
Pak Van Hill masih meringkuk di balik jeruji lansia, dia kekurangan tenaga, makanan yang diberikan oleh polisi tak ia makan. pak Van Hill hanya memikirkan Hazel yang sedang berjuang di Negeri Castor. Saat itu ada polisi yang datang memeriksa keadaannya, Pak Van Hill hanya terdiam, tak merespon segala pertanyaan dari polisi forensik itu.
"Tuan, kenapa kau tidak makan?" tanya polisi wanita itu.
Pak Van Hill tak bergeming, polisi wanita itu di utus untuk mengetahui apa yang ingin dimakan oleh Pak Van Hill. Namun sampai saat itu Pak Van Hill tidak merespon berbagai pertanyaannya.
"Kediaman mu ini sangat membahayakan dirimu sendiri, Pak."
Pak Van Hill beralih memandangi polisi itu, ia tidak peduli dengan bahaya yang menimpanya, selama buku "The Castor Land" aman di perpustakaanya, Pak Van Hill rela tidak baik-baik saja.
"Apa yang bisa kau makan? lalu apa yang kau rahasiakan, Pak?"
Polisi wanita itu menggali informasi, namun Pak Van Hill kukuh dengan pendiriannya, polisi wanita itu keluar membawa kekecewaan, dia menuju ke ruangannya.
"Bagaimana? Masih diam saja?" tanya salah satu satu temannya.
"Sepertinya dia takut, kita bisa mengerti itu," sahutnya.
Pria itu tertawa, "Mengerti apa? Membiarkannya menyembunyikan kebenaran? Pikirkan Emma?"
Emma masih menggunakan hati nuraninya, dia tidak ingin Pak Van Hill dk bawa ke pusat penelitian, ia tahu kejamnya sebagian manusia yang memanfaatkan makhluk hidup lain untuk kepentingan diri sendiri.
"Seseorang kadang terpaksa menyembunyikan kebenaran, kita tunggu sampai dia menceritakan semuanya."
Pria itu tidak mau tahu, tetap saja ingin membawa Pak Van Hill di pusat penelitian. Dia takut jika keberadaan Pak Van Hill membahayakan masayarakat.
"Kau tidak tahu apa saja yang akan dilakukan olehnya, bisa saja dia berbahaya," kata pria itu.
Emma menghela nafas, dia keluar dari ruangan itu menuju ke sel Pak Van Hill. Mengejutkan Pak Van Hill yang sedang makan. Emma terenyuh karena Pak Van Hill terlihat sangat kelaparan, dia teringat mendiang Kakeknya.
"Makan yang banyak, Pak. Kau butuh tenaga untuk hidup," ujarnya.
Pak Van Hill menganggukkan kepalanya, dia belum seutuhnya mempercayai Emma sehingga tak menceritakan siapa jati dirinya. Menunggu Pak Van Hill usai makan, Emma menyelidiki setiap anggota tubuh Pak Van Hill. Tak ada bedanya dengan manusia, tetapi bukti medis yang dilaporkan ke pihak kepolisian, Pak Van Hill tak memiliki kelainan genetik. Jenis organnya berbeda dari manusia, DNA nya pun sangat berbeda.
"Apakah kau sudah tidak memiliki sanak saudara? Sangat tidak masuk akal jika semuanya telah meninggal," umtanya Emma.
Pak Van Hill menatap mata Emma, wanita itu tampak memiliki tatapan ketulusan.
"Apa yang akan terjadi jika saya tetap diam?" tanyanya.
Emma lebih mendekat ke Pak Van Hill, "Mereka akan meneliti tubuhmu, Pak."
Pak Van Hill terhenyak, dia menundukkan wajahnya, bukan takut namun dia masih memiliki tugas yang harus ia selesaikan. Emma melihat raut kesedihan di wajah Pak Van Hill, Emma iba dengan kebimbangan pria berusia 70 tahun itu.
"Pak Van Hill terlebih dulu jujur padaku? anda sejenis apa?"
Pak Van Hill bimbang tetapi bila tak mengatakan pada Emma, tentu wanita itu tak dapat berbuat lebih membantunya.
"Syaa bukan manusia sama seperti kalian, saya berbeda dari kalian," jawabnya. Namun tetap saja menjadi teka-teki untuk Emma.
Seketika Emma gelisah dengan pernyataan Oak Van Hil, apa yang dicurigai pihak forensik benar adanya. Namun Emma tidak ingin memberitahu sesama teman sejawatnya. Di sisi lain dia tidak memiliki andil untuk menyelamatkan Pak Van Hill.
Ada rombongan saat itu masuk ke kantor polisi, Emma tekejut dengan wajah-wajah yang tidak siang itu, karena bingung, ia bertanya kepada temannya
"Itu siapa, Jef?"
"Kata Pak Gilbert, Si Kakek itu akan di periksa laku di bawa ke lembaga penelitian."
"Kenapa mereka bisa secepat itu? Bukankah Oak Van Hill masih tanggung jawab kita?" Emma protes.
"Kata pAk Gilbert, jika dibiarkan, bisa saja dia membawa pengaruh buruk atau sejenis virus mematikan," jelas pria itu.
Emma berdecak kesal, dia menyusul para peneliti itu ke ruangan sel Pak Van Hill. Emma mendapati sel Pak Van Hill telah dipenuhi jajaran dokter. Emma berusaha ingin menerobos namun polisi lain mencegat nya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Dia diperiksa, ini keputusan Pak Gilbert, jangan ikut campur," ujar pria itu.
Emma mendengar Pak Van Hill kesakitan, saat itu Pak Van Hill di suntik untuk di ambil sampel darahnya, rambutnya di potong, juga air salivanya. Para dokter itu meyakini bahwa Pak Van Hill memanglah bukan spesies biasa.
"Kita harus bawa dia ke lab," ujar kepala lembaga itu.
"Baiklah, naikkan dia lagi ke kurus rosa."
Mendengar itu Emma memberanikan diri menerobos, dia melindungi Pak Van Hill.
"Tunggu dulu, bisa saja ini hanya efek sakit yang dia rasakan, bukankah tak ada bedanya dengan kita?"
Polisi lain terheran dengan sikap Emma, seolah ingin mengulur waktu untuk membuktikan kebenaran. Pak Gilbert hadist nimbrung saat itu, dia melototi Emma agar segera ennyah dari samping Pak Van Hill. Emma yang tak dapat menolak perintah mundur tiga langkah. Pak Van Hill di angkat ke kursi roda lalu di bawa keluar menuju mobil ambulans.
Pak Gilbert yang marah pada Emma memanggil khusus Emma ke ruangannya. Emma tahu yang dilakukannya menyalahi aturan kepolisian.
"Kenapa kau membela si Kakek itu?"
Emma tidak akan membocorkan rahasia Pak Van Hill, "Saya hanya kasihan, dia mengingatkan dengan mendiang Kakekku, Pak."
"Kau pasti tahu dia bukan manusia, tapi ini sangat berbahaya, gadis itu lenyap di tangannya, kau tak kasihan dengan Pak Tommy yang sudah kehilangan putri?" tanya Pak Gilbert yang lebih berempati kepada Tommy.
Emma hanya mengangguk, dia percaya bahwa Hazel belum mati, bukan Pak Van Hill yang menyebabkan Hazel hilang. Emma melihat mata Pak Van Hill tidak sejahat yang dipikirkan oleh teman-temannya.
"Keluarlah, lanjutkan tugasmu yang lain," uang Pak Gilbert.
Emma keluar dari raungan itu, dia cemas dengan keadaan Pak Van Hill yang telah di bawa ke lembaga penelitian. Emma yakin para dokter itu akan berbuat buruk terhadap tubuh Pak Van Hill.
"Membiarkannya aku tidak tenang, bagaimana jika dia di siksa," gumam Emma.
Sementara di dalam ambulans, Pak Van Hill hanya menunduk terdiam. Para dokter itu tak henti menyentuh kulit Pak Van Hill dengan alat pendeteksi. Epidermis kulit Pak Van Hill memiliki zat yang belum pernah mereka temukan.