Hannoic War

Hannoic War
Keganasan Besi (Part 27)



"Tuhan telah memastikan untuk manusia kalau tidak ada cara yang lebih cepat untuk menang dengan setidaknya mati sekali saja"


-Hannibal Barca dari Livy


Keganasan Besi


Berdiri Elric didepan sebuah kastil besar ini…


Terbentang Kastil Myhall dihadapan Elric dan ribuan pasukannya yang berkamp didepannya..


Sungai besar Garpu Putih terdapat dibelakang kastil ini mengalir deras..


Terlihat beberapa prajurit Elric memancing disana. Meskipun beberapa buang air juga disana.


Ada juga yang kadang Elric lihat berenang hingga ke tengah sungai tadi, kemudian mereka mati ditembak dengan panah oleh musuh.


Ada juga pasukan Elric yang lain yang berkamp diseberang sungai, untuk mencegah musuh bisa keluar dari Kastil lewat seberang sungai dan kemudian menjarah makanan didesa sesuka hati.


Elric akan membuat mereka kelaparan dikastil ini...kemudian menyerah..


Elric sudah memainkan perannya dengan menghancurkan pembawa suplai mereka..harapan terakhir mereka….sekarang Elric tinggal melakukan sisanya..


"Kita harusnya menerobos benteng Myhall ini lagi tuanku" ,ucap Ksatria Mailann disamping Elric.


*Ksatria Mailann...muda dan baik hati..tapi itu tak membuatnya jadi bijak..* ,pikir Elric.


"Kita sudah melakukannya...8.000 sudah kehilangan nyawanya" ,ucap Elric sambil melihat tangan kanannya, "kita sudah memisahkan 11.000 pasukan kita untuk menjaga disisi lain sungai, kita hanya punya sisa 14.000..jika menyerang lagi...mereka bisa saja keluar dari kastil mereka dan menyergap kita saat malam"


*8.000 melawan 14.000...meskipun jumlah dipihakku...tapi 8.000 pasukan musuh lebih berpengalaman. Bisa saja aku akan kalah..* ,pikir Elric.


Elric ingat malam itu.


Ia punya 33.000 pasukan melawan 8.000 pasukan...semua pasukan moral tinggi karena yakin menang..


Tangga disiapkan didinding benteng musuh...dan pasukan naik..


Pasukan musuh akan lari...dan akan menyerah...menurunkan pedangnya..dan akan menyerahkan jenderal mereka kepada Elric..


Atau dengan cepat pasukan Elric akan mengalahkan pasukan musuh dengan cepat dengan kerugian kecil…


Sama seperti digame ketika ribuan pasukan mengalahkan jumlah pasukan yang lebih sedikit…


Hanya dengan satu tombol..


Tapi yang terjadi malahan berbeda…


Air panas diturunkan kepada pasukan Elric ketika mereka naik ditangga.


Batu besar dilempar dari atas dinding oleh musuh menghancurkan mesin penerobosnya.


Kemudian ketika pasukan Elric berhasil naik keatas dinding, kebanyakan mereka tak berpengalaman dan kelelahan...tak siap untuk diserang pasukan musuh..


Sedangkan beberapa pasukan yang berpengalaman langsung siap...mereka sudah terbiasa dengan ini…


Rasa tak siap...rasa ini semua terlalu cepat..rasa itu tak bisa dihilangkan langsung kepada prajurit baru bahkan dengan latihan yang benar-benar lama.


Hanya pertempuran langsung yang bisa melatih mereka untuk ini...


Pasukan veteran itu jauh skillnya ribuan kali daripada pasukan baru...tak seperti digame strategi yang hanya menggunakan level seperti yang Elric bayangkan..


Dan setelah pertempuran..ratusan mayat dikumpulkan…


Ratusan mengambil armour pasukannya yang mati dan mengambil barang-barang dari mayat.


Kemudian bau...bau mayat..bau lumpur...itu semua tak ada yang menandingi gambaran digame,film,novel,anime..


Tumpukan mayat dimana-mana, beberapa mengubur dan membakar teman mereka dimana-mana.


Atau membiarkannya begitu saja.


Tadi Elric melihat seorang mayat prajurit telanjang dari ujung rambut hingga keujung kaki dibiarkan berbaring dikamp, semua armour dan pakaiannya diambil sama temannya.


Dan ketika pertempuran datang..


Rasa beratnya perintah...Elric mau melakukan sesuatu..tapi itu malah tersangkut dilidah dan tenggorokannya…


Ia malah mengikuti apapun yang bawahan dan orang disekitarnya katakan..


Ratusan pemerkosaan dan penjarahan untuk mencari makanan juga Elric tak bisa hentikan...makanan yang ada dikereta suplai terlalu membosankan untuk pasukannya..


Kebanyakan merampok petani ketika sudah diberi pedang. Kebanyakan meminta anggur,bawang,makanan yang lebih berasa,cincin emas atau besi,sepatu, atau senjata yang lebih bagus.


Kebanyakan dikereta suplai hanya biji gandum untuk kemudian dimasak menjadi bubur yang tanpa rasa..


Dan pasukan akan cepat bosan dengan itu..


Kemudian lama kelamaan mengikuti teman-teman mereka merampok petani.


Kemudian lama kelamaan memerkosa wanita.


Dan ternyata memang benar...yang Elric banyak eksekusi adalah prajurit yang lebih veteran..


Prajurit yang sudah biasa melakukan ini disetiap perang..


Tak seperti yang Elric bayangkan ketika bermain game...prajurit veteran..heroik,kuat,dan bisa diandalkan mengalahkan musuhnya..


Dan pertempuran datang digame...bisa diselesaikan hanya dengan satu atau dua tombol…


Dan hasilnya harusnya tak lebih dari 8.000 pasukan kehilangan nyawanya..


"Kita harus melakukan ini.." ,ucap Elric sambil melangkah maju tanpa memakai pedang dipinggulnya, "minggirlah Mailann"


*Tingiarrrrrrrrttttttkkkkk…*


Gerbang kayunya Kastil Myhall yang besar terbuka dihadapan Elric..


Dan kemudian terlihat seorang pria berambut yang cukup panjang berdiri dengan bibir hitam diwajahnya..


Disekitarnya terdapat prajurit berpakaian besi yang terlihat mengikuti pria bibir hitam tersebut..


Postur badannya dan cara bergeraknya pria bibir hitam tersebut agak ia miringkan…dan main-main..


Sedangkan Elric sendiri berdiri tegap dan dingin..


*Dia jenderalnya…* ,pikir Elric.


"Mau bicara ya 'Tuan Pahlawan yang akan menyelamatkan dunia dengan batang besarnya'?" ,ucap jenderal bibir hitam tersebut sambil merentangkan kedua tangannya.


*Cara diplomasi..* ,pikir Elric.


Elric selalu berpikir bermain diplomasi itu bukan jalan yang jantan dan tak begitu bagus…


Elric lebih suka berperang daripada bicara dan duduk didepan bangsawan bagaikan bencong.


Memang bukan jalan diplomasi adalah jalan yang jantan…


...tapi kadang itu jalan yang harus kau jalani...


"Aku sudah bilang negosiasi akan dilaksanakan tanpa pedang" ,ucap Elric dengan nada dingin.


*Ttttaaakkkk!*


Lempar pedangnya pria bibir hitam tersebut kearah belakang Elric mengenai lantai rumput.


"Hm, ambil tuh pedangnya" ,ucap pria bibir hitam tersebut.


*Ssshhrrinhgggg!*


Beberapa ksatria dibelakang Elric terdengar mengeluarkan pedangnya.


Ketika melihat ksatria Elric mengeluarkan pedangnya, pemanah musuh diatas dinding menyiapkan panahnya.


Bahkan beberapa prajurit disamping pria bibir hitam tersebut terlihat menyiapkan perisai dan pedang mereka.


Elric kemudian menaikkan tangannya dengan rendah..


Kemudian semua ksatria Elric perlahan memasang kembali pedangnya…


Dan kedua musuh kembali ke negosiasi…


"Namaku Elric" ,ucap Elric.


"Namaku Khajir dari suku H'ghaul" ,ucap Khajir dengan senyuman terbentuk dengan bibir hitamnya.


"Kau sudah dengar surat dari Tuan Tangan Kanan Perrin bukan?" ,ucap Elric.


"Hehe, 'siPahlawan lain yang akan menyelamatkan dunia dengan batangnya yang besar yang lain'?" ,ucap Khajir.


"Tidak" ,ucap Elric.


*Lebih tepatnya dadanya yang besar* ,ingin Elric mengatakan itu.


"Kurasa kau tak mendengar beritanya, Rajamu Trivistane sudah dikalahkan diPertempuran laut. Seluruh angkatan lautnya sudah dihancurkan, 'Pertempuran Api Hitam' orang memanggilnya" ,ucap Elric sambil melangkah lebih dekat.


Elric menjaga suaranya agar tetap kuat...


"Tuan Perrin sudah memberi ijin untuk kalian pasukan Akkadia untuk pulang tanpa harta jarahan...hanya kapal untuk kalian pulang, yang akan dikomando oleh kapten kita untuk dikembalikan, bahkan Raja kalian juga dibolehkan pulang" ,ucap Elric.


Kata-kata itu cukup sakit dimulut Elric...bahkan Elric pun terkejut ketika membaca surat dari Perrin tersebut…


Terus buat apa kematian dan penderitaan ribuan nyawa dipengepungan ini?


Aksi Perrin itu mengejutkan...tapi memang benar..itu akan mengakhiri perang ini lebih cepat..


Elric sempat berpikir..


Tapi apakah Trivistane akan membawa prajurit bayaran baru kemudian kembali lagi keDalmatia dengan cepat?


Tidak...mana ada prajurit bayaran yang ketanah asing kemudian sudah merasa muak, kemudian mau kesana lagi..


Kebanyakan akan meninggalkan Trivistane ketika kembali pulang diAkkadia, lebih lagi tanpa jarahan atau hasil dari sana.


Trivistane mungkin membayar beberapa dari mereka untuk datang kesini…


Tapi bukan berarti Trivistane akan membayar mereka semua..kebanyakan dari mereka dijanjikan..


30.000 pasukan bayaran..mereka dijanjikan kekayaan dan hasil…


Tapi kemudian tak dapat apa-apa setelah jauh-jauh kesini…pasti mengecewakan bagi mereka..


Ketika semuanya sudah mendengar Trivistane gagal dan kalah disuatu perang untuk memberi pasukan bayarannya jarahan dan hasil…


Tak ada yang mau pergi bersama Trivistane lagi kesini..


Elric sudah dengar kalau pasukan Trivistane melewati 5 bulan panjang dari Akkadia ke Dalmatia dengan kapal…


Sesuatu yang pasti memuakkan bagi prajurit..


Kalau kembali keAkkadia lagi...maka Trivistane akan berlayar 5 bulan kembali...kemudian 5 bulan untuk kembali kesini..10 bulan..


10 bulan...itu adalah waktu minimum Elric dan pahlawan lain bersiap untuk perang lagi..


Tapi itu cukup, dan kita bisa siap untuk perang.


Pasukan musuh semua pasti punya sisi kecil dihatinya yang mau pulang..


"Kenapa kau melakukan itu?" ,ucap Khajir sambil mengerutkan dahinya.


*Apa? Karena kita terlalu baik kepada musuhku? Bodoh, posisi kita sebagai pemimpin Damaltia juga masih tak aman. Perang juga takkan mengubah itu, jika perang ini makin panjang maka Keluarga besar lain akan berpindah pihak ke 'Raja' mu. 'Kenapa aku berpihak keseorang wanita? Raja Trivistane mungkinlah yang sah' 'jika aku berpindah pihak pada Trivistane mungkin aku akan diberi hadiah' aku tak mau banyak orang mulai memikirkan itu* ,ingin Elric mengatakan itu..


"Jika Trivistane pergi, maka perdamaian akan dicapai lebih cepat" ,ucap Elric.


Khajir terdiam sambil melihat Elric dengan tatapan tajamnya.


"...tidak..." ,ucap Qharlan dengan suaranya yang dalam dan sekeras batu, "...bukan itu maksudku"


Elric melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Khajir.


*Dia mengerti...dia mengerti taktik Perrin untuk mengembalikan Trivistane..dia tak sepenuhnya idiot...* ,pikir Elric melihat matanya.


"Kenapa kau pikir Trivistane akan meninggalkan tanah ini?" ,ucap Khajir dengan suara dalam, "kau tidak tahu dia...bahkan kalau kau janjikan akan menaklukkan sebuah negeri diAkkadia dan akan memahkotai Trivistane sebagai rajanya sebagai hadiah kalau dia pergi dari Damaltia...dia tetap tidak akan pergi.."


Perlahan Khajir berjalan kearah Elric dengan langkahnya yang kuat dan dalam.


Giginya yang sedikit kuning dan memiliki sisa daging disela-sela giginya yang terbuka…


Dia tersenyum lebar..


"Kau tak tahu dia…ketika Trivistane berperang diCakar Singa sebagai tentara bayaran, dia diperintahkan untuk menjaga ibukota sebuah negeri diAkkadia yang bernama Makull, puluhan ribuan pasukan mengepung kota tersebut dan membuatnya kelaparan diMakull selama berbulan-bulan" ,ucap Khajir dengan memperbaiki posturnya dengan berdiri lebih tegap..


Dengan berdiri Khajir memperlihatkan tubuhnya yang cukup tinggi.


Lebih tinggi dari Elric...


"hampir semua orang diAkkadia berpikir kalau tentara bayaran bernama Trivistane ini akan menyerahkan kota Makull hanya dalam sebulan. Tapi bahkan ketika komandan semua penjaga ibukota Makull sudah mati karena kelaparan dia tetap menjaga kota tersebut" ,ucap Khajir dengan suara paling dalam yang pernah ia dengar.


Tak ada suara yang sedalam ini semenjak Khajir mendengar Cyrus berbicara ketika marah..


Elric masih ingat bagaimana Cyrus membanting meja didepan Julius yang berdiri bagaikan iblis..


"9 bulan...9 bulan dia jaga kota Makull dengan 2.000 pasukan..bahkan ketika semua rakyat diKota Makull kelaparan..dia tetap menjaganya, karena itu kewajibannya, dia diperintahkan untuk itu...dia rela makan daging tikus bahkan mayat temannya sendiri demi melaksanakan kewajibannya" ,ucap Qharlan sambil mendekat lebih dekat kepada Elric.


Ketika Khajir lebih dekat dengan Elric, hampir semua prajurit Elric memegang pegangan pedangnya.


Mereka ketakutan kalau Khajir menyerang Elric.


"Bahkan ketika kerajaan yang ia bela dikalahkan dia tetap menjaga kota tersebut, ketika komandan dan raja yang memerintahkannya menjaga kota itu sudah dikuburan...dia tetap melakukan kewajibannya.." ,ucap Khajir dengan tatapan tajamnya.


Elric hanya bisa mengerutkan dahinya..


"Semua orang terkejut mendengarnya termasuk aku dan Qharlan, saking terkejutnya Qharlan dan aku memilih untuk menyelamatkannya bersama 15 kapal keKota Makull, ibunya bahkan sangat khawatir hingga ia ikut memerintahkanku untuk untuk membawanya pulang" ,ucap Khajir, "aku ikut dikapal Qharlan, ketika aku sampai disana dia bahkan tak mau pulang ketika aku sudah memintanya. Kau tahu kenapa dia memilih untuk meninggalkan Kota Makull?"


".....kenapa?" ,ucap Perrin menatap Qharlan dengan tatapan tajamnya.


" 'Perintah atau ibu darah dagingku? Itu adalah pilihan paling susah yang paling aku buat didunia ini Qharlan', itu yang ia katakan ketika dia mendarat dikapalku. Dia pulang cuma karena dia diperintah ibunya, kewajiban yang lebih kuat dari apapun didunia ini" ,ucap Khajir tersenyum sambil menyipitkan salah satu matanya.


Elric terdiam mendengarnya..


*Aku sudah terlalu meremehkan orang-orang didunia sihir alien ini..* ,pikir Elric.


Mundur Khajir setelah itu..


"Katakan padaku tuan Elric siPahlawan yang katanya akan menyelamatkan dunia, apakah kau pikir dengan menghancurkan semua kapalnya dan mengalahkannya disatu pertempuran akan menggeser rasa kewajibannya untuk mewarisi tahta Raja Damaltia?" ,ucap Khajir dengan merentang kembali kedua tangannya..


Kemudian berjalan berbalik kearah kastilnya meninggalkan Elric didepan Kastil...


Kemudian gerbang tertutup didepan Elric..


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


.


Berdiri Raja Trivistane didepan pohon raksasa yang cabangnya menjalar keseluruh kebun kastil ini hingga menyentuh dinding kastil…


Kebun lama Kastil Rellamia terbentang dihadapannya.


"Yang mulia" ,ucap seorang pria mendekat kepada Trivistane.


Trivistane kemudian membalikkan kepalanya untuk melihat kebelakang.


"Memnakh" ,ucap Trivistane dengan suara dinginnya.


Trivistane kemudian dengan cepat kembali melihat pohon raksasa tersebut.


"Ada apa?" ,ucap Trivistane.


"Keluarga Vurav berpindah pihak kepada kita" ,ucap Memnakh.


"Hm, Keluarga kecil itu..mereka cuma punya 600 pasukan" ,ucap Trivistane dengan wajah dinginnya.


Trivistane melihat pohon ini dalam waktu lama..


Pohon ini memiliki tulisan aneh dan corak yang lebih aneh lagi diukir disekitarnya dalam bahasa asing yang Memnakh tak ketahui.


Dibawah pohon ini terdapat semacam peti batu yang bisa dibuka untuk memberi pohon ini persembahan.


"Sebaiknya Yang Mulia menjauh dari pohon ini, pohon ini adalah wujud iblis yang disembah orang asli Strantos. Katanya jika didekati bisa membawa kutukan, Yang Mulia" ,ucap Memnakh.


"Ribuan nyawa sudah mengutukku sejak lama, 1 kutukan lagi takkan mengubah itu. Ini bukan iblis Memnakh, tapi tempat penghubung antara Dewa Lama orang Strantos dengan penyembahnya" ,ucap Trivistane dengan suaranya yang sekeras besi, "heh, dewa lama...berapa lama dewamu ada hingga orang-orang memanggilnya dewa lama?"


Trivistane mengatakannya dengan cemberut, Memnakh tak pernah melihat ada senyuman keluar dari wajahnya.


Trivistane tak akan pernah tertawa bahkan jika pria dari selatan Akkadia hingga keutara Victa berikan dia anggur paling kuat mereka.


"Ribuan orang mengatakan kalau mereka menyembah dewa, tapi pada faktanya mereka hanya menyembah uang dan kehormatan. Beberapa orang tak bisa menyembunyikannya, jadi mereka langsung jujur kalau mereka menyembah uang dan kehormatan" ,ucap Trivistane yang kemudian menggeretakkan giginya dengan kuat.


*Trivistane bukanlah orangnya dewa...tapi apakah itu cuma kebohongan?* ,pikir Memnakh.


Kalaupun Trivistane menyembah seorang dewa...dewa itu pasti tak pernah tersenyum atau tertawa..


Atau pernahkah dewa tersenyum dan tertawa?


"Kalau Yang Mulia menyembah apa?" ,bertanya Memnakh.


Trivistane kemudian menggeser kepalanya melihat lagi Memnakh…


Terlihat tatapan Trivistane adalah yang sesuatu yang sangat kuat...hingga Memnakh yakin kalau tatapannya lebih bisa bertahan dari topan daripada kastil ini..


"Aku tak menyembah apapun Memnakh, aku sudah memutuskannya sejak aku melihat bagaimana teman-temanku menjarah Kota Hamarurr di 'Cakar Singa' bagaikah hewan. Dengan ratusan wanita diperkosa,ratusan bayi dan anak kecil dibunuh,sepanjang mata memandang kota yang indah dibakar" ,ucap Trivistane dengan rahangnya yang terlihat sekeras besi, "aku sudah memutuskannya sejak saat itu, kalau tak ada dewa yang pantas doaku kalau mereka membiarkan kebarbaran ini terjadi"


Wajah Trivistane sendiri terlihat setengah memiliki nada bersalah setengah memiliki kekuatan besi.


Tatapannya kepada Memnakh bagaikan dirinya mengatakan 'Tanpa sadar aku juga melakukan itu...mungkin selama ini aku tak pantas untuk diikuti siapapun..'


Tapi wajahnya yang sekuat besi hampir menghilangkan itu.


Tapi memang begitulah perang, tentara bayaran yang Trivistane bawa memang perlu hadiah dan jaminan ketika datang kesini…


'berupa wanita yang bisa menangis dan dimainkan sesuka hati'


Memnakh kemudian menelan ludah mendengar ucapan Trivistane.


"M-maafkan aku bertanya yang mulia" ,ucap Memnakh.


"Berita apa yang kau bawa lagi?" ,bertanya Trivistane yang kemudian mengembalikan lagi pandangannya kepohon itu.


"Yang mulia?" ,gumam Memnakh kebingungan.


"Ada surat disalah satu kantong pakaianmu, kupikir aku tak melihatnya, apakah itu berita buruk selain Pertempuran Api Hitam lagi? Kenapa kau tak mau menunjukkannya?" ,ucap Trivistane dengan ringingan armournya bisa terdengar.


Memnakh kemudian semakin gugup dihadapan Trivistane, siapapun yang mendekat dan melihat Trivistane sudah bisa melihat siapa dirinya..


Suku Gargayole memanggil Trivistane 'Sang Jenderal Besi'...


Harmanakh dari kelompok tentara bayaran Jubah Pasir memanggilnya 'Besi yang akan pecah sebelum bisa bengkok'


'Singa Perak Ganas dari Barat'


Trivistane tak pernah akan mudah membalikkan dirinya ketika sudah memutuskan sesuatu..


"Tuan Pahlawan palsu Perrin mengirimkan anda ini Yang Mulia" ,ucap Memnakh sambil mengeluarkan selembar surat dari kantung pakaiannya, "dia memberi anda ijin permisi anda untuk pulang bersama pasukan anda ke Akkadia, mereka akan menyediakan kapal jika anda mau"


Trivistane hanya terdiam kemudian mengambil surat tersebut..


Dengan singkat ia membaca surat itu.


"Bakar surat ini" ,ucap Trivistane, "jangan tunjukkan ini kepada siapapun, jika ada prajurit yang tahu, maka isi surat ini akan menyebar. Kemudian prajurit yang mau pulang akan memberontak dan moral prajurit mengurang. 'Pertempuran Api Hitam' saja sudah membuat moral prajurit cukup rendah"


Memnakh hanya bisa setengah lega mendengarnya..


"Kau tak ingin pulang sama sepertiku" ,ucap Trivistane sambil memberi kembali Memnakh surat tersebut, "tidak kau masih punya rasa ingin pulang tapi lebih kecil dari kebanyakan orang disini, rasa rindu itu wajar"


"Istri, yang mulia" ,ucap Memnakh.


"Hm?" ,gumam Trivistane.


"Aku punya istri yang hamil dirumahku" ,ucap Memnakh.


"Hm, ya ribuan lagi juga punya, hampir semua prajurit kita punya keluarga" ,ucap Trivistane, "tapi aku harus melakukan kewajibanku Memnakh, beberapa orang akan bilang kalau aku anak haram. Tapi ibu dan ayahku menikah dengan pendeta Dewa Aurex ditanah Akkadia, aku bukan anak haram, akulah pewaris yang sah atas kerajaan asing ini"


Trivistane kemudian melihat bunga abu-abu yang tumbuh dibawah pohon sakral itu.


*Jika dia mau, dia bisa menjadi raja sebuah dinegeri Akkadia. Tapi dia memilih Damaltia yang hampir rusak akan perang...karena dia punya hak darah disini, itu kewajibannya untuk mewariskannya..* ,pikir Memnakh.


"Kita akan singgah ke Kastil yang lain, kita perlu kekuatan untuk mengambil kembali negeri ini" ,ucap Trivistane dengan suara sedingin besi diarmour mereka, "kau ketakutan Memnakh? Kalau kita akan kalah dan kau takkan pernah pulang kembali ke Akkadia untuk bertemu anak dan istrimu?"


Memnakh hanya mengangguk pelan kemudian melihat kearah Trivistane.


"Wajar, aku juga ketakutan, ratusan kali aku mencoba menghilangkannya tapi itu takkan pernah bisa" ,ucap Trivistane, "aku bisa melihatnya Memnakh...akhir dari kita yang kemungkinan besar adalah akhir yang buruk. Aku tak begitu bodoh untuk tak tahu kalau datang disini bisa membawa kehancuran bagi kita"


Trivistane kemudian berjalan melewati Memnakh..


"Tapi kita harus melakukan kewajiban kita, baik itu membawa buruk atau bagus untuk kita. Aku mengikuti takdirku Memnakh, takdirku adalah melaksanakan semua kewajibanku, beberapa orang bilang kalau kitalah yang mengukir takdir kita sendiri" ,ucap Trivistane sambil mengambil jubah bulu singa jantannya yang digantung dipohon.


Trivistane kemudian menghadap kedepan dan memasang jubahnya..


"Biarkan mereka berucap apa yang mereka percaya, sedangkan aku...aku akan melakukan apa yang kupercaya" ,ucap Trivistane sambil berjalan kedepan.