
"Kau tidak punya ide berapa lama kau terbang sampai kau mengepakkan sayapmu"
-Napoleon Bonaparte
Badai dan Dewa lama
"Oi nona, bangun" ,ucap seorang prajurit membangunkan Jean dari tidurnya.
"Emmm..." ,bangun Jean dari tidurnya diatas kereta dirinya tertidur karena mengantuk diatas kereta sepanjang malam.
Cahaya pagi terlihat terang dimatanya dan burung-burung berkicau.
Terlihat Hanno turun dari atas kereta dan menyerahkan beberapa barang-barangnya agar diperiksa prajurit.
Terlihat buku sejarah Hanno pun diperiksa oleh prajurit.
"Oi lila! Kau periksa nih nona!" ,ucap prajurit memanggil teman perempuannya untuk memeriksa Jean karena merasa tidak enak meraba tubuh wanita.
"Iyalah sialan!" ,ucap prajurit wanita tersebut mendekat kekereta.
"Kau ini kasar sekali sebagai perempuan!" ,ucap prajurit pria tersebut sambil pergi menjauh.
"Diam! Pergilah sana makan roti!" ,ucap prajurit wanita tersebut sambil berjalan mendekat.
Kemudian prajurit wanita tersebut mendekat kearah Jean.
"Nona mari turun dari kereta, biar aku yang memeriksamu" ,ucap prajurit wanita tersebut dengan sopan.
Jean turun dari keretanya.
*Hoammm...* menguap Jean karena mengantuk.
Jean merenggangkan badannya sambil diperiksa oleh prajurit wanita tersebut.
Terlihat Hanno menjawab pertanyaan interogasi prajurit.
Sedangkan Ayah Filda menguap didepan kereta, sambil dirinya duduk dengan kuda didepannya.
"Kau bangun lebih awal dari diriku, nampaknya Hanno" ,ucap Jean.
Jean kemudian menguap sebentar selagi pasukan wanita memeriksa seluruh badannya.
Hanno hanya diam dan dengan dingin dirinya naik kekereta kuda.
"Sudah buk" ,ucap prajurit wanita selesai memeriksa Jean kemudian ia memeriksa sesuatu dari tasnya, "ini buk, kertas sertifikasi masuk kekota nya."
Prajurit wanita itu kemudian menyerahkan Jean sebuah kertas surat dengan stempel dengan lambang tombak menembus pohon.
Lambang keluarga Redwine, keluarga yang menguasai kota ini.
Hanno dan Ayah Filda juga mendapat surat kertas tersebut.
Ayah Filda mencambuk kuda dan membuat kereta tersebut berjalan.
Dinding kota Ballerius terpampang dihadapan mereka bertiga.
Dindingnya berwarna hitam dan beberapa tower diatas terlihat.
Tower tersebut sedikit rusak tapi masih menjulang tinggi.
Dan mereka masuk kekota dengan kereta mereka sedangkan kuda Jean diikat dibelakang kereta.
suara kereta dan pijakan kaki kuda terdengar disekeliling mereka.
"Pak~ aku mau pergi ya~...karena aku ada urusan, terima kasih tumpangannya~" ,ucap Jean sambil menunggangi kudanya yang dari tadi malam diikat dikereta Ayah Filda.
"Untuk mengunjungi keluargamu yang bukan berasal dari keluarga Berrau kah?" ,ucap Ayah Filda didepan kereta sedang mencambuk kuda agar maju.
"Iya" ,jawab Jean, "dada...Hanno..sampai jumpa lagi"
Baru saja saat Jean melepas tali kuda nya yang diikat kekereta.
Kemudian terlihat prajurit lain dengan memakai lambang burung hantu muncul diarmournya muncul dan meminta para pedagang agar menyingkir.
"Permisi pak, silahkan menyingkir sedikit" ,ucap Prajurit meminta agar Ayah Filda menyingkir sedikit.
Ayah Filda terpaksa turun dan menarik kudanya.
"Ah..ck, baru aja kita pergi.." ,ucap Ayah Filda dengan kesal.
Terlihat pasukan berkuda berjalan dihadapan mereka bertiga dengan membawa bendera burung hantu yang dikibarkan.
Terlihat mereka berjalan melewati Ayah Filda dan Hanno yang turun dari kereta.
"Ada apa?" ,tanya Hanno.
"Ada bangsawan dari keluarga besar lewat, kita sebaiknya tak boleh protes" ,perjelas Jean.
Kemudian sebuah kereta tertutup lewat dengan bendera burung hantu terlihat berkibar secara besar dan bangga diatasnya.
"Ohh keluarga Garius, kupikir siapa ternyata tuan muda keluarga Garius yang lewat" ,ucap Jean menyeringai, "kau tahu keluarga Garius, Hanno?"
"Iya, itu keluarga yang sudah berumur ratusan tahun dari yang aku tahu" ,ucap Hanno dengan tenang.
"Iya ayolah~ jangan jadi membosankan~ beri aku tahu dari mana mereka berasal~" ,ucap Jean dengan nakal.
"Salah satu raja Victa bernama Amytilus ii menikahkan salah satu anak perempuannya keksatria yang menyelamatkan nyawanya dipertempuran bernama Maurar Garius, dan kemudian Maurar Garius tersebut diberi tanah, itulah bagaimana keluarga Garius lahir" ,ucap Hanno dengan cepat.
"Benar-benar~ muridku paling pintar~ dan kemudian? Apa yang dilakukan Maurar Garius itu kepada tanahnya?" ,ucap Jean sambil menepuk kepala Hanno.
"Dia membuat sebuah kastil besar dengan memaksa petani disekitar kastilnya untuk bekerja paksa dan ratusan budak yang ia beli, ia membuat tanah yang ia kuasai menjadi miskin dan populasi yang benar-benar berkurang" ,ucap Hanno sambil menoleh kepasukan berkuda yang berjalan.
"Ya benar~ raja Amytilus ii merupakan raja yang baik dan merupakan orang yang ramah terhadap siapapun yang melayaninya, tapi kemakmuran tidak bergantung kepada seorang raja melainkan bawahannya juga, ku harap kau belajar itu Hanno" ,ucap Jean dengan ceria dan nada yang sedikit dewasa.
"Ya aku mengerti" ,ucap Hanno.
"Jadi Maurar membangun kastil kuat bernama?" ,ucap Jean.
"Fyrr" ,ucap Hanno.
"Benar! Kau memang muridku~" ,ucap Jean sambil mengelus-elus kepala Hanno.
Hanno hanya kembali terdiam.
Roda kereta tersebut berputar melewati lumpur.
Sedangkan rakyat kecil memandangnya.
_______-_-________
"Sialan, aku terpaksa harus didalam kereta seperti ini lagi selama berbulan-bulan" ,ucap Vesius didalam kereta tertutupnya sambil memakan sebuah roti selai strawberry, "aku ingat saat pertama aku diangkut kekota Bavirias saat keperang Tyronia dengan kereta seperti ini" ,ucapnya.
"Tuanku apakah tak apa-apa membawa seluruh pasukan kita keibukota seluruhnya dan menyerahkan tawanan kita kekeluarga Ohara seperti ini?" ,ucap Wale meragukan keputusan tuannya.
"Kau pikir jumlah kita cukup untuk menjaga tawanan agar mereka tidak memberontak terhadap kita? Kita hanya punya 3.000 pasukan" ,ucap Vesius sambil mengambil segelas anggur, "lagipula kita sudah menjualnya dengan harga yang lebih murah kekeluarga Gerald dan Ohara, itu bagus untuk menambah keeratan keluargaku dengan keluarga kuat lainnya Wale."
"Baiklah tuanku" ,ucap Wale.
"Wale" ,panggil Vesius ke Wale.
"Apa tuanku?" ,jawab Wale.
"Kalau aku mati...apa yang aku wasiatkan kepadamu?" ,ucap Vesius sambil melempar koin silver keatas.
"Iya tuanku" ,ucap Wale.
"Jika aku mati....lindungi kastil kampung halamanku Fyrr dari musuh apapun" ,ucap Vesius sambil melihat koin silver yang berada ditangannya.
_______-_-________
"Ini adalah hukum dari dewa petir kepada kita!" ,teriak seorang pendeta fanatik agama penyembah dewa badai.
Pendeta dewa petir tersebut memakai pakaian serba hitam dan ia kalung bersimbol petir silver didadanya.
Sedangkan beberapa pengikut fanatik pun berdoa bersamanya dengan cara berteriak kencang.
"Mm?" ,tanya Hanno sambil menoleh kegerombolan pengikut dewa petir tersebut.
Ditangannya ia mengangkut kotak berisi kulit kering hewan yang akan dijual kepelanggan Ayah Filda.
"Mereka adalah pendeta fanatik penyembah dewa petir dan beberapa pengikutnya, kau baru pertama kali melihat yang seperti ini Hanno?" ,ucap Jean duduk disebuah kotak kayu dijalanan yang cukup berlumpur sambil menoleh keHanno.
Jalanan kota berlumpur dan orang-orang berkumpul ramai membeli bahan-bahan makanan atau barang-barang dipasar.
Terlihat rakyat biasa berbelanja dan orang-orang berteriak menarik pelanggan ketoko atau jualan mereka.
"Ikan murah! Ikan murah! Ikan murah" ,teriak salah seorang pedagang menarik pelanggan kejualan mereka.
"Kalau kau diLegata diselatan, maka kau akan melihat banyak pendeta fanatik penyembah dewi laut setengah ikan" ,ucap Jean sambil mengangkat tangannya dan meregangkan tubuhnya.
"Emhhhh.." ,ucap Jean meregangkan tubuhnya dengan imut.
Terlihat Hanno menaruh beberapa kotak barang-barang kekereta.
Dengan muka sedikit kelelahan Hanno duduk dikotak kayu cuma disebelah Jean.
"Kalau Ayah Filda menyembah dewa lama, dewa dari orang-orang Anglo bangsa buyut kuno" ,ucap Jean menoleh keHanno tersenyum sambil sedikit senang menjelaskan sejarah dan agama kemuridnya.
Hanno hanya diam dan bukan berarti dia mengabaikannya, dia mengerti dan mendengarkan setiap ucapan Jean.
Dan Jean tahu itu.
"Jadi? Dewa apa yang kau sembah Hanno?" ,tanya Filda menyeringai kemuridnya.
Hanno terdiam dan tak menjawab apa-apa sambil menoleh keJean.
Itu biasanya tanda kalau Hanno tak bisa atau mau mengatakannya.
"Baiklah~ tenang saja aku tak memaksamu punya seorang tuhan untuk disembah~ aku juga tidak punya tuhan disembah juga" ,ucap Jean dengan senang.
_______-_-________
"Kekacauan tengah merajalela dan salah satu orang terkuat diRepublik telah kembali keibukota, menyebabkan ketidakseimbangan politik diRepublik Victa" ,ucap seorang bangsawan pria sambil remaja menembak sebuah samsak dengan panah.
Disebuah lapangan terlihat seorang bangsawan bersama pelayannya berdiri.
Dibelakang mereka terdapat meja dengan banyak makanan serta buah diatasnya.
"tembakan yang bagus, tuanku" ,ucap pelayan tersebut dengan sopan.
Kemudian bangsawan tersebut tersenyum mendengar ucapan pelayannya dan menoleh kepada dirinya.
Pelayan tersebut juga tersenyum dan kemudian duduk dikursi.
"Pffff....kau terlihat aneh dasar bodoh, dengan ucapan yang terlihat sok sopan begitu" ,ucap bangsawan tersebut dengan wajah yang ramah.
"Haha..terlihat aneh ya?" ,ucap pelayan tersebut.
"Tentu saja bodoh, duduk kesini Glent jangan sok-sokkan seperti ksatria setia diluar sana" ,ucap bangsawan tersebut memanggil temannya sambil duduk dan memakan satu buah apel.
"Hm..seperti biasa, kau tak nyaman diperlakukan lebih tinggi daripada orang lain, Hasteinn" ,ucap pelayan yang dipanggil Glent oleh temannya tersebut sambil ikut duduk semeja dengan bangsawan yang merupakan temannya itu.
"Siapa kau? Panggil-panggil aku teman" ,ucap bangsawan yang dipanggil Hasteinn tersebut tersenyum bercanda.
"Anak sialan, kau tak ingat bagaimana kita bertualang dahulu dan aku menyelamatkan kau dari rusa" ,ucap Glent.
"Aku bercanda Glent, jangan marah" ,ucap Hasteinn.
"Jadi? Kenapa hal-hal politik atau apalah itu menganggumu?" ,ucap Glent sambil mengambil sepotong roti dari keranjang diatas meja tersebut.
"Kau taulah, aku ini bangsawan dan aku punya banyak masalah sebagai bangsawan, tidak seperti kau yang merupakan anak pandai besi" ,ucap Hasteinn memandang lapangan rumput membentang dihadapannya.
Sedangkan ia dan temannya duduk dibawah pohon yang teduh sambil duduk.
"Hm..padahal kau bisa meninggalkan keadipatianmu dan pergi bertualang denganku" ,ucap Glent sambil memakan roti.
"Aku tidak bisa meninggalkan keadipatianku kepada adik perempuanku yang lemah" ,ucap Hasteinn sambil menggaruk-garuk rambutnya.
"Jadi? Kepada siapa kau tinggalkan? Kau tau bukan itu sudah tradisi orang berdarah keluarga Hasral sepertimu untuk menjadi pemilik dari wilayah ini" ,ucap Glent sambil meminum segelas anggur.
"Aku tahu tapi aku tidak bisa meninggalkan keadik perempuanku yang lemah itu" ,ucap Hasteinn.
"Bagaimana dengan pamanmu? Yang menguasai 'Kastil dinding rusak' bukankah dia ahli dalam politik serta kharismatik, dia bisa memimpin Adipati Has ini setelah ayahmu mati" ,ucap Glent sambil meminum segelas lagi anggur.
"Dia tidak sepandai dalam politik seperti yang kau kira Glent, dia memang tahu politik, tapi dia tidak ahli dalam menggunakan kekuatannya dan juga dia orang lemah, bukan cuma itu dia tidak menginginkan untuk memerintah adipati ini" ,ucap Hasteinn.
"Hm..kau terlalu membanggakan dirimu sebagai politisian bahkan hingga meragukan kemampuan pamanmu sendiri" ,ucap Glent.
"Apa yang kau tahu soal pamanku Glent, aku sudah tahu bahwa ia akan mudah dikendalikan orang-orang ketika ia memerintah adipati ini sejak aku dan dia pertama kali bertemu" ,ucap Hasteinn mengambil teko berisi air anggur dan menuangkannya kegelas.
Air anggur mengalir kegelas dan ketika Hasteinn menaruh kembali tekonya kemeja, temannya Glent mengambil teko tersebut untuk menuangkan anggur kegelasnya sendiri.
"Jangan dihabiskan sendiri sialan, kau tahu betapa mahalnya anggur sekarang" ,ucap Hasteinn.
"Iya..iya..tenang saja aku tidak akan menghabiskannya" ,ucap Glent sambil meminum segelas anggur lagi, "Jadi? Apakah kau sibuk hari ini? Aku mau ajak kau kekota baru nanti."
"Hm? Ayolah, aku juga lagi tak sibuk" ,ucap Hasteinn sambil berdiri bersiap pergi.
"Dasar, kalau begitulah kau ganti pakaianmu seperti biasa aku akan menunggumu dipepohonan ditempat biasanya" ,ucap Glent berdiri.
Note:Lambang Keluarga Hasral.
Keluarga Hasral merupakan salah satu dari keluarga paling tua diVicta.
Keluarga ini telah berdiri sejak ribuan tahun yang lalu sebelum tunduk kepada Republik Victa.
Keluarga ini dahulu melayani Raja Geralda bukan Republik Victa tapi kemudian Geralda kalah oleh Victa.
Menyebabkan Keluarga ini berlutut kepada Victa sedangkan garis darah raja Geralda hilang dari dunia ini karena Victa mengesekusi semua keluarga raja Geralda.