
"Setiap orang yang membentang jaring laba-labanya untuk menangkap sesuatu bisa antara akan membawa dirinya kearah kejayaan atau penyesalan..."
-Vergil dibuku Aeneid
Topeng Berdaging
Duduk Willy dikasurnya...matanya kosong...matanya setengah mata mayat dan setengah mata orang putus asa.
"Kakiku…" ,ucap Willy sambil melihat kakinya.
Zamrut didahinya masih bercahaya sedangkan hati orang yang memakainya tidak.
Willy adalah orang ceria dan ketika ia bangun dirinya yang ceria langsung mati.
Ketika dibuka selimutnya bisa terlihat kakinya yang hanya tinggal pahanya..
Willy kemudian memandang kedepan..dengan tatapan kosong..
"Aku tak bisa berjalan lagi seumur hidupku…" ,ucap Willy sambil menggeser sesuatu didepannya yang tak terlihat..
*Dia melihat layar digitalnya...sayang sekali aku tak dapat melihatnya..* ,pikir Cleorah sambil berdiri dengan mata menyesal.
Cyrus hanya berdiri didepannya terdiam bagaikan batu, matanya lebih serius ratusan kali daripada biasanya.
Beberapa pahlawan juga ada diruangan ini, Szeth terlihat yang paling menyesal.
"Aku lari...aku lari...harusnya aku bisa melawan Orc itu.." ,ucap Szeth dengan menggigit bibirnya.
*Szeth adalah salah satu yang paling cepat berlari, dia memang jadi pengecut disaat itu...tapi dia bukan orang bodoh, dia yang paling pintar ketika melihat ratusan tengkorak dan Orc besar itu dia langsung memerintahkan beberapa pahlawan untuk berlari..dia tahu kalau kita tak bisa melawan..* ,pikir Cleorah sambil mengigit bibirnya.
Cleorah rasanya mau menangis...ketika dia melihat Cyrus..dia mau bersandar didada Cyrus dan menangis….bukankah itu yang paling diinginkan seorang lelaki?
Kadang Cleorah berpikir juga kalau pria lah yang paling ingin jatuh menangis didada seorang wanita...dan wanita tersebut berkata dengan nafas manis..
'kau sudah melakukan yang terbaik..'
"Tidak" ,ucap Elara dengan suara yang terasa lebih kuat daripada pahlawan lain, "i-ini bukan salahmu, ada ra-ratusan tengkorak disitu dan satu Orc itu saja kita bahkan mungkin tak melawannya..kita tak tahu itu…."
*Apakah dia benar..?* ,ucap Cleorah sambil menggigit bibirnya lebih kuat.
Cleorah kemudian mencubit lengannya…hingga rasa sakit terkuatnya…tapi tak sampai berdarah.
Jika Cleorah melihat tangannya memakai gelang mewahnya sekarang, dia pasti akan mencubitnya hingga berdarah.
"Tidak aku yang salah...aku harusnya menggunakan skillku dengan bijak...tapi aku gunakannya saat terlambat…" ,ucap Cyrus sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Kali ini Cleorah menggigit bibirnya hingga berdarah..
Darahnya bisa dirasakan turun didagunya.
Cintanya...Cyrus tidak salah...Cyrus tidak pernah salah…..Cyrus...
"T-tidak aku..yang salah" ,ucap Sera dengan suara gugup dan sekaligus sedih, "aku harusnya-
"Aku mau pergi mengunjungi ratu" ,ucap Cleorah sambil keluar dari kamar ini dengan wajah yang pahit.
Cleorah berjalan keluar dilorong istana ini sambil mengelap bibirnya yang berdarah..
Terlihat darah menodai pakaian dilengannya.
Cleorah kemudian jatuh ketanah berlutut dengan kedua kakinya..menutup matanya...
Dia ingin menangis kali ini...lebih kuat ratusan kali dari yang tadi..
Bagi Cleorah ini bukan sesuatu yang bisa ditanganinya...39 pahlawan yang kehilangan arahnya...atau tinggal 36 sekarang..
Kemudian orang dibalik insiden Pesta Hitam…
Dia harus berhati-hati dengan siapapun kecuali teman-temannya..
Kemudian mayat itu diperpustakaan itu….
'Jangan beritahu atau bilang siapapun termasuk pahlawan, aku akan bilang kepada bodyguard terloyalku. Mayat ini harusnya baru, bagaimana mungkin lapisan perpustakaan yang tak begitu dalam ini tak diketahui mayat didalamnya, Tuan Flynn pasti tahu sesuatu dia tahu soal mayat seperti ini' ,ucap Nona Harlaw.
Cleorah tak bisa memikirkan semua itu bukan? Dia hanya anak 17 tahun….
Tapi kenapa Perrin bisa? Kenapa Perrin bisa? Dia sama umurnya dengan Cleorah kenapa Perrin yang punya beban lebih berat bisa?
Kenapa…?
Cleorah membayangkan Cyrus akan memeluknya dari belakang dan mengatakan semanis-manisnya....
'kau sudah melakukan yang terbaik..'
"Cleorah?" ,ucap Tuan Ratu Voa dengan suara lembut anak kecilnya.
"Perrin..Tuan Ratu.." ,ucap Cleorah berbicara tapi ucapannya dipotong tangisan yang ia tak bisa tahan.
*Tuan Ratu Voa? Tidak Tuan Ratu tidak harus disini...Tuan Ratu harusnya dikamarnya...Tuan Ratu bisa dalam bahaya..sejak Pesta Hitam Perrin sudah memerintahkan anda untuk tetap didalam kamar..* ,ingin mengucapkan itu Cleorah tapi malahan dia menangis.
Tangisannya bersuara kecil...Cleorah bahkan yakin tak ada yang mendengarnya.
Air tangisan Cleorah ditahan dengan pakaiannya..
"Tuan Perrin?" ,gumam Tuan Ratu tak mengerti.
Perrin pasti akan marah melihat Cleorah...Perrin sudah memercayainya dengan teman-temannya dan Cleorah sudah menghancurkannya…
"Perrinn…" ,ucap Cleorah sambil menangis..dia tak bisa menahannya…
"Tuan Perrin menang nak" ,ucap Nona Harlaw muncul dari belakang kursi roda Tuan Ratu.
*Tuan...Perrin..menang..?* ,pikir Cleorah mendengarnya.
"Tuan Perrin telah menghancurkan angkatan laut pengkhianat dan pemberontak Trivistane di laut sekitar Sungai Lebah. Hampir semua angkatan lautnya sudah hancur, laut sekarang punya kita...untuk sementara.." ,ucap Nona Harlaw dengan suara dewasanya, "ada perintah Tuan Perrin dari merpati kalau kita akan keibukota"
"Kei..bukota?" ,ucap Cleorah dengan suara yang tak karuan karena menangis.
"Kau menangis nak? Kau tak perlu menangis dengan lama, aku sudah pernah disituasi itu. Tuan Perrin sudah memenangkan pertempuran dan kita bersama Yang Mulia Ratu akan pindah keibukota. Disana Tuan Perrin akan kembali menstabilkan kembali Dalmatia dan melangsungkan keadaan" ,ucap Nona Harlaw sambil berjalan melewati Cleorah yang masih berlutut terjatuh menangis, "itu saja, aku tak punya urusan lagi. Siapkan teman-temanmu dan Tuan Ratu untuk berangkat"
*Perrin...Perrin kau selalu yang terbaik diantara kami..* ,pikir Cleorah sambil mengelap tangisannya.
"Nona Cleorah sudah dengar? Orang menjuluki pertempuran itu 'Pertempuran Api Hitam' loh! Ada lagunya mau dengar? Lagunya cukup bagus" ,ucap Tuan Ratu dengan semangat terlihat ia ingin menceriakan Cleorah.
*Jika Perrin disini dia takkan menangis..* ,pikir Cleorah.
Perrin akan berdiri tegap dan terdiam sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Perrin takkan menunggu ksatria atau seorang pahlawan untuk memeluknya dan menyelamatkannya.
Atau bahkan Perrin takkan membuat seorang ksatria menyelamatkannya.
Perrin telah memutuskan untuk menjadi ksatria itu sendiri…
Cleorah kemudian berdiri perlahan…
"Mahluk jahat datang~ Datang dari tanah jahat untuk menghancurkan tanah kita~"
Bernyanyi Tuan Putri dengan suara manis mudanya..
Cleorah memutuskan untuk takkan menangis kali ini…
"Ksatria datang menyelamatkan kita~ Berlayar mereka dengan berani~"
Kaki Cleorah lemah saat ini...dan dia takkan membiarkan seorang pria mengangkatnya......dirinya sendiri yang akan mengangkatnya..
"Naik mereka diatas kapal~ Bersedia mereka meninggalkan istri dan keluarga mereka demi menyelamatkan kita~"
Wajah Cleorah terasa sakit setelah mengelap tangisannya tapi Cleorah membiasakannya…
"Sihir Api Hitam terbang keangkasa oleh Sang Pahlawan menyelamatkan kita semua~"
Cleorah memutuskan untuk memasang wajah Perrin...wajah stoic..wajah kuat..wajah menatap tajam kedepan...wajah yang tak memedulikan banyak hal disekitarnya untuk menjadi kuat…
"Kapal Putih bertabrakan dengan Kapal Penjahat dan menyelamatkan kita semua~"
Cleorah memutuskan untuk memasang sesuatu yang tak pernah dipasang Perrin..
"Lautan menjadi bersih kembali~ Diselamatkan oleh Pahlawan~"
Senyuman…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
_____-_-______
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Berjalan Charla ditanah sambil diiringi beberapa prajurit bayaran dengan armour kulit berkuda disekitarnya.
Hanno berjalan dibelakangnya dengan langkah kaki tenangnya.
"Cih coba kau bukan pendeta sudah lama kuperkosa" ,ucap salah satu prajurit bayaran melihat kearah Charla dengan tatapan ingin meludah.
Charla hanya bisa menatapnya dengan tatapan lemas untuk berpura-pura...
"Tak usah bodoh, kau mau dikutuk ama dewa apa? Ngeperkosa pendeta?" ,ucap salah satu prajurit yang membawa bendera pasukan bayarannya....
'Petir Siang' nama kelompok pasukan bayaran ini, Charla mendengarnya tadi dari obrolan prajurit bayaran ini.
Charla kemudian melihat kebelakang, dia melihat kearah Hanno, terlihat tatapannya yang datar dan tenang.
*Terima kasih Hanno..* ,ingin Charla mengucapkan itu tapi dia tak bisa sekarang.
Ia ingat beberapa saat yang lalu..
'Kakakku Helena adalah pendeta dan aku sedang mengantar kakakku kekerabat jauh kami diKota Jamatyr agar dirinya bisa aman' ,ucap Hanno dengan wajah yang hampir tak terlihat berbohong..tapi pada faktanya dia berbohong..
'Terus kenapa dia menyamar sebagai lelaki?' ,ucap salah satu prajurit meragukan ucapan Hanno.
'Aku takut kakakku diperkosa karena kami dengar ada berita kalau ada Prajurit Bayaran yang memerkosa pendeta, jadi aku mau menyamarkannya kakakku' ,ucap Hanno.
'Hah, kalau begitu darimana kalian dapat barang-barang kualitas ini?' ,ucap salah satu prajurit.
'Kami dahulu melayani bangsawan kecil tapi bangsawan itu mau memerkosa kakakku, makanya kami lari dan membawa barang-barang yang kami bisa. Itu alasannya tuanku agar kami bisa kekota Jamatyr dengan cepat' ,ucap Hanno.
'pendeta yang mencuri ei?' ,ucap salah satu prajurit.
'kakakku melawan ideku untuk lari dan membawa barang-barang, tapi aku tetap membawanya demi bertahan hidup...aku hanya ingin menyelamatkan kakakku tuan-tuan' ,ucap Hanno.
Beberapa prajurit hanya bisa tersenyum dan terdiam mendengar cerita mereka.
Kemudian salah satu prajurit bayaran berkuda maju kedepan melewati teman-temannya yang lain.
'Apa kakakmu tahu soal ilmu medis? Pendeta biasanya bisa' ,ucap prajurit berkuda tersebut kedepan.
'Iya, setidaknya perawat ditempat kami bisa bertambah, prajurit yang terkena penyakit makin tambah banyak' ,ucap salah satu prajurit yang berjalan.
Hanno hanya terdiam berwajah datar seperti biasanya...tapi dari gerakan pipinya Hanno mau tersenyum...tapi ia tak bisa..
'Bisa' ,ucap Hanno.
Charla merasa bersyukur membawa Hanno...ratusan kali lebih bersyukur dari yang tadi…
Charla akui memang Charla sendiri tak pandai berbohong…
Dia bersyukur membawa pembohong bagus kali ini….
Charla kemudian melihat kearah Hanno..
Dengan senyuman ia menatap Hanno..
Terdengar suara langkah kaki kuda mendekat, tapi kali ini suara langkah kaki kudanya lebih keberjalan.
Terlihat ada rombongan prajurit lain yang mengarah mereka dari samping.
"Yo siBibir besar" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan pasukan ditempat Charla berada sambil tersenyum.
Terlihat rombongan tersebut membawa bendera yang sama..…bendera Petir Siang.
Tapi mereka membawa tawanan dan petani yang lebih banyak daripada rombongan yang Charla ikuti.
Terlihat ada belasan? 20-an? 30-an? Charla tak bisa menghitungnya sekarang.
Tapi Charla hanya bisa melihat kumpulan petani itu memiliki wajah yang ketakutan,sedih dan mata mereka...mata kosong..mata yang hampir mirip seperti mayat.
"Bangs*t kau Katak, kalian dapat apa?" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan lain terlihat prajurit itu mendapat julukan 'Bibir Besar' memang karena memiliki bibir yang menonjol kedepan dan selalu menunjukkan giginya.
"1 pendeta dan 1 saudaranya pendeta" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan Charla.
"Pendeta? Mungkin bagus untuk menambah berkah dari dewa kepada orang sakit perut dikamp" ,ucap Bibir Besar sambil tersenyum.
"Sedikitnya, cuma 2 orang? Tumben" ,ucap salah satu prajurit dirombongan lain.
"Kalau kalian dapat apa?" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan Charla.
"Sekelompok penduduk desa yang bersembunyi dihutan ini" ,ucap salah satu prajurit dirombongan lain tersebut.
Tapi terlihat petani dan tawanan yang bawa itu hanya terdiri dari pria...ada wanita….tapi cuma nenek-nenek..
"Mana perempuannya? Kalian sudah perkosa dan gantung ya?" ,ucap prajurit yang dijuluki 'Katak' oleh prajurit dari rombongan lain.
"Ya, kau ini langsung bisa nebak saja" ,ucap Bibir Besar sambil tersenyum.
"Heh, aku adukan kau kejenderal loh, jenderal sudah ngegantung beberapa pemerkosa loh~" ,ucap salah satu prajurit dirombongan Charla dengan nada jahil.
"Kau juga nanti kena gantung kalau aku adukan, kau pernah juga ngeperkosa. Toh kalau kita perkosa dihutan begini, jenderal gak akan tahu" ,ucap Bibir Besar sambil menarik dengan tali salah satu petani yang ia tawan.
"Heh, jenderal-jenderal selalu berpikir kalau ngegantung yang ngemerkosa bakal buat prajurit lain kapok. Padahal banyak yang tak tahu kalau itu bisa disembunyikan hehehe" ,ucap salah satu prajurit diatas kuda dirombongan Charla.
"Sayang sekali yang kalian tawan itu pendeta, kalau tidak sudah kuperkosa" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan lain sambil melihat keCharla.
"Kena kutuk kau, kalau memerkosa pendeta" ,ucap salah satu prajurit dari rombongan Charla.
"Ayolah kita sudah dikutuk dineraka dengan ngeperkosa" ,ucap salah satu prajurit dirombongan lain.
"Ngeperkosa wanita masih bisa diampuni, tapi ngeperkosa pendeta takkan diampuni dewa, sikomandan bilang itu" ,ucap Katak.
"hm, kau terlalu mengikuti apa yang komando bilang, mari kita pulang kembali kekamp" ,ucap salah satu prajurit dirombongan Charla.
Kemudian prajurit tersebut maju dengan kudanya kedepan membuat rombongan Charla bergerak mengikutinya.
Rombongan lain kemudian mengikuti mereka dibelakang. Dan kemudian petani yang dibawa rombongan lain tersebut bertemu dengan Charla dan Hanno.
"Kalian pendeta? Dewa mana yang kalian sembah?" ,ucap salah satu anak lelaki petani bertanya kepada Charla.
"Diriku Helena Pendeta Dewa Laut yang terbesar dan terkuat dan yang paling berkuasa" ,ucap Charla dengan wajah se-fanatik yang ia bisa.
"Ohhh...ohh……." ,ucap anak lelaki petani itu kemudian kehabisan kata-kata dan terdiam.
Charla tak memedulikannya dan melihat kedepan.
Charla perlu bermain berpura-pura sebagai 'Helena' hingga ia merasa aman, aman kalau prajurit bayaran ini berada dipihaknya.
Charla sendiri bersyukur pasukan yang ia temui adalah pasukan bayaran Petir Siang yang berdarah Victa bukan Geralda atau yang lain, orang Victa tak suka menyinggung dewa orang lain dan menyerang pendeta agama lain.
Orang Geralda dan berbagai golongan lain sendiri tidak, Orang Victa lebih suka mentolerasi dewa agama lain, dan memperbolehkan siapapun memeluk agama apapun.
Daripada memperbolehkan..lebih tepatnya mungkin 'tidak peduli'...
Charla melihat kearah Hanno...Charla penasaran Hanno berdarah apa...Victa..Tyronia..Geralda..Damaltia atau Legata?
Hanno juga ternyata pandai berbohong dan lebih pandai mengarang daripada dirinya...
"Kakak" ,ucap Hanno dengan suara lembut sambil melihat kearah Charla.
*Hah!?* ,pikir Charla dengan wajah memerah terkejut.
"Maafkan aku tadi kak, apakah kakak tidak apa-apa?" ,ucap Hanno dengan suara penuh rasa sayang.
Wajah Charla makin memerah hingga dirinya tak bisa berkata-kata.
Charla tak menyangka suara Hanno bisa semanis ini jika dilembutkan.
"A-aku tak apa-apa" ,ucap Charla dengan suara lemahnya.
Charla mencoba menenangkan dirinya..
Charla bahkan tak ingat kalau ini berpura-pura…
Beberapa prajurit mulai melihat kearah mereka, tapi tak ada yang melihat dengan nada curiga.
*Bagus…* ,pikir Charla.
"Apakah kakak kedinginan? Aku bisa beri jubahku" ,ucap Hanno dengan suara lembutnya sambil memegang jubahnya bersiap untuk memakaikannya kepada Charla.
*Sial..* ,Ingin Charla berteriak tapi dia tak bisa.
Hanno berpura-pura terlalu bagus...terlalu bagus...untuk sebentar Charla hampir berpikir kalau dia punya seorang adik…
Charla ingin melihat kewajah Hanno…tapi untuk sebentar ia tak bisa..
"Aku...aku tak apa.." ,ucap Charla dengan wajah memerah.
"Baiklah.." ,ucap Hanno, "..kak"
Berjalan terus mereka dengan Charla yang tak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi...dan menginginkan mengulangi yang terjadi lagi…
*Itu berpura-pura Charla…itu pura-pura..* ,pikir Charla sambil melihat sekelilingnya..
Terlihat nampak tak ada petani yang curiga padanya, tadi ada sedikit nada curiga dari pandangan petani kedirinya..
Sekarang tak ada..
Prajurit pun hanya tak memedulikan mereka tanpa banyak curiga.
Charla menatap Hanno dan dia melihat rambutnya yang tebal berwarna hitam arang…
Ingin tertawa Charla.
*Itu pura-pura Charla..* ,pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
____-_-_____
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kastil Fyrr bisa terlihat dari jauh...dengan tower tingginya menjulang tinggi seperti biasanya.
Dinding tebalnya berwarna putih yang sudah mulai pudar.
Terlihat 16 towernya yang memiliki namanya masing-masing yang menjulang tinggi.
Dan kemudian Vesius mengalihkan pandangan kesampingnya…
Terlihat dari jauh sebuah benteng pengintai yang terbuat dari kayu dan batu.
*Ddruduk*Ddruduk*
Terlihat sebuah kumpulan pengendara kuda dengan membawa bendera Keluarga Garius datang kedirinya.
Terlihat armour kulit dan bendera burung hantu yang lumayan kusam berkibar kencang.
Berkuda mereka kearah Vesius dan ksatria-ksatrianya.
*Hm, pakaian dan bendera kusam itu...nampaknya Kastil Fyrr dan area disekitarnya sudah mulai tak terawat* ,pikir Vesius.
Ayahnya Vesius sendiri sedang sibuk memimpin negara dan mencoba memenangkan perang.
Sedangkan orang yang bertugas menjaga Kastil ketika Vesius dan Ayah Vesius pergi juga katanya sedang sakit.
*Ddruduk*Ddruduk*Ddruduk*
Mendekat rombongan prajurit yang membawa bendera tersebut kearah Vesius.
Ketika mendekat semua prajurit cukup dekat hingga mereka bisa melihat wajah Vesius.
Mereka semua terdiam bagaikan kebingungan.
*Kenapa kalian?* ,pikir Vesius sambil melihat salah satu dari mereka menganga melihat Vesius.
Kemudian prajurit-prajurit itu melihat satu sama lain.
Salah satu dari mereka kemudian mengendarai kudanya lebih kedepan mendekat kepada Vesius.
"Maafkan aku tuan, ada apa datang kesini?" ,ucap prajurit yang mendekat itu.
"Ini rumahku kan? Apa tak masalah jika aku datang kesini" ,ucap Vesius dengan tatapan kuat, "apa kalian belum dengar kalau 14.000 pasukan akan datang kesini?"
"Sudah tuanku" ,ucap prajurit itu dengan wajah yang masih terlihat kebingungan.
"K-kami dengar akan ada bantuan dari ibukota...ta-tapi kami tak tahu kalau Tuan sendiri yang akan datang" ,ucap salah satu prajurit mengendarai lebih mendekat lagi.
Vesius hanya terdiam dan melihat wajah mereka semua yang terlihat berdebu dan juga kotor.
Bahkan kebanyakan dari mereka tak memakai armour besi melainkan hanya armour kulit saja.
Salah satu dari mereka sangat basah hingga dari kaki hingga kepinggangnya.
"Kenapa kalian ada yang tak memakai armour besi?" ,ucap Vesius.
Prajurit-prajurit kemudian melihat satu sama lain kembali.
"Katanya tak ada lagi batang besi yang cukup tuanku untuk perang, kebanyakan armour besi sudah diambil buat front bagian depan" ,ucap salah satu prajurit.
*Hm, karena perang terus membara diperbatasan dan ada pemberontakan kebanyakan prajurit penjaga kastil tak dipedulikan* ,pikir Vesius.
"Yang disitu kenapa basah?" ,ucap Vesius bertanya kepada prajurit yang terlihat basah.
"Saya dari 'Benteng Air Gunung' yang kebanjiran tuanku, bendungan Sungai Batu katanya rusak dibagian utara" ,ucap prajurit itu.
"Kebanjiran sampai menenggelami bentengnya?" ,bertanya Vale.
"Tidak tuanku, hanya bagian benteng bawah yang kebanjiran dan becek, tapi kami tidurnya dibagian bawah tuanku, siang ini baru kebanjiran besar, jadi saya dan teman-teman saya baru pindah tadi keBenteng Wyne " ,ucap salah satu prajurit.
*Apakah segitunya...sampai banjir pun tak dipedulikan..* ,pikir Vesius.
"Kembali kebenteng kalian, kau yang basah tetap diBenteng Wyne bersama teman-temanmu dan tunggu perintahku. Aku sendiri akan keKastil Fyrr" ,ucap Vesius.
"Baik tuanku" ,ucap salah satu prajurit sambil membungkuk.
Kemudian Vesius mengendarai kudanya sedangkan rombongan ksatrianya mengikutinya dari belakang.
Sedangkan prajurit-prajurit itu mengendarai kuda mereka kembali kebenteng mereka masing-masing.
Note: Kastil Fyrr memiliki benteng sendiri disekitarnya untuk mengumpan ataupun mengintai keadaan Kastil disekitarnya, ini membantu banyak Keluarga Garius dalam menjaga dan memerintah wilayah ini.