
"Perang adalah Ayah dan Raja dari segalanya...beberapa dia telah buat seorang dewa, beberapa dia buat seorang pria, beberapa dia buat budak, beberapa dia buat menjadi bebas..."
-Herodotus di Heraclitus dari Ephesus
Malamnya Kraken
Angin laut Dalmatia bisa terasa dikulit Qharlan, terutama saat malam begini. Karena anginlah yang kencang Qharlan hanya perlu berangkat 14 hari dari pelabuhan Harlaw hingga kebarat Dalmatia.
Meskipun lebih lama dari yang Qharlan perkirakan, tapi tetap saja ini sudah sangat cepat.
*Pertempuran akan datang...sebentar lagi..* ,pikir Qharlan.
Sebentar lagi Qharlan akan sampai keMulut Sungai Lebah bersama 100 kapalnya dan 7.000 awaknya.
Kemudian merebut Kota Aulius salah satu kota besar dengan akses laut yang penting bagi Dalmatia, jika Qharlan mengambilnya maka kapal,uang,akses laut,komunikasi diFaksi Ratu Kecil akan hancur dan kacau dalam beberapa bulan.
Mengingat Kota Aulius menghubungkan banyak komunikasi diperbatasan Dalmatia, maka dengan mengambil Kota Aulius, Itu akan mudah untuk memisah pasukan diperbatasan dan pasukan didalam Dalmatia
"Pertempuran akan datang, dan akan kita bawakan kejayaan kepada Raja Trivistane pak" ,ucap Paral dengan semangat.
"Iya, Paral, tapi jangan pergi sembarangan ketika pertempuran datang. Tetap berada disampingku...kau itu muridku, aku tak ingin kau mati" ,ucap Qharlan dengan mata coklatnya melihat Paral.
"Ba-baik tuan" ,ucap Paral.
Qharlan berdiri diatas kapal 'Janda Biru' nya sambil melihat lautan, kapal tertua dari semua kapalnya. Kapal itu telah melewati banyak petualangan bersama Qharlan.
Dahulu kapal ini bernama 'Istri Biru' memiliki pasangan kapal lain bernama 'Suami Biru', tapi ketika Qharlan terkena konflik dipertempuran dengan kapal patroli salah satu kerajaan diAkkadia. 'Suami Biru' tenggelam dan hancur dipertempuran itu.
Sehingga awak kapal Qharlan mulai menjuluki kapal ini 'Janda Biru'. Qharlan mengikuti awak kapalnya dan mengganti namanya sebagai 'Janda Biru'.
"Aku harap ini akan jadi pertempuran ringan, tapi aku rasa Faksi Ratu Kecil takkan semudah itu menyerahkan Sungai Lebah dan Kota Aulius ditangan kita. Akan ada perang diSungai Lebah untuk beberapa bulan kedepan Paral. Kita takkan lewati 1 pertempuran tapi mungkin belasan pertempuran untuk beberapa bulan kedepan" ,ucap Qharlan sambil melihat cincin silver dari peninggalan kakak perempuannya sebelum meninggal.
*Beberapa bulan kedepan, akan menjadi pertarungan yang sulit* ,pikir Qharlan.
"Apakah memang begitu sulitnya mengambil Sungai Lebah tuan?" ,ucap Paral.
"Ya, dahulu Victa pernah mencobanya aku dengar, dengan 70 kapal. Tapi mereka kalah dimulut Sungai Lebah dan pulang dengan 27 kapal" ,ucap Qharlan.
"Kita punya 100 kapal, kita pasti bisa" ,ucap Paral.
"Kita pasti bisa, tapi ini akan menjadi pertarungan sulit dan berdarah buat beberapa bulan kedepan aku perkirakan" ,ucap Qharlan dengan bibir tuanya sambil melihat tangannya yang bergetar.
*Aku ketakutan...bagus. Berarti aku tidak menjadi bodoh karena usia tua ini* ,pikir Qharlan sambil memasukkan tangannya kedalam pakaiannya.
Tapi awak kapal mulai terdengar ribut dibelakang Qharlan, langkah kaki dan bel berbunyi terdengar.
"Kapal disayap kiri! Kapal disayap kiri!"
Teriakan prajurit memperingati terdengar.
"Ada apa?" ,bertanya-tanya Paral.
Qharlan kemudian berbalik, dengan melihat ratusan kapal lain terlihat membunyikan bel peringatan dengan panik sama seperti kapal ini.
"Ada apa!?" ,ucap Qharlan.
"Puluhan kapal pasukan menyerang kita di Sayap Kiri" ,ucap salah satu prajurit sambil menyiapkan tali kapal ditangannya.
"Sial...kita sudah ketahuan" ,ucap Qharlan.
"Tuanku? Bukankah kita bergerak terlalu cepat jadinya mereka tak tahu kalau kita bergerak keSungai Lebah" ,ucap Paral dengan kebingungan.
"Rencana serangan apapun dengan 100 kapal besar bergerak dilautan bisa ditebak musuh nak" ,ucap Qharlan sambil berjalan kedepan.
Berjalan ia ketengah kapal melihat awak-awak kapalnya yang bersiap untuk bertempur, ketika Qharlan melangkah banyak prajurit diatas kapal langsung mengalihkan pandangan mereka kekomandan mereka.
"Siapkan Layar Janda Biru! Dan perintahkan kapal lain untuk bersiap! Prajurit disana siapkan panah api! Prajurit lainnya siapkan perisai dan pedang! Kita bertempur!" ,ucap Qharlan dengan suara perangnya.
Beberapa prajurit langsung bergerak mendengar perintah Qharlan, sedangkan beberapa prajurit yang veteran tersenyum.
*Pertempuran datang sekarang...aku sudah siap kapanpun..aku sudah siap dengan ratusan pengalamanku dilaut..* ,pikir Qharlan.
Prajurit mulai menyiapkan perisai dan pedang mereka, sedangkan puluhan lainnya menyiapkan barrel bakar dan minyak untuk panah api mereka.
Beberapa kapal lain disekitar mereka masih panik.
"Perintahkan kapal lain untuk bersiap-
Tapi tiba-tiba salah satu prajurit datang wajahnya yang panik, Qharlan memlih untuk membayar perhatiannya pada prajurit ini.
"Tuanku! Ada surat dari merpati, kalau ada puluhan kapal lainnya menyerang disayap kanan!" ,ucap prajurit itu.
*Serangan 2 arah...* ,pikir Qharlan.
Jantung Qharlan berdetak kencang…
"Komando kapal lain dengan cepat untuk siap! Sedangkan kapal garda depan untuk mundur dengan cepat! Kapal garda belakang juga perintahkan mereka untuk siap!" ,ucap Qharlan.
*Mereka telah siap beberapa minggu lalu....* ,pikir Qharlan menyadari sesuatu.
"Ada kraken abu-abu! Ada kraken abu-abu tuanku diSayap kiri!" ,ucap salah satu prajurit dengan panik.
"Kraken?" ,ucap Qharlan.
"Maksudku semua kapal musuh memasang bendera Kraken abu-abu tuanku!" ,ucap prajurit itu.
*Kraken abu-abu? Siapa? Komandan mana diDalmatia? Keluarga mana? Siapa komandan baru ini? Dia menyiapkan penyerangan 2 arah dimalam hari? Apakah dia berpengalaman? Siapa dia?" ,pikir Qharlan.
Untuk sebentar Qharlan bisa membayangkan rencana komandan musuh ini....
"Sial" ,ucap Qharlan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maju kapal Perrin kedepan, orang-orang menamai kapal ini sebagai 'Kepala Kambing' karena bagian depan Kapal ini tahan dan kuat.
Beberapa nama konyol bisa ditemukan banyak dibagian pasukan Perrin seperti ada kapal yang Perrin dengar diberi nama prajurit lain sebagai 'Biji Jenderal Merah'.
Didepan Perrin lagi ada puluhan kapal yang menjadi garda depan Perrin, yang akan menabrak kapal musuh demi Perrin.
"Minta kapal dibelakang untuk menurunkan layarnya agar menjadi lebih pelan, nanti kita menabrak kapal milik teman kita sendiri" ,ucap Perrin dengan kuat.
"Ba-baik tuanku" ,ucap prajurit yang setelah mendengar ucapan Perrin langsung dengan cepat berjalan kebelakang kapal.
Bendera Kraken abu-abu Perrin berkibar disetiap pandangan Perrin melihat dilaut ini.
Dengan ratusan api obor kapal bisa terlihat dimana-mana menerangi malam ini.
Layar Kraken Perrin bisa dengan mudah dikenali, membuat kapal teman dan musuh menjadi mudah Perrin ketahui.
"Kraken abu-abu anda terlihat menakutkan dan kuat tuanku, pasukan musuh akan terus mengingatnya ketika mereka pulang dari pertempuran ini tuanku" ,ucap ksatria Perrin sambil menunduk.
"Begitu juga dengan pasukan kita sendiri" ,ucap Perrin sambil berdiri tegap melihat kapalnya maju kedepan.
"Bagus-
"Kita bertempur, tak ada waktu untuk memperkiraan kejayaan dan bagaimana orang-orang mengingat kita. Siapkan pedang dan perisaimu" ,ucap Perrin memotong ucapan ksatrianya sambil berjalan kesisi lain kapal.
Terlihat awak pasukan Perrin telah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Pedang,panah,minyak,tali gantung,dan simbol Kraken diarmour mereka.
"Siapkan panah!"
"Kalian anak-anak ng*ntot! Itu aja lelah!"
"Kapal dikiri sudah siap!"
Langkah kaki mereka diatas papan kapal menjadi sangat ribut.
"Jenderal Jaruman" ,ucap Perrin memanggil seseorang yang terlihat berdiri paling tinggi diantara awak lain.
"Tuan Perrin" ,balas Jenderal Jaruman sambil menunduk.
"Bagaimana dengan bagian kapal yang menyerang diarah lain?" ,ucap Perrin sambil mendekat kearahnya.
"Belum ada kabar tuanku, tapi tenang saja Jenderal Bellemum Melara itu jenderal yang berpengalaman dalam Perang laut jadi tuan bisa tenang" ,ucap Jaruman.
" 'Tenang' " ,ucap Perrin mengatakan kata 'Tenang' dengan tajam, "lebih baik ketakutan setiap saat, daripada tenang sekali dimedan perang"
"Apa tuan pahlawan pengalaman dalam pertempuran laut?" ,bertanya Tuan Jaruman.
"Kau Jaruman?" ,ucap Perrin dengan cepat.
"Cuma pernah satu kali pertempuran melawan bajak laut diSungai Garpu Putih tuanku" ,ucap Jenderal Jaruman.
"Tidak dalam skala sebesar ini bukan?" ,ucap Perrin.
"Ya" ,jawab Jaruman.
"Menikmati pertempuran ini nampaknya adalah kesalahan" ,ucap Perrin sambil tersenyum.
"Tuanku?" ,ucap Jaruman dengan wajah kebingungan.
"Tapi entah kenapa aku sudah siap untuk pertempuran ini sejak aku terlahir" ,ucap Perrin dengan dingin.
*Perrin...rencana ini harusnya berhasil…* ,pikir Perrin.
Tangan Perrin dikepal sekuat mungkin saat ini….
Jantung Perrin sekarang bagaikan mesin terus memompa..hingga rasa pompaannya bisa terasa sekarang..
Perrin kemudian memakai helmnya..
"Sudah siapkan pemanah? Dan prajurit?" ,bertanya Perrin kepada Jaruman.
"Ya tuanku" ,ucap Jaruman.
*Ini pertempuran pertamaku...aku harus tenang..* ,pikir Perrin.
"Hahh..pertempuran pertama kah…harusnya dia disini.." ,ucap Perrin sambil menghela nafas.
"Siapa tuanku?" ,ucap Jaruman penasaran.
"Seorang teman...mentor mungkin? Entahlah hubunganku dengannya rumit" ,ucap Perrin dengan dingin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Angin malam mengibas rambut panjangnya.
Sedangkan kapak ditangannya sudah siap untuk darah dan besi.
Bellemum Melara telah siap untuk berperang.
Dan kemudian ia menunjukkan giginya yang sebagian emas sebagian kuning...tersenyum dirinya.
"Demi Ratu! Demi Ratu! Demi Ratu!" ,ucap salah satu prajurit dikapalnya.
"DEMI RATU! DEMI RATU! DEMI RATU!"
Tak lama prajurit dikapalnya mulai meneriakkan hal yang sama dengan kencang.
Ratusan tombak,pedang,bahkan jaring ikan diangkat-angkat oleh prajurit keatasnya.
Bellemum tersenyum kemudian mengangkat kapak besinya keatas secara perlahan..
"Demi Kraken! Demi Kraken! Demi Kraken!" ,berteriak kencang Bellemum.
Hingga beberapa bawahannya ikut tersenyum dan meneriakkan teriakan yang sama.
Sementara kapal mereka mulai mendekat kekapal musuh…
Terlihat musuh yang panik dikapal mereka sendiri melihat kapal Bellemum mendekat kearah mereka…
Suara bel yang berisik mulai diringingkan dikapal musuh…
Sedangkan Kraken abu-abu dan Mahkota bertemu...
"Demi Kraken!"
"Demi Kraken!"
"DEMI KRAKEN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Perrin mulai melihat satu persatu kapalnya maju kedepan..
Perrin sadar kalau ini adalah pertempuran…
Bukan berdiri diatas kapal dan melihat satu persatu pasukannya mati..
Tak seperti digame strategi dimana ada peta...dan gerakan pasukan kita bisa dilihat…
Disini kita tak bisa melihatnya..dan ini adalah pertempuran…
Perrin menggeretakkan giginya...sambil menatap tajam kedepan.
.
.
.
.
.
.
"Demi Raja Trivistane! Demi Raja Trivistane! Demi Raja Trivistane!"
"Demi Tangan Kanan! Demi Tangan Kanan! Demi Tangan Kanan!"
"Demi Tuan Ratu! Demi Tuan Ratu! Demi Tuan Ratu!"
"Demi Kraken! Demi Kraken! Demi Kraken!"
Teriakan manusia memenuhi lautan…
Dan kayu juga besi akan membuat suara yang lebih besar..
*BAKKKKKK!!!!*BRASSSHHHH*TERERRRTTATTTKKKK*