HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kisah yang diteruskan 2



Dua hari berlalu..


Alaric sedang melakukan penghormatan hari kematian Ibunya. Dia bersama keluarga kerajaan yang lain sedang duduk melihat gambar ibunya. Sementara di luar ada kegaduhan yang terjadi, Jasper yang mendengar itu keluar dari istana, dia bersama pengawal istana lainnya menuju ke pintu gerbang.


Ada rombongan penduduk desa Castor yang sedang bersitegang dengan penjaga pintu istana. Mereka nampaknya bertahan ingin bertemu dengan pihak Kerajaan.


"Ada apa ini?" tanya Jasper.


"Mereka membuat kegaduhan disini Tian Panglima," kata penjaga istana.


"Tuan Panglima, kami datang untuk menyampaikan kabar, penting untuk yang mulai Raja Alaric," ucap salah satu penduduk desa itu.


"Kabar apa?" tanya Jasper.


"Di desa kami ada Yang mulia Ratu Hazel dan Putri Helena, kami datang untuk ini," ucapnya.


Jasper terhenyak, namun dia tidak secepat itu percaya, dia akan mengetes kejujuran penduduk desa itu.


"Apa lagi yang dia katakan?"


"Dia adalah anak Tommy, gadis yang tinggal di tepi kota London, katanya seperti itu. Kami menemukannya di tepi danau Fosca."


Jasper ternganga, semua yang dikataka pria itu menunjukkan ciri-ciri Hazel. Jasper tersenyum, dia menepuk-nepuk pundak pria yang berbicara dengannya itu.


"Kalian akan mendapatkan hadiah terbaik dan istimewa karena telah melindungi Ratu," ucapnya.


"Siapkan semua prajurit, kita akan menuju ke Desa Fosca, kerahkan kereta kuda khusus untuk Ratu Hazel," ucap Jasper.


Jasper berjalan cepat masuk ke istana, dia menemui Alaric yang sedang duduk melamun di kursi kebesarannya.


"Yang mulia Raja," ucap Jasper membungkukkan badan, air matanya tak dapat ia bendung, Alaric terheran dengan sikap panglimanya itu.


"Ada apa Jasper? kenapa kau menangis?"


"Yang mulia Raja, Ratu Hazel sudah ada di Castor, Ratu bersama Putri Helena, dia berada di Desa Fosca."


Alaric berdiri dari tempat duduknya, matanya membeliak mendengar kabar yang tak disangkanya itu.


"Ini sungguh kebenaran Jasper?" tanyanya.


"Kata penduduk desa Ratu Hazel dan Putri Helena ditemukan tak sadarkan diri di tepi Danau Fosca, tempat pertama kali Hazel datang ke Castor."


Alaric mengingat itu, tak ingin membuang waktu lama. Alaric meminta disediakan kudanya. Ia akan menunggangi kudanya untuk menjemput Hazel. Pejalanan tidak akan lama sebab mereka akan melewati jalur punya yang dibangun oleh mendiang Raja Van Hill. Jalan itu hanya diperuntukkan untuk keluarga kerajaan.


"Tinggi aku syang, tunggu," ucap Alaric yang mengencangkan laju kudanya.


Rombongan prajurit dan Jasper mengikutinya dari arah belakang. Penduduk desa Fosca diberikan masing-masing kuda untuk kembali ke desanya mengantarkan rombongan pihak kerajaan. Dua hari mereka berjalan menuju istana, akan ada bayaran mahal dari Alaric karena kebaikan rakyatnya itu.


***


Pagi hari, Hazel tetap menunggu kabar dari penduduk Desa yang pergi menghadap ke istana. Hazel duduk di teras rumah bermain dengan Helena, menggendong putrinya sambil menyanyikan lagu kesukaan Ayahnya, Tommy.


"Kamu rindu Kakek dan Nenek? Ibu juga merindukan mereka, pasti mereka merindukan kita, mereka merindukan tangisan Helena yang menggangu Kakek setiap malam," ucap Hazel.


Bukan tidak ikhlas berada di Castor, hanya saja perasaan rindunya tetap akan selalu ada untuk Tommy dan Zhietta.


"Aku sangat merindukan mereka, Ayah.." tanpa ia sadari air matanya tergenang di kelopak matanya.


Ketika ia hendak duduk, suara gemuruh sepatu kuda berlarian terdengar dari kejauhan. Hazel menoleh ke arah jalan setapak yang berada di desa terpencil itu. Rombongan pihak kerajaan sudah tiba di Desa Fosca, Hazel bisa melihat kereta kencana istana itu dibawah beriringan.


"Putriku.." lirih Alaric.


Dia berlari ke arah Hazel dengan tangis yang meraung-raung, tak peduli dengan gelarnya sebagai Raja, wibawanya yang hatsu ia jaga, Alaric saat itu memposisikan dirinya sebagai suami yang baru saja bertemu dengan istri dan anaknya.


"Hazel.." Alaric meraoh tubuh Hazel. Dia memeluk erat istrinya di hadapan ratusan penduduk Desa Fosca.


"Aku merindukanmu setiap hari," ucap Hazel.


"Aku juga sayang, aku tersiksa memikul rindu ini," sahut Alaric lalu mencium bibir Hazel.


Helena yang merasakan kehadiran Ayahnya mengeluarkan suara gelak tawanya. Alaric berfokus kepada putrinya lagi, dia melihat wajah Helena sangat mirip dirinya sewaktu kecil.


"Anak Ayah, sini sayang," Alaric mengambil alih Helena dari gendongan Hazel.


Untuk pertama kalinya momen pertemuan Ayah dengan anak itu terjadi, disaksikan sebagian rakyat Castor, Jasper dan prajurit lainnya menangis sesenggukan menyaksikan momen haru Raja mereka.


"Helena, kamu Putri Helena, kamu seorang Putri Kerajaan," ucap Alaric yang begitu bangga mengatakan itu dihadapan rakyatnya.


Mereka memilih untuk beristirahat di rumah sederhana itu. Para penduduk sibuk membuat kudapan makan siang untuk disajikan kepada Raja dan Ratu mereka.


"Jadi kau telah memutuskan untuk bersama ku disini?" tanya Alaric.


"Iya, semua berkat Ayah dan Ibu, mereka berusaha meyakinkan aku agar rela meninggalkan duniaku demi mendampingi kamu, membahagiakan Helena," ujarnya.


"Terimakasih sayang, aku tidak akan membuatmu bersedih, aku tidak membiarkanmu merasakan tidak nyaman disini, sekarang ini negerimu, kau Ratu Castor, kau lebih berkuasa disini, mari kita hidup bersama Helena, membangun keluarga kita," kata Alaric.


Keesokan paginya mereka kembali melakukan perjalanan ke istana, di sepanjang jalan rakyat Castor menyambut Hazel dan Helena. Mereka meriahkan suasana penyambutan itu dengan lagu-lagu kerajaan Castor.


"Lihatlah, kau sangat dicintai disini," ucap Alaric.


Hazel tersentuh, dia teringat berapa pedihnya hidupnya dulu sebelum mengenal negeri Castor. Teman-teman kuliahnya selaly membully dirinya hanya karena penyakit cacar yang melekat di tubuhnya, adegan bully yang menjadi keseharian Hazel hingga semuanya menjadi kebiasaan yang ia maklumi.


Diistana Hazel mendapatkan kemegahan, perhiasan mendiang Ratu Florida dimiliki olehnya, gaun-gaun baru khusus untuk Ratu berjejer diruangan besar, bahkan segala penunjang alat kecantikan dan kebutuhan Hazel ditempatkan khusus di istana kedua.


Alaric mengajaknya mengelilingi danau buatannya, danau yang akan menjadi destinasi wisata yang mereka namai Tommy Kammy, dan destinasi wisata lain lainnya dengan nama Valencia, cara itu mengenang pengabdian Valencia ketika masa-masa sulit Castor.


"Kita akan tua disini, memandangi danau Tommy Kammy," ucap Alaric.


Hazel tak henti melukiskan senyuman diwajahnya, tangannya teramat erat menggengam tangan Alaric. Benar kata Zhietta, Satu-satunya cara membuktikan cinta sehati adalah pengorbanan. Kita tidak akan tahu seberapa kuat cinta itu jika tak berani mempertaruhkannya.


'Ayah, Ibu, aku tahu kalian sedang memikirkan aku. Di Castor aku sangat bahagia, jangan khawatir Ayah,' ucap Hazel dalam hati.


***


Di Kota London..


Sudah sejam Tommy duduk di ruang tamu, memandangi foto Hazel dan Helena. Air mata pria paruh baya itu tetap saja berlinangan, menatap foto Hazel dan Helena adalah obat penawar yang sedikit mengobati kerinduan Tommy terhadap putrinya.


"Sudah sejam kau melihat itu, mari kita tidur, aku merasa Hazel disana telah dinobatkan menjadi Ratu, aku percaya dia akan bahagia, Alaric adalah pria terbaik di Castor, memiliki kepribadian baik, putri kita ditangan pria yang tepat," ucap Zhietta.


Tommy menyunggingkan senyuman, dia menciumi foto Hazel dan Helena lalu meletakkannya kembali di dinding.


"Berbahagialah disana anakku, kau pantas mendapatkan semua impian para gadis-gadis di dunia ini, tapi kah pemenangnya, kau memiliki hati yang suci putriku," ucap Tommy seraya memandangi foto Hazel yang tersenyum tulus.


Dia dan Zhietta hidup berdua di rumah itu, rumah yang setiap sudutnya ada cerita yang menyimpan kenangan. Sejak usia lima tahun, Hazel dibesarkan dirumha itu dengan berbagai adegan sedih, marah, tawa, dan tangisan. Tommy akan menghabiskan masa tuanya untuk mengenang putri semata wayangnya itu.