HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kebahagiaan Alaric



Alaric duduk di ruangannya, ada Jasper yang selalu berdiri di sampingnya untuk mendampingi kebingungan Pangeran Castor itu. Alaric masih menunggu keajaiban pena ajaib itu untuk melanjutkan kisah cintanya dengan Hazel.


"Apakah aku harus menunggu seminggu lagi, dan hanya menulis satu paragraf," gerutu Alaric.


Jasper menghela nafas, salah satu kekurangan Alaric ialah selalu ingin tergesa-gesa jika ingin melakukan sesuatu, terlebih lagi bila itu menyangkut Hazel.


"Mungkin Pangeran harus memahami arti tulisan itu terlebih dulu, karena Pangeran telah menuliskan pintu ajaib akan begitu mudah bagimu," kata Jasper yang analisa itu disampaikan oleh Efrat.


Efrat telah dibawa ke lembaga pendidikan istana untuk dijadikan sesosok anggota parlemen kerajaan, kekuatan Efrat mampu menjadikan pengaruh baik untuk Castor jiak Efrat telah seutuhnya menyesali perbuatannya.


"Jika begitu mudah, arti mudah itu apa, apakah karena aku yang menulisnya sehingga aku bisa menemukan pintu itu," kata Alaric lagi.


Jasper berpikir keras, sementara Alaric mengucapkan harapannya tanpa sengaja, ia bergumam dengan nada pelan.


"Aku harap pintu itu ada didepanku saja," ucapnya tanpa ada maksud apa-apa, dia hanya mengucapkan apa yang dia inginkan.


Tiba-tiba suara petir menyambar masuk lewat jendela mengejutkan Alaric dengan Jasper. Kedua pria itu menghindar, mereka menepi ke tembok untuk menghindari cahaya dari lepasan petir.


"Itu apa, Pangeran?"


"Mungkinkah itu cahaya Jawaban dari buku dongeng?"


Buku dongeng itu terbuka sendiri, mengeluarkan cahaya biru, dari jauh Alaric dan Jasper melihat gambar di buku itu semuanya hidup, gambar di negeri Castor hidup seolah melakukan aktivitas sesuai di gambar itu.


"Jasper, aku sudah menemukannya," ucap Alaric dengan mata terbelalak memandangi buku dongeng ajaib itu.


Jasper tersenyum, ternyata kecerdasan Alaric memang dari alam bawah sadarnya, dia selalu saja melakukan tanpa sengaja, Alaric memang pangeran yang luar biasa.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Alaric ke Jasper.


Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba angin meniupkan kencang dari arah jendela, angin itu berbentuk pusaran. Alaric penasaran, dia maju memeriksa buku itu yahg sudah semakin bercahaya. Jasper ijut turut dibelakang Alaric, ia takut terjadi sesuatu dengan Alaric.


"Hati-hati Pengeran, mungkin angin itu berbahaya," ucap Jasper mengingatkan.


Alaric tetap melangkah, dia tetap ingin melihat keadaan buku dongeng ajaib itu dari dekat. Namun angin itu seakan menariknya untuk kebih dekat dengan buku, bahkan Jasper berusaha menarik tangan Alaric, tetap saja tubuh Alaric diseret kencang oleh pusaran angin itu.


"Pangeran... Ayo," Kata Jasper yang berusaha menarik Alaric terlepas dari tarikan angin itu.


Alaric berusaha lepas dari tarikan angin iti, tetapi tenaga Jasper tidak sebanding. Jasper malah terpental ke tembok, tubuh Alaric lepas drai cengkeramannya.


"Pengeran..." Teriak Jasper.


Alaric mengingat ini cara Hazel dijemput paksa saat ingin berpindah ke dunianya. Alaric yang sudah mengetahui arah angin itu selanjutnya menoleh ke Jasper.


"Sepertinya aku akan dibawa ke tempat Hazel, berikan aku emas-emas di laci itu," pintar Alaric.


"Jasper, katakan pada ayah dan Ibu, kuat Kakekku, aku akan kembali ssetelah dapat membawa Hazel," ucapnya.


Alaric semakin dilenyapkan oleh angin, hingga tubuhnya semua lenyap lalu tak nampak lagi di mata Jasper. Buku itu kembali tertutup rapat, Jasper tak dapat membukanya lagi.


Bergegas Jasper membawa buku itu ke Pak Van Hill, dia memberitahu perihal masuknya Alaric ke dalam buku dongeng ajaib itu.


"Ternyata benar, cucuku akan melanjutkan takdirnya bersama Hazel," ucap Pak Van Hill memandangi buku dongeng ajaib itu.


Ratu Florida menjerit histeris, dia tidak siap jika Alaric hidup di dunia Hazel yang asing bagi putranya itu. Begitu pula Raja Carloas, sejak kecil putranya selalu didalam pengawasan pengawal, namun kini Alaric harus memulai perjalanan hidupnya seorang diri di London.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Alaric, kita tidak tahu bagaimana kehidupan di dunia itu," kata Ratu Florida terisak tangis.


Pak Van Hill hanya terdiam, dia sudah hidup di dunia itu selama ratusan tahun, dia sudah mengetahui proses kehidupan di London yang tidak mudah, berbaur dengan manusia asing membuatnya kadang ketakutan. Namun hal itu tidak akan ia utarakan ke anak dan menantunya, biarlah kekhawatiran itu ia pendam seorang diri.


"Tenang saja, ia akan segera bertemu Hazel, ingatlah, mereka adalah pemeran utama di buku dongeng itu," ujar Pak Van Hill berusaha menenangkan Ratu Florida.


Tetap saja Ratu Florida banjir air mata, Raja Carlos meminta para pelayan untuk mengantarkan Ratu Florida ke kamarnya. Sementara dia meminta Pak Van Hill menugaskan seseorang untuk menyusul Alaric di London.


"Tentu itu bisa 'kan Ayah?"


"Itu hal sulit, kita tidak tahu bagaimana Alaric ke tempat Hazel," sahut Pak Van Hill yang belum tahu yang dilakukan Alaric dan Jasper.


Mendengar itu, Jasper mengingat bahwa ada pena ajaib yang dapat membantu mereka. Dia segera pamit dari Pak Van Hill dan Raja Carlos untuk kembali ke ruangan Alaric.


"Saya ke atas dulu Yang mulia," ucapnya.


Jasper berharap ada pena itu yang masih tergeletak di atas meja. Sesampainya di kamar Alaric, ternyata benar, pena itu sudah tidak ada lagi, asper mengingat-ingat detik-detik terakhir Alaric masuk kedalam buku dongeng, di tangan Alaric masih memegang erat pena itu.


"Ya ampun, pena itu dibawa pangeran, bagaimana caranya dia menulis kisah mereka jika buku dongeng itu tidak dibawa bersama penanya," gumam Jasper.


Jasper turun kembali menemui Pak Van Hill, dia menjelaskan keadaan runyam kepada Kakek Alaric itu.


"Jalan satu-satunya kita harus mencari pena ajaib lainnya, tapi.. sepertinya Zhietta tidak mungkin membuat pena itu embuh dari satu, dia wanita yang sangat berhati-hati," ucap Pak Van Hill.


Jasper teringat dengan Efrat yang hampir mengetahui segalanya tentang Zhietta. Dia akan menjadikan Efrat sebagai penyambung tangan Zhietta yang telah mati. Ide itu ia utarakan ke Pak Van Hill, pria berusia lanjut itu mengangguk-angguk.


"Walaupun kau dikutuk ratusan tahun sebagai kuda terbang, tapi kamu tetap mempertahankan kecerdasan ku, Jasper.." Puji Pak Van Hill.


Jasper tersenyum, sejak kecil di asuh oleh keluarga kerajaan membuatnya bertekad untuk mengabdikan dirinya ke Castor. Terlebih lagi Alaric adalah sahabat baiknya, Alaric tidak pernah merendahkan dia sebagai panglima, di mata Alaric, Jasper seorang sahabat yang patut dihargai.


"Kalau begitu saya pamit ke lembaga pendidikan kerajaan, saya akan menemui Efrat, Yang mulia.."


"Berhati-hatilah, kita tidak tahu bagaimana isi hati Efrat, timbang perkataannya dengan sebaik-baiknya, jangan terkecoh."