
"Kapan sebuah perang berakhir? Itu ketika ada suatu pihak yang menang"
-Lelouch vi Britannia
Prajurit dan Anggur merah
"Kita tidak bisa tinggal disini lagi, kita bisa saja mati seperti tuan Tairar lebih baik kita membubarkan pasukan kita dan pulang ke kastil kita masing-masing" ,ucap Hariarr Tura dengan wajah yang terlihat serius, "sedangkan seperti perintah tuan menteri perang kita akan memerintahkan bawahan kita saja untuk memburu bandit."
"Tidak, sudah ada dua bangsawan lain yang terbunuh dikastilnya sendiri" ,ucap Vesius dengan cepat dan tegas kemudian ia menaruh dua lembar gulungan surat keatas meja, "Binun Gerald dan Varas Birral mereka berdua baru saja mati akibat tebasan pisau yang mengarah keperut mereka sama seperti Tairur."
"Dan membubarkan pasukan hanya akan menyusahkan perang kita kedepan" ,ucap Vespasian dengan dingin.
"Perang sudah tak penting dan sudah sangat jelas bahwa Dalmatia akan menerima perjanjian damai dan gencatan senjata" ,ucap tuan Rodrik Betarrus.
"Tidak" ,ucap Vespasian dengan cepat, "Dalmatia takkan menerima perjanjian damai" ,ucapnya dengan tegas.
Vujarr Gerald hanya menyaksikan dari ujung meja entah apa yang ia ingin ucapkan tapi tatapan keras nya kepada Vespasian mungkin punya arti lain.
Satu lagi jenderal veteran perang juga menunggu ditengah-tengah meja yaitu Huarrar Basileus, dia juga hanya diam dari tadi. Jujur saja dua orang ini membuat Vesius sedikit gugup.
Vesius menoleh ke Vespasian dan kemudian menelan ludahnya karena tatapan keras Vespasian tak kalah kuatnya.
"Lebih baik kita tetap tinggal dikota Ballerius dan memperkuat keamanan" ,ucap Vesius berdiri, "jika kita pulang keibukota maka itu sama saja membuat kita sebagai pengecut dan diibukota pun kita tetap masih tak aman."
"Urusan penting paling pertama adalah menemukan siapa dalang dibalik semua pembunuhan ini" ,ucap Huarrar dengan tegas.
"Tidak tuanku, urusan pertama adalah keamanan kita" ,ucap Harriarr menentang Huarrar.
Kemudian Vujarr berdiri dan dengan cepat memotong serta menentang perkataan dua orang yang lebih muda darinya itu.
"Mencari dalang pembunuhan mereka memang penting tapi perang masih berlanjut dan kita butuh rencana untuk menyerang Dalmatia untuk beberapa bulan selanjutnya" ,ucap Vujarr berdiri.
Pada akhirnya semua jenderal berdiri dan menentang opini masing-masing.
"Kita serang kota Gysar" ,ucap Vujarr sambil memukul meja
Kemudian tuan Rodrik menentang Vujarr.
"Dalmatia sedang lemah dan sudah pasti kita bisa mengalahkan-
*Drakk*
Dengan keras pintu terbuka
Ksatria Varis masuk kekamar pertemuan dengan dan dengan cepat ia menunduk secara sopan.
"Maafkan aku tuanku, ada pembawa pesan dari ibukota, semua surat ditujukan untuk kalian semua tuanku" ,ucap Ksatria Varis yang kemudian mengeluarkan banyak gulungan surat dari tasnya.
Semua pandangan bangsawan tertuju pada ksatria Varis.
"Varis berikan kepada semua orang, jangan tegak kaku seperti pohon disitu" ,ucap Vesius memerintahkan Varis.
"Ba-baik tuanku" ,ucap Varis sambil kemudian bergerak dan memberikan surat kepada semua orang.
Saat Vesius mendapat surat ia kemudian duduk dikursi dan diikuti bangsawan lainnya yang kemudian duduk.
Diatas surat masing-masing terdapat stempel pedang dan Burung hantu menandakan perintah dari menteri perang Toran dari keluarga Garius.
Dan semua surat yang diberikan tuan-tuan diruangan tersebut punya isi yang sama.
Yaitu perintah untuk gencatan senjata dan tidak menyerang satupun pasukan Dalmatia sampai perintah diberikan.
Jika melanggar maka orang yang melanggar akan dianggap musuh dari kedua negara.
Tapi tidak ada perintah soal perjanjian damai atau kata yang menyinggung soalnya disurat tersebut.
Perjanjian damai....nampaknya tidak dilaksanakan...apa yang direncanakan orang-orang Dalmatia kali ini?,pikir Vesius dalam hatinya.
_______-_-________
.
.
.
_______-_-________
"Dia keluargaku" ,ucap Charla dengan suara yang lemah dan terlihat sedih.
Dirinya duduk disamping mayat pamannya Tairar yang ditutup kain putih.
"Waktu umurku 5 tahun, ia membelikanku mainan pedang-pedangan yang kemudian karena itu dia dimarahi ibuku" ,ucap Charla.
"Aku turut bersedih buk, kematiannya terlalu berat untuk keluarga Ohara" ,ucap Ksatria Bejand Bettarus.
Charla menoleh ke Bejand dengan tatapan yang terlihat sedikit kesal dan marah ke Bejand.
"Kapan tuanmu dan tuan-tuan lain itu selesai berbicara, kita butuh keputusan kedepan segera dengan cepat" ,ucap Charla dengan terlihat kesal menunggu.
"Maafkan aku buk, permasalahan tuan-tuan itu sangat penting dan kita tidak diperbolehkan mengganggu ataupun kesal degan betapa lamanya pertemuan mereka" ,ucap Bejand dengan tegas.
"Negeri kita sedang dalam kacau dan bangsawan penting kita sedang terbunuh dijalanan saat ini" ,ucap Charla sambil berdiri dengan marah, "kau pikir ada waktu lagi?!"
Kemudian Wale masuk mendobrak masuk kepintu sedangkan kemudian Vesius masuk
"Maafkan aku membuatmu menunggu nona, tapi perintahku sudah diberikan dan kita akan mengembalikan Tairar keGelaria beserta 800 pasukannya dimana dia akan dimakamkan secara layak oleh keluarganya" ,ucap Vesius masuk melangkah kekamar, "sedangkan pencarian pelaku pembunuhan Tairar akan diurus oleh kami dan kau bisa pulang kembali keGelaria demi keamananmu nona."
"Aku takkan kembali keGelaria" ,ucap Charla.
"Ini demi keamananmu nona" ,ucap Wale.
"Keamanan yang perlu diperhatikan adalah keamanan bagi kalian semua, bukan untuk diriku" ,ucap Charla menentang ucapan Wale.
Kemudian Vesius melangkah maju mencoba membujuk Charla.
"Aku tak perlu bodyguard" ,ucap Charla dengan tegas, "aku telah bertahan hidup dipuluhan pertempuran tanpa bodyguard Garius."
Charla menatap Vesius dengan tatapan yang berat bahkan membuat Vesius sedikit gugup.
Tatapan matanya kuat seperti ratu tapi dalam arti berbeda.
Vesius menatap matanya kembali terlihat matanya yang cukup indah dengan warna ungu bercampur merah darah didalamnya.
Kemudian Charla melangkah pergi melewati Wale dan Vesius
Dititik ini Wale hampir menghunus pedangnya.
Charla keluar dari ruangan itu melangkah pergi.
Ketika Charla pergi dari kamar tersebut, keheningan datang dan kemudian Vesius menoleh keWale.
"Keberanian akan membuat dirinya suatu hari terbunuh" ,ucap Vesius.
_______-_-________
Suara roda kereta berbunyi dijalanan yang berlumpur.
Ayah Filda bersiul sambil mencambuk kuda menarik kereta tersebut.
Sedangkan Hanno dibelakang duduk bersama barang-barang yang mau didagangkan Ayah Filda kekota Ballerius.
Hanno hanya duduk diam dan tenang sambil membaca buku sejarah.
Jean menunggangi seekor kuda disamping kereta yang ditunggangi Ayah Filda.
Jean tersenyum melihat Hanno membaca buku sejarah tersebut.
"Kau tertarik dengan sejarah nak?" ,tanya Jean ke Hanno.
"Lumayan" ,ucap Hanno.
"Kalau begitu, coba lihat kedepan" ,ucap Jean.
Dinding kota Ballerius yang lumayan besar dengan beberapa gunung serta bukit menyatu dengannya membuat Hanno sedikit takjub.
"Itulah kota Ballerius nak, ratusan tahun atau bahkan ribuan kata orang-orang kalau kota ini berdiri" ,ucap Jean.
Hanno hanya terdiam dan tenang tapi ia sedikit terkejut dengan insfraktruktur dinding pertahanan kota Ballerius.
"Selama lebih dari 300 tahun, kota ini sudah dikepung dan diserang sebanyak 43 kali. Sepanjang sejarah hanya ada satu pengepungan yang sukses dimana 'Vurass sang palu' menaklukkan kota ini, dimana kota ini dibuat berlutut kepada Victa untuk 110 tahun kedepan" ,cerita Jean sambil mengukir senyum dibibir merahnya.
"Ya..ya....silahkan cerita sejarah sesuka hatimu nona" ,ucap Ayah Filda dengan suara malas.
Jean mewajari ucapan Ayah Filda dengan tersenyum.
"Dasar orang tua membosankan" ,ucap Jean menghina.
Disebelah kota Ballerius terdapat jalan yang cukup luas tapi nampak beberapa bagian jalan tersebut benar-benar rusak parah.
Jalan tersebut terbuat dari batu tapi nampak benar-benar tua dengan lumut menyelimuti sebagian besar jalan tersebut.
Kemudian terlihat antrian panjang pedagang masuk kekota dan prajurit yang memeriksa satu persatu pedagang serta berpatroli disekitar mereka.
Memeriksa kalau ada senjata atau barang-barang mencurigakan milik mereka.
"Ada apa ini?" ,ucap Ayah Filda kebingungan.
Suara pedagang yang mengobrol terdengar.
"Kenapa ini?" ,ucap salah satu pedagang protes.
"Kenapa kami cuma diperiksa dikota ini sedangkan dikota lain kami dibiarkan saja!?"
Terlihat beberapa prajurit menyeret beberapa senjata tajam dan pedang.
"Itu pedang turun temurun dari kakek buyutku! Kembalikan! Aku tidak terima kalau kalian ambilnya!" ,ucap salah satu bapak-bapak berteriak sambil dipegang oleh 3 prajurit.
Beberapa prajurit juga terlihat memukul beberapa orang yang tidak terima untuk menyerahkan barang-barangnya.
"Oi apa ini? Racun!" ,ucap salah satu prajurit mengeluar sebuah botol berisi air berwarna hitam dari sebuah kantong pedagang yang ia periksa.
"Ti-tidak pak, itu bukan racun untuk manusia itu racun untuk berburu pak" ,ucap pedagang tersebut yang terlihat lemah.
"Kau mata-mata ya!?" ,ucap prajurit tersebut sambil memegang pedagang tersebut.
"Ti-tidak! Pak! Itu untuk aku jual dikota pak! Tolong pak! Jangan masukan aku kepenjara! Istriku menungguku nanti dirumah! Dia sedang hamil pak!" ,ucap pedagang tersebut dengan sedih dan lemah.
Terlihat keributan lain juga terdengar bahkan beberapa orang bentrok dengan prajurit.
Tapi prajurit berseragam lengkap dengan armour dan pedang, rakyat biasa tak tandingannya dengan para prajurit.
Prajurit tinggal memukul habis para orang-orang yang tak mau diperiksa atau melawan.
"Kita beruntung cuma membawa pisau dapur" ,ucap Ayah Filda sambil menelan ludah.
Kemudian Jean segera mengendarai kudanya kedepan.
Melewati pedagang dan antrian, ia terus berkuda hingga keantrian paling depan.
Hanno dan Ayah Filda cukup heran dengan kelakuan Jean.
Mereka berdua cukup kebingungan dengan keadaan ini.
Dan terpaksa pasrah menunggu dibelakang antrian serta akan membiarkan prajurit menginterogasi mereka.
Note:Map kota Ballerius