Hannoic War

Hannoic War
Tempat Penuh Dosa (part 28)



"Kau mencoba membuat semua orang mencintaimu, kau akan berakhir sebagai mayat paling populer dikota"


-Ser Bronn of Blackwater


Tempat penuh dosa


Jalanan ibukota Victa menjadi cukup menyeramkan jika malam datang.


Jalannya menjadi gelap sedangkan suara mahluk hidup menjadi lebih misterius dan menakutkan.


Para petani dan rakyat biasa menutup rumah karena mereka takut akan pencuri.


Suara teriakan "pencuri!" kadang terdengar, tapi petani lain yang tak dicuri barangnya kadang tak peduli akan hal tersebut. Bahkan prajurit sekalipun hanya duduk tak peduli teriakan tersebut.


Para bangsawan juga lebih takut jika berjalan dimalam hari karena pembunuh bayaran bisa ada dibelakang mereka tanpa sadar.


Tapi tidak untuk Kalavvar, ia tak punya sesuatu yang ia takutkan jika ia mati.


"Hoaammm" ,ucap Kalavvar mengantuk sambil berjalan


Disampingnya terdapat Scerl yang mengawasi sekelilingnya, waspada akan situasi berbahaya yang mungkin terjadi.


Redrick yang ikut berjalan didepan lumayan ketakutan.


"Kita mau kemana pak?" ,ucap Redrick


"Hahahaha! Tentu saja ketempat minum nak! Kau pikir kemana lagi? Disana kita mungkin bisa dapat pelacur yang akan menghilangkan keperjakaanmu!" ,ucap Kalavvar sambil menggandeng Redrick dengan keras


"Aku tak sarankan itu pak-


"Bacot! Dari tadi siang kau terus menjadi membosankan saja terus menerus, aku mau pergi kesana dan memesan pelacur!" ,ucap Kalavvar memotong protes Scerl.


"Tapi pak, tuan muda Taitus memerintahkan anda untuk tak memesan pelacur" ,ucap Scerl


"Hahaha! Kau pikir aku akan mendengarnya?" ,tersenyum Kalavvar


"Tuan!?" ,ucap Scerl


Terlihat didepannya terdapat tempat minum diibukota yang terkenal dengan tempat yang bagus untuk memesan pelacur.


Tawa para pria dan wanita terdengar dengan hanya beberapa meter mendekat ketempat tersebut.


Tempat tersebut terlihat bersinar ditengah malam sementara perumahan disekelilingnya bagaikan sebuah rumah hantu kosong dan gelap.


Terlihat prajurit penjaga berdiri didepan pintu rumah bordil tersebut.


"Aku datang surga dunia~" ,ucap Kalavvar sambil menghirup udara dengan kencang hingga lubang nafasnya mengembang.


Sementara Rodrick sedikit sesak digandeng oleh tangan gendut Kalavvar dari tadi.


Kalavvar bahkan melompat kecil kesenangan.


Dia kemudian melempar sekantung uang kepada prajurit penjaga dengan santai.


Dan dengan cepat pintu dibuka dan mereka bertiga masuk.


Pria tertawa ***** dan rakus terdengar, membentang dihadapan mereka.


Suara nyanyian menambah rasa senang dan bahagia manusia menikmati dunia.


Terlihat puluhan pria bersenang-senang dan minum-minum.


Wanita-wanita pelacur pun juga ikut tertawa dan menikmati surga dunia.


Para wanita memeluk ***** pria dan ikut tertawa serta mendapat uang darinya.


Ada beberapa pria yang tak tahan dan bahkan melakukan secara langsung s*x diruangan secara langsung.


"Yahahahaha! Aku rindu hal ini!" ,ucap Kalavvar sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rocrick


Scerl hanya tersenyum pahit dan merasa tak enak dengan tempat ini.


"Oi nak! Kau lihat pose disana! Hahahaha! Cara orang selatan!" ,ucap Kalavvar sambil menunjuk sesuatu dengan tertawa dan menepuk pungguk Rodrick.


Terlihat beberapa pria dan wanita yang berpelukan dan melakukan pose aneh bergelantungan diatas dinding.


"Mari kita belikan pelacur paling bagus diseluruh Strantos untuk membuat k*nt*l perjakamu terbang nak!" ,ucap Kalavvar sambil memegang bagian kelamin Rodrick.


Scerl merasa tak nyaman dan tak enak dengan perlakuan Kalavvar dengan Rodrick.


Sedangkan Rodrick pasrah dengan perlakuan Kalavvar terhadap dirinya.


"Oi Belevena! Berikan anak perjaka disebelahku ini pelayanan terbaik!" ,ucap Kalavvar berteriak ke arah seorang wanita yang sedang mencium seorang pria.


Wanita tersebut bertubuh cantik, rambut merahnya membentang kearah pinggang menambah penampilan cantiknya terutama dada nya yang besar bisa membuat pria manapun ***** terhadap dirinya.


Seorang wanita tersebut kemudian berhenti mencium pria tersebut dan menjauh dari pria tersebut.


Sebelum ia menjauh terlihat ia menyentuh dada pria tersebut dengan lembut sebentar baru setelah itu pergi.


"Oh Kalavvar...apa kabar? Kau datang untuk layanan? Atau kau mau aku?" ,ucap Belevena sambil menjilat bibirnya.


"Tidak, aku tak mau dengan wanita umur 50 tahun sepertimu" ,ucap Kalavvar sambil mengambil sekantung air anggur dari pakaiannya dan meminumnya.


"Kau kan sudah pernah diincar pembunuh satu kali, mau kau kukirimkan satu lagi?" ,ucap Belevena tersenyum dengan bibir merahnya yang cantik


"Tenang saja aku takkan memberitahu rahasia ini kepada pria itu" ucap Kalavvar menoleh kearah pria yang tadi mencium Beleneva


Dengan senyuman sombong pria tersebut menatap wajah Kalavvar.


"Dia kelihatan menikmati pelayananmu" ,ucap Kalavvar sambil meneguk lagi sekantung anggur.


"Oh hai pria manis hmm...fufu" ,ucap Beleneva yang langsung mendekati Rodrick yang terlihat sedikit ketakutan


Beleneva kemudian memegang bahu Redrick dengan sentuhan sutranya.


Kemudian baru setelah itu Beleneva menyentuh perlahan dada Redrick hingga mencapai bagian bawahnya.


"Ohh...aku suka pria perjaka lemah sepertimu..aku suka mengajari mereka dan mendominasi mereka.." ,ucap Beleneva dengan nada nakal yang selembut sutra


"Berikan dia pelayanan terbaik Beleneva, itu keahlianmu, sedangkan bisa kau suruh salah satu pelayanmu untuk beri aku pelacur terbaik diseluruh benua ini" ,ucap Kalavvar sambil berjalan kearah pintu ruangan dimana biasanya ruangan khusus untuk pelanggan membeli pelacur


"Tidak untuk sekarang...ahhh...pintu itu sedang diserahkan kepada tamu khusus..ahh bagus nak ya lanjutkan" ,ucap Beleneva sambil memeluk Rodrick dengan erat sedangkan Rodrick sedang dibawa kedalam surga dada Beleneva yang besar


Scerl menjauh dari mereka berdua dan menolak wanita atau pria yang mendekatinya, dia juga memilih memesan air putih hangat daripada anggur.


"Tamu khusus? Siapa?" ,ucap Kalavvar


Kemudian terdengar suara pria dari pintu tersebut


Suara pria itu terdengar lembut dan keras bagaikan ayunan air yang jatuh kesebuah besi, suara yang Kalavvar ketahui dan ingat.


"Aku harap, ayahku punya rencana bagus untuk semua situasi darurat yang sedang kita hadapi ini, jika tidak maka kepalaku akan berada ditombak tahun depan" ,ucap pria tersebut


Pintu itu kemudian terbuka dan perut gendut pria tersebut terlihat, wajah tembam tapi alis hitam tebal serta mata hijaunya yang kuat benar-benar sesuatu yang membuat semua orang yang pernah bertemu dengannya pasti bisa mengetahui ia lagi ketika kedua kali bertemu.


"Ohh...kupikir siapa ternyata Vesius dari keluarga Garius siBurung hantu besar dan pemancang orang Tyronia" ,ucap Kalavvar tersenyum.


"Oh Kalavvar, kita bertemu lagi sudah berapa tahun kita tak ketemu" ,ucap Vesius ikut tersenyum.


"Kau sedang apa disini? Mencari pelayanan paling bagus?" ,ucap Kalavvar sambil meminum sekantung airnya lagi.


"Iya bisa dibilang begitu, aku juga mencari beberapa pelayanan pelacur untuk tamu baru ku, terutama untuk orang-orang bersinar Damaltia itu, aku harap mereka tak terlalu kuat untuk menolak pelacur terbaik diibukota ini" ,ucap Vesius.


"Memesan pelacur atau mata-mata?" ,ucap Kalavvar.


Vesius kemudian melihat sekelilingnya tapi yang ia lihat hanyalah orang mabuk dan bersenang-senang.


Tapi dimanapun diibukota selalu ada mata-mata, ibukota adalah tempat dimana ada orang-orang yang tahu setiap kapan kau kencing dan minum.


Tapi tentu saja ada beberapa mata-mata keluarga Garius disini.


"Kau kelihatan sehat, katanya kau diserang pembunuh beberapa bulan yang lalu. Hanya kau yang selamat dari pembunuhan. Jujur saja kau juga tak berubah dan masih blak-blakan seperti biasanya" ,ucap Vesius sambil berjalan mendekati Kalavvar dengan beberapa bodyguard dibelakangnya.


"Ya lagipula kau juga tak berubah sejak kita bertemu diTyronia" ,ucap Kalavvar.


"Ya, aku ingat semua yang terjadi disana. Itu hal terpenting yang pernah terjadi dihidupku" ,ucap Vesius.


"Perang itu punya banyak rasa senang untukku dan diperang itu aku mengukir nama untukku. Julukanku lebih terkenal dari julukanmu" ,ucap Kalavvar tersenyum.


" 'Peremuk Orang Tyronia' ,15 tahun setelah perang itu masih banyak yang membicarakannya. Padahal saat perang Tyronia dahulu banyak orang yang menakuti julukanku 'Pemancang Orang Tyronia'. Tapi sekarang sudah tak ada yang membicarakannya dan cuma palingan menertawainya" ,ucap Vesius sambil berjalan mengambil segelas anggur disebuah meja.


Terlihat terasa lega Vesius setelah meminum segelas anggur tersebut.


"Julukan dan reputasi adalah sesuatu yang paling liar dan tak terkendalikan didunia ini selain dari sihir" ,ucap Vesius setelah meminum segelas anggur.


"Hehehe...kau benar, lagipula akan ada banyak kesenangan hari ini.." ,ucap Kalavvar.


"Semoga menikmati malam ini Kalavvar...ohh.." ,ucap Vesius yang kemudian memperhatikan sesuatu.


Ia kemudian menoleh kearah Scerl yang duduk sambil meminum air putih.


"Aku ingat kau...kau ksatria Scerl dari keluarga Brock...orang yang membunuh Dackar anaknya 'Krakull Sirambut biru' dipertempuran Belevandum.." ,ucap Vesius mendekati Scerl


"Tuan muda keluarga Garius, maafkan ketidaksopananku karena tidak berdiri. Sungguh kehormatan jika tuanku mengetahuiku" ,ucap Scerl


"Vespasian pernah berbicara tentangmu, sungguh jarang melihat ia membicarakan orang lain" ,ucap Vesius sambil meminum segelas air anggur.


"Ahh" ,lega tenggorokan Vesius meminum air anggur tersebut.


"Kelihatannya kau menjaga orang seperti dia, harap bersenang-senang. Meskipun kurasa kau tak suka dengan tempat penuh dosa seperti ini" ,ucap Vesius sambil berjalan kearah pintu keluar dengan puluhan prajurit dibelakangnya.


"Tempat dosa kah..." ,ucap Scerl melihat sekelilingnya


Pria bernafsu dengan wanita dan Kalavvar ikut didalamnya, pesta dengan kenikmatan dunia memenuhi ruangan ini.


.


.


.


.


___-_-___


.


.


.


"Kau mau berjalan pulang bersama kami kah? Wanita sialan" ,ucap Ayah Filda dengan kesal.


"Ya emangnya kenapa?" ,ucap Jean dengan ceria sambil merapikan pelana kudanya.


"Kau ini...tidak takut diperkosa tengah malam kah?" ,ucap Ayah Filda.


"Kau pikir...kalian bisa memperkosaku?" ,ucap Jean tersenyum.


"Tentu saja iya, kau itu wanita..." ,ucap Ayah Filda yang seketika mengingat sesuatu.


Ayah Filda mengingat bagaimana Jean memegang bahu Hanno dengan sangat kuat hingga Ayah Filda tak bisa menariknya.


Ayah Filda menelan ludah dan merinding mengingatnya.


"Lagipula.." ,ucap Jean mendekat keAyah Filda.


Kemudian sambil tersenyum Jean memegang ************ Ayah Filda, senyuman dan reaksi aneh terukir diwajah Jean.


"Ah! Oi! Demi dewi lama Cerura dan anak-anaknya! Apa yang kau lakukan!?" ,ucap Ayah Filda dengan marah.


"Ohh..seperti yang sudah kuduga, kau melakukan ritual Vulunn" ,ucap Jean sambil melepas tangannya dari ************ Ayah Filda yang sudah kosong.


"Hah? Kau ini? Jangan periksa sembarang bego!" ,ucap Ayah Filda marah.


Jean hanya tersenyum sambil kembali kekudanya, dirinya nampak sangat nikmat melepas rasa penasarannya dari tadi.


"Ritual Vulunn?" ,ucap Hanno mendekat kemereka berdua.


"Ya, ritual Vulunn. Ritual yang dilakukan penyembah dewa lama ketika cinta mereka mati dan mereka memutuskan bahwa mereka akan melewati dunia ini tanpa nikmat wanita setelah cintanya mati" ,ucap Jean.


" 'Memutuskan melewati dunia ini tanpa nikmat wanita setelah cintanya mati?' " ,ucap Hanno.


"Memotong alat kelamin dari biji sampai batangnya ketika wanita yang mereka cintai mati" ,ucap Jean dengan ceria sambil mengelus-elus kepala Hanno.


"Jadi paman...memotong alat kelaminnya.." ,ucap Hanno menoleh kearah Ayah Filda.


"Paman memotongnya pakai apa?" ,ucap Hanno.


"Haruskah kau bertanya apa? Tentu saja pisau besi panas, aku ada teman yang tahu cara ritual Vulunn, aku minum obat pelemas jadi aku takkan bergerak ketika ritual dilakukan" ,ucap Ayah Filda.


"Apakah sakit?" ,bertanya Hanno.


"Tentu saja tapi sakitnya berkurang dengan minum bir, bukan begitu paman?" ,ucap Jean dengan nada anak-anaknya seperti biasa.


"Aku tak mau mengingat hal tersebut" ,ucap Ayah Filda sambil berjalan kearah keretanya.


"Mouu....Dasar membosankan..ceritalah" ,ucap Jean dengan nada yang sedih tapi kekanak-kanakan.


*Meskipun begitu ritual Vulunn sudah hampir punah, karena berbahaya dan hanya sedikit yang tahu melakukannya ataupun mau melakukannya. Bahkan penyembah dewa lama sudah banyak yang tak mau melakukannya, lagipula ritual Vulunn itu tidak diwajibkan dan hanya untuk orang yang mau* ,pikir Jean.


Sebentar Jean tersenyum.


*Hanya orang yang sesungguhnya benar-benar punya nyali untuk melakukannya* ,pikir Jean.


"Oi Hanno sudah semuanya diangkut?" ,ucap Ayah Filda tak menghiraukan Jean.


"Begitu lagi kalian semua menghiraukanku.." ,ucap Jean


"Ya" ,ucap Hanno.


"Hahh...baiklah..ayo pulang kerumah" ,ucap Ayah Filda kemudian berjalan naik kearah kereta kudanya.


Suara ringkikan kuda bisa terdengar dan langkah kaki kuda terdengar setelahnya..


.


.


.


.


___-_-___


.


.


.


.


Gelap,basah,lumayan berlumpur,kotor,dan sepi.


Itulah sesuatu yang bisa digambarkan untuk area depan kastil pemilik kota Ballerius, kastil keluarga Redwine.


Ditempat ini Vespasian bersama beberapa jenderal lainnya diperbatasan antara Victa dan Damaltia tinggal untuk sementara, merencanakan langkah mereka selanjutnya.


Rodrik dari keluarga besar Betarrus bersama 5.000 pasukannya.


Harriar dari keluarga Tura bersama 8.000 pasukan bayarannya.


Huarrar dari keluarga Basileus bersama 10.000 pasukan keluarganya.


Cuma Vujarr dari keluarga Gerald yang baru aja bersama 12.000 pasukannya kembali kekampung halamannya dibarat untuk menghadiri pemakaman salah satu anggota keluarganya.


Vespasian sendiri punya lebih dari 16.000 pasukan disini.


Total 39.000 pasukan berkumpul disini, jumlah yang cukup besar untuk memberatkan suplai makanan. Lebih parahnya lagi Janda Redwine pemilik kota ini ingin menyesedahkan makanannya untuk petani dan orang miskin. Membuat kondisi suplai makanan memarah.


Petani tak bisa memanen ladang padinya karena kebanyakan ladang padinya terbakar oleh pasukan musuh yang menjarah serta membakar diperbatasan.


Pedagang memang sudah bisa berjalan aman diperbatasan tapi kebanyakan ladang petani sudah hangus dan butuh berbulan-bulan atau tahun untuk mengembalikan ladang kekeadaannya semula.


Terlihat beberapa prajurit mengeluh dan membuat lelucon karena bosan oleh perang yang sudah terlalu lama.


Kebanyakan dari mereka ingin pulang menemui keluarga mereka yang palingan sudah mati karena banyaknya pasukan musuh yang menjarah diperbatasan.


"Cih, lihatlah janda montok itu, kita yang berjuang dimedan tempur malah petani dan pemalas-pemalas itu yang dapat"


"Aku lapar...cuma makan satu roti hari ini, aku iri ama mereka"


"Aku mau buka armour aku, ini tak enak dipakai. Berat lagi"


"Kau ini, prajurit atau bukan? Prajurit kok tak terbiasa pakai armour"


Tawa dan hinaan prajurit terdengar, lelucon serta candaan ramah biasanya ada meskipun biasanya ada candaan kotor menyelinap diantaranya.


*Perang akan tetap berlanjut, entah berapa yang akan mati dan takkan bercanda senang seperti ini lagi* ,pikir Charla dalam hatinya sembari berjalan dikastil Redwine melihat keadaan sekelilingnya.


Terlihat kumpulan petani dan pengemis didepan kastil Redwine berkumpul disuatu tempat berebut makanan.


Terlihat perempuan yang memiliki wajah cukup tua berdiri dengan pakaian mewahnya berdiri paling tinggi diantara semuanya, wajahnya bisa dibilang tua dan sudah cukup berkeriput. Tapi bisa dibilang wajahnya masih cantik begitu juga dengan tubuhnya yang masih bagus.


"Nona Redwine" ,sapa Charla kepada wanita tersebut.


"Charla? Ada apa?" ,ucap wanita tersebut dengan ramah.


Nona Meyne Redwine, dia perempuan pemilik kota ini. Suaminya dan seluruh anaknya mati dipertempuran, beberapa keluarga lain disekeliling wilayahnya menginginkan agar menikahinya agar mendapat kota ini.


*Bukan cuma prajurit,petani,rakyat biasa,pedagang yang merasakan dampak buruk dari perang ini tapi....bangsawan juga* ,pikir Charla.


"Dimana Vespasian? Dan dimana tenda prajurit yang terluka?" ,tanya Charla.


*Tenda prajurit yang terluka tadi pagi menghilang, jika dipindahkan...kemana? Dan bagaimana dipindahkan, orang yang terluka tak mudah dipindahkan begitu saja...aku harus bertanya.......* ,pikir Charla dalam hatinya merasa sedikit khawatir.


"Itu...Charla.." ,ucap Nona Redwine dalam wajah yang terlihat sulit menjelaskan kepada Charla.


"Ada apa?" ,ucap Charla


Dalam langkah kaki berat Charla berjalan mendekat kearah Nona Redwine.


"Jangan bilang.." ,ucap Charla dalam nada berat dan menakutkan


Kemudian prajurit bodyguard Nona Redwine melangkah menghalang Charla.


"Jangan bilang..mahluk sialan itu.." ,ucap Charla sekali lagi.


"Maafkan kami nona Ohara, jika mendekat lebih dari ini kami terpaksa menggunakan kekerasan" ,ucap bodyguard Nona Redwine sambil memegang bahu Charla menghalangnya.


"Ada apa Redwine?.." ,ucap Charla.


Sekali lagi suaranya berat dan menakutkan.


"Itu aku tak diperbolehkan oleh Jenderal Vespasian mengatakannya pada anda.." ,ucap Janda Redwine itu sedikit ketakutan.


"Ada apa Redwine!?" ,ucap Charla berteriak marah.


"Nona mohon tenang.." ,ucap bodyguard Nona Redwine sambil mencoba menenangkan Charla.


"Katakan padaku Redwine!" ,Teriakan marah Charla makin besar dan menakutkan.


Teriakan marahnya bersuara besar hingga membuat prajurit dan petani menoleh kearah Charla, begitu juga dengan seluruh orang disekitar mereka.


"Katakan-


"Ada apa ini!?" ,ucap seorang prajurit Ohara mendekat.


Terlihat dibelakang prajurit tersebut bisa terlihat Vespasian berdiri tegap dengan armournya.


Mata Vespasian masih menakutkan dan aneh seperti biasanya, wajahnya masih dingin serta tenang. Sedangkan rambut putihnya berkibar diantara angin.


Bau lumpur dan darah terbawa diantara angin ini.


"Dimana kau taruh prajurit yang terluka sialan.." ,ucap Charla dengan suara yang menakutkan.


"Minggir" ,ucap Vespasian sambil mengangkat tangannya memberi tanda kepada prajurit disekitarnya.


Prajurit disekitar Vespasian segera menjauh dari dirinya.


Prajurit Redwine melepas bahu Charla.


Vespasian berjalan mendekat kearah Charla.


Tatapan mata saudara tersebut bertemu.


Mata Vespasian biru kuat seperti es berbeda dengan Charla yang matanya seperti berlian.


Kedua tatapan sama-sama menakutkan membuat beberapa orang bahkan tak berani melihat mereka berdua.


Nona Redwine termasuk yang tak berani menatap mereka berdua.


"Kutanya sekali lagi dimana prajurit yang terluka Vespasian.." ,ucap Charla.


"Ditanah...." ,ucap Vespasian dengan dingin.


Suara Vespasian selalu dingin dan kali ini suara tersebut tak berubah. Berhenti sebentar ia berbicara, Vespasian melanjutkan.


"Aku memerintahkan untuk mengubur prajurit yang terluka hidup-hidup atau mengakhiri hidup mereka.."


Ucap Vespasian dengan suara dingin bagaikan es bagaikan itu merupakan sesuatu yang tak berdosa dan salah.


"Sebagian dari mereka memiliki penyakit yang bisa menular keseluruh prajurit.."


Ucapnya sekali lagi, wajahnya masih tak berubah.


*Br*ngsek..* ,pikir Charla dengan marah.


Rasa amarah meningkat ditubuh Charla, rasa bersalah lebih memenuhi hatinya. Rasa bersalah tak bisa melindungi prajurit tersebut, rasa bersalah tak bisa menyembuhkan mereka lebih cepat, rasa bersalah tak bisa menghalang kakaknya melakukan hal tersebut.


"Mereka hanya menghabiskan ongkos medis dan suplai makanan saja, bukan cuma itu kita kehabisan tempat, lebih bagus kita akhiri penderitaan mereka"


Ucap Vespasian tanpa rasa bersalah, tak ada yang berubah dari wajah ataupun suara dinginnya.


"Kau Sialan!" ,teriak Charla dengan marah


*Mereka punya harapan hidup, mereka punya hak hidup! Mereka punya teman,saudara,paman,ayah,ibu,kekasih! Mereka bukan pion catur yang bisa kau korbankan begitu saja! Mereka manusia!* ,pikir Charla dengan rasa bersalah sekaligus amarah memenuhi hatinya.


"Menjauh tuan" ,ucap prajurit Vespasian sambil menodongkan pedangnya kearah Charla.


*Shreekkk*


*Mereka punya teman dan keluarga...* ,pikir Charla


Seluruh orang disekitar yang menyaksikan hal tersebut ketakutan sekaligus merasa terkejut.


Wajah terkejut memenuhi pandangan Charla.


Tangannya berdarah seperti biasa..


Tangannya yang biasa ia gunakan untuk membunuh ribuan orang yang punya teman dan keluarga...


Teman yang ia biasa gunakan untuk menyembuhkan ribuan orang yang punya teman dan keluarga...


Dengan kuat Charla memegang pedang besi prajurit Vespasian, sangat kuat hingga darah turun dari tangannya. Rasa sakit tak terasa bagi Charla.


Wajah yang lebih menakutkan ditunjukkan Charla, yang membuat bodyguard Vespasian sedikit terkejut.


*Prakk!*


Dengan satu tangannya Charla mengambil badget keluarga Ohara dipakaiannya dan membantingnya ketanah.


*Teman dan keluarga...* ,pikir Charla


Dengan tatapan kuat bagaikan tombak berliannya Charla menatap Vespasian.


Matanya berwarna merah bercampur warna ungu.


Indah sekaligus menakutkan.


"Aku berhenti untuk bertarung disisimu, akan kucari seseorang yang pantas aku bertarung disamping sisinya" ,ucap Charla dengan marah.


Charla pergi sambil merapikan jubahnya, tangannya mengalirkan darah karena baru saja ia memegang pedang tajam prajurit Vespasian. Tapi rasa sakit itu bukan apa-apanya dibanding rasa sakitnya terhadap prajurit yang Vespasian kubur hidup-hidup.


"Aku sudah muak dengannya"


Ucapnya Charla sambil berjalan pergi menjauh dari mereka semua. Nona Redwine,Vespasian,prajurit setia Vespasian,dan petani.


Ia menjauh dari itu semua..