Hannoic War

Hannoic War
Tawa dan kekosongan (Part 6)



"Manusia akan cepat percaya sesuatu yang mereka inginkan dan harapkan itu terjadi"


-Julius Caesar


Tawa dan kekosongan


*Kreekk..*Kreekk*..Krekk*


Tarik dia.


Terus menarik dia benang Crossbow.


Kemudian dirinya memasang panah diantara benang Crossbow tersebut.


Duduk dia, seorang wanita yang keras kepala....meninggalkan tangkainya untuk tumbuh sendirian dihutan.


"Sial..." ,ucap Charla dengan kesal.


Duduk Charla dibalik lahan rendah dihutan bersembunyi dari kejaran bandit.


Didepannya, terdapat 4 bandit yang mencoba memperkosanya.


Tapi mati mereka semua.


Isi perutnya lebih busuk dari bau badan mereka, bulu badan mereka bisa terlihat ketika armour kulit mereka dikoyak.


Darah mereka mengalir kearah kaki Charla.


Sedangkan tangan Charla sendiri sudah dipenuhi darah bandit itu.


Tapi itu tak mudah mengalahkan 4 bandit sekaligus, beberapa dari mereka tahu cara bertarung dan memiliki kekuatan yang seimbang dengan Charla.


Charla mulai merasakan rasa sakit dan baru ia sadar kalau salah satu serangan pedang dari bandit tadi memotong salah satu bagian kulit lengannya dengan rapi.


Dan beberapa bagian diperutnya mulai merasakan rasa sakit dan memar akibat dipukul.


Begitu juga dengan beberapa dibagian kepalanya yang bengkak karena dipukul.


Darah mulai keluar dari kulitnya yang dipotong.


Charla mulai merasakan kelelahan tapi ia memilih untuk terus bertarung.


Suara langkah kaki kuda mulai terdengar.


*Truddukk...*


Suara langkah kaki kuda tersebut perlahan tapi lumayan menakutkan.


*Sial....apakah aku bisa melawankah?* ,batin Charla.


Charla bisa melawan 4 bandit kali ini karena mereka memakai armour yang mudah ditembus. Tapi berbeda dengan armour besi.


Meskipun begitu...dia punya Crossbow..


Crossbow mungkin lama diisi, tapi efektif menembus armour besi, tapi jika Charla gagal menembak 1 kali aja maka kesempatannya untuk melawan bandit kali ini hilang dan dia mungkin mati....


Kakinya sudah sedikit ngilu karena sakit dipukul, pastinya lingkungan hutan yang penuh ranting dan batu akan membuat berlari makin sulit.


* 'Tumbuh Kuat diantara Paku' ..* ,batin Charla.


Semboyan keluarganya selalu memberinya semangat dan kekuatan, kadang ia merasa merinding mendengarnya.


Meskipun ia membanting badget keluarga Ohara, tapi dia masih Ohara didalam hatinya.


Tapi kenapa dia takut mati? Apakah dia memikirkan apa yang ada setelah kematian? Apakah ini akhir hidupnya? Atau adakah penyesalan?


Charla kemudian melihat panah yang sudah siap ditengah benang Crossbow, bagian besi panah tersebut mengkilat dan kuat, siap untuk daging dan armour ditusuk dengan ini.


Apakah dia akan mati sebagai Ohara? Tidak..mayatnya tidak akan jadi bangsawan Ohara....melainkan mainan buat bandit agar memuaskan nafsunya.


Untuk itu dia memutuskan untuk tak mati.


Jantungnya berdetak kencang, dan kakinya sudah ditancap siap untuk berdiri.


*Dewa Lama dan Dewa Baru berikan aku kekuatan* ,berdoa Charla dalam hati.


Tangannya sudah dikuatkan diCrossbow, bersiap untuk tak melepasnya apapun yang terjadi.


Kepalanya sudah fokus.


Charla kemudian merapatkan giginya dengan siap.


Berdiri Charla.


Dan kemudian dengan tangannya ia menodong pengendara kuda tersebut dengan Crossbow.


Tapi tangannya kemudian berhenti.


*Tunggu..* ,batin Charla yang kemudian menurunkan Crossbownya.


Tubuhnya mulai menurunkan kekuatannya.


Dan wajahnya berubah menjadi wajah yang sedikit terkejut.


"Yo, Charla, adikku yang tercinta" ,ucap Jean dengan seringai diatas kudanya.


Dan dibelakangnya anak yang Charla temui dikota Ballerius....Hanno namanya.


Dan Charla kemudian menyadari sesuatu dari Hanno.


Charla telah melihat hal tersebut ratusan kali diPerang Tyronia dan Dalmatia.


Dia telah melihatnya dimata kakaknya hampir setiap mereka bertemu.


Tatapan Hanno adalah tatapan kosong...dan tak beremosi...


Untuk sebentar mata Hanno bagaikan sebuah jurang...yang dalam...kosong..dan tidak diketahui berapa dalam jurang itu..


____-_-______


"Selama lebih dari puluhan tahun nak! Aku membuat ratusan ribu manusia ketakutan dan ratusan ribu lagi menjadi mayat!" ,ucap Tuan Handam Ramalax dengan senyuman bodohnya duduk didekat meja dengan ratusan bangsawan disekitarnya, "aku lah yang akan harus kau buat untuk memimpin pasukan garda depan untuk mengambil Kastil Fyrr"


Handam Ramalax tidak berbohong kalau banyak pria yang menakutinya dan banyak pria yang sudah ia bunuh. Handam adalah veteran perang Dalmatia dan sudah membunuh banyak orang Dalmatia.


"Yang memimpin garda depan untuk pengambilan kastil Fyrr adalah Glent sang Tuan Sungai Pedang Angin" ,ucap Hasteinn dengan kuat.


"Hahahahaha" ,beberapa bangsawan tertawa mendengar hal tersebut termasuk yang Tuan Handam yang ikut cengingiran mendengarnya.


*Beberapa menertawai kata-kataku dan beberapa lebih menertawai diriku..* ,pikir Hasteinn menyadari hal tersebut.


"Geralda akan terbawa Topan dan hancur ketanah! Ketika bangsawan mulai mengikuti seorang anak pandai besi..nak" ,ucap Tuan Handam dengan suara kencangnya.


Tuan Handam adalah orang bodoh tapi dia tak begitu bodoh untuk melepas kesempatan mengendalikan Raja remaja 15 tahun.


*Tapi aku tidak semudah itu dikendalikan..* ,batin Hasteinn.


"Aku yang akan memimpin garda depan pasukan yang mengambil Kastil Fyrr nak, atau aku akan mengambil 12.0000 pasukanku kembali kekastilku...dan memutuskan untuk tidak bertarung disisimu.." ,ucap Handam dalam senyuman senang mengendalikan.


*Dia berpikir kalau dirinya sendiri pintar..* ,pikir Hasteinn.


Suasana menjadi berat dimeja ini dengan beberapa bangsawan menunggu sesuatu akan datang.


Bangsawan lain mulai melihat kearah Hasteinn, menunggu apa yang akan dilakukan raja mereka.


"Silahkan pulang dengan pasukanmu...Tuan Handam.." ,ucap Hasteinn sambil berdiri dari duduk dan dirinya menguatkan tubuhnya, "silahkan pulang dan menunduk kepada Orang Victa, kemudian anak perempuanmu akan menjadi pelacur untuk Orang Victa sedangkan dirimu akan menjadi badut untuk mereka.."


Hasteinn dengan tatapan tajam menatap Tuan Handam dan mata biru langit Hasteinn bisa terlihat bersinar redup.


Bangsawan terdiam mendengar ucapan Hasteinn.


"BADUT YA!" ,teriak kuat Tuan Handam sambil berdiri dari tempat duduknya.


Tuan Handam terlihat sangat marah dan bersiap mengeluarkan pedangnya.


5 pasukan Penjaga Raja Hasteinn langsung bergerak kearah Tuan Handam.


*Shrengggggggg!*


Suara pedang dihunuskan dari sarungnya terdengar dari pasukan penjaga raja.


"Tuan handam berhenti!" ,ucap salah satu bawahan Tuan Handam.


"Dia mabuk lagikah?!" ,ucap salah satu bangsawan berdiri dari tempat duduknya.


Penjaga raja langsung memegang Tuan Handam dengan sigap.


"Akh! Apa-apaan ini!" ,teriak dengan kuat Tuan Handam sambil ditahan pasukan penjaga raja.


Pasukan penjaga raja langsung mengancam leher Tuan Handam dengan pedang.


Beberapa prajurit Tuan Handam bergerak untuk melindungi tuan mereka tapi dihalang prajurit Keluarga lainnya yang loyal kepada raja.


Beberapa pasukan keluarga lain bergabung dan terlihat Tuan Handam seperti banteng yang dikurung didalam kurungan besi.


Pedang dan senjata yang kemudian mulai lebih banyak dihunuskan diruangan ini.


"Hukumannya adalah mati mencoba melukai Rajamu dengan besi Tuan Handam.." ,ucap Hasteinn dengan suara kuat.


Tatapan Raja Geralda menatap tajam Tuan Handam.


"KAU!" ,ucap Tuan Handam yang kemudian melepas pegangan 8 orang disekitarnya.


Tuan Handam kemudian memukul salah satu pasukan penjaga raja dan berlari kearah Hasteinn.


Leher tuan Handam terlihat berdarah sedikit, tapi itu tak mencegahnya berlari dengan ganas kearah Hasteinn.


Berlari dia bagaikan babi hutan yang berlari menabrak Hasteinn waktu ia masih kecil, saat itu ada Glent yang menolongnya tapi kali ini Glent tidak ada.


Bedanya larinya cukup kacau dan bagaikan orang pusing.


*Dia mabuk parah* ,pikir Hasteinn.


Kemudian Hasteinn terlihat mengambil pedangnya tapi bedanya dari orang lain diruangan ini, ia tak menghunus pedangnya atau bahkan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.


Tuan Handam makin dekat dengannya.


*BUKKK!*


Hasteinn kemudian menggunakan sarung pedang besinya untuk memukul pipi Tuan Handam.


*Trukk!*


Tuan Handam kemudian terbaring ditanah dengan cepat dengan darah keluar dari mulutnya.


"Panggil aku lagi 'anak' dan 'kau' ,maka akan kuperintahkan prajuritku untuk mencabut satu persatu gigimu. Panggil aku 'Yang Mulia' tuan Handam" ,ucap Raja Geralda dengan kuat menatap tajam Tuan Handam yang terbaring ditanah.


Ratusan bangsawan terkejut melihat hal itu, semua suara diruangan ini menjadi hening, dihadapan Hasteinn terbentang ratusan bangsawan yang memasang wajah shock.


Beberapa dari mereka bahkan berhenti bergerak sekalipun, termasuk pasukan penjaga raja Hasteinn yang tak bergerak dengan pedang ditangan mereka.


*Aku tak sadar mereka begitu meremehkan keahlian bertarungku..* ,pikir Hasteinn dengan jantungnya berdetak kencang.


*Trukk..tuk...*


Tuan Handam kemudian berdiri perlahan bangun dari lantai.


Bagaikan babi besar bangun dengan nafasnya yang besar...


Darah terlihat keluar dari mulutnya sedangkan pipinya terlihat berwarna merah ringan karena memar karena pukulan Hasteinn.


Beberapa pasukan penjaga raja terlihat mencoba melangkah, tapi Hasteinn mengangkat tangannya dengan rendah memberi aba-aba untuk tak menganggu.


Tuan Handam kemudian meludah mengeluarkan gigi nya yang sudah patah karena pukulan Hasteinn.


"Gigiku.." ,ucap Tuan Handam yang kemudian mengawasi disekelilingnya melihat ratusan orang telah bangun dari kursinya untuk menghentikan dirinya, "Gigiku itu kuat nak.." ,tersenyum Tuan Handam, "mungkin butuh Mithril untuk mencabutnya satu persatu sebelum besimu bengkok..hehehehe"


Tawa Tuan Handam.


"Hahahahahaha" ,tertawa Tuan Handam sendirian.


Hasteinn kemudian tersenyum.


"Hehehehe" ,ikut tertawa Hasteinn.


Kemudian bangsawan dan prajurit mulai tertawa.


"Hahahahahahah"


Yang ikut tertawa mulai banyak.


"Hahahahhahahahahhahaha!"


Bahkan beberapa ibu-ibu pelayan ikut tertawa.


"HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAAHAHHAHAHHAHAHA!"


____-_-______


"Kau tahu, aku dulu tak pernah bermimpi kita akan melangkah ditanah asing seperti ini dan memahkotai seorang raja disini" ,ucap Khajir sambil memakan ayam.


Khajir duduk disamping Qharlan dengan armour kulitnya yang khas.


"Aku juga" ,ucap Qharlan.


"Tak ada yang sangka kalau keponakanmu akan menjadi raja" ,ucap Khajir sambil mengambil kantung kulit berisi air anggur dari celananya.


"Trivistane hanya melakukan apa yang ia lihat sebagai kewajibannya" ,ucap Qharlan sambil melihat pemandangan laut dari tower ini.


"Anak itu selalu keras terhadap dirinya sendiri selalu sejak Daratan Pasir Putih, aku melihatnya sebagai mataku sendiri betapa keras kepalanya dia dimedan tempur" ,ucap Khajir sambil membuka kantung kulitnya kemudian meminum air anggurnya.


"Iya...nampaknya keras kepala masih tetap sesuatu yang ia punya bahkan setelah pertempuran itu...bahkan setelah dadanya mendapat luka jahit" ,ucap Qharlan dengan mata coklat gelapnya melihat burung-burung yang terbang diatas laut.


"Ia selalu mementingkan kewajiban...dia seperti besi memilih untuk berperang hingga hancur berkeping-keping daripada berkarat. Salah satu yang kusuka sekaligus kutidak suka dari anak itu" ,ucap Khajir.


"Dia peduli terhadap kampung halaman ayahnya...dia peduli terhadap Damaltia..dia peduli terhadap tanah yang bahkan ia tak pernah lihat selama hidupnya" ,ucap Qharlan sambil melihat tangan tuanya.


"Mungkin kau perlu sadar...mungkin kau perlu memberitahu nya kebenaran...kalau ini merupakan perang yang tak bisa ia menangkan" ,ucap Khajir dengan bibir gelapnya yang ia cat seperti budaya dari suku kelahirannya...suku H'ghaul.


"Kebenaran? Sudah kubilang pada dia kebenaran...dia adalah pewaris sah dari negeri ini, dia punya hak darah...sudah kubilang kalau dia tak bisa memenangkan perang ini...tapi dia tetap datang kesini....kebenaran apalagi yang harus kubilang pada Trivistane?" ,ucap Qharlan menatap tajam Khajir.


"Ya dia punya hak lahir dan dia lelaki sedangkan orang yang duduk ditahta Damaltia sekarang adalah perempuan kecil boneka. Tapi orang-orang hanya akan melihatnya sebagai anak haram dari perempuan entah berantah dari Akkadia....ayahnya Trivistane juga aku yakin tak begitu banyak yang menyukainya.." ,ucap Khajir.


"Jadi kau ingin kita mundur? Dan kembali pulang diAkkadia? Kembali menjadi prajurit bayaran?" ,ucap Qharlan.


"Ya, aku tidak ingin dia mati Qharlan! Dia anak dari perempuan yang sama-sama kita cintai! Dia anak dari saudara perempuanmu! Sedangkan dia anak dari teman masa kecilku dan orang yang kucintai...aku membenci ayahnya yang mengambil cintaku tapi aku tidak membenci Trivistane..aku ingin anak itu selamat.." ,ucap Khajir sambil berdiri dari kursinya dan terlihat matanya yang sebentar terlihat seperti mata seorang ayah.


"Kau hanya prajurit bayaran bagi Trivistane...kau bukan ayahnya....kita hanya perlu melayaninya sampai mati itu saja" ,ucap Qharlan dengan kuat.


Kemudian Khajir berjalan perlahan kearah Qharlan.


Dan kemudian Khajir kemudian memegang kerah pakaian Qharlan.


"Lalu siapa ayahnya hah? Kau?" ,ucap Khajir dengan marah.


"Bukan kita berdua, ayahnya sudah mati" ,ucap Qharlan dengan kuat meskipun kerahnya ditarik oleh Khajir.


"Dia mungkin tak melihatku sebagai ayahnya tapi...aku melihatnya sebagai anak yang tak pernah kupunya..aku mencintainya Qharlan..aku peduli terhadap dirinya...aku tidak ingin dia mati ditanah yang bahkan ia tak pernah lihat hampir seumur hidupnya..dia berasal dari rahim perempuan yang kucintai meskipun dia bukan berasal dari darahku tapi aku masih mencintainya...itu hal yang tak bisa kau tolak.." ,ucap Khajir dengan mata yang kuat.


Pegangan Khajir makin kuat dikerah Qharlan.


"Apa yang kau mau lakukan dengannya hah? Dia sudah memilih jalannya sendiri...kita tidak bisa mencegahnya.." ,ucap Qharlan.


Kemudian suara langkah kaki kecil bisa terdengar dari jauh mendekat kearah mereka.


"Paman Qharlan? Dan paman Khajir? Apa yang kalian lakukan?" ,ucap seorang anak perempuan mendekat kearah mereka.


Wajahnya terlihat imut begitu juga dirinya, gaun kecil berwarna merah tua ia pakai.


Mata biru dengan aura anak kecil polosnya menatap mereka berdua.


*Anak dari nona Harlaw..* ,pikir Qharlan.


Sejak Trivistane mengambil pelabuhan Harlaw, anak-anak pemilik pelabuhan Harlaw merupakan tawanan mereka.


Qharlan menolak untuk membuat anak-anak ini ditaruh dipenjara bawah tanah melainkan membiarkan mereka berkeliaran diistana cuma dengan penjagaan prajurit.


"Nona Asha...apa yang nona lakukan disini?" ,ucap Khajir dengan suara lembut.


Kemudian Khajir secara perlahan melepaskan tangannya dari kerah Qharlan.


Tapi Qharlan langsung mendorongnya.


*Sialan..kerahku hampir koyak gara-gara kau..* ,batin Qharlan.


"Kau anak sialan.." ,ucap Khajir sambil berbisik.


"Kenapa? Jangan berbicara kotor didepan anak ini" ,ucap Qharlan yang ikut berbisik.


"Tuan Qharlan dan Tuan Khajir bergulat ala orang Akkadia ya?" ,ucap Asha dengan suara imutnya.


"Bergulat ala orang Akkadia?" ,ucap Khajir sambil menaikkan alisnya.


"Iya katanya orang Akkadia punya hobi bergulat dipasir bahkan katanya diistana mereka" ,ucap Asha sambil memegang sebuah boneka ditangannya.


"Apa maksud anak ini?" ,ucap Khajir sambil berbisik kepada Qharlan.


"Mungkin maksudnya 'permainan Ghamall' dari suku H'qamal" ,ucap Qharlan.


"Permainan Ghamall? Aku bukan orang H'qamal barbar itu..kenapa dia pikir kita berdua orang H'qamal" ,ucap Khajir dengan menaikkan alisnya.


"Mungkin orang-orang disini berpikir kalau kita itu sama semua dengan orang H'qamal" ,ucap Qharlan.


"Dasar orang asing sialan" ,ucap Khajir sambil menggaruk rambutnya, "ada cara untuk memberitahunya soal ini?"


"Mana kutahu? Aku tidak tahu cara bercerita orang asing" ,ucap Qharlan.


"Hihihiheheheh" ,tertawa imut Asha.


Tawa imutnya membuat kedua terdiam.


Untuk sebentar hanya tawa kecilnya dan suara ombak laut yang hanya bisa terdengar ditower ini.


Untuk sebentar keduanya tak bisa berbicara apa-apa.


"Paman Khajir dan Paman Qharlan itu imut kalau lagi berbicara berdua!" ,ucap Asha sambil menunjuk mereka berdua.


Khajir dan Qharlan hanya bisa melihat satu sama lain dan tersenyum pahit.


Kemudian Asha ikut naik kekursi..


"Ekh...Ekh...Ekh.." ,suara sulitnya naik kekursi terdengar.


Tapi tubuh kecilnya membuat ia sulit naik kekursi.


Khajir kemudian membantu dengan mengangkat Asha keatas kursi dan membuatnya duduk bersama didekat satu meja.


Khajir kemudian ikut duduk didekat meja.


"Paman Khajir dan Qharlan itu saudara?" ,ucap Asha.


"Tidak" ,ucap mereka berdua serempak.


Keduanya hanya melihat satu sama lain dan kembali tersenyum pahit.


*Aku tidak ingin menjadi saudaranya* ,batin Qharlan.


"Tapi kenapa kalian sangat akrab?" ,bertanya Asha.


"Kami berdua tumbuh waktu kecil dipantai yang sama nona" ,ucap Qharlan.


"Waktu kecil aku yang menolongnya berenang sejak itu kami berteman nona" ,ucap Khajir dengan bibir hitamnya.


"Mana ada, kau yang tak pandai berenang jadi aku menolongmu. Kau baru bisa belajar waktu kakak perempuanku membantumu untuk berenang" ,ucap Qharlan sambil melihat kearah Khajir.


"Diam, kau ini selalu berbohong sejak kecil Qharlan" ,ucap Khajir.


"Hah? Kau yang paling sering mencuri dan menipu saat muda" ,ucap Qharlan menatap Khajir.


"Mana ada, kau yang paling sering" ,ucap Khajir berbohong.


"Katanya kalau orang Akkadia aturannya berbohong maka mereka akan dipotong lidahnya.." ,ucap Asha dengan polos.


"Tidak nona..itu aturan suku M'Rhall. Kalau Khajir itu berasal dari suku aneh dibarat bernama H'ghaul" ,ucap Qharlan sambil menunjuk Khajir.


"Hei,hei,hei, jangan panggil suku kelahiranku sebagai aneh. Sebaiknya itu lebih baik dari suku penelayan penyuka ikan Valymor" ,ucap Khajir.


"Jadi...orang Akkadia itu ada banyak sukunya..ya?" ,ucap Asha.


"Iya nona terutama dibarat, kami punya ratusan" ,ucap Khajir.


"Katanya kalian punya banyak dewa ya? Aku dengar kalian menyembah dewa pasir dan dewa batu!" ,ucap Asha dengan suara semangat.


"Aku menyembah dewi ibu laut, nona. Kalau dewa pasir dan batu itu disembah sama orang selatan Akkadia bernama K'Hallur" ,ucap Qharlan.


"Aku menyembah yang diberada ditengah paha wanita terutama yang belum disentuh" ,ucap Khajir dengan sembarangan.


"Hei Khajir! Jangan ajarkan anak polos ini sembarangan!" ,ucap Qharlan dengan suara tuanya.


"Berada...ditengah paha wanita?.." ,ucap Asha dengan polos.


"Oi! Oi! Oi! Asha! Kau tunggu jadi besar baru ucapkan hal itu!" ,ucap Qharlan dengan panik.


"Hahahhahahaha!" ,tertawa Khajir cekikikan.


"Jangan tertawa!" ,ucap Qharlan.


*Tuk*


Suara langkah kaki seseorang terdengar dan seorang pria berdiri didepan pintu ruangan mereka yang terbuka lebar.


Mereka bertiga langsung kemudian mengalihkan pandangan mereka kepria didepan ruangan itu.


"Tuanku...'Pelacur Biru' telah disiapkan" ,ucap orang didepan pintu mereka tersebut.


"Hahhahahahahhahaha!" ,tertawa Khajir mendengarnya.


" 'Pelacur Biru'?" ,ucap Qharlan berpikir sebentar.


Qharlan berpikir apa maksudnya tapi ketika melihat Khajir yang tertawa terbahak-bahak, Qharlan langsung mengerti maksudnya.


"........ohhh! 'Janda Biru' maksudmu!" ,ucap Qharlan.


"Ta-tapi tuan, kata temanku, nama kapal itu 'Pelacur Biru'..." ,ucap pria tersebut.


"Hahahahahahahahahaa!!!" ,tertawa Khajir lebih keras.


"Temanmu menipumu, nama itu kapal besar itu 'Janda Biru' ,yang ada Patung Wanita Besi sebagai Jangkarnya kan?" ,ucap Qharlan.


"I-iya tuanku" ,ucap pria tersebut dengan gugup.


"kapal itu sudah terlalu tua...apakah bagian belakangnya sudah bagus?" ,ucap Qharlan.


"Siap tuanku, meskipun ada beberapa kerusakan. Kata tukang juga..kapal ini mungkin akan rusak lebih parah jika pergi kemedan tempur" ,ucap Khajir.


"Iya..." ,ucap Qharlan sambil berdiri dari duduknya, "..ini mungkin Pertempuran yang akan datang akan menjadi yang terakhir buat dia dan aku...jika aku tenggelam bersamanya.."


___-_-_____


"Tuanku ada mau kemana?" ,ucap Torrmund disamping Vesius berjalan bersamanya dilorong Istana Pedang Perunggu.


"Kau ingat kataku? Kalau aku tak bisa bertahan diibukota sekarang tanpa aliansi?" ,ucap Vesius sambil melihat kertas ditangannya.


"Iya tuanku, aku menyarankan Tuan Halamarr dari Keluarga Harrwyn" ,ucap Torrmund sambil berjalan disamping tuannya.


"Tidak, dia mungkin bodoh dan punya kekuatan tapi bukan berarti dia mudah dikendalikan. Lagipula bukan sekutu bodoh yang kuperlukan disini" ,ucap Vesius sambil menggulung kertas suratnya.


"Tuanku sudah menemukannya?" ,ucap Torrmund.


"Sudah...dia tak mudah dikendalikan..dia tak peduli uang,kekuatan,dan kehormatan...dia hanya peduli stabilisasi dan kedamaian.." ,ucap Vesius sambil menaruh kertas dipakaiannya.


Mata hijau Vesius bersinar redup menatap kedepan.


"Dan dia benci korupsi jadi tak mudah menyuapnya.." ,ucap Vesius sambil tersenyum, "kau tahu dia Torrmund, dia sudah beraliansi dengan ayahku"


Torrmund kemudian menyadari siapa itu..


"Taivarr Bluebarr" ,ucap Torrmund dengan suara bagaikan ringingan besi.