Hannoic War

Hannoic War
Lambaian dari Besi dan Manusia (Part 24)



"Setiap orang yang membentang jaring laba-labanya untuk menangkap sesuatu bisa antara akan membawa dirinya kearah kejayaan atau penyesalan..."


-Vergil dibuku Aeneid


Lambaian dari Besi dan Manusia


Berdiri Vella dikamp pasukan, dengan bodyguard disampingnya.


Gaun biru tuanya dipasangi jubah bulu beruang untuk menghangatkan dirinya dari dingin.


Berdiri ia dari tadi siang menatap kedepan, menunggu sesuatu…


Matahari menerangi rambut dan wajahnya.


"Tuan Putri, Yang Mulia pasti akan kembali, kita tunggu saja dikamp" ,ucap bodyguardnya.


"Tidak, aku sudah katakan 8 kali, aku menunggu" ,ucap Vella sambil terus melihat kedepan.


Sedangkan dibelakang Vella terdapat prajurit yang mengerjakan kerjaan mereka.


Bolak balik mereka mengangkut keranjang air dan mengangkat senjata serta armour.


*Ddruduk*Ddruduk*


Suara kuda mendekat kearah mereka dari jauh, dengan suaranya yang besar.


*Ddruduk*Ddruduk*Ddruduk*


Terlihat ribuan rombongan ksatria mengendarai kearah mereka, terlihat armour mereka yang dipenuhi debu dan darah.


*Ddruduk*Ddruduk*Ddruduk*


Bendera Vehan dan Hasral berkibar diangkasa dengan rombongan tersebut membawanya.


Terlihat seseorang pria dengan armour yang memiliki corak emas, berkendara kedepan dengan armournya yang dipenuhi darah dan debu.


*Kakak...itu kakak..* ,pikir Vella sambil hampir ingin menangis.


Ditangan kanan Hasteinn terlihat pedangnya yang dipenuhi darah.


Sedangkan dileher kuda Hasteinn tergantung sebuah kepala seseorang.


*Tuktungggg!*


Hasteinn kemudian membuka helmnya setelah itu membanting helmnya.


Dan memperlihatkan wajahnya yang cukup bersih.


Terlihat Hasteinn memasang wajah yang cukup kelelahan dan nafasnya yang terenga-enga setelah pertempuran.


"Geralda! Geralda! Geralda! GERALDA!"


Teriak rombongan ksatria Hasteinn dengan semangat sambil mengangkat pedang mereka yang dipenuhi darah.


"GERALDA MENANG! GERALDA MENANG!"


Ucap Tuan Handam berkendara kedepan, dengan melentangkan kedua tangannya yang sedang memegang dua kapak berdarah.


"RAJA GERALDA! RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN!"


Teriak rombongan Hasteinn dengan semangat sambil meringkikkan kuda mereka dengan semangat.


"RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN! GERALDA! GERALDA! GERALDA! VEHAN! VEHAN!"


Ratusan teriakan yang semangat keluar dari wajah ksatrianya yang bersemangat.


Beberapa membuka helmnya sedangkan hampir semuanya mengangkat senjata berdarah mereka masing-masing.


Beberapa mengangkat bendera Vehan keangkasa.


Hasteinn hanya tersenyum.


Kemudian Hasteinn mengangkat kepala yang tergantung dileher kudanya.


Terlihat kepala seseorang itu memasang wajah terkejut.


"Khasrow dari keluarga Tenyll! SiPedang Jenderal Vespasian!" ,ucap Hasteinn dengan kencang dengan nafas yang terdengar terengah-engah.


"RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN! RAJA HASTEINN!"


Ucap ksatria yang makin semangat ketika melihat kepala yang diangkat Hasteinn.


"RAJA DARI GERALDA! RAJA GERALDA! HIDUP GERALDAAA!!!"


Ucap Tuan Handam sambil memperlihatkan wajah yang haus darahnya dengan suara yang kencang.


"GERALDA! GERALDA! GERALDA!"


Kemudian beberapa prajurit menurunkan beberapa ratusan tawanan yang diikat dengan tali kedepan Vella.


Terlihat tawanan itu ketakutan dan nafas mereka juga terengah-engah dengan armour mereka yang kotor.


Puluhan pedang diarahkan kemereka untuk menjaga mereka tak mencoba kabur.


"Ini orang Geralda tuan-tuan...Angin Topan dari tanah Angin sudah datang kearah kalian semua…puluhan ribu orang Geralda marah sedang datang kerumah kalian semua.." ,ucap Vella dengan tatapan tajam sambil tersenyum dirinya kearah tawanan-tawanan.


Hasteinn hanya tersenyum melihat Vella diatas kudanya.


"TUAN PUTRI VELLA! TUAN PUTRI VELLA! TUAN PUTRI VELLA!"


Ratusan ksatria kemudian meneriakkan namanya.


Bagaikan suara petir ketika badai..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Perrin berdiri didepan sebuah rombongan ksatria dan prajurit yang berbaris rapi.


Berdiri dirinya dengan armour hitamnya yang lengkap…


Sedangkan bagian dilengan kirinya kosong…dibalut bagian tangannya yang sudah cacat dengan kain hitam...


Badannya terasa aneh...tak terasa ringan yang seperti Perrin bayangkan..seperti sesuatu tapi tak bisa ia deskripsikan..


Didepan semua rombongan dan Perrin, terdapat sebuah ratusan batang kayu dan ranting-ranting kering dikumpulkan, membentuk sebuah kotak besar dipantai ini.


Diatas ranting-ranting kering tersebut berbaring rapi ribuan mayat.


"Mereka adalah penyelamat dan pemberani dari berbagai Dalmatia! Datang untuk mengalahkan para penyembah Iblis dari Akkadia dan anak haram yang mengaku sebagai raja!" ,ucap salah satu pendeta dengan kalung dan simbol lingkaran dipakaian putihnya menaikkan tangannya berdoa.


'ini hanyalah yang bisa kita ambil dari laut, sekitar 1.800 jumlah mayatnya ..sedangkan ada 3.000 lagi yang belum kita ambil' ,ucap Jaruman memberitahu Perrin tadi pagi.


Terlihat ratusan prajurit dibelakang Perrin terdiam merenungi teman-teman mereka yang mati dipertempuran.


Sedangkan sebagian lagi prajurit...merasa bosan dengan upacara ini..


"Semoga mereka diampuni dosa-dosanya disamping tuhan dan diterima disisinya" ,ucap pendeta tersebut.


"Semoga mereka diampuni dosa-dosanya disamping tuhan dan diterima disisinya" ,ucap prajurit-prajurit dan Perrin berucap serempak.


Perrin bisa melihat sejumlah perempuan dan anak-anak melihat dari jauh upacara pemakaman ini.


Beberapa dari mereka bisa terlihat menangis.


'Ratusan janda dan anak yatim kau hasilkan dari semua ini'


Suara itu meringing dikepala Perrin bagaikan kutukan yang ia tak bisa hindari.


Kemudian maju pendeta-pendeta wanita dengan pakaian yang penuh dengan putih.


Terlihat kemudian mereka menyanyikan dalam bahasa Dalmatia lama yang bisa terdengar merdu sekaligus aneh.


Perrin bisa membandingkannya dengan campuran bahasa Francis dan Arab, tapi lebih merdu lagi.


Perrin bisa mendengar sejumlah kata-kata yang ia bisa pahami.


"Aux Talammi...Penyelamat...Faux ma dejhadaha...Berdiri mereka diakhirat.."


Hanya beberapa kata yang Perrin bisa dengar dari pendeta wanita-wanita itu.


Kemudian pendeta-pendeta wanita itu berhenti bernyanyi dan mundur menjauh dari upacara ini.


"Tuanku sudah saatnya" ,ucap salah satu ksatria mendekat kePerrin sambil membisik.


Perrin hanya mengangguk dengan kepalanya yang ditutup dengan helm besi hitamnya yang berbentuk monster.


Perrin kemudian maju dengan jubah hitamnya membentang kesamping ditiup angin.


Perrin kemudian mengambil obor yang diberikan salah satu prajuritnya.


Mendekat Perrin kekumpulan mayat diatas kayu dan ranting-ranting tersebut.


Terlihat ribuan mayat didepan Perrin yang putih pucat dan bau minyak khas Dalmatia bisa tercium dikumpulan mayat, untuk memudah pembakaran dan juga mencegah belatung serta gagak untuk singgah.


Obor ditangan Perrin bisa terasa hangatnya..


"Aku Perrin Sang Tangan Kanan Perdana Menteri Cyrus kepadanya memberi mereka semua yang berbaring disini gelar prajurit terbaik dan terberani Dalmatia" ,ucap Perrin sambil mendekatkan obornya kekumpulan mayat itu.


*Meskipun mungkin sebagian dari mereka sudah pernah memperkosa dan menambah janda kedunia ini sama sepertiku* ,pikir Perrin.


"Atas nama Ratu Voa dari Keluarga Gandaria, Tuan dari orang Anglo dan Ilarria, Pewaris sah dari Makaria dan Ratu dari Dalmatia" ,ucap Perrin.


Kemudian Perrin menjatuhkan obornya, dan melihat kayu dan juga ranting-rantingnya perlahan terbakar.


Asap mulai membumbung tinggi dan api mulai melahap semuanya.


Berdiri Perrin melihat semua itu..


Kemudian ia mundur kebelakang...


"Semoga mereka ditenangkan diakhirat nanti oleh Dewa Langit Aurex!" ,ucap Perrin dengan berteriak kencang.


"Semoga mereka ditenangkan diakhirat nanti oleh Dewa Langit Aurex!" ,ucap serempak pendeta,prajurit,pendeta wanita, dan semua orang yang melihatnya.


*Atau apapun dewa yang mereka sembah..* ,pikir Perrin.


Kemudian Jaruman mendekat kePerrin.


"Aku membuat beberapa janda diseluruh Dalmatia, aku membuat anak yatim, aku membuat mayat yang dibakar ini.." ,ucap Perrin tanpa sadar mengatakannya.


"Salah satu dari yang mati adalah Jenderal Bellemum Melara, dia menyerang dengan berani bersama 20 kapalnya ketengah formasi kapal musuh. Dia membuat rencana tuan untuk membelah 2 pasukan musuh berhasil" ,ucap Jaruman dengan suaranya yang sedingin pagi ini.


"Hm, katamu dia jenderal berpengalaman tapi kenapa menyerang ketengah-tengah musuh? Dia terdengar setengah bodoh setengah berani" ,ucap Perrin.


"Bellemum Melara sudah lama mencari mati, istrinya sudah mati karena penyakit beberapa bulan sebelum Pengkhianat Trivistane mendarat, anaknya juga sudah mati semua waktu perang dengan Victa" ,ucap Jaruman.


"Hm, dan aku memberinya permintaannya untuk mati? Dasar bodoh, kalau aku jadi dia aku akan pensiun menikmati anggur dan wanita baru istirahat diistana yang mewah sementara membiarkan Perang sedang membakar diluar" ,ucap Perrin merasa seakan mengerti tentang lelaki meskipun dia tahu dia itu perempuan.


Apa yang dia tahu soal lelaki? Seketika Perrin merasa sok tahu dan bodoh...apa yang dia tahu soal pria?...


"Kau mencoba memberiku sisi baik dari pertempuran Jaruman? Itu tak berguna, bahkan kalau ada jutaan orang seperti Bellara Melara yang mau mati, tetap saja ada ribuan orang lagi yang tak mau mati" ,ucap Perrin sambil mulai merasakan panas api yang mengkremasi mayat.


"Ketika mereka mati maka mereka akan dinyanyikan keberaniannya dalam lagu dan akan dicatat dalam buku sejarah" ,ucap Jaruman.


"Lagu tak pernah menggambarkan darah,usus,dan horror dari yang mereka lihat serta rasakan" ,ucap Perrin sambil menggertakkan giginya, "dicatat dalam buku sejarah? Mereka hanya akan ditumpuk dalam ratusan kertas disudut rak buku"


Perrin kemudian berbalik menjauh dari panas api kremasi.


"Tuan Perrin" ,ucap pendeta itu dengan tatapan yang terlihat tak pernah tidur.


Perrin menatapnya dengan lama kemudian hanya menghela nafas...


"Mata-mata Tuan Casca" ,ucap Perrin, "ada berita apa yang dibawa Tuan Kepala Mata-mata kita?"


"Raja Hasteinn dari Geralda memenangkan pertempuran disekitar Sungai Hitam disekitar Legata menangkap ratusan bangsawan dan menghancurkan 30.000 pasukan Keluarga Ohara" ,ucap Pendeta itu sambil memberi kertas surat kepada Perrin.


Kemudian Perrin mengambil kertas surat itu dan membacanya..


"Hm, dia menyeberangi sungai Hitam waktu malam, dan sempat kehilangan lebih dari 120 pasukannya karena tenggelam diarus malam Sungai Hitam. Tapi berhasil mencapai kamp pasukan Ohara yang tak siap dalam pertempuran, dan menyergap mereka,membakar kamp mereka,dan membunuh Jenderal mereka Khasrow dari Keluarga Tenyll" ,ucap Perrin sambil membaca hingga kebagian bawah surat itu.


*Entah ini berita bagus atau buruk..* ,pikir Perrin.


"Dia juga mengirim 11.000 pasukan Geralda sebagai umpan saat pagi membuat pasukan Ohara memukul mundur 11.000 pasukan itu...pasukan Ohara merasa mereka sudah menang besar malah berpesta...tak bersiap lagi dengan pertempuran, makanya mereka tak siap sergapan Raja umur 15 tahun ini..." ,ucap Perrin sambil bisa merasakan raja anak kecil itu yang merencanakan ini dimeja dengan membaca surat ini..


"Berapa kerugian 11.000 pasukan Geralda yang dipukul pasukan Ohara itu?" ,bertanya Jaruman penasaran.


"Sekitar kecil tuanku...1.000-2.000 pasukan kehilangan nyawanya dipertempuran itu" ,ucap Mata-mata tuan Casca itu sambil membungkuk, "11.000 pasukan itu langsung mundur ketika pertempuran berlangsung sebentar, katanya Tuan Khasrow memimpin sendiri pengejaran mereka tapi berakhir terluka parah"


Kemudian mata-mata Tuan Casca itu berhenti membungkuk kemudian melihat kembali kePerrin.


*Terluka parah?* ,pikir Perrin.


"Jenderal Khasrow terluka parah dengan tangan kanannya patah dipertempuran bersama 11.000 pasukan itu. Jadi waktu Raja Hasteinn menyerang dan menyergap, 30.000 pasukan Ohara itu tak punya jenderal pengganti yang berpengelaman" ,ucap Pendeta itu.


"Ada juga keberuntungan ikut berkontribusi dalam kemenangan raja anak 15 tahun itu" ,ucap Perrin sambil tersenyum.


*Tapi..30.000 pasukan..dan ratusan bangsawan..dalam usia 15 tahun itu sesuatu yang harus dibanggakan* ,pikir Perrin.


Perrin mulai merasa tua..meskipun dirinya hanya berumur 17 tahun, dengan semua kerajaan berada dikomandonya, dia merasa yang paling pintar sekarang...


Meskipun perlahan Perrin mulai sadar kalau dia bukan hanya orang berbakat didunia ini.


"Apa memang benar disurat ini katanya Raja 15 tahun ini sendiri yang membunuh Jenderal Khasrow ditengah-tengah pertempuran?" ,ucap Perrin.


*Atau ditengah-tengah kamp yang terbakar dan kekacauan* ,pikir Perrin.


"Iya tuanku, itu benar, ratusan klaim dari para orang Geralda kalau mereka melihat sendiri Raja Geralda mereka yang mengambil pedang dan menyerang dari atas kuda Jenderal Khasrow yang berjalan keluar dari Kamp waktu terluka dan tengah teralihkan dalam mengumpulkan pasukan" ,ucap Pendeta tersebut.


"Hm, diatas kuda, itu tak terdengar adil, tapi apa adanya, dipertempuran itu tak ada keadilan. Tapi kelihatannya kita punya pemain yang berbakat dalam Permainan Tubrukan Pedang,Darah,dan Kertas ini" ,ucap Perrin sambil menggulung kertas tersebut.


*Dia sudah memenangkan 1 pertempuran...tapi apakah itu akan membuatnya memenangkan perangnya?* ,pikir Perrin.


Perrin kemudian melihat keatas langit yang mulai dipenuhi asap dari api yang membakar mayat prajuritnya.


Perrin sudah memenangkan 1 pertempuran juga dengan korban yang lebih banyak...tapi apakah dia memenangkan perang ini?


Tidak, Trivistane dan pasukannya masih hidup disuatu tempat, Pelabuhan Harlaw masih belum diambil kembali, dan belum lagi Keluarga-keluarga besar Dalmatia masih bisa berpindah pihak keTrivistane kalau ada sesuatu.


Perrin sadar…


Kalau Permainan Tubrukan Pedang Darah Dan Kertas ini belum berakhir..


"Tuanku aku ada berita dari pelayar yang melaut kebekas Pertempuran Api Hitam yang belum aku beritahu, kupikir ini cuma candaan tapi sudah kukonfirmasi" ,ucap Jaruman dengan tatapan yang terlihat tak percaya.


"Apa itu? Apa yang kau anggap candaan?" ,ucap Perrin mengerutkan alisnya.


Kemudian Jaruman berbisik ditelinga kepada Perrin...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-____


.


.


.


.


.


"Buka gerbangnya untuk Jenderal Vesius dari Keluarga Garius!" ,ucap pasukan diatas dinding Kastil Fyrr.


*Tingiarrrrrrrrttttttkkkkk....*


Gerbang Kastil Fyrr yang terbuat dari kayu dan besi untuk menopangnya kemudian perlahan terbuka..


Gerbang Kastil Fyrr yang besar kemudian terbuka dihadapan Vesius dan rombongannya.


Untuk sebentar Vesius melihat seorang wanita remaja berdiri didepan gerbang dan tersenyum ceria padanya…


'Hai Vesius!'


Bisa didengar suara manisnya yang meringing dikepalanya..


"Mari maju" ,ucap Vesius kembali melihat gerbang sambil menarik tali pengikat kudanya.


Suara kuda meringkik terdengar dengan Vesius dan rombongannya maju masuk kedalam Kastil Fyrr.


Suara kuda melangkah waktu Vesius mengendarainya kedepan ikut terdengar lebih kuat.


Terpampang Lorong masuk Kastil Fyrr dihadapan Vesius.


Lorong masuk tersebut memiliki lebar yang bisa dibilang besar.


Terlihat Lorong masuk tersebut memiliki puluhan lubang jendela diatas.


Dengan beberapa pemanah dan prajurit sedang melihat Vesius lewat lubang jendela itu.


Jika Vesius dan rombongannya adalah musuh yang menyerang Kastil ini, maka prajurit dan pemanah itu sudah menembak Vesius dengan panah dan melempar batu dari lubang jendela itu.


Atau kalau ada Mesin Penerobos, prajurit akan menyiramkan minyak lewat lubang jendela tersebut dan kemudian melemparkan obor.


Setelah itu Mesin Penerobos musuh akan terbakar.


'Loronv Berdarah' beberapa pelayan dan prajurit Vesius memanggilnya waktu Vesius masih kecil.


Katanya orang Aquantania waktu pemberontakan, sempat menyerang Kastil ini dan gagal, kebanyakan katanya mati diLubang Masuk ini.


Kemudian berbelok Vesius dan rombongannya karena lorong masuk ini memang tak dirancang lurus…


Kemudian Vesius ia lihat kembali wanita remaja tersebut yang tersenyum kepadanya…


Kali ini ia taruh tangannya dibelakang pinggulnya dan membungkuk sambil tertawa ceria..


'Hahhahahaha! Kejar aku Vesius!'


Vesius kemudian kembali melihat kearah gerbang dengan tatapan dingin...


*Tingiarrrrrrtttttttkkkkkkk..*


Suara gerbang yang lain terbuka...


Vesius kemudian masuk dengan rombongannya kedalam Kastil ini.


Dengan ratusan prajurit dan pelayan membungkuk menyambut mereka.


Tapi bisa terlihat ada yang membungkuk juga, tapi bukan pelayan atau prajurit Kastil ini.


Dan jumlah mereka ada sekitar ribuan…


Terbentang dihadapan Vesius ribuan petani dan rakyat biasa yang diseret kedalam Kastil.


Kemudian dikurung didalam sebuah lingkaran pagar...


Dengan puluhan prajurit mengawasi petani-petani tersebut.


Terlihat didekat pagar yang menawan petani tersebut terdapat tungku..dan perlengkapan lainnya...


Semacam prajurit yang menyiapkan pisau besi yang dipanaskan disebuah tungku tersebut..


"Tuanku" ,ucap salah satu prajurit membantu Vesius turun.


*Tuk*Tuk*Tuk*


Vesius kemudian turun dengan tangga kayu buatan prajuritnya, turun secara langsung cukup sulit buat Vesius karena badannya yang gendut.


Vesius kemudian melihat salah satu dari orang yang ia kenal diantara prajurit ini.


"Boggar, kenapa petani,pekerja,dan pelayan yang bisa membantu kita buat pengepungan, malah dikurung didalam pagar bagaikan domba ternak seperti ini" ,ucap Vesius dengan tatapan dingin.


"Kami mau interogasi satu persatu tuanku, kabar soal mata-mata Geralda dimana-mana sudah tak bisa dibiarkan tuanku" ,ucap Boggar.


*Interogasi dengan siksaan maksudmu..* ,pikir Vesius sambil melihat prajurit yang memegang sebuah pisau besi yang terlihat merah panas diujungnya.


" 'Mata-mata' " ,ucap Vesius dengan mengucapkan 'Mata-mata' dengan tajam, "heh, ketika orang bodoh tak pandai menjaga rahasia tentang rencananya, ia malah menyalahkan pengkhianat dikumpulannya sendiri"


Vesius kemudian melihat kearah Boggar yang memiliki kumis tipis dan postur yang cukup berotot.


*Boggar...anak muda yang brutal dan kejam, tapi itu tak membuatnya jadi komandan yang bagus..* ,pikir Vesius.


"Ini penting tuanku, 30.000 pasukan Ohara sudah hancur ditangan Raja Pemberontak Geralda disekitar Sungai Hitam tuanku, 'Pertempuran Angin Menghembus' orang-orang memanggilnya" ,ucap Boggar.


"Apa?" ,ucap Vesius mendengarnya.


*Apa? Pasukan Keluarga Ohara dihancurkan?* ,pikir Vesius.


"Apa kau bilang?" ,ucap Vesius bertanya kebingungan.


"Tuan belum mendengarnya?" ,ucap salah satu prajurit.


*Pasukan Ohara dihancurkan? Tangan Kanan Vespasian siKhasrow tidak mungkin sebodoh itu untuk dikalahkan dengan 30.000 pasukan disisinya* ,pikir Vesius.


"Pasukan Ohara disergap oleh Pasukan Pemberontak, sedangkan Pemberontak menggunakan sihir hitam membuat Khasrow terluka parah jadi dia tak bisa bertarung dan Pemberontak membunuhnya" ,ucap salah satu prajurit.


"Dasar bodoh sihir hitam itu cuma rumor, Raja Pemberontak sendiri yang membunuhnya dengan menyerangnya sambil menunggangi kuda sedangkan Khasrow tak punya kuda dan sedang berjalan. Oh iya, Khasrow terluka parah itu karena pertarungan sebelum Pertempuran Angin Berhembus" ,ucap salah satu prajurit yang kemudian meneguk sekantung kulit anggur.


*Itu bisa diwajari, Khasrow sedang terluka..dan penggantinya pasti tak berpengalaman karena disergap ketika ia punya 30.000 pasukan. Tapi tetap saja 30.000 pasukan..itu kerugian yang banyak..* pikir Vesius.


"Raja Pemberontak? Bukankah dia baru 15 tahun? Dia hanya bocah" ,ucap salah satu ksatria Vesius yang masih diatas kuda.


"Bocah yang punya pasukan,punya kuda, punya pedang ditangannya dan punya tubuh yang baik-baik saja" ,ucap salah satu prajurit, "sedangkan Khasrow sedang terluka parah, berjalan, punya pedang tapi masih disarungnya dan tak punya waktu untuk membuka pedangnya dari sarungnya"


"Aku dengar kalau pemberontak berpesta dengan biadab setelah memenangkan pertempuran, mereka bermain dengan kepala musuh mereka" ,ucap salah satu prajurit.


"Itu budaya Geralda, waktu pertempuran mereka berduel dengan musuh mereka, setelah itu mengklaim kepala mereka untuk membuktikan kalau mereka memenangkan duel dan membunuh musuh mereka" ,ucap salah satu prajurit.


*Orang Tyronia juga punya budaya seperti itu, tapi lebih biadap kadang, kadang mereka bawa tangan,hidung,kulit,bahkan kadang alat kelamin buat diawetkan" ,batin Vesius sambil mengambil segelas anggur yang dibawakan diatas talam oleh pelayan.


"Oi kau bapak yang disana" ,ucap Vesius memanggil seorang rakyat biasa yang ditawan didalam lingkaran pagar itu.


"T-tuanku" ,ucap bapak itu sambil membungkuk.


"Kau sebelum dibawa kesini, pekerjaanmu apa?" ,ucap Vesius yang kemudian meminum segelas anggur.


"Pandai besi tuanku" ,ucap bapak itu.


Vesius kemudian melihat semua prajurit dengan tatapan tajam...


Semua prajurit hanya bisa terdiam dan beberapa menelan ludahnya..


Kemudian Vesius menoleh kembali kearah Boggar.


"Suruh mereka bekerja" ,ucap Vesius, "suruh Petani untuk menggali parit disekeliling Kastil, itu bisa menyulitkan pasukan musuh untuk mendekat ketembok. Suruh Pandai Besi untuk membuat senjata untuk kita, aku rasa kita punya beberapa bijih besi ditambang yang masih bekerja dan pedang berkarat yang masih bisa dibuat ulang"


Beberapa prajurit langsung mengerti dan mengangguk.


Perlahan prajurit langsung bergerak melepaskan petani yang ditawan.


Beberapa langsung mengiring mereka untuk bekerja, sedangkan ksatria Vesius sedang menunggu tuan mereka.


Vesius kemudian kembali melihat wanita remaja itu melambai diatas tower…


'Vesius! Kau hebat!'


"Boggar, bawa aku ke Komandan Jarnan yang sedang sakit. Aku ingin bertanya kenapa Jaran memilihmu sebagai pengganti, melihatmu saja sudah buatku wajar melihat keadaan benteng dan Kastil Fyrr" ,ucap Vesius sambil berjalan melewati Boggar bersama 19 ksatrianya.


Suara ringingan armour besi ksatrianya bisa terdengar ketika berjalan mengikuti Vesius.


Sedangkan Boggar hanya terdiam kesal dan mengikuti Vesius.