
"Pria akan bertarung lebih keras kepada sesuatu yang mereka inginkan daripada sesuatu yang merupakan hak mereka"
-Napoleon Bonaparte
Puzzle
Duduk Vesius dikursi disebuah pesta yang sudah berakhir.
Hanya ia dan sedikit bangsawan yang masing tinggal ditempat pesta.
Bahkan beberapa pelayan sudah mengangkat meja dan membersihkan sisa makanan ditempat ini.
Beberapa prajurit sudah kelelahan dan pergi tidur, berganti dengan prajurit baru lain.
Vale masih dibelakang Vesius, setia menunggu tuannya.
"Kelihatannya kau masih belum selesai makannya, seperti yang kudengar. DiDalmatia ada legenda dimana burung hantu mencari korban untuk makan dimalam hari karena laparnya tak bisa berhenti" ,ucap suara wanita mendekat ke Vesius.
"Kau ini tawanan disini nona, berhati-hati dengan ucapanmu. Sudah kau dengar dari penyanyi kalau burung hantu itu menakutkan" ,ucap Vesius.
Vesius kemudian menggerakkan kepalanya kebelakang dan menatap Mya.
"Aku tak ketakutan" ,ucap Mya dengan keras kepala.
*Kalau kita berbicara ditengah-tengah keramaian pesta tadi, maka kau sudah disuruh diam dan dianggap kurang ajar ama bangsawan lain. Tapi sayang keramaian pesta sudah berakhir juga banyak bangsawan sudah pergi* ,pikir Vesius.
"Kalau kau tak ketakutan maka kau itu lebih bodoh daripada yang kukira" ,ucap Vesius sambil berdiri.
Vesius mencoba menggerakkan tubuhnya yang gendut dengan kesulitan, selalu ia kesulitan dalam menggerakkan tubuhnya terutama setelah dirinya makan banyak. Kadang pelayan butuh membantunya berdiri.
"Pesta sudah berakhir dan langit sudah makin gelap, sebaiknya nona tidur" ,ucap Vesius.
"Tidak baik tidur setelah makan" ,ucap Mya.
"Mungkin kau benar, tapi sebaiknya kau lari kekamarmu karena nanti ada binatang yang mencari korbannya dimalam seperti ratusan legenda dari negeri bersinarmu itu" ,ucap Vesius.
*Sial aku mabuk, aku tak sadar mengeluarkan hal itu dari mulutku* ,pikir Vesius.
"Aku tak percaya semua legenda seperti anak-anak" ,ucap Mya dengan sedikit nada kesal.
*Dia mabuk juga sedikit, bagus lah..setidaknya bukan aku cuma yang mabuk* ,pikir Vesius.
"Aku sedikit mengapresiasi nya, karena banyak wanita remaja jaman sekarang yang mudah percaya legenda aneh" ,ucap Vesius sambil meminum segelas anggur.
"Legenda aneh...." ,ucap Mya sambil tertawa kecil diakhir ucapannya.
*Dia bukan mabuk sedikit, dia benar-benar mabuk* ,pikir Vesius.
"Boleh aku tanya sesuatu nona?" ,ucap Vesius.
"Hm? Apa itu tuan?" ,ucap Mya.
"Apakah kau percaya pahlawan dari dunia lain itu asli?" ,ucap Vesius.
Mya kemudian tersenyum lembut.
"Bisa dibilang" ,ucap Mya dengan singkat.
"Bisa dibilang?" ,ucap Vesius.
"Mereka sama seperti manusia. Makan,minum,bercanda dan bersenang-senang, beberapa dari mereka menyenangkan diajak bicara. Aku sedikit tak percaya kalau mereka adalah pahlawan dalam legenda" ,ucap Mya dan terlihat senyumannya menjadi lebih hangat.
*Ahh...satu petunjuk sudah terlihat...pahlawan sama seperti manusia...jika mereka sama seperti manusia apakah mereka bisa mati? Jujur saja aku beruntung kalau wanita ini mabuk* ,pikir Vesius.
"Apa mereka memiliki sihir?" ,ucap Vesius.
*Apa yang kutanyakan? Tentu saja mereka itu punya sihir, mereka dipanggil lewat dunia lain. Mereka punya kekuatan yang bisa mengalahkan ribuan pasukan. Kalau mereka tak punya sihir maka mereka percuma saja dipanggil* ,pikir Vesius.
"Apa kau takut tuan Vesius?" ,ucap Mya tersenyum licik.
"Aku bodoh jika aku tidak takut, sihir adalah salah satu kekuatan paling kuat didunia ini. Ratusan ribu pasukan tak ada gunanya dibandingkan sihir. Kakek buyut kita telah melihat itu dipertempuran Mjalnia" ,ucap Vesius.
"Hm, kau benar hanya orang bodoh yang tak ketakutan kalau kejadian sama seperti pertempuran Mjalnia terulang lagi" ,ucap Mya.
"Ratusan raja dari seluruh Victa,Geralda,Aquantania,Legata,dan Tyronia bersatu melawan Cassandra yang agung dan 20 penyihir besarnya. Bersatu mereka hingga pasukannya bisa berjumlah 150.000 an. Tapi kadang persatuan itu tak ada gunanya" ,ucap Vesius.
Kemudian Vesius menatap gelas besi yang berada ditangannya, anggur mengalir merah didalamnya.
"150.000 pasukan hancur dalam satu pertempuran hanya dengan kekuatan 20 penyihir, suatu horror yang takkan dilupakan. Ratusan raja dan keluarga bangsawan hilang dan hancur selamanya. Seperti yang kukatakan hanya orang bodoh yang tidak akan takut hal itu terjadi lagi" ,ucap Vesius.
Sebentar rasa ketakutan muncul didalam diri Vesius, dengan bayangan dirinya,ayahnya,semua kekuatan Victa dan seluruh teman-temannya hancur disebuah pertempuran karena sihir tanpa menyisakan mayat untuk dikubur.
"Jadi? Apakah kau mencoba menghentikan hal itu terjadi lagi tuan Vesius?" ,ucap Mya.
"Bisa dibilang, perang sudah terlalu menghancurkan parah Victa dan sihir takkan mengurangi kehancuran itu" ,ucap Vesius.
Mya kemudian tersenyum mendengar Vesius mengatakan hal tersebut.
"Iya kau benar...bukan cuma Victa yang kelelahan akan perang ini, Dalmatia juga....kakak dan pamanku mati dipertempuran. Aku tidak ingin lebih banyak orang yang merasa kehilangan sama seperti diriku.." ,ucap Mya sambil melihat gelang silver ditangannya.
Wajahnya berubah menjadi wajah yang terlihat sedih dan merenung.
"Kalau begitu mari kita berdoa bahwa kedamaian akan datang dan dunia dimana kita bersatu melawan raja iblis" ,ucap Vesius sambil menaikkan gelas anggur nya keatas meminta bersulang.
Senyum Mya selanjutnya berubah menjadi tawa kecil yang manis.
"Ahaha..hmhmhm.." ,tawa Mya sambil menutup mulutnya, menahan tawanya, "Hahh..kau benar...entah kenapa aku punya perasaan buruk datang akhir-akhir ini. Pahlawan juga nampaknya mengatakan bahwa mereka khawatir terhadap raja iblis. Mari berdoa demi persatuan melawan raja iblis" ,ucap Mya sambil ikut mengangkat gelasnya yang berisi air anggur.
"Jadi benar perdamaian adalah tujuanmu? Dan mencegah lebih banyak orang yang kehilangan keluarga sama seperti dirimu?" ,ucap Vesius yang kemudian ia meneguk air anggur digelasnya.
"Aku juga sama denganmu tuan Vesius, aku ingin menghentikan perang ini dan persatuan serta perdamaian adalah tujuanku" ,ucap Mya setelah itu ia ikut meminum segelas anggur.
"Bagus, kalau begitu. Kita butuh persatuan untuk melawan raja iblis" ,ucap Vesius setelah meminum segelas anggur.
*Raja iblis atau apapun itu, itu semua masih legenda diukiran sebuah batu yang belum muncul. Yang hanya berarti sekarang adalah lawan yang terlihat didepan mata. Pahlawan dan sihirnya...* ,pikir Vesius sambil meminum segelas anggurnya.
Vesius kemudian melihat langit malam yang gelap dimana ratusan bintang terbentang diatas kepalanya.
*Victa dan puluhan ribu prajuritnya mungkin takkan menang melawan sihir, maka perdamaian adalah jalan....dan diakhir perang bukan Dalmatia yang menang tapi kami...perang 25 tahun ini mungkin takkan berguna tapi itu masih lebih baik daripada ditaklukkan oleh Dalmatia..* ,pikir Vesius.
"Perdamaian harus dicapai...apapun bayarannya.." ,ucap Vesius.
.
.
.
.
_____
.
.
.
.
*Plakk!*
Suara kayu menghantam tubuh manusia terdengar.
"Ah!" ,gumam ketua osis Szeth sambil mundur dan memegang tangannya yang terkena pukulan kayu.
"Sudah kubilang pakai armour, armour tidak mengurangi rasa sakit dari sebuah pukulan tapi menghilangkannya. Karena itu berapa kali kau tusuk aku itu takkan berguna" ,ucap Perrin sambil memegang pedang kayunya.
"Armour membuat gerakanmu lambat terutama ini latihan jadi tak perlu terlalu serius" ,ucap Szeth sambil bergerak kearah Perrin kembali.
Dengan cepat ia melangkah menuju Perrin dengan pedang kayu ditangannya.
"Tidak selambat yang kau kira" ,ucap Perrin yang kemudian mengayunkan tangannya yang kosong.
*Bukk!*
Pukulan dengan tangan dibalut besi oleh Perrin diarahkan keperut Szeth.
"Uhukk" ,batuk Szeth karena kesakitan.
Kemudian Szeth berlutut dihadapan Perrin sambil memegang perutnya
"Hahh...ternyata kau lebih bodoh dari yang kukira.." ,ucap Perrin menghela nafas.
Tapi dengan cepat Szeth berdiri dan mengayunkan pedang kayunya.
*Trakkk!*
Suara kayu mengenai celah armour terdengar.
"Akhh!" ,gumam Perrin kesakitan.
"Dan lebih pintar dari yang kau kira" ,ucap Szeth.
Pedang kayu Szeth mengenai leher Perrin. Menusuk diantara celah armournya.
"Sshhh.....ekhhh...tidak juga" ,ucap Perrin yang kemudian mengayunkan kakinya.
*Bukk!*
Ditendang Szeth hingga ia terhempas kearah lantai.
"Ahh!!" ,gumam Szeth yang terbaring sambil memegang kakinya yang memar karena ditendang Perrin.
"Armour banyak kegunaannya, lebih dari yang kau kira. Pukulan dan tendanganmu lebih membuatnya menyakitkan daripada biasanya. Kalau kita bertarung secara nyata maka kau sudah dulu mati dengan kupukul tulang rusukmu hingga patah. Kau juga takkan punya kesempatan menusukkan pedang kecilmu keleherku" ,ucap Perrin ke Szeth.
Kemudian Perrin melepas helmnya dan memegang bagian lehernya yang lumayan sakit karena tusukan pedang kayu Szeth.
"Sssshhh..." ,ucap Perrin merasa rasa sakit.
"Sudah-sudah latihannya, kalian berdua nanti makin tambah kesakitan" ,ucap Cyrus mendekat kearah mereka berdua yang berlatih.
Kemudian Cyrus menawarkan tangan kepada Szeth. Sebentar wajah Szeth memerah tapi dengan cepat ia bangun.
"Kau tidak apa-apa? Szeth?" ,ucap Cyrus tersenyum ramah.
"Ya, aku tidak...aku tidak apa-apa" ,ucap Szeth malu-malu.
*Dia malu karena dikalahkan didepan Cyrus* ,pikir Perrin.
"Kalau Perrin apa kau baik-baik saja? " ,ucap Cyrus bertanya kepada Perrin.
Tapi Perrin tak memedulikan dan berjalan menjauh kearah kursi paling sudut diruangan ini.
"Perrin?" ,ucap Cyrus bertanya.
Perrin hanya terus mengabaikannya.
Dihadapan Perrin terlihat ruangan besar yang luamayan kosong. Hanya mereka bertiga yang berada diruangan ini.
"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" ,ucap Cyrus mendekat kearah Perrin.
Beberapa bulan yang lalu ruangan ini merupakan gudang yang diisi barang-barang. Tapi Perrin temukan kalau barang-barang diruangan ini kebanyakan hanya sampah.
Perrin menemukan beberapa tong digudang ini yang berisi apel yang benar-benar basi bahkan berjamur. Kemudian ia memerintahkan gudang ini dibersihkan dan dibuang sebagian barang-barang didalam ruangan ini ketanah, sedangkan sebagian lagi barang diangkut keruangan lain.
"Kenapa kau mengajak kami bertiga untuk datang kesini?" ,ucap Cyrus bertanya sambil mendekat kearah Perrin.
Perrin kemudian mengambil kantung kulit berisi air dari tasnya dan meminum air tersebut sambil menghiraukan Cyrus.
"Oi Perrin, Cyrus bertanya padamu" ,ucap Szeth.
"Bukan cuma kalian yang bertiga kuajak kesini" ,ucap Perrin.
*Treeekkkk*
Terlihat Elric membuka pintu dengan seorang wanita yang tangannya Elric pegang.
Wanita yang Elric tarik memiliki wajah cantik dan juga tubuh yang bagus serta rambut yang berwarna coklat.
"Datang juga dirimu" ,ucap Perrin.
Elric kemudian menatap tajam Cyrus dan Szeth.
Sedangkan wanita dibelakang Elric yang dirinya pegang tangannya sedang memerah wajahnya karena malu.
"Kenapa ada Cyrus dan Szeth juga disini, katanya kau hanya ingin berbicara denganku dan Elara" ,ucap Elric dengan tatapan apinya menatap Perrin.
"Aku tahu kau takkan datang jika aku mengatakan kalau 2 bintang sekolah kita akan ikut datang" ,ucap Perrin berdiri sambil berjalan mendekat kearah Elric.
"Aku tidak ingin dipermainkan seperti ini" ,ucap Elric.
"Kenapa kau tidak suka?" ,ucap Perrin dengan tatapan menakutkannya.
"Oi-oi udah kalian berdua" ,ucap Cyrus mencoba melerai mereka berdua dengan lembut.
"Aku tidak suka dibohongi Perrin" ,ucap Elric dengan suara berat.
"Hahh...ternyata seluruh teman sekelasku lebih bodoh dari yang kukira. Masalah kalian semua hanya satu.." ,ucap Perrin sambil berbalik menjauh dari Elric.
Perrin kembali kekursinya dan meminum segelas air.
"Kalian semua terlalu berpegang teguh kepada pendirian dan keinginan kalian" ,ucap Perrin.
"Katakan apa yang kau inginkan membawa kami semua kesini Perrin" ,ucap Elric sambil mengeluarkan lingkaran sihir merah dari tangannya.
*Sringgggggghhhhhh*
Suara lingkaran sihir tersebut bisa terdengar diseluruh ruangan ini.
"Oi Elric! Apa yang kau lakukan!" ,ucap Ketua Osis Szeth berteriak dengan kencang.
"Elric!" ,ucap Cyrus.
"Kau benar-benar lebih bodoh dari siapapun kira. Ayo lakukan...gunakan sihir diistana ini. Maka kau akan menghancurkan istana ini dan membunuh ratusan bangsawan dikastil ini bersama tuan ratu kecil. Membuat ratusan keluarga diDalmatia melawan dirimu dan pastinya teman-teman sekelasmu takkan ada yang membantumu" ,ucap Perrin dengan tenang tanpa takut sedikitpun.
"Kau terlalu berpegang teguh pada rasa percaya dirimu, Elric. Kau merasa hebat karena mampu mengendalikan sihir api itu. Menganggap orang-orang termasuk aku sedang meremehkanmu, terlihat sekali dari tindakanmu bahwa kau ingin mengejutkan semua orang melalui kemampuan sihirmu. Kau ingin menunjukkan dirimu berbakat dan lebih kuat dari siapa pun. Kau ingin membuat semua orang takut dan tunduk padamu," ucap Perrin yang sedang duduk pada kursi dengan tatapan menakutkan bagaikan monster.
"Tapi kau terlalu bodoh untuk membuat orang disekitarmu ketakutan padamu. Aku bahkan tak merasa bergeming terhadap lingkaran sihirmu itu. Untuk menunjukkan menjadi yang terkuat bukanlah dengan menunjukkan bahwa kau itu yang terkuat tapi membuat mereka percaya bahwa kau itu terkuat" ,ucap Perrin.
"Makin kuat seseorang makin sedikit usaha yang perlu ia lakukan untuk mencapai sesuatu" ,ucap Perrin menlanjutkan bicaranya.
Seketika bisa terasa Perrin duduk paling tinggi diantara mereka.
"Kalian berdua jangan berkelahi kita ini teman sekelas bukan?" ,ucap Cyrus dengan lembut.
"Katakan saja apa mau mu" ,ucap Elric menatap Perrin.
*Tak*Tak*Tak*Tak*Tak*
Suara seseorang melangkah kearah ruangan ini terdengar.
Terlihat Cleorah dan seorang pria dibelakangnya masuk keruangan ini.
"Sudah kubawa Willy" ,ucap Cleorah menatap Perrin dengan tatapan serius.
"Eh? Elric? Perrin? Cyrus? Szeth? Elara? Kenapa banyak bintang sekolah disini?" ,ucap Willy yang berada dibelakang Cleorah kesenangan sekaligus kebingungan karena banyak perempuan cantik disini sekaligus.
"Bagus, Cleorah tolong bantu aku tutup pintunya" ,ucap Perrin sambil berdiri dari kursinya.
Kemudian Cleorah melangkah menutup pintu ruangan ini.
Semua tatapan menuju kearah Perrin.
"Ini soal sebuah layar digital yang muncul tadi malam" ,ucap Perrin.
Cyrus dan Szeth kemudian menjadi sedikit serius mendengar Perrin.
Elric dan Elara sendiri masih tak berubah wajahnya, sangat kelihatan bagi Perrin bahwa mereka berdua sudah menduganya.
Yang paling kebingungan disini adalah Willy.
"Eh?!! Jadi bukan diriku cuma yang melihat layar digital itu ya?!!" ,ucap Willy dengan wajah yang terkejut.
Perrin sudah mendengar dari Cleorah kalau Willy bercerita kepada teman-temannya kalau ia melihat sebuah layar digital saat dia berada ditoilet.
Sayang temannya tak ada yang percaya kata-katanya dan menganggap kalau ia berbohong.
*Kumohon siapapun tampar dia sampai lidahnya terlepas dari mulutnya* ,pikir Perrin.
"Diam Willy, jangan sok-sokkan terkejut seperti acara hiburan yang kau tonton yang namanya 'anime' itu" ,ucap Perrin.
"Pff.." ,suara keluar dari mulut Cleorah menahan tawa.
"Kenapa Cleorah?" ,ucap Perrin menatap Cleorah dengan tatapan tajam.
"Tak ada, aku terkejut ketika kau mengatakan 'anime' dari mulutmu" ,ucap Cleorah sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Tak apa Perrin, Cleorah cuma bercanda...jangan marah" ,ucap Cyrus mendekat kearah Perrin mencoba menenangkannya.
"TAK ADA WAKTU BERCANDA SAAT INI!" ,teriak Perrin dengan kencang.
Suara Perrin sangat lantang hingga membuat seluruh ruangan terdiam bahkan semut tak berani berjalan ketika mendengar suaranya.
"Ini masalah kematian dan kehidupan kalian, kalian ingat apa bacaan layar digital itu? Kalau keselamatan nyawa kalian dan tuan ratu kecil adalah hadiah diatas misi yang akan terjadi dalam 76 jam itu" ,ucap Perrin.
Perrin ini kemudian menatap setiap orang diruangan ini dengan tatapan kuatnya.
Elaria bersembunyi dibelakang Elric ketakutan terhadap Perrin, Elric sendiri sedang serius mendengarkan Perrin. Sedangkan Szeth dan Cyrus menelan ludah ketakutan sedikit terhadap Perrin.
"Ini sudah 18 jam sejak munculnya layar digital itu.....58 jam lagi bahaya akan datang. Aku tak tahu apa itu dan bagaimana itu datang. Bahkan aku merasa ketakutan saat ini. Hanya orang bodoh yang tidak merasa ketakutan saat ini" ,ucap Perrin dengan serius.
Tapi disaat kondisi serius itu seseorang malah mengomel sendiri.
"Ehh...skillnya tidak diketahui ya? Ternyata levelnya Perrin begitu tinggi...jadi..terus Cyrus ternyata tinggi banget skill dan statusnya! Elric juga! Ternyata mereka adalah rival sejatiku!" ,ucap Willy sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan terlihat terkejut beberapa kali.
"Hmmm....ternyata begitu ya, jadi Perrin itu misterius sekali.." ,ucap Willy sambil memegang dagunya dan menaikkan kepalanya keatas.
"Ssshhhh....aku bingung..gimana dapat informasi tentang dia ya.." ,ucap Willy berbicara sendiri dan menggaruk kepalanya.
Kemudian semua tatapan diarahkan kepada Willy. Cleorah menelan ludah ketakutan yang akan terjadi.
Perrin menatap Willy dengan tatapan matanya yang lebih tajam dari siapapun yang berada diruangan ini pernah Perrin tatap.
Terlihat Perrin sangat marah saat ini.
Kemudian Perrin melangkahkan kakinya mendekat kearah Willy dan melepas sarung tangan besinya.
*Brakkkkkkkk!* Trengggggg!!!!!*
Willy berlutut tak lama kemudian ia berbaring dilantai dengan memegang kepalanya yang berdarah.
"AHHHHHHH!!!! SAKIT!! KEPALAKU BERDARAH!!" ,ucap Willy yang memegang kepalanya sambil meronta-ronta kesakitan.
Terlihat sarung tangan besi Perrin terbaring dilantai setelah Perrin lempar kearah Willy dengan sekuat-kuatnya.
Darah kemudian mulai mengalir dilantai.
Perrin melangkah dengan cepat kearah Willy terlihat ia ingin melakukan sesuatu pada Willy.
"Perrin! Berhenti! Ini sudah parah!" ,ucap Cyrus sambil menarik bahu Perrin.
Perrin kemudian melepas tangan Cyrus dengan cepat dan mengabaikan apa yang ia katakan.
"Perrin! Ada yang kumau keberitahu pada dirimu!" ,ucap Cleorah melangkah masuk kedalam perkelahian.
Tapi terlihat Perrin tak memedulikannya dan mendorongnya.
"Perrin! Ini tentang Willy! Kalau kau mau kusakiti Willy dengarkan aku dulu!" ,ucap Cleorah.
Tapi Perrin terus tak memedulikannya dan terlihat ia sangat marah.
Dan kemudian Perrin sampai pada Willy dan kaki Perrin mulai bergerak.
Willy kemudian melindungi kepalanya dengan tangannya, mencoba melindungi serangan yang akan datang dari Perrin.
Willy sendiri terlihat sangat ketakutan sampai ia bergetar.
Kaki Perrin kemudian berayun-
"Willy punya kemampuan untuk melihat data kita dengan cara seperti game!" ,teriak Cleorah dengan kencang.
Kaki Perrin kemudian berhenti bergerak bersama dengan seluruh tubuh Perrin yang juga ikut berhenti bergerak.
Elric terlihat terkejut, sama dengan Szeth terkejut mendengar apa yang dikatakan Cleorah.
"Game?" ,ucap Szeth.
"Ya game, Willy punya kemampuan untuk melihat data kita seperti game. Dimana data kita diukur dengan skill dan status" ,ucap Cleorah.
"Apa itu benar?" ,ucap Perrin dengan nada berat yang bisa membuat orang disekitarnya ketakutan.
Bisa terlihat bahwa Perrin masih menyisakan amarah didalam dirinya.
"Y-ya" ,ucap Cleorah gugup ketakutan.
"Apa itu benar?" ,ucap Perrin yang kemudian menatap Willy dengan tatapan menakutkannya.
"Ya! Ya! Y-ya!" ,ucap Willy sambil memegang kepalanya yang berdarah sambil ketakutan.
"Kalau begitu Cyrus, tolong bawa dia keperawatan pelayan dikastil ini dan akan kita lanjutkan pembicaraan kita nanti malam" ,ucap Perrin sambil berjalan pergi kearah pintu ruangan ini.
*...aku..aku ketakutan?..* ,pikir Perrin dalam hatinya ketakutan sambil melihat tangannya yang bergetar.
Kemudian Perrin kembali melihat kedepan dan membuka pintu ruangan tersebut.
"Bagian-bagian puzzle sudah mulai dikumpulkan..tapi itu tidak membuka misteri atau menyelesaikannya tapi hanya menambah misteri dan memperlihatkan kita seberapa besar puzzlenya" ,ucap Perrin dalam suara berat sambil keluar ia dari ruangan itu.