Hannoic War

Hannoic War
Serangga (Part 15)



"Semakin banyak hukum..semakin berkurang keadilan"


-Marcus Tullius Cicero


Serangga


Duduk Vesius disebuah kursi kayu, didekat sebuah tungku api besi berwarna putih diruangan ini.


Relia dan Mya juga duduk dikursi kayu didekat tungku kayu putih tersebut.


Relia dan Mya menutup matanya dan merapatkan 2 tangan mereka didepan wajah mereka.


Mereka sedang berdoa…


Vesius sendiri tak melakukan gerakan khusus, Vesius hanya duduk dan berdoa dengan bibirnya.


Dewa orang Victa tak memerlukan gerakan khusus untuk berdoa, gerakan khusus dilakukan hanya ketika memberi dewa persembahan.


Didekat tungku api itu lagi, ada seorang pendeta wanita Dewa Putih yang Mya bawa dari Dalmatia.


Suara berdoa terdengar dari pendeta wanita tersebut dengan suaranya yang lembut.


Untuk sebentar Vesius hampir mengira pendeta tersebut bernyanyi.


Dewa orang Victa tak memiliki cara berdoa seperti ini, tak ada yang merdu dari nyanyian pendeta Victa.


Sedangkan Dewa Putih sendiri berbeda, suara berdoa mereka terdengar lembut dan indah dalam caranya sendiri.


Pendeta tersebut terus menyanyi dan kemudian mengambil sebuah jeruk…


Jeruk tersebut kemudian dipotong setelah itu airnya dicipratkan ke api.


Api terdengar mendesis ketika air jeruk menyentuhnya….


"Dewa putih dari yang paling putih dan suci berkahkan kami kesuburan dan keindahan untuk wanita ini" ,ucap Pendeta wanita tersebut dengan bahasa Dalmatia lama.


Kemudian Relia mengulurkan tangannya kedepan.


Tangan Relia kemudian pendeta tersebut basuh dengan air jeruk.


Dan untuk waktu lama tangan Relia kemudian ditaruh diatas api.


"Sudah nona" ,ucap pendeta tersebut dengan senyuman.


Kemudian pendeta tersebut mundur dan Relia menarik kedua tangannya dari api.


"Kau tak apa Relia?" ,ucap Mya dengan nada khawatir seorang kakak.


"Aku tak apa kok kakak, api tidak akan menyakitiku, aku kan sudah menjadi anak baik selama tahun ini" ,ucap Relia dengan nada positif.


Pendeta kemudian menuang air dari gelas emas ke tungku api tersebut.


Api tersebut kemudian kembali mendesis tapi perlahan mengecil kemudian mati..


"A-apakah baik kalau Tuan menghadiri upacara ulang tahun orang yang berbeda menyembah dewa, apakah itu tak apa?" ,ucap Relia dengan gugup.


"Tak apa, Orang Victa tak begitu marah dengan orang yang menyembah dewa lain. Kami juga punya dewa kesuburan dan kewanitaan yang sama dengan dewamu" ,ucap Vesius.


"Siapa?" ,bertanya Relia dengan penasaran.


"Perawan putih setengah dewa Ascaleus" ,ucap Vesius sambil mengambil segelas anggur dimeja dibelakangnya.


Dingin gelas besinya bisa dirasakan dikulit telapak tangan Vesius.


*Dewa baru..* ,pikir Vesius sambil menyeruput air anggur digelasnya.


"Relia? Segelas anggur untuk ulang tahunmu" ,ucap Mya sambil memberi Relia segelas anggur.


"A-ah" ,ucap Relia dengan gugup sambil mengambil segelas anggur itu.


"Pelayan, ambilkan kue berry nya kesini" ,ucap Mya memerintahkan pelayan yang berdiri disudut ruangan.


Pelayan itu kemudian bergerak mengambil beberapa makanan disudut ruangan.


"Oh iya, sudah dibersihkan buah Mypa nya?" ,ucap Relia sambil memandang kearah pelayan.


"Aku bisa belikan buah Haranid dengan pelayanku secara cepat, kalau kalian mau" ,ucap Vesius.


Mya terlihat memasang wajah yang sedikit senang mendengarnya, wajahnya yang anggun dan kuat kembali berubah menjadi wajah anak remaja.


"Iya-iya!" ,ucap Mya dengan kencang secara spontan.


"Tidak perlu! Tidak perlu! Kakak sudah susah payah keluar dari kastil untuk mencarinya!" ,ucap Relia.


"Tidak perlu? Padahal ini ulang tahunmu loh Relia.." ,ucap Mya dengan setengah nada peduli seorang kakak dan setengah nada rasa bersalah.


"Tidak perlu! Buah Mypa nya juga enak kok!" ,ucap Relia.


*Nampaknya harus kubilang..* ,pikir Vesius.


"Tidak jangan makan, itu bahan resep racun" ,ucap Vesius.


"E-eh?" ,ucap Relia dengan heran.


"Iya, itu racun jika kau makan sembarangan, rasanya pun pahit….apa namanya racunnya yang memakai buah itu ya? Ahh…'Tangisan Orang Tyronia' " ,ucap Vesius sambil mengambil sebuah buah Mypa dan melihatnya.


Buah Mypa merupakan buah berwarna hijau dan bulat aneh bagaikan persik, tapi bedanya adalah tidak manis maupun lembut melainkan pahit dan keras.


*Membawa kenangan perang Tyronia lagi…* ,pikir Vesius sambil mengembalikan buah Mypa itu kedalam keranjang.


Vesius ingat bagaimana 80 pasukannya terbunuh karena memakan buah Mypa sembarangan setelah mengambilnya waktu menjarah sebuah desa.


Vesius bahkan ikut memakannya tapi beruntung Vesius hanya merasakan sakit perut selama beberapa bulan.


Meskipun sakit perut itu benar-benar parah sakitnya.


"Jadi?" ,ucap Mya sambil melihat kearah pelayan dengan tatapan kuat.


Mya terlihat sangat paranoid kepada pelayan yang membersihkan Buah Mypa dan tidak memberitahunya.


*Tidak, pelayan tidak bersalah, mereka tidak berencana meracunimu, itu hanya karena aku lupa bilangnya* ,pikir Vesius sambil tersenyum pahit.


"Pelayan? Kau tahu kalau buah ini beracun?" ,ucap Vesius.


"Ti-tidak tuanku! Aku tidak! Tidak tahu!" ,ucap pelayan itu dengan ketakutan.


"Lihat? Bahkan tak ada nada bohong dalam ucapannya" ,ucap Vesius sambil meminum anggurnya.


"Bagaimana tuan mengetahui dia berbohong?" ,ucap Mya sambil mengerutkan alisnya.


*Dia khawatir aku ikut berkonspirasi meracuni mereka, itu wajar, sebuah rasa khawatir seorang kakak* ,pikir Vesius sambil merasakan air anggur yang dingin mengalir ditenggorokannya.


"Tunggu sebentar nona" ,ucap Vesius sambil melihat kearah pintu ruangan ini.


Dari tadi Vesius merasakan ada yang melangkah keruangan ini.


*Tuk*


Pintu itu kemudian dibuka dan terlihat seorang prajurit berdiri didepan pintu itu.


Relia dan Mya terlihat menatap serius Vesius dan prajurit ini.


"Ada apa?" ,ucap Vesius.


Prajurit itu kemudian melangkah kearah Vesius dan kemudian menunduk.


Mendekat prajurit itu kearah Vesius.


*Dia mau berbisik* ,pikir Vesius menyadari sesuatu.


Vesius kemudian mengayunkan tangannya dan mendekatkan telinganya kewajah prajurit itu.


Prajurit itu langsung merespon.


Didengar ucapan prajurit itu dengan jelas ditelinga Vesius….


Suara berat prajurit itu bisa meringing dikepala Vesius..


Wajah Vesius kemudian berubah menjadi gelap..


Dan bayangan diruangan ini menutupi matanya…


Cemberut bisa terlihat diwajahnya tapi tidak dengan matanya…..


Mya bisa melihat mata Vesius menjadi lebih tajam dan dingin dari kapanpun Mya pernah melihatnya.


Vesius kemudian berdiri perlahan dari kursinya dan berjalan melangkah kearah pintu..


Vesius tak mengucapkan apa-apa dan hanya terdiam.


"Boleh kutanya tuan Vesius?" ,ucap Mya dengan nada serius diwajahnya.


"Ada apa?" ,ucap Vesius dengan suara sedingin patung raja Asliaus iii.


"Bagaimana tuan bisa mengetahui kalau dia berbohong?" ,ucap Mya sambil menyilangkan kakinya.


Vesius kemudian membuka pintu ruangan ini…


"Aku tumbuh diibukota" ,ucap Vesius dengan mata hijaunya yang bersinar redup menakutkan.


…..sambil melangkah keluar dari ruangan ini.


Dan langkah kakinya lebih menakutkan...dari matanya…


.


.


.


.


.


.


.


.


_____-_-____


.


.


.


.


.


.


.


*Oeekkkk*


Terus...muntahnya terus keluar dan jatuh kedalam keranjang kayu..


wajahnya berubah menjadi pucat..


Keringat keluar dari kulitnya..


Sedangkan tubuhnya perlahan menjadi lebih lemas…


*Oeekkk*


Keluar sekali lagi muntahnya….


Kemudian Hanno memandang keranjang kayu berisi isi muntahnya dalam waktu lama…


Hanno terdiam...dan muntahnya kemudian berhenti...


*Muntahnya berhenti..* ,pikir Charla menyadari sesuatu.


"Kau sudah baik-baik saja?" ,ucap Charla sambil mendekat Hanno.


"Ambilkan aku kain" ,ucap Hanno dengan suara yang cukup tinggi.


*Dia punya nada perintah disuaranya…* ,pikir Charla.


"Hahh.." ,ucap Charla menghela nafas dan menuruti permintaan Hanno.


Charla kemudian melangkah kearah meja dan mengambil kain diatasnya.


Setelah itu Charla memberikan kainnya ketangan Hanno.


Hanno kemudian membalikkan tubuhnya dari Charla, tak mau memperlihat bagaimana dirinya mengelap mulutnya.


"Kau tak perlu sembunyikan betapa menjijikanmu didepanku, aku telah melihat ratusan pria yang lebih menjijikan daripada seorang anak muda yang mengusap sisa muntah dimulutnya" ,ucap Charla sambil melangkah kearah Hanno.


Charla kemudian memegang bahu Hanno yang tak berlemak.


Bahu keras Hanno bisa dirasakan ditangan Charla.


Charla setelah itu menarik tubuh Hanno agar menghadap kedirinya.


"Jangan, kumohon" ,ucap Hanno sambil menahan untuk berbalik dari Charla.


"Aku gurumu" ,ucap Charla menarik bahu Hanno lebih keras.


"Ambilkan aku saja cermin" ,ucap Hanno dengan keras menahannya.


"Kau punya mataku" ,ucap Charla sambil menarik lebih kuat Hanno.


Hanno berbalik...


Terlihat wajah Hanno yang terlihat seperti anak kecil belepotan.


Charla terkejut...benar-benar terkejut...siapapun yang mengenal Hanno dan melihat ini...akan Charla yakin terkejut sama sepertinya..


Hanno selalu kuat,pendiam,stoic,dan memiliki ekspresi yang tak berubah setiap saat..


Bagi Charla wajah Hanno selalu bagaikan seperti lukisan...tak bergerak…..


..tapi kali ini..


*Sisi lemah Hanno..semua manusia punya sisi lemahnya tersendiri...dan pria akan terbuka besar sisi lemahnya ketika dihadapan wanita yang ia cintai..* ,pikir Charla.


Tapi sisi lemah Hanno terbuka didepan wanita bukan seperti yang ada di kata-kata itu...


Charla kemudian mengambil kain ditangan Hanno..


Wajah Hanno dan Charla lumayan dekat saat ini…


Charla kemudian mengelap sisa kotoran dimuka Hanno.


"Jangan pikir pandanganku menjadi lebih buruk tentangmu karena melihat sisi menjijikanmu" ,ucap Charla sambil melanjutkan mengelap pipi Hanno.


Muka Hanno terlihat bengong dan terkejut memandang wajah Charla….


Bibir lembut Hanno bergerak seiring Charla mengusap wajah Hanno..


Tangan Charla sendiri sedang memegang punggung Hanno..


"Aku bukan wanita yang ingin terus dilindungi pria kuat Hanno, aku gurumu" ,ucap Charla sambil memegang pipi Hanno.


Charla kemudian perlahan berhenti melepas tangannya dari pipi Hanno..


Selanjutnya perlahan tangan Charla menjauh dari punggung Hanno..


Perlahan Charla berdiri berjalan mundur menjauh dari Hanno...dan membiarkan Hanno menatapnya dengan bengong selama Charla menjauh darinya secara perlahan....


"Tak usah ceritakan darimana asalmu Hanno...atau trauma karena apa yang membuatmu muntah….karena beberapa luka tak bisa sembuh dan akan berdarah lagi hanya dengan beberapa kata-kata…" ,ucap Charla dengan kuat.


Berdiri Charla didepan Hanno dan menatap Hanno dengan tatapan kuatnya.


"Aku hanya mengingatkanmu ini..kau muridku" ,ucap Charla dengan tatapan seakan-akan memeluk Hanno sekaligus melepas Hanno untuk terbang keangkasa..


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


Masuk Vella kedalam tenda kakaknya...bau parfum yang wangi tercium oleh dirinya…


"Tuan Handam aku percayakan tugas ini padamu" ,ucap Hasteinn dengan suara rajanya.


Mendengar suaranya saja membuat Vella sedikit sedih, Vella tahu kakaknya pasti menanggung jawab yang besar diumurnya yang masih muda..


Dan Vella tak bisa membantu sedikitpun soal itu..


"Tugas ini mungkin akan terlalu berbahaya, mengingat orang yang kulawan adalah Toran Garius..dia pasti punya rencana dibalik kantongnya.." ,ucap Tuan Bybur dengan suara yang lebih sopan.


"Hahahhaha! Kau ketakutan Bybur? Burung hantu akan diterjang oleh topan sebentar lagi temanku!" ,ucap Tuan Handam dengan suara haus darahnya.


"Aku bodoh jika tidak ketakutan dengan Toran Garius, dia membersihkan dan menghancurkan Dwarf diutara yang sudah menjadi masalah 200 tahun sendirian dan orang Tyronia yang sudah menjarah Strantos lebih dari 1.000 tahun juga ia kalahkan dengan koalisi bersama beberapa kelompok prajurit bayaran" ,ucap Tuan Bybur.


Keduanya tiba-tiba menjadi tangan kanan Hasteinn meskipun mereka berdua lumayan tak akrab.


Terutama Tuan Handam setelah dipukul oleh Kakaknya Vella dia tiba-tiba dengan akrab dengan Hasteinn, dan Hasteinn memercayakannya sebagai bodyguard dan tugas mengamankan kamp.


Tuan Handam meskipun memiliki temperamen kuat dan emosi yang tak stabil...dia memiliki pengalaman yang banyak dipertempuran...dan diperkelahian kalau tak mabuk dia bisa menjadi seberbahaya 3 banteng marah.


Juga Tuan Handam merupakan orang yang setia dan loyal, kadang bisa dipercaya dan juga mudah jadi jujur.


Tuan Bybur sendiri lebih tenang,sopan,dan loyal, mementingkan moral terlebih dahulu dibanding apapun, pengalamannya diPerang Tyronia dan pengetahuannya soal bangsawan Victa membuatnya menjadi pion paling bagus buat Hasteinn.


"Tuan Handam dari Keluarga Ramalax, Tuan Bybur dari Keluarga Tallibar dan Yang Mulia Kakakku" ,ucap Vella sambil membungkuk sopan dihadapan mereka bertiga.


Ucapan 'yang mulia' dimulut Vella terasa seperti rantai. Dia lebih suka memanggil Hasteinn dengan 'kakak' secara langsung, baru saja beberapa minggu dia sudah rindu dimana mereka bukan keluarga kerajaan.


Bermain bersama dikastil, kadang kakaknya membacakannya beberapa buku, atau kadang Vella yang membacakan buku.


Dan bersama kakak Glent...meskipun Glent kadang datang dengan lelucon dewasa tapi Vella menyukai hal itu, Vella tak suka dikurung dengan umurnya.


"Tuan Putri" ,ucap Tuan Bybur dengan nada kesopanannya.


"Ada apa Vella?" ,bertanya Hasteinn dengan wajah rajanya.


*Aku ingin memelukmu dan bicara denganmu tanpa wajah raja, tanpa darah emas menjadi tembok bagi kita berdua* ,pikir Vella.


Vella menahan mengatakan hal itu, dia akan kuat...dia akan jadi kuat dan takkan menyusahkan kakaknya..


"Aku ingin berbicara dengan Yang Mulia Kakakku sendirian" ,ucap Vella dengan nada yang terdengar sekarang seperti tuan putri.


"Mari kita keluar, Bybur" ,ucap Tuan Handam dengan cepat sambil membawa gelas bir ditangannya.


Tak lupa Tuan Handam juga membungkuk ringan kepada Hasteinn tapi tak ada ucapan 'yang mulia' keluar dari mulutnya.


Hasteinn hanya bisa tersenyum pahit karena terbiasa dengan harga diri Tuan Handam.


Tuan Handam hanya terdiam memandang wajah Vella kemudian keluar dari tenda.


Tuan Bybur kemudian berdiri secara perlahan.


"Yang mulia, ijinkan aku" ,ucap Tuan Bybur sambil membungkuk dan berjalan keluar dari tenda.


Beberapa bodyguard juga keluar dari tenda Hasteinn.


Vella kemudian berjalan perlahan kearah Hasteinn.


*..tap*


Semakin dekat Vella dengan Hasteinn.


*tap*tap*tap*


Terlihat Hasteinn membuka tangannya lebih lebar.


Dan kemudian Vella memeluk kakaknya.


Terasa tubuh kuat Hasteinn ditubuh Vella…tubuhnya hangat dan sekaligus dingin.


Terlihat tubuh Hasteinn terasa lebih berat ditubuh Vella, Hasteinn yang terasa kelelahan memasrahkan tubuhnya ditubuh Vella.


"Kakak...berat" ,ucap Vella sambil tersenyum hangat.


Meskipun berat tapi Vella menyukainya...daripada dirinya tadi memandang wajahnya dengan tatapan dingin dan keras yang sama dengan ayahnya.


"Sebentar saja...sebentar lagi seperti ini..aku kelelahan Vella.." ,ucap Hasteinn sambil memeluk Vella lebih erat.


*Aku juga mau bilang seperti itu kak..* ,pikir Vella.


Vella juga kelelahan...Vella sempat berbicara dengan beberapa bangsawan juga..dan berbicara dengan mereka dengan bibir kaku..itu saja membuatnya kelelahan…


Bagaimana dengan kakaknya? Ratusan kertas ditanda tangani, ratusan bangsawan berkelahi,protes, ratusan menginginkan sesuatu dari Hasteinn...dan ada perang yang ia harus menangkan..


"Kenapa kau kesini Vella? Aku sudah minta kau untuk kekastil 'Dewa Merah'...kota Hellemus..kastil Ral..kau tidak bisa terus dikamp pasukan, akan ada pertempuran yang datang...kau akan dalam bahaya" ,ucap Kakak Vella dengan suara hangatnya sambil memeluknya tambah erat.


Dada Hasteinn yang keras bisa dirasakan didada Vella.


"Aku ingin disampingmu kak...aku tak bisa duduk tenang disebuah kastil sambil menunggu kabar darimu dipertempuran…dan sedang menyanyi diriku dikastil...aku mendengar kabar tentang kematianmu…" ,ucap Vella yang terdengar hampir menangis diakhir ucapannya sambil wajahnya makin tenggelam dibahu Hasteinn.


"Aku takkan mati diperang ini Vella..aku janji itu.." ,ucap Hasteinn dengan suara kakaknya.


"Janji dengan jaminan tipis kak...semuanya bisa mati tak peduli siapapun mereka atau apapun yang mereka sembah….kakak ingat bagaimana ibu dan ayah mati? Apakah kakak bisa menebak bagaimana mereka mati?" ,ucap Vella.


"Aku takkan melupakan kematian ayah dan ibu Vella" ,ucap Hasteinn dengan suara setajam pedang.


*Tidak...kembali...kembali dengan suara hangat seperti tadi..* ,batin Vella.


Kemudian Hasteinn secara perlahan melepaskan tangannya dari punggung Vella…


*Tidak...jangan lepaskan pelukan hangatmu..* ,batin Vella.


Vella juga terpaksa melepaskan pelukan kakaknya…tubuh kakaknya sudah terlalu tinggi bagi Vella ketika kakaknya melepaskan pelukannya.


"Aku takkan lupakan bagaimana ayah mati, Vella" ,ucap Hasteinn dengan tatapan sekuat petir.


Tatapan haus balas dendam...


"Mereka gantung dia dengan bendera keluarga kita sendiri…" ,ucap Hasteinn sambil merapatkan giginya dengan kuat hingga suaranya terdengar oleh Vella, "Jahae Mahaldd...bodyguardnya yang sialan itu merebut kenikmatanku untuk membunuhnya.."


Hasteinn kemudian mengambil sebuah pion diatas peta sambil terus merapatkan giginya.


*Kakak...tidak seperti ini..kau tidak seperti ini..* ,batin Vella.


"Tapi kita masih punya keluarga Garius...aku beritahu dirimu Vella..Garius dibalik semua ini...aku sudah mendengarnya dari mata-mataku kalau Garius yang merencanakan penyerangan kerumah kita...kemudian kematian ibu bukan karena bangsawan kecil..tapi Garius..Garius juga yang merencanakannya.." ,ucap Hasteinn dengan gesekan giginya yang kuat terdengar.


*Garius? Garius...ini semuanya masuk akal..Garius….* ,pikir Vella sambil hampir ikut tenggelam dalam dendam..


Tapi malah Vella menggelengkan kepalanya…


*Tidak, aku harus menyeret kakak dari hal itu...bukan ikut tenggelam didalamnya..aku takkan..* ,ucap Vella.


"Tapi tujuan kita adalah memenangkan perang ini….kehausan darah bisa saja melencengkan kita dari tujuan itu kak" ,ucap Vella dengan suara selembut yang ia bisa.


"Justru itu yang mendukungku terus untuk memenangkan perang ini Vella.." ,ucap Hasteinn yang kemudian mematahkan pion itu.


"Kakak..tenang.." ,ucap Vella dengan suara yang lebih lembut sambil memegang paha Hasteinn.


Tatapan Vella juga ia jadikan hangat sebisa mungkin.


Kemudian Vella berlutut dan menyandarkan kepalanya dipaha Hasteinn..


"Pertama kita amankan kemenangan kita...kemudian...kita rencanakan bagaimana kita bunuh mereka semua tanpa merusak kesempatan kita memenangkan perang ini.." ,ucap Vella dengan senyuman sambil menyandarkan kepalanya dipaha kakaknya.


Hasteinn hanya bisa terdiam.


Tatapannya masih sekuat petir...


"Aku tak punya waktu untuk ini Vella.." ,ucap Hasteinn sambil mengangkat Vella dan menyingkirkannya dengan lembut dari pahanya.


Tapi tetap..kakaknya sendiri menyingkirkannya..


*Tidak...kumohon jangan semakin jauh..jangan jauh dariku kak..* ,pikir Vella.


"Kak?" ,ucap Vella.


"Ada sesuatu yang kuperlu lakukan malam ini.." ,ucap Hasteinn sambil melihat petanya.


Terlihat tatapan Hasteinn ada gambaran yang sesungguhnya dari kata setajam pedang,sekuat petir,dan secepat angin.


Tatapan Hasteinn menoleh kearah satu persatu pion sangat cepat hingga membuat Vella tak bisa mengganggunya.


Vella terlihat ingin menggapai kakaknya dengan tangannya…


Tapi kemudian Hasteinn pergi berjalan tak memperhatikan gapaian Vella.


"Kak…" ,ucap Vella dengan suara yang kecil hingga Vella berpikir kalau Hasteinn tak mendengarnya.


"Ada apa?" ,ucap Hasteinn.


Tapi Hasteinn malah mendengarnya…


*Dia masih kakakku..dia masih belum jauh...dia akan kembali..dia akan kembali* ,pikir Vella.


"Bisa kakak beritahu apa yang akan kakak lakukan satu kali ini saja?" ,ucap Vella menahan tangisan diwajahnya.


"Aku akan memenangkan perang ini Vella" ,ucap Hasteinn sambil berjalan keluar dari tendanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Berjalan Casca dan Regio diperpustakaan yang menjadi gelap karena malam, hanya lentera lilin ditangan kanan Regio yang menerangi ruangan ini demi mereka.


Ratusan rak buku terbentang dihadapan mereka, ratusan catatan dari orang yang berasal dari masa lalu terbentang dihadapan mereka…


"Bagaimana kabar tuan putri,Casca?" ,ucap Regio sambil mengotak-atik rak buku.


"Baik-baik saja temanku" ,ucap Casca dengan suara licinnya, "pahlawan punya banyak kesibukan jadi tuan putri mulai banyak menghabiskan waktunya dengan nona bangsawan lain"


"Nona bangsawan lain? Teman-teman Nona Harlaw maksudmu?" ,ucap Regio sambil melihat salah satu buku dan menaruhnya kembali.


"Setengah iya dan setengah lagi tidak" ,ucap Casca sambil tersenyum.


"Setengah lagi tidak? Apakah Tuan Perrin menaruh mata-matanya diantara tuan putri?" ,ucap Regio sambil membalikkan kepalanya kearah Casca.


"Benar temanku.." ,ucap Casca dengan senyuman yang lebih lebar.


"Wanita itu...dia mulai mengontrol kerajaan ini..dia mulai menaruh tangannya disekitar Tuan Putri Casca, kita harus menghentikannya" ,ucap Regio dengan membalikkan kepalanya kearah rak buku.


"Inilah kita kesini bukan? Buku tentang catatan pahlawan dan masa lalu tentang kekalahan Raja Iblis...sebentar lagi kita akan tahu.." ,ucap Casca.


Satu persatu buku dibuka dan tak ada yang Regio ingat merupakan buku itu.


Buku itu tebal? Tidak tipis? Cukup tebal? Atau bahkan bukan berbentuk kotak...Regio tak mengingatnya..


Sudah puluhan tahun sejak Regio datang ke istana Balradius setelah belajar dipulau suci Cyronia.


Cyronia...pusat pengetahuan dan literatur Strantos….tempat itu punya ratusan buku dan ratusan alat penelitian..juga ratusan orang bijak..


Tempat itu suci karena tempat itu merupakan pahlawan-pahlawan pertama dahulu beristirahat..


Ketika pergi dari Cyronia setelah bertahun-tahun..semua rak buku yang ada didunia ini menjadi sangat kecil.


"Aku mengingatnya...rasanya disini..aku mengingat perkataan penjaga perpustakaan dahulu..tentang menjaga buku itu dengan baik…." ,ucap Regio sambil menyelipkan tangannya diantara rak buku.


Dan bisa dirasakan sampul buku tersebut..memang bukan berbentuk kotak….tapi bulat seperti telur….


Aneh memang, tapi penjaga perpustakaan tersebut mengatakan itu 'buku'...


Sampul nya pun bukan kulit atau kertas keras melainkan besi baja mengkilat.


Ketika diambil Regio bisa melihatnya setelah bertahun-tahun……


Regio kemudian berbalik memandang kearah Casca.


Bisa dilihat buku tersebut memiliki corak yang asing dan aneh disampulnya..


"Buku macam apa itu?" ,ucap Casca dengan wajah yang heran.


"Buku yang katanya tertua diantara tertua...kau ingat kalau kata 'siAbu-abu'? Kalau dunia ini dahulu punya 'kehidupan besi' ?" ,ucap Regio.


"Hm, kakek tua itu, aku masih mengingat semua ceritanya saat muda" ,ucap Casca dengan senyuman, "apakah bisa dibuka bukunya?"


"Tak bisa, buku ini memiliki kekuatan sihir didalamnya….kita harus mengucapkan sandinya..sebuah sandi…dalam bahasa Anglo lama.." ,ucap Regio sambil mengetuk-ngetuk buku itu.


"Apa sandinya?" ,ucap Casca.


"Tunggu sebentar" ,ucap Regio sambil menatap buku tersebut dalam waktu lama.


Regio ingat bagaimana wajah tua senyuman senang penjaga perpustakaan tersebut karena puas dengan hidupnya yang mau sudah berakhir.


Regio dan Casca ingat bagaimana besarnya Istana Balradius ketika mereka menyelesaikan pengajaran mereka dari Pulau Suci Cyronia.


Dan bagaimana lemahnya kekuatan putri saat itu, beruntung Dalmatia diselamatkan dengan keberadaan Perdana Menteri siCeryse yang orang juluki 'Si Ksatria Putih'.


Tapi dalam 4 tahun Regio harus berdiri lebih kuat disamping Tuan Putri, ketika perdana menteri Ceryse meninggal dipertempuran.


Ratusan bangsawan mencari kesempatan ditiap waktu untuk memeras keuntungan dari kelemahan Tuan Putri.


'ketika kau mau membuka buku ini? Kau tahu apa kata sandinya?'


'sandinya?'


'Oookanaras Tagrasa'


Memori pembicaraan dengan penjaga perpustakaan itu meringing dikepalanya...


"Oookanaras tagrasa" ,ucap Regio sesuai nadanya dengan penjaga perpustakaan tersebut.


Buku berbentuk bulat tersebut terbuka…


Ketika terbuka buku tersebut menjadi 2 belah bagaikan telur rebus yang dipotong.


Terlihat warna kertas buku tersebut berwarna hitam sedangkan hurufnya lebih hitam lagi..


" 'Oookanaras Tagrasa' ? Itu bahasa Anglo lama…" ,ucap Casca dengan suara hampa.


Mata Casca terlihat menjadi lebih kosong dan tak memiliki emosi.


"Kau tahu artinya Casca?" ,ucap Regio sambil membuka lembaran buku tersebut satu persatu.


" 'Semuanya akan mati tak peduli siapapun mereka ataupun apapun yang mereka sembah..' " ,ucap Casca dengan wajah yang terlihat terkejut, "semuanya mulai menjadi jelas Regio..."


"Jelas? Apa maksud-


Tiba-tiba Regio merasakan sesuatu didalam tubuhnya..seperti meledak..seperti hancur semua organ tubuhnya...tak bisa bernafas dia..bahkan tak ada yang bisa digerakkan..


Darah keluar dari mulut Regio...mulai dari tetesan kecil keluar..kemudian menjadi lebih banyak..makin banyak..hingga pakaian Regio mulai menjadi basah karena darah..


Lilin kemudian menjadi mati..


*...tuk*....tuk*


Casca kemudian melangkah kearah buku tersebut…


Langkah kaki Casca sangat kuat dan gelap bagaikan seorang monster...


Casca kemudian berlutut dan mengambil buku tersebut..


"Kau tak diperlukan lagi Regio.." ,ucap Casca sambil menenteng buku tersebut didadanya.


Mata Casca terlihat menjadi berwarna gelap menakutkan…


Untuk sebentar Regio bagaikan melihat ratusan serangga mengerikan merayap diperpustakaan ini...


Kemudian gelap...