
Di London, Emma sibuk menyiapkan makan siang untuk Pak Van Hill, dibantu oleh Tomm, Emma membawa makanan itu ke kamar Pak Van Hill. Namun ketika telah membuka pintu, Emma danTommy terkejut dengan pusaran angin yang mengelilingi Pak Van Hill.
"Apa itu?" tanya Emma. Dia meletakkan nampan ditangannya di atas meja.
Tommy melarang Emma agar tidak mendekati pusatan angin itu, tetapi tetap saja Emma penasaran dengan keadaan Pak Van Hill. Kakek Alaric itu hanya terdiam duduk sambil melempar senyum kepada Emma dan Tommy.
"Pak, kau baik-baik saja?" tanya Emma khawatir.
Pak Van Hill menitikkan air mata, "Aku akan kembali di negeriku, Aku dan Hazel akan bertukar tempat lagi."
Tommy terhenyak mendengar itu, Emma belum siap Pak Van Hill kembali ke Castor, Emma malah ingin mm merawat Pak Van Hill hingga sembuh, is Kakek tua itu sudah banyak mengalami luka berat karena ulahnya dengan Tommy.
"Jangan pergi dulu, Pak. Izinkan kami. menebus kesalahan kami.." Pinta Emma.
"Kalian sudah cukup baik, kalian telah merawatku.. Aku tidak akan pernah melupakan kalian."
Pusaran angin itu kian gencar melenyapkan bagian kaki Pak Van Hill.Emma dan Tommy sungguh terkejut dengan fenomenal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Tommy.. Hazel telah kembali, jaga dia baik-baik, hatinya sedang patah saat ini.." Ucap Pak Van Hill memberikan pesan kepada seorang Ayah tunggal untuk putrinya.
Tommy tidak memahami maksud dari perkataan Pak Van Hill. Dia mencoba mendekati pusaran angin itu, tetapi tubuh Tommy malah terpental. ke tembok.
"Ahjk... Tommy.." Emma memekik karena terkejut.
Dia menghampiri Tommy memastikan Ayah Hazel itu baik-baik saja. Pusaran angin kencang itu semakin lm
melenyapkan Pak Van Hill, bagian tubuh perut Pak Van Hull telah lenyap, kini bagian dada menuju ke kepala. Emma menyadari itu terakhir kalinya ia melihat Pak Van Hill, dia tidak ingin membuang waktu hanya berdiam diri saja.
"Pak, maafkan kami karena kurang mengurusmu dengan baik. Kami akan merindukanmu Pak.. Kami harap kita bisa bertemu lagi."
Pak Van Hill hanya tersenyum mendengar itu, yang diharapkan Emma adalah kesemuan semata. Harapan itu tidak akan terjadi sebab buku dongeng Pak Van Hill akan tertutup selamanya. Para Penghuni Castor tidak akan bisa keluar dari buku dongeng untuk menjelajahi dunia manusia lagi.
"Pak..Pak Van Hill huhuhu" Emma memanggilnya tiada henti, sembari menangis ia berusaha ikhlas melepaskan Kakek yang sudah ia anggap seperti Kakeknya sendiri.
Pusaran mangin itu semakin melenyapkan tubuh Pak Van Hill, dengan waktu yang beraturan, seluruh tubuh Pak Van Hill lenyap dari penglihatan Emma dan Tommy.
"Dia sudah tidak ada.." Ujar Tommy yang ternyata.
Emma menjatuhkan diri ke lantai, merasa gagal membantu Pak Van Hill untuk sembuh dari luka. Dia merasa bersalah karena ulah teman sejawatnya, Pak Van Hill mendapatkan perlakuan buruk.
"Kita sudah menjadikan Pak Van Hill sebagai eksperimen, kita sudah tega, dan kita malah belum menyembuhkannya." Emma menangis sesenggukan. Hati lembutnya merasa bersalah karena membiarkan Pak Van Hill di bawa oleh pihak penelitian.
"Ini bukan salahmu, bukan salah kita juga, ini prosedur di dunia kita. Dia makhluk aisng sehingga membuat orang lain beranggapan waspada," serah Tommy.
Setelah beberapa saat memenangkan Emma, Tommy teringat dengan perkataan terakhir Pak Van Hill bahwa Hazel telah kembali. Tommy ingin ke rumahnya segera, ia berharap yang dikatakan Pak Van Hill adalah kebenaran.
"Aku harus pulang ke rumah, ada Hazel menungguku Emma.."
Emma ikut berdiri dari tempat duduknya, "Aku ikut..aku ingin memastikan jika semuanya benar," ujarnya.
Setiba di rumahnya, Tommy berlari mengitari halaman, namun tak ada satupun sosok yang di temukan. Tommy mengajak Emma masuk ke dalam rumahnya, ketika membuka pintu, suasananya rumahnya sepi, tak ada Hazel ataupun Kammy yang ia temukan. Tubuh Tommy lunglai, dia kecewa dengan harapannya, berharap ada Hazel dan Kammy telah berada di rumah menunggunya.
"Sepertinya Pak Van Hill salah tafsir," ucap Tommy mengusap wajahnya dengan kasar.
Emma juga kebingungan, tapi di satu sisi ia yakin Pak Van Hill tidak pernah bohong kepada mereka. Emma melihat tumpukan bjku di rak lemari, timbul di benaknya dengan keadaan terakhir Hazel ketika menghilang. Emma yakin semua kembali seperti semula.
"Ayo ikut aku," kata Emma menarik tangan Tommy.
"Kita mau kemana?"
"Ikut saja... kita akan buktikan perkataan Pak Van Hill."
Kali ini Emma yang mengemudikan mobil. Dengan laju yang cepat Emma meyakinkan dir bahwa yang dipikirkannya adalah kebenaran. Mobil itu ia hentikan di depan perpustakaan Pak Van Hill, perpustakaan itu masih di tersemat pelbagai garis polisi. Merasa Emma memiliki akses untuk melewati garis polisi itu, ia berani membuka paksa pintu perpustakaan Pak Van Hill yang sudah dililit rantai besi.
"Bantu aku," pintanya kepada Tommy agar merusak rantai besi itu.
Dengan susah payah mereka berhasil memutuskan rantai besi itu. Emma dan Tommy bergegas menyusuri setiap sudut di perpustakaan, teramat berdebu karena tak ada Hazel dan Pak Van Hill yang membersihkannya.
"ukh.. uhkk.." Terdengar suara batuk dari arah ruangan samping mereka.
Sesaat Tommy dan Emma bertatapan, mereka menjacrii keyakinan dari tatapan satu sama lain. Tanpa berucap sepatah katapun, Tommy dan Emma beranjak ke gudang. Ketika menbuka pintu gudang, Tommy dan Emma ternyata dengan sesosok yang mereka temukan.
"Hazel.." Lirih Tommy.
Hazel terbaring dengan gaun warna hazelnutnya yang mengawali petualangannya di negeri Castor, gaun yang hilang secara sendirinya di toko baju favorit Hazel.
"Hazel... Hazel.." Tommy berlari ke anaknya, memmraih tubuh Hazel yang teramat lelah karena berpindah dimensi dari buku.
"Dia sangat lemah, kita bawa ke rumah sakit," usul Emma.
Hazel memengang erat tangan Ayahnya, seolah menujukkan ketidaksetujuan ketika dia ingin di bawa ke rumah sakit.
"Sepertinya Hazel tidak mau.." kata Tommy yang sudah tahu bahasa tubuh putrinya.
Hazel yang lemas perlahan membuka matanya, pertama kali ia melihat wajah Ayahnya.
"Ayah.." Lirih Hazel dengan suara purau.
Hazel tersenyum, tidak menunjukkan segala yang telah ia ketahui dengan keadaan Ibu angkatnya, Kammy alias Zhietta. Tommy memeluk putrinya, dia ingin putrinya merasa terlindungi lagi.
"Jangan bicara apapun dulu, kita pulang ke rumah.." Tommy menggendong putrinya keluar dari perpustakaan Pak Van Hill.
Emma melihat buku dongeng yang diberikan Pak Van Hill tergeletak di atas meja. Karena penasaran, Emma mencoba mengecek, tetapi buku dongeng itu sudah tertutup rapat seperti direkatkan oleh lem.
"Sudahlah... nanti saja," Emma meninggalkan buku dongeng itu lalu menyusul Tommy ke mobil.