Hannoic War

Hannoic War
Pedang,Darah,dan Kertas (Part 7)



"Manusia akan cepat percaya sesuatu yang mereka inginkan dan harapkan itu terjadi"


-Julius Caesar


Pedang,Darah,dan Kertas


"Apa yang terjadi pada anak itu?" ,ucap Charla sambil duduk disamping kakaknya...


'Sang Jean dari keluarga Berrau'...


Mata kakaknya lebih tajam dan mengalir aliran mawarnya....yang harusnya sudah lama mati dimatanya. Sekarang...aliran mawar dimatanya bangkit..lebih kuat dari terakhir kali Charla melihatnya..


"Hanno?" ,ucap Jean menjawab pertanyaan Charla sambil duduk didekat sungai kecil ini dan membersihkan sepatunya.


"Iya, aku bisa melihatnya dimatanya...dia kelihatan kehilangan sesuatu yang penting baginya.." ,ucap Charla sambil memberi Jean semangkok air bersih yang sudah ia panaskan.


Kakaknya kemudian mengambil mangkok berisi air tersebut dan meminumnya.


"Dia kehilangan om-om itu dan tunangannya waktu prajurit Dalmatia menjarah desanya" ,ucap kakaknya sambil menyelimuti tubuhnya dengan jubah kulitnya.


"......itu tragis.." ,ucap Charla sambil melihat langit yang mulai terlihat menjadi gelap.


*Pasti itu berat untuk dia..tapi apa yang kubisa lakukan?* ,pikir Charla.


Suara burung bisa terdengar sedangkan suara katak sore mulai membesar.


Aliran air sungai masih belum berubah terdengar sejak ia datang kesini.


"Kau...kau sendirian dihutan begini mau mau kemana?" ,bertanya kakaknya.


"Kearahku sendiri" ,ucap Charla dengan sedikit semangat.


"Kau berkelahi dengan Vespasian lagi? Dibawahnya kau punya perlindungan agar tak ada yang menertawai warna kulit juga warna rambutmu lagi" ,ucap Jean sambil tersenyum, "meninggalkannya sama saja, menghilangkan semua itu"


"Terus kenapa? Aku tak tahan melihat dia membunuh dan menyiksa semua lelaki yang menjadi prajuritnya" ,ucap Charla yang setelah itu meminum semangkok air bersih yang berada ditangannya.


"Ini perang, Charla. Kau masih keras kepala seperti biasanya" ,ucap Jean sambil melihat pepohonan yang mulai menggelap.


Tatapan kakaknya bisa terlihat lebih kosong dari Hanno.


"Alasan bodoh, 'ini perang,ini perang,ini perang,dan ini perang'. Apakah itu alasan paling bagus untuk membunuh anak dari seorang orang tua dan ayah dari seorang anak? Apakah itu mengubah fakta kalau kau membunuh orang tak bersalah? Apakah itu mengubah fakta kalau kau menghancurkan keluarga seseorang?" ,ucap Charla.


"Iya itu alasan paling bagus Charla" ,ucap Jean sambil tersenyum aneh.


Malam mulai datang dan suara burung yang menggema bisa terdengar dilangit.


Angin malam yang dingin mulai bisa dirasakan mereka berdua.


Hanno terlihat duduk didekat api unggun dan matanya yang kosong melihat api membakar kayu tersebut.


Kepalanya memiring seiring ia melihat api itu semakin lama.


Jean dan Charla bersama memandang Hanno.


Charla bisa merasakan rasa kasihan dihatinya melihat anak semuda itu telah melihat horror.


"Aku ingin Hanno mengikutimu" ,ucap Jean sambil berdiri dari duduknya.


"Hah?" ,terkejut Charla mendengar hal tersebut, "apa kak?"


"Aku Hanno mengikutimu dimedan perang dan menjadi muridmu, ketika ia sudah dewasa maka kau akan jadikan dia seorang ksatria penjaga keluarga Ohara" ,ucap Jean dengan senyuman dan tatapan tanpa emosinya.


"Apa maksudnya ini kak?" ,ucap Charla yang ikut berdiri, "kau tak peduli dengannya.."


"Aku peduli terhadapnya lebih dari apapun yang kupunya saat ini.." ,ucap kakaknya sambil memiringkan kepalanya dan wajahnya tanpa emosinya mulai terlihat aneh.


"Jadi kenapa kau mau dia ikut denganku dan terjun dimedan perang? Kau mau dia mati?" ,ucap Charla sambil menunjuk kearah Hanno yang tak berbicara apa-apa.


Hanno malah terlihat tak mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Kalau dia mati...maka dia mati...semua manusia akan mati Charla......tak peduli jabatan,kekuatan,harta,baik itu raja..tuan,bangsawan..dan tuhan apapun yang mereka sembah.." ,ucap Jean sambil tersenyum aneh.


"Jadi kalau dia mati? Kau tak peduli? Itu hanya membuktikan kalau kau tak peduli padanya" ,ucap Charla.


Kemudian Jean mengambil kerah Charla dan menariknya dengan kuat.


"Kenapa..kenapa kau pikir aku tak peduli padanya hah?!" ,ucap Jean dengan suara bagaikan monster.


Mata kakaknya bagi Charla mulai terlihat mirip seperti mata prajurit diPerang Tyronia yang membakar sebuah desa.


Matanya penuh dengan api yang mau membakar sesuatu.


Untuk sebentar Charla bisa merasakan ketakutan.


Charla bahkan tak bisa melepas pegangan Jean dari kerahnya.


"Bawa dia kemedan perang...dan besarkan dia....menjadi sesuatu...menjadi sesuatu yang kuinginkan.." ,ucap Jean sambil mendekatkan wajahnya keCharla.


Untuk sebentar Charla menelan ludahnya dan kemudian ia melihat kearah Hanno.


Tatapan Hanno kosong...trauma hingga kedalam dirinya...dan menghilang semua yang ia punya...


*Dia sudah berlebihan melihat horror...* ,pikir Charla dengan rasa kuat dihatinya.


"Tidak..anak itu pantas tinggal disebuah desa bersama keluarga yang ia cintai...." ,ucap Charla dengan tatapan tombak berliannya menatap Jean.


*Keluarga baru...* ,pikir Charla.


Jantung Charla berdetak kencang, meskipun dia kakaknya tapi dia bukan kakaknya yang sekarang.


Dia Jean dari keluarga Berrau...Jean yang gila dan telah kehilangan semuanya.....Jean yang diseret keluar dari gedung senat..


Jean monster yang bahkan mungkin bisa membunuhnya sekarang.


"HeheheeheHAHAHAHAHA!" ,tertawa Jean sambil melepas pegangannya dari kerah Charla.


Wajah kakaknya terlihat lebih rusak daripada yang Charla pikir.


Wajah kakaknya bisa terlihat cantik untuk sebentar tapi wajah kakaknya yang tertawa sekarang lebih ke monster.


"Kau selalu...kau selalu..selalu seperti itu adikku yang tercinta.." ,ucap Jean sambil memegang dagu Charla dengan tangan lembutnya.


"Aku takkan membawanya kearah yang lebih parah" ,ucap Charla dengan keras kepala.


"Kau memang bagaikan berlian...tak bisa bengkok dan tak mudah dipecahkan menjadi berkeping-keping.." ,ucap Jean tersenyum gila.


Charla tahu senyuman itu...senyuman membakar desa dan membanting bayi...senyuman memperkosa wanita....senyuman kenikmatan melihat darah....senyuman yang paling Charla benci didunia ini.


Tapi Jean tetap kakaknya, apapun yang terjadi. Membunuh keluarga sendiri itu dosa dimata dewa dan manusia.


Tapi kakaknya tak punya dewa yang disembah....dan manusia untuk ia pedulikan....


"Kau akan membawanya apapun yang terjadi...jadikan dia sesuatu yang paling kuinginkan.....jadikan dia bagian terakhir dari permainan 'Tubrukan Pedang,Darah,Dan Kertas' ini.." ,ucap Jean tersenyum bagaikan bukan manusia lagi.


"Kau tak punya apa-apa lagi kak, kau tak punya nyawanya...aku takkan berada disisimu kalau soal membawa anak itu kemedan perang" ,ucap Charla dengan kuat.


Mata kuning gila Jean bersinar redup diantara kegelapan hutan.


"Kalau begitu kau tak punya cara untuk menghalang diriku membunuhmu dan membunuh anak itu sekarang..." ,ucap Jean sambil tersenyum, "aku tak takut membunuh Hanno sekarang.....Charla.."


*Membunuh...kata-kata terkutuk* ,batin Charla.


"Kau benar-benar tak peduli padanya...kau hanya peduli potensinya..kau monster kak..." ,ucap Charla.


*Kreekkk!*


"SUDAH KUBILANG! KALAU AKU PEDULI TERHADAPNYA!" ,ucap Jean dengan berteriak kuat.


Leher Charla dipegang kuat oleh Jean bahkan hingga suara memegang erat Jean bisa terdengar.


Charla mengingat bagaimana dia dicekik dan hampir diperkosa oleh prajurit Tyronia.


Dia melepas cekikannya dan menusuk mata prajurit Tyronia itu dengan jarinya.


Dia mengingat darah keluar dan mata berguling ditanah.


Dia mencoba kali ini tapi tangan Jean lebih kuat dari yang Charla kira.


Charla mencoba mencapai wajah Jean tapi tangannya menjadi lemas seiring lehernya dicekik oleh Jean.


Dan tangannya hanya bisa mencapai jari Jean.


Hanno kemudian akhirnya menggeser kepalanya melihat kearah mereka berdua.


Charla mulai menyadari Hanno menoleh kearah mereka dengan tatapan kosong.


*Nak...lari..lari dari kakakku* ,ingin berteriak Charla tapi dia tak bisa.


Kemudian Hanno berdiri dari tempat duduknya.


*Bagus...bagus..bagus..berlarilah..* ,batin Charla.


Tapi Hanno melakukan hal yang berlawan dengan yang diinginkan Charla....Hanno berjalan kearah mereka berdua.


Suara langkah kaki pelannya bisa terdengar.


*Apa yang kau lakukan...apa yang kau lakukan..*


Charla merasakan nafasnya sudah mulai habis seiring kakaknya mencekiknya.


Charla mulai mencakar jari kakaknya karena tak bisa bernafas.


Mata Jean hanya bisa semakin menggila melihat Charla.


Charla mencakar jari Jean sekuat tenaga hingga darah mulai keluar dari tangan Jean.


"Lepaskan dia...aku ikut dengannya.." ,ucap Hanno dengan suara datarnya.


Jean hanya bisa melihat Hanno dengan wajah terkejutnya.


Tersenyum Jean lebih lebar.


Sedangkan Jean melepaskan Charla dengan cepat.


Terlihat tangan Jean berdarah dengan cakar Charla yang mencoba melepas cekikkannya.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" ,batuk Charla yang terbaring ditanah sambil memegang lehernya yang kesakitan.


Charla hanya bisa menarik nafas sekuat yang ia bisa setelah dicekik.


*Apa yang kau pikirkan nak? Apa kau gila seperti kakakku?..*


Charla bisa mendengarnya....


Suara tawa kakaknya menggema dihutan ini...


Tawanya gelap dan bagaikan monster..


Sedangkan Charla merasa tak bisa bangun dan matanya tertutup...


.


.


.


.


.


___-_-_____


.


.


.


.


.


.


*Tuk...*Tuk...*Tuk...*


Ketuk palu sidang dihadapan Vesius dan saksi.


Terlihat hakim berdiri dikursinya.


Wajahnya lebih kuat daripada yang Vesius lihat beberapa hari yang lalu.


Wajahnya kuat hingga bagaikan patung, dan tangannya lebih kuat lagi hingga Vesius mengira kalau hakim mengetuk meja dengan sebuah kapak.


Itulah Taivarr Bluebarr...sebagai hakim dia duduk dengan kuat diatas meja.


"Apa tuduhanmu? Terhadap Terdakwa ini?" ,ucap Taivarr dengan kuat hingga otot lehernya bisa terlihat.


"Ini bukan tuduhan Tuanku! Ini kenyataan!" ,ucap Pendakwa dengan semangat.


Terlihat Pendakwa berdiri dari kursinya.


"Lalu bagaimana kau membuktikan kalau itu kenyataan?" ,suara Taivarr menggema diruangan pengadilan ini.


Para keramaian yang mengelilingi ruangan ini melihat bagaimana jalannya pengadilan ini mulai menggosip dan berbicara.


"Teman-teman! Dan rakyat Victa!" ,teriak Pendakwa terhadap keramaian.


Keramaian yang ramai mulai melihat kearah Pendakwa dan ratusan mata mulai dipasang kearah Pendakwa.


Mata Pendakwa terlihat seperti dramatis.


*Dasar bodoh, dia mau mengirimkan pidato* ,pikir Vesius menyadari sesuatu.


"Ini adalah Tuan Kamasarr! Dia adalah orang korup dan telah banyak menerima suap dari senat! Ribuan orang mengetahuinya dan ribuan juga hanya terdiam!" ,ucap Pendakwa sambil menunjuk kepada Terdakwa dengan wajah yang terlihat sedih dan kecewa.


*Yap...kita mulai lagi..* ,batin Vesius.


Tapi Vesius tahu kalau Pendakwa itu tidak berbohong, memang benar Terdakwa yaitu Kamasarr adalah orang yang diketahui korup dan sering menerima suap.


Tapi Terdakwa Kasammar berada diFaksi kuat bernama Optima, sehingga memecatnya dan menghukumnya sama saja membuat Faksi Optima marah.


"Senat sudah korup! Korupsi serta suap sudah merajalela disenat! Waktunya kita berubah dan bergerak! Langkah pertama kita adalah menghukum sang pejabat korup ini!" ,berteriak Pendakwa itu dengan kuat.


*Dasar bodoh..* ,pikir Vesius.


"Mari kita berubah!"


"Hancurkan korupsi!"


"Remukkan tikus-tikus yang menghancurkan republik ini!"


Terlihat beberapa anak muda dikeramaian ikut berteriak dengan semangat.


*Anak-anak muda nampaknya itu merupakan temannya siPendakwa....* ,batin Vesius menyadari sesuatu.


Tapi banyak dari keramaian hanya terdiam, bahkan beberapa terdengar tertawa.


Orang-orang tua hanya terdiam mendengarnya, dan membiarkan mereka berteriak sesuka hati.


Ratusan hanya tersenyum dan terdiam dikeramaian melihat anak muda-anak muda ini.


"Apakah sudah selesai?" ,bertanya Taivarr dengan tatapan kuatnya.


Pendakwa itu hanya bisa terdiam melihat keramaian yang tidak menanggapi kuat pidatonya.


Pendakwa itu mulai sadar bahwa beberapa orang sudah menertawainya.


Anak-anak muda itu sadar kalau pidato dan gerakan ini hanya menghabiskan waktu mereka dan mereka hanya terlihat seperti orang bodoh.


*Harusnya kau tahu kalau sebagian besar keramaian sudah disuap bodoh* ,batin Vesius sambil diduduk diantara keramaian.


Vesius bahkan ikut tertawa kecil melihatnya.


*Korupsi tak semudah itu dihancurkan nak..* ,ingin berteriak Vesius tapi ia menahannya.


"Bagaimana dengan Terdakwa Kamasarr? Apakah kau punya bukti untuk melawan tuduhan Pendakwa Burrarr?" ,ucap Taivarr sambil melihat kearah Kamasarr.


"Ada tuanku...aku punya saksi.." ,ucap Kamasarr dengan wajahnya yang tersenyum, "Jilla! Masuk!" berteriak Kamasarr kebelakang memanggil seseorang.


Seorang wanita pelayan masuk kedalam ruangan didampingi prajurit dan semua orang mulai melihat padanya.


Wanita itu terlihat gugup dan kemudian duduk disamping Terdakwa.


"Saksi...katakan siapa dirimu" ,ucap Taivarr.


"Aku Jilla..pelayan wanita dari Pendakwa..." ,ucap Jilla dengan gugup.


"Apa kesaksianmu terhadap siPendakwa?" ,ucap Taivarr.


"Ta-tadi pagi Tuan Pendakwa Burrarr mabuk dari tidurnya dan berteriak tentang kalau....dia bermimpi jadi pahlawan..yang membebaskan senat...." ,ucap Jilla yang malu-malu.


"Hahahahahahahahaha!" ,tertawa orang-orang dan keramaian mendengarnya.


Tawaan makin keras dan ramai bahkan beberapa prajurit diruangan pengadilan ini ikut tertawa.


Taivarr sendiri masih duduk dengan mata kuatnya menatap saksi dan tanpa tertawa sedikitpun.


Semua orang disekitar Vesius mulai tertawa.


Anak-anak muda dan Pendakwa itu hanya bisa terdiam malu.


"Dia bohong! Dia bohong!" ,berteriak Pendakwa dengan kuat menolak persaksian pelayan tersebut.


Tawaan hanya bisa makin keras dengan Pendakwa yang menolaknya.


*TUK!*TUK!*TUK!*


"DIAM! DIAM! SAKSI MAU MENGUTARAKAN KESAKSIANNYA!" ,teriak Taivarr dengan kuat.


Tawa mulai menjadi kecil dan kemudian menghilang.


Pelayan wanita tersebut hanya ikut tersenyum dan kemudian berbicara.


"Dipagi hari juga Tuan Pendakwa mendengar pelayan membicarakan kegagahan Tuan Kasamarr....aku rasa Tuan Pendakwa hanya iri terhadap Tuan Kasamarr...Tuan Pendakwa hanya kemudian marah kepada pelayan-pelayan itu bahkan saking semangatnya ia terjatuh dan berakhir dibawah rok pelayan" ,ucap Jilla.


"Hahahahahahahahahahahahahaha!" ,tertawa hampir semua orang.


Ratusan senat,bangsawan,bahkan rakyat biasa yang tak terhitung jumlahnya ikut tertawa mendengarnya diruangan ini.


Diantara orang tertawa dan cekikikan hanya Taivarr yang masih tak tertawa.


Vesius hanya bisa ikut tersenyum.


*Kebohongan yang bagus* ,batin Vesius.


"HahahahahaHAHAHAHAHAHAA!" ,tertawa semua orang bahkan beberapa tak bisa berbicara saking kuatnya mereka tertawa.


Perut beberapa orang mulai terlihat kesakitan karena tertawa.


"Jadi kau bilang kalau tuduhan Pendakwa hanyalah berdasar rasa iri saja?" ,ucap Taivarr.


"Iya" ,ucap Jilla dengan cepat.


"HAHAHAHAHAHAHAHHAHA!" ,tawa mulai memenuhi ruangan ini.


Anak-anak muda hanya bisa terdiam malu sedangkan Pendakwa Burrarr hanya bisa mengepal tangannya dengan kuat karena malu.


*Kau bodoh nak...kau bodoh..* ,batin Vesius sambil melihat Pendakwa diantara tawaan.


"HAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAH" ,tawa terbahak-bahak hampir semua orang dikeramaian.


Pendakwa dan teman-temannya yang mendampinginya waktu pidatonya hanya bisa terdiam malu.


Bahkan beberapa anak muda keluar dari ruangan ini dengan amarah.


Vesius hanya bisa membiarkan mereka belajar kalau dunia ini lebih gelap daripada yang mereka kira....


Sedangkan tawa memenuhi ruangan ini melihat seseorang yang mencoba menjadi pahlawan...dan hanya berakhir sebagai orang bodoh...


.


.


.


.


.


.


_____-_-______


.


.


.


.


.


Terbangun seorang wanita dari kasurnya...


Selimut menutupi wanita tersebut sedangkan disamping terdapat pria telanjang.


Pria tersebut terlihat dadanya yang berbulu dan wajahnya yang berjenggot.


Wanita tersebut bangun dari kasurnya dan memakai pakaian merah tuanya.


Sigilnya bisa terlihat dipakaian merah tuanya........sebuah Sarung tangan besi dengan beberapa emas menghiasi Sarung tangan besi tersebut.


Wanita tersebut kemudian duduk disebuah kursi.


*hm, pakaianku berbau air anggur..* ,pikir Nona Harlaw sambil mencium pakaiannya.


*Tuk*Tuk*Tuk*


"Nona Harlaw" ,panggil Perrin dibalik pintu kamar tersebut.


"Masuk" ,ucap Nona Harlaw sambil mengambil segelas air anggur dari mejanya.


Masuk Perrin kedalam kamar dan menemukan Nona Harlaw duduk diatas kursi.


Terlihat Nona Harlaw memakai pakaian minim dengan pakaian yang hanya menutupi lengan dan bahunya tapi tidak dadanya dan perutnya.


Perutnya tetap cantik dan mulus meskipun sudah mengandung 3 anak didalamnya.


Terlihat Tuan Frudarr berbaring diatas kasur dengan tertidur nyenyak.


"Hm" ,gumam Perrin melihat Nona Harlaw, "sesuatu yang sudah kudengar dan kuduga dari dirimu Phierass"


"Kenapa Tuan Tangan kanan? Apakah masalah seorang janda memuaskan dirinya dengan tubuh pria lain?" ,ucap Nona Harlaw menatap Perrin dengan tajam.


Nona Harlaw kemudiang menyilangkan kakinya selagi duduk diatas kursi dan tersenyum dihadapan Perrin.


Perrin kemudian mengambil kursi kayu dan duduk diatasnya.


"Aku tidak masalah dengan aktivitas malam mu tapi aku masalah dengan kau yang mengontrol menteri keuangan Frudarr Garuman" ,ucap Perrin dengan tatapan yang lebih tajam menatap Nona Harlaw.


"Mengontrol? Apa maksudmu Tuan?" ,ucap Nona Harlaw sambil tersenyum.


"Kau mengambil hati Tuan Frudarr dan mengendalikan urusan keuangan yang harusnya dikendali Tuan Frudarr" ,ucap Perrin yang melihat kearah Tuan Frudarr yang tertidur nyenyak diatas kasur.


"Tenang saja Tuan, dia sudah kuminumkan obat 'Mimpi Indah'. Dengan itu dia takkan mudah bangun" ,ucap Nona Harlaw.


"Ya...sudah kuduga, aku hanya masalah dengan kau yang mengendalikan keuangan sekarang.." ,ucap Perrin dengan suara beratnya dan mengalihkan pandangannya keNona Harlaw.


"Aku mengendalikan keuangan? Aku hanya membantu Tuan Frudarr untuk masalah keuangan Tuan Perrin.." ,ucap Nona Harlaw sambil tersenyum.


Terlihat Nona Harlaw memegang perutnya yang mulus dan mengelusnya.


"Hahh..." ,Menghela nafas Perrin melihat Nona Harlaw, "aku hanya ingin kau tidak melangkah lebih parah lagi..akan kubiarkan kau mengendalikan keuangan tapi jika kau lebih dari ini maka kau sama saja berperang denganku"


"Perang? Hehe" ,tertawa Nona Harlaw mendengarnya, "perang dengan apa Tuan Perrin? Perang diatas kasur?"


"Dengan kertas atau bahkan mungkin pedang" ,ucap Perrin menatap tajam Nona Harlaw.


"Kita wanita tidak dirancang dengan perang dengan pedang tapi kita dirancang diatas kasur Tuan Perrin...tapi nampaknya kau lebih dirancang dengan perang dengan pedang Tuan.." ,ucap Nona Harlaw sambil menaikkan jarinya dari atas perut ke kedua belah p*yudaranya sendiri yang indah.


"Mungkin iya, aku tak pernah nyaman diatas kasur terutama jika ada orang yang menemaniku" ,ucap Perrin sambil ikut mengambil teko berisi air anggur dan menuangnya di gelas kaca.


"Ahh...lihat tangan kuatmu Perrin.." ,ucap Nona Harlaw sambil mengambil tangan Perrin dengan lembut.


Tapi Perrin kemudian dengan cepat menyingkirkan tangan Nona Harlaw.


"Fufu...kau tak tertarik dengan wanita atau pria Tuan Perrin?" ,ucap Nona Harlaw.


"Aku tak tertarik keduanya" ,ucap Perrin dengan kuat sambil menaruh tekonya dimeja sekaligus bersama gelas kaca.


"Mustahil...semua manusia tertarik sesuatu.." ,ucap Nona Harlaw.


"Aku tidak tertarik untuk memuaskan tubuhku diatas kasur, Nona Harlaw.." ,ucap Perrin.


"Terus apa yang membuatmu tertarik?" ,ucap Nona Harlaw.


"Tak ada, lagipula ketika sesuatu kosong maka itu hanya akan membebaskanmu untuk mengejar sesuatu lebih cepat" ,ucap Perrin.


"Sesuatu? Apa itu? Kekuatan? Keamanan? Apa poinnya jika tanpa tujuan? Sungguh anda adalah wanita yang menarik Tuan Perrin" ,ucap Nona Harlaw dengan mata biru lautnya menatap Perrin dengan kuat.


"Aku tak punya waktu untuk bermain kata-kata pintar denganmu Nona Harlaw" ,ucap Perrin dengan kuat.


Mata kuning kuat Perrin bersinar redup menatap Nona Harlaw.


"Aku juga tak punya waktu untuk menghadapi ancamanmu Tuan Perrin..." ,ucap Nona Harlaw, "oh iya...kau terlihat memakai armour? Mau kemana? Berperang?"


"Itu bukan urusanmu" ,ucap Perrin.


Terlihat Perrin dengan kuat berdiri dari kursinya.


"Ketika kau pergi kemedan perang maka kau butuh seseorang untuk menjaga rezim mu agar tak retak....karena dari pengalamanku seseorang yang jauh dimedan tempur tak akan mudah untuk melindungi kekuatannya dibelakang..Tuan Perrin" ,ucap Nona Harlaw sambil menggoyang-goyangkan gelas anggurnya.


Anggurnya terlihat bercahaya merah darah mengalir didalam gelas nya tersebut.


"Heh" ,tersenyum Perrin mendengarnya, "siapa yang aku butuhkan untuk menjaga rezimku dibelakang aku bertanya Nona Harlaw? Kau sudah kehilangan Pelabuhan Harlaw dan anak-anakmu...bukan cuma itu kau kehilangan gudang hartamu diPelabuhan Harlaw...dan kau ingin aku menaruh rezim ku ditanganmu?"


Mata Perrin setengah terlihat ingin memangsa Nona Harlaw tapi setengah lagi lebih terlihat menghinanya.


"Lalu siapa Tuan Perrin sang Gagak Hitam? Cleorah? Anak cantik berambut pirang yang mudah merajuk itu? Cyrus? Seseorang yang kau panggil idealis bodoh yang tak tahu apa-apa? Atau Regio? Seseorang yang berpengalaman tapi membencimu? Casca? Seorang serangga raksasa yang kau tak tahu kapan dia akan menyerang?...." ,ucap Nona Harlaw sambil berdiri secara perlahan dari kursinya.


*Orang ini....kenapa aku terkejut kalau dirinya tidak memercayai kalau kami adalah pahlawan..* ,pikir Perrin menyadari sesuatu.


Tubuh indahnya terbuka setengah, tapi sesuatu Perrin yang lebih perhatikan dan tertarik adalah Sigil Nona Harlaw dipakaiannya.....


Sarung Tangan Besi yang memiliki corak Emas Mewah dan Latar belakangnya yang memiliki Warna Merah Tua.


*Warna merah tua...warna yang haus kekuasaan..* ,batin Perrin.


Perlahan Nona Harlaw memegang tangan kuat Perrin yang dingin.


"Apa yang kau inginkan Tuan Harlaw?" ,ucap Perrin menatap tajam Nona Harlaw.


"Hanya beberapa jabatan untuk teman-temanku dan kekuatan untuk diriku...Tuan Perrin maka dengan itu aliansi antara kita akan terbentuk..." ,ucap Nona Harlaw.


Mata biru laut Nona Harlaw terlihat menakutkan sekaligus lebih hangat dari yang Perrin kira.


*Orang ini tak bisa kupercaya...tapi aku butuh dirinya disisiku untuk sekarang..* ,batin Perrin.


"Kita setuju..tapi jika kau mengkhianatiku....ingat kalau aku tak segan-segan menggantungmu didepan kastil Balradius" ,ucap Perrin dengan tatapan tajamnya sambil ikut memegang tangan Nona Harlaw.


"Fufu....aku juga begitu Nona Perrin....aku tak segan-segan menggantungmu didepan kastil Balradius jika kau berani mengkhianatiku" ,ucap Nona Harlaw dengan tatapan yang kuat dan berbahaya...bagaikan Tangan Besi memang muncul didalam matanya.


Keduanya hanya bisa tersenyum diakhir.


'Ketika wanita bertarung dengan lidah kadang kekuatan dari mereka lebih bisa terasa daripada pria yang bertarung dengan pedang.....'


Kata-kata Julius meringing dikepala Perrin...