Hannoic War

Hannoic War
Dewa Hitam (Part 22)



"Setiap orang yang membentang jaring laba-labanya untuk menangkap sesuatu bisa antara akan membawa dirinya kearah kejayaan atau penyesalan..."


-Vergil dibuku Aeneid


Dewa Hitam


*Sringgggggghhh!*


Suara pedang dikeluarkan dari sarungnya terdengar.


Dan terlihat pedang tersebut diarahkan kearah Charla dan Hanno.


"Siapa kalian?" ,bertanya salah satu dari prajurit bayaran yang naik diatas kuda dengan cepat.


Bisa dilihat bendera yang mereka bawa adalah bendera petir kuning pudar dengan latar belakang putih.


Charla tidak mengenal keluarga manapun yang memakai bendera itu..


*Prajurit Bayaran...* ,pikir Charla.


"Pedang...pisau..itu juga nampaknya bukan pedang biasa..ini pedang kualitas bangsawan. Siapa yang kalian layani? Angin Topan atau Burung Hantu?" ,bertanya prajurit bayaran tersebut sambil menoleh kearah perlengkapan Charla.


Ucapan tersebut membuat lidah Charla tersangkut, apa yang ia akan katakan? Kalau dia Charla Ohara? Palingan itu akan membuat mereka tertawa.


Jika iya mengaku sebagai Charla Ohara dia bisa saja ditangkap dan diserahkan ke pemberontak...dia tidak tahu prajurit-prajurit bayaran ini dipihak mana..


Kalaupun mereka tahu Iblis dari Ohara, tinta hitam Charla tak bisa dilunturkan begitu saja kalau baru dicat…tinta hitam yang Charla bawa merupakan pemberian bibinya..bukan tinta biasa…


Ia tak bisa menunjukkan rambut putihnya sekarang dengan tinta ini...


Butuh waktu lama dan bahkan mungkin ratusan tuang air..untuk melunturkannya kalau itu baru saja dicat.


Bagaimana dengan mata ungunya? Tapi ini adalah prajurit bayaran, mereka takkan tahu bagaimana penampilan siIblis dari Ohara itu.


Kebanyakan gosip tentang Iblis dari Ohara itu soal dia memiliki mata merah...tapi orang dibar itu..


Tapi kepada siapa pasukan bayaran ini berpihak? Geralda atau Victa?


Tak ada kemungkinan yang bagus dan jelas jika dia memberitahu kalau dia Ohara.


"Kami akan menyerahkan semua barang kami tuan, biarkan kami pergi tuan. Kami hanya ingin pergi keKota Jamatyr" ,ucap Charla dengan suara serendah petani sebisa yang ia bisa.


"Jamatyr kota ikan didekat Sungai Hitam itu? Hehehe, jauh sekali" ,ucap salah satu prajurit sambil menyengir.


"Kalaupun kau beri kami barang, itu tak berarti. Kami mencari mata-mata bukan makanan atau pedangmu, jawab aku perempuan...siapa dirimu?" ,ucap salah satu prajurit.


*Siapa aku? Aku Charla dari Keluarga Ohara...yang orang-orang panggil 'Iblis dari Ohara'...adik dari Vespasian Ohara dan Jean Berrau…* ,ingin Charla berteriak itu...tapi pengalamannya mengatakan tidak.


Charla tidak bisa mengatakan apa-apa, dia sudah mengatakannya kalau dirinya ingin kekota Jamatyr.


Apakah kebohongan yang lain bisa menyelamatkannya? Charla yakin tidak…


"Tunggu sebentar, coba aku pegang s*langkanganmu" ,ucap salah satu prajurit sambil turun dari kudanya.


"Bangs*t, kau itu tak normal ya? Kau suka lelaki ya!?" ,ucap salah satu prajurit dengan nada kasar.


"Hahahhahaha! Andai dia memang perempuan, sudah daritadi aku seret kehutan, tapi kurasa ini lelaki coba lihat cara dia berpakaian" ,ucap salah satu prajurit lagi.


Prajurit tersebut kemudian mendekat keCharla.


"Ayo berikan aku s*langkanganmu, kadang lelaki tak masalah memegang s*langkangan satu sama lain" ,ucap prajurit tersebut tersenyum.


"Demi Dewa Neraka nak, kau memang punya otak yang tak normal apa?" ,ucap salah satu prajurit.


"Diam, coba kita lihat dulu" ,ucap salah satu prajurit diatas kuda.


Charla hanya bisa berwajah pahit, dan merasa tak nyaman mendengarnya..


*Bagaimana ini?* ,pikir Charla.


Ratusan kali ia mengeluarkan pisau ia ratusan kali bayangkan dan ratusan kemungkinan ia juga ratusan kali ia membayangkannya.


"Ayo? Kau itu lelaki bukan? Bencong.." ,ucap prajurit yang mendekat keCharla sambil menawarkan tangannya.


Charla hanya bisa berwajah pahit..dan kemudian ia mencapai salah satu pisau dipakaianny-


*Sruk!*


"Hm!" ,gumam prajurit tersebut sambil langsung mencapai ************ Charla tanpa aba-aba.


Dan bisa dirasakan Charla rasa dikeraba oleh prajurit tersebut.


*Bbbash!*


Charla kemudian langsung mendorong prajurit tersebut dan memukulnya diwajah dengan pukulan kuat.


"Ahahahhaha! Aku betul! Dia perempuan!" ,ucap prajurit tersebut sambil terjatuh ditanah.


"Ohohoho! Akhirnya perempuan! Cantik pula!" ,ucap salah satu prajurit dengan tatapan haus.


"Daritadi sudah kutebak!" ,ucap salah satu prajurit lagi dengan wajah senang.


Ratusan pria yang menunggangi kuda didepan Charla memasang wajah yang sama…


Wajah yang sama…wajah yang sama dengan pria yang dibar itu,dengan pria yang dikamp,dengan orang Tyronia itu.


*Shhhrrringgggggg!*Shhhrrringgggggg!*


Suara pedang dikeluarkan dari sarungnya kali ini lebih banyak terdengar.


Puluhan hingga membuat Charla merasa kalah dan hampir pasrah.


"Ayo tenang aja! Aku janji main lembut!" ,ucap salah satu prajurit sambil turun dari kudanya dengan pedang ditangannya.


*Bagaimana ini?* ,pikir Charla.


Charla kemudian melihat kearah Hanno yang terlihat pucat dan lebih mual dari kapanpun ia mual.


*Hanno...Hanno...lindungi aku..* ,pikir Charla dengan pikiran yang hampir ingin memeluk Hanno seperti perawan yang ingin diselamatkan oleh seorang ksatria.


Tapi dihadapannya bukan ksatria melainkan anak muda mual yang trauma dan ketakutan hingga ketulang.


Charla menggapai pisaunya dengan wajah pahit...meskipun ia yakin ia kalah hari ini..


*Lebih baik mati dengan tusukan besi daripada daging panjang pria didalam tubuhmu* ,pikir Charla dengan wajah paling ketakutan dan pahit yang ia pernah pasang ketika pertama kali kemedan perang..


Kali ini dia tak memakai topeng...dia memang memakai wajah pahit dan ketakutannya…


"Kau ingin tahu siapa yang kami layani?!" ,ucap Hanno dengan tatapan setengah panik setengah tajam dan keringat membasahi wajahnya.


Charla terkejut mendengar Hanno berbicara…


*Dia ketakutan..* ,pikir Charla menyadarinya ketika melihat wajah Hanno..


Bagus...berarti dia bukan orang bodoh..


"Siapa yang kalian layani heh?" ,ucap salah satu prajurit dengan seringai ingin ketawa.


"Dewa..." ,ucap Hanno yang kemudian menutup mulutnya karena hampir mau muntah.


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


"Jadi ini mayatnya ya nona?" ,bertanya Tuan Flynn sambil melihat mayat kering tersebut.


Mayat tersebut sangat kering bagaikan sebuah mayat yang sudah dibiarkan selama berbulan-bukan.


Tanpa ada belatung memakannya..


"Iya" ,ucap Nona Harlaw menjawab Flynn, "kau ada tahu sesuatu?"


Nona Harlaw saat ini dikelilingi bodyguard dan penjaga terpercayanya disampingnya.


Flynn kemudian menyentuh sebentar kaki mayat kering tersebut dan menciumnya..


Mata Flynn terlihat melebar sedangkan pupilnya mengecil…


*Dia terkejut sekaligus ketakutan..* ,pikir Nona Harlaw.


"Bau...bau ini...tidak….tidak mungkin" ,ucap Flynn sambil menciumnya sekali lagi.


"Apa?" ,ucap Philip dari samping Nona Harlaw.


"Ini bau sihir...sihir bekas penyembuhan tingkat kuat….harusnya orang yang bisa menggunakan kekuatan sihir tingkat tinggi sudah tak ada sejak 200 tahun yang lalu..terakhir kali aku mencium ini dari peninggalan buku sihir buatan Hamarr 'sang Api Biru' " ,ucap Flynn sambil terus mencium tangan bekas menyentuh mayat tersebut


"Sihir penyembuhan? Apa maksudnya ini?" ,bertanya Nona Harlaw dengan kebingungan.


"Minta keluar semua bodyguard dan penjagamu dari ruangan ini Nona Harlaw" ,ucap Flynn dengan suara paling dingin yang Nona Harlaw pernah dengar dari dirinya.


"Apa maksudmu?" ,ucap Philip sambil memegang pegangan pedangnya mengancam Flynn.


"Philip keluar sebentar, tenang saja kalau ada apa-apa aku akan berteriak" ,ucap Nona Harlaw sambil memegang bahu ksatrianya Philip.


Philip sebentar hanya bisa berwajah pahit melihat Flynn, kemudian dia mengerti dan hanya mengangguk sambil keluar bersama bodyguard Nona Harlaw yang lain.


Ketika langkah kaki mereka terdengar menjauh barulah Flynn melihat kearah Nona Harlaw.


"Orang yang menggunakan pada manusia ini mengendalikan sihir penyembuhan dengan sangat stabil, hingga ia bisa mengontrol untuk mengubah sihir penyembuhan untuk menyedot semua darah didalam tubuh manusia ini kemudian dikonsentrasikan kesatu organ" ,ucap Flynn sambil membuka pakaian diperut yang dipakai mayat kering tersebut.


"Jadi itu kenapa tak ada bau dari mayat ini?" ,ucap Nona Harlaw.


"Tidak jika darah disedot maka dia tetap akan berbau" ,ucap Flynn sambil mengoyak pakaian mayat kering tersebut dengan susah, "engh..sihir penyebabnya, kadang jika membunuh seseorang dengan sihir dan menyisakan mayat. Maka mayat itu akan dikelilingi kekuatan mana hingga beberapa tahun membuatnya tak busuk maupun dihinggapi serangga"


Bisa terlihat pakaian mayat tersebut susah dibuka.


"Hm, mayat ini tak lama, hanya beberapa hari yang lalu, bagian dalamnya tak begitu dingin" ,ucap Flynn sambil terus mengoyak pakainnya.


Terlihat sebuah pakaian putih didalam setelah Flynn mengoyak pakaian luarnya.


Terlihat lambang pohon dan cincin...lambang Keluarga Gandaria dan Kerajaan Dalmatia..


"Hm...berita tentang dia menghilang selama 2 hari menjadi jelas.." ,ucap Flynn.


*Hanya sedikit orang yang memakai lambang seperti itu diistana ini…* ,pikir Nona Harlaw.


"Tuan Regio? Kenapa? Kenapa dia dibunuh?" ucap Nona Harlaw sambil menatap tajam mayat itu.


*Apakah ada sesuatu? Regio mengetahui sebuah rahasia sehingga ia harus dibunuh agar tak diketahui?* ,pikir Nona Harlaw.


"Aku perlu beritahu ini kepada Otoritas Pulau Suci Cyronia lewat surat dan merpati" ,ucap Flynn sambil berdiri secara perlahan, "ini melanggar peraturan penggunaan sihir lama, yang sudah ditulis sejak zaman sebelum penaklukkan Cassandra yang agung, sihir tingkat tinggi tak boleh dilakukan dengan cara begini"


"Tidak, merpati akan singgah keberbagai kota ataupun tempat tinggi untuk istirahat, mudah ditangkap dan rahasia ini akan diketahui" ,ucap Nona Harlaw.


"Terus apa yang kita akan lakukan? Hanya otoritas Pulau Suci Cyronia yang bisa menangani ini" ,ucap Flynn dengan menatap tajam mata Nona Harlaw.


"Tidak, jika pembunuh Regio pintar maka dia akan membunuh semua orang yang mengetahui kalau pembunuhan ini digunakan dengan sihir" ,ucap Nona Harlaw dengan roknya yang terkibas angin yang masuk perpustakaan seiring ia berdiri, "pembunuh Regio akan membunuh kita berdua jika rencana kita mengirim merpati itu ketahuan"


"Jika pembunuh Regio itu pintar, dia akan tahu kalau aku mengetahui banyak soal sihir dan langsung membunuhku" ,ucap Flynn.


"Beruntung dia tidak" ,ucap Nona Harlaw, "kau akan dijaga dengan bodyguard terbaikku"


"Kau pikir itu akan menghentikan penyihir pengendali tingkat tinggi ini? Cassandra yang Agung sudah membuktikan kalau ribuan pasukan tak berguna dihadapan kekuatan sihir sejak ratusan tahun yang lalu" ,ucap Flynn.


"Terus? Kau ingin aku apa? Membiarkanmu berjalan tanpa penjagaan? Jaga rahasia ini hanya untuk kita berdua" ,ucap Nona Harlaw.


"Kita ada surat untuk membawa Tuan Ratu dan semua Pahlawan untuk keibukota dari Tuan Perrin. Disana kita harus minta ijin dari Tuan Perrin untuk mengirim surat ini" ,ucap Nona Harlaw.


"Tidakbisa...bahkan kalau soal ijin pahlawan.." ,ucap Flynn.


"Kalau tidak, dia akan marah kalau mengetahui kita akan membawa Otoritas Pulau Suci Cyronia keistana Balradius tanpa ijinnya. Orang Cyronia takkan membantu kita kalau dimusuhi Tuan Perrin, Cyronia cuma peduli kasus pelanggaran sihir ini dan mengangkat sumpah netral kepada politik negeri manapun" ,ucap Nona Harlaw dengan tatapan tajam.


"Kenapa dia tak suka jika orang Cyronia Suci masuk ke Dalmatia?" ,bertanya Penyihir Flynn.


Terdiam mereka berdua sebentar..kemudian Flynn langsung mengerti..


"Dia takmau pahlawan lain dan dirinya sendiri diteliti, dia akan menjadi salah satu yang disangka terhadap pembunuh Regio. Dia tak mau ada gosip buruk makin beredar kalau Orang Cyronia datang ketempatnya" ,ucap Nona Harlaw.


"Tidak kita harus cepat soal ini...Semua negeri bisaditaruh diujung tombak karena ini, kita harus mengirim merpati kePulau Cyron-


"Dan merpati itu akan melewati laut kePulau suci Cyronia? Laut belum aman, Tuan Perrin mungkin sudah menghancurkan dan memukulkan angkatan laut Pemberontak. Tapi tak semua bajak laut akan meninggalkan pemberontak. Trivistane masih punya Brankas Harta Kota Harlaw punyaku. Dia bisa menyewa bajak laut dan pasukan bayaran kembali" ,ucap Nona Harlaw.


Flynn kemudian menelan ludahnya.


"Kau menjadi bodoh karena panik" ,ucap Nona Harlaw, "ketakutan itu boleh, tapi mengendalikan ketakutan adalah utama"


"Semua pahlawan akan dalam bahaya juga jika kita tak melaporkannya dengan cepat" ,ucap Flynn dengan dahinya yang makin mengerut.


"Jangan lupakan juga kalau semua pahlawan itu bisa saja yang melakukan pembunuhan ini, mereka bukan pahlawan asli Flynn" ,ucap Nona Harlaw.


"Kau tidak mengerti! Mereka lah yang akan menyelamatkan dunia ini! Aku melihatnya sendiri, semua temanku mati demi memanggil mereka Nona Harlaw!" ,ucap Flynn dengan tatapan setengah marah setengah sedih, "tak ada yang mengerti..mereka pahlawan asli Nona harlaw! Apakah pertempuran Api Hitam tak cukup membuktikannya?! Kau tak dengar kalau Tuan Perrin mengeluarkan sihir ditengah pertempuran untuk mengalahkan mereka"


"Apakah itu membuktikan mereka pahlawan?" ,ucap Nona Harlaw dengan dingin.


Flynn terdiam sebentar kemudian berdiri...


"hahh..sudah kuduga...kau tak mengerti" ,ucap Flynn sambil mengambil tongkatnya dan berjalan keluar.


Entahlah dunia ini masih gelap dan makin misterius...


Siapa yang akan datang dan mengendalikan benang dikegelapan masih belum terbuka..


Atau mungkin sudah?


.


.


.


.


.


.


.


____-_-____


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Berlayar sebuah kapal berisi perenang dan nelayan berlayar dilautan yang hancur akibat pertempuran Api Hitam…


Beberapa prajurit memakai armour dengan lambang Kraken didada mereka juga bisa dilihat atas kapal..


Tak ada prajurit yang berasal dari orang yang bertahan hidup dipertempuran Api Hitam…


Hanya prajurit baru yang direkrut karena kebanyakan prajurit terluka dan beristirahat.


Tapi hampir dari mereka semua memasang wajah yang sama..


Wajah terkejut dan ketakutan melihat lautan ini...


Hanya yang sudah melihatnya dua kali yang tak memasang wajah seperti kebanyakan.


Bisa dilihat…


Ratusan pecahan kayu mengambang diatas laut…


Tiang layar bisa dilihat dimana-mana..


Ratusan kain berlambang Kraken,Mahkota,dan ratusan bunga,binatang,juga benda mengapung dilautan..


Pecahan kapal bisa terlihat dimana-mana sepanjang mereka memandang..


Beberapa terlihat memiliki bekas bakar yang hitam hampir membentuk sebuah kayu arang raksasa..


Bahkan bisa terlihat beberapa ikan mengapung mati..


Terlihat ratusan tali dan papan mengambang dilautan..


Ketika mereka berangkat dari pantai, laut terlihat bersih dan biru indah seperti biasa...tapi ketika mereka kesini…


Mereka bahkan ragu kalau dahulu laut ini bersih dan biru juga sama seperti dipantai…


Beberapa air laut bahkan terlihat berwarna hitam dan dipenuhi ratusan serpihan kayu...


Kemudian terlihat sebuah tangan mati menyangkut disebuah pecahan kapal…


"Tak perlu pungut tuh tangan?" ,ucap salah satu anak muda.


"Hahahhaha, bego, emang kau tahu tangan siapa itu anjeng?" ,ucap salah satu pelayar berjanggut, "beberapa mayat saja, sudah tidak bisa kita kenali karena terlalu lama dilaut"


"Oi tuh! Ada mayat!" ,ucap salah satu prajurit menunjuk kepada salah satu bagian pecahan kapal.


"Ada 2 anjeng, kita tak kebagian sini semalam soalnya, kelihatannya banyak yang bakal diisi nih didek" ,ucap salah satu pelayar yang kemudian meminum segelas bir.


Bagi beberapa pelayar tugas memungut mayat itu membosankan, jadi mereka hanya tersenyum dan bersenang-senang untuk menghilangkan kebosanannya.


Tapi tak ada yang tersenyum atau bersenang-senang digolongan orang-orang yang pertama melihat laut setelah pertempuran ini…


Mereka masih terkejut…


"Aku tak tahu kalau laut bisa tercemar begini setelah pertempuran.." ,ucap salah satu prajurit sambil menelan ludahnya melihat lautan..


"Bagian ini tak dimasukkan ke lagu atau buku diperpustakaan bangsawan bukan? Tak ada yang banyak mau mencatat apa yang terjadi setelah perang, yang banyak peduli peduli cuma...Sstttarrregggeee...taakkkktekke..hahahahhahaahaha!" ,ucap salah satu pelayar dengan nada mengejek diakhir.


" 'Strategi' dan 'Taktik' maksudmu" ,ucap salah satu prajurit dengan tatapan tajam melihat pelayar tersebut.


"Iya hehe, semua jenderal dan komandan cuma bicarakan itu ditenda mewah mereka dan semua bencong cuma nulis itu dibuku mereka, dan setengah bencong lainnya baca itu" ,ucap pelayar tersebut yang kemudian menyeruput birnya.


"Hahahahhaa! Kau benar, palingan yang peduli cuma kerennya mukul dengan pedang atau komandan keren yang pintar dalam strategi, mana ada yang peduli dengan kayak gini. Kebanyakan cuma tahu waktu brutalnya ditengah-tengahnya pertempuran, mana yang peduli brutalnya setelah pertempuran heheh" ,ucap salah satu pelayar.


"Ribuan janda,ribuan anak yatim,ribuan mayat,ribuan orang cacat,ribuan tanah dihancurkan keindahannya, mana ada diajarkan dibbukkuu tennntteannhggg jjjeenndddrreeaall ttterrrabbbaikkk dalammmm ssjjjeaaarrraahhhkkk" ,ucap salah satu pelayar dengan nada menghina keluar dari bagian paling dalam tenggorokannya.


"Hahahhahahaaa!" ,tertawa beberapa pelayar dengan serempak.


"Buku 'tentang jenderal terbaik dalam sejarah', kenapa kau menghina apa yang kubaca?" ,ucap salah satu prajurit sambil mengerutkan wajahnya.


"Hahahahhahaahahhahaha!" ,tertawa terbahak-bahak hampir semua pelayar hingga beberapa jatuh ketanah.


"Bacot nak,...terserah apalah yang kau baca, aku aja tak tahu baca huruf yang penting aku tahu apalah yang dibuku itu, aku punya anak yang sering baca aneh kayak gitu heheh" ,ucap salah satu pelayar, "pertempuran itu bukan cuma kotak bergerak dan hurufnya diatas kertas bilang 'cara mengalahkan musuh terbaik dipertempuran' "


"Oi kalian! Kapan siapkan perahunya nih!? Mau angkut mayatnya tidak!? Banyak yang sudah dibawa ombak, makin banyak mayat yang sudah hilang nanti anjeng!" ,ucap salah satu pelayar dengan sambil menyiapkan perahu.


Beberapa pelayar kemudian bergerak dengan senyuman dan tawa diwajah mereka untuk menjauh dari bosannya tugas ini.


Beberapa prajurit hanya bisa memasang wajah terdiam melihat pelayar-pelayar tersebut.


"Tenang saja, kami akan cari kakakmu dilautan ini, siapa yang tahu kalau mayat itu kakak lelakimu nak" ,ucap salah satu pelayar dengan tersenyum sambil bersiap mengangkat perahu untuk didaratkan kelaut.


Pelayar itu tersenyum kepada salah satu anak yang muda hanya bisa merenung dari tadi.


"Tenanglah, kami akan temukan kemudian beri pemakaman yang bagus, katanya Tuan Pahlawan Perrin si 'Kraken Abu-abu' bakal adakan acara buat pemakaman untuk prajurit yang mati, ibumu akan bangga ketika kakakmu dimakamkan" ,ucap salah satu pelayar tersebut sambil menyiapkan tali.


Anak muda tersebut hanya terus merenung kemudian melihat lautan yang rusak ini…


"Apa itu…?" ,ucap anak muda tersebut mengerutkan dahinya melihat sesuatu dilautan.


"Apa?" ,ucap salah satu pelayar yang memperhatikan ucapan anak muda tersebut.


Anak muda tersebut kemudian menunjuk kearah sesuatu…


"B*ngsat.." ,ucap salah satu prajurit dengan wajahnya yang makin terkejut.


Semua pelayar dan prajurit ratusan kali terkejut melihatnya…


Ditengah-tengah lautan yang rusak...


Terlihat sebuah tiang salib kayu raksas..menjulang tinggi..


Besar dan tinggi…


Entah bagaimana ditancapkan didasar lautan....


"Anjeng...gimana caranya itu bisa ada disitu?" ,ucap salah satu pelayar melangkah diantara orang-orang terkejut kedepan untuk melihat lebih dekat.


"Ada orang anjeng dipaku ditiang salib itu!" ,ucap salah satu prajurit menunjuk.


Terlihat seorang kakek tua dengan armour besi dipaku tangannya disalib itu…


Darahnya bisa terlihat mengalir ditiang salib itu…


"Dekatkan kapal ini ke tiang salib itu! Dekatkan!" ,ucap salah satu prajurit dengan setengah terkejut setengah heran..


Ketika mereka berlayar mendekat bisa terlihat…


Tangan kanan kakek tua tersebut dipotong semua jarinya kemudian dipaku ditiang salib tersebut…


Tangan kirinya dipaku tapi tak ada jarinya yang dipotong…


Kedua kakinya sendiri dipaku menjadi satu ditiang tersebut..


"Oi pak! Oi pak! Kau masih hidup!" ,ucap salah satu pelayar.


"Bego dah matilah bodoh" ,ucap salah satu pelayar.


"Oh iya juga ya" ,ucap pelayar tersebut.


Kemudian..


Terlihat mata kakek tua tersebut terbuka..


"Tolongg…" ,ucap kakek tua tersebut dengan pelan..


"Oi! Masih hidup anjeng! Demi dewa Aurex! Masih hidup k*ntol!" ,ucap salah satu pelayar terkejut.


"Oi! Bantu oi! Panjat tuh tiang! Kasih tali kek!" ,ucap salah satu pelayar.


"Tolong.." ,ucap kakek tua tersebut dengan suaranya yang terdengar kecil dari jauh, "beritahu raja.."


"Apa!?" ,ucap salah satu pelayar mencoba mendengar apa yang dibilang kakek tua tersebut.


"Beritahu...raja...Trivistane.." ,ucap kakek tua tersebut dengan lemas.


"Dia bilang apa woi?" ,ucap salah satu pelayar.


"Beritahu raja Trivistane" ,ucap salah satu prajurit yang berhasil mendengar kakek tua tersebut.


"Anjeng, siapa dia? Prajurit musuhkah?" ,ucap salah satu pelayar.


Pelayar kemudian berbalik melihat kakek tua tersebut dan bersiap berteriak.


"PAK! KAU SIAPA?!" ,ucap pelayar tersebut berteriak menanyakan kepada kakek tua tersebut dengan tali ditangannya.


Kakek tua tersebut terdiam…


Kemudian mulutnya bergerak…


"Qharlan…aku Qharlan.." ,ucapnya dengan lemas.