
"Kau mencoba membuat semua orang mencintaimu, kau akan berakhir sebagai mayat paling populer dikota"
-Ser Bronn of Blackwater
Pahlawan,Badai,dan Ribuan Mata
"Vella.." ,ucap Hasteinn memanggil adiknya sambil ia mengetuk pintunya.
*Tuk*Tuk*Tuk*
Ia terus mengetuk pintu kamar Vella selama beberapa menit dari tadi.
*Tapi masih belum ada jawaban juga, mungkin dia tidur..* ,pikir Hasteinn.
"Ah! Ah! Iya kakak!" ,ucap Vella dari dalam kamarnya.
*Oh tidak...baguslah* ,pikir Hasteinn.
Ia kemudian membuka pintu kamar untuk kakaknya.
Terlihat wajah cantik imutnya, ia memiliki badan yang cukup pendek dan rambut hitam kecoklatan orang Geralda.
*13 tahun....dia masih belum bisa menikmati masa-masa mudanya...aku harap suaminya itu orang baik..* ,pikir Hasteinn kasihan pada adiknya.
Hasteinn memiliki rambut seperti adiknya Vella bedanya rambut Hasteinn mulai tumbuh menjadi sedikit merah.
"Aku..aku tadi sedikit ketiduran.." ,ucap Vella dengan nada yang menandakan dirinya malu.
Ketika pintu kamarnya dibuka terlihat dikasurnya terdapat puluhan buku lainnya ditumpuk dilantai dan kasurnya.
"Vella...kau tak memanggil pelayan lagi untuk membereskan kamarmu?" ,ucap Hasteinn dengan lembut.
"Aku...aku tak sempat dan terlalu fokus ama buku..." ,ucap Vella dengan nada malu sekali lagi.
*Srekk*srekk*
Kemudian Hasteinn mengusap-usap rambutnya.
Rambutnya sedikit berantakan tapi memang beginilah adiknya lemah dan seorang kutu buku yang bahkan kadang hampir tak pernah keluar dari kamarnya selama 1 bulan.
"Sebaiknya kau keluar sekali-sekali untuk bertemu orang baru...nanti suruh buk Curail untuk membersihkan kamarmu.." ,ucap Hasteinn.
"Iya.." ,ucap Vella.
"Kuatlah Vella karena jika nanti ayah atau aku tak ada dan sudah pergi...maka kau tidak bisa lagi seperti ini...jadi kau harus terbiasa untuk keluar seperti nona keluarga Hasral" ,ucap Hasteinn dengan lembut sambil tersenyum.
*Aku terlalu lembut....* ,pikir Hasteinn menyesal dari dirinya.
"Kakak jangan pergi...jangan! Aku tak mau kakak pergi seperti ibu! Aku tak mau kakak pergi seperti ibu!" ,ucap Vella berteriak sambil memeluk Hasteinn dan terdengar nada tangisan dari mulutnya.
"Tidak Vella..semua orang akan pergi...semua manusia akan pergi...kau tidak bisa mencegahnya..." ,ucap Hasteinn memeluk adiknya kemudian melepas pelukannya dengan lembut.
Hasteinn menatap wajahnya dan kemudian dari wajah Vella ia mengingat ibunya.
*Kalau ibu disini...semuanya akan jadi lebih baik...kalau ibu disini Vella akan menjadi wanita yang lebih terbuka...ayah akan lebih tersenyum atau bahkan tertawa..* ,pikir Hasteinn dari hatinya.
Ia ingat malam itu dimana ayahnya pulang dari kunjungan mereka dari kastil dinding rusak.
Ia ingat Boen memberitahunya kalau ayahnya Kyrah disergap oleh bandit dan pasukan bayaran yang ditugaskan untuk membunuhnya.
'Ibumu Jayne Manstown terbunuh dengan panah mengenai tenggorokannya'
Itu yang diucapkan Boen kepada Hasteinn, membuat Hasteinn terkejut hingga ketulang malam itu.
Itu semua datang secara tiba-tiba tanpa ada rasa apa-apa.
Boen bilang ibu dan ayahnya diserang karena ada sesuatu rahasia dari seseorang bangsawan yang ibunya dan ayahnya ketahui.
Bangsawan tersebut menyewa bandit untuk membunuh ayah dan ibunya.
Hasteinn ingat bagaimana rasa tekanan yang ia rasakan ketika dirinya mau memberitahu adiknya Vella.
Ia ingat bagaimana malam itu dimana Vella sedang bernyanyi lembut dan bahagia membaca buku kesukaannya dimalam hari.
Ia ingat bagaimana wajah terkejut Vella ketika Hasteinn memberitahunya.
Vella yang langsung turun ketangga menemui ayahnya yang masih bersedih.
Dan ketika mayat ibunya diperlihatkan, Vella menangis histeris.
"Akan ada saat dimana kau akan tanpa sadar berdiri sendirian.." ,ucap Hasteinn tersenyum kepada adiknya.
"Aku tak mau...aku tak mau kakak pergi.." ,ucap Vella terlihat ia sedikit menangis.
"Sudah..tak usah menangis tidurlah, kakak takkan pergi malam ini, kakak jamin kalau besok pagi Vella masih bisa melihatku, kakak jamin itu" ,ucap Hasteinn.
"Janji?" ,ucap Vella.
"Ya aku janji" ,ucap Hasteinn dengan lembut.
*Aku tidak bisa lebih keras...aku terlalu lembut kepada adikku...* ,pikir Hasteinn dalam hatinya.
"Tidurlah malam ini jangan begadang karena membaca ya..." ,ucap Hasteinn.
*Apakah aku tidak bisa keras kepada perempuan kecil tak berdosa ini?* ,pikir Hasteinn.
____-_-____
"Hahh.." ,ucap Kyrah menghela nafas kelelahan.
Ia kemudian melihat surat yang diambilnya tadi pagi dari ibukota.
Surat yang berisi tentang tawaran Toran Garius untuk menikahkan anaknya Vesius Garius dengan putrinya Vella.
Hanya dengan satu aksi, Toran Garius menghancurkan segala rencananya bertahun-tahun.
"Andai kau ada disini Jayne...semuanya akan menjadi lebih baik, aku buruk dalam mengarahkan anak-anakku" ,ucap Kyrah.
"Sebagus-bagusnya aku dipertempuran sebelum aku kehilangan kakiku, dirimu masih lebih baik dengan anak-anak daripada diriku.." ,ucap Kyrah sambil membakar surat tersebut dengan lilin.
Mata Kyrah terlihat mengeluarkan sedikit air mata ketika ia melihat suratnya terbakar.
"Aku dalam kebingungan saat ini Jayne...kuharap kau bimbing diriku disana" ,ucap Kyrah dengan bibir tuanya yang bergetar, "Aku tak tahu apakah rencana yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun ini bisa berhasil...Jayne..."
Api kemudian mencapai tangannya dan terlihat membakar kulit ditangannya.
Tapi rasa sakit dibakar api hampir tak terasa dibanding rasa sakit mengingat istrinya yang sangat ia cintai.
*Treekk*
Suara pintu terbuka.
Kyrah memandang kebelakang terlihat salah satu prajuritnya membuka pintu tersebut.
"Ma-maafkan aku tuanku menganggu and-
"Ada apa?" ,ucap Kyrah memotong ucapan prajuritnya.
"Maafkan aku sekali lagi tuanku, tapi baju anda terbakar" ,ucap prajurit tersebut sambil menunjuk ke lengan Kyrah.
"Ahh.." ,ucap Kyrah sambil menepuk-nepuk tangannya.
Api tersebut pandam tapi membakar sedikit bagian dari pakaiannya dilengannya.
"Panggil pelayan untuk menyiapkan pakaian untuk diriku" ,ucap Kyrah memerintah prajurit tersebut.
"Ah! Baik-baik tuanku" ,ucap prajurit yang kemudian berjalan melangkah perg-
"Bentar" ,ucap Kyrah dengan keras.
Prajurit tersebut kemudian berhenti melangkah.
"Kenapa kau datang kekamarku malam-malam begini..." ,ucap Kyrah melangkah keprajurit tersebut dengan menakutkan.
"A-ada kabar dari tuan Boen kalau tuan-tuan dari Geraldia terutama dari keluarga Vyrivia,Balur,Meraxicua-
"Meracaxia" ,ucap Kyrah dengan kuat, "sebaiknya kau belajar mengucapkan nama-nama keluarga tersebut dengan gaya Geraldia bukan dengan Victa" ,ucap Kyrah sambil melihat bagian tangannya yang terbakar.
"Jadi? Kenapa mereka?" ,ucap Kyrah menoleh kembali keprajurit tersebut.
"Mereka akan datang 2 hari lagi tuanku, ada beberapa tuan yang sedikit lambat tapi pasti mereka datang 2 hari lagi" ,ucap Prajurit tersebut.
"Bagus, berarti masih banyak waktu lagi untuk menyiapkan meja dan ruangan" ,ucap Kyrah sambil melangkah keluar dari kamarnya dan melewati prajurit tersebut.
Kyrah memperhatikan seluruh bagian lorong kastil yang gelap ini.
Terdapat banyak debu dan obor yang menerangi ruangan.
Sedangkan kastil terisi dengan ratusan pelayan yang terlihat sibuk ataupun orang-orang mengobrol tentang pesta.
"Perintahkan pelayan untuk membersihkan ruangan yang berumur ratusan tahun tersebut, akan ada pertemuan besar dari seluruh Geraldia beberapa hari lagi" ,ucap Kyrah memandang prajurit tersebut dengan kuat.
____-_-____
Sementara itu diibukota Victa..
Suara rombongan mewah datang, ribuan pasukan penjaganya juga ikut datang.
Dari jauh terlihat kereta tertutup berwarna putih dan bendera diatasnya yang dihiasi dengan sedikit corak emas.
Note:Bendera Kerajaan Dalmatia
Ksatria bersinar dengan warna putih dan emas mengikuti dan menjaganya.
Masuk mereka didepan gerbang Kastil Pedang Merah dengan mewah dan bercahaya dari apapun yang berada disekitar mereka.
Rakyat kecil dan prajurit memperhatikan rombongan tersebut dengan perasaan bercampur.
Sedangkan Vesius bersama beberapa senat juga prajurit keluarga Garius berdiri menyambut rombongan tersebut.
"Rombongan Keluarga Veel dari Dalmatia sudah datang!" ,teriak salah satu ksatria bersinar sambil terus memacu kudanya kedepan mengikuti kereta tertutup mewah tersebut.
Aksen Damaltia dari ksatria tersebut bisa terdengar.
Terlihat salah satu ksatria bersinar berkendara dengan kudanya didepan kereta dengan menenteng pedang besarnya dipinggang.
Beberapa prajurit juga berkendara disamping kereta tertutup tersebut dengan gagah.
*Cara yang bagus untuk menunjukkan kekuatan negerimu..* ,pikir Vesius sambil melihat mereka.
Kereta tertutup tersebut berhenti didepan Vesius begitu juga dengan ksatria yang mengelilinginya.
Ksatria-ksatria tersebut berdiri gagah didepan para keramaian penyambut menunjukkan kebanggaan mereka ketika datang ketanah asing ini.
Berjalan beberapa pelayan yang kemudian mencapai didepan kereta tertutup tersebut membawa ratusan peralatan dan bahkan alat musik.
Beberapa bahkan membawa talam yang berisi minuman dan makanan.
Kereta tertutup tersebut kemudian dibuka oleh pelayan-pelayan mewah tersebut.
Terlihat 3 wanita turun dari kereta tertutup tersebut, siap dengan gaun mewah.
Tapi 2 dari mereka terlihat memiliki wajah merah malu.
Terlihat beberapa pelayan dan ksatria membantu mereka turun.
Salah satu ksatria memegangi tangan salah satu wanita tersebut dengan anggun.
*Orang Victa takkan terkagum melihat kekayaan dan kelembutan ini....orang Victa lebih terkesan dengan besi kuat dan senjata milik ksatria kalian...atau bagaimana cara kalian menggunakannya* ,pikir Vesius.
"Aku Mya dari keluarga Veel, memberi hormat kepada Pangeran Vesius anak Raja Victa dari Toran Garius" ,ucap Mya dengan anggun menunduk kepada Vesius.
Beberapa senat dan rakyat biasa mulai menoleh kearah Vesius, antara marah atau penasaran apa yang terjadi.
*Anak bodoh, anak ini pasti belum mengerti Republik Victa itu apa. Atau mungkin orang Dalmatia memerintahkannya untuk membuat marah senat dihadapanku* ,pikir Vesius.
" 'Victa tak punya raja' nona Mya, ayahku bukan raja dan aku bukan pangeran. Nona harusnya tak perlu kuberitahu itukan?" ,ucap Vesius membalas Mya.
*Kuanggap salam kenal anggunnya tadi sebagai sesuatu yang tidak ada, itu cuma singgungan* ,batin Vesius.
"Maafkan aku tuan Vesius atas kebodohanku, tapi aku dengar ayah anda tuan Toran Garius berencana untuk memahkotai dirinya sebagai raja..." ,ucap Mya sambil menutup mulutnya seperti orang tak bersalah.
Kemudian seluruh senat yang berada disekitar Vesius memandang Vesius dengan marah atau penasaran kebenaran yang sesungguhnya.
*Aku tarik kata tentang kalau dia anak bodoh, dia lebih pintar daripada yang aku kira* ,pikir Vesius.
"Jika ayahku tuan Toran Garius memang berencana untuk memahkotai dirinya sebagai raja maka dia akan siap dideklarasikan sebagai musuh Republik, maka disaat itu aku akan siap menghadapinya dimedan perang jika perlu" ,ucap Vesius dengan kuat.
*Jujur saja yang aku katakan itu terlalu sombong tapi mungkin perlu...lagipula aku tak punya kata lain untuk menutup lidah tuan nona dari Damaltia ini* ,pikir Vesius.
Senat cukup kaget dengan kata-kata yang diucapkan Vesius.
Pelayan-pelayan keluarga Garius pun terkejut yang dikatakan oleh Vesius.
Begitu juga prajurit juga rakyat biasa yang mendengarnya.
Suara obrolan dari rakyat biasa dan berbagai orang disekitar mengobrol tentang ucapan Vesius kemudian terdengar.
"Jadi tuan bersiap untuk membunuh keluargamu sendiri dimedan perang demi Republik?" ,ucap Mya melangkah kearah Vesius dengan nada lembut.
"Nona sendiri? Apakah nona mau membunuh keluarga anda demi kerajaan Dalmatia dan rakyatnya?" ,ucap Vesius sambil tersenyum.
*Haruskah aku katakan itu? Entahlah yang penting kau diam* ,pikir Vesius.
Mya terdiam dan tak bisa mengatakan apa-apa.
"Dibelakang anda? Boleh saya tanya siapa nama mereka?" ,tanya Vesius sambil menoleh kebelakang Mya.
"Maaf tuanku, ini adikku Relia dari keluarga Veel" ,ucap Mya sambil memegang tangan adiknya dengan anggun.
Terlihat adiknya lebih pendek dan kecil daripada Mya.
Tapi gaun membuat adiknya jadi seanggun kakaknya, serta wajahnya yang pendiam membuat kesan yang kuat.
"Maafkan aku sekali lagi tuan, kedua dari mereka benar-benar pemalu" ,ucap Mya sambil tersenyum sambil menunduk.
"Aku Relia dari keluarga Veel" ,ucap adik Mya yang bernama Velia tersebut menunduk dengan anggun dihadapan Vesius.
Wajah Relia kemudian memerah dengan cepat dan bersembunyi dibelakang Mya Veel bagaikan anak kecil.
"Ini?" ,ucap Vesius kepada seorang wanita bangsawan yang sedang bersembunyi dibelakang seorang ksatria.
Wanita kecil tersebut menyembunyikan dirinya dibelakang bodyguardnya dari tadi.
"Itu adikku tuanku yang paling pemalu, namanya Raisa dari keluarga Reel" ,ucap Mya dengan lembut.
"Baiklah...nona.." ,ucap Vesius dengan lembut, "Lemu dan Calen" ,panggil Vesius sambil menoleh kekedua prajurit yang tegak disekitar rombongan tersebut.
"Tolong bawa mereka bertiga keIstana Pedang Perunggu, tunjukkan pada mereka ruangan dikastil tersebut" ,ucap Vesius.
*3 wanita...3 wanita dikelilingi ribuan pedang...mereka tidak tahu mana yang aman mana yang tidak..aku harap mereka diam terutama yang satu itu jika tidak maka orang Victa tidak bisa membiarkan orang asing seenaknya mengeluarkan lidah ditempat mereka* ,pikir Vesius.
_____-_-_____
Perrin berdiri didekat jendela memandang kamp prajurit yang besar itu.
Ratusan obor dan kamp membentang jauh sepanjang Perrin melihat dijendela.
Puluhan ribu prajurit berpesta dan meminum bersama pelacur serta bersenang-senang.
"42.000 pasukan..." ,ucap Perrin sambil memikirkan sesuatu.
"Kelihatannya anda sedang memikirkan sesuatu tuanku" ,ucap Casca mendekat kearah Perrin.
"Semua orang selalu memikirkan sesuatu" ,ucap Perrin dengan dingin.
"Anda benar tuanku...semua orang selalu memikirkan sesuatu...coba lihat orang-orang diseluruh ruangan ini.." ,ucap Casca sambil menoleh kesekiling ruangan melihat orang-orang.
Perrin juga ikut menoleh kesekililing ruangan melihat para bangsawan dan pahlawan lainnya.
"Setengah memikirkan kondisi kerajaan dan kekuatan mahkota..." ,ucap Casca menoleh kearah Regio dan ksatria setia kerajaan Damaltia lainnya.
Perrin juga ikut menoleh kearah Casca menoleh.
"Setengah lagi memikirkan kesempatan yang bisa didapatkan dari tahta yang melemah dan tuan ratu kecil kita" ,ucap Casca menoleh kebangsawan yang terlihat membicarakan sesuatu.
"Sedangkan ada juga orang yang tak memikirkan apa-apa dan hanya ingin menikmati pesta malam ini" ,ucap Casca.
Mereka berdua kemudian menoleh kepara bangsawan yang dikelilingi wanita pelacur dan para pahlawan yang makan makanan serta minuman yang enak atau wanita yang bersenang-senang.
"Anak-anak haram akan terproduksi banyak malam ini" ,ucap Perrin sambil menoleh kearah jendela kembali.
"Sesuatu yang sungguh wajar tuanku, pria memiliki *****, dan pelacur menginginkannya untuk uang" ,ucap Casca sambil tersenyum licik.
"Kelihatannya kita berdua benar-benar tahu bagaimana dunia ini bekerja" ,ucap Perrin menoleh kewajah Casca dengan dingin.
Perrin kemudian melihat kearah jendela kembali.
"Oh jangan ragukan itu tuanku, aku telah melihat ratusan kali dunia ini bekerja" ,ucap Casca.
Perrin kemudian melihat Casca kembali tapi kali ini dengan menaikkan alisnya dengan wajah yang meragukan Casca.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan Casca?" ,ucap Perrin.
Tersenyum Casca.
"Tuan sendiri?" ,ucap Casca.
Perrin tersenyum.
" 'Musuh yang mengetahui tujuanmu yang sesungguhnya adalah musuh yang paling berbahaya' " ,ucap Perrin mendekat kearah Casca sambil tersenyum.
Dengan tatapan tajam Perrin menatap mata Casca.
Kemudian senyuman cukup menakutkan terukir diwajah Perrin.
"Temanku yang pernah mengatakan hal itu, aku yakin kita berdua setuju akan kata-kata itu Casca" ,ucap Perrin.
"Oh tak perlu ditanyakan tuanku.." ,ucap Casca berjalan kearah meja disampingnya.
Kemudian Casca melihat segelas anggur dimeja dengan airnya yang berwarna merah seperti darah.
"Ini masa-masa yang aneh tuanku, pahlawan datang dari dunia lain akan menyelamatkan dunia dari raja iblis yang tak kita kenal dan hanya dengar dari legenda berumur ribuan tahun" ,ucap Casca.
"Masa-masa yang aneh juga buatku dan teman-temanku yang berasal dari dunia lain" ,ucap Perrin.
"Dan dimasa aneh ini kita tidak tahu mana yang musuh, mana yang tidak tuanku" ,ucap Casca, "ribuan orang telah menanyakan hal itu selama ribuan tahun tuanku...apakah kita didatangkan teman? Atau musuh?..apakah kita didatangkan pahlawan? Atau badai? Apakah kita didatangkan penyelamat? Atau penghancur?" ,ucap Casca tersenyum.
Perrin merasakan sesuatu yang aneh.
.
.
.
Ia merasakan seperti ditatap ribuan mata disegala sisi ditubuhnya yang dibalut armour.