
"Manusia akan cepat percaya sesuatu yang mereka inginkan dan harapkan itu terjadi"
-Julius Caesar
Membentang Jaring dan Patung Raja
Duduk dia...Tuan muda keluarga Garius dikebun dengan buku ditangannya.
Kebun ini cukup cantik untuk Mya yang berasal dari Dalmatia, Mya mendengar banyak cerita dari Dalmatia kalau orang Victa itu barbar dan membangun bangunan mereka dengan ratusan budak.
Batu mereka berasal dari tanah yang mereka curi dan taklukkan, sedangkan pelayan mereka merupakan budak yang dipaksa setiap hari dan dimainkan bagaikan properti.
Orang Victa dikatakan kasar dan suka bertarung seperti barbarian.
Tapi Mya tak menemukan itu selama ia pergi keVicta, emang iya orang Victa itu lebih kasar tapi tak begitu barbar seperti yang Mya kira.
Tuan Vesius Garius lebih sopan yang dari Mya kira, meskipun memperingatinya berkali-kali untuk menjaga mulutnya tapi Tuan Vesius tak se kotor yang Mya kira.
Tuan Vesius dirumorkan suka memperkosa wanita dan memainkannya, bukan cuma itu banyak orang yang mengatakan kalau ia memelihara ratusan burung hantu dan bisa berubah jadi burung hantu kapanpun ia mau.
Tuan Vesius dikatakan rakus dan memakan bagaikan babi hingga remah kue berlemparan kemana-mana ketika ia makan.
Tapi Vesius malah kebalikannya, emang iya Vesius itu makan banyak tapi pada faktanya mejanya lah yang paling bersih saat pesta berlangsung.
Ia lah yang paling tak membicarakan soal tubuh wanita dikastil ini, ketika bahkan prajurit bisa mengobrol seenaknya tentang wanita bangsawan.
Bangsawan pria pun suka membicarakan tubuh wanita dipesta bersama dengan pelayan mereka.
Untuk burung hantu....Mya tak pernah melihat Vesius selama diIstana ini memegang burung hantu ataupun berbicara tentang burung hantu.
"Tuanku" ,ucap Mya melangkah kekebun menyapa Tuan Vesius.
Kebun ini indah dengan ratusan jenis bunga didalamnya, bukan cuma itu terdapat patung tua ditengah-tengah kebun yang memiliki bunga liar tumbuh ditubuh patung tua tersebut.
Langit terlihat cerah dan matahari terang menerangi kebun didalam istana ini.
Pohon juga tumbuh dikebun ini dan angin bisa terasa sejuk dikebun ini.
"Mya.." ,ucap Tuan Vesius membalas sapaannya.
Tapi dengan cepat Tuan Vesius kembali kebukunya.
"Apa yang tuan lakukan dikebun ini?" ,ucap Mya dengan lembut.
"Haruskah kau tanyakan? ....aku membaca buku tentang sejarah Strantos dari Penyihir Jaquan dari 'Cakar Singa' ini menggambarkan sudut pandang sejarah Strantos dari orang Akkadia" ,ucap Vesius.
Mya sudah menyadarinya sejak ia bicara dengan Vesius dipesta.
*Tuan Vesius menyukai buku..* ,batin Mya.
"Tuan bukannya punya tanggung jawab sebagai menteri perang? Tidak boleh loh tidak bertanggung jawab sebagai menteri perang" ,ucap Mya dengan nada yang lembut tapi memiliki tajam didalamnya.
Mya suka menggoda dan mencari cara mengkritik setiap gerakan Tuan Vesius. Setiap Mya melakukan hal itu Vesius kadang membalasnya dengan ucapan yang menarik dan sopan.
*Dia..dia merupakan pria yang paling menarik diajak mengobrol selama hidupku* ,pikir Mya.
"Hahh..." ,menghela nafas tuan Vesius, "jika kau punya buku dan sebuah kebun maka kau punya segalanya. Ini adalah salah satu kesempatan terakhir istirahatku yang kupunya nona" ,ucap Tuan Vesius sambil membuka lembaran baru bukunya.
"Apakah tugas dipemerintahan begitu sulit dan melelahkan?" ,bertanya Mya.
"Politik selalu sulit Mya, mau kau jenius atau tidak. Satu aja langkahmu dipolitik maka itu akan mengancam hidupmu. Kau terkadang harus melakukannya perlahan. Tapi ketika kau perlahan maka musuh akan dengan cepat mengejarmu" ,ucap Vesius.
"Tuan tipe mana?" ,ucap Mya sambil melangkah kearah semak kebun mengambil sebuah bunga.
"Hm?" ,ucap Vesius yang kemudian mengangkat kepalanya dari buku, melihat kearah Mya.
"Yang perlahan dan hati-hati atau cepat dalam mengejar musuh?" ,ucap Mya sambil mengambil bunga tersebut dan mengangkatnya kehadapan wajahnya.
"Tergantung kondisi" ,ucap Vesius.
"Kondisi? Hehihe" ,ucap Mya dengan ada tawa kecil diakhir ucapannya.
"Ya...." ,ucap Vesius kemudian melihat kearah patung besar ditengah-tengah taman ini.
Patung besar tersebut terlihat berdiri dengan wajah batunya sedangkan rambutnya terlihat lumayan berantakan dan tak rapi pemahatannya.
Sedangkan ia memakai jubah dan pedang ditangan kanannya yang sudah rusak dimakan zaman. Sedangkan sebuah bunga menjalar terlihat tumbuh dari kaki hingga kedadanya.
"Patung siapa itu?" ,ucap Mya dengan penasaran.
"Raja Terakhir Victa...Asliaus iii..dia hanya memerintah selama 2 tahun masa damai, rakyat Victa mencintainya. Tapi pada akhirnya 9 keluarga berkoalisi melawannya dan memberontak setelah itu menang kemudian membuat Republik Victa" ,ucap Vesius.
"Rakyat mencintainya? Lalu kenapa dia digulingkan?" ,ucap Mya.
"Karena bangsawan membencinya, dia memimpin tanpa orang kaya disisinya membuat ia tak punya uang untuk memasang armour buat pasukannya. Tanpa orang kaya disisinya dia tak bisa membuat sebuah pasukan asli melainkan hanya petani yang memegang tombak kemudian diterjukan kemedan perang" ,ucap Vesius yang kemudian berdiri dari kursinya.
Berdiri kemudian berjalan disamping Mya menatap patung tua ditengah kebun ini.
"Apakah rakyat bertarung deminya sampai akhir?" ,ucap Mya sambil menyentuh kaki dingin patung tersebut.
"Sebagian bertarung..sebagian tidak, sebagian orang tidak mau melerakan nyawa mereka ataupun anak mereka untuk berperang demi perang orang kalangan atas" ,ucap Vesius dengan tatapan tajam ia memandang patung itu.
"Tapi...itukan raja mereka..itu perang raja mereka maka itu perang mereka.." ,ucap Mya sambil memegang dengan lembut rumput yang menjalar dikaki patung raja tersebut.
"Hahh...nona, Raja Asliaus pernah berjalan diibukota dengan bodyguardnya, ia memberi pengemis uang dan rumah. Ia membangun dinding bagian barat ibukota untuk jadi lebih kuat, dia membangun jalan dan insfraktruktur" ,ucap Vesius dengan tatapan tajam ia menatap Mya.
Seketika Mya bisa merasakan kalau ia tak sepintar yang ia duga dan lebih tak mengetahui dari yang ia kira.
"Pengemis-pengemis bertarung disamping Asliaus, tapi pengemis-pengemis itu dengan cepat terbunuh dengan pedang besi mewah oleh 1 ksatria bangsawan. Pengemis-pengemis itu mencoba bertarung dengan pedang kusut dan menusuk sekuat tenaga armour bangsawan, tapi mereka dengan cepat terbunuh" ,ucap Vesius.
Kemudian Vesius ikut menyentuh kaki patung tersebut.
"Tapi beberapa yang pintar meninggalkan rajanya daripada bertarung dan terbunuh demi dirinya. Mereka memilih menjauh dari perang yang tak berguna buat mereka dan tidur dibawah atap yang dibangun raja mereka" ,ucap Vesius dengan tatapan paling kuat yang pernah Mya lihat dalam hidupnya, "Didunia ini semuanya memanfaatkan satu sama lain Mya...bahkan rakyat kepada rajanya"
* 'Didunia ini semuanya memanfaatkan satu sama lain Mya...bahkan rakyat kepada rajanya' * ,batin Mya.
"Jika dia digulingkan...kenapa patungnya masih disini?" ,ucap Mya.
"Dia mati disini..bertarung bersama 2 bodyguardnya melawan 10 ksatria bangsawan musuhnya" ,ucap Vesius sambil menatap Mya dengan senyuman kecil.
"Mati disini..?" ,gumam Mya.
"Ya, Raja Asliaus iii terbunuh bersama 2 bodyguardnya tapi dia membawa 6 ksatria bangsawan lainnya bersama kekuburannya. Karena bertarung sampai akhir seperti Ksatria para ksatria bangsawan memutuskan untuk menguburkan Asliaus iii sebagai ksatria" ,ucap Vesius sambil menunjuk kearah kepala patung tersebut.
Terlihat kepala dan rambut patung tersebut yang kelihatan tak rapi dipahat.
"Kau tahu kenapa itu seperti tak rapi dipahat? Itu karena patung ini dihancurkan bagian mahkotanya dikepalanya. Dihari Raja Asliaus mati, adalah hari dimana orang Victa bersumpah kalau tak ada raja yang akan memimpin mereka. Asliaus iii bukan lagi raja bagi kami tapi ksatria" ,ucap Vesius.
"Ksatria..." ,ucap Mya sambil melihat patung ini dengan seksama.
Mya tak menduga kalau ini adalah patung raja, ia berpikir kalau ini adalah patung jenderal atau semacamnya karena patung ini cukup tak terawat dan memakai armour layaknya prajurit.
Tapi ketika Mya membayangkan patung ini memiliki bagian mahkota dikepalanya, Mya bisa membayangkan seorang raja berdiri dengan pedangnya disini.
"Apakah orang-orang masih mengingatnya?" ,ucap Mya sambil memegang pedang batu yang dipegang patung tersebut.
"Itu sudah 200 tahun nona.." ,ucap Vesius.
"Apakah ayah tidak menceritakan kisah tentangnya keanak mereka?" ,bertanya Mya.
"Anak kadang akan mencari jalan sendiri yang jauh dari perkiraan dan keinginan ayahnya" ,ucap Vesius dengan suara nya yang bagaikan madu dituang kepedang.
"Hm" ,tersenyum Mya, "kau benar"
"Apakah kau menyayangi ayahmu?" ,bertanya Vesius.
"Bisa dibilang, kakekku pernah bilang kalau cinta orang tua kepada anaknya kadang tak dapat dimengerti anaknya sendiri..." ,ucap Mya dengan wajah yang sedikit sedih.
"Apa yang dikatakan kakekmu benar, Dalmatia mungkin punya sedikit rasa lembut yang sama dengan orang Victa" ,ucap Vesius sambil menutup bukunya.
Vesius kemudian terlihat merapikan sedikit pakaiannya.
"Aku mau pergi dulu nona, kelihatannya berbicara denganmu memberiku sedikit ide untuk langkahku kedepan" ,ucap Vesius sambil menaruh bukunya dipakaiannya.
"Ide apa boleh kutanya Tuan Vesius?" ,bertanya Mya berbalik menoleh keVesius.
Vesius kemudian menggerakkan pandangannya melihat kesekelilingnya.
*Aku sudah memeriksa, cuma kita berdua yang berada dikebun ini* ,batin Mya.
"Aliansi untuk membantuku langkahku mungkin" ,ucap Vesius sambil tersenyum.
*Aliansi?..apakah aku menanyakan harus menanyakan kenapa? Tidak, aku tidak boleh menanyakan lebih dari ini. Siapapun bisa marah kalau aku lebih dari ini" ,batin Mya.
"Kudoakan kau kemenangan dengan nama dewa Aurex" ,ucapkan Mya tersenyum sambil memegang bunga ditangannya.
*Tapi...aku ingin menanyakannya lebih dari ini..* ,batin Mya.
"Entahlah nona, itu bukan dewaku" ,ucap Vesius sambil tersenyum kemudian berjalan pergi dari kebun.
Suara langkah kaki kuatnya bisa terdengar dan kemudian suara langkahnya yang menjauh bisa terdengar melangkah pergi dari kebun ini.
"Tunggu sebentar" ,ucap Mya dengan suara yang sedikit kencang.
Vesius kemudian berbalik melihatnya dengan tatapan tajam.
"Ada apa?" ,ucap Vesius dengan suara yang lumayan kuat.
Kebun ini terdiam sebentar dengan hanya suara angin yang mengisinya.
Suara burung berkicau mulai terdengar dan kumbang hinggap dari bunga kebunga lainnya.
"Apa kau terlihat cantik dengan bunga ini dirambutku?" ,ucap Mya dengan bunga menghiasi bagian rambut diatas telinganya.
Bunga Dahlia terlihat menghiasi rambutnya.
Wajah mudanya yang terlihat anggun menjadi lebih imut dan manis.
Dari seorang nona ia terlihat hampir seperti anak kecil tinggi dengan bunga tersebut diatas telinganya.
"..Ya" ,ucap Vesius dengan singkat.
.
.
.
.
.
__-_-_____
.
.
.
.
.
Kursi panjang dengan belasan kursi ditengah ruangan ini.
*Tap*Tap*Tap*Tap*Tap*
Suara langkah kaki orang-orang terdengar.
Lantai ruangan ini terbuat dari batu mengkilat yang indah, sedangkan Bendera keluarga Gandaria dan Bendera Dalmatia menggantung didinding barat ruangan ini.
Kertas,pena bulu ayam,dan tinta bisa terlihat berada diatas meja ditengah ruangan ini.
"Aku dengar ada perkelahian lagi dibarat ada konflik penyembah Tuan Cahaya dan Dewa Langit"
Suara tua seorang kakek bicara sambil melangkah kedalam ruangan ini terdengar.
Sedangkan surat-surat dokumen berada diatas meja ini.
"Entahlah temanku, penyembah dewa nampaknya mulai bertarung satu sama lain"
Temannya juga ikut mulai masuk kedalam ruangan ini.
"Ini harus dihentikan kalau tidak maka-
Ketika mereka masuk keruangan ini, mereka sedikit terkejut melihat seorang wanita berdiri berada diruangan ini dan berdiri didekat meja kounsil ini.
Rambut putih perempuan tersebut bisa terlihat membentang hingga punggungnya.
Mata kuning nya menakutkan dan terlihat seperti tatapan monster yang bersiap menunggu mencabik mangsanya.
Perempuan itu menatap mereka berdua dengan tatapan aneh yang membuat mereka berdua ketakutan.
"T-tuan Pahlawan Perrin.." ,ucap Tuan Frudarr sambil menunduk sedikit menyapa tuan Perrin.
"Duduk" ,perintah Perrin dengan kuat.
"Tuanku dimana Tuan Pahlawan Cyrus?" ,ucap Faudav disebelah tuan Frudarr sambil menatap dengan tajam Perrin.
"Duduk" ,perintah Perrin lebih kuat.
Frudarr kemudian duduk terlebih dahulu karena ketakutan sedangkan Faudav terdiam sebentar menatap Perrin dan meragukan perintahnya baru setelah itu duduk.
Ketika keduanya duduk Perrin kemudian membuka sebuah surat dimejanya.
"Cyrus tengah berlatih bela diri untuk melawan raja iblis. Sedangkan dia sibuk, aku yang sebagai tangan kanannya akan terus menghadiri pertemuan kounsil selama beberapa bulan kedepan" ,ucap Perrin sambil menggulung kertas tersebut kembali.
"Perempuan.." ,ucap Frudarr dengan suara kecil sambil melihat tubuh Perrin.
"Apa Tuan Frudarr?" ,ucap Perrin dengan suara kuatnya.
"Ta-tak! Tak ada Tuan Perrin!" ,ucap Frudarr merasa gugup.
*Menjijikan ia mencoba mengintip dadaku* ,pikir Perrin dengan kesal.
Perrin hanya bisa cemberut dan tidak tersenyum kepadanya.
*Lagi pula dia berasal dari keluarga Garuman, mereka punya 18.000 pasukan..aku butuh mereka disisiku. Jika aku memecatnya maka itu akan menyinggung keluarga Garuman saat ini...dan aku kehilangan 18.000 pasukan..*
"Jadi dimana dimana Tuan Casca dan Tuan Regio?" ,bertanya Tuan Faudav yang mulai merasa tak sabar.
*Dia cukup tak menyukai wanita yang memimpin pertemuan kounsil ini..* ,batin Perrin.
Perrin hanya bisa mewajarinya. Toh, pria yang punya kesombongan tinggi seperti dia, sudah sewajarnya tidak suka diperintah oleh wanita.
"Kelihatannya Tuan Faudav mau diriku berlari kearah Ruang kounsil Jari dan Tangan" ,ucap Tuan Casca dengan suara licin.
Kedatangan Casca membuat kedua orang didepan Perrin merasa terkejut.
Langkah kaki Casca tak terdengar ketika ia berada didepan pintu ruang kounsil.
"Selamat datang Tuan Perrin...dimeja kounsil.." ,ucap Casca dalam suara licin dan senyumannya yang lebih licin, "keberadaanmu dimeja kounsil membuat ruangan kounsil ini jadi lebih terang tuanku..",ucapnya sambil berjalan kearah Perrin.
Casca kemudian menunduk dan berniat mencium tangan Perrin sebagai penghormatan-
"Tidak perlu mencium tanganku, duduk" ,ucap Perrin dengan suara yang lebih kuat.
Meskipun Tuan Casca berdiri dan Perrin duduk lebih rendah darinya.
Perrin bisa dirasakan bagaikan duduk diatas ratusan pedang besi menatap mereka bertiga.
Tatapannya yang tajam menambah aura tersebut.
"Baik tuanku, maafkan aku atas ketidaksopananku.." ,ucap Casca yang kemudian menggeser kursi dan duduk.
Wajahnya masih licik dan malah senyumannya makin lebar ketika ia duduk, suaranya juga menjadi lebih licin.
*Tap..*Tap..*Tap..*Tap..*
Kemudian Regio dan Tuan Chelarras terlihat masuk kedalam ruang kounsil.
Mereka berdua sama terkejutnya dengan Frudarr dan Faudav ketika melihat Perrin.
Tuan Chelarras tidak mengatakan apa-apa dan langsung duduk, dirinya nampak langsung mewajari keberadaan Perrin.
Sedangkan Regio hanya berdiri menatap Perrin.
"Dimana Tuan Pahlawan Cyrus?" ,ucap Regio.
"Dia sedang berlatih didepan lapangan kastil tuanku, bersama ksatria Maladah Rommel. Dia nampak berlatih lebih keras dari biasanya.." ,ucap Casca.
"Biarkan dia berlatih, aku sebagai tangan kanannya yang akan menggantikannya" ,ucap Perrin sambil membuka salah satu surat dimeja.
*Kenapa aku heran? Aku harusnya tidak terkejut soal ini, tentang mereka yang tidak menyukai keberadaan wanita disini..* ,pikir Perrin dengan berat.
"Duduk Tuan Regio, kita mau mulai pertemuan Kounsilnya" ,ucap Perrin.
Regio kemudian memasang wajah kesal dan berjalan kearah meja, kemudian Regio terpaksa duduk diatas meja.
Suara duduk Regio kemudian terdengar.
"Casca, kau punya informasi tentang pergerakan Sang Pengkhianat Trivistane?" ,ucap Perrin.
*Aku tak boleh berbicara tentang kemungkinan besar pengkhianatan salah satu keluarga besar saat ini, karena itu bisa menyinggung banyak orang ketika itu hal pertama yang akan kukatakan ketika pertama datang kekounsil* ,batin Perrin.
"Ada tuanku, salah satu mata-mataku mengatakan kalau Trivistane mulai bergerak membelah 3 pasukannya...." ,ucap Casca yang kemudian berhenti sebentar berbicara.
Casca terdiam, tidak melanjutkan bicaranya, tapi kemudian menoleh kearah Perrin. Casca yang berhenti berbicara menarik perhatian orang-orang kounsil.
*Aku mengerti Casca* ,batin Perrin sambil tersenyum pahit.
"Dan dia mencoba mencari keluarga-keluarga yang mau berpidah pihak padanya....hahh.." ,menghela nafas Perrin, "apakah dia sudah dapat? Keluarga yang mau berpindah pihak padanya?"
"Tentu saja tuanku, beberapa keluarga-keluarga diselatan sudah berpindah pihak padanya menambah 5.000 pasukan untuk pihaknya tuanku" ,ucap Casca.
"Dasar pengkhianat, aku janji tuanku. Kalau ketika kakakku kembali dari kota Aulius maka keluarga-keluarga ini akan mendapat hukuman atas pengkhianatan mereka" ,ucap Fuadav dengan sedikit semangat diwajahnya.
*Ada semangat diwajahnya..tapi yang lebih banyak diwajahnya adalah kebodohan* ,batin Perrin.
"Bagaimana dengan pergerakan Trivistane yang membelah 3 pasukannya" ,ucap Perrin bertanya kepada Casca.
"Trivistane mencoba mengomando 11.000 pasukannya untuk pergi kearah barat tuanku, nampaknya dia punya suatu rencana" ,ucap Casca dengan suaranya yang licin.
"Barat?...keluarga Rommel.." ,ucap Tuan Regio yang langsung berbicara secara spontan.
*Dia tua dan bijak...tapi tidak sebijak yang kukira, buktinya dia tak bisa mencegah lidahnya untuk tak menyinggung keluarga Rommel* ,batin Perrin.
"2 pasukan yang dipecah lainnya?" ,bertanya Perrin dengan cepat.
"Tuan Qharlan dikabarkan sedang menyiapkan 7.000 pasukan bersama dengan 100 kapalnya untuk berangkat" ,ucap Casca.
"Kemana?" ,bertanya Perrin.
"Masih misteri tuanku" ,ucap Casca dengan suara licinnya.
"Apakah mungkin...Kota Aulius" ,ucap Faudav menebak.
*Faudav tak menyukaiku..tapi dia bukan orang bodoh* ,pikir Perrin.
"Mungkin saja, tapi Sungai Lebah tidak semudah itu ditembus" ,ucap Pendeta Chelarras.
"Tapi tetap saja 100 kapal dengan 7.000 pasukan, itu bukan kekuatan sembarangan. Mereka masih punya kekuatan menembus pertahanan Sungai Lebah" ,ucap Frudarr.
*Dengan pelabuhan Harlaw diambil maka pendapatan negeri ini sudah menjadi berkurang 40% sedangkan jika kota Aulius diambil maka pendapatan negeri akan berkurang lebih banyak lagi* ,batin Perrin
"Satu pasukan lagi?" ,bertanya Perrin.
"12.000 pasukan bayaran bersiap untuk berangkat dari hilir Sungai Garpu Putih untuk keutara" ,ucap Casca.
"Mereka mungkin berangkat keibukota" ,ucap Tuan Faudav.
"Ibukota punya pasukan penjaga sebanyak 8.000 pasukan dan mengepungnya dengan 12.000 pasukan adalah hal bodoh" ,ucap Tuan Regio.
"Tapi tetap saja 12.000 pasukan itu tidak bisa diremehkan" ,ucap Perrin.
"Kirim aku Tuan Perrin, maka akan kubawakan kau kemenangan dan kepala setiap pasukan bayaran itu" ,ucap Tuan Frudarr.
"Aku tak butuh kepala dan kemenangan diawal-awal perang, yang kubutuhkan adalah pedang dan prajurit. Aku akan kuurusi siapa yang memegang komando pasukan untuk mengurusi 12.000 pasukan itu" ,ucap Perrin.
*Aku tidak bisa menahan lidahku untuk membuatnya diam* ,pikir Perrin dengan kesal.
Kemudian Perrin membuka salah satu surat.
"Tuan Faudav...kau akan membawa 16.000 pasukan untuk mengurusi 11.000 pasukan yang dipimpin Pengkhianat Trivistane dibarat ini dan aku harap kau bawa kepalanya kediriku" ,ucap Perrin dengan suara kuat.
* 'Bawa kepalanya kediriku' ,aku membuat dia terdengar seperti budak wanita. Tapi kuharap dia tidak marah, aku masih membutuhkannya disisiku sebagai jenderal* ,batin Perrin.
Faudav hanya terdiam dan nampak dia tidak bisa menjawab apa-apa.
"Bagaimana dengan 100 kapal Tuan Qharlan tuanku?" ,bertanya Tuan Regio
"Biarkan itu kepada Tuan Penjaga Sungai Lebah, kita lebih baik mengurusi bagian darat terlebih dahulu" ,ucap Perrin dengan kuat.
Kemudian Perrin mengarahkan kepalanya kearah Tuan Frudarr.
"Sementara Tuan Faudav pergi berperang maka Ksatria Halamar bawahan Tuan Frudarr yang akan mengurusi Pasukan Penjaga Istana ini" ,ucap Perrin.
*Aku masih perlu Tuan Frudarr dan 18.000 pasukannya disisiku, tapi aku tak mau dia yang memimpin keamanan istana ini sementara istana ini masih diancam dengan banyak penyerangan. Bawahannya ksatria Halamar lebih pantas* ,batin Perrin.
"Terima kasih tuanku..aku berjanji kalau keluarga Garuman akan selalu menjadi teman loyal disisi anda" ,ucap Tuan Frudarr sambil tersenyum.
*Bohong...jika aku sudah kelihatan kalah, sudah pasti kau akan berpindah pihak* ,batin Perrin.
Beberapa anggota kounsil nampak tak puas, seperti Tuan Faudav dan Tuan Regio sedangkan Tuan Pendeta Chelarras terlihat diam tapi dia bisa dilihat sedikit kecewa.
Tuan Casca hanya bisa tersenyum dan nampak ia mengetahui sesuatu, sedangkan yang paling bahagia adalah Tuan Frudarr.
*Jaring sudah kubentang...selanjutnya adalah bergerak* ,batin Perrin sambil mengisi tinta dipena bulu ayamnya.