HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Merasa Tidak Dihargai



Tommy ingin keluar dari toko baju itu, tetapi saat itu Zhietta duduk seorang diri, di sisi lain Tommy merasa harus meminta maaf dan menjelaskan segalanya kepada Emma, tetapi di satu sisi pula ada Zhietta yang dicintainya, Tommy tidak dapat mengenyampingkan perasaannya itu.


"Aku tidak apa, kejarlah.. saat ini dia penyembuh kamu, aku hanya masa lalu kamu," ucapan. Zhietta.


Dia ingin menujukkan kepada Tommy bahwa dia layak diperjuangkan, dia sudah berubah menjadi baik, Zhietta pikir tak ada gunanya juga untuk memaksa Tommy bersamanya, setidaknya ia sudah tahu, Tommy masih mencintainya.


"Aku akan ambilkan kamu taksi, pulanglah ke tempatmu dulu, beritahu aku alamat tempat tinggal mu sekarang, setelah aku menjelaskan segalanya kepada Emma, aku akan datang kepadamu," kata Tommy.


Dia membutuhkan waktu untuk berpikir, memikirkan kemana pilihannya untuk berlabuh, siapakah yang layak untuk bersamanya saat ini dan selamanya.


"Aku bisa mengambil taksi seorang diri, pergilah.." Zhietta membiarkan Tommy tetap pergi.


"Baiklah, bayar baju-bajumu, ini uang gajian aku, ambillah sayang.. kamu masih berhak atas ini," ucap Tommy menyodorkan beberapa lembaran uang ke tangan Zhietta.


Setelah itu Tommy keluar, dia menyusul Emma ke apartemen yang tidak jauh dari kantor polisi. Tommy tahu, akan ada perdebatan kecil yang akan terjadi antara dirinya dan Emma, tetapi itulah yang harus ia Terima, kesalahannya ialah menjadikan Emma sebagai obat yang tidak berguna baginya, dia merasa menjadi pria jahat yang memanfaatkan wanita untuk sesaat.


Sementara itu, Emma malah kembalike rumah Tommy, dia mengumpulkan baju-bajunya yang sempat tersisa dit urmha Tommy, ketika ia hendak keluar, dia menemukan Hazel dan Alaric ada di depan pintu, saat itu dia datang untuk menjenguk Ayahnya juga Emma.


"Kenapa Bibi Emma menangis? Apa yang terjadi?" tanya Hazel. Sangat jelas diwajah mata Emma penuh dengan deraian air mata.


Emma mengusap air matanya, dia tidak berniat menceritakan itu kepada Hazel, sungguh malu jika semua tahu bahwa Tommy kembali lagi kepada Kammy.


"Aku menceritakan segala kesedihaniu kepada mu, Bibi.. berikanlah aku juga kesempatan untuk mendengarkan mu," ucap Hazel.


Akhirnya Emma luluh, dia duduk di kursi seraya mengusap wajahnya, Emma menceritakan segala yang terjadi di toko baju itu. Hazel dan Alaric terkesiap, mereka berdua tidak menyangka jika Tommy masih sangat mencintai Zhietta. Hazel yang tidak Terima itu seketika panik, dia takut jika Ayahnya lagi-lagi dimanfaatkan oleh Zhietta.


"Ayah tidak boleh kembali kepada Zhietta, ini akan menjadi keburukan yang lebih jahat lagi," kata Hazel.


"Tapi mereka berdua saling mencintai, Ayahmu mencintainya," sahut Emma yang realistis.


"Ayah tidak mencintainya, Ayah hanya terjebak dengan kenangan masa lalu yang tujuh belas tahun itu, semua pria dan wanita akan merasakan hal sama, itu wajar, tapi jika dia ingin terlepas dari keburukan, Ayah harus dapat melepaskan kenangan itu, termasuk Zhietta."


Hazel tetap kukuh untuk memisahkan Ayahnya dengan Zhietta, ia tidak mempercayai jika Zhietta telah berubah. Sementara Alaric yang duduk di kursi sebelah berusaha menahan sakit di dadanya yang tiba-tiba datang begitu saja. Sesekali dia memegang dadanya karena sakit itu terkadang kuat dan menyemit lagi.


"Kau kenapa Alaric?" tanya Emma yang tidak sengaja melihat Alaric mengusap dadanya.


"Aku tidak apa-apa, hanya butuh air putih, aku masuk sendiri ambil air minum," sahutnya yang bergegas masuk ek dalam rumah untuk mencari air putih.


Hazel curiga lagi jika sakit Alaric bukan sakit biasa, Emma juga melihat wajah Alaric pucat, tidak seperti biasanya.


"Apakah Alaric kurang sehat?" tanyanya.


"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini dadanya memang sakit, tapi aku tidak ingin membawa dia periksa, aku takut hal-hal buruk terjadi lagi, sekalipun dia bukan lagi Vampir," jelas Hazel.


Emma mengingat bahwa dia bertemu Valencia tadi, dia yakin Valencia dan Zhietta telah memalsukan identitas untuk tinggal di London selamanya, tetapi Emma juga tidak sampai hati jika harus melaporkan mereka berdua.


Hazel menyusul Alaric masuk ke dapur, dia mendapati suaminya sedang mengeluh kesakitan di depan kulkas.


"Sayang, dada kamu sangat sakit?" tanyanya.


Tanpa berpikir panjang, Hazel keluar meminta tolong kepada Emma, wanita itu menelepon pihak ruamh sakit untuk meminta ambulans menjemput mereka.


"Kita harus periksa kamu ke rumah sakit, jangan menolak."


Alaric pasrah kali ini, dia tidak ingin gin mati konyol di depan Hazel jika memang yang dikatakan Valencia itu benar adanya.


***


Alaric diperiksa oleh beberapa dokter spesialis jantung, kedua dokter dan beberapa perawat lainnya merasa tidak ada yang aneh dan kelainan di jantung Alaric, semua fubuhn, sehat tanpa ada riwayat sakit apapun.


Beberapa kali Alaric diperiksa, tetap hasilnya sama, tak ada yang aneh dari keadaan tubuhnya. Namun Alaric tetap mengeluh kesakitan, tak berhenti memegang dadanya. Dokter keluar menjelaskan perihal itu kepada Hazel dan Emma.


"Jantungnya memang berdetak kencang, tapi semuanya normal, kami sudah memberikannya obat vius penahan rasa nyeri, tapi tidak mempan," kata dokter itu.


Hazel dan Emma saling melirik satu sama lain, yang dipikiran mereka sama, yaitu pasti berhubungan dengan Valencia dan Zhietta. Emma meminta pamit untuk menyelesaikan masalah itu.


"Percayakan aku, Hazel jagalah suamimu, aku akan mencari jawaban dan solusinya, kita tidak boleh bermain halus lagi, cukup sudah.." Emma bergegas keluar dari rumah sakit lalu masuk ke mobilnya.


Dia menelpon rekannya untuk mencari tahu lokasi alamat ruamh Zhietta. Hanya beberapa saat berselang, alamat rkmah Zhietta telah Emma kantongi, dia juga membawa rekannya untuk menciduk Zhietta juga Valencia.


"Ini visi rahasia kita, jangan ssmpai ada yang melaporkan ini," pintar Emma kepada kedua rekannya yang juga polisi.


Setiba di rumah Zhietta, Emm turun dari mobil bersama kedua rekannya, tak lupa pistol ditangan mereka meleka menambah kewibawaan sebagai polisi. Emma memulai mengetuk pintu perlahan, seperti seorang tamu. Dibalik pintu nampak Valencia yang terkejut, Emma menyodorkan pistol tepat dikepala Valencia agar gadis itu tidak melakukan perlawanan atau teriakan.


"Kau dengan siapa dirumah ini?" tanya Emma.


"Aku sendiri," nawaitu Valencia yang sudah mengangkat kedua tangannya.


"Zhietta?"


"Dia belum pulang," jawab Valencia.


Mengetahui Zhietta belum pulang, Emma yakin Zhietta dan Tommy sedang bersenang-senang di suatu tempat, saat itu ia patah hati, tetapi sebagai penegak hukum, Emma tetap menjalankan tugasnya.


"Ikut aku!" Emma memborgol Valencia untuk dibawanya ke suatu tempat.


Tak ada pilihan lain lagi selain menurut, Valencia tak memiliki kekuatan sihir yang dapat ia gunakan lagi. Emm membawa Valencia ke gudang terdekat. Bukan untuk memenjarakan Valencia, tetapi ingin tahu sesuatu yang berhubungan dengan Alaric.