
Zhietta galagapan, Efrat masih mencecarnya dengan pertanyaan, melihat keadaan itu, Hazel memanfaatkan kelengahan Zhietta, ia merpa tongkat Zhietta lalu berlari menuju ke ruangan lain.
"Hazel!" Teriak Zhietta.
Efrat hanya terdiam, dia tak berniat lagi membantu Zhietta mengejar Hazel. Efrat malah duduk, menyaksikan kepanikan Zhietta.
"Efrat, dia mengambil tongkat ku!" Kata Zhietta meminta bantuan kepada Efrat.
Efrat hanya berdiam diri, tak mengucapkan sepatah katapun, dia menunjukkan kekecewaannya terhadap Zhietta.
"Kau tidak berniat membantuku?" tanya Zhietta.
"Aku lelah, kau usahakan saja sendiri." Efrat malah berbaring.
Zhietta berdecak kesal, walaupun Hazel tak dapat menggunakan tongkatnya, namun ia juga tak dapat menggunakan sihirnya jika tak memiliki tongkat. Iblis telah memberikannya tongkat untuk sarana menggunakan mantranya.
Hazel mencari ruangan yang aman untuk persembunyiannya, kakinya terperosok ke lantai yang memiliki lubang perangkap, Hazel jatuh ke ruang bawah tanah. Hazel terbaring dilantai diruang bawah tanah.
"Hazel," suara pria menyebut namanya.
Hazel menengok ke arah pria itu. Matanya terbelalak melihat Alaric telah dibelunggu oleh rantai, tak lain ialah perbuatan Zhietta.
"Alaric, akhirnya aku menemukan mu," ucap Hazel. Spontan dia mencium bibir Alaric karena membuktikan cinta dan rasa khawatirnya.
"Kau datang menyelamatkan ku?" tanya Alaric terharu.
"Iya, karena aku mencintaimu, Pangeran Alaruc," sahut Hazel. Katanya berkaca-kaca memandangi Alaric.
Suara Zhietta terdengar ingin turun ke ruang bawah tanah. Alaric menyuruh Hazel untuk bersembunyi di balik bongkahan batau. Hazel meminta bantuan kepada baru Ruby dalam hati.
'Aku mohon batu Ruby, buatlah aku tidak dapat dilihat oleh Zhietta dan pengikutnya,' ucapnya penuh harap.
Zhietta menggeruduk ruang bawah tanah itu, dia mendapati Alaric sedang berpura-pura tidur. Zhietta mengamati keadaan sekitar bawah tanah, mengitarinya mencari jejak Hazel.
"Dimana Hazel?" tanya Zhietta.
Alaric mengerjapkan matanya, seolah bangun tidur. Berpura-pura terkejut dengan pertanyaan Zhietta.
"Hazel? maksudmu Hazel ada disini?"
Zhietta melemparkan buku ke Alaric, ia tahu Alaric sedang berbohong padanya.
"Dia tadi ada disini?! Lantai perangkap ku terbuka, kau jangan membohongi ku!"
Alaric tetap tidak mengakui, "Berarti benar Hazel ada disini? akhirnya," ucapan Alaric.
Zhietta semakin murka, "Kau! Dia sudah ku enak supaya dia bisa sampai ke istana ini, kau jangan menyembunyikannya."
Alaric juga melirik sana-sini, ia mencari-cari keberadaan Hazel. Namun gadis yang ia cintai itu tak nampak di ruangan bawah tanah.
"Siapa yang membantumu menjebak Hazel?" tanya Alaric. Ia tahu tidak semudah itu Hazel mempercayai orang asing di Negeri Castor.
"Aku!" Suara perempuan menyahut dari balik pintu.
Alaric membelalakkan matanya, dia terkejut dengan kebenaran itu. Alaric tidak menyangka pengkhianatan dilakukan oleh orang terdekatnya.
"Valencia.." lirih Alaric.
Valencia menyilangkan kedua tangan sembari tersenyum miring, tatapannya beribu makna, ada kemaragan, rasa cemburu, sakit hati, cinta, dan rasa sedih. Semua itu disebabkan oleh perasaannya yang tak terbalaskan ulah Alaric.
"Kau yang mengkhianati ku, kau terlalu baik untuk melihat sebab kebaikanku kepadamu dan juga kerajaanmu, aku sudah berada di titik untuk tidak diperbudak oleh Castor."
Alaric menggelengkan kepalanya, dia memohon agar Valencia berhenti memihak Zhietta.
"Kau yang dimanfaatkan oleh Zhietta, berhentilah Valencia, kita sudah bersahabat ratusan tahun, sejak kecil Valencia," ucap Alaric penuh harap.
Valencia menitikkan air mata, dia sangat membenci bila Alaric mengucapkan kata sahabat diantara hubungan mereka. Valencia selalu menganggap Alaric itu mencintainya, segala perhatian Alaric membuat Valencia salah paham.
"Aku tidak menganggap mu sahabat Alaric! aku mencintaimu lebih dari sahabat!" Valencia mengungkap rahasia hatinya.
Alaric tertegun, dia tertutup untuk membalas pernyataan Valencia. Ternyata arti sahabat diantara mereka tak ada, hanya sebatas Valencia yang mengagumi lalu bertekad membantu keseharian Alaric.
"Kau selalu bilang, Valencia selalulah di sisiku sampai kita menemukan pasangan masing-masing, bagaimana bisa kau berkata seperti itu terhadap gadis yang mencintaimu?!"
Alaric terdiam, Zhietta hanya menyaksikan adegan perdebatan itu dengan hati yang riang, ternyata kisah antara dirinya dengan Raja Carlos terulang lagi kepada Alaric dengan Valencia.
"Kau sudah ku bunuh dalam hatiku Alaric, kita sudah tidak searah, aku yang akan membunuh gadis pujaan ku itu." Valencia bertekad ingin membunuh Hazel. Jika ia tak dapat memiliki Alaric, Hazel pun tak boleh juga memilikinya.
"Jangan Valencia, Hazel tidak tahu menahu, dia hanya ditugaskan untuk menyelamatkan Castor," pinta Alaric. Ia masih menganggap Valencia sebagai sahabatnya.
Zhietta tak ingin Valencia tergoda oleh permintaan Alaric, dia memotong perdebatan itu dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau sama saja dengan Ayahmu, kau memanfaatkan hati perempuan untuk membantumu dalam segala hal, kau memanfaatkan Valencia selama ratusan tahun, sekarang kau memanfaatkan Hazel, Ayah dan anak sama persis tabiatnya," ujar Zhietta. Ia membuat hati Valencia semakin sakit, semakin membenci Alaric dan Hazel.
Alaric tetap mengelak, dia meminta Valencia untuk mempercayainya, namun gadis berambut pirang itu malah etah dari ruang bawah tanah. Zhietta tersenyum miring karena telah berhasil mendoktrin Valencia.
"Aku cerdas 'kan?" tanya Zhietta mengolok-olok Alaric.
Pintu ruang bawah tanah itu kembali Zhietta tutup, sedang Alaric tertunduk lesu, dia merasa kecewa yang teramat mendalam sebab Valencia. Dia telah kenatuh kepercayaan lebih terhadap Valencia, namun gadia itu malah menyia-nyiakannya.
"Berarti Valencia yang memasukkan virus ke dalam istana, dia hanya juga meneror Hazel." Alaric baru menyadari itu.
Alaric mendengar suara Hazel memanggil namanya, suara Hazel pelan namun dapat terdengar jelas.
"Alaric..aku ada disampingmu," ucapan Hazel yang tidak terlihat.
"Hazel, kau ada disini? dimana sosokmu?"
Hazel menyentuh lengan Alaric yang terikat rantai besi, Alaric dapat merasakan sentuhan Hazel walapun tidak terlihat.
"Tapi kenapa seperti ini?"
"Aku memakai kekuatan baru Ruby, aku akan melepaskan rantai ini, kira akan lawan Zhietta dan Valencia bersama-sama," ujar Hazel.
Hazel mulai membukul-mukul gembok rantai di tangan Alaric. Cukup menguras tenaga, gembok itu sebentar lagi terbuka. Namun terdengar lagi suara langkah kaki yang masuk ke ruang bawah tanah. Alaric menyembunyikan gembok ranati yang hampir rusak itu.
Valencia masuk membawa makanan untuk Alaric, "Ini! untukmu, jangan berharap untuk bersama HHazel," ucapnya, tanpa is sadari ucapan itu adalah kalimat yang seharusnya diberikan kepadanya.
Alaric tak bergeming, dia malah mengalihkan pandangannya, menyebabkan Valencia marah lalu menumpahkan makanan Alaric.
"Aku bukan sahabat mu lagi, aku tidak peduli tentang kelaparanmu, keselamatan mu!" Valencia kembali keluar dari ruamg bawah tanah.
Tentu Alaric bersedih mendengar perkataan Valencia, ratusan tahun bersama Valencia ternyata persahabatan mereka berujung dengan kebencian satu sama lain.
"Alaric, aku ada disini, kita harus menyelesaikan misi kita" ucap Hazel yang kembali memukuli gembok dengan batu.