HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Buku Dongeng Yang Bercahaya



Hazel terbangun dari tidurnya, dia memimpikan Alaric sedang tersenyum mengulurkan tangan, namun di dalam mimpi itu, Hazel hanya berdiam diri. Terdengar ketukan pintu membuyarkan lamunannya, suara Emma memannggily untuk bangun.


"Iya, aku sudah bangun," sahutnya.


Setelah mandi ia keluar untuk sarapan, Lagi-lagi ada Collins yang hadir sarapan bersama keluarganya, Hazel hanya menyunggingkan senyum kecil.


"Kamu sepertinya lelah, dari tadi Collins menunggumu." Tommy yang berusaha mendekatkan Hazel dengan Collins.


Collins mencuri pandangpandang ke Hazel, daur wajah wanita itu murung tak bergairah.


"Kalian tidak bersama pulang semalam," kata Tommy.


"Karena aku juga memiliki kehidupan sendiri, Ayah. Aku wanita, tidak selalu harus bersama pria." Ketua Hazel.


Collins menghela nafas, Hazel menyudahi sarapannya, dia bergegas keluar teras untuk mengenakan sepatu, Collins menyusulnya.


"Kau terlihat marah kepadaku," ucap Collins.


"Tidak, hanya sedikit tidak berselera beraktivitas hari ini, tapi kerjaan menuntutku."


Collins bertekuk lutut, dia tidak ingin kehilangan rasa hormat Hazel.


"Janganlah seperti ini, aku minta jika aku ada salah," ucapnya.


Hazel tidak akan mengungkapkan bahwa ia mengetahui Collins membuntutinya. Hazel tidak ingin diantar, dia ingin pergi mencari Alaric seorang diri, menyelesaikan pemotretan beberapa jam lalu menelusuri supermarket itu lagi.


Tommy dan Emma mengintip keduanya yang sudah memiliki hubungan renggang itu. Collins masuk ke dalam mobil dengan hati yang berkecamuk, dia menghargai keputusan Hazel untuk sejenak menjaga jatah darinya, tetapi dihati Collins tak ada sedikitpun niat untuk menyerah.


Ketika hendak membelokkan mobilnya, dia melihat Hazel sedang dikerumuni beberapa orang, gadis itu tergeletak dipinggir jalan.


"Hazle, Hazel," pekik Collins.


Hazel pingsan dipinggir jalan, Collins segera membawanya ke klinik terdekat. Tubuh gadis itu pucat, seakan tak ada aliran darah yang mengalir. Di klinik itu, Hazel diperiksa oleh dokter pria, setelah mengetahui gejala sakit yang menyebabkan Hazel pingsan, dokter itu ke Collins.


"Istrimu sangat kelelahan, itu dapat membahayakan kehamilannya," ujar dokter itu.


Deg!


Collins terhenyak, Hazel hamil? benarkah itu? bagaimana bisa? siapa yang menghamili nya? sederet pertanyaan dibenak Collins.


"Kandungannya akan memasuki sebulan, dia harus membutuhkan istirahat yang cukup untuk dirinya dan janinnya," ucap dokter itu.


Collins hanya menganggukkan kepalanya, dia berusaha tidak menampakkan keterkejutannua kepada dokter itu. Setelah dokter pergi dari ruang periksa, Collins termangu menatap Hazel yang belum sadarkan diri.


"Apakah pria semalam yang sudah menghamili mu?"


Perut Hazel telah dinaungi janin pria lain, Collins merasa sangat menyedihkan, dia telah berusaha payah berjuang untuk mendapatkan hati Hazle, namun alur ceria itu malah memaksanya agar ia berhenti berjuang. Namun ada yang aneh dengan Hazel, sepertinya Hazel tidak mengetahui bahwa diia telah mengandung, sangat jelas ia tidak pernah berhati-hati dalam melakukan apapun.


"Aku tidak boleh memberitahu Hazel tentang kehamilannya, dia tidak boleh bersama pria itu," gumam Collins.


"Maaf Hazel, kau harus menjadi milikku, aku sudah terlalu obsesi denganu, juah sebelum pria itu," ucap Collins yang sejak SMU mencintai Hazel.


Collins berhenti tepat di depan club, dengan terpaksa dia membawa Hazel untuk minum-minum walaupun Hazel tidak sadarkan diri.


***


Buku itu mengeluarkan cahaya biru, seolah memberikan pertanda bahwa ada sosok yang baru saja keluar dari Negeri Castor. Saat itu ada seorang perempuan yang sedang duduk di dekat jendela, ia terkejut dengan buku dongeng Castor yang bereaksi menujukkan sesuatu.


"Sepertinya benar, ada seseorang yang keluar dari Negeri Castor," gumamnya.


Dia Zhietta, dia yang telah keluar dari negeri Castor sebagai wanita biasa, dia tidak lagi menjadi sebagai penyihir karena kekuatannya telah musnah bersama jiwa iblisnya di negeri Castor. Dia diberikan kesempatan untuk menggunakan jati dirinya sebagai Kammy di London.


"Kapan buku dongeng ini mengeluarkan sosok manusia Castor? apakah saat buku ini di gudang rumah Tommy, ataukah di saat telah ku ambil," gumamnya bertanya-tanya seorang diri.


Selama dilemparkan keluar dari Castor, Zhietta ingin berubah, dia ingin menjadi Ibu tiri yang baik untuk Hazel, berharap Tommy ingin menerimanya lagi, tetapi Tommy malah akan menikhai sosok wanita yang berprofesi sebagai polisi wanita, Emma.


"Ternyata benar, tak ada yang Benar-benar mencintaiku selain Efrat, hanya dia yang tulus kepadaku, suamiku sendiri dengan mudahnya mencintai wanita lain," lirih Zhietta.


Dia sudah menjadi wanita seperti manusia pada umumnya, mudah menangis, marah, kesal, berlebihan dalam berpikir, hingga cemas. Rasa yang paling mendominasinya saat ini ialah penyesalan, menyia-nyiakan cinta Efrat, namun itu hanya tinggal kenangan, Zhietta bukan lagi penghuni Castor, dia tidak dapat masuk ke bjk dongeng lagi.


Buku dongeng Castor tetap bercahaya, Zhietta semakin curiga bahwa ada penduduk Castor yang keluar dari buku dongeng.


"Jika benar, mengapa buku ini bercahaya, klau Siapakah yang keluar?" tanya Zhietta.


Buku dongeng itu sudah lama ia tidak baca, bukan tidak tertarik, hanya saja dia tahu jalan cerita yang berusaha ia rubah selalu gagal karena kekuatan Alaric.


"Baiklah, kau akan membaca mu lagi, aku yakin buku ini memiliki jawaban dari cerita selanjutnya," lirihnya.


Buku dongeng Castor terdiri dari satu asli, empat kopian, yang asli sudah tertutup untuk selamanya, buku tempat masuk dan keluarnya Hazel dadi Castor, sedangkan hanya tersisa empat bagian, satu dibawa oleh Zhietta, dan ketiganya tertinggal di istana kegelapan, sekarang telah ada di tangan Jasper dan Pak Van Hill.


"Yan, aku menulis sebagian tulisan tangan ini dengan pena ajaib, tapi..." Zhietta baru melihat ada tulisan tangan lain di buku ajaib itu.


Sebelumnya keempat kopian buku itu saling menyatu, apapun yang ditulis dan dicoret di buku satunya, akan menyerupai dibuku lainnya, karena keempat kopian buku dongeng ajaib itu saling menyatu satu sama lain.


"Ketika mereka berdua terpisah, ada jalan lain menuju ke dunia Hazel yang ada di London, Alaric melewati pintu itu dengan begitu mudah lalu..."


Zhietta terkesiap membaca sisi paragraf yang tidak lengkap itu.


"Tidak, siapa yang melanjutkan tulisan ini, siapa yang memakai pena ajaib ku." Zhietta panik jika yang memegang pena ajaib itu akan menulis seenaknya kisah indah dinegeri Castor.


"Aku benar-benar kalah, pasti yang menulis kisah ini adalah Alaric," gumamnya yakin.


Zhietta kembali menyadari bahwa buku itu bercahaya karena Alaric sudah lolos dari Negeri Castor. Dia bergegas kembali menyimak baik-baik makna tulisan Alaric di buku ajaib itu.


"Alaric sekarang ada di London, dia benar-benar mengunjungi Hazel, apakah dia membawa salah satu buku ajaib dan pena itu?" Zhietta kian panik. Karena tak sanggup menahan kepanikannya, Zhietta tersungkur di lantai.