
Suara lirih memanggilnya namanya terdengar merdu, membangunkannya dari alam bawah sadar, perlahan Alaric membuka matanya, yang pertama kali ia liat adalah Ratu Florida, setelah itu Kakek Van Hill. Alaric terhenyak karena melihat Kakek dan Ibunya, bukankah dia sedang di London, di tempat Hazel? batinnya.
"Kau sudah sadar, Nak? Ibu sangat khawatir," Ucap Ratu Florida.
Alaric masih bingung, kenapa ada Rtau Florida dan Pak Van Hill disampingnya, dia mencoba menjalarkan pandangan ke setiap sudut kamar, ternyata itu kamar pribadinya yang di berada di di istana utama Castor.
"Aku sudah berada di Castor," Gumamnya.
Dia berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum dia tidak sadarkan diri, ada Hazel dan Emma sedang berbicara dengan Valencia, karena sudah menebak hang telah terjadi, Alaric membangunkan dirinya dari perbaringan, dadanya masih sakit, tapi lebih sakit lagi karena tidak ada Hazel lagi di dekatnya.
"Sejak kapan aku di Castor, Bu? Apa Hazel ikut?" tanyanya.
Ratu Florida melirik ke Pak Van Hill, saat itu Ratu juga masih bersedih atas meninggalnya Raja Carlos tiga hari yang lalu, Negeri Castor masih diliputi kesedihan. Alaric belum mengetahui itu, Pak Van Hill belum sampai hati memberitahu berita duka kepada cucunya yang sedang sakit.
"Istirahatlah Alaric, kau masih sakit, biarkan Ibumu juga beristirahat, dia juga sangat lelah sejak seminggu yang lalu," Kata Pak Van Hill.
Alaric menatap Ibunya dengan seksama, wakah Ratu Florida pucat, lesuh, matanya sangat bengkak, sangat jelas Ratu Castor itu baru sjaa menangis. Alaric berpikir, apakah kondisinyalah yang membuat Ibunya sedemikian sedih seperti itu.
"Ibu, aku akan baik-baik saja, ini persoalan takdir cintaku, janganlah membuatmu bersedih seperti itu, aku bisa kena marah dari Ayah nanti," Ujar Alaric.
Mendengar kata "Ayah" dari anaknya, Ratu Florida tidak dapat membendung tangisnya pecah, dia memeluk putra semata wayangnya itu meminta kekuatan agar tegar menghadapi kenyataan. Alaric terheran dengan sikap Ibunya, dia mengalihkan pandangan ke atah Pak Van Hill, namun Kakeknya itu malah menunduk.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu bersedih?" tanyanya.
Alaric melihat dari kaca jendela kamar, dibawa pintu gerbang berjejer bendera hitam untuk tanda kematian keluarga kerajaan, Alaric kini tahu penyebab kesedihan Ibu dan Kakeknya.
"Siapa yang mati Ibu?" tanyanya.
Alaric memukuli bantal, melihat bendera merah berada di jajaran bendera hitam menemukan jawaban bahwa Raja Carlos telah tiada.
"Sejak kapan? Sejak kapan Ayah oergi tanpa pamit dariku? Ayah pergi begitu saja, huhuhu" Pria berahang kukuh itu tumbang sudah oleh perpisahan maut dadi Ayahnya.
Alaric merasa menjadi anak yang tidak berguna, tidak memiliki andil baik untuk berada di samping Ayahnya di saat-saat hembusan terakhirnya.
"Aku bukan anak yang baik, aku terlalu sibuk dengan urusan diriku sendiri,"Hardik Alaric pada dirinya sendiri.
" Tenangkan dirimu, tenangkan dirimu Alaric.." Pak Van Hill mengusap kepala cucunya.
"Aku tidak ada menemani Ayahku disaat terakhirnya Kakek," Lirih Alaric.
"Belum terlambat Alaric, Ayahmu memang pergi meninggalkan kita, tapi perannya hatsu tetap ada, dia berpesan kepadamu agar memajukan Negeri Castor sesuai harapan rakyat," Ucap Pak Van Hill.
Pesan itu telah dikatakan oleh Raha Carlos ssebelum meninggal dunia. Mendian Raja Carlos ingin Alaric menjadi Raja selanjutnya, menjadi Raja yang memimpin Castor di orde baru.
"Ayahmu telah meningalkan kerajaan untuk kamu tanggungjawab, kamu satu-satunya tumpuan Ayahmu, Alaric.." Kata Pak Van Hill.
Mendengar itu, Alaric turun dari ranjangnya, perlahan dia berjalan ke afah jendela, melihat hamparan luasnya negeri Castor, rimah penduduk dadi artas kamarnya, betapa banyaknya makhluk hidup menunggu kesejahteraan dari pemimpinnya.Tetapi di sisi lain, ada cintanya bersama Hazel yang menggantung, Alaric tidak dapat memilih diantara keduanya. Castor dan Hazel sams-sama penting sekarang.
"Akau berjanji dihadapan Ibu dan Kakek, aku akan menjadi Raja yang membuat Castor menjadi lebih baik dan sejahtera, aku berjanji Castor untuk hidup dan juga matiku," ucap Alaric yang mengangkat tangannya untuk melakukan perjanjian itu di hadapan Ratu Florida dan Pak Van Hill.
Setelah beberapa jam merundingkannya, pengumuman seluruh negeri Castor akan diadakan, sebuah berita untuk pelantikan Alaric sebagai Raja akan diadakan esok lusa. Setelah Ratu Florida kembali beristirahat di kamarnya sendiri, dan Pak Van Hill kembali pula ke ruangan pribadinya, ada Jasper yang kembali masuk menemui Alaric.
"Pengeran, ada hal lain lagi yang bisa saya bantu?" tanya Jasper.
Dia tahu Alaric sedang butuh teman mengobrol, Jasper sangat yakin Alaric sedang tidak baik-baik saja, hanya saja Alaric tidak ingin memperlihatkan problematika yang ia hadapi sekarang di hadapan Ibu dan Kakeknya.
"Jasper, duduklah disini, hilangkan dirimu sebagai panglima untuk sementara waktu jadilah teman seperti biasanya," pinta Alaric.
Jasper duduk di kuris tepat disamping Alaric, dadi atas balkon, kedua pria tampan itu memandangi kerlap-kerlip lampu rumah penduduk Castor, dan hutan yang amat indah.
"Kau pernah jatuh cinta?" tanya Alaric kepada Jasper.
Pertanyaan itu mengejutkan Jasper, ini kali pertama ada seseorang yang merayakan perihal perasaannya. Tetapi sangat tidak sopan jika tidak menjawab dengan jujur, Jasper pun mengatakan yang sebenarnya.
"Iya, Aku pernah jatuh cinta," jawabnya.
Mendengar jawaban Jasper, Alaric sangat tertarik, pria dingin dan pendiam seperti Jasper pun pernah jatuh cinta, ia pikir Jasper terlalu sibuk untuk merasakan hal-hal demikian.
"Kapan? kepada siapa? Apa wanita buang ada di istana? atau penduduk Castor?" tanyanta lagi.
Jasper menelan air liurnya, ini rahasia yang tidak pernah satupun orang lain yang ia beritahu, selama ini ia hanya memendam perasaan cintanya, berusaha mematikan asmaranya yang ia pikir tidak pantas itu.
"Dia wanita yang.. sudahlah Pangeran yang lain saja," ketus Jasper yang sangat malu bila mengungkap tentang perasaan.
"Kau malu? Apakah badan kekarmu itu terlalu malu untuk mengakui cintamu?" tanya Alaric. Dia tetap ingin tahu siapa gadis yang dicintai Jasper.
Jasper tidak ingin berdebat dengan calon Raja, sekalipun Alaric temannya, dia harus menghormati Alaric sepantasnya.
"Iya, dia wanita yang ada di istana, tapi..."
"Tapi apa? dia memiliki suami? apakah itu salah satu sepupuku? atau salah satu dayang istana?"
Jasper menggelengkan kepala, dia sungguh malu untuk mengulik perasaannya sendiri di hadapan orang lain.
"Katakan Jasper, ini perintah, katakan dengan jelas, apakah kau pernah berjuang untuk cintamu? bagaimana perjuangan mu juga? apakah sama semangat mu sama seperti ku?"
Jasper menggelengkan kepala, "Aku terlalu baif untuk itu, Pangeran. Aku hanya bersembunyi dibalik tembok untuk sekedar melihatnya tersenyum, ratusan tahun itu lakon yang aku lakoni, melihatnya secara sembunyi-sembunyi," jelas Jasper dengan mata yang mulai sembab jika teringat dengan sosok wanita yang dicintainya.
"Kenapa? kau memiliki wajah tampan, jabatan yang bagus, kamu pribadi yang abaik, apak karena saat itu kau di kutuk menjadi kuda?" tanya Alaric.
"Mungkin itu juga, tapi dia mencintai orang lain, aku tidak bisa berjuang karena dia memperjuangkan orang lain."
Alaric menghela nafas, ternyata kisah cinta Jasper lebih menyedihkan ketimbang dirinya.
"Siapa dia Jasper?" tanyanya.
Jasper terlalu takut untuk mengatakan itu, dia tahu Alaric akan terkejut berat bila mengetahuinya.