
"Terkadang 'Diam' adalah suatu karya seni besar dalam sebuah pembicaraan"
-Marcus Tullius Cicero
Langkah Merah
*Tuk*Tuk*Tuk*
Suara mengetuk pintu terdengar.
"Tuanku? Tuan Kalavvar? Aku mau masuk" ,ucap pelayan dengan membawa talam dengan gelas anggur dan roti diatasnya.
*Tuk*tuk*tuk*
Ketuk pintu lagi pelayan.
"Tuan? Buka tuan, kata tabib anda perlu dimandikan setiap pagi untuk menyembuhkan luka anda...tuan?" ,ucap salah satu pelayan lagi dengan handuk dan keranjang air panas ditangannya.
Bising-bising pelayan didepan kamar Kalavvar.
Beberapa pelayan datang dengan membawa keperluan mereka sendiri beberapa membawa baju dan sapu.
Beberapa dari mereka terus mengetuk pintu tapi pintu tersebut tetap tak dibuka.
Beberapa pelayan mencoba membukanya tapi pintu tersebut ternyata dikunci.
Kemudian terdengar suara langkah kaki dan armour melangkah kearah mereka.
"Ada apa ini?" ,ucap Scerl dengan pedang dipinggulnya sambil berjalan kearah mereka.
"Ini tuan daritadi tuan Kalavvar mengunci dirinya dikamar dan tak menjawab-jawab" ,ucap salah satu pelayan.
"Tuan Kalavvar mengunci dirinya sendiri dikamar?" ,ucap Scerl.
*Apakah dia tidur? Atau membawa pelacur kekamarnya tanpa pengetahuan kami sehingga mengunci kamarnya?* ,pikir Scerl.
Kemudian Scerl melangkah kedepan pintu.
"Minggir" ,ucap Scerl kepara pelayan sambil menyiapkan tangannya didepan pintu.
*Tuk*Tuk*Tuk*
"Tuanku buka" ,ucap Scerl.
*Kenapa aku merasa khawatir..* ,pikir Scerl.
*Tuk*Tuk*Tuk*
Scerl terus mengetuk pintu.
Bahkan sempat membuka pintu meskipun tahu kalau itu dikunci.
Scerl kemudian merasa khawatir apa yang akan terjadi.
Kemudian Scerl mundur beberapa langkah dari pintu.
*BRAKKK!*
Tendang Scerl kepintu dengan kuat dan dengan cepat pintu tersebut tumbang.
Bubuk kayu tersebar kemana-kemana dan pintu kamar Kalavvar rusak.
"Tuan Kalavvar!" ,ucap Scerl dengan masuk kedalam kamar Kalavvar.
Terpampang Kamar Kalavvar dihadapan Scerl.
Kamar terserbut cukup bersih dengan kasurnya yang rapi dan meja yang bersih. Jendela terbuka dengan suara burung berkicau terdengar.
Kalavvar tidak ditemukan dimana-mana diseluruh ruangan bahkan diatas kasur dimana dirinya selalu tidur dan berbaring.
Tapi terlihat sesuatu...peta yang berada didinding Kalavvar setiap hari sudah menghilang.
Pedang besar bernama "Besi Merah" milik Kalavvar yang ia gunakan diPerang Tyronia menghilang.
Scerl tahu apa artinya ini dan kebingungan tentang apa yang harus ia bilang ketuannya jika hal ini terjadi.
"Tuan Kalavvar!? TUAN KALAVVAR!" ,teriak Scerl suaranya hingga mengisi satu ruangan ini.
__-_-____
"Hehehehahahahhahaa! Ayo Tedrick! Mari kita pergi! Perang menunggu kita!" ,ucap Kalavvar sambil membawa pedang besar ditangannya dan dengan armour besi ia pakai.
Berjalan mereka ditengah hutan diluar ibukota dan dinding ibukota bisa terbentang dibelakang mereka.
"Tu-tuan tunggu aku" ,ucap Tedrick dibelakang dengan tas penuh makanan dan barang-barang ia bawa.
"Tenang saja nak! Dengan aku disampingmu! Maka kita akan terkenal hingga orang-orang membuat lagu untuk kita! PERANG AKU DATANG!" ,ucap Kalavvar tersenyum bahagia dengan pedang besar Besi Merah ia angkat keatas.
___-_-___
Berdiri seorang kakek tua menatap pelabuhan Harlaw yang cukup hancur dan rusak karena habis dijarah.
Asap membumbung dari kota, dengan beberapa bangunan yang dibakar dan dihancurkan oleh prajurit.
Mayat manusia dari tua,muda hingga kecil terbaring diseluruh jalanan.
Ada beberapa mayat yang ditumpuk juga dijalanan.
*Harusnya aku kesini untuk memahkotai seorang raja bukan membantai rakyat biasa..* ,batin kakek tua tersebut dengan rasa bersalah yang berat didalam hatinya.
Matanya berwarna coklat gelap kuat menatap kekota yang sudah rusak dengan pembantaian dan kebiadan pasukan.
Dia hanya bisa berbalik menoleh dari hal tersebut.
Apa yang bisa dia buat? Dia hanya mantan bajak laut, apa yang dia bisa buat dihadapan seorang raja.
Berjalan kakek tua tersebut berbalik dan menuruni tangga untuk turun dari tower tinggi ini.
Malam sudah mendekat dan matahari tenggelam kelaut berubah dari cahaya menjadi warna merah darah kelam.
Istana Harlaw ini sudah berubah menjadi gelap dan pelayan sudah bersiap menyalakan obor serta lilin.
Prajurit mulai berganti jadwal mengawas, sedangkan sebagian prajurit sedang bersantai menikmati harta dan wanita yang mereka dapat dari penjarahan.
*Tap*Tap*Tap*Tap*
Suara langkah kaki terdengar mengarah kedirinya bersama dengan suara ringingan armour besi.
Terlihat prajurit berjalan kedirinya dan menunduk dengan sopan.
"Tuan Qharlan, yang mulia Trivistane memanggil anda untuk pembahasan rencana perang" ,ucap prajurit tersebut.
Raja sudah memanggilnya.
Tahun rasanya sudah berlalu cepat sedangkan tubuhnya sudah mulai merasa lelah.
Matanya mulai merabun sedangkan memorinya mulai rusak dan terkadang dimalam hari ia ingat semuanya..semua darah dan daging yang terus ia potong selama puluhan tahun.
Dan wajah seorang wanita yang mengasuhnya selama bertahun-tahun.
Ucapan wanita tersebut saat melihatnya kembali pulang dari kehidupan laut dan darah puluhan tahun.
'Kau dulu sering bermain dengan kulit kerang bahkan membuat kalung darinya dan kau masih tak berubah dalam menyukai kerang'
Tapi kemudian semua itu berganti disebuah pemandangan ditengah penyerangan kapal dimana ia memotong ibu dan anak menjadi dua disebuah kapal.
Api dimana-mana dan teriakan wanita bisa terdengar berbunyi dikepalanya terus menerus.
"Hahh..." ,menghela nafas kakek tua bernama Qharlan tersebut.
Dia baru mengingatnya...kalau semua ini adalah perang....
___-_-_____
Vespasian menunggangi kuda dengan gagah dijalanan dengan armour besinya.
Terlihat beberapa prajurit ia gantung dijalanan, karena pemerkosaan dan menentang perintahnya.
Beberapa ksatria berkuda terlihat berbaris rapi dengan kudanya dibelakang Vespasian.
Banyak rakyat biasa memperhatikannnya dengan penasaran, sedangkan beberapa anak kecil terlihat sangat senang melihat ksatria besi didepan rumah mereka.
"Tuanku...kami sudah siap" ,ucap seorang ksatria mendekatinya.
Vespasian hanya terdiam dan memandang kebelakang melihat ribuan manusia,besi,dan bendera dibelakangnya.
Dengan tatapan dingin dan tajam ia menatap kedepan.
Kemudian Vespasian memacu kudanya keluar dari kota Ballerius.
Dan puluhan ribu pasukan dengan besi dan bendera mengikuti dibelakangnya..
__-_-____
Matahari mulai terbenam berganti dari cahaya terang menjadi menjadi merah darah.
Berdiri Perrin didepan jendela, memandang sunset merah tersebut.
Disampingnya terdapat prajurit penjaga Perrin.
Dia masih memakai armour besi hitamnya.
"Lepaskan Ibuk Vappa" ,ucap Cyrus sambil berdiri tegap dibelakang Perrin dengan tatapan sedikit marah kepadanya.
Sedangkan pahlawan lain juga berdiri dibelakangnya.
Cleorah,Elara,Vairy,Szeth,Elric,Nadar,Sera berdiri dibelakang Cyrus menghadapi Perrin.
Cleorah hanya bisa terdiam.
Elric menatapnya dengan tajam dan menunggu apa yang dilakukan Perrin.
Elara hanya bersembunyi dibelakang Elric.
Sedangkan pahlawan yang lain terlihat memasang wajah kesal kearah Perrin.
Kecuali Dryer terlihat dibelakang menatapnya dibalik keramaian pahlawan.
Perrin kemudian berbalik dari jendela dan memandang dengan tajam Cyrus dan para pahlawan.
"Aku sudah mencalonkan sebagai Perdana Menteri dan berhasil. Aku sudah membawa semua pahlawan kesini itu yang kau inginkan bukan? Lepaskan Ibuk Vappa" ,ucap Cyrus.
Perrin kemudian mengalihkan pandangannya ke prajuritnya yang bisu.
"Lepaskan dia" ,ucap Perrin dengan suara kuat.
Kemudian prajurit bisu tersebut membuka sebuah lemari kayu.
Dan ketika dibuka seorang ibu-ibu tua tiba-tiba terjatuh dengan tubuhnya yang diikat.
Terlihat ibu-ibu tua tersebut terjatuh dan terbaring ditanah.
"Buk!" ,ucap salah satu pahlawan wanita dengan cepat melangkah kedepan melihat keadaan ibu-ibu tersebut.
Kemudian Szeth melangkah maju.
"Kenapa kau minta Cyrus sebagai perdana menteri? Tujuan kita adalah menyelamatkan dunia ini! Bukan menaklukkan dan memimpin satu negara ini, pahlawan menjadi perdana menteri sebuah negara adalah hal aneh Perrin, itu akan membuat banyak orang membuat status kita sebagai pahlawan semakin palsu!" ,ucap Szeth.
Beberapa pahlawan terlihat mengangguk dan setuju dengan apa yang diucapkan Szeth.
"Kau tak melihatnya lebih luas Szeth, sejak dipermahkotaan banyak orang yang sudah meragukan kita. Sejak awal aku bisa mendengar kalau kebanyakan orang tak mempercayai kita itu pahlawan" ,ucap Perrin sambil menggeser kursinya.
Kemudian Perrin duduk dikursi sambil merapikan beberapa kertas dimejanya.
Perrin kemudian mengambil teko berisi cairan stempel.
"Manusia itu mahluk penolak Szeth, kau pikir mereka akan langsung percaya kalau pahlawan itu datang? Apa kalian semua tahu apa artinya pahlawan? Kita ini Messiah dari bible yang datang menyelamatkan dunia! Kita ini Nabi Isa dari Al-Qur'an yang datang menyelamatkan dunia dari Dajjal! Apa kau pikir manusia akan mudahnya percaya kalau Dajjal datang dan akan mengikuti seseorang yang mengaku sebagai nabi Isa dijalanan?!" ,ucap Perrin sambil menatap tajam para pahlawan.
Kemudian Perrin menuangkan cairan stempel yang hangat kesalah satu surat.
"Manusia akan terus menolak kalau ada kebakaran dirumah mereka...bahkan ketika mereka mencium asap, manusia akan percaya rumahnya itu kebakaran ketika dia mulai dikelilingi api ..." ,ucap Perrin yang kemudian menekan cairan stempel tersebut dengan penekannya.
Pena bulu ayam Perrin bergoyang diatas kertas surat tersebut.
"Apa kalian pikir kebanyakan orang diluar sana akan langsung percaya kita itu pahlawan? Apa kau pikir bangsawan itu tidak membicarakan dan menertawai kita dibelakang?" ,ucap Perrin menatap pahlawan lain dengan tatapan monster.
Pahlawan lain hanya terdiam dan tak bisa menjawab.
Szeth mulai merasa ketakutan didalam dirinya.
Cyrus hanya berdiri tegap.
*BUKK!*
"OI! KALIAN SEMUA JAWAB! APA KAU PIKIR MEREKA LANGSUNG PERCAYA!? ,ucap Perrin sambil menghantamkan tangannya kemeja.
Kemudian Perrin berdiri dari kursinya dan dengan tatapan marah ia menatap Cyrus dan pahlawan lain.
"Aku dikelilingi idiot...kalian semua mahluk cacat,lambat dalam berpikir atau bergerak..berpikir kalau semua ini adalah novel dan acara tv..berpikir kalau semua ini adalah impian...." ,ucap Perrin dalam suara berat marah.
Kemudian Perrin menatap seorang lelaki yang terlihat ketakutan didalam kumpulan pahlawan.
"Galactus...kau mabuk dipesta setelah permahkotaan...terjatuh terpleset didepan meja bahkan sampai harus dibantu berdiri oleh pelacur......Apa kau pikir penyelamat mereka adalah orang sepertimu?" ,ucap Perrin.
Lelaki tersebut hanya terdiam dan menunduk kebawah dalam malu.
"Kau.." ,ucap Perrin sambil menunjuk keseorang pria lagi yang berada ditengah-tengah pahlawan.
Pahlawan lain kemudian mulai mengalihkan perhatian mereka kepahlawan pria yang ditunjuk oleh Perrin.
"Berdan.....karena kebanyakan minum anggur dipesta setelah permahkotaan..kau muntah dilorong...yang kemudian muntahmu diperhatikan oleh semua bangsawan..Apa kau pikir penyelamat mereka yang gagah berani melawan raja iblis adalah dirimu?" ,ucap Perrin dengan marah.
Sekali lagi pahlawan pria tersebut hanya bisa terdiam begitu juga dengan pahlawan lain yang hanya bisa melihat mendengarkan Perrin.
Kemudian Perrin mengalihkan jarinya kearah wanita.
"Kau....Cemeria...tawamu sangat cekikikan dan aneh dipesta setelah permahkotaan hingga hampir semua bangsawan menoleh kearah dirimu.....Aku bahkan tak percaya tawa yang kudengar bukan berasal dari hewan..bagaimana caranya bangsawan lain percaya kalau kau itu wanita suci yang akan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran hah?" ,ucap Perrin dengan tatapan serius.
Wanita tersebut hanya bisa menunduk kebawah dan dalam malu terdiam sambil menutup mulutnya.
"KALIAN SEMUA!" ,ucap Perrin dengan suara besar, "kalian semua tidak sadar..apa yang kalian lakukan...dan kalian itu siapa.." ,ucapnya dengan suara berat.
Kemudian Perrin kembali kemejanya dan kemudian menunjukkan sebuah badget emas dimejanya.
Badget Perdana Menteri.
"Kalian semua tidak paham..betapa berharganya ini..." ,ucap Perrin dengan suara yang lebih kuat dan berat sambil menatap badget perdana menteri itu, "tidak peduli kita pahlawan atau tidak....siapapun yang memegang ini dimasa dimana mahkota sedang lemah dan seorang wanita kecil duduk disinggasana kerajaan maka orang itu akan mengontrol kerajaan ini"
Kemudian Perrin menaruhnya kembali kemejanya badget emas tersebut.
"Semua orang akan segan kepada kita..dengan nama yang baru, bukan pahlawan karena kebanyakan orang sudah mulai mengira kalau kita bukan pahlawan. Tapi kita akan disegani sebagai faksi perdana menteri.." ,ucap Perrin.
Kemudian Perrin mendekat kearah Cyrus yang terlihat terdiam dan cukup marah.
Cyrus berdiri dengan lebih tegap dibanding pahlawan lain.
Keduanya berhadapan satu sama lain...yang satu ditakuti sedangkan yang satu dicintai..
Kali ini yang ditakuti yang menang dari yang dicintai..
"Aku tak peduli status kita sebagai pahlawan" ,ucap Perrin, "pergi..jika kalian menentang gerakanku lagi maka jangan berharap aku akan melindungi kalian dari tawaan dan memotong lidah siapapun yang menghina kalian" ,ucap Perrin sambil berbalik kemejanya.
Kemudian pahlawan mulai bergerak dimulai dengan Elric yang berjalan diantara pahlawan yang terdiam untuk keluar bersama Elara.
Pahlawan lain mulai bergerak termasuk Szeth dan Dryer.
Cleorah mulai berjalan keluar dari kamar ini tapi kemudian ia menoleh kebelakang melihat Cyrus yang masih berdiri tegap.
Kemudian pahlawan wanita lain mulai keluar sambil menggandeng ibu Vappa untuk ikut keluar.
Pahlawan-pahlawan mulai bergerak semua untuk keluar kecuali Cyrus.
Cyrus akhirnya kemudian bergerak keluar dengan wajah yang hanya bisa terdiam.
Cleorah kemudian juga ikut keluar.
Saat Cyrus berdiri didepan pintu keluar, Perrin kemudian berbicara.
"Oh iya, jangan lupa perintahkan semua orang untuk membawa dokumen pemerintahan kediriku Cyrus" ,ucap Perrin sambil berdiri memegang kursinya dan menatap tajam Cyrus dengan mata kuning kuatnya.
Cyrus yang mendengar ucapannya kemudian berbalik kearah Perrin dan dengan wajah kelam ia melihat Perrin.
"Aku tidak ingin kau menggangguku lagi, dengan ideologi keadilan dan heroikmu itu" ,ucap Perrin sambil duduk dimejanya dan menatap Cyrus dengan tatapan monsternya.
Setelah berhenti mendengarkan ucapan Perrin, pada akhirnya Cyrus keluar dan menutup pintu kamar Perrin.