
"Tuhan telah memastikan untuk manusia kalau tidak ada cara yang lebih cepat untuk menang dengan setidaknya mati sekali saja"
-Hannibal Barca dari Livy
Kenangan dan Iblis
"Gelap seperti biasanya.." ,ucap Vesius ketika melangkah kekamar gelap ini, "..sama seperti kematian.."
Pada faktanya ruangan ini juga tak jauh-jauh dari kematian..
Baru saja melangkah sebentar kekamar ini dengan obor ditangan, Vesius bisa melihat peti mayat berwarna putih yang diukir wajah Burung Hantu diatasnya.
"Kau tak pindahkan dia kemana-mana bukan?" ,bertanya Vesius kepada Harrian sambil meletakkan tangan berlemaknya diatas peti ini.
Suara Vesius sangat dingin dan tajam hingga membuat Harrian terlihat gugup.
"T-tidak tuanku" ,ucap Harrian.
"Bagus.." ,ucapan Vesius dengan suara yang melembut tapi masih memiliki nada tajam didalamnya.
Menatap lama Vesius dipeti ini..
"Aku mencintainya Harrian...hal yang lebih sakit setelah Perang Tyronia adalah ketika aku mendengar kematiannya.." ,ucap Vesius dengan nada dingin meskipun isi ucapannya adalah hangat, "hatiku rasanya mati rasa setelah Perang Tyronia...kematiannya membawa kembali rasa sakit dihatiku"
Vesius ingat senyumannya dilorong dan disetiap ruang Kastil ini..
Setiap Vesius mengingat dirinya dia tak bisa menahan rasa sakit, rasa ingin menangis...jadi dia melupakannya..dia tak bisa terus mengingatnya..
Tapi dia tak bisa melupakannya...Kastil inilah yang membawa semua kenangannya…
*Apakah itu kenapa aku ingin melindungi kastil ini? Melindungi kenangan dengannya..* ,pikir Vesius.
"Aku ingat bermain lari-larian bersamanya dilorong Kastil ini, mungkin permainan lari-larian paling menyenangkan yang aku mainkan" ,ucap Vesius.
*Atau satu-satunya permainan lari-larian yang aku mainkan waktu aku kecil, kebanyakan permainan waktu kecil yang aku mainkan adalah 'dipukul dan dihina terus menerus' * ,pikir Vesius.
"Ketika semua saudara,orang-orang,bahkan ayah dan ibuku menghinaku, dia satu-satunya orang yang mau bermain dan berbicara denganku, dia satu-satunya yang mau membaca buku denganku" ,ucap Vesius sambil terus merasakan dinginnya peti mati ini.
*Bertemunya lagi harusnya hangat...tapi malah dingin..peti batu ini dingin...jika kubuka pun palingan tengkoraknya yang sama dinginnya..* ,pikir Vesius.
"Cara dia menertawai diriku tak pernah sama dengan tawa orang lain…" ,ucap Vesius.
*Tawa senang..* ,pikir Vesius sambil membayangkan semua senyumannya.
"Dia sudah pergi tuanku.." ,ucap Harrian.
"Ya...dan disinilah kita berdiri...Garius yang katanya paling lemah berdiri diantara mayat Garius yang lain...dewa memang punya rasa humor yang aneh" ,ucap Vesius sambil menggeretakkan giginya.
Ketika Vesius melihat lapangan latihan kastil…
Dia mengingat kembali dirinya saat kecil..
'Berdiri! Pengecut!'
Ia ingat anak gendut yang berdiri memegang pedang kayu ditangannya dengan bergetar..
Dan saudara besarnya yang memegang pedang kayu ditangannya.
'Hahahhaa! Dia nangis!'
Anak gendut itu menangis dan kemudian terjatuh..
Tanpa satu sentuh kayu pun menyentuh dirinya..
Ia ingat bagaimana setengah Garius dikastil saat itu tertawa dan setengahnya lagi melihat anak gendut itu dengan jijik.
Ksatria dan pelayan tak ada yang berani tertawa dan hanya bisa terdiam, takut jika dipotong lidahnya oleh Toran Garius.
'Tak ada yang boleh menertawakan Garius kecuali Garius itu sendiri' ,Vesius bahkan bisa merasakan ayahnya mengatakannya itu didepannya sekarang.
Hanya satu orang yang lari kelapangan dengan mengangkat roknya.
Vesius bahkan ingin menghantam dinding mengingatnya..
'Tak ada Garius yang boleh dilindungi oleh seorang wanita' ,ucapan ayahnya bisa dirasakan sekali lagi.
'Hentikan! Vesius tak bisa bertarung!' ,ucap anak perempuan itu dengan suara kuat yang Vesius ingat.
'Garius lelaki itu harus bisa bertarung, tak ada seorang bencong dari Garius, Reliz' ,ucap pamannya dengan suara dingin yang hampir sedingin suara ayahnya.
'Garius telah menghasilkan prajurit,jenderal,orang yang kuat seperti besi selama ratusan tahun. Itu akan membuat semua kakek buyut Garius bangkit dari kubur jika yang dihasilkan digenerasi ini hanya anak gendut kutu buku yang bahkan tak bisa berdiri dihadapan pedang kayu' ,ucap salah satu bawahan ayahnya.
Vesius ingat mencoba membangkitkan kepalanya…
Ratusan pandangan ia bisa lihat...jijik,ingin tertawa,menghina...semuanya membuat Vesius merasa tak mau menaikkan kepalanya selamanya..
Dan yang terakhir dan yang paling diatas semuanya…
Tatapan ayahnya...memang setajam dan sekuat tatapan Burung Hantu..
'Bukankah 'Garius melindungi Garius' bukankah begitu ayah?' ,ucap Reliz sambil melihat kearah pamannya.
'Kau memang sepupunya Vesius, Reliz. Tapi ini bukan urusan wanita' ,ucap pamannya Vesius.
'Pukul aku kalau kau mau ayah' ,ucap Reliz dengan tatapan kuat yang Vesius suka.
Vesius berharap ia bisa melakukan tatapan kuat seperti itu suatu hari didepan Reliz untuk melindunginya...tapi ketika ia bisa..ia hanya bisa melakukannya didepan mayatnya..
'Dia terlemah dari Garius, dia harus dilatih' ,ucap Pamannya Vesius dengan suara sekuat besi.
'Dia yang paling pintar dan berpengetahuan diantara Garius' ,ucap Reliz dengan berani..bagi Vesius itu adalah keberanian yang sesungguhnya..wanita selalu punya keberanian yang murni, 'Dia bisa menceritakan kalian semua hampir hal yang terjadi dari Penaklukkan Cassandra yang Agung hingga Runtuhnya Raja terakhir Victa'
Beberapa Garius langsung tertawa.
'Apa menceritakan semua itu akan membuatnya jenderal dan orang-orang sekuat besi yang berasal dari Garius? Itu hanya akan membuatnya menjadi penjaga perpustakaan,tabib,penyanyi,pembuat buku,atau hanya pelayan yang membantu mengajar disebuah kastil bangsawan' ,ucap pamannya.
'Tidak, tapi mengetahui Penaklukkan Cassandra yang Agung hingga Runtuhnya Raja terakhir Victa akan membuatnya menjadi pemimpin yang lebih baik daripada memukul orang-orang dengan besi dan kayu' ,ucap Reliz.
'Pemimpin? Pemimpin yang bahkan tak bisa berdiri menghadapi sejumlah kayu? Senat bahkan semua rakyat Victa takkan mau dipimpin orang seperti itu' ,ucap pamannya dengan suara dingin.
'Dan ketika pemimpin memimpin jutaan orang yang tak mau dipimpin olehnya...maka tak peduli betapa ratusan kali bagusnya pemimpin itu, dia akan terus menghancurkan negerinya sendiri' ,ucap ayahnya turun lewat dari tangga dengan puluhan bodyguard dibelakangnya.
Reliz hanya bisa mendecakkan lidah, kemudian membantu bangun Vesius.
'Ayo pergi Vesius, tak ada yang mau kita disini' ,ucap Reliz sambil memegang tangan Vesius dan membawanya pergi dari lapangan latihan.
Vesius ingat bagaimana ketika ia melihat kebelakang…ratusan tertawa,ratusan memasang wajah jijik,ratusan memasang wajah kuat dan dingin.
Andai saja Vesius tahu kalau hampir semua orang dilapangan latihan itu akan mati semua…
"Dan sekarang disinilah kita berdiri.." ,ucap Vesius dengan suara yang cukup kencang hingga menggema diruangan ini.
"Tuanku?" ,ucap Harrian dengan kebingungan.
"Hm, tak ada" ,ucap Vesius sambil tersenyum, "buka pintu itu, ada prajurit dibaliknya"
"B-baik tuanku" ,ucap Harrian sambil berjalan kearah pintu dengan cepat dan membukanya.
Suara pintu terbuka terdengar.
Terlihat prajurit tersebut yang gugup.
Vesius kemudian berjalan kearahnya sambil menyeret tangannya dari pangkal peti batu Reliz keujungnya.
"Ada apa?" ,bertanya Vesius.
"Parit telah siap setengah tuanku, Boggar mau anda membantu melihat proses" ,ucap Vesius.
"Anak itu…" ,ucap Vesius sambil ingin tertawa, "dia tak mau aku duduk tenang disini nampaknya, bagaimana dengan semua 15 tower pertahanan?"
Terlihat lagi Reliz memegang tangan Vesius dan kemudian tersenyum kepadanya..
'Mari kita lindungi kenangan kita bersama yuk Vesius!'
"Semua 15 nya telah siap dengan pasukan tuanku, Menara Penjaga sudah diisi dengan 200 milisi baru yang direkrut" ,ucap prajurit tersebut.
*Bagus..* ,pikir Vesius sambil melangkah lebih dekat lagi.
Dan kemudian keluar dari ruangan gelap itu…
Reliz kembali terlihat tersenyum kepada Vesius..dengan cahaya matahari menembus tubuhnya..
'Semangat ya! Vesius!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
____-_-______
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Diantara gerimis hujan...
Turun Glent dari kudanya dihutan ini.
Dengan armour besi ringannya dan pedang dipinggangnya.
Dadanya terdapat anjing berwarna hitam dengan latar belakang berwarna biru tua.
Tak ada pasukan dibelakang dan disampingnya, hanya seorang bawahan yang ia bisa percaya.
"Tuanku ini berbahaya, pasukan bayaran itu tak bisa dipercaya" ,ucap Halar yang ikut turun dari kudanya.
"Kau benar Halar, pasukan bayaran itu tak bisa dipercaya tapi mereka berbahaya, tapi kita sekarang butuh sesuatu yang berbahaya untuk mengambil Kastil Fyrr" ,ucap Glent sambil merenggangkan jarinya.
Glent telah mengintai sendiri Kastil Fyrr.
Dan Glent adalah orang bodoh jika tidak ketakutan dengan 16 tower dan dinding setebal itu serta ukurannya yang raksasa..
14.000 pasukan takkan semudah itu menembusnya.
Dengan lorong masuk yang kuat dengan 2 tower tinggi batu disampingnya.
Dia butuh lebih banyak pasukan..
Berjalan Glent kedalam hutan ini, setelah banyak pohon dan daun Glent lewati.
Kemudian terdengar ditelinga Glent suara api membakar kayu diantara gerimis hujan.
Kemudian terlihat 5 pria duduk disekitar api unggun yang sudah hampir mau padam karena air gerimis.
Terlihat 5 orang tersebut semuanya memakai armour dengan lambang didada mereka yang sama.
Lambang kalajengking dengan latar belakang berwarna pasir.
"Kau Glent? Anak pandai besi yang dinaikkan sebagai bangsawan itu?" ,bertanya salah seorang pria ditengah 5 orang tersebut.
"Rambutmu lebih panjang dan kulitmu lebih pucat dari yang kukira" ,ucap salah satu pria berdiri dengan tangan kanannya yang terlihat sudah hilang.
"Aku yakin batang dibawah celanaku akan lebih panjang dan bijiku akan lebih pucat dari yang kau kira" ,ucap Glent sambil tersenyum.
"Hahahahhahahaha!"
Tertawa semua keempat orang kecuali orang yang kehilangan tangan kanannya tersebut.
Terlihat orang yang kehilangan tangan kanannya terlihat mengerutkan dahinya dan menggeretakkan giginya.
"Lemp duduk, aku suka orang ini. Dia tak berbicara kaku sama seperti orang-orang tua dikamp mewah itu" ,ucap pria ditengah-tengah tersebut berdiri.
Terlihat badan pria ditengah-tengah tersebut cukup besar dengan kapak ditangan kirinya yang berwarna hitam.
"Heh, maksudmu 2 semut besar yang dihancurkan sampai mati terus kumasukkan kedalam surat itu? Tuan Jeog 'Si Tangan Gagak'?" ,ucap Glent sambil ingin tertawa.
"Kau…anak ng*ntot..kau tahu aku ternyata? Siapa kau? Kenapa kau tahu sandiku kepada Rirrerk?" ,ucap Tuan Jeog tersenyum lebar.
"Aku melihatmu saat Pemberontakan Aquantania" ,ucap Glent sambil tersenyum, "dan aku pernah menyelinap ketendamu melihat mejamu"
"Ternyata memang tepat setelah Pemberontakan Aquantania aku memberi makan 2 bodyguardku keanjing, mereka lebih tak berguna dari yang kukira" ,ucap Tangan Gagak dengan wajah yang ingin tertawa.
"Terus bagaimana kau tahu sandi untuk negosiasinya Tuan Jeog dengan rivalnya Tuan Rirrerk?" ,bertanya salah seorang pria.
"Aku pernah melayaninya dan masuk kedalam kelompok tentara bayarannya Tuan Rirrerk juga loh tuan-tuan" ,ucap Glent dengan senyuman yang lebih lebar terbentuk diwajahnya.
"Hahahahhaa! Ternyata kau salah satu dari 80 prajurit yang berpindah pihak ketentara bayaran kami waktu Pemberontak Aquantania itu! Sungguh dunia yang kecil! Hihihihahaha!" ,ucap Lemp hilang dengan cekikikan.
"Tidak.." ,ucap Glent sambil mendekat lebih dekat kepada Tuan Jeog, "..dunia ini tidak kecil, memang aku yang mengejar kalian dari ujung dunia lain..aku menargetkan kalian sejak mendengar kalian melayani Vespasian sekarang"
"Hahahhahahahahhaha!"
Tertawa Tangan Kanan Gagak.
"Baru pertama kali loh nak...aku mendapat seorang anak muda berani mendekat kepadaku...kalau aku melihatmu saat itu mungkin aku sudah menaruhmu sebagai salah satu komandan pasukanku" ,ucap Tuan Jeog sambil memegang bahu Glent dengan kuat.
Glent bisa merasakan kuatnya pegangannya.
"Tapi sayang...kita adalah musuh sekarang...aku melayani Victa...sekarang kau melayani Geralda...dan keduanya sedang membunuh satu sama lain sekarang.." ,ucap Tuan Jeog dengan senyuman iblis dan suara yang sama iblisnya dengan senyumannya.
Tapi Glent membalasnya dengan senyuman jujur..
"Hihihihihihahahahhahaha!" ,tertawa Glent.
Halar sibawahan Glent yang daritadi disamping Glent hanya bisa menelan ludah dan ketakutan hingga ketulang.
"Tidak kalau kau berpindah pihak padaku" ,ucap Glent sambil memandang Tuan jeog.
"Heh, kalau kau punya uang perak yang lebih banyak dari Vespasian berikan itu mungkin" ,ucap Lemp dengan senyuman, "tapi kau dan bodyguardmu bahkan tak bisa membawa setengah uang perak yang ditawarkan Vespasian kepada kami"
Glent hanya membalasnya kembali dengan senyuman.
"Kau mendapat julukanmu Tuan Jeog karena katanya setiap manusia yang kau pegang dapat membuat gagak berkerumun untuk makan manusia yang kau pegang" ,ucap Glent sambil memegang tangan Tuan Geog yang memegang bahunya.
*Atau maksudnya Tuan Geog akan membunuh apapun manusia yang ia pegang kemudian gagak akan menghinggapi manusia tersebut...sebuah lelucon aneh dari prajurit bayaran...* ,pikir Glent.
Glent kemudian melepaskan tangan Tuan Jeog dan berjalan mundur.
Kemudian Glent melentangkan kedua tangannya…
"Kalau begitu mari buat ribuan gagak menghinggapi Kastil Fyrr..Tuan Jeog" ,ucap Glent dengan senyuman.
Lemp mengerutkan dahinya, "apa maksudm-
"Kita butuh Tuan Kastil Fyrr yang baru...Tuan Jeog...dan acara penyambutannya perlu penuh besi dan darah nampaknya.." ,ucap Glent dengan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya lebih lebar.
.
.
.
.
.
.
.
.
____-_-_____
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Berdiri Perrin diatas kapalnya yang berlayar.
Dibelakang ratusan pasukan dan ksatria mengikuti dan menjaganya.
Meskipun diantara kabut masih bisa terlihat...ratusan pecahan kayu mengambang dilautan baik besar atau kecil.
Beberapa serpihan kayu berwarna hitam karena gosong.
Perrin cukup terkejut dengan hal ini...meskipun sudah berhari-hari bekas pertempurannya masih ada.
Perrin merasa beruntung...dia tak melihat ratusan mayat ikut mengambang disini..
Atau mungkin dia sudah muntah.
Perrin hanya menelan ludahnya…
*Jadi ini salah satu bayaran dari apa yang kulakukan? Bukan cuma manusia yang kuhancurkan...tapi lautan* ,pikir Perrin.
Tapi sebaliknya Perrin berbalik.
"Dimana Tiang Salibnya?" ,bertanya Perrin.
"Sebentar lagi sampai tuanku" ,balas pelayar sambil membungkuk kepadanya.
Bisa terlihat Qharlan duduk dikurungan besi, dengan roti dikedua tangannya yang dirantai.
"Jika itu memang benar, maka 'musuh yang sesungguhnya' yang kau bilang mungkin benar" ,bilang Perrin kepada Qharlan.
Qharlan hanya bisa menatap Perrin dengan tatapan malas sambil mengunyah rotinya.
*Gluk* ,setelah menelan rotinya Qharlan menoleh kearah Perrin.
"Aku kembali minta Tuan, kumohon aku minta 1 saja merpati untuk Raja Trivistane dan 1 kertas serta beberapa tuang tinta" ,ucap Qharlan.
"Kau sudah minta itu 5 kali sejak kita berlabuh" ,ucap Perrin, "dan aku sudah bilang 5 kali 'aku takkan memberinya' "
"Tuan bisa melihat aku menulis suratnya" ,ucap Qharlan.
Perrin hanya bisa mengerutkan dahinya sambil menoleh kearah Qharlan.
"Sudah kubilang, aku tak memercayaimu" ,balas Perrin.
"Kita butuh bersatu Tuan Pahlawan, aku tak peduli kau itu palsu atau tida-
*BBUK!*
Suara pipi Qharlan dipukul dengan bagian bawah kayu tombak terdengar.
"Jaga mulutmu tuan, tidak ada yang boleh menanyakan keaslian pahlawan didepan kami" ,ucap prajurit itu.
Qharlan hanya bisa terdiam sambil memegang pipinya yang menjadi lebam.
Tapi Qharlan kemudian melihat kearah Perrin.
"Aku tidak peduli apapun sekarang tuan, siapapun kita, musuh kita yang sesungguhnya hanya satu...yang bahkan ratusan ribu pasukan kalian Orang Strantos takkan bisa mengalahkannya.." ,bilang Qharlan sambil berdiri secara perlahan.
"Jangan pukul dia" ,perintah Perrin kepada prajuritnya.
Prajurit-prajurit Perrin kemudian mundur dan menjauh perlahan dari Qharlan.
"Kenapa kami takkan bisa mengalahkannya kalau pun ratusan ribu pasukan disisi kami?" ,bertanya Perrin sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Dia abadi" ,ucap Qharlan.
*Abadi?* ,pikir Perrin.
"Semua orang mati tak peduli siapapun mereka dan apapun yang mereka sembah Tuan Qharlan" ,ucap salah satu Ksatria Perrin dengan nada sopan.
"Bahkan kata 'siapapun' takkan berpengaruh kepadanya" ,ucap Qharlan dengan nada kuat meskipun masih ada terdengar nada lemas disuaranya, "dia telah mengunjungi wilayah yang tak pernah ribuan orang kunjungi, bahkan kalau kalian mau dialah Raja Iblis yang sesungguhnya tuan-tuan!-
*Bbbuk!*
Pukulan kembali mengenainya.
"Kau sudah keterlaluan" ,ucap salah satu Ksatria Perrin.
"Potong lidahnya tuanku, dia sudah menghina anda 2 kali" ,ucap salah satu ksatria Perrin yang lain.
"Kita butuh lidahnya untuk memberi kita informasi tentang rencana Trivistane" ,ucap Perrin.
*Meskipun bahkan sudah kita laparkan dan siksa dia tetap tak bisa mengatakannya* ,pikir Perrin.
Qharlan lebih kuat daripada Perrin kira, bahkan dia sudah dicambuk ratusan kali dengan punggungnya hingga berdarah.
3 kuku Qharlan juga sudah hilang, tapi tetap satu-satunya yang ia minta adalah satu kertas dan satu merpati serta beberapa tuang tinta.
Tapi lihat dirinya...dia terlihat sehat dan kuat….
Apakah keloyalan memang begitu? Perrin tiba-tiba membayangkan jika dia diposisi Qharlan dan yang ia layani adalah Julius.
Perrin jadi mengingat kembali apa itu keloyalan, Perrin hampir melupakannya karena ia sudah jarang melihatnya.
Setidaknya Perrin punya rasa sedikit hormat padanya.
*Tapi apakah 'musuh yang sesungguhnya' yang ia bilang ini benar? Apa memang musuh ini adalah Raja Iblis yang sesungguhnya?* ,pikir Perrin.
"Siapa nama 'musuh yang sesungguhnya' yang kau bilang terus menerus ini?" ,ucap Perrin.
"Tak punya, dia tak punya nama atau identitas,masa lalu yang jelas,atau bahkan kepribadian" ,ucap Qharlan dengan suara berat.
Perrin hanya bisa mengerutkan dahinya.
" 'Tombak Merah' dari tadi kau memanggilnya.." ,ucap Perrin tanpa sadar.
"Ya itu dari senjatanya, bercahaya merah...tapi itu bahkan bisa berubah, kadang pedang,palu,busur,cincin bahkan kadang itu menjadi bola mata diwajahnya" ,ucap Qharlan.
"Bola matanya? Darimana kau tahu semua ini?" ,bertanya Perrin.
Qharlan kemudian terdiam dan wajahnya berubah menjadi lebih gelap serta berat. Tapi tetap Qharlan terlihat bergetar sedikit dibibirnya..
Dan dia terdiam..
*Dia ketakutan..* ,sadar Perrin sesuatu.
"Tuanku! Itu tiangnya!" ,ucap salah satu pelayar.
Perrin kemudian menoleh..
*Jadi benar…* ,pikir Perrin.
Terlihat Tiang Salib raksasa itu...berwarna hitam kuat dengan diukir menjadi tiang sempurna tanpa ada klise.
Tiang tersebut bagaikan dibangun oleh setengah dewa, diukir dengan halus dan tak ada bekas goresan salah ukir.
Berdiri ditengah lautan...dan terlihat tak ada lumut yang menghampirinya..
Bagaikan kehidupan laut menjauh dari tiang salib gelap itu.
"Bagaimana kau tak mati kelaparan digantung disitu selama berhari-hari? Bagaimananya tiang ini dibuat? Bagaimana tiang besar ini ditancapkan dilaut tanpa ada yang ombak lautan menganggunya?" ,bertanya-tanya Perrin heran melihat tiang tersebut.
Ratusan pertanyaan bagaikan menggenggam kepala Perrin melihat tiang ini.
Apa yang ia akan lakukan selanjutnya? Berdamai dengan Trivistane dan mengalahkan iblis apapun yang membangun ini?
Apakah ini kenapa dewa membawa Perrin dan teman-temannya kesini?...apakah melawan iblis ini adalah takdirnya?
"Kau tak bohongkan kalau tiang ini baru muncul beberapa hari yang lalu?" ,bertanya salah satu prajurit bertanya kepada pelayar.
"Ya, aku sudah menelayan dilautan jauh disekitar Sungai Lebah sejak puluhan tahun yang lalu, tapi aku tak pernah melihat tiang ini...atau bahkan pernah melihat yang semacam ini.." ,ucap pelayar tersebut menelan ludahnya melihat kembali tiang ini.
Perrin merasa berkeringat dingin melihat hal ini…
*Apa yang kulakukan dengan berperang antara manusia? Musuh yang sesungguhnya ada didepanmu Perrin!* ,pikir Perrin.
"Tuan pahlawan…" ,ucap Qharlan dengan suara berat yang hampir terdengar bergetar.
Perrin kemudian kembali menoleh kepada Qharlan, Perrin tak bisa menjaga gaya dinginnya...Perrin ketakutan dan berkeringat dingin menoleh kearah Qharlan...
"musuh yang sesungguhnya telah datang Tuan Perrin...Iblis telah datang" ,ucap Qharlan dengan wajah ketakutan yang sama dengan Perrin.