Hannoic War

Hannoic War
Demi Darah,Pedang,Kematian (Part 9)



"Hati yang bersih dan indah memimpikan untuk pergi keatas diatas langit diatas ribuan awan, sedangkan Hati yang Paham dunia ini tahu kalau Kebenaran berada ratusan ribu lapis tanah jauh dibawah"


-Mushakashi Sikibu diLegenda Genji


Darah,Pedang,Kematian


Didepan Glent terpampang ribuan besi,daging,dan darah berbaris rapi...


*AAAOOOOOOOOOOOOOOO*


Suara terompet dari gading ditiup bergema diseluruh kamp ini.


Prajurit terlihat berbaris menunggu perintah komandan baru mereka.


*Menunggu perintah anak pandai besi..* ,pikir Glent sambil berdiri tegap didepan ribuan prajurit garda depan yang ia komando kan.


Keringat mereka bisa terlihat meskipun tubuh mereka dibalut besi dan kulit.


Disampingnya terdapat kuda yang disiapkan oleh pelayannya.


'Jenderal harus berdiri lebih tinggi dari pasukannya agar ia diketahui oleh prajurit yang ia komando kan, jadi pakailah kuda'


Ia ingat kata Vella saat berada ditenda itu.


Tapi entah kenapa Glent merasa gugup, dihadapan prajurit yang ia komando kan.


Suara obrolan mereka tentang dia mulai terdengar, beberapa dari mereka terdengar tidak terlalu menganggap Glent terlalu serius.


Beberapa bahkan terdengar tertawa dan bercanda didepannya.


"Tuanku kudanya sudah siap" ,ucap pelayan disamping Glent sambil memegang tali pemacu kudanya.


Glent sudah bersiap dengan armournya menaiki kudanya.


Mencapai pelana kuda tersebut dan naik.


Disini Glent bisa melihat betapa besarnya 4.000 pasukan, ia jadi ingat hari pertama ia dipertempuran waktu Aquantania.


Ia ingat diPerang Aquantania diPertempuran Pares tak menduga kalau 10.000 pasukan sebesar itu...ia tak menduga kalau 10.000 pasukan bisa menutup tanah bagaikan kumpulan semut seperti itu.


Diatas kuda Glent melihat ribuan tombak dan pedang, bahkan beberapa kereta suplai pasukan bisa terlihat disini.


*Apakah...aku harus memberi semacam pidato keren dan indah?* ,pikir Glent.


Tapi Glent sadar kalau ia tak bisa memikirkan hal semacam itu.


Dia hanya tahu bagaimana cara golongannya bawahnya berbicara....


Glent kemudian tersenyum.


"AYO MARI KITA AMBIL KASTIL FYRR ANAK-ANAK!" ,teriak Glent.


Beberapa prajurit langsung tersenyum.


Dan kemudian ratusan pedang dan senjata diangkat keatas oleh prajurit.


Beberapa prajurit langsung bersemangat.


Ratusan teriakan perang ikut mereka teriakkan.


"AHAHAHAHHAHAHAHA! MARI!"


"AYO!"


"GERALDA! GERALDA!"


"RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN!"


Glent kemudian mengendara kedepan dan ratusan prajurit mengelilinginya.


Dan mengikutinya dibelakang...


Terdengar suara teriakan ratusan manusia bagaikan kumpulan anjing mengonggong untuk mencari mangsa mereka....


.


.


.


.


.


.


.


___-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


"Aku mau pergi Elara, untuk berperang.." ,ucap Elric dalam sambil memeluk tubuh Elara yang lembut.


Elric bisa merasakan tubuh dan dada Elara yang lembut bersentuhan dengan tubuhnya.


"A-ah..ah...iya" ,ucap Elara dengan wajahnya yang memerah.


Elric kemudian menarik ringan tubuhnya dari Elara.


"S-satu ciuman kecil sebelum kau pergi" ,ucap Elara dengan malu-malu.


"Ya mungkin" ,ucap Elric yang menutup matanya menunggu Elara melakukan sesuatu.


"Aku yang harus melakukannya?" ,ucap Elara yang kebingungan.


"Ya...kadang kau yang harus melakukan aksi" ,ucap Elric sambil tersenyum kecil.


"Ta-tapi" ,ucap Elara dengan malu.


Elara kemudian bergerak dan bibirnya mulai mendekat kearah Elric.


Tubuh mereka semakin mendekat, sedangkan Elric mulai bisa merasakan rambut indah Elara ditangannya.


*Tuk*


Suara pintu terbuka terdengar.


"Maaf mengganggu tapi kita tak punya waktu lagi Elric" ,ucap Perrin sambil berdiri didepan pintu yang terbuka.


Terlihat dibelakang Perrin terdapat Willy yang kelihatan kaget melihat mereka berdua yang berpelukan.


Beberapa prajurit Perrin juga berada dibelakang Perrin menunggu tuan mereka.


Elric dan Elara kemudian berjauhan.


Wajah Elara merah padam dan menjauh ia dari Elric tanpa berbicara apa-apa.


Elric hanya bisa terdiam sambil menjauhkan tangannya secara perlahan dari tubuh Elara.


"Ayo" ,ucap Perrin sambil berjalan pergi dari ruangan ini.


Elric kemudian mengikuti Perrin dengan cepat.


Elara hanya bisa terdiam melihat Elric menjauh dari dirinya.


"Tuanku ada beberapa bangsawan yang sudah inisiatif untuk pergi sebelum kita berangkat, karena ketakutan atas kejadian Pesta Hitam kemarin tuanku" ,ucap salah satu prajurit melapor disamping Perrin.


"Sudah berapa kali aku dengar orang melapor itu? Aku sudah mendengarnya, pergi sana" ,ucap Perrin dengan nada kesal.


Terlihat Perrin memakai armour lengkapnya yang berwarna hitam.


Perrin juga terlihat menenteng helm berbentuk monsternya.


Willy terlihat cukup gugup dan mencoba gagah dengan berjalan disamping Perrin.


"Perrin" ,ucap Elric dengan kuat memanggil Perrin.


"Ada keluhan?" ,ucap Perrin yang langsung menoleh kearah Elric.


"Bisa kau bawa Elara bersamaku?" ,bertanya Elric.


"Tidak, aku tidak bisa" ,ucap Perrin langsung mengalihkan pandangannya dari Elric.


"Kenapa?" ,ucap Elric.


"Hahhh.." ,ucap Perrin yang kemudian berhenti berjalan.


Perrin yang berhenti berjalan membuat prajuritnya dan Willy juga ikut berhenti


Perrin langsung menoleh keprajuritnya memberi mereka aba-aba untuk langsung menjauh dari mereka.


Prajurit-prajurit itu kemudian menjauh dari Perrin menyisakan cuma 1 prajurit yang menjaga mereka bertiga.


"Apa yang satu ini bisa menjaga rahasia?" ,ucap Elric sambil menoleh ke 1 prajurit yang tersisa.


"Lidahnya dipotong" ,ucap Perrin dengan cepat, "tapi bukan dengan diriku"


Willy hanya langsung menelan ludah mendengarnya, sedangkan Elric langsung mewajarinya.


"Jadi? Kenapa kau tak bawa pahlawan lain selain kita berdua?" ,bertanya Elric.


"Apa gunanya Elara dimedan perang Elric? Dia bisa saja dilecehkan secara seksual jika kau kalah dipertempuran dan dia ditangkap musuh, kau tak memikirkan itu?" ,ucap Perrin dengan tatapan paling dinginnya, "bukan cuma itu? Apa kau pikir dia sudah bisa mengontrol sihirnya? Tidak, aku sudah melihatnya...dia tak bisa"


Elric hanya bisa berwajah pahit.


"Hanya kita berdua yang memiliki kekuatan sihir stabil saat ini, selain Willy. Ada beberapa yang lain, tapi tak sebegitu stabil kita bertiga" ,ucap Perrin sambil melihat helm berbentuk monsternya.


"Apa kau punya rencana perang? Bisakah kau katakan padaku?" ,bertanya Elric.


"Aku hanya membagikan rencana perang yang sesungguhnya kepada diriku sendiri" ,ucap Perrin sambil memakai helmnya.


Kemudian Perrin melihat kearah Willy.


"Apa tadi yang kau bilang kepadaku untuk mengaktifkan kekuatan sihirku?" ,ucap Perrin bertanya kepada Willy.


"The Magic Skill Activated: The Great Blackfire" ,ucap Willy dengan wajah yang sedikit serius.


"The Magic Skill-


"Ja-jangan katakan itu disini!" ,ucap Willy dengan panik.


"...aku mengerti" ,ucap Perrin yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Willy, "kau akan tetap disini Willy, sebagai bantuan untuk pahlawan lain. Kau lebih berguna bersama pahlawan lain daripada diriku"


Perrin kemudian lanjut berjalan kearah depan, dirinya kemudian diikuti prajurit bodyguardnya dan Elric.


Willy hanya bisa tertinggal dibelakang.


*Kadang merencanakan lebih mudah daripada melakukannya...* ,pikir Perrin sambil melihat tangannya yang bergetar.


Perrin mulai sadar...kalau ia ketakutan..


.


.


.


.


.


.


____-_-______


.


.


.


.


.


.


Trivistane berdiri didinding Pelabuhan Harlaw melihat laut yang membentang luas.


Suara burung yang terbang diatas laut bisa terdengar.


Matahari yang tenggelam bisa terlihat dengan mata telanjang.


Beberapa kapal sudah disiapkan dipelabuhan dengan awaknya yang bolak-balik menyiapkan barang.


"Berapa lama lagi kau akan siap Qharlan?" ,bertanya Trivistane dengan suara kerasnya.


"Malam tuanku, angin malam bisa membantuku untuk segera menyerang Sungai Lebah dengan cepat tanpa diketahui mereka" ,ucap Qharlan sambil menunduk dihadapan rajanya.


Angin sore yang dingin bisa mulai terasa bagi mereka berdua.


Bisa terlihat ratusan bendera dengan gambar mahkota dan pohon berkibar dipelabuhan ini.


"Angin malam kadang bisa membantu, tapi itu tak berguna karena seranganmu diSungai Lebah mudah ditebak. Mereka sudah siap dengan panah,api,dan ballista ketika kau masih duduk menunggu angin malam" ,ucap Trivistane sambil menyentuh dinding dingin Pelabuhan Harlaw.


"Mereka mungkin siap dengan panah,api,dan ballista, tapi mereka tidak siap untuk melawan kekuatan 100 kapal tuanku" ,ucap Qharlan sambil berjalan kearah Trivistane, "..mereka takkan menduga 100 kapal akan bergerak cepat dimalam hari...saat mereka sadar..itu adalah waktu dimana mereka sudah sekarat"


"Hm" ,ucap Trivistane sambil menguatkan rahangnya, "kelihatan kata buku seni perang dari peneliti diPulau Suci Cyronia tentang 'dimedan perang, pilihlah jalan yang tak terduga' memang hal yang bagus. Kurasa aku tak salah mengajakmu Qharlan untuk datang kesini"


Didepan mereka membentang ratusan kapal memenuhi lautan..


Ribuan awaknya sibuk bersiap dan bolak-balik merapikan kapal mereka...


Layar-layar kapal bisa terlihat dibuka oleh prajurit...


Perlengkapan mereka terlihat sudah disiapkan..


Ratusan bendera mahkota terbentang dilautan ini...


Qharlan melihatnya...dan sebentar ia bagaikan melihat 100 kapal memahkotai diri mereka sebagai raja..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tawa seorang wanita telanjang diantara jalanan ibukota sepi yang dituruni hujan.


Tubuhnya terlihat beberapa memar karena pukulan sedangkan wajahnya rusak.


"Hahahahahaha"


Tawa wanita tersebut bercampur dengan nada kegilaan dan sedih.


Hujan turun membasuhi tubuhnya yang rusak dan kotor.


Tapi kemudian terlihat sebuah air berwarna merah mengalir dijalanan ibukota..


Tapi itu bukan cuma air...warnanya berbeda...itu darah..


Darah tersebut terus mengalir dan mengalir..


Hingga kaki wanita tersebut tenggelam dengan darah.


Tertawa terus wanita tersebut hingga darah menenggelamkannya.


Kemudian semua ibukota ditenggelamkan dengan darah....


Hingga mayat rakyatnya bisa terlihat mengambang dibanjiran darah bagaikan mayat...


Ratusan senat...


Bahkan bangsawan...


"Akh!" ,teriak Charla terbangun sambil berbaring ditanah.


Suara burung berkicau dipagi hari bisa terdengar ditelinga Charla sedangkan suara aliran sungai masih tak berubah.


Pepohonan hutan yang tenggelam dalam kabut pagi bisa membentang sepanjang Charla memandang.


*Ibukota yang tenggelam darah tadi...itu mimpi?* ,batin Charla menyadari sesuatu.


Suara api unggun yang membakar kayu terdengar.


Suara benturan piring dan gelas besi juga ikut terdengar.


Saat Charla membalikkan pandangannya ia bisa melihat Hanno menyiapkan sarapan dengan seekor kelinci ia bakar diatas api unggun.


"Ohh...hai" ,ucap Hanno dengan suara tenangnya.


Charla kemudian menoleh kesekelilingnya mencari seseorang.


Charla berdiri dengan perlahan memperhatikan kesekelilingnya bagaikan hewan ketakutan.


"Dimana kakak?" ,bertanya Charla kepada Hanno dengan suara bisik-bisik.


"Dia sudah pergi, dan memberiku daging kelinci dan pisau ini" ,ucap Hanno dengan cepat sambil memotong daging kelinci yang sudah dibakar dengan pisau besi.


Hanno terlihat memotongnya dengan rapi dan menaruhnya diatas piring.


"Makan?" ,ucap Hanno sambil mengarahkan sebuah piring kayu kearah Charla.


Terlihat terdapat daging kelinci diatas piring tersebut.


Charla kemudian membersihkan pakaiannya yang kotor karena semalaman berbaring diatas tanah.


Terlihat beberapa bagian pakaiannya basah dan terkena lumpur, tapi itu masih lebih bersih daripada saat ia bersama Vespasian dipegunungan Hitam.


Berjalan Charla kearah Hanno.


Kemudian ketika dekat, Charla mengambil piring yang ditawarkan Hanno secara perlahan.


*Cara memasak kelinci ini...rapi..dia nampaknya bukan pertama kali membakar kelinci...* ,batin Charla sambil melihat daging kelinci itu.


Charla kemudian duduk disamping Hanno sambil memakan daging kelinci bakar buatan Hanno.


*Rasanya enak..dan lembut bisa dibilang..meskipun dagingnya sedikit, tapi ini enak dimakan* ,batin Charla sambil mengunyah daging kelinci tersebut.


Charla tak tahu siapa Hanno, tapi kakaknya membicarakan tentang potensi anak ini terus menerus selama ia membicarakannya dikota Ballerius.


Apa yang Jean mau dengan anak ini? Apa yang Jean cari didalam diri anak ini? Apa yang ia maksud saat 'tumbuhkan dia menjadi sesuatu yang aku inginkan'? Itu masih misteri dikepala Charla.


Sudah beberapa puluhan tahun sejak runtuhnya Faksi Violet, Charla tak mengetahui banyak apa yang terjadi diibukota tapi ia tahu kalau kakaknya berubah ratusan kali lipat setelah kejadian itu.


Charla tak pernah menyukai politik, bagi Charla setiap orang yang benar-benar tenggelam didalam politik….mereka menjadi berbeda...mereka semua berubah..


Bahkan kakaknya sekalipun..


Kakaknya mulai terlihat tidak pernah tersenyum tulus, semua senyumannya aneh dan ada nada palsu didalamnya.


Jean masih ceria...tapi cerianya tidak pernah lagi tulus. Ketika Jean menceritakan tentang Hanno, baru Charla lihat senyuman Jean yang benar-benar tulus sejak runtuhnya Faksi Violet.


Tapi senyuman itu....bukan lagi senyuman tulus yang Charla lihat saat ia bermain dengan Jean saat kecil...senyuman itu..penuh dengan kegilaan...


"Apa nona tak mau memakannya?" ,bertanya Hanno.


"Ah? Tidak, aku mau memakannya" ,ucap Charla yang kemudian melihat kelinci bakar yang sudah dipotong dipiringnya.


Hanno hanya diam dan kemudian bergerak mengambil teko berisi air bersih.


"Hanno...boleh kutanya kau darimana?" ,bertanya Charla.


Kakaknya mengatakan kalau ia cuma datang dari desa diperbatasan tapi pasti ada sesuatu yang lebih dari itu.


"Aku datang dari desa diperbatasan" ,ucap Hanno dengan cepat.


*Ada nada kebohongan diwajahnya* ,batin Charla.


"Katakan yang sebenarnya" ,ucap Charla meragukan hal tersebut.


"Aku sebenarnya melupakan dimana tempat tinggalku" ,ucap Hanno sambil menuangkan air dari teko kegelasnya.


"Apa itu kebohongan..?" ,ucap Charla sambil melihat mata Hanno.


Charla kemudian menyadari sesuatu.


Tangan Hanno dibalut sesuatu....kain yang Charla berikan diKota Ballerius..terlihat kain tersebut cukup penuh dengan darah dan tanah.


"Kau apa yang terjadi pada tanganmu?" ,ucap Charla bertanya sambil berdiri dan menaruh piringnya ditanah.


Hanno terus menuangkan air kegelasnya meskipun tangannya kelihat kesusahan.


"Oi berikan aku tanganmu sebentar" ,ucap Charla mendekat keHanno dan menarik tangan Hanno untuk melihatnya.


*Kain ini sudah kotor, infeksi nya bisa parah kalau terkena lumpur dan dibalut kain seperti ini* ,batin Charla.


Charla kemudian melututkan satu kakinya..


Dan membuka kain tersebut dengan cepat.


"Sakit?" ,ucap Charla.


"Iya" ,ucap Hanno dengan cepat.


*Terus kenapa kau tenang?* ,batin Charla ingin mengatakan itu tapi ia menahannya.


Ketika kainnya terbuka, terlihat tangannya yang dibagian jari kelingkingnya yang terlihat dipotong sesuatu terdapat sebuah infeksi.


*Luka ini....kapak?* ,pikir Charla mengenali luka seperti ini.


Darah beku bisa terlihat dibagian luka nya yang potong....


Bahkan tulang terlihat didalamnya.


Nanah ada tapi tak begitu banyak.


*Ini...sudah cukup parah..* ,batin Charla sambil mengambil sesuatu dari pakaiannya.


"Ini sebentar saja..sabar...jangan berteriak terlalu banyak atau nanti mungkin ada beberapa orang kesini" ,ucap Charla sambil mendekatkan pisau ketangan Hanno.


*Aku tidak ingin ada orang kesini...bisa saja mereka bandit atau mungkin prajurit yang dikomando Vespasian untuk mencariku* ,pikir Charla.


Pisau semakin dekat dengan jari Hanno.


"Boleh kutanya sekali lagi darimana asalmu?" ,ucap Charla.


"Aku lupa dari mana aku tinggal" ,ucap Hanno.


"Manusia tidak langsung muncul dari tanah dan datang keseorang wanita sebagai muridnya" ,ucap Charla.


"Aku kehilangan ingatan" ,ucap Hanno.


Charla mulai merasa tidak enak, dia mulai mengingat kalau ia hanya anak biasa yang dibawa oleh Jean kedirinya.


*Itu...tak sopan untuk langsung menanyai darimana orang tinggal..dan mengatakan kalau ia berbohong* ,ucap Charla.


"Jika kau ingin tetap berada muridku dan berada disisiku maka aku katakan peraturannya" ,ucap Charla.


Charla kemudian sadar kalau pisaunya sudah menyentuh jari Hanno.


"Aku aturannya Hanno" ,ucap Charla dengan tatapan tajam kewajah Hanno.


Charla sadar kalau Hanno wajahnya tak berubah dan masih tenang.


Tapi Charla tahu anak ini mendengarkan...


"Jika kau ingin pergi, pergi sekarang....aku yang akan memberitahumu apa yang akan kau lakukan..aku yang akan mengajarimu caraku....caraku tak tertulis dikisah dongeng soal ksatria atau perang....aku mengukirnya berdasarkan pengalamanku sendiri" ,ucap Charla sambil berdiri perlahan dan mata tajamnya menatap Hanno.


Mata Charla berwarna merah dan ungu bisa terlihat bersinar redup dihutan ini.


Hanno duduk dengan tangannya yang Charla masih memegangnya.


"Kau jadi jadi muridku dan ucapkan sumpah murid atau pergilah dari sini, mana yang kau pilih?" ,ucap Charla.


"Aku akan mengikutimu, itu saja" ,Hanno dengan tenang dan dengan wajah datar tanpa emosinya.


*Kakak...bayang-bayangmu masih bisa berasa dibelakang tubuh anak ini..mungkin aku harus menghilangkannya dan menumbuhkan anak ini menjadi seorang ksatria yang bermoral...aku harus menjauhinya dari jalan Vespasian..* ,batin Charla menyadari sesuatu.


Mata Hanno lebih kosong saat ini...


Tapi saat berada diKota Ballerius matanya memiliki aura yang sama dengan mata Vespasian didalamnya.


Mata yang seperti mata beruang mencari mangsanya.


Tapi Mata Hanno berbeda terutama untuk saat ini, lebih dalam dan misterius daripada Vespasian....dan lebih kosong.


*Tunggu...kenapa kakak membawanya? Apakah dia anak haram Vespasian? Mungkin....tapi dia lebih berbeda dari Vespasian....rambutnya warna hitam dan mata Hanno itu coklat gelap..apa mungkin dari ibunya? Tapi siapa ibunya?* ,pikir Charla dengan ratusan pertanyaan muncul dikepalanya.


Tubuhnya Hanno sendiri berbeda dari Vespasian.


Hanno tubuhnya yang kurus dan postur badan yang Charla tak pernah lihat seumur hidupnya dimanapun.


Hanno berotot tapi tak begitu banyak, sedangkan disekitar matanya terlihat memiliki kantung menandakan kalau ia memiliki jam tidur yang cukup berantakan.


Sedangkan kulitnya lebih lagi berbeda dari Vespasian, memang Hanno berkulit putih tapi kulitnya bukan putihnya Keluarga Ohara dari Vespasian.


Tapi untuk saat ini..Hanno adalah Hanno...jika memang dia anak dari Vespasian maka Charla punya alasan lebih untuk mengangkatnya sebagai murid..tapi kalau tidak...dia tetap akan dijaga karena kakaknya yang memercayakannya keCharla.


Kakaknya....bukan Jean Berrau..kakaknya yang sesungguhnya..bukan Jean yang gila..


"Apa kau hafal sumpah angkat murid?" ,ucap Charla.


"Sumpah angkat murid?" ,ucap Hanno.


"Ya sumpah angkat murid...kakakku waktu mengangkatmu sebagai murid kau ada ucapkan sumpah angkat murid bukan?" ,ucap Charla sambil memegang tangan Hanno.


"Tidak...dia cuma hanya mengangkatku begitu saja" ,ucap Hanno.


*Dasar kakak..* ,pikir Charla.


"Hahh...kalau begitu aku ucapkan dan akan kusuruh kau ikuti" ,ucap Charla sambil berdiri didepan Hanno.


Hanno sendiri sedang duduk dan melihat dari bawah kearah Charla yang berdiri.


" 'Aku Charla anak dari Blourr dari keluarga Ohara mengangkatmu untuk mengikutiku,melayaniku,merawatku,mendengarkanku,dan melindungiku saat diperlukan..demi dewa yang lama dan baru....aku perintahkan kau untuk menjadi muridku' " ,ucap Charla dengan suara kuat.


Charla kemudian menarik nafasnya untuk tenang sebentar.


*Sumpah ini sakral...tak ada jalan kembali..Hanno akan menjadi muridku dan akan berhenti menjadi muridku saat aku setuju atau kematianku* ,pikir Charla.


"Ikuti aku Hanno, 'Aku menerima pengangkatanmu sebagai muridmu dan mengikutimu, melayanimu,merawatmu,mendengarkanmu,dan melindungimu saat diperlukan...demi dewa baru dan lama' " ,ucap Charla.


" 'Aku menerima pengangkatanmu sebagai muridmu dan mengikutimu, melayanimu,merawatmu,mendengarkanmu,dan melindungimu saat diperlukan...demi dewa baru dan lama' " ,ucap Hanno.


*Bagus..* ,batin Charla.


" 'Kau akan datang kepadaku saat kuperintahkan dan bertarung demiku disisiku saat aku memanggilmu, kau hanya boleh melawan panggilan untuk bertarung disisiku saat keluarga,dewa,dan kematian berdiri ditengah-tengah antara kita berdua' " ,ucap Charla.


Entah kenapa Charla sedikit semangat, ia tak pernah punya murid dan menolak semua tawaran bangsawan untuk mengangkat anak mereka sebagai murid atau bodyguard Charla.


"Ikuti aku, 'aku setuju untuk bertarung disisimu dan menerima panggilanmu...kecuali saat keluarga,dewa,dan kematian berdiri ditengah-tengah antara kita berdua' " ,ucap Charla.


" 'aku setuju untuk bertarung disisimu dan menerima panggilanmu...kecuali saat keluarga,dewa,dan kematian berdiri ditengah-tengah antara kita berdua' " ,ucap Hanno.


" 'aku Charla dari Keluarga Ohara mengangkatmu sebagai muridku mulai hari ini hingga hari berhentinya sumpah ini berlaku..' " ,ucap Charla.


Mata Hanno tidak bersinar,bergerak,berkedip...matanya kosong dan dalam serta gelap bagaikan jurang.


Tapi sebentar matanya mulai memiliki aura didalamnya...tapi Charla tidak bisa menjelaskannya apa itu...


"Ikuti aku, 'aku Hanno akan menjadi murid mulai hari ini hingga hari berhentinya sumpah ini berlaku'.." ,ucap Charla.


" 'aku Hanno akan menjadi murid mulai hari ini hingga hari berhentinya sumpah ini berlaku' " ,ucap Hanno dengan suara tenangnya.


"Ikuti aku terus berbicara sampai akhirnya 'Bersumpah diriku demi dewa yang baru dan yang lama' " ,ucap Charla


" 'Bersumpah diriku demi dewa yang baru dan yang lama' " ,ucap Hanno


" 'demi darah' " ,ucap Charla.


" 'demi darah' " ,ucap Hanno mengikutinya.


" 'demi pedang' " ,ucap Charla.


" 'demi pedang' " ,ucap Hanno.


" 'dan demi kematian' ,ucap Charla.


" 'dan demi kematian' " ,ucap Hanno.