
"Kau mencoba membuat semua orang mencintaimu, kau akan berakhir sebagai mayat paling populer dikota"
-Ser Bronn of Blackwater
Kapas Ohara
Vesius berjalan kedalam ruangan paling dalam dikastil pedang perunggu.
Badan Vesius yang gendut agak cukup sulit digerakkan dipagi-pagi begini tapi setidaknya kali ini tubuhnya lebih ringan daripada waktu ia memakai armour dimedan perang yang membuat tubuhnya kadang-kadang sakit.
Seorang kakek tua kemudian membuka sebuah pintu.
Terpampang dihadapan mereka berdua ruangan dengan ratusan rak buku yang luas.
Perpustakaan negara Victa..
"Heisen, apa memang benar kau tahu dimana buku tentang sihir yang akurat diperpustakaan Republik ini?" ,ucap Vesius sambil melihat sekelilingya.
"Tenang saja tuanku" ,ucap kakek tua yang dipanggil Heisen oleh Vesius tersebut.
Heisen merupakan petugas perpustakaan republik ini dan Vesius sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.
Heisen dahulu cuma asisten penjaga perpustakaan republik kemudian penjaga perpustakaan mati dan Heisen menggantikannya.
Heisen yang Vesius lihat sekarang lebih tua dari Heisen dahulu, dirinya sekarang memiliki banyak kerutan diwajahnya daripada yang dahulu.
Heisen sekarangpun masih tajam seperti dahulu cuma fisiknya yang lebih menua.
Melangkah Vesius kedalam ruangan lebih dalam. Perpustakaan ini sangat luas dengan rak buku dimana-mana.
Cahaya sinar matahari menyinari tempat ini lewat jendela.
Terlihat beberapa rak buku berdebu bahkan ada beberapa laba-laba yang bersarang disini.
Kelihatan sangat sepi dan nampak hanya mereka berdua yang berada diruangan ini.
"Buku tentang sihir adalah buku yang langka tuanku, bahkan ada filosofer yang bilang kalau cuma ada 10.000 buku akurat tentang sihir yang tersisa didunia ini" ,ucap Heisen sambil berjalan mencari dan melihat sekeliling rak buku.
Mereka berdua berjalan diantara rak buku mencari buku tentang sihir.
Pengetahuan dan catatan sejarah besar mengelilingi mereka.
"Tapi ucapan filosofer itu salah, penyihir-penyihir dari kota suci Cyronia terus memproduksi buku sihir yang baru meskipun kadang harganya adalah ribuan koin tapi tetap buku sihir makin banyak" ,ucap Heisen.
Kemudian ia mengusap rak buku yang dipenuhi debu dan mengambil sebuah buku.
"Tapi tuanku, sihir itu sesuatu yang misterius, oleh karena itu banyak buku sihir yang tidak akurat dan hanya tipuan semata, tapi menurutku ini buku yang paling akurat diantara buku sihir yang lain diperpustakaan Republik" ,ucap Heisen sambil mengambil sebuah buku tebal yang lumayan berdebu dirak buku.
Heisen menentang buku tebal tersebut ditangannya.
Mereka berdua kemudian berjalan kesebuah meja diruangan ini yang disinari matahari.
Ruangan perpustakaan ini cukup gelap meskipun terdapat jendela yang membuat ruangan ini bersinar cuma dibeberapa daerah.
"Perpustakaan negara ternyata lebih sepi akhir-akhir ini, padahal terakhir kali aku kesini 2 tahun yang lalu, setidaknya ada beberapa orang kutu buku atau ilmuan yang berada disini" ,ucap Vesius melihat rak buku disekelilingnya yang dipenuhi debu dan jaring laba-laba.
"Iya tuanku sudah banyak ilmuan dan orang tua berpendidikan yang sudah mati, bahkan beberapa orang disenat ada yang tak pandai membaca, sekarang adalah masa-masa yang gelap untuk pengetahuan" ,ucap Heisen dengan suara tuanya.
*Tumm!*
Kemudian terdengar suara Heisen menaruh buku tebal tersebut dimeja.
"Cara menggunakan sihir dan mengontrolnya....dari Penyihir Ascarion Ohara..." ,baca Vesius dari sampul buku tersebut yang terlihat lebih jelas dengan cahaya dari jendela.
"Tunggu sebentar tuanku ada buku lagi yang belum kutemukan, tuan bisa tunggu disini?" ,ucap Heisen dengan suara tuanya yang sedikit ramah, "tenang saja, buku itu tidak terlalu jauh dari sini tuanku, bahkan tuan bisa aku dengar kalau tuan berbicara cukup keras"
"Ya baiklah..." ,ucap Vesius.
Heisen kemudian berjalan dengan punggung tuanya, kembali kekumpulan rak buku mencari buku yang mereka berdua cari.
Kemudian Vesius membuka buku tebal tersebut.
"Ka-kalau boleh tanya tuanku? Kenapa tuan mau belajar sihir?" ,tanya Heisen dibalik rak buku yang tebal.
Suara Heisen cukup menggema diruangan perpustakaan.
*Ternyata benar suaranya bisa didengar dari sini..* , pikir Vesius dalam hatinya.
"Apa kau sudah dengar kabar kalau kerajaan Dalmatia memanggil 39 pahlawan dari dunia lain Heisen? 39 pahlawan sama saja dengan 39 penyihir, Cassandra yang agung menciptakan kerajaan paling luas didunia hanya dengan 20 penyihir besarnya" ,ucap Vesius dengan suara besar sambil membuka satu demi satu lembaran dibuku tersebut.
Vesius tersenyum sambil membaca buku tersebut.
*Ascarian Ohara...penyihir dari keluarga Ohara..dia pernah ikut dalam perang penaklukkan Geralda 100 tahun yang lalu..* ,pikir Vesius.
Vesius menyingkirkan beberapa debu dilembaran buku tersebut dan melihat beberapa bagian dari buku tersebut.
"Sedangkan dahulu 3.000 tahun yang lalu Kekaisaran tua Thamunia menaklukkan dunia menggunakan ratusan penyihir mereka, tapi sayang mereka hancur akibat perang saudara" ,ucap Vesius.
"Tu-tuan mau belajar sihir?" ,ucap Heisen sambil terdengar suara gesekan buku.
"Tidak Heisen, sihir terlalu berbahaya untuk aku kendalikan, manusia sangat lemah dihadapan kekuatan sihir. Tapi saat sihir bisa dikendalikan maka kekuatan itu bisa membuat seluruh dunia tunduk, tapi sihir itu tidak..." ,ucap Vesius yang kemudian berhenti ucapannya sebentar.
"Sihir tidak selalu sangat kuat dan tidak terkalahkan" ,ucap Heisen dengan lembut menyambung ucapan Vesius dibalik rak buku.
Ia kemudian muncul dari balik rak buku dan membawa buku tebal lain ditangannya.
"Cassandra yang agung menaklukkan setengah dunia tuanku dan tak terkalahkan disemua pertempuran yang ia pimpin selama hidupnya, tapi salah satu jenderal penyihirnya dikalahkan oleh orang Tyronia dengan disergap dipertempuran Hutan Jingga" ,ucap Heisen yang kemudian menaruh satu buku tebal lagi dimeja.
*Tumm!*
Suara Heisen menaruh buku tebal tersebut cukup menggema diruangan ini
"Kekaisaran Tramunia bahkan sempat dipukul mundur oleh orang Kievara dan orang Rhamunia bahkan tak berani menaklukkan Kievara selama 150 tahun setelah gagalnya mereka menaklukkan Kievara" ,ucap Heisen sambil duduk dikursi yang dekat dengan Vesius.
Heisen tersenyum dengan lembut.
"Tuan sedang mencari cara untuk mengalahkan sihir bukankah begitu?" ,ucap Heisen.
"Ya mudah untuk menebaknya kalau aku mencari untuk melawan sihir, tapi kondisi kita berbeda Heisen, kita tak seperti Kievara ataupun Tyronia, Victa terlalu lemah untuk melawan kekuatan sihir" ,ucap Vesius sambil membaca buku tersebut.
Vesius kemudian menyeret buku tebal yang diambil oleh Heisen tadi.
"Pengetahuan Jenderal lah yang menajamkan pedang para prajuritnya" ,ucap Vesius sambil dengan serius membaca buku tersebut, "Dahulu Dalmatia memang memiliki banyak penyihir tapi kebanyakan dari mereka bukan bisa menggunakan sihir, melainkan mereka hanya berpendidikan dalam sihir, itulah yang membuat Dalmatia dahulu tak sekuat sekarang"
"Pahlawan kah....aku harap ada kedamaian...perang sudah berlangsung terlalu lama" ,ucap Heisen.
"Iya 25 tahun...25 tahun...Dalmatia sudah berperang sejak umurku baru saja 4 tahun, saat itu aku masih kecil dan aku ingat saudara-saudaraku" ,ucap Vesius sambil tertawa kecil diakhir ucapannya.
"Aku ingat saudara-saudara anda tuan, aku ingat tuan muda Vulanarr dia sangat liar dan pemberani diturnamen, aku juga ingat Celaurus orang yang sangat loyal dan mementingkan moral terlebih dahulu, aku ingat melayani mereka dulu" ,ucap Heisen sambil tersenyum sambil ikut duduk dengan Vesius dimeja.
"Hm, semua saudaraku sangat hebat tapi sayang saat ini mereka tak ada lagi...jika mereka tidak mati dimedan perang mungkin aku tak disini menemani ayahku diibukota, mereka yang akan menemani ayahku bukan diriku" ,ucap Vesius tersenyum mengenang masa-masa kecilnya.
"Tapi kematian saudaraku lah yang membawaku kemedan perang, untuk melangkah keluar dari ejekan orang-orang disekitarku yang memanggilku pengecut.." ,ucap Vesius sambil melihat tangannya yang dipenuhi cincin emas dan berlian hijau dari Legata.
Vesius ingat bagaimana dahulu ia berumur 14 tahun langsung diseret ayahnya kemedan tempur diperang Tyronia 15 tahun yang lalu.
Semua itu setelah 2 saudara Vesius mati dipertempuran dan ayahnya ingin agar anak laki-laki terakhirnya tahu apa itu militer bahkan kalau perlu diumur dini.
Vesius menjadi jenderal sejak saat itu dan mengomando 14.000 pasukan tapi hari demi hari dan tahun berjalan pasukannya berkurang jadi 3.000.
Ada beberapa pasukan baru yang ia rekrut tapi kadang mereka cepat mati dan kadang mereka tumbuh jadi veteran.
"Tuan Vesius!" ,ucap seseorang memanggil Vesius dari kumpulan rak buku.
Langkah kaki seseorang terdengar menuju mereka berdua.
Vesius dan Heisen menoleh kearah suara mereka dibelakang.
Vesius berdiri dari kursinya.
"Nampaknya ayahku tidak membiarkanku agar beristirahat" ,ucap Vesius yang kemudian berjalan kearah pintu keluar bersama Olivvar.
_______-_-________
"Ternyata kau disana nak! Aku mencarimu dimana-mana!" ,ucap Ayah Filda berjalan menuju Hanno.
Terlihat dibelakang Hanno ada Charla dan Jean mengikutinya.
"Ada apa pak?" ,ucap Hanno.
"Tak ada, sudah dekat untuk kita pergi" ,ucap Ayah Filda sambil memegang bahu Hanno.
Hanno kemudian berjalan bersama Ayah Filda disampingnya menjauh dari Jean dan Charla.
Pasar cukup ramai hari ini seperti biasa dengan prajurit dimana-mana.
Suara jualan dan orang-orang membeli sesuatu terdengar.
Canda tawa para prajurit juga sangat bisa terdengar dari jauh.
Sedangkan godaan pelacur dari rumah bordil bisa dirasakan hanya beberapa meter dari mereka berempat.
Terlihat anak-anak bermain pedang kayu dijalanan.
"Hahaha" ,tawa mereka terdengar, "kau curang!" ,teriak salah satu anak marah.
Mereka terlihat menikmati masa senang mereka.
Jalan batu yang sedikit berlumut terbentang dengan sinar matahari siang menyinarinya.
"Kota ini cukup makmur meskipun sudah 25 tahun berperang" ,ucap Ayah Filda.
"Ya..." ,ucap Hanno dengan suara lembut.
.
"Anak bernama Hanno itu terlihat sangat dekat dengan bapak itu, mukanya lebih terang daripada bersama kita" ,ucap Charla menyadari sesuatu.
"Kau dahulu juga begitukan dengan Vespasian dan paman Tairar?~" ,ucap Jean dengan nada nakal.
"Itu dulu kak, paman Tairar sudah mati dan Vespasian....dia sudah berubah.." ,ucap Charla dengan suara yang sedikit berat.
"Ya...waktu sudah berlalu dan orang-orang berubah.." ,ucap Jean.
"Jujur saja kakak masih belum berubah...kakak itu masih seperti dahulu suka tersenyum dan ceria" ,ucap Charla.
"Benarkah~ apakah aku masih cantik?" ,ucap Jean dengan imut sambil menekan pipinya dengan jari telunjuk.
"Iya" ,ucap Charla dengan cepat.
"Kau juga tak berubah Charla, sudah 20 tahun tapi dirimu masih mudah mengatakan itu dengan cepat" ,ucap Jean.
"Mungkin....memang benar aku masih belum berubah" ,ucap Charla.
.
"Hahahahaha!" ,tawa Ayah Filda terdengar dari depan sambil terlihat ia menepuk punggung Hanno beberapa kali.
Hanno hanya terdiam tapi bisa terlihat ia sedikit tersenyum.
"Wajah untuk keluarga.." ,ucap Jean tersenyum.
"Hm?" ,ucap Charla.
"Tak ada, ngomong-ngomong kau lebih cerah dan manis jika berada didekatku" ,ucap Jean tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
"Hm, itu karena kau kakakku dan masih kakak yang belum berubah" ,ucap Charla sambil tersenyum.
"Benar kau aku dan kau tak berubah, aku harap kita sama seperti dahulu bermain dikastil Gelar bermain pedang-pedangan, dan ibu pelayan Masimia memarahi kita..." ,ucap Jean, "tapi semua sudah berubah dan kita semua punya jalan kita masing-masing" ,Jean terlihat menatap medali perak Haralia nya yang ditulis dengan namanya ditangannya.
Ada suatu pertanyaan yang Charla ingin tanyakan setelah melihat medali Haralia tersebut, sudah bertahun-tahun medali Haralia dengan nama kakaknya tersebut tidak Charla lihat.
*Ternyata selama ini kakak masih membawanya..* ,pikir Charla
Ia ingat kakak lebih ceria ketika dahulu ia masih bisa memakai medali Haralia, medali tersebut terbuat dari batu Haral yang cukup langka.
Ketika senat dikeluarkan dari gelarnya sebagai senat maka medali Haralia tersebut akan digores, batu Haral adalah batu yang sulit digores ataupun diukir sehingga butuh material kuat langka lainnya untuk melakukan goresan diatasnya.
Medali Haralia kakaknya pun dicoret dan dilarang dipakai, jika ada orang yang memakai medali Haralia yang sudah dicoret secara terang-terangan maka dia akan dipenggal ataupun digantung.
*Sehingga kakaknya tidak bisa memakainya..* ,pikir Charla.
"Kakak tidak berencana kembali kesenat?" ,ucap Charla dengan penasaran.
"Buat apa Charla? Aku sudah berjuang dan kalah...perjuanganku sudah berakhir..faksi Violet sudah dikalahkan" ,ucap Jean dengan nada yang berat sambil terus melihat medali Haralianya.
"Masa-masa jaya wanita diVicta sudah hancur, bahkan tak ada yang mengenalku lagi" ,ucap Jean sambil menaruh medali Haralianya dipakaiannya kembali.
Charla hanya terdiam dan tak bisa mengomentari apa-apa soal keputusan kakaknya.
"Nona aku akan pulang" ,ucap Hanno mendekat kearah mereka berdua.
Terlihat Ayah Filda memandang mereka berdua dari jauh dengan tatapan sinis.
"Ah iya, hari yang cukup indah nak, aku harap kau menjadi seseorang yang baik dibawah ajaran kakakku" ,ucap Charla sambil memegang tangan Hanno.
"Apa ini?" ,ucap Hanno merasakan sesuatu ditangannya.
"Hadiah perpisahan karena aku rasa kita takkan bertemu anak unik sepertimu lagi dalam waktu lama, berkat kau juga aku bertemu kakakku setelah 4 tahun" ,ucap Charla sambil melepas tangannya dari Hanno.
Kemudian ditangan Hanno terlihat sesuatu.
Sebuah sapu tangan dengan lambang kapas ditangannya.
Sapu tangan tersebut cukup besar dan bahkan mungkin bisa digunakan sebagai perban.
"Itu adalah sapu tangan tanda keberuntungan dari keluargaku, keluarga Ohara, semoga kau tumbuh cepat dan berguna seperti kapas nak" ,ucap Charla tersenyum sambil memegang bahu Hanno.
Charla kemudian melepas bahu Hanno dan memegang tas barangnya kembali.
*Bahu anak ini lumayan keras..* ,pikir Charla.
"Aku pergi juga ya kak" ,ucap Charla keJean.
"Ya, kau juga punya jalan Charla. Aku harap kau tidak mengulangi kesalahanku, kalau kita bertemu lagi aku berharap kau berkembang" ,ucap Jean sambil berjalan kedepan dengan dewasa daripada biasanya.
Sesuatu yang jarang dilihat dari Jean.
"Kuharap kakak juga" ,ucap Charla.
Jean terlihat berjalan kearah Ayah Filda menandakan ia akan mengikuti Ayah Filda
Ayah Filda memandangnya sambil menaikkan alisnya karena merasa aneh.
"Heh! Sangat jarang kau diam dan dewasa seperti itu wanita sialan" ,ucap Ayah Filda.
Hanno kemudian juga mengikuti Jean berjalan kearah Ayah Filda.
Charla pergi sambil menenteng dua tasnya.
Dipasar itu mereka berpisah kejalan mereka masing-masing...