Hannoic War

Hannoic War
Rencana (part 15)



"Kapan sebuah perang berakhir? Itu ketika ada suatu pihak yang menang"


-Lelouch vi Britannia


Rencana


"Adikmu si Charla itu benar-benar sulit diatur Vespasian" ,ucap Vesius sambil duduk dikursi kayu disebuah aula pemerintahan dikota Ballerius, "dia selalu seperti prajurit dan liar seperti biasanya" ,ucapnya.


"Dia berubah Vesius cuma dirimu saja yang tak melihatnya" ,ucap Vespasian dengan dingin


"Aku yakin orang-orang bahkan tak mengenal Charla itu sebagai adikmu, sifat kalian berdua berlawanan" ,ucap Vesius sambil meneguk segelas air


"Ya..berlawanan" ,ucap Vespasian dalam suara yang sedingin dan seberat badai es.


"Ya kepribadian kalian berlawanan tapi mata kalian semuanya sama. Menakutkan,lurus, kuat,keras dan takkan hancur seperti berlian" ,ucap Vesius setelah meminum segelas air putih.


"Mata yang membuatku selalu gugup" ,ucap Vesius dengan nada berat.


Vespasian hanya terdiam sementara ia duduk disamping Vesius sambil memainkan catur diatas peta yang ditaruh diatas meja.


"Menurutmu keluarga dan bangsa mana yang akan memberontak terlebih dahulu?" ,ucap Vespasian.


"Aku tak punya ide, Geralda dibagian barat daya, sisa-sisa Aquantania diutara, kemudian orang Legata diselatan mungkin?" ,ucap Vesius menebak-nebak.


"Orang Legata tidak melawan dalam penaklukkan Victa sekitar 60 tahun yang lalu justru mereka lah yang paling banyak melayani keRepublik Victa" ,ucap Vespasian.


"Orang Geralda mungkin?" ,tebak Vesius.


"Orang Geralda memiliki kemungkinan yang besar tapi mereka sudah tidak memiliki klaim yang kuat untuk memberontak" ,ucap Vespasian sambil menaruh pion catur satu persatu dipeta, "Geralda takkan memberontak tanpa raja yang memimpin mereka dan Regarda hanya selalu dipimpin raja yang punya darah keluarga Vehan, sedangkan orang yang punya darah keluarga Vehan terakhir telah digantung oleh kita",perjelas Vespasian.


"Ini tidak seperti dirimu Vespasian? Kau tidak berpikir bahwa mereka bisa mengklaim raja palsu berdarah keluarga Vehan...." ,ucap Vesius yang kemudian ia mulai menyadari sesuatu.


Vespasian menatap Vesius dengan tatapan dingin meskipun begitu ia memikirkan hal yang sama dengan temannya Vesius.


Kemudian Vesius berdiri dan segera mengambil pedangnya yang ditaruh meja diruangan tersebut.


Muka Vesius terlihat sedikit kesal tapi dalam dirinya terdapat kepanikan yang dalam.


"Mau kemana kau?" ,tanya Vespasian.


"Keibukota memperingati ayahku bahwa pemberontakan baru datang dan segera merekrut pasukan baru diibukota, baru setelah itu aku memerintahkan bawahanku untuk merekrut pasukan baru diadipati milik ayahku diFyrarr" ,perjelas Vesius menoleh kebelakang menatap Vesius.


Kemudian Vesius menatap Vespasian tapi apa yang Vesius lihat adalah tatapan Vespasian yang dingin juga keras seperti es tapi terlihat seperti semangat dan yakin.


Vesius menelan ludah.


"Apa kau punya rencana?" ,tanya Vesius.


"Kau pikir aku tak punya rencana? Aku telah memerintahkan Khasrow untuk ketimur keadipati Gelaria memperingati ayahku tentang pemberontakan, disana keluargaku Ohara akan membuat pasukan baru" ,ucap Vespasian memperjelas keVesius, "dan apa kau pikir ayahmu tuan Toran tak tahu soal adanya rencana pemberontakan ini? Tidak, dia pasti sudah menebaknya dan merekrut pasukan baru diibukota sekarang."


Vesius kemudian terdiam dan berpikir sebentar.


"Nampaknya aku lupa, kalau aku berhadapan dengan Vespasian dari keluarga Ohara" ,ucap Vesius, "jadi apa rencanamu terhadapku? Apakah kau memintaku untuk tinggal disini?"


"Iya, jika kau tetap disini maka kita akan lebih punya kekuatan dibarat, dan ditimur ayahmu serta pamanku tak perlu bantuan mereka sudah sangat kuat" ,ucap Vespasian.


Kemudian Vesius mengingat sesuatu dan kemudian ia mengambil sebuah surat dengan stempel burung hantu diatasnya.


"Rencanamu bagus Vespasian...tapi nampaknya ayahku punya rencana lain.." ,ucap Vesius menyerahkan surat ini ketangan Vespasian.


"Apa ini?" ,tanya Vespasian sembari membuka surat tersebut dan dengan muka dingin ia membacanya.


Vespasian tak pernah tersenyum maupun terlihat bahagia, ia selalu dingin dan mukanya kaku tapi pemikirannya cepat seperti monster yang bahkan Vesius yang cukup sombong akan kepintarannya menghormatinya.


Mereka berdua berteman karena mereka sama-sama pintar tapi Vesius selalu merasa bahwa Vespasian ratusan kali lebih pintar dari dirinya, membuat ia selalu mendengarkan saran Vespasian lebih dari siapapun didunia ini.


"Perintah dari tuan ayahmu untuk pulang keibukota" ,ucap Vespasian sambil menutup surat tersebut kemudian menaruhnya kemeja.


"Ya, apa kau pikir ayahku memang tak tahu kalau pemberontakan telah direncanakan?" ,tanya Vesius keVespasian, "atau dia memang punya rencana?"


Dengan tatapan tajam Vesius menatap Vespasian.


Vespasian kemudian menutup surat tersebut dan melihat kembali keVesius.


"Dia punya rencana" ,ucap Vespasian.


.


.


_______-_-________


.


.


Disebuah lapangan rumput dengan bunga.


Putri lumpuh dan beberapa pahlawan bermain serta tertawa satu sama lain.


Pahlawan bersenang-senang satu sama lain sambil mereka mengobrol.


Vairy dan Cleorah sedang bermain bunga dengan putri lumpuh menebak nama-nama bunga bersama dengan teman masa kecil putri lumpuh bernama Mya.


Kadang nama bunga tersebut sama dengan nama dengan nama bunga didunia pahlawan tapi kadang bunga didunia ini punya nama lain.


Seperti bunga Kamboja yang diberi nama bunga kuburan didunia ini.


Sedangkan Perrin sendirian menyaksikan dari jauh dengan buku ditangannya sambil bersandar dipohon.


"Katanya Mya mau pergi keVicta untuk urusan ya?" ,tanya tuan putri dengan polos.


"Iya tuan putri, tenang saja Mya cuma sebentar kok disana" ,ucap Mya sambil menyentuh tangan putri dengan lembut dan hangat.


"Yaahh...padahal Nana mau main lagi dengan nona Mya..." ,ucap tuan putri dengan kecewa dan sedih.


Kemudian Mya tersenyum setelah itu menyentuh bagian atas kepalanya menepuknya serta mengelus-ngelusnya dengan lembut.


"Tenang saja kok tuan putri...Mya akan pulang.." ,ucap Mya yang kemudian menoleh ke Cyrus dan pahlawan lain yang berada disamping mereka dari tadi.


"Apa kau yakin untuk pergi?" ,ucap Cyrus bertanya ke Mya.


"Iya, ini demi kedamaian Dalmatia" ,ucap Mya dengan yakin.


"Baiklah kalau begitu, aku...tak bisa menghentikanmu.." ,ucap Cyrus dengan nada yang sedikit sedih.


"Ya..tenang saja aku mungkin akan kembali dalam beberapa bulan atau tahun" ,ucap Mya yang kemudian ia melangkah pergi.


Dia sempat menoleh sebentar tapi cuma beberapa detik kemudian ia dikeliling bodyguard yang menuntunnya pergi.


Sedangkan Perrin menatap mereka dari jauh sambil memegang buku ditangannya.


Menyandar ia dipohon dan rambut putihnya yang panjang membentang hingga kepinggangnya.


Terlihat ia memiliki mata panda diwajahnya menandakan betapa buruknya waktu tidurnya.


"Mereka memberi kita 1 tawanan untuk melancarkan perjanjian damai dan kita memberi 3 tawanan sebagai gantinya" ,ucap Perrin, "heh, tawaran yang sangat..sangat adil" ,senyum Perrin.


"Wah kau tersenyum" ,ucap Dryer dari atas pohon muncul tiba-tiba.


Senyum Perrin memudar berganti dengan wajah yang sangat dingin.


"Apa yang kau inginkan?" ,tanya Perrin.


"Tak ada, aku hanya ingin berbicara denganmu" ,ucap Dryer.


"Hah...." ,hela nafas Perrin merasa bosan, "kenapa semua orang ingin berbicara denganku belakangan ini?" ,ucapnya.


"Mungkin karena kau jarang berbicara dengan orang-orang mungkin?" ,ucap Dryer sambil melompat turun kepohon.


"Tebakanmu membosankan sekali sama seperti yang lain" ,ucap Perrin yang kemudian ia berjalan jauh.


"Kau sombong sekali ya? Apa tak ada orang yang pernah bilang hal itu kedirimu?" ,ucap Dryer sambil menyandarkan tangannya kepohon.


"Sudah ratusan kali orang mengatakan hal itu kepadaku, mereka membicarakan hal itu dibelakangku selama bertahun-tahun dan aku sudah bosan mendengarnya" ,ucap Perrin berjalan menjauh dari Dryer.


"Jika semuanya membosankan untuk dirimu maka bunuh diri saja.." ,ucap Dryer sambil mengambil ceri dari kantung pakaiannya dan memakannya, "apa yang membuatmu ingin hidup jika semuanya membosankan untukmu?"


Perrin hanya berbalik dan menoleh kedirinya dengan dingin.


Kemudian ia melangkah kearah Dryer.


Langkahnya gelap dan kelam membuat Dryer gugup.


Dryer seperti akan dimangsa oleh mahluk paling gelap dialam semesta dan merasakan bahwa ia tak bisa lari dari hal tersebut.


Tatapan matanya lebih gelap dan kelam dari manapun bagian ditubuhnya.


"Haruskah aku memberitahu pada mahluk yang tak seimbang denganku?" ,ucap Perrin dalam nada berat kepada Dryer.


.


.


_______-_-_______


.


.


"Hm....begitukah..." ,ucap seorang bapak tua tapi dengan tangan yang cukup berotot.


sedangkan ia memiliki rambut hitam yang cukup panjang tapi diikat dibelakang kepalanya.


Janggutnya hitamnya tipis tumbuh menyebar dibagian bawah wajahnya.


Ialah Haiar Ohara dan merupakan salah satu kandidat terkuat sebagai kepala keluarga Ohara.


Meskipun begitu ia memang sudah menjadi orang terkuat dikeluarga Ohara sejak lama dan dialah yang paling banyak mengendalikan saudaranya Tairar Ohara.


"Baharr" ,panggil Haiar kepada ksatria terpecayanya, "siapkan pasukan khusus kita dan rekrut beberapa petani kemudian persenjatai mereka" ,ucapnya.


Haiar kemudian berjalan mengambil lembaran kertas yang cukup banyak dari kotaknya.


Kemudian menyerahkan salah satu surat dengan lambang pohon kapas bertangkai enam dengan dua pedang didepannya kepada ksatria Baharr.



Lambang keluarga Ohara


"Sedangkan aku akan suruh ksatria lain untuk mengantarkan surat kepada bangsawan keluarga bawahan Ohara lain untuk merekrut prajurit" ,ucap Haiar sambil berjalan kembali kemejanya dan mencatat beberapa surat urusan.


"Baik tuan" ,ucap Baharr menunduk secara sopan kepada Haiar kemudian ia berjalan keluar dari kamar tersebut.


Terlihat Haiar memikirkan sesuatu, ia bukan veteran perang dan hanya sedikit perang yang ia ikut serta, tapi dia tahu bagaimana perang itu berjalan.


Dia merupakan ahli dalam politik menyebabkan keluarga Ohara menjadi salah satu keluarga paling kuat diVicta.


"Pemberontakan lagi kah....aku penasaran apa rencana dari keluarga Garius" ,ucap Haiar duduk dimeja sambil memegang pena ditangannya mengusap-usap dagunya.


_______-_-________


*Hoammm* menguap Ayah Filda mengantuk sepanjang hari menunggu antrian selesai.


"Berapa lama lagi antrian ini akan selesai?" ,tanya Ayah Filda karena ia bosan menunggu.


Sedangkan Hanno sedang membaca sebuah buku sejarah kesukaannya tapi saat sadar bahwa ia sudah membaca lembar terakhir buku tersebut.


Ia kemudian menutup buku tersebut setelah membacanya hingga akhir dan menaruh buku tersebut didekat pahanya.


Hanno kemudian tegak melihat berapa lama lagi antrian berakhir.


"Oi!" ,ucap Jean tiba-tiba muncul disamping mereka mengagetkan Ayah Filda dan Hanno.


Ayah Filda dan Hanno benar terkejut dan wajah terkejut mereka menoleh ke Jean.


Mereka bahkan tak mendengar suara kuda Jean.


"Jadi? Apa yang kau temukan nona sialan?" ,ucap Ayah Filda dengan kasar.


"Hanya suatu kabar kalau kepala keluarga Ohara mati secara misterius dikota ini baru saja tadi pagi" ,ucap Jean sambil turun dari kudanya.


Kemudian mendekat kekereta Ayah Filda dan naik diatasnya.


Kemudian ia berdiri disamping Hanno.


"Pantas saja ada prajurit yang memeriksa pedagang seperti ini, ada bangsawan keluarga besar yang ternyata mengunjungi kota ini.." ,ucap Ayah Filda mewajari antrian ini.


"Oi nak" ,panggil Jean keHanno, "nih jika kau mau menghilangkan kebosanan kau sementara" ,ucap Jean sambil menyerahkan sebuah sebuah buku tentang legenda dan pengetahuan keHanno.


"Mm?" ,ucap Hanno memperhatikan pemberian Jean kepada dirinya, "terima kasih" ,ucapnya dengan dingin.


"Aduh, kamu imut ya kalau berterima kasih" ,ucap Jean yang sambil menyentuh pipi Hanno menjahilinya, "hmhmhmhe.." ,tawa Jean dengan lembut.