
"Tuhan telah memastikan untuk manusia kalau tidak ada cara yang lebih cepat untuk menang dengan setidaknya mati sekali saja"
-Hannibal Barca dari Livy
Istana Sakit
Itulah kematian...tak ada suara lagu sedih atau keren mengiringinya..cuma mati…
Charla kemudian menutup mata mayat didepannya yang pucat dengan sarung tangannya.
Terlihat air kuning kehijauan keluar dari mulutnya.
Bau cairan penyakit yang keluar dari pasien bahkan masih bisa menembus masker Charla.
Ketika Charla menoleh keseluruh tenda ini...terlihat ratusan mayat yang sama pucatnya..
Terlihat ratusan lagi muntah air kuning kehijauan yang sama.
*Hm, 'Goyangan Katak' *,pikir Charla.
Goyangan Katak memang sering menyerang kamp pasukan yang tak bersih makanan dan airnya.
'Penyakit bisa menghancurkan sebuah pasukan ratusan kali lebih cepat dari serangan musuh manapun'
Suara Vespasian meringing dikepala Charla.
Terlihat Hanno membantu beberapa pasien muntah diember.
Wajahnya yang sedikit berkeringat ketika membawa ember muntah, membuat Charla tak berhenti melihatnya..
*Dia tak merasa jijik…padahal ini mungkin kali pertamanya..* ,pikir Charla dengan tatapan yang sedikit terkejut.
Banyak prajurit yang kali pertama membantu pasien bisa muntah atau bahkan berhenti membantu selama beberapa menit.
Charla lebih mengagumi orang yang bisa menahan muntahnya ketika masih pertama kali diTenda ini daripada pria yang bisa bertarung dengan stabil waktu pertama kali dimedan tempur.
Hanno terlihat membawa beberapa ember lagi kearah lubang dimana dibuangnya air penyakit.
Kemudian Hanno kembali ketenda.
Siang ini Hanno terus ditatap beberapa bangsawan dan ksatria kemungkinan karena iri atau terasa terhina.
Hanno telah membuat musuh tanpa mengucapkan satu kata pun.
*Karena diriku…* ,pikir Charla.
Tadi ketika Charla berjalan dikamp...
'Dasar bencong..bersembunyi dibalik rok gurunya..'
Ejekan bisa terdengar.
Charla juga bisa mendengar beberapa gosip aneh sama seperti diTyronia.
'Nona iblis itu mungkin mau petani itu karena dia itu memiliki sihir gelap, lihat anak itu seperti penyihir dan mahluk tanpa emosi'
'Lihat petani itu, mungkin dirinya sudah dihisap darahnya oleh Nona iblis itu jadi dia diam terus'
Charla sudah membiasakan ini...tapi kenapa? Kenapa dirinya tetap merasa sakit? Apakah karena yang ia sayang juga ikut kena dengannya?
Charla baru menemukan nama pria yang mengajak Hanno duel adalah Cleos Talass.
Cleos sempat menatap Hanno dengan tatapan benci tadi dan terlihat mencari kesempatan lagi untuk menyeretnya dan berduel dengannya.
Charla sendiri memberi perintah untuk Hanno agar tidak berduel.
Duel adalah racun, kau takkan selalu tahu skill seseorang berdasarkan satu kali lihat, ia tak mau kehilangan Hanno dulu karena dirinya kalah dalam duel.
Hanno mungkin ahli dalam pertarungan jalanan, tapi tidak dalam cara bertarung ksatria. Charla ingat waktu pertama kali melawan ksatria...
Ayunannya terlalu cepat untuk orang yang dibalik armour...sedikit salah tangkis bisa fatal..serangannya terlalu kuat untuk tangan dibalut besi..
Beberapa bangsawan serta ksatria telah dilatih bertarung sejak kecil oleh guru mereka, beberapa dari mereka terbiasa dengan armour dan tahu cara mengayun pedang dengan memakai armour.
Tapi bukankah tak semua bangsawan disini itu ahli bertarung?
Mungkin...tapi siapa yang tahu Hanno bertarung tanpa sengaja dengan yang ahli..
Charla memutuskan terus menaruh Hanno disampingnya bahkan ketika tidur.
Tapi apakah Hanno bisa bertarung dengan Cleos? Pasti dia bisa kan?
Tidak...Hanno tidak ahli dalam pedang..Hanno hanya banyak tahu berkelahi dengan tangan.
Terlihat beberapa perawat juga mulai membawa ember dan membantu beberapa pasien untuk tenang.
Ada pendeta berdoa dan perawat memberi pasien minum herbal.
*Tidak jangan Hanno dulu...aku butuh menyelamatkan orang-orang ini..ada apa denganmu Charla?* ,pikir Charla sambil kembali membawa membawa ember berisi air muntah ketempat yang akan dibawa oleh orang lain.
"Buk! Ada pasien lagi!" ,ucap salah seorang perawat menyeret salah seorang prajurit yang pucat.
Terlihat prajurit itu pucat dan air sudah mulai turun dari mulutnya.
"Taruh diatas karpet disitu saja" ,perintah Charla.
"Tapi nona! Lantai penuh!" ,balas perawat itu panik.
Charla kemudian melihat sekelilingnya…
Tanpa sadar puluhan orang sakit sudah memenuhi lantai dan terlihat beberapa perawat bahkan tak peduli jika memijak beberapa orang sakit.
Semua karpet dan kasur lantai sudah dipenuhi orang sakit, bahkan Charla melihat 3 orang ditumpuk didalam satu tempat.
Perbedaan antara mayat dan orang hidup dilantai bahkan mulai tak jelas, ada yang bernafas tapi pucatnya bagaikan mayat.
"Suruh beberapa prajurit kosongkan beberapa kamp, dan tolong mereka juga untuk pisahkan mayat disini" ,ucap Charla sambil memegang bahu salah seorang perawat.
"B-baik nona" ,ucap salah satu perawat yang segera berjalan keluar dari tenda.
Charla kemudian kembali membawa ember berisi air muntah.
Sesuatu yang memualkan dari muntah adalah isinya bukan cuma air berwarna hijau,kuning,atau kecoklatan pudar.
Tapi berisi roti,bawang,tulang dan makanan yang masih utuh bercampur dengan lendir dan cairan aneh.
Warnanya beragam, tapi untung saja penyakit mengubah itu..kali ini semua hanya hijau kekuningan..
Dan lebih bau..
"Oh Dewa Gauri sang Ibu pengasih dari para dewa berikan mereka perlindungan dan kasih sayangmu" ,ucap seorang pendeta tua berdoa sambil menciplakkan air daun herbal dengan tangannya.
*Dewa orang Victa, sebaiknya kau berhenti doakan, pasien yang kau doakan mungkin menyembah dewa lain* ,ingin Charla mengatakan itu sambil membersihkan air hijau dari wajah seorang pria yang pucat.
Tapi buat apa? Dewa itu tuli dan tak peduli.
Jika dewa itu tak tuli maka mungkin semua pasien yang menderita disini bangkit dan berjalan sehat seperti biasanya.
Jika dewa itu tak tuli mungkin takkan akan ada ratusan anak kecil yang tak diperkosa.
Mungkin penyembah Dewa Langit itu benar, kalau dewa yang menciptakan dunia ini itu dewa yang jahat. Dewa yang sesungguhnya sedang berperang dengan dewa jahat untuk membebaskan kita dari sini.
"Helart bisa berhenti berdoa sebentar? Berikan mereka air bersih untuk minum" ,ucap Charla.
"Sudah nona" ,ucap pendeta tersebut sambil tersenyum, "tapi sayang mereka muntahkan semua"
"Kenapa kau tersenyum?" ,ucap Charla sambil menaruh ember berisi air muntah dilantai.
"Kenapa tidak? Terdiam dingin setiap saat tidak akan membantu semua masalah hidupmu" ,ucap Pendeta tua tersebut sambil memeras kain basah disebuah ember.
Pendeta tua tersebut kemudian mengelap tubuh pasien tersebut.
Tapi Charla menyadari sesuatu..
Dadanya tak bergerak..mukanya terlalu pucat untuk dibilang hidup…
Charla kemudian menaruh jari dihidung pasien yang pendeta bilas tersebut.
"Dia sudah mati" ,ucap Charla sambil melihat pendeta tua tersebut.
"Hehe, kenapa tidak? Kenapa tidak dirinya dicuci nona? Dia pantas mendapatkannya, semua manusia pantas mendapatkan ini setidaknya sekali dalam kehidupannya" ,ucap Pendeta tua tersebut menyelipkan kain diketiak pasien tersebut.
Kemudian Pendeta tersebut kembali menaruh kain diember berisi air.
Pendeta tersebut kemudian tersenyum dan menoleh kearah Charla.
"Kau tahu kalau ditenda ini dipenuhi pemerkosa?" ,ucap Pendeta tua tersebut.
Charla mengerutkan dahinya, "jadi karena itu kau tersenyum? Mereka mendapatkan balasannya-
"Pria disana bercerita kepada temannya tadi malam ia memerkosa anak kecil didesa yang ia jarah" ,ucap Pendeta tersebut sambil menunjuk keseorang pasien yang muntah diember, "yang disana yang menaruh kepala ayah seorang pendeta ditombak untuk dimainkan prajurit"
Kemudian ia melanjutkan.
*Heh, lalu kenapa kau tak adukan kepada jenderal?* ,Pikir Charla.
"Jika nona pikirkan kenapa aku tak mengadu, aku sudah terlalu tua nona, aku tak mau membuat musuh dengan teman-teman mereka ketika melaporkan mereka" ,ucap Pendeta tersebut sambil terus mengelap tubuh pasien tersebut.
"Terus? Terus kau senang karena mereka pantas mendapatkannya? Kau sama saja dengan pria haus darah diluar sana, kau ingin mereka mati dan menderita" ,ucap Charla.
"Mereka tak pantas mendapatkannya, Mereka bukan monster, mereka manusia nona, semua manusia pantas mendapatkan kesempatan kedua dalam kehidupannya" ,ucap Pendeta tua tersebut.
Charla hanya bisa menatap tajam pendeta tua tersebut.
"Itulah kenapa kejahatan buruk didunia ini terasa sangat mengerikan nona...mereka tidak dilakukan oleh monster..tapi manusia cuma manusia..pemerkosa yang digantung itu kemarennya adalah bayi manis ditangan seorang ibu.." ,ucap Pendeta tua tersebut dengan suara tuanya yang terdengar seperti orang sakit.
Charla merenung sebentar…
"Kau benar" ,ucap Charla sambil melihat ratusan pria sakit yang berbaring ditenda ini, "pemerkosaan dan pembunuhan tidak dilakukan oleh monster mereka dilakukan manusia seorang...manusia.."
"Hm" ,tersenyum pendeta tua tersebut, "aku senang nona menjadi mengerti, tapi sebaiknya kita berhenti berbicara"
"Kau benar, mungkin sebaiknya kita melanjutkan bicara kita untuk membantu pasi-
"Tidak...Burung Hantu telah datang.." ,ucap Pendeta tua tersebut dengan suara dalam sambil melanjutkan mengelap tubuh pasien.
Kemudian suara bagaikan gempa terdengar...
*Ddruduk*Ringggiarrrkkihihihihkk*
Suara kuda dan langkah kuda terdengar..
*Druduk*Druduk*Druduk*
Suara langkah kuda yang lebih besar kemudian terdengar.
Charla kemudian menoleh keluar…
*Apa yang terjadi?
Terlihat Hanno dari tadi tak masuk kamp..
*....tuk*...ttuk*..ttuk*
Perlahan Charla pun melangkahi pasien dilantai dan ikut keluar dari tenda..
Terlihat ribuan prajurit dan ribuan pelayan membungkuk kesatu arah.
Hanno terlihat juga inisiatif untuk membungkuk.
Charla memilih untuk tidak...
Terlihat puluhan pengendara kuda masuk kedalam kamp prajurit dengan membawa bendera yang Charla kenal.
Bendera Burung Hantu...Garius.
Terlihat seorang yang memakai armour abu-abu dan jubah merahnya dengan badget pedang didadanya didepan semua rombongan itu...
Dan muka kuat dan menakutkannya terlihat memandang sepanjang kamp..
Dibelakangnya ratusan prajurit berarmour merah mengikutinya...
Turun dirinya dari kuda dibantu dengan pelayan..
Dan ketika ia turun...kamp jatuh terdiam dan tak ada yang berani bicara..
Sekali lihat, Charla langsung mengetahui dirinya..
Toran Garius.
"Tuanku, persiapan untuk pertempuran dikamp sudah siap" ,ucap salah satu prajurit sambil membungkuk kepada Toran Garius.
Toran Garius kemudian melihat sekelilingnya.
"Aku salah mendugamu, kupikir kau itu buruk" ,ucap Toran Garius dengan suara dalamnya.
Komandan tersebut terlihat tersenyum kemudian bangkit dari menunduk, "terima kasih tuank-
"Ternyata kau lebih buruk" ,ucap Toran Garius dengan tatapan yang hampir terasa bagaikan tatapan seorang dewa penghukum, "ada ratusan orang sakit yang tak kau urusi benar-benar, ada tawanan yang kau perlakukan buruk hingga sekarat didepan kamp, pasukan tak dilatih atau disiplinkan, dan ratusan petani dimainkan bukannya digunakan"
Senyum Komandan tersebut terlihat runtuh membentuk wajah yang terlihat ketakutan.
"M-maafkan aku tuanku, aku kelelahan dan terlalu banyak tugas dan aku perlu istirahat tuanku" ,ucap Komandan tersebut sambil bangkit dari membungkuk.
"Kau beruntung, jika aku tak butuh pasukan ayahmu aku sudah membuatmu istirahat selamanya" ,ucap Toran Garius dengan suara sekuat tatapannya.
Komandan kemudian menelan ludahnya ketakutan.
Toran Garius kemudian melihat sekelilingnya dan terlihat menggeretakkan giginya.
"Serdafas, bawa komandan untuk pulang kerumahnya diIstana Hiritt, dia tak berguna disini" ,ucap Toran Garius sambil berjalan maju.
Seorang ksatria beramour merah kemudian berjalan maju dan memegang komandan membawanya pergi dengan pasrah.
Kemudian Toran Garius memandang kearah Charla.
Ketika ia berjalan, ia bagaikan raja iblis ketika berjalan dihutan, semua pohon kehilangan daun indah yang mereka banggakan dan berubah menjadi kayu yang tumbuh bengkok menunduk kepadanya.
Sedangkan ratusan hewan minggir ketakutan dan tak berani menatapnya.
Langkah kakinya sangat kuat membuat Charla bahkan terasa ingin jatuh.
Charla terdiam dan menelan ludahnya.
*Dia punya mata yang mengenal wajah sama seperti anaknya Vesius Garius* ,pikir Charla.
Baik ayah dan anak ketika sudah mengenal nama seseorang dan wajahnya maka mereka tidak mudah melupakannya.
"Hanya inisiatif sendiri tuanku" ,ucap Charla sambil menelan ludahnya.
Toran hanya terdiam mendengarnya.
Kemudian Toran perlahan berbalik melangkahkan kakinya berjalan kearah tenda jenderal..
Bagaikan menghiraukan Charla.
"Pasukan Geralda telah dilaporkan akan datang kesini 2 hari lagi" ,ucap Toran Garius.
Langkah kakinya bagaikan ratusan langkah kaki prajurit yang diubah menjadi satu suara yang dalam.
"Kita akan sambut mereka" ,ucap sang Menteri Perang, "dan kau Charla akan ikut dalam kounsilku untuk membahas bagaimana cara kita menyambut mereka"
.
.
.
.
.
.
.
.
_____-_-_____
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tuan Ratu mau bedak yang dari Legata atau utara Dalmatia lagikah?" ,bertanya Cleorah kepada Tuan Ratu kecil.
"Tuan Pahlawan tak usah bantu aku dandan, aku dan pelayanku bisa sendiri kok" ,ucap Tuan Ratu dengan setengah senang dan senyuman sedih.
Tuan Ratu selalu punya senyuman begitu disetiap mereka bicara...
*Anak ini sudah menderita seumur hidupnya..ketika pemberontakan diibukota Dalmatia ia kehilangan kakinya, ketika ia tumbuh besar. Ia harus menjadi boneka dan tidak boleh melakukan apa yang ia suka* ,pikir Cleorah dengan senyuman mencoba menghibur Tuan Ratu.
Tapi tetap saja Tuan Ratu berhasil menjaga hati bersih dan polosnya..
Cleorah kemudian langsung menaruh bedak diwajah Tuan Ratu.
Tuan Ratu terlihat terkejut kemudian tersenyum dan ingin tertawa.
"Kenapa Tuan pasang bedak diwajahku?" ,ucap Tuan Ratu dengan suara yang terdengar ingin tertawa.
"Sudah daripada cerewet langsung kupakaikan saja, kurekomendasikan bedak Legata yang terbagus deh" ,ucap Cleorah dengan senyuman.
Tuan Ratu kemudian tertawa imut.
Kemudian Tuan Ratu melihat cermin dan melihat gumpalan putih bulat dipipinya.
Dan kemudian tertawa imut lagi.
Senyumannya terlihat senyuman senang...meskipun punya nada kecil sedih didalamnya.
"Tuan tak ikut berdandan juga?" ,bertanya Tuan Ratu kepada Cleorah.
"Hm? Iya juga ya...rambutku sedikit berantakan dan sekidar mataku juga mulai menghitam.." ,ucap Cleorah sambil melihat cermin.
"Eh? Tidak kok, rambut Tuan Cleorah terlihat rapi dan indah" ,bilang Tuan Ratu dengan wajah polosnya.
*Iyakah?* ,pikir Charla.
"Tuan tak boleh begitu loh, mencoba mengukir patung kayu yang sempurna hanya akan mengikir patung kayunya menjadi ratusan serpihan kayu yang tak ada indahnya" ,ucap Tuan Ratu sambil memegang tangan Cleorah.
*Apakah aku mencoba menjadi sempurna.........?* ,pikir Cleorah.
Untuk sebentar Cleorah menolaknya...tapi ia memang itu iya..
Cleorah tanpa sadar ingin menjadi sempurna…
Tanpa sadar...ketika dunia ini meminta kau menjadi sempurna kau akan mengikutinya meskipun kau merasa kau menolaknya..
"Hm, mungkin kita semua perlu istirahat...termasuk Tuan Perrin.." ,ucap Cleorah sambil menaruh wadah bedak dimeja.
"Hm, Tuan Perrin? Benar juga ya...Tuan Perrin sudah susah-susah melindungi kita dan menangani satu kerajaan..pasti dia kelelahan" ,ucap Tuan Ratu sambil menambah bedak diwajahnya.
*Cyrus juga…* ,pikir Cleorah.
Cyrus juga sudah menjadi lebih rajin, dia bahkan terlihat tak tidur. Dia berlatih setiap malam dan setiap siang dia membantu orang-orang berlatih.
Cyrus bahkan mulai tertarik pada sihir, meskipun masih belum bisa menggunakannya.
BBBBBRRAAKKKK!
"Ah! Kau ini!!!" ,suara dibalik pintu Tuan Ratu terdengar.
"Ada apa itu?" ,bertanya Tuan Ratu.
Cleorah mengenal suara ini…
Dia sudah sering mendengar suara benturan kepala dilantai yang khas ini..
"T-tuan Ratu tetap disini" ,ucap Cleorah berdiri dari kursinya dan melangkah keluar.
Tuk
Ketika Cleorah membuka pintu kamar Tuan Ratu terlihat dua wanita yang berkelahi dilantai bagai 2 kucing merebutkan sebatang tulang ayam.
"Vairy? Diana?" ,ucap Cleorah ketika melihat mereka berdua menarik rambut dan mencakar satu sama lain.
Bak!
"Engggggghhhhhh!!!!*
"P*ntek kau! P*ntek kau!!!*
Cleorah kemudian menarik Diana dan memegangnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" ,teriakan Diana terdengar seperti suara orang sakit.
"Berhenti! Berhenti kalian berdua!" ,ucap Cleorah dengan menarik sebisanya.
Kemudian Vairy menarik rambut Diana.
Cleorah terpaksa menendang Vairy untuk menghentikannya.
Tapi satu tendangan tak menghentikannya, terlihat Vairy menahan rasa sakit dan kemudian berdiri.
"Kalian berdua kubilang berhenti! Demi Tuhan!" ,ucap Cleorah sambil melempar Diana kelantai.
Kemudian Cleorah menahan tangan Vairy yang mencoba meraih Diana.
Kemudian suara langkah kaki mengarah kearah mereka terdengar.
Terdengar langkah kaki itu bukan cuma satu langkah kaki tapi langkah kaki 5-8 orang.
"Diana! Berhenti!" ,ucap teriakan seseorang terdengar mengarah kearah mereka.
Terlihat puluhan pahlawan mengarah kearah mereka.
"Berhenti bego!" ,ucap salah seorang pahlawan wanita membantu memegang Diana.
"Hime? Apa yang terjadi ini? Kenapa mereka berdua berkelahi?" ,bertanya Cleorah sambil memegang Vairy.
"Rebutan cowok" ,ucap Hime sambil menahan Diana dan kemudian puluhan pahlawan lain dibelakangnya mulai ikut.
"Dia tuh! Dia tuh! Pelac*r emang! Sok polos!" ,teriak Diana sambil ditahan dikedua tangannya.
"Kenapa kau!? Aku cuma bantu pacarmu!" ,ucap Vairy mencoba membela dirinya.
"Bantu? Bantu dengan lirik-lirik mata!?" ,ucap Diana sambil ditahan tangannya oleh seorang wanita.
"Astaga demi tuhan!" ,gumam salah seorang pahlawan pria terdengar.
"Aku tak ada lirik-lirik mata!" ,ucap Vairy.
"Sudah! Sudah! Sudah!" ,ucap Cyrus yang kemudian muncul dari kumpulan pahlawan dengan terlihat berkeringat.
Terlihat ia hanya memakai pakaian yang lumayan ketat yang hanya menutupi dada dan perutnya, sedangkan bahu,ketiak,dan sepanjang lengannya tidak.
Melihat itu membuat wajah Cleorah merah.
Kedatangan Cyrus juga membuat Vairy terdiam dan memerah wajahnya..
"Sudah Diana, Vairy tidak mungkin mencoba mengambil pacarmu" ,ucap Szeth yang muncul dari kumpulan pahlawan sambil menenangkan Diana.
"Sudah sudah kalian berdua, mari kita bicarakan ini diruangan berlatih" ,ucap Cyrus dengan nada setengah ramah setengah perintah, "tolong bawa Vairy, Michael"
Kemudian Michael kemudian memegang Vairy dengan kuat kemudian membawanya bersama beberapa pahlawan lainnya.
Ketika semua pahlawan mulai berjalan kearah ruang pelatihan, Cleorah hanya dibelakang.
Cleorah ingin ikut melangkah dengan mereka tapi dirinya berhenti..
*Aku sudah berpisah dengan pahlawan...aku berada dipermainan Tubrukan Pedang Darah dan Kertas* ,pikir Cleorah sambil menoleh kearah pintu Tuan Ratu.
"Cleorah" ,panggil Cyrus.
"C-Cyrus? Ada apa?" ,bertanya Cleorah.
"Tak ada, kau mau ikut?" ,bertanya Cyrus.
Bau keringat dan tubuh Cyrus bisa tercium dihidung Cleorah.
"T-tak usah, aku punya tugas dulu" ,balas Cleorah.
Cleorah ingin bersama Cyrus lebih lama lagi...ingin melangkah dan berjalan bersamanya..ingin melihat Cyrus bertindak...dan ingin Cyrus melihat bagaimana ia bertindak..
Tapi Cleorah merasa sesuatu...ia tak bisa...dia punya kewajiban..
"Jangan paksakan dirimu Cleorah" ,ucap Cyrus sambil memegang bahu Cleorah dan kemudian berbalik melangkah pergi.
*Hm* ,tersenyum Cleorah, *dia mulai menjadi simple*
"Statusnya mulai mencapai tingkat yang tak kuketahui" ,ucap suara seseorang pria muncul dari entah mana.
Suara pria tersebut dingin dan keras, sekeras batu disebuah reruntuhan dari sebuah sisa-sisa kastil yang dulunya kastil sederhana tapi indah.
Cleorah kemudian melihat kebelakangnya dan terlihat..
"Willy? Apa yang kau lakukan disini?" ,bertanya Cleorah.
"Tak ada" ,ucap Willy sambil memutar roda kursi rodanya mendekat kearah Cleorah, "statusmu juga bertambah menjadi skala yang mulai tak kuketahui"
Suara Willy menjadi dingin dan lebih dalam, tatapannya menjadi lebih gelap dan tak bertenaga.
"E-eh benarkah? Skill apa itu?" ,bertanya Cleorah.
"Intrigue dan Willingness" ,ucap Willy dalam bahasa inggris yang terlalu bagus dilidahnya, "intrik dan keinginan untuk melakukan sesuatu"
"Yang mana, yang skill yang kau lihat menjadi tanda tanya ukurannya (???)?" ,bertanya Cleorah.
"Tak ada" ,ucap Willy, "tapi hampir...hampir mencapainya..sebentar lagi kau akan menjadi semisterius Perrin"
*Semisterius Perrin?* ,pikir Cleorah.
"Memangnya skill Perrin apa aja yang kena tanda tanya (???)?" ,bertanya Cleorah.
"Lumayan banyak tapi tak semuanya, Intellegence (Kepintaran), Intrigue (Intrik), Military (Militer), Willingness (Keinginan), Loyalty (Kesetiaan) dan Psychological Strength (Ketahanan Psikologi) yang aku tak ketahui. Yang Perrin bisa ditebak adalah fisik dan banyak hal lain" ,balas Willy.
*Jadi Perrin tak sekuat itu difisik kah..* ,pikir Cleorah.
"Hahh...nampaknya akan mulai banyak yang menjadi skillnya misterius diistana ini.." ,ucap Willy dengan suara yang dalam.
"Memangnya yang lain dari kita punya skill yang misterius apa saja?" ,bertanya sekali lagi Cleorah.
"Nona Harlaw dan Tuan Casca, beberapa jenderal veteran" ,balas Willy sambil menghentukkan tangannya dikursi rodanya, "Nona Harlaw hampir semua statusnya misterius kecuali fisik dan kelincahan juga keahlian bertarung lainnya"
"Tuan Casca?" ,ucap Cleorah bertanya dengan makin penasaran.
Willy terdiam sebentar..kemudian melihat kearah tangannya.
"Semuanya...semua skillnya misterius" ,balas Willy.