
Valencia menemani Zhietta berbelanja baju, wanita itu sengaja memilih toko baju yang tidak jauh dari rumah Tommy ada kerinduan di hatinya kepada pria yang masih berstatus suaminya itu.
"Ternyata kau bisa agresif juga jika persoalan rindu," ketus Valencia.
"Itu keahlianku selama tujuh ratus tahun," sahut Zhietta.
Berkeliling mencari baju untuk Valencia, Zhietta merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan, ketika membalikkan badan, dia mendapati Tommy yang berdiri mematung memandangjnya, saat itu Tommy sedang menemani Emma belanja pakaian. Zhietta pun ikut mematung, kedua mata yang saling merindukan itu kini telah menemukan sosok visualnya.
'Aku memandangi suamiku, setelah sekian lama aku terbang bebas tanpa arah, tapi kini bukan lagi aku yang di sampingnya,' ucap Zhietta dalam hati menatap Tommy dari kejauhan.
Tommy perlahan melangkah, mengenang kembali cerita Hazel tentang Kammy, istrinya yang ternyata jelmaan Penyihir Zhietta. Saat itu ia langsung mempercayainya, dia terpukul dengan kebohongan cinta Zhietta hanya demi ambisi mengawasi pergerakan Hazel. Namun menemukan Zhietta kembali tanpa sengaja menjadikan rasa yang layu itu disiram air hujan, mencoba hidup kembali.
'Kammy adalah dia yang telah menjadi isteriku selama tujuh belas tahun, Kammy yang menemani segala pertumbuhan ku, dan Hazel,' ucap pula Tommy dalam hatinya
Ada Emma yang menepuk pundak Tommy,
"Aku sudah membayarnya, ayo kita pulang," kata Mema menarik tangan Tommy, ia tidak menyadari kekasihnya itu sedang melihat Zhietta.
Ketika Emma hendak menarik tangan Tommy, kekasihnya itu malah menahan diri, dia tetap ingin di tempat.
"Kau kenapa, sayang?" tanyanya. Mata Emma mengarah ketujuan pandangan Tommy.
Emma terhenyak melihat sosok wanita yang selalu ada terpajang di foto dinding rumah Tommy, Emma tahu itu adalah Kammy alias Zhietta dari negeri Castor.
"Kammy.." lirih Tommy yang tidak melepaskan pandangannya dari Zhietta.
Melihat cara Tommy memandangi Zhietta, Emma melepaskan pegangan tangannya dari Tommy, dia merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Emma perlahan mundur, sementara Tommy semakin melangkah mendekati Zhietta.
"Dia Ayah Hazel," gumam Valencia melihat Tommy telah berada dihadapan kakak angkatnya itu.
Tommy tersenyum, memandangi Zhietta dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kau kemana saja? kenapa menghilang begitu lama? meningalkan rumah tanpa pamit," tanya Tommy yang seolah-olah tak terjadi sesuatu kemarin.
Zhietta tergugu, dia bingung mengapa Tommy tidak mempermasalahkan dirinya yang telah menyembunyikan identitas aslinya, yang telah berusaha membuat Hazel menderita
"A-aku... aku," sahut Zhietta gelagapan.
Tommy yang tak kuasa menahan rindunya dengan sigap meraih tubuh Zhietta untuk di peluknya. Dia menuntaskan rindunya yang tertahan setelah kepergian Zhietta.
"Aku merindukanmu, aku gila mencarimu, aku hampir gila setelah Hazel beritahu kamu mati dalam cerita dongeng itu," ucapan Tommy dengan tangisnya.
Emma ternganga melihat reaksi Tommy kepada Zhietta, dia merasa tidak dihargai berdiri di tempat itu, melihat kekasihnya memeluk wanita yang seharusnya telah menjadi mantan istrinya.
"Ternyata benar, masa lalu tetap pemenangnya.." lirih Emma. Dia lebih memilih keluar dari toko baju itu dengan perasaan berkecamuk.
Zhietta yang dipeluk oleh Tommy melihat reaksi Emma yang memilih keluar meningalkan Tommy. Zhietta tersenyum miring sebab ia pemenang dari kekacauan hati Tommy, ternyata benar, Tommy hanya menjadikan Emma sebagai pelampiasan rindunya dari ketiadaan Zhietta.
Tommy bahagia dapat mendengar permintaan maaf Zhietta, sementara Valencia menyusul Emma keluar dari toko baju itu. Dia memanggil-manggil Emma yang hendak menjauh dari toko baju itu.
"Emma, tunggu!"
Emma membalikkan badannya, dia terhenyak melihat Valencia juga ada di tempat itu. Valencia berlari kecil menghampirinya, wanita buang berprofesi sebagai polisi itu menghapus air matanya.
"Kau kenapa?" tanya Valencia.
Emma mengalihkan pandangannya dari Valencia, karena ingin membela Zhietta, Valencia terpaksa mengatakan hal menyakitkan kepada Emma.
"Aku juga melihat tadi apa yang terjadi di dalam toko, aku pikir itu memang cinta, mereka saling mencintai, hanya saja terkadang saling menutupinya karena ego," ujar Valencia. Dia berniat ingin menjauhkan Emma dari Tommy.
Emma tertawa menahan sakit hati, dia memandangi Valencia dengan tatapan meremehkan.
"Kau jangan mengacaukan aku, kalian hanya tamu disini, aku adalah polisi, kalian bisa apa?!" Jiwa polisi Emma mencuat.
Valencia tertawa, dia tidak percaya Mema adalah polisi karena dia tidak pernah melihat Emma berseragam. Emma yang merasa direndahkan oleh reaksi Valencia. Polisi wanita itu mengeluarkan pistolnya lalu mengangkatnya di depan Valencia, tidak lupa mengeluarkan pula kartu namanya.
"Sekali lagi kau bicara, seluruh penduduk Castor yang ada di London akan kutahan sebagai ilegal, kalian masuk tanpa identitas." Emma tidak lagi mengancam, dia sedang memberikan leringa agar Valencia dan kawanannya berhati-hati.
Valencia terdiam, ternyata dia dan Zhietta terancam oleh Emma, dia tidak bisa menjamin akan tenang hidupnya jika salah satu polisi tahu siapa jati diri mereka sebenarnya.
"Berhati-hatilah, seharusnya kalianlah yang perlu lebih hormat kepada kami, ingat, ini bukan dunia sihir, kalian datang kesini hanya manusia biasa yang menumpang hodup karena lari dari hukuman," Ucap Emma yang tidak mau kalah oleh Valencia dan Zhietta.
Merasa tidak memiliki urusan lagi, Emma memilih enyah dari tempat itu, meninggalkan Valencia yang terngaga oleh kalimat-kalimat yang menyakitkan Emma. Berniat ingin menyakiti Emma, malah menjadikan itu bumerang bagi dirinya sendiri.
"Zhietta, kenapa kamu harus kembali ke Tommy, jika dia sakit hati, Emma pasti melakukan sesuatu kepada kami," Gumam Valencia.
Valencia kembali masuk ke dalam toko baju itu, dia mencari letak keberadaan Zhietta dan Tommy, ternyata mereka sedang duduk berbincang di ruang tunggu, Valencia hanya geleng-geleng kepala, ternyata masa puber orang tua lebih parah dari seusianya.
"Apa tubuhmu terluka saat melawan Hazel dan Alaric?" tanya Tommy memperhatikan bekas-bekas luka Zhietta.
"Ya, putri dan mennatumu kuat, tapi itulah yang harus terjadi, jika tidak, aku tidak akan sampai disini menemuimu lagi," sahut Zhietta yang lebih lemah lembut dari biasanya.
Mendengar suara mendayu Zhietta, Tommy makin terpesona, wajah Zhietta memang auranya lebih berbeda kali ini, tidak sama seperti saat menjadi penyihir, aura Kammy atau Zhietta sangat menyeramkan dengan intonasi bicara yang meledak-ledak.
"Tapi sekarang kita bukan suami istri lagi," ucap Zhietta, dia ingin meyakinkan dirinya jika Tommy menceraikannya atau tidak.
Tommy mengusap wajahnya dengan kasar, dia sungguh dilema, memilih memperthankan pernikahannya dengan Zhietta atau memilih melanjutkan masa depan dengan Emma. Teringat dengan Emma, Tommy tersadar, dia tidak melihat Emma sedaek tadi. Tommy mengarahkan pandangannya ke setiap sudut toko itu, tak ada Emma dilihatnya.
"Ada Emm tadi disini, kau melihatnya?" tanya Tommy kepada Zhietta.
"Apa itu kekasihmu? yang sudah menggantikan aku?"
Tommy bungkam, dia tidak memiliki jawaban tepat untuk itu, dia sendiri sedang bingung kepada siapa hatinya bertaut.