Hannoic War

Hannoic War
Kunjungan Keluarga (part 12)



"Kapan sebuah perang berakhir? Itu ketika ada suatu pihak yang menang"


-Lelouch vi Britannia


Kunjungan Keluarga


"Oh, nampaknya ada karavan pedagang yang istirahat juga disini" ,ucap Ayah Filda dari atas keretanya.


Gelap malam menutupi penglihatan Ayah Filda yang sedang dalam perjalanannya kekota Ballerius.


Gelap malam juga mendatangkan kesempatan bagi para perampok dan pencuri membahayakan pedagang serta pejalan lainnya.


Ayah Filda turun dari keretanya melihat beberapa karavan pedagang makan serta istirahat juga bernyanyi.


Api unggun bersinar ditengah-tengah mereka sementara mereka bersenang-senang.


Suara tawa terdengar.


"Burung hantu menatap setiap musuhnya~~" ,nyanyi mereka terdengar, suara gitar dimainkan juga.


Terlihat beberapa wanita duduk dan ikut bersenang-senang dengan minum bir.


Ayah Filda mendekat sedangkan Hanno mengikutinya dibelakang.


Mereka kemudian mendekat kekaravan.


Ketika mereka sampai, orang yang memainkan gitar tersenyum pada mereka.


Kemudian orang yang memainkan gitar tersebut berhenti memainkan permainan gitarnya.


"Ayo! Orang asing datang bersama kami membagi api unggun bersama" ,ucap pemain gitar tersebut sambil tersenyum dibalik kerudung hitamnya.


"Nyanyian bagus anak muda? Dari mana asalmu?" ,tanya seorang pedagang kepada pemain gitar tersebut.


Terlihat beberapa pria meminum bir dan wanita tertawa serta bersenang-senang.


"Oh, aku orang lokal sini" ,ucap pedagang pemain gitar tersebut.


"Kau bohong" ,ucap Ayah Filda, "logatmu berbeda, kau orang Legata diselatan"


Senyum pemain gitar tersebut sambil menoleh kearah Ayah Filda.


"Ohh...ada orang tua bijak disini.." ,ucap pemain gitar tersebut.


Kemudian Ayah Filda duduk dikayu dengan Hanno berdiri disampingnya.


"Anak muda yang berdiri disamping paman tua ini, boleh aku tanya kau dari mana?" ,ucap pemain gitar tersebut..


"Hm? Aku? Aku orang lokal disini juga" ,ucap Hanno.


"Ohhh....orang lokal disini jugakah?..aku rasa bukan" ,ucap pemain gitar tersebut.


Kemudian ia membuka kerudung hitamnya


Rambut pirang panjangnya kelihatan sedangkan muka lembutnya juga terlihat.


Jean membuka kerudungnya terlihat ia tersenyum karena berhasil menipu Ayah Filda dan Hanno agar tidak mengetahuinya.


"Kau!" ,ucap Ayah Filda terkejut.


"Jean kau mau kemana?" ,ucap Hanno juga terkejut.


"Aku harus mengikuti dan melindungi murid ku bukan?" ,ucap Jean.


"Oh dia murid mu wanita?" ,ucap salah satu pedagang.


"Iya" ,ucap Jean.


"Oi, kau mau minum? Nih sebotol bir" ,ucap seorang pedagang menawarkan bir keAyah Filda dengan mendekatkan gelasnya kedirinya.


"Ah, iya terima kasih" ,ucap Ayah Filda sambil mengambil segelas bir tersebut.


"Oh iya kau anak muda duduk dan minumlah bir ini" ,ucap pedagang tersebut menawarkan minumannya ke Hanno.


"Hm? Ah baiklah" ,ucap Hanno sambil ikut duduk disamping Ayah Filda.


"Seorang pedagang karavan harus bisa ramah kepada orang asing" ,ucap pedagang yang menawarkan bir tersebut, "ngomong-ngomong kalian mau kemana?" ,tanya pedagang kepada mereka berdua.


"Kota Ballerius" ,ucap Ayah Filda.


"Oh kalau begitu tujuan kita dan satu karavan ini sama" ,ucap pedagang tersebut.


"Sama? Jadi wanita sialan ini tujuannya kekota Ballerius juga?" ,ucap Ayah Filda secara kasar seperti biasanya.


"Kan aku sudah bilang...kalau tujuanku hanya lah mengikuti anak muridku" ,ucap Jean sambil mengetik gitarnya secara lembut.


"Bagaimana kau bisa lebih dulu dari kita?" ,ucap Hanno bertanya kepada Jean dengan wajah yang curiga.


"Cuma insting" ,ucap Jean, "lagipula aku juga ingin mengunjungi seseorang disana."


"Seseorang?" ,tanya Hanno penasaran.


"Keluarga" ,jawab Jean.


"Keluarga?" ,ucap Ayah Filda, "maksudmu ada orang dari keluarga Berrau juga yang mengunjungi Kota Ballerius?" ,tanya Ayah Filda.


"Bukan, dia bukan dari keluarga Berrau.." ,perjelas Jean sambil tersenyum.


.


 ___-_-____


.


"Ah!" teriak seorang prajurit terjatuh bersama dengan barang-barang yang ia bawa.


Kakinya terlihat terluka lecet karena terjatuh.


"Hati-hati" ,ucap wanita berpakaian medis membantu prajurit tersebut berdiri dan mengambil sebagian barang yang ia bawa.


Didepan wanita tersebut terpampang dinding kota Ballerius yang cukup besar, ratusan pasukan Vespasian yang terluka berjalan masuk kedalam kota tersebut.


Kota Ballerius bukan kota yang cukup ramai tapi punya kota skala besar.


Populasinya pun tak padat meskipun begitu kota Ballerius merupakan kota paling besar diperbatasan.


Perang belasan tahun telah menyebabkan berbagai masalah bagi kota ini seperti kemungkinan pengepungan dari musuh dan banyak populasinya yang dipaksa menjadi prajurit.


Wanita berpakaian medis tersebut hanya kembali berjalan masuk kegerbang kota Ballerius.


"Ah! Charla! Dimana Vespasiah?" ,panggil seorang bangsawan tua dengan armour kepada wanita berpakaian medis tersebut dengan bodyguard dibelakangnya


Bangsawan tua tersebut merupakan orang yang wanita berpakaian medis tersebut kenal, ia merupakan pamannya.


"Paman?! Apa yang paman lakukan disini? Bukannya paman harusnya berada diGelaria?" ,ucap wanita berpakaian medis yang dipanggil Charla tersebut.


"Ahhh...aku cuma ingin mengunjungi keluargaku..tapi pamanmu itu minta agar aku ditemani dengan pasukan dan armour" ,ucap bangsawan tua tersebut.


Bangsawan tua tersebut merupakan salah satu anggota keluarga Ohara, Tairur Ohara namanya. Dirinya terkenal sebagai orang yang lemah dan tidak memiliki kekuatan selain dikendalikan oleh anggota keluarganya yang lain.


"Paman sebaiknya tetap tinggal dipenginapan saja" ,ucap Charla dengan tegas dan cepat.


Charla merupakan anggota keluarga Ohara tapi dirinya tidak menyukai politik dan tidak ikut campur dalamnya meskipun ia cukup mengetahui politik.


Tapi untuk melindungi keluarganya ia akan ikut campur dalam politik dengan terpaksa.


"Ksatria Raidrir" ,panggil Charla keksatria penjaga keluarga Ohara yang ia percaya, "Bawa paman masuk kepenginapan elite dimana ia dijaga ketat."


"Baik buk" ,ucap Raidrir.


"Ehh...kenapa begitu? Padahal aku pengen ketemu keponakanku..." ,ucap Tairur dengan nada lembut meskipun keberatan dengan dibawa paksa oleh ksatria nya.


Charla hanya menatap dari jauh Tairar terlihat keberatan meskipun lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kenapa paman Edrar membiarkan paman Tairar seenaknya berkunjung keluar dari Galeria?" ,ucap Charla berpikir, "dia bisa saja terbunuh oleh pembunuh bayaran diluar Galeria meskipun dia memiliki pasukan setia disekitarnya."


"Nona, boleh aku agar mengantarmu kepenginapan" ,ucap salah seorang ksatria menunduk secara hormat padanya.


Charla kemudian menoleh kesekiling dan melihat pasukannya yang kelelahan memasuki kota.


Dan terlihat beberapa dirawat oleh pasukan medis kota Ballerius.


"Lebih baik kau jaga tuan Tairar, aku lebih dibutuhkan disini daripada disamping Paman" ,ucap Charla.


"Baiklah kalau begitu buk" ,ucap ksatria tersebut pergi berjalan pergi.


Kemudian Charla berbalik dan berjalan kearah pasukannya.


 __-_-__


Disebuah kamar Kalavvar berbaring sambil memegang makanan diatas kasur.


Terlihat Rodrick berdiri diruangan tersebut sambil membawa talam ditangannya.


Sambil mengunyah beberapa buah beri Kalavvar kemudian berbicara.


"Aku bosan dengan wajahmu Rodrick, sebaiknya kau duduk saja dan taruh talam itu" ,ucap Kalavvar sambil mengunyah buah beri nya


Memang rasa bosan telah memenuhi kepala Kalavvar, ia ingin keluar dan bertarung atau setidaknya kerumah bordil kesukaannya.


Tapi dunia berkata lain, ia sudah tua. Sedangkan luka jahit yang belum sembuh membuat ia tak diperbolehkan merasakan tubuh pelacur.


"Ngomong-ngomong dimana ksatria bercahaya itu! Scerl?!" ,ucap Kalavvar memanggil Scerl.


Scerl kemudian membuka pintu kamar dan masuk kekamar Kalavvar.


"Iya tuan?" ,ucap Scerl.


"Aku bosan! Hibur aku!" ,ucap Kalavvar.


"Eh? Tuanku...aku tak bisa menghibur tuan, lebih baik kita sewa badut atau pelayan untuk beratraksi bagaimana tuan?" ,ucap Scerl.


"Tidak, bisa kau hibur aku dengan cerita perang masa mudamu? Atau kau bisa ceritakan bagaimana pengalamanmu dimedan perang saat pemberontakan Aquantania? Aku mencoba ikut saat pemberontakan tersebut tapi dilarang oleh Taitus karena dia khawatir dengan diriku dimedan perang" ,ucap Kalavvar.


"Pemberontakan Aquantania...itu bukan perang yang menyenangkan buatku...prajurit mengeluh tiap malam aku berjalan dikamp....berita kekalahan dipertempuran dimana-mana...bahkan banyak bangsawan yang sudah menyerah..pasukan Aquantania berubah menjadi tak terhentikan bahkan hampir mencapai ibukota....tapi suatu hari dikamp aku mendengar kabar kalau pasukan Aquantania dihancurkan diParas dan kita menang" ,ucap Scerl.


"Jadi kau tak ikut dalam pertempuran?" ,ucap Kalavvar.


"Tidak, hanya satu pertempuran yang aku ikuti saat pengepungan kastil Lenarr, dan selama itu aku dan pasukan hanya menjaga kastil itu selama perang, tak ada pasukan yang menyerang kami dikastil itu" ,ucap Scerl.


"Bersama Vespasian bukankah? Aku dengar Vespasian itu jenderal aneh" ,ucap Kalavvar.


"Iya dia memang, aku sedikit ketakutan oleh dingin dan diamnya dia, taktiknya aneh, selama perang ia tak bergerak kemana-mana hanya dan dia hanya dikastil Lenarr selama berbulan-bulan, bahkan pasukan mulai memanggilnya pengecut" ,ucap Scerl.


"Kastil Lenarr....bukankah itu cukup dekat dengan posisi ibukota pemberontak Aquantania dikota Ovi saat itu? Kenapa dia tak bergerak kekota Ovi?" ,ucap Kalavvar berpikir.


"Aku juga tidak tahu tuanku, tapi itu aneh, yang penting itu saja tuanku aku tak punya cerita lain" ,ucap Scerl yang membuat permisi untuk keluar.


"Tidak,tidak, aku ingin dengar lebih tentang taktik Vespasian ini....aku penasaran apa yang ia pikirkan dan ia duga saat perang Aquantania..." ,ucap Kalavvar yang tertarik dan penasaran, "Bedrick bawakan aku peta didekat lemari itu" ,ucap Kalavvar perintah.


"Iya tuanku" ,ucap Bedrick yang kemudian bergerak dan kemudian menyerahkan segulung peta keKalavvar.


"Ahh...ini dia" ,ucap Kalavvar yang kemudian membentang peta diatas kasurnya sambil menyingkirkan remah-remah makanan dikasurnya.


Kalavvar kemudian menunjuk kekota Ovi dan kastil Lenarr, serta melihat posisi ibukota.


"Dia...dia sengaja tak menyerang kota Ovi terlebih dahulu....bukan karena dia takut tapi karena dia yakin kalau pasukan Aquantania yang sedang berbaris ketengah-tengah wilayah musuh akan kembali kekota Ovi jika dia mengambilnya secepat itu, dia ingin memancing pasukan Aquantania agar dikelilingi dan dihancurkan" ,ucap Kalavvar tersenyum.


"Tuanku?" ,ucap Scerl cukup bingung.


"Dia ingin menyerang kota Ovi ketika pasukan Aquantania dikalahkan dan maka pasukan Aquantania akan kehilangan tempat mundur mereka ketika dikalahkan, bahkan jika pasukan Aquantania menang dan mengambil ibukota maka Vespasian masih bisa menjebak mereka diibukota dan kota Ovi bisa diambil dengan cepat" ,ucap Kalavvar yang menyeringai lebar.


Kalavvar kemudian mengambil sepotong keju dan memakannya dengan lahap.


"Jika itu terjadi maka pasukan Aquantania akan kehilangan Aquantania dan mereka akan kesusahan memilih untuk diam ketika Vespasian menaklukkan wilayah mereka ketika mereka diam diibukota" ,ucap Kalavvar dengan mulutnya yang penuh keju.


"T-tuanku makan dengan pelan-pelan" ,ucap Scerl


"Dia bukan aneh atau pengecut Scerl! Dia jenius! Dia jenius yang brilian! Hahahahaha!" ,ucap Kalavvar yang tertawa dengan keju dari mulutnya terlempar kemana-mana.


__-_-___


"Apakah tuan yakin untuk tak keluar dari kereta ini meskipun kita sudah sampai?" ,tanya Khasrow kepada tuannya.


"Iya, lebih aman untuk tidak keluar sebelum bangsawan lain datang" ,ucap Vespasian dengan dingin.


"Baiklah kalau begitu tuan, sesuai perintah tuan aku akan keluar melihat keadaan terlebih dahulu" ,ucap Khasrow sambil keluar dari kereta tertutup tersebut.


Kemudian Vespasian membuka surat yang tadi diberinya dari pusat dikamp.


Dengan teliti ia membaca huruf dan kata-katanya satu persatu.


"Nampaknya gencatan senjata tak terhindarkan untuk saat ini " ,ucap Vespasian dengan nada suara berat.