel berciuman, gugup serta hanya pasrah dengan cara Alaric menciumnya dengan ritme yang romantis


Adegan itu berlangsung lama, hingga keberanian menantang Alaric merebahkan Hazel di tempat tidurnya. Hazel tetap pasrah, tubuhnya hanya menerima cara-cara Alaric menyentuhnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu.. apapun tantangannya," bisik Alaric.


"Ya, aku tahu itu.. "


Sementara di ruangan lain, ada Ratu Florida yang duduk sejenak bersama Raja Carlos, mereka berdua sedang berbincang hubungan Alaric dan Hazel.


"Mereka sangat cocok," kata Ratu Florida.


"Karena mereka ditakdirkan untuk memiliki hubungan," tukas Raja Carlos.


Ratu Florida mengambil kalung berliannya, kalung itu hanya ada satu-satunya, di desain oleh perancang kerajaan turun temurun dari Nenek Alaric.


"Kau ingin apakan kalung itu? bukankah yang satunya telah kau berikan ke Alaric?"


"Aku akan memberikan ini lagi Hazel, dia berhak. memiliki segalanya karena keberaniannya melawan Zhietta," sahut Ratu Florida.


Raja Carlos menyetujui hal itu, dia juga ingin putranya mendapatkan pasangan seperti Hazel, gadis itu paket komplit, memiliki kebaikan, otak cerdas, juga cantik.


"Persiapan pesta sedang dilaksanakan," ucap Ratu Florida.


Raja Carlos akan mengumumkan kejutan pula, dia dan Ratu Florida akan secara diam-diam mengumumkan pertunangan Alaric dan Hazel. Di depan Rakyatnya, hubungan Alaric dan Hazel harus mereka resmikan.


***


Emma duduk menemani Pak Van Hill, pria itu gajah menjadi manusia pada umumnya, tidak lagi menjadi sosok Vampir yang menakutkan. Emma belum menyadari dengan perubahan itu, sementara Pak Van Hill tiada henti meraba tubuhnya sendiri, kulitnya kembali normal seperti kulit lain.


"Apa yang telah terjadi?" gumam Pak Van Hill.


Emma menyadari ada yang aneh dari perubahan tubuh Pak Van Hill, dia menghampiri Kakek Alaric itu, tanpa berbicara sepatah katapun, Emma mengecek kondisi kulit Pak Van Hill. Lapisan epidermis Pak Van Hill sudah sama seperti manusia. Emma terhenyak, dia mencari jawaban di raut wajah Pak Van Hill.


"Kau tahu apa arti semua ini, Pak?" tanyanya.


Pak Van Hill belum menjawab, dia juga kebingungan dengan yang terjadi pada dirinya. Pak Van Hill mengingat waktu yang sudah kian menipis.


"Mungkinkah karena ini efek.. " lirihnya.


"Efek apa?"


Pak Van Hill tersenyum, ada rasa haru campur bahagia tersemat kan di wajahnya. Dia menyebutkan nama Hazel seraya mengucapkan 'Terimakasih'.


Dari luar ada Tommy masuk memeriksa keadaan Pak ban Hill, dia melirik ke Emma karena kebingungan melihat ekspresi Pak Van Hill yang sedang menangis haru.


"Dia kenapa Emma?"


"Sepertinya ada sesuatu yang mungkin terjadi di. Negeri Castor," sahut Emma menebak.


Tommy seketika panik, dia berjongkok meminta Pak Van Hill menjelaskan.


"Lihatlah aku, apa yang terjadi di Negerimu? apakah putriku tetap baik-baik saja?" tanya Tommy.


Pak Van Hill tetap saja menangis, ia belum bisa menjawab karena terharu. Sekian lama ia menunggu momen itu, kini ia merasakan telah melewati masa sulit di Negeri orang.


"Katakan, jangan diam. Apakah putriku baik-baik saja?" Tommy mendesaknya tiada henti.