Hannoic War

Hannoic War
Ciuman Hitam (Part 11)



"Hati yang bersih dan indah memimpikan untuk pergi keatas diatas langit diatas ribuan awan, sedangkan Hati yang Paham dunia ini tahu kalau Kebenaran berada ratusan ribu lapis tanah jauh dibawah"


-Mushakashi Sikibu diLegenda Genji


Ciuman Hitam


"Tuan dari Kastil Hantmore, ingin ijin dari anda yang mulia untuk merekrut pasukan bayaran demi perang ini" ,ucap salah satu prajurit melapor kepada Hasteinn.


"Kuijinkan berapapun dia mau beli pasukan bayaran asalkan berpartisipasi dalam perang ini" ,ucap Hasteinn sambil menulis kertas dimejanya satu persatu.


Terlihat didepan meja Hasteinn terdapat bangsawan yang ikut membicarakan soal perang bersamanya.


Bangsawan-bangsawan tersebut terlihat bercanda dan mengobrol.


Bir dan anggur tak ada sini karena Hasteinn memerintahkan untuk tak membawa bir dan anggur kesini karena bisa mengganggu pembicaraan serius.


"Toran Garius telah berkumpul dengan 12.000 pasukan Gerald....jika kita kalahkan pasukannya dan berbaris keibukota Victa maka kita memenangkan perang ini!" ,ucap tuan Handam dengan kuat dan suara kencangnya.


Beberapa bangsawan yang punya temperamen kuat seperti Tuan Handam dan beberapa anak muda yang tak terlalu berpengalaman dimedan tempur nampak setuju dengan Tuan Handam.


"Itu terlalu berbahaya, Toran Garius itu veteran 5 perang, dia takkan mudah itu kita ambil dimedan tempur, lagipula Toran masih punya anaknya diibukota dan bantuan dari keluarga Ohara" ,ucap Tuan Malare.


Beberapa orang tua dan veteran perang Tyronia setuju dengan ucapan Tuan Malare.


"Anaknya hanya orang gendut yang hanya bisa duduk sambil melihat batangnya yang kecil! Dia bahkan mungkin tak bisa bergerak ketika pasukan kita menerobos gerbang ibukotanya!" ,ucap Tuan Handam.


"Hahahahahahahahaha!" ,tertawa orang-orang yang setuju dengan Tuan Handam.


Tapi tidak tertawa para veteran Perang Tyronia dan Tuan Malare.


Veteran Perang Tyronia hanya bisa cemberut bahkan tak ada senyuman diwajah mereka.


Seorang veteran Perang Tyronia kemudian berdiri.


"Buat apa takut dengan orang gendut itu? Hahahahhahaha! Kenapa kalian ini jadi pengecut hah?!" ,ucap Anak Tuan Handam bernama Jagur mengejek veteran Perang Tyronia.


"Hahahhahahahhahahaha" ,tertawa Tuan Handam bersama bawahannya lebih keras.


Veteran Perang Tyronia yang terdiam.


Mereka tak membalas hinaan itu tapi terlihat tatapan mereka tajam.


"Sudah kuduga, kau yang hanya bertarung melawan bencong Dalmatia takkan mengerti...kalian terlalu meremehkan Vesius.." ,ucap Tuan Bybur yang telah berjuang diTyronia sambil berdiri dari mejanya.


Tawa Tuan Handam dan bawahannya mengecil mendengar hal itu.


Kemudian tawa berhenti dan Tuan Handam memandang Tuan Bybur dengan tatapan marah.


"Aku hanya melawan bencong!? Aku hanya melawan bencong ya!" ,ucap Tuan Handam dengan wajah marah berdiri dari mejanya.


"Heh, dasar kakek yang otaknya hanya tinggal setengah, dasar orang yang tahunya minum anggur dan menghancurkan tulang manusia saja" ,ucap Bybur.


*Brakkkkk!*


"Mari kita lihat yang kau bilang satu-satunya yang kuketahui!" ,ucap Tuan Handam sambil menyingkirkan mejanya dengan tubuh besarnya dan mendekat kearah Tuan Bybur.


Tuan Bybur terlihat menyiapkan pedangnya sedangkan Tuan Handam mengandalkan tangan kuatnya.


"Kalian berdua sudah! Kalian tak sopan dihadapan yang mulia!" ,ucap Tuan Malare dengan suara kencang dari tubuh gendutnya berdiri dari mejanya.


Mendengar itu semua orang ditenda ini memandang kearah raja mereka.


Ratusan mata mulai dari bangsawan dan pelayan menatap Hasteinn.


Hasteinn hanya terdiam duduk dimejanya dan menatap tajam mereka berdua.


Tuan Bybur yang terlihat sudah memegang pegangan pedangnya langsung berhenti.


Sedangkan Tuan Handam langsung menurunkan tangannya.


Mereka berdua kemudian mundur dan kembali duduk dimejanya.


Hanya dengan diam, Hasteinn membuat mereka berdua berhenti bertarung.


Pelayan dan bangsawan lain yang masih terkejut melihat mereka berdua yang berkelahi pada akhirnya kembali ketempat mereka sendiri.


Pelayan membereskan meja Tuan Handam yang berantakan karena Tuan Handam tadi.


Sedangkan bangsawan kembali duduk tenang dan mengobrol masing-masing.


Tuan Handam hanya duduk terdiam sedangkan bawahannya hanya mengikuti diamnya.


"Kita akan kebarat...menyeberangi Sungai Hitam" ,ucap Hasteinn dengan suara kuat.


Semua bangsawan cukup terkejut dengan ucapannya.


"Tapi yang mulia-


"Kita kebarat" ,ucap Hasteinn.


"Tapi kemana yang mulia? Bagian Sungai Hitam sebelah barat itu banyak....yang mana?" ,ucap salah bangsawan.


"Sudah kubilang kita kebarat" ,ucap Hasteinn.


"Yang mulia?" ,ucap salah satu bangsawan.


"Toran Garius itu veteran 5 perang tapi dia hanya 1 orang yang mencoba melindungi 1 negeri yang sedang berperang di 5 front...dan ia punya 1 kelemahan yang dimiliki setiap manusia" ,ucap Hasteinn dengan suara kuatnya.


Hasteinn kemudian melihat tangannya.


*Tanganku bergetar..* ,pikir Hasteinn.


Hasteinn berpikir kenapa tangannya bergetar..ia tak tahu..ia tak tahu apakah ini karena kelelahan atau ketakutan...


"Apa kelemahannya itu?" ,ucap Tuan Bybur.


"Dia tak bisa melindungi semuanya" ,ucap Hasteinn sambil melihat petanya.


*Tuk*


Satu pion Hasteinn taruh diatasnya.


.


.


.


.


.


.


____-_-__


.


.


.


.


.


.


*Bukk!*


"Akhh!" ,ucap Charla sambil berjalan mundur dan memegang perutnya yang kesakitan.


Hanno Berdiri didepannya dengan mengepalkan tangannya bersiap meninju.


Sedangkan Charla memegang pedang ditangan kanannya.


Charla sudah melucuti pedang ditangan Hanno..


Tapi Hanno berhasil memukul mundurnya dengan tinjunya.


Bisa terlihat Hanno kemudian berjalan dan kembali mengambil pedang besinya.


*Pukulan bagus..* ,pikir Charla.


"Jangan lepaskan pedangmu nak, pegang kuat-kuat. Kalau dimedan tempur kau takkan punya banyak kesempatan untuk mengambil pedangmu kembali. Dimedan tempur waktu adalah nyawa" ,ucap Charla sambil bersiap untuk menyerang Hanno kembali.


Wajah Hanno terlihat memar dipipinya dan beberapa bagian tubuhnya.


Tapi ketika Charla memukulnya...ada sesuatu yang aneh dari Hanno...yaitu dia tak mengerang kesakitan atau bergumam sedikitpun.


Setiap pukulan mendarat ditubuhnya Hanno, tak ada suara dari mulutnya melainkan Hanno mengunci kuat mulutnya untuk diam.


*Trangggggggggg!*


Charla mengayunkan pedang kearah Hanno yang sedang mengambil pedangnya.


Dan Hanno dengan cepat membalas ayunan pedang Charla dengan pedangnya.


Bertubruk pedang besi Hanno dan Charla.


Tangan kiri Hanno terlihat bersiap dan mengepal.


*Ini dia pukulannya* ,batin Charla.


Charla telah membaca pola serangan Hanno dari tadi.


Meskipun kadang mengubahnya, tapi ada beberapa serangan intinya yang Hanno tak ubah dari awal latihan.


*Bbbuk!*


Bukannya menyerang dengan tangan kirinya melainkan Hanno berputar dan memukul Charla dengan bahunya.


*Dia memakai bahu?* ,pikir Charla.


Charla mencoba melawan tapi kedua tangan diambil oleh Hanno.


*Anak ini....dia ahli dalam bertarung...dia tidak pertama kali atau kedua kali bertarung..dia sudah puluhan atau bahkan ratusan kali bertarung...* ,batin Charla menyadari sesuatu sambil merasakan kalau kedua tangannya sulit digerakkan.


Kali ini....


Charla memutuskan untuk serius.


*Srek*


Tangan Charla mencapai leher Hanno dan melepas pegangannya.


*Kekuatan juga diperlukan nak* ,ucap Charla dalam hatinya.


Kemudian Hanno diangkat keatas oleh Charla.


Hanno dikunci balik oleh Chara dan dirinya tak bisa melepaskannya.


Tubuh Hanno bisa terasa cukup ringan diangkat oleh Charla.


*Brukk!*


Dan dengan cepat kemudian Charla membanting Hanno ketanah.


Mata Hanno terlihat masih terbuka meskipun debu ditanah harusnya membuat dia berkedip.


Mulutnya masih terdiam tanpa erangan rasa sakit atau semacamnya keluar dari mulutnya.


*Anak ini...berbeda* ,pikir Charla sambil memandang Hanno ditanah.


"Kau pandai dalam pertarungan jalanan nampaknya nak" ,ucap Charla sambil berjalan mundur menjauh dari Hanno.


Hanno kemudian bangun secara perlahan dari tanah.


Matanya tajam dan dia tak memasang kuda-kuda.


Karena dia tak perlu....dia sudah memasangnya...


Hanno selalu memasang kuda-kudanya.


*Sudah berapa lama aku tak menikmati latihan...* ,batin Charla sambil tersenyum.


"Kalau memang begitu cara pertarunganmu..." ,ucap Charla sambil menjatuhkan pisau dan pedang cadangan dipakaiannya, "mari kita bertarung dengan caramu"


Charla menyiapkan kedua tangannya didepan wajahnya.


Kemudian mengepal kuat tangannya bersiap meninju.


Kakinya memasang kuda-kudanya.


.


.


.


.


.


.


___-_-___


.


.


.


.


.


.


.


Berjalan Aethel dikastil Has yang gelap.


Suara angin malam bisa terdengar sedangkan langkah kakinya menggema dilorong kastil ini.


Hanya obor yang menerangi beberapa bagian dinding kastil ini.


"Hahahahahhahahahhahaha"


Tawa banyak pria terdengar dari sebuah kamar.


"Aaaaaaaaaaahhhhhh!!!"


Sedangkan teriakan wanita yang mereka siksa dan perkosa terdengar.


"Ck selalu saja berisik, diam sajalah ketika diperkosa" ,mendecak Aethel merasa terganggu.


"Hei Aethel! Kau terlihat dingin lagi!" ,ucap salah satu bawahan Tuan Jahae yang Aethel tak ingat namanya.


Tuan Jahae merekrut banyak orang brutal dan kejam yang ikut seperti dirinya. Jahae punya ratusan orang seperti ini, menyiksa,meneror,dan memerkosa orang-orang setiap hari.


Kadang mereka membakar desa diTanah Pedang Angin dan membrutalisasi wilayah Tuan Jahae.


Jahae sendiri punya banyak wanita yang ia siksa dibawah bagian terdalam kastilnya.


"Hahahhahahahhahahha" ,tawa terdengar dari beberapa prajurit dan orang tersebut.


Bercanda dan bersenang-senang mereka nampaknya.


Tapi Aethel mengenal nama salah satu orang disini...


"Kelihatannya kau bersenang-senang Moore" ,ucap Aethel dengan senyuman sombongnya.


"Kau mau coba Aethel? Heh, kau selalu punya selera tinggi, perempuan kali ini bangsawan loh meskipun wajahnya tak secantik yang kupikirkan" ,ucap Moore.


"AAAAAHHHHHHHHHH!!!!!" ,teriakan wanita itu semakin bisa terdengar.


Suara tangisannya juga bisa terdengar, ratusan kali lebih kuat dan bisa dirasakan bahkan dari luar.


"Potong lidahnya, itu terlalu bising ditelingaku" ,ucap Aethel sambil tersenyum.


"Ayolah, teriakan itu indah" ,ucap Moore.


"Sedang kau apakan dia?" ,ucap Aethel.


"Kuliti dan kemudian perkosa" ,ucap Moore sambil tersenyum.


"Dan mayat suaminya kami taruh juga didepannya, mau masuk?" ,ucap salah prajurit ikut dalam pembicaraan.


Aethel hanya tersenyum dan memegang pegangan pedangnya.


"Puih! Main rendahan, lebih bagus nikmati langsung tubuhnya daripada kuliti. Kalau memang jelek bunuh saja langsung. Memang kalian mahluk sampah" ,ucap Aethel dengan sombong menatap orang-orang disekitarnya.


Moore kemudian tersenyum.


"Dasar anjing Tuan Jahae.." ,ucap Moore.


"Hahahhaha! Anjing ngehina anjing, setidaknya aku anjing yang memakai armour besi sedangkan kalian?" ,ucap Jahae.


Aethel hanya melewati mereka, tak memedulikan mereka.


Bisa didengar dibelakang Aethel ratusan kata kotor dan orang-orang yang geram padanya.


*Emang kau bisa bunuh aku hah? Kalau pun bisa, Tuan Jahae bisa marah pada kalian..heh* ,menyengir sombong Jahae sambil terus berjalan.


Dia membiarkan semuanya dan maju kedepan....dia hanya menuju ketempat yang ia inginkan..


Terdengar semua teriakan wanita yang disiksa dikastil ini, ia biarkan selama ia berjalan.


Sampai didepan kamar yang ia tujui, pintu kayunya bisa terlihat didepan Aethel.


Kamar Nona Istri Tuan Jahae....


*Tuk*


Buka Aethel pintunya....


Terlihat duduk wanita berambut hitam cantik disebuah kasur. Wanita tersebut terlihat sedikit kurus tapi ada sesuatu diwajahnya....bekas luka pisau..


Tangan wanita tersebut terlihat kehilangan beberapa jarinya...


Sedangkan matanya berwarna matanya hijau dengan tatapannya kosong dengan sebuah cahaya kecil didalam matanya bersinar sendirian.


Tangannya terlihat bergetar dan matanya mulai menurunkan air matanya.


"Aku tak mau dia datang....aku tak mau dia datang....kumohon kali ini hanya kita berdua...hanya kita berdua.." ,ucapnya dengan bibirnya yang bergetar dan tangannya yang ketakutan.


"Usshh..ush..ush..tenang saja dia sedang sibuk dengan pertahanan kastil ini jadi dia takkan datang malam ini kekamarmu" ,ucap Aethel memenangkannya sambil menutup kamar mereka.


Aethel bisa terlihat tersenyum kecil.


Menangis dia dengan sedih,senang,sekaligus ketakutan.....Istri Tuan Jahae...Nona Merry.


"Dia tak menyiksaku lagikan? Dia tak menyiksaku lagi malam ini? Aku tak ingin dia mancakarku dan membuatku melakukan apa yang ia inginkan...lindungi aku ksatriaku...lindungi aku Aethel" ,ucap Nona Merry menangis.


"Tenang saja....jangan menangis..kau cantik jika tidak menangis..." ,ucap Jahae sambil mendekat keNona Merry sambil memeluknya.


Dada Nona Merry bisa dirasakan bersentuhan dengan armour besi dingin Aethel, sedangkan Aethel bisa merasakan tubuh Nona Merry yang cukup kurus.


"Hangati lagi tubuhku malam ini...lindungi aku dari monster itu..." ,ucap Nona Merry dengan menangis.


"Iya...aku janji...biarkan aku melepas armourku dan menghangatimu.." ,ucap Aethel dengan tersenyum.


Nona Merry memasang mata hangat dan tangisan senang.


"Aku lelah Aethel...aku lelah...aku selalu memikirkan kalau ini akan berakhir Aethel...aku ingin ini berakhir...aku ingin dia berhenti Aethel...aku ingin dia berhenti menyiksaku Aethel......tapi setiap aku memintanya untuk berhenti...dia..dia memotong jariku...dia memotong jariku.." ,ucap Nona Merry sambil menangis berbaring.


"Aku disini nona...aku...aku akan melindungimu..aku berjanji...." ,ucap Aethel dengan senyuman sambil mendekat kewajah Merry.


"Janji apa?" ,ucap Nona Merry sambil merasakan nafas Aethel.


"Aku berjanji aku akan membunuh siapapun didunia yang berdiri dijalan kita...aku mencintaimu..Merry...aku mencintaimu.." ,ucap Aethel dengan senyuman liciknya.


"Apakah jika kita ketahuan...kau akan membunuh semua orang dikastil ini? Termasuk monster jahae itu?" ,ucap Nona Merry dengan polos.


"Ya...semuanya...aku akan membunuh semuanya...aku mencintaimu.." ,ucap Aethel.


*Itu bohong...* ,batin Aethel.


Nona Merry menangis senang sambil menyentuhkan bibirnya dengan bibir Aethel.


Berciuman dan tenggelam mereka didalam kasur yang gelap.


.


.


.


.


.


____-_-____


.


.


.


.


.


*Tuk*Tuk*


Suara seseorang melangkah masuk kedalam Bar terdengar.


Suara hujan gerimis bisa dirasakan diluar bar.


Orang-orang didalam bar ini terlihat makan dan minum ditengah hujan.


Beberapa bercanda dan makan sup.


Sedangkan beberapa bermain judi untuk menghabiskan waktu mereka dibar ini.


"Hanno, apakah tangan yang terkena lukamu tak basah?" ,ucap Charla sambil melihat Hanno yang berjalan disampingnya.


Hanno hanya menggeleng kepalanya.


"Bagus" ,ucap Charla sambil berjalan makin kedalam Bar.


Tatapan pria kemudian diarahkan kearah Charla dan Charla sadar kalau beberapa orang membicarakannya.


"Oi lihat itu" ,ucap salah satu pelanggan Bar sambil bercanda dengan salah satu temannya.


Saat itu Charla sadar kalau tinta hitam rambutnya telah luntur karena air hujan.


Rambut putihnya yang tak normal menjadi perhatian banyak pelanggan Bar.


Sedangkan mata ungu dan merahnya menambah lebih banyak lagi perhatian.


"Hm" ,ucap Charla sambil memegang sehelai rambutnya yang melihat tinta hitamnya yang luntur, "tintanya sudah luntur...mungkin akan kupakai lagi nanti.."


Charla menghiraukan semua obrolan dibelakangnya, dia sudah terbiasa dengan itu.


'Kata orang dia Anak Iblis dari Ohara itu ya?'


'Matanya aneh'


'Tentu saja, karena dia itu iblis'


*Tidak...aku ini manusia* ,ingin Charla berteriak tapi ia menahannya.


Dikamp pasukan Vespasian, obrolan seperti ini sudah jarang dan tak banyak prajurit yang terlalu bodoh untuk mengobrol tentang rambut Charla didalam pasukan Vespasian.


Karena Vespasian memotong lidah semua prajurit yang membicarakan soal dirinya dan adiknya dibelakang soal rambut putih mereka.


'Dibawahnya (Vespasian) kau punya perlindungan dan tak ada yang menertawai warna kulit juga warna rambutmu lagi, meninggalkannya sama saja menghilangkan semua itu'


Kata-kata kakaknya menggema dikepala Charla.


*Kakak benar* ,pikir Charla.


Meskipun Jean mencoba membunuhnya tapi dia tetap kakaknya. Charla masih mencintainya.


Ia ingat bagaimana ia dan kakaknya bermain diKastil Gelaria dengan pedang, mencuri kertas surat dari ayah mereka, berdebat dengan guru yang dikirim untuk mengajar mereka berdua.


*Kakak tetap kakak....dia bukan Jean..meskipun didalam Jean...aku tidak tahu kalau masih ada kakak disana..* ,pikir Charla.


Charla masih akan tetap mencintainya dan menerima permintaannya untuk menjadi Hanno sebagai muridnya.


Lagipula Hanno yang menyelamatkan nyawa nya dari cekikan kakaknya.


*Kakak..dimanapun kau....aku akan merubah anak ini menjadi sesuatu yang kau tidak inginkan..* ,pikir Charla.


'Tak apa melakukan inikah?'


'Toh dia itu jauh dari teman-teman bangsawannya jadi ayolah'


'Nih! 150 koin'


Obrolan yang tidak membuat nyaman bagi Charla terdengar.


'Jenderal Vespasian tak disini jadi kita akan baik-baik saja'


Charla mulai menyiapkan tangannya jika apa-apa terjadi padanya dibar ini.


"Hanno" ,ucap Charla memberi aba-aba kepada Hanno dibelakangnya.


Hanno hanya terdiam dan terlihat sangat tenang sekarang, dia seperti tidak melihat ada bahaya dibar ini.


Hanno langsung kemudian menggeser tangan kanannya kearah pegangan pedangnya setelah mendengar aba-aba dari Charla, tapi wajahnya masih datar dan tenang seperti biasanya.


Seorang pria besar kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mendekat kearah Charla.


Charla hanya memandang wajahnya seiring dia berjalan kearahnya.


Pria besar tersebut hanya tersenyum sambil mendekat kearahnya.


Charla hanya bisa cemberut dan tak tersenyum memandang wajahnya.


Tiba-tiba pria besar tersebut memegang dagu Charla dan menarik wajah Charla kearah wajahnya.


*Cwluukkk*


Charla kemudian dicium paksa oleh pria tersebut.


"Emmmhh" ,gumam Charla sambil merasakan bibirnya bersentuhan bibir busuk pria tersebut.


Bau busuk dan nafasnya yang mirip seperti babi bisa dirasakan oleh Charla.


Charla kemudian mendorong pria tersebut menjauh dari dirinya.


*Bbuukkkkk!*


Pukul Charla dengan tangan kanannya sekuat tenaganya dipipi pria tersebut.


Sangat kuat hingga membuat pria tersebut terjatuh.


Pipi pria tersebut terlihat hancur dan giginya keluar dari mulut pria tersebut


Darah mengalir keluar dari mulur pria tersebut.


Beberapa pelanggan terkejut dan terdiam, beberapa berdiri dari tempat duduknya untuk melihat keadaan pria yang dipukul Charla.


Beberapa berjalan mendekat kearah pria tersebut tapi ketika melihat Charla yang marah mereka berhenti mendekat.


Charla hanya terdiam sebentar.


"Hahh..." ,menghela nafas Charla sebentar sambil mengusap mulutnya dengan jubahnya.


*Menjijikan...ini sudah ke-11 kalinya seorang pria melakukan hal ini kepadaku..* ,pikir Charla.


Saking kuatnya pukulan Charla pria tersebut terlihat pingsan.


"Ayo Hanno" ,ucap Charla sambil berjalan melewati badan pria tersebut.


Pertama kali Charla mengalami hal seperti ini, adalah ketika ia berjalan dikamp pasukan waktu perang Tyronia dan seorang pria bangsawan mencium paksa dirinya.


Charla ingat bagaimana dia menendang pria tersebut hingga ia terjatuh ketanah yang berlumpur.


Beberapa kali dia kena kejadian semacam ini, ditenda pasukan yang terluka.


Charla sudah terbiasa dengan pelecehan seperti ini.


Tapi tak ada yang bisa sampai kebagian terdalam ditubuhnya...dia masih bersyukur hal itu tak terjadi.


"Aku mau sewa 2 kamar" ,ucap Charla.


Charla setidaknya bisa aman dibar ini karena beberapa pria terlihat ketakutan oleh dirinya setelah memukul pria tersebut.


Lagipula Charla punya pedang dan Hanno...dia bisa bertarung...


"Maaf nona, tapi kamar sudah habis dan hanya ada 1 sisa kamar dengan kasurnya yang cuma 1 juga nona" ,ucap pelayan.


*Sialan...* ,batin Charla.


"Hahh..." ,menghela nafas Charla kelelahan dengan semua masalah ini, "nampaknya kita harus tidur disatu kamar Hanno"