HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Pengakuan Pak Van Hill



Tommy dan Emma memutuskan untuk ke lembaga penelitian terbesar di London. Mereka ingin menemui Pak Van Hill, Tommy belum sepenuhnya mempercayai dugaan Emma, namun kata hatinya terpanggil untuk membantu Pak Van Hill.


"Kita harus bersikap seolah tidak memihak kepada Pak Van Hill," ujar Emma.


Setiba di lembaga itu, jajaran dokter forensik menyambut kedatangan Emma dan Tommy, sejenak mereka menghangatkan suasana mengajak ngobrol para dokter, sehingga Emma dapat mengetahui kelanjutan dari pemeriksaan Pak Van Hill.


"Apakah semuanya baik-baik saja? si Kakek itu tidak membahayakan kalian?" tanya Emma.


"Dia tidak membahayakan, ataukah karena dia tidak memiliki keberanian? Entahlah, ini sulit untuk dipahami, tapi yang jelas dia monster," sahut dokter forensik.


Emma dan Tommy sesaat saling bertatapan, Tommy malah kian resah karena mendengar penuturan dokter Forensik, ia malah berpikir jika Pak Van Hill bisa saja mengorbankan Hazel.


"Kau yakin dia monster? lalu bagaimana dengan anakku?" tanyanya.


Emma mendekati Tommy, diam-diam mencubit tanahn Tommy agar tak bertanya seperti itu lagi. Emma ingin menjadikan suasana agar Pak Van Hill tak dicurigai lagi sebagai mahkluk yang berbahaya.


"Mungkin saja sudah di makan olehnya? Apa perlu kaki membela perutnya?" canda dokter forensik itu. Ia menganggap menemukan Hazel adalah harapan yang tak memungkinkan.


"Dokter, Seharusnya kau jangan berkata seperti itu, dia seorang Ayah yang berharap keselamatan putrinya," kata Emma.


"Lalu apa yang harus aku katakan? membiarkan dia berharap, menunggu monster tua itu mengakuinya?" serah dokter itu


Tommy terpukul mendengar pernyataan dokter forensik, ia bingung siapa lagi yang harus ia percayai. Di satu sisi Emma selalu meyakinkannya namun para ahli melemahkan keyakinannya terhadap Emma.


"Kau jangan mendengarkan itu, Tuan Tommy. Dengarkan kata hatimu," ucap Emma menetralkan pikiran Tommy.


"Maafkan aku, tapi ini hanya bercanda, kami menemukan bukti itu," ucap dokter forensik yang merasa bersalah.


Emma melirik tajam ke dokter forensik, dia mengajak Tommy berdua untuk berbicara langsung dengan profesor langsung. Tommy lebih banyak diam disaat sedang menunggu Profesor tiba. Emma hanya bisa terdiam mengamati Tommy. Tidak lama berselang, Profesor tiba di ruangannya. Emma menyapa dengan memberi salam hormat.


"Kalian menunggu lama?" tanya profesor itu.


"Hanya sesaat Prof, maaf jika mengganggu waktumu," ucap Emma.


Profesor itu tak masalah, dia etalh dijelaskan bahwa pria yang bersama Emma adalah seseorang yang melaporkan Pak Van Hill ke polisi. Profesor itu menyambut baik Tommy, hanya sedikit gengsi bila harus mengucapkan terimakasih kepada Tommy.


"Kau telah menemukan sosok yang harus di amankan," ujar Profesor itu.


Emma menyipitkan matanya, menganalisis kalimat Profesor, benar yang ada dipikirannya, Profesor itu senang karena mendapatkan Pak Van Hill, itu bisa menjadi keuntungan besar baginya menjadi Profesor terkemuka di dunia.


"Bisakah kau menjelaskan kepada kami keadaan Pak Van Hill?" tanya Emma.


"Monster? dia monster!" Profesor itu lantang mengucapkannya.


"Apakah monster semuanya berbahaya?" tanya Emma lagi.


"Kau belum tahu arti monster? dia bisa liat kapan saja."


"Tidak semua yang bukan manusia itu monster, kau juga tahu itu, Profesor."


"Aku lebih tahu darimu, jangan memutarkan fakta, kau mengetahui sesuatu?" tanya Profesor itu.


Emma tersenyum, dia sudah menyangka respon Profesor itu akan mewaspadai Pak Van Hill. Tommy hanya jadi penonton di tengah perdebatan mereka.


"Tidak bisa, dia sedang observasi."


Emma mengeluarkan syarat kuasa agar Tommy berhak bertemu dengan tersangka. Profesor itu tak dapat menolak lagi, dia hanya terdiam membiarkan Emma dan Tommy ke ruangan observasi Pak Van Hill.


Emma bergerak cepat menarik baju Tommy, dia ingin memanfaatkan waktu sebelum surat palsu itu diketahui oleh Profesor.


"Kau berani membuat surat kuasa palsu," uhar Tommy.


"Pelankan suaramu, aku tidak ingin egois sebagai manusia, Pak Van Hill tidak bersalah, hati nurani ku sebagai manusia berkata itu," tutur Emma.


Mereka memasuki ruangan observasi, mendapati Pak Van Hill di ikat dengan rantai, Emma terenyuh, dia mendekati Pak Van Hill seraya mengucapkan kata maaf.


"Maafkan kami, Tuan. Ini keegoisan kami sebagai manusia."


Pak Van Hill lemas, sampai saat ini Profesor belum memberikannya sekantong darah, tubuhnya lemas karena tak ada suplemen pendukung masuk ke dalam tubuhnya.


"Kau dilukai oleh mereka, Pak Van Hill berikan saya kejujuran mu, kau sosok makhluk apa? Dengan begitu saya mengarahkan mereka memperlakukan mu dengan baik, ini tetap akan jadi rahasia."


Pak Van Hill melirik ke Tommy, dia memanggil Tommy dengan tangannya, Pak Van Hill merasakan sesak, sesekali Emma mengusap belakangnya.


"Putrimu sedang berjuang, aku adalah makhluk dari negeri dongeng tempat putrimu sedang berada, percayalah.. Tommy," ucap Pak Van Hill.


Tommy melirik ke Emma, wanita itu menghargai kejujuran Pak Van Hill. Tommy menanti cerita Pak Van Hill selanjutnya, berharap yang dikatakan Pak Van Hill dapat membulatkan keyakinannya.


"Aku bukan monster, tapi seorang Raja yang dikutuk menjadi Vampir," sambungnya.


Emma terkesiap, dia menjauh dari Pak Van Hill setelah mendengar kejujuran Pak Van Hill mengatakan dirinya Vampir. Tommy mengamati seluruh tubuh Pak Van Hill, tanda-tanda seorang Vampir memang terlihat nyata.


"Kau menghisap darah putriku?" tanya Tommy yang berbelok lagi dengan keyakinannya.


"Kau selalu menuduhku, itu tidak benar. Hazel akan kembali setelah misinya selesai, di Castor Hazel bersama cucuku, Pangeran Alaric, putrimu adalah pemeran utama, dia gadis cantik bergaun Hazelnut dalam cerita Negeri Castor," jelas Pak Van Hill.


Tommy tertegun, gaun Hazelnut adalah pertanda kebenaran Pak Van Hill, gaun favorit Hazel yang lenyap di toko bersamaan di waktu hilangnya Hazel.


"Kau tahu semua itu?" tanya Tommy.


"Aju tahu semua, dia putri angkat yang jarang diperlakukan baik, Hazel memiliki kebaikan sehingga ditugaskan menyelematkan Castor, kalian tidak percaya ? pergilah ke perpustakaan ku, cari buku dongeng aja bisa itu di laci, " Teh Castor Land, " tutur Pak Van Hill.


Emma hanya ternganga, dia seperti sedang dibacakan dongeng pengantar tidur.


"Hai wanita baik, kau mirip dengan menantuku, Florida, memiliki hati yang lembut," ujar Pak Van Hill kepada Emma.


Tommy mengusap belakang Pak Van Hill, ada banyak pertanyaan yang menggerogoti pikirannya,


"Kenapa kau bisa ada di London? kenapa kau bisa keluar, benarkah itu keajaiban?"


"Aku keluar karena sihir Zhietta, penyihir wanita salah membacakan mantra untuk mengutukku menjadi binatang. Aku tidak bisa menceritakannya, kau tidak akan paham itu."


Terdengar suara dari luar meminta Emma dan Tommy keluar dari ruangan observasi. Emma bergegas memasukkan kameranya di kantong baju Pak Van Hill.


"Ini kamera yang akan menyala, maafkan kami belum dapat menolong mu, tapi kami akan mencari cara lagi," ucap Emma sebelum pamit dari Pak Van Hill.