Hannoic War

Hannoic War
Jatuh Benderanya (part 32)



"Pria akan bertarung lebih keras kepada sesuatu yang mereka inginkan daripada sesuatu yang merupakan hak mereka"


-Napoleon Bonaparte


Jatuh Benderanya


Disebuah penjara terdengar suara orang besar melangkah.


Gelap disini dengan bau darah dan mayat serta kotoran tikus tercium kuat.


Obor ditangannya berjalan dia Vesius masuk kepenjara dengan Vale dibelakangnya.


"Kupikir siapa...ternyata burung hantu yang melangkah dikegelapan" ,ucap salah seorang pria yang dipenjara disana.


"Kupikir kau sudah gila dipenjara gelap ini Pruasarr, tapi instink banditmu untuk mengenali langkah kaki musuhmu masih belum berubah" ,ucap Vesius berjalan dengan obor ditangannya.


"Hehehehehe...instink bandit..tidak semua bandit ahli yang aku temui dapat mengenali langkah musuh mereka.." ,ucap Pruasarr dengan suara yang sedikit lemah.


"Nih...minum air, aku tidak ingin kau mati dulu" ,ucap Vesius sambil menyelipkan sekantung air dijeruji besi.


"Ohooo...kau lebih baik dari yang kukira..." ,ucap Pruasarr tersenyum sambil mengambil sekantung air yang ditawarkan Vesius.


*Gluk*Gluk*Gluk*


Suara Pruasarr kehausan meneguk sekantung air minum terdengar.


"Ahh..terima kasih.." ,ucap Pruasarr sambil mengelap air dimulutnya dengan tangannya sendiri, "..ngomong-ngomong..katanya kau ingin menjualku kekota Ballerius....keseseorang yang kaya..kenapa kau bawa aku keibukota?" ,ucap Pruasarr.


Wajah jelek Pruasarr bisa terlihat dengan cahaya obor, warna ungu penyakit diwajahnya bisa terlihat dari bagian dahi hingga dagunya.


Sedangkan terlihat nanah dimana-mana diwajahnya.


Tersenyum Vesius.


"Heh, kau percaya kalau orang kaya itu dikota Ballerius?" ,ucap Vesius.


"Tentu saja, matamu seperti orang yang bisa dipercaya...tapi ternyata tidak. Kau lebih pintar dan berbahaya dari yang orang pikirkan" ,ucap Pruasarr tersenyum licik.


"Apa yang kau inginkan Pruasarr? Kalau boleh kutanya" ,ucap Vesius.


"Kau juga apa kau yang inginkan?" ,ucap Pruasarr.


"Coba tebak, orang yang menghabiskan waktunya selama dihutan sambil bersembunyi dan terasingkan dari dunia luar menghabiskan hidupnya sebagai bandit....harus punya motif bukan agar dia masih hidup dari penderitaan bukan?" ,ucap Vesius.


Mata hijau muda Vesius berkilau redup dipenjara ini bagaikan lilin dengan cahaya hijau yang hampir mati.


"Hm" ,senyum Pruasarr, "orang yang menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk bertugas sebagai jenderal dan melayani keluarganya. Pasti punya motif untuk hidup bukan?" ,ucapnya.


"Jujur saja motifku itu mudah ditebak....aku hanya ingin menikmati hidup sebagai Garius dan melakukan kewajibanku sebagai Garius. Lagipula semboyan keluargaku cuma punya satu kata 'Kewajiban' ",ucap Vesius


"Heh..sudah pasti kau menikmati semua itu" ,ucap Pruasarr.


"Aku sudah mengatakan apa yang kuinginkan..jadi katakan apa yang kau inginkan?" ,ucap Vesius.


"Aku sama dengan dirimu burung hantu, aku ingin menikmati dunia ini sebisa yang aku bisa burung Hantu.." ,ucap Pruasarr sambil tersenyum.


"Ada cara cepat untuk mengakhiri hidupmu daripada menderita terus menerus" ,ucap Vesius.


"Bunuh diri hanya untuk pengecut" ,ucap Pruasarr.


"Terserah tapi kau akan berada dipenjara ini selamanya Pruasarr, lagipula orang kaya itu tidak datang-datang, kelihatannya aku percuma membawamu jauh-jauh kesini...selamat menikmati dunia ini selamanya dengan penderitaan" ,ucap Vesius sambil tersenyum pahit.


"Tidak ada yang selamanya didunia ini burung hantu" ,ucap Pruasarr sambil tersenyum dan kemudian ia meminum sekantung air.


"Keluargamu selamanya akan terus menolakmu dan mengasingkanmu" ,ucap Vesius.


*Trannnnnkkkkkkgggghhngggggg*


Pruasarr kemudian menghantam jeruji besi dengan tangannya, suaranya sampai menggema memenuhi penjara ini.


"Kau benar burung hantu.." ,ucap Pruasarr sambil tersenyum didepan jeruji besi menatap Vesius.


Vale sampai hampir menghunuskan pedangnya dan melangkah lebih dekat kearah jeruji besi.


Tapi Vesius memberi aba-aba dengan cara mengangkat tangannya dengan rendah, menghentikan Vale untuk menghunus pedangnya.


"Nampaknya penjara gelap ini sudah mengambil sebagian akal sehatmu, tapi aku tak peduli. Kau cuma berguna untuk dijual kepada orang kaya itu" ,ucap Vesius yang kemudian berjalan pergi dari ruang penjara Pruasarr.


"Burung Hantu! Hehehehehhe" ,teriak kencang Pruasarr bagaikan orang gila.


Suara teriakannya bergema dipenjara gelap ini.


Sedangkan Vesius sempat menoleh sebentar kearahnya.


"Akan ada bahaya yang akan datang! Aku tak tahu apa itu! Dan kapan itu! Tapi itu akan datang! Hati-hatilah jika sayap tak bersuaramu itu akan ditembak jatuh suatu hari nanti hehehhe.." ,ucap Pruasarr tersenyum lebar bagaikan monster.


Vesius terlihat hanya terdiam dan kembali berjalan kedepan.


Suara tawa Pruasarr kemudian terdengar lebih gila dan aneh.


"HahahhahHAHAHAHHAHA! HEEHAHHAHAHA!"


Suara tawanya mulai memenuhi satu penjara ini.


Suara tikus-tikus berlari dan meringkik mulai terdengar.


Mata Vesius berkilau hijau redup dikegelapan menatap kedepan sambil terus berjalan dilorong penjara ini.


"Jatuh benderanya~! Jatuh bendera raja dan bangsawan~! Jatuh raja dan pangeran~! Jatuh dengan istananya~! Hahahahhaha!"


Menyanyi Pruasarr didalam penjara seperti orang gila.


"Jatuh wanita mereka ditangan pria yang bernafsu~! Jatuh harta mereka~! Jatuh pedang mereka~! Jatuh bangsawan dan keluarga kerajaan ditangan pemberontak~!"


Vesius hanya bisa tersenyum sambil terus berjalan.


"Jatuh suara mereka~! Jatuh harga diri mereka! Oh tuan-tuan dan raja-raja~! Jatuh....semua yang mereka punya~..."


Suara nyanyian Pruasarr menari dan bergema dipenjara ini bagaikan orang gila.


*Bahaya akan datang...aku tahu itu Pruasarr..bahaya itu datang..*


Pikir Vesius dengan tangannya yang bergetar.


Rasa takut tiba-tiba kembali muncul dalam dirinya


.


.


.


__-_-___


.


.


.


*Trreekkkkkttttt*


Suara pintu terbuka terdengar.


Terlihat Cleorah berdiri didepan pintu sambil melihat Perrin.


"Ohhh...hai" ,ucap Perrin.


Terlihat Perrin duduk dikursinya dengan ratusan buku disekelilingnya. Mejanya juga dipenuhi buku dari seluruh perpustakaan dikastil Balradius.


*Tukkkt*


Cleorah kemudian menutup pintu kamar tersebut.


Ruangan ini memiliki rak buku dan bisa dibilang sempit. Hanya ada satu jendela yang menghubungkan cahaya matahari untuk kesini.


Cukup sulit memikirkan kalau Perrin bisa hidup diruangan sempit ini selama berbulan-bulan.


"Kau...kau tidur dan tinggal disini selama 4 bulan?" ,ucap Cleorah.


"Tapi tetap saja...bagaimana kau tidur?" ,ucap Cleorah.


"Aku...aku tak bisa tidur...aku tak pernah tidur sejak kita datang kedunia ini" ,ucap Perrin mengangkat kepalanya dari lembaran buku dan menoleh kearah Cleorah.


Cleorah kemudian menelan ludah mendengar apa yang dikataoan Perrin.


"Kau serius?" ,ucap Cleorah.


"Hahh..iya..aku tak bisa merasakan rasa kantuk didunia ini, aku pernah mencoba tidur tapi tak bisa dan terpaksa membaca buku hingga pagi datang" ,ucap Perrin sambil menghela nafasnya.


"Apa kau sehat!? Manusia biasa tak bisa menahan tidurnya hingga 4 bulan!" ,ucap Cleorah.


"Apa aku terlihat sudah seperti manusia? Rambutku berubah menjadi putih sejak aku datang kedunia ini, mataku berubah menjadi warna kuning. Apa kau baru sadar Cleorah? Tentu saja tidak, aku bisa mendengarmu menggosip hal ini terus menerus dengan wanita lain" ,ucap Perrin.


"Bu-bukankah..rambut putih itu sama saja seperti manusia..?" ,ucap Cleorah.


"Apa kau pernah lihat manusia berambut putih alami?" ,ucap Perrin.


"Albino" ,ucap Cleorah.


"Kau benar, tapi aku bukan Albino" ,ucap Perrin.


"Ummmmmhhhh.." ,suara kesal keluar dari mulut Cleorah.


*Dia tak suka kalau aku merendahkan rambut putihku* ,pikir Perrin.


"Kau iri aku berubah memiliki rambut putih sejak lama, aku tahu itu" ,ucap Perrin yang kemudian mengalihkan kepalanya kembali kelembaran buku.


"T-tidak! Aku...tidak iri.." ,ucap Cleorah sambil memegang rambutnya sendiri dan dengan tangannya ia menggulung-gulung kecil rambutnya sendiri.


"Iya kau iri jangan mencoba menyembunyikan perasaanmu didepanku" ,ucap Perrin.


"Iya deh! Iya! Aku iri! Iya! Emangnya kenapa hah?! Kan bagus punya rambut putih...itu bisa membuatku lebih cantik..dan Cyrus..." ,ucap Cleorah sambil memerah wajahnya.


Kemudian keduanya senyap, Cleorah sedang merasa merajuk dan tak mau memulai pembicaraan. Sedangkan Perrin tak mau melakukan apa-apa.


Ruangan ini gelap dan hanya lilin yang menerangi ruangan ini.


"Apa Willy baik-baik saja?" ,bertanya Perrin dengan cepat.


"Ah? Ya, dia...baik-baik saja. Kata pelayan dia tak perlu dijahit kepalanya cuma darahnya keluar cukup banyak" ,ucap Cleorah.


*Kelihatannya aku terlalu keras padanya* ,pikir Perrin.


"Bagus, kekuatannya yang bisa membaca status dan skill orang lain bisa berguna untuk kita kedepan" ,ucap Perrin sambil membuka lembaran baru dibukunya.


"Apa yang kau baca?" ,ucap Cleorah sambil berjalan lebih mendekat kearah meja Perrin.


"Buku pengetahuan sihir dari Penyihir Malarum" ,ucap Perrin sambil memperlihat sampul buku tersebut kepada Cleorah.


"Apa kau ingin membaca semua buku-buku ini?" ,ucap Cleorah sambil melihat sekeliling Perrin yang dipenuhi tumpukan buku.


"Ya...biasanya, karena aku tak bisa tidur maka sebaiknya aku gunakan saja ketidakbisaan aku tidur" ,ucap Perrin.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Bukankah kau pernah bilang kalau dunia ini membosankan? Kenapa kau membantu kami untuk selamat?" ,ucap Cleorah.


"Kapan aku bilang dunia ini membosankan?" ,ucap Perrin.


"Pernah saat kita bertemu dilorong, waktu penerimaan siswa baru" ,ucap Cleorah.


"Ohhhh...kau sudah lumayan berubah selama tahun berjalan, jadi aku lupa kalau aku sedang berbicara dengan orang yang sama saat itu" ,ucap Perrin tersenyum.


"Kau ini..." ,ucap Cleorah.


"Kenapa Cleorah? Kau heran kenapa aku terlihat ingin melindungi kalian?..Hahh.." ,ucap Perrin sambil menghela nafas.


Kemudian Perrin berdiri dari kursinya dan berjalan kearah lemari kecil dikamar ini.


Terlihat lilin dikamar ini sudah hampir mati.


"Dunia ini membosankan...aku juga sudah banyak berubah sejak aku mengatakan itu.." ,ucap Perrin sambil membuka lemari tersebut dan mencari sesuatu didalamnya.


Perrin kemudian mengambil sebatang lilin dari kotak kayu berisi banyak lilin didalam lemari tersebut.


"Sejak aku bertemu Julius..." ,ucap Perrin sambil mengambil lilin yang sudah mati dimejanya dan melemparnya kearah kotak kayu yang berisi lilin mati yang lain disebelah meja.


"Dia mengajarkanku kalau dunia itu tak semudah yang aku kira...hehehe..dahulu aku lebih angkuh dari yang sekarang Cleorah.." ,tertawa sebentar Perrin.


Cleorah cukup kaget karena ia tak pernah melihat Perrin tertawa.


Lebih lagi ia tak pernah melihat Perrin bercerita tentang dirinya yang dimasa lalu seperti ini.


Sementara itu Perrin menghidupkan lilin barunya tersebut.


Untuk sebentar Cleorah melihat Perrin sebagai wanita biasa, tak seperti Perrin biasanya yang menakutkan,kuat,kejam,dan memiliki instink seperti prajurit. Bahkan suara Perrin biasanya seperti suara prajurit dan tak memiliki sedikitpun kelembutan didalamnya berubah dengan ada rasa lembut didalamnya.


"Waktu-waktuku bersama Julius memberi banyak pelajaran bagiku....'musuh yang paling tak diketahui tujuannya adalah musuh paling berbahaya' " ,ucap Perrin mengatakan itu dengan suara yang lumayan tajam.


"Kami bukan musuhmu" ,ucap Cleorah.


Cleorah kali ini mulai menunjukkan mata yang tajam, mata coklat gelapnya mulai bersinar.


"Hm" senyum Perrin "semua bisa menjadi musuh Cleorah" Perrin kemudian duduk dimejanya "tak peduli sebetapanya loyal dan mudah dipercaya nya mereka diawal"


*Tuk*Tuk*Tuk*Tuk*


Suara ketukan pintu terdengar.


"Tuan Perrin" ,terdengar suara licin dan lembut dari pintu tersebut.


"Masuklah, pintu itu tak dikunci" ,ucap Perrin.


*Trreekkkkkttttt*


Terlihat Casca dan seorang pria tua dengan janggut panjang putih terlihat.


Pria tua tersebut memakai pakaian putih dan tongkat dengan berlian kuning besar menempel diatas tongkat putih tersebut.


*Flynn Curaias..* ,pikir Cleorah.


"Aku sudah membawa tuan Penyihir Flynn, tuanku" ,ucap Casca tersenyum licik sambil menunduk didepan Perrin.


"Sungguh kehormatan untuk dipanggil secara langsung oleh tuan pahlawan Perrin" ,ucap Flynn menunduk dengan punggung tuanya kePerrin.


"Kehormatan yang bisa dinikmati setiap orang" ,ucap Perrin.


"Kehormatan yang jarang karena aku dengar pahlawan Perrin jarang menginginkan kunjungan oleh seseorang" ,ucap Flynn.


"Tidak juga, aku mengundang Cleorah kesini. Lagipula, kau tetap disini Casca....jangan pergi kemana-mana" ,ucap Perrin.


"Tenang saja tuanku, aku akan tetap berada disisimu" ,ucap Casca sambil tersenyum licik.


"Jadi tuanku? Apa yang kau inginkan untuk memanggilku kesini?" ,ucap


"Aku ingin kau melatih pahlawan untuk mengontrol sihir mereka" ,ucap Perrin.


*Tuan penyihir Flynn mungkin sudah menyadarinya kalau ada beberapa pahlawan yang tak mengontrol sihirnya* ,pikir Cleorah.


"Aku? Jangan bercanda tuanku, aku tidak bisa menggunakan sihir" ,ucap Flynn.


"Terus apa gunanya gelar 'Penyihir' mu itu?" ,ucap Perrin.


"Hm" senyum Casca "maafkan aku tuan Perrin, tapi biarkan aku memberi pengetahuan tentang dunia ini-


"Aku tahu Casca, tidak semua orang yang memiliki gelar penyihir dapat menggunakan sihir. Kadang ada penyihir yang 'jaringan mana' nya sudah rusak akibat usia tua ataupun memang tak bisa menggunakan sihir sejak lahir dan hanya banyak tahu soal sihir. Aku baru membacanya tadi dibuku pengetahuan tentang penyihir dari penyihir Alani" ,ucap Perrin.


"Ah, maafkan aku karena meragukan pengetahuannmu tuanku...sungguh sesuatu yang tidak sopan bagi pelayan tuan ratu seperti diriku.." ,ucap Casca dalam suara yang licin.


"Jadi tuan Flynn? Kau tipe yang mana? Kau yang sudah tua sehingga tak bisa menggunakan sihir atau tipe yang tak bisa menggunakan sihir sejak lahir dan hanya tahu banyak soal sihir" ,ucap Perrin.


"Tipe yang tak bisa menggunakan sihir sejak lahir dan hanya tahu banyak soal sihir tuanku, maafkan aku" ,ucap Flynn.


"Hahh...sayang sekali.." ,ucap Perrin.


*Sial....misi itu 53 jam lagi...cuma beberapa hari sebelum bahaya itu datang...* ,pikir Cleorah dengan rasa kesal sekaligus rasa takut memenuhi pikirannya.