
"Hati yang bersih dan indah memimpikan untuk pergi keatas diatas langit diatas ribuan awan, sedangkan Hati yang Paham dunia ini tahu kalau Kebenaran berada ratusan ribu lapis tanah jauh dibawah"
-Mushakashi Sikibu diLegenda Genji
Setengah Bodoh Setengah Gagah
Berjalan Cyrus dan Cleorah diantara pahlawan yang sedang memakai armour dan pedang.
Beberapa pelayan dan prajurit membantu mereka, menyiapkan makanan,senjata,perobatan.
Beberapa penyihir dari berbagai Damaltia datang untuk melihat masuknya pahlawan misi kepenerobosan dungeon.
Dungeon lantai awal sudah banyak yang dijarah dan dibersihkan oleh pahlawan, jadi saat ini dungeon lantai bawah lah yang pahlawan akan terobos. Kemungkinan akan ada boss, tapi Cleorah yakin kalau dengan kekuatan pahlawan sekarang maka mereka bisa mengalahkan boss tersebut.
Lagipula dengan kekuatan melihat Willy maka mereka bisa mudah mendapat banyak informasi dengan mudah.
'Pengetahuan kadang bisa jadi kekuatan' ,Julius bilang.
Cleorah kembali memikirkan Julius, dan bagaimana jika dia ada disini.
Tak ada pahlawan yang meragukan kepintaran Julius sebagai strategis terutama Perrin.
Perrin sangat mengaguminya bahkan ketika Julius tak ada disampingnya, kadang Perrin menceritakan dan merekam perkataan yang Julius bilang bagaikan Julius memang ada didalam dirinya.
Jika Julius masih ada disini, maka mereka berdua akan menjadi kombinasi yang mengerikan.
"Cleorah seperti yang kau bilang, kita hanya akan membuat 1 team untuk menerobos dungeon ini tidak ada berpisah" ,ucap Cyrus dengan wajah serius.
"Ya, berpisah dilantai bawah yang kita tidak ketahui bahaya nya itu terlalu bodoh" ,ucap Cleorah.
Wajah Cyrus menjadi lebih serius akhir-akhir ini, entah kenapa. Dia masih tersenyum tapi tidak dengan tertawa, tersenyum pun ada beberapa nada sedih disenyumannya.
"Ya...bagaimana dengan pahlawan lain?" ,ucap Cleorah.
"Banyak baik-baik saja, beberapa gugup, beberapa siap, beberapa masih khawatir dengan kekuatan sihir yang mereka tak bisa kontrol. Seperti Sera yang berlatih menggunakan kekuatan sihir penyembuhannya kepada ikan, tapi dia masih gugup menggunakan kekuatannya pada manusia" ,ucap Cyrus dengan wajah kuatnya.
"Iya, lagipula..." ,ucap Cleorah melihat kearah pahlawan yang terlihat sedikit bersenang-senang.
"Sihir itu berbeda daripada kuda, sihir itu liar bagaikan pedang tanpa pegangannya tak bisa dikendalikan dalam waktu lama tanpa melukai dirimu sendiri. Jadi ketika kau mengeluarkan sihir maka kendalikan sebisamu dan lepaskan. Jangan kendalikan lama-lama" ,ucap Penyihir Barcalon sambil duduk memberi nasihat kepada pahlawan.
"Jadi ketika sudah menarget musuh maka langsung saja lepaskan sihirnya?" ,ucap salah satu pahlawan dengan semangat.
"Iya..bidik dan lepaskan, jangan kontrol untuk menargetkannya atau membidiknya terlalu lama" ,ucap Barcalon dengan wajah sinisnya, "mudah mengatakan dan mendengarkannya nak, tapi melakukannya itu sulit"
"Tuan pe-penyihir? Bagaimana dengan sihirku? Sihir penyembuhan? Tuan tahu cara yang bagus untuk mengontrol sihir penyembuhan?" ,ucap Sera dengan gugup.
"Soal itu...aku tak tahu banyak, Flynn tahu hal itu karena dia pernah melihat sihir penyembuhan secara langsung dan mengenal orang yang mengendalikan sihir penyembuhan. Tapi aku tidak" ,ucap Barcalon.
Cleorah sudah memerintahkan untuk Flynn mengajarkan Sera, karena Cleorah menemukan kalau Flynn sempat mencoba berlatih untuk menggunakan sihir penyembuhan tapi gagal.
Bukan cuma itu Flynn dahulu punya guru sihir penyembuhan jadi dia lebih tahu soal ini.
Sera dilaporkan cukup baik dalam pelatihan penyembuhannya tapi dia terlalu lambat, dan untuk mengendalikan kekuatan penyembuhannya secara penuh itu butuh waktu lama.
Wajah Sera terlihat kecewa tapi kemudian dia ditenangkan pahlawan yang lain, terlihat ia masih memiliki benih semangat didalam dirinya.
*Perrin...kau mengubah banyak pahlawan..ceramahmu dikamarmu...dan waktu diruangan itu kau berdebat dengan Elric dan memukul Willy..* ,pikir Cleorah.
Szeth menjadi lebih banyak menggunakan armour sebelum Perrin memberitahunya kalau armour itu efektif.
Dryer lebih banyak terdiam sekarang dan tak banyak lagi menggunakan kekuatannya untuk iseng-iseng, entah apa yang Perrin katakan untuk dia, tapi Cleorah menduga Perrin dibalik pertumbuhannya. Tapi dia sekarang hampir benar-benar mirip dengan Assasin.
Cyrus...dia menjadi lebih serius dan kuat...kharisma nya belum memudar tapi dia menjadi lebih banyak serius dan tak begitu banyak bercanda dengan wanita lagi.
"Cyrus mari kita pergi..katakan pada pahlawan lain" ,ucap Cleorah.
"Baiklah" ,ucap Cyrus, "berkumpul pahlawan dan berbaris!" ,ucap Cyrus dengan nada perintah.
Pahlawan-pahlawan kemudian tegak dari tempat duduk mereka dan terlihat bersiap, beberapa tubuh mereka terlihat lebih berotot daripada awal mereka datang kedunia ini.
Banyak dari wajah mereka yang terlihat kuat dan memiliki nada serius didalamnya, berbeda saat awal datang kedunia ini.
*Mereka sudah berubah..* ,pikir Cleorah.
Tiba-tiba sebentar Cleorah melihat Perrin berdiri disampingnya.....dia bisa melihat Perrin tersenyum kecil melihat pahlawan-pahlawan sekarang....
.
.
.
.
.
.
.
.
_____-_-_______
.
.
.
.
.
.
.
"Dimana tuan Perrin?"
"Apa dia meninggalkan kita?"
"Kenapa dia tak beritahu rencananya kepada kita?"
"Atau mungkin dia diculik?"
"Tidak, beberapa ksatria dan kuda juga nampaknya menghilang"
"Aku melihatnya tadi malam dia pergi bersama ratusan ksatria lainnya"
Suara gaduh-gaduh jenderal ditenda terdengar dan orang-orang mulai khawatir sesuatu akan terjadi. Teori dan gosip liar mulai dilontarkan oleh lidah manusia dikamp ini.
"Minggir! Tuan Pahlawan Elric berjalan!"
Teriak prajurit disamping Elric.
Elric berjalan diantara jenderal yang khawatir dan kebingungan apa yang terjadi.
'Kau yang memegang komando pasukan ini'
Ucapan Perrin meringing dikepala Elric, dengan gugup dan jantungnya berdetak kencang. Tangan Elric mengepal semangat.
Tubuh Elric yang cukup tinggi membuat tingginya setara dengan beberapa jenderal menambah ketegangan suasana dilapangan kamp ini.
Beberapa prajurit mengintip dari kamp mereka, melihat Elric dan jenderal lainnya. Nampak prajurit penasaran dengan Elric.
Wajah Elric yang dingin dan kuat tak membuat beberapa jenderal ketakutan.
'Aksi lah yang kadang dapat membuat dominasi untuk seorang manusia' ,ucap Perrin waktu berada diKastil Balradius.
Elric hanya berjalan hingga akhirnya ia melewati mereka semua dan berdiri didepan mereka semua.
Elric bisa melihat banyak jenderal dari sini.
"Aku yang memegang komando sementara Tuan Perrin pergi" ,ucap Elric sambil mengambil sebuah surat yang terlihat ditanda tangani Perrin, "Ini buktinya"
Beberapa jenderal hanya terdiam sedangkan sebagian kembali mengobrol. Bisa dirasakan sebagian meragukannya. Sedangkan sebagian terlihat hanya menatap tajam dirinya.
*Perrin...kau terlalu dibenci..jadi aku juga ikut dibenci* ,pikir Elric.
"Kenapa Tuan Perrin pergi? Bagaimana jika ia malah pergi ketakutan bersembunyi dikastilnya, terutama dia itu perempuan" ,ucap salah satu jenderal.
"Rencana kami takkan kami beritahu penuh" ,ucap Elric.
"Bagaimana kita bisa yakin kalau yang Tuan Elric bilang itu bukan kebohongan?" ,ucap salah satu jenderal.
Banyak setuju kepada ucapan jenderal itu tapi dalam arti yang berbeda mereka setuju.
Bisa didengar ada yang menduga kalau Elric lah yang menculik Perrin dan mengambil komando pasukan.
*Rumor itu liar...* ,pikir Elric.
Ada yang menduga kalau mereka cuma anak muda yang tak tahu apa-apa dan mengaku sebagai pahlawan, jadi mereka berpikir kalau Perrin kabur.
Sedangkan sebagian...masih kebingungan dan menunggu apa yang terjadi.
"Rencana kami takkan kami beritahu penuh" ,ucap Elric dengan kuat.
"Kenapa kami tak diberitahu rencana ini? Bagaimana kami tidak tahu kalau rencana-rencana ini cuma bohong" ,ucap salah satu ksatria.
"Kebohongan akan terbuka dalam waktu, silahkan katakan rencana ini sebagai 'kebohongan' sesuka hati kalian sekarang tapi ketika Tuan Perrin pulang, maka kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya" ,ucap Elric dengan tatapan tajam.
Beberapa ksatria dan bangsawan langsung terdiam mendengarnya, beberapa masih meragukan tapi sebagian memutuskan untuk terdiam.
Terdiam mereka ketakutan, obrolan mulai berhenti terdengar dan terlihat beberapa berkeringat serta menelan ludah.
*Bagus, mereka mengingat bagaimana Perrin menelanjangi dan memotong lidah 53 prajurit itu. Memang benar nampaknya kata Perrin kalau teror itu efektif...* ,pikir Elric.
"Aku yang memegang komando, itu saja yang kalian perlu ketahui. Aku memerintahkan agar kita akan berangkat 2 hari lagi keKastil Myhall. Ksatria Mailainn kau akan mengomando 1.000 pasukan untuk mengevakuasi beberapa rakyat desa dari perang kekota Jurumm dan antarkan beberapa peti ditendaku berisi 4.000 koin kewalikota Jurumm untuk membuatnya membuka gerbang untuk pengungsi ini" ,ucap Elric dengan tatapan tajam.
Beberapa jenderal dan bangsawan langsung setuju dan menerima kalau mereka punya komandan baru.
"Sedangkan Ksatria Halamann Garuman akan mengomando garda depan, Huluna Rommel mengomando kereta suplai pasukan, Jehenas Veel yang akan mengomando Pasukan berkuda, Alamur Veel yang akan mengomando pasukan inti infanteri, sedangkan aku lah yang akan memimpin pasukan cadangan" ,ucap Elric dengan suara komando yang kuat.
Sebagian masih penasaran kemana Perrin pergi dan berharap kalau Perrin memang punya rencana.
Sebagian hanya bisa terdiam.
*Perrin, aku sudah melakukan bagianku. Tinggal kau yang memainkan bagianmu..meskipun aku tak tahu apa itu* ,pikir Elric sambil memegang tangannya yang bergetar gugup.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Keuangan banyak menjadi masalah saat ini, aku dengar" ,ucap Taivarr sambil berdiri disamping Vesius.
"Ya, perang itu ekspensif. Armour pasukan,gaji pasukan,persenjataan pasukan,suplai makanan,dan...kuda. Kuda itu selalu lebih mahal dari yang kukira" ,ucap Vesius.
Mereka saat ini sedang berada didepan sebuah teras rumah rakyat biasa.
Atap teras menutupi tubuh dan kepala mereka dari hujan.
Hujan gerimis terlihat sudah mengecil...belum reda, tapi hujan tidak sederas yang tadi.
"Sudah cukup reda.." ,ucap salah satu bodyguard Taivarr.
"Mari lanjut berjalan" ,ucap Taivarr dengan cepat dan melangkah lebih dulu.
"Ya" ,ucap Vesius mengikutinya.
Berjalan mereka diantara keramaian pasar ibukota yang cukup kotor, dengan lumpur.
Sedangkan beberapa penyanyi bisa terdengar menyanyi ditengah gerimis diijalanan ini.
"Prajurit membawa pedangnya mengalahkan pengkhianat~"
Beberapa budak terlihat membawa barang-barang untuk tuan mereka melindunginya dari kebahasan. Dari berbagai negeri,bangsa,ras mereka datang.
Tapi diantara pemandangan ibukota terlihat seorang wanita memakai jubah yang menutupi kepalanya dengan keranjang bunga ia bawa.
Vesius awalnya tidak menghiraukannya tapi beberapa detik saat wanita tersebut melewati Vesius.
"Nona Mya?" ,ucap Vesius sambil mengambil lengan wanita tersebut dengan cepat.
Terbuka jubah wanita tersebut, dan terlihat wajahnya dan rambut hitamnya yang anggun tapi aura anggun itu mulai menghilang mengganti menjadi wajah remaja yang ketahuan.
"T-tuan Vesius? Ke-kelihatannya jalan ibukota begitu ramai dengan orang-orang sehingga anda juga ada disini" ,ucap Mya mencoba mengeluarkan kata-kata pintar kepada Tuan Vesius.
Tapi bisa terlihat wajah Mya memerah tapi entah kenapa Vesius merasakan kalau merah wajahnya bukan karena ketahuan melainkan sesuatu yang lain.
"Ha, memang iya nampaknya jalanan ibukota memang ramai. Tapi tidak begitu ramai sehingga Nona Bangsawan Tamu dari negara lain turun kesini" ,ucap Vesius sambil mengatakan 'Nona Bangsawan Tamu dari negara lain' dengan nada tajam.
"Siapa ini Tuan Vesius?" ,ucap Taivarr dengan tatapan tajam melihat Nona Mya.
Mya terlihat tiba-tiba gugup dengan Taivarr melihatnya dengan tajam, sambil memakai sebisa penutup kepalanya untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Kelihatannya...ini adalah situasi yang cukup aneh dan lebih bagus jika aku menjelaskannya. Tuan Taivarr ini adalah tamu Mya dari Keluarga Veel yang datang dari Dalmatia beberapa minggu yang lalu" ,ucap Vesius sambil memegang bahu Mya dengan kuat.
Mya memerah wajahnya ketika merasakan tangan Vesius dibahunya.
"Ohhh...maafkan aku nona..jujur saja itu cukup aneh menemukan anda disini...terutama itu jangan gugup...sebagai sesama orang Dalmatia pasti cukup asing merasakan rasa tanah Victa" ,ucap Taivarr dengan menunduk rendah.
" 'Sesama orang Damaltia' ?" ,ucap Mya dengan penasaran.
"Hm" ,tersenyum Vesius, "Tuan Taivarr lahir dan berasal dari Dalmatia"
"Tuan Taivarr...berasal dari Damaltia..." ,ucap Mya dengan bengong tak percaya dan kagum, "bagaimana anda berakhir disini tuan?"
"Aku dahulu hanya penghitung gudang suplai makanan untuk seorang bangsawan kecil dan sisanya....aku tak bisa menceritakannya dalam waktu singkat nona.." ,ucap Taivarr sambil tersenyum kecil.
Mya terlihat sedikit kagum dan penasaran.
"Jadi kenapa Tuan Vesius dan Tuan Taivarr disini?" ,ucap Mya dengan terlalu jauh penasaran.
Vesius menatap tajam Mya memberi tanda kalau dia berlebihan bertanya, dan Mya terlihat langsung mengerti.
Tapi Mya hanya tersenyum...
"Hm" ,tersenyum Taivarr mendengar ucapannya, "hanya percakapan biasa antara 2 manusia biasa nona"
"2 manusia bisa juga membicarakan sesuatu yang menarik bukan?" ,ucap Mya sambil menenteng keranjang kayu didepan perutnya.
Vesius hanya bisa mengerutkan alisnya melihat ke arah Mya.
"Hm" ,tersenyum Taivarr, "Nona benar, 2 manusia biasa harusnya bisa membuatkan pembicaraan yang menarik"
"Tentang apa?" ,bertanya Mya.
"Tentang perang" ,ucap Vesius dengan dingin, "Victa tengah sekarat nona, dengan pemberontak ingin menyeretnya dari keranjang rawatnya dan perang mencoba menghentikannya dengan besi tapi malah ikut melukai Victa itu sendiri" ,ucap Vesius melanjutkan.
Mya terlihat tersenyum kecil mendengar jawaban Tuan Vesius.
Kelihatan Mya senang mendengar jawaban Tuan Vesius.
"Seperti yang tuan lihat, wanita seperti diriku tidak terlalu pandai dan ahli dalam urusan perang, tapi aku bisa mengerti beberapa hal tuanku" ,ucap Mya dengan nada sopan.
"Heh, apakah kau tahu kalau pencurian sedang meninggi sekarang diibukota? Dan beberapa daerah lain diVicta?" ,ucap Vesius tersenyum.
"Pencurian...itu bukan soal perang bukan?" ,ucap Mya dengan nada sedikit kebingungan.
"Bukan, kau benar. Kecuali jika pencurian itu soal pencurian suplai militer diseluruh persediaan militer diIbukota dan daerah lain" ,ucap Vesius.
"Kenapa..? Kenapa pencuriannya meninggi?" ,bertanya Mya dengan penasaraan.
"Karena semua pasukan yang menjaga pergudangan menghilang terjun ke medan perang, terutama gudang suplai hanya penuh dimasa perang. Jadi pencuri sangat suka masa begini dimana ada banyak hal yang bisa mereka curi" ,ucap Vesius sambil terus berjalan.
Terlihat ada anak-anak yang sedang bermain ditengah jalan diantara gerimis hujan.
"Terutama ketika ada pengepungan, hahh...betapa sukanya pencuri tentang pengepungan. Hampir semua prajurit sedang sibuk menyiapkan perlindungan kota dan kadang tak ada yang menjaga suplai, ditengah kekacauan mereka menyelinap mengambil keuntungan" ,ucap Vesius sambil menoleh kearah anak-anak yang menyopet mengambil bawang yang diangkut dikereta kuda.
"Perang itu masa yang lebih merusak daripada yang orang banyak kira nona" ,ucap Taivarr.
"Ya, perang sedang merayap diVicta sekarang. Raja nampaknya sedang bertambah sekarang nona dan kerusakan juga bertambah nampaknya" ,ucap Vesius sambil melihat kesebuah kumpulan budak.
"Dasar budak sialan! Kerjamu cuma satu tapi kau tak bisa mengerjakannya!" ,teriak seseorang pria ditengah-tengah pasar meneriaki seorang budak wanita yang terlihat lemah.
Disamping wanita tersebut terlihat keranjang yang jatuh dengan ratusan telur berbaring dan pecah dijalan ibukota.
Pria tersebut kemudian mengeluarkan pemukul dan memukul budak tersebut dengan liar.
*Strassssskkk!*
"Ah! Ahk! Akh!" ,teriak kesakitan budak itu sambil mengambil pukulan itu dengan kesakitan.
Beberapa rakyat biasa menoleh tapi memilih membiarkannya ataupun menontonnya melihat wanita dipukul.
Mya terlihat bersimpati dan melangkahkan kakinya-
"Jangan" ,ucap Vesius sambil menahan Mya dengan memegang tangannya, "kau lebih bodoh daripada berani dan heroik sekarang, kau harusnya sadar itu"
"Ta-tapi...wanita itu kesakitan" ,ucap Mya.
"Ini terjadi ratusan setiap hari, saya wajar terhadap perasaan nona, memang diDalmatia perbudakan sudah dilarang dan dianggap biadap tapi ini Victa nona...ini tempat yang berbeda" ,ucap Taivarr.
"Pria itu...pria itu bekerja untuk Ortwyn Juhun, jika kita mengganggunya maka itu akan jadi masalah buat kita. Dia menyediakan suplai makanan Republik sekarang, jika aku mengganggunya maka aku kehilangan 7.000 ekor domba dan 4.000 sapi diseluruh Victa. Nona Mya jika berkelahinya maka anda tidak tahu apa yang akan terjadi pada anda nona" ,ucap Vesius dengan tatapan tajam.
Mya hanya berwajah pahit, dia ingin membantu tapi dia tak bisa.
*Hiduplah dengan membiarkan yang lain menderita..apakah itu yang kami bilang ke Mya?* ,pikir Vesius.
Wanita itu dipukul terus menerus tapi beberapa orang hanya melihat hanya tertawa dan mengobrol tentangnya.
Beberapa lebih membiarkannya dan tak menghiraukannya kembali keurusan mereka masing-masing.
"Oi! Oi! Pria macam mana yang memukul wanita tak bersalah!" ,ucap seorang lelaki muda terlihat maju melindungi budak itu.
*Dasar bodoh...anak itu lebih bodoh daripada berani.." ,ucap Vesius.
Pria memukul budak tersebut langsung menghentikan penyiksaannya ketika mendengarnya.
Lelaki muda terlihat berdiri kuat didepan pria yang memukul budak tersebut.
"Berhenti memukulnya!" ,ucap lelaki muda tersebut dengan setengah gagah setengah bodoh.
"Hehhahahaha! Kalau aku berhenti, kenapa?" ,ucap pria yang memukul budak tersebut sambil tersenyum.
"Nih! 80 koin! Untuk membeli budak itu! Sekarang budak itu milikku!" ,ucap lelaki muda tersebut sambil membanting sekantung koin ketanah.
Pria yang memukul budak tersebut langsung tersenyum, keduanya terdiam untuk sebentar sementara semua pasar melihat mereka.
Mya terlihat cukup kagum kepada lelaki muda itu sedangkan Vesius dan Taivarr melihat lelaki muda itu sebagai orang bodoh.
"Heh" ,tersenyum pria memukul budak tersebut, "Pyp dan Jarr! Pegang anak ini!"
Kemudian terlihat 2 orang pria besar muncul dari keramaian pasar dibelakang pria yang memukul budak tersebut.
2 orang pria besar itu langsung memegang lelaki muda tersebut.
"Kenapa ini? Kenapa ini!?" ,ucap lelaki muda tersebut meronta-ronta sambil dipegang 2 pria besar tersebut.
"Potong lidahnya, dia tak menghormati karyawan Ortwyn Juhun" ,ucap pria yang memukul budak tersebut sambil mengambil 80 koin ditanah, "harga budak ini 86 koin nak bukan 80 koin dasar bodoh" ,ucap pria tersebut sambil menaruh kembali 80 koin itu ketanah.
"Shehhsjekakekaj" ,ucap lelaki muda meronta-ronta sambil salah satu dari 2 pria tersebut memasukkan tangannya kemulut lelaki muda tersebut.
"Tolong! Tolong! Tolong jangan potong lidah kakakku! Jangan!" ,ucap seorang wanita muncul dari keramaian.
*Bakkk!*
"Jangan mengganggu" ,ucap pria yang memukul budak tersebut langsung menghantam tangan kuat kewajah wanita tersebut.
*Cnek*
Mya,Vesius,dan Taivarr melihat lidah lelaki muda tersebut dipotong.
Vesius dan Taivarr menatapnya dengan tatapan datar tanpa emosi.
Sedangkan Mya menutup mulutnya dan mengalihkan pandangannya.
Sedangkan lelaki muda tersebut terlihat ingin berteriak tapi tak ada yang mendengar teriakannya atau mungkin memang dia tak bisa berteriak lagi.
"Mya.." ,ucap Vesius sambil memegang tangan Mya.
Mya melihat kearah tuan Vesius.
*Dunia ini terlalu keras untuk dia..untuk remaja yang berpikir dia tahu banyak seperti dia….* ,pikir Vesius.
"T-tuan Vesius kenapa?" ,ucap Mya.
"Kau ingin jadi pahlawan Mya?...maka menderitalah menjadi salah satunya" ,ucap Vesius menunjuk kearah pria yang kehilangan lidahnya tersebut.