
"Kau mencoba membuat semua orang mencintaimu, kau akan berakhir sebagai mayat paling populer dikota"
-Ser Bronn of Blackwater
Nona Harlaw dan Cakar Burung Hantu
"Tuan Taitus dari Victa sangat baik dan ramah ya? Padahal aku dengar kalau orang Victa itu kasar,barbar,dan suka berperang...ternyata tidak" ,tawa tuan ratu kecil lumpuh tersebut dengan imut.
Nampaknya Tuan ratu Dalmatia senang karena orang Victa itu tidak seburuk yang ia dengar. Karena cerita tentang orang Victa semua benar-benar buruk. Ada yang mengatakan kalau orang Victa bertarung dengan barbar hingga mati cuma demi berebut wanita.
Ada yang bilang kalau Orang Victa itu anarki dimana mereka tak punya raja dan memilih yang memimpin mereka dengan cara kasar.
Tapi tentu saja itu semua Perrin tak percaya lagipula Victa itu Republik dan yang memilih pemimpin mereka adalah senat, hanya orang Damaltia tidak terlalu mengerti soal itu.
"Iya-iya yang mulia, sebaiknya yang mulia tidur saja dulu dikamar...besok akan ada acara yang lebih besar...jadi beristirahatlah.." ,ucap pelayan tuan putri dengan nada ramah.
Tuan Ratu Dalmatia tersebut duduk diatas kursi rodanya sambil didorong menuju kamarnya untuk tidur. Malam pesta telah berakhir dan banyak bangsawan yang menginap dikastil ini.
Kastil Balradius merupakan salah satu kastil terbesar diseluruh Dalmatia, Perrin tak menghitung seberapa luas kastil ini. Tapi yang penting setidaknya kastil ini bisa menampung lebih dari 10.000 tamu tapi ada yang bilang sampai 50.000 hingga 100.000 tapi itu tak jelas.
Perrin berjalan dibelakang tuan putri menjaganya, takut sesuatu akan terjadi. Mengingat munculnya peringatan digital muncul dihadapan matanya beberapa saat yang lalu.
Beberapa bangsawan dan ksatria tuan ratu lewati, tapi nampak dari mereka tak ada yang berbahaya.
Ketika penjagaannya longgar Perrin mengingat sesuatu.
'Musuh datang disaat paling tak terduga...ucapkan terus hal itu didalam kepalamu maka kau takkan mudah terkejut'
Suara yang diucapkan seorang pria yang ia kagumi berbunyi dikepalanya.
*Julius benar...musuh datang disaat paling tak terduga* ,pikir Perrin dalam hatinya
Perrin didalam armournya terus mengucapkan hal tersebut, ia merasakan sesuatu yang akhirnya Julius rasakan. Matanya tak tertutup atau bahkan mengedip.
*Jadi itu kenapa mata Julius tak pernah terlihat mengedip kecuali dirinya tidur...* ,pikir Perrin dalam hatinya
"Kau tak perlu memanggilku yang mulia terus kepada diriku saat kita sendiri loh Viara" ,ucap tuan ratu Voa kepada pelayannya
Kemudian ratu menunjukkan wajah yang terlihat sedikit sedih.
"Aku lebih suka dipanggil tuan putri Viara" ,ucap tuan putri.
Kemudian tuan putri menoleh kebelakang melihat Perrin.
"Kuharap ka-kau juga begitu Perrin..to-tolong panggil aku tuan putri saja kalau kita sendiri.." ,ucap Tuan putri dengan gugup kePerrin
Perrin mewajari hal tersebut, karena Perrin tahu kalau tuan putri ketakutan dengan dirinya. Teman-teman sekelas Perrin sering menceritakan keganasan dan kedinginan dirinya dengan orang disekitarnya ketuan putri.
Perrin tak bisa menjawab ucapan tuan putri, karena jika ia menjawab itu hanya menambah kegugupan.
*Aku harap mereka tak menceritakan tentang Julius, terutama Julius bisa dibilang dianggap aneh oleh teman-teman sekelasnya* ,pikir Perrin
Kemudian langkah kaki terdengar dari jauh.
Didepan terlihat seorang wanita berjalan mendekat kearah mereka bertiga dengan anggun.
"Yang mulia" ,ucap wanita tersebut.
Terlihat wanita tersebut memiliki wajah cantik tapi terlihat wajahnya bukan wajah anak muda. Wajah seorang ibu dan tuan adipati berada didalam dirinya. Wajahnya sangat matang.
Rambut merahnya yang rapi membentang dikepalanya, sedangkan gaun merah bercampur dengan emasnya terlihat sangat indah dan cantik.
Mata biru lautnya membuat siapapun bisa merasa hangat dihatinya.
"Nona Phierass" ,ucap tuan putri sambil mencoba menunduk dari kursi rodanya menunjukkan kesopanannya.
"Eh? Tidak perlu menunduk yang mulia..." ,ucap Nona Phierass.
"Bagaimana kabar Nona Phierass malam ini?" ,bertanya dengan sopan dan ramah tuan putri.
Tuan putri cukup tertarik dengan Nona Phierass karena mereka memiliki keadaan yang sama, dihina dan dianggap lemah karena mereka hanya wanita oleh orang yang mereka pimpin.
"Baik yang mulia" ,ucap Nona Phierass dengan ramah sambil tersenyum.
Kemudian tatapan Nona Phierass beralih kearah belakang Tuan Putri, kearah Perrin yang hanya terdiam dari tadi.
"Tuan Pahlawan Perrin, kelihatannya kita belum bertemu, jadi salam kenal aku tuan penguasa Pelabuhan Harlaw, nona Phiera-
"Nona Phierass dari keluarga Tulius sang penguasa pelabuhan Harlaw, janda dari Corynn Tulius" ,ucap Perrin melanjutkan apa yang diucapkan Nona Phierass.
Nona Phierass terlihat sedikit terkejut didalam hatinya ketika mendengar suara Perrin.
"Sungguh kehormatan jika Tuan Pahlawan mengetahui diriku" ,ucap Nona Pierass menunduk tersenyum menahan kekejutannya.
*Dia nampaknya cukup terkejut kalau mendengar suara dari armour ini adalah suara wanita* ,pikir Perrin.
"Yang mulia mau pergi tidur kah?" ,ucap Phierass dengan ramah.
"Ia nona, pintu kamar tuan ratu sudah dekat didepan" ,ucap pelayan yang dipanggil tuan ratu sebagai Viara tersebut.
"Benarkah? Kalau begitu biar aku ikut antar tuan ratu kekamar tidurnya" ,ucap Phierass.
"Tidak perlu. Viara antar tuan ratu kekamar untuk tidur, aku memercayaimu" ,ucap Perrin dengan cepat.
"Ba-baik tuan" ,ucap Viara gugup karena Perrin memerintahkannya.
Viara kemudian dengan cepat membawa tuan ratu kekamarnya didepan.
"Se-selamat malam Nona Phierass" ,ucap Tuan ratu sambil terus dibawa kekamarnya tak bisa menolak ucapan Perrin.
Kemudian terlihat Viara membuka pintu kamar tuan putri dan menutupnya kembali.
Suasana menjadi hening hanya tinggal mereka berdua disini.
"Tuan pahlawan Perrin" ,ucap Nona Phierass menunduk.
"Tuan Phierass...atau haruskah aku panggil Nona?" ,ucap Perrin.
"Tuan boleh panggil saya dengan kedua gelar itu tuanku" ,ucap Phierass.
"Hm" ,ucap Perrin, "aku mendengar tentang dirimu sejak lama, aku mendengar tentang kondisimu yang unik.."
"Kondisi unik? Kondisi apa tuan pahlawan?" ,ucap Nona Phierass dengan tawa lembut diakhir ucapannya.
"Kondisimu yang sebagai Nona Penguasa Pelabuhan Harlaw setelah...maafkan aku Nona.." ,ucap Perrin dengan nada sopannya.
*Kalau kau tak bisa berbicara sopan maka jangan berbicara dengan orang yang kau tak anggap sebagai teman*
Memori tentang ucapan tersebut lebih tajam daripada apapun didunia.
"Setelah suami anda meninggal dimedan perang dan ditinggalkan menguasai tanah anda beserta 3 anak anda" ,ucap Perrin
"Hm" ,gumam Phierass sambil tertawa kecil.
"Tidak tuan pahlawan, kondisi ku bukan kondisi unik melainkan kondisi menyedihkan. Ditinggalkan oleh suamiku tanpa perlindungan atau penjagaan dari siapapun didunia hewan ini. Mencoba melindungi anak-anakku dari mereka",ucap Phierass.
"Hah" ,Perrin pun ikut tertawa kecil, "siapa yang kau deskripsikan sebagai 'Mereka' dan 'hewan'? Tuan Phierass"
Perrin tersenyum didalam armournya, Phierass juga ikut tersenyum.
Saat itu mereka berdua bisa mengerti bahwa mereka setara.
"Menurutmu siapa tuan Perrin? Mereka lebih kuat dari kita disatu sisi....tapi disisi lain..mereka lemah terhadap kita.." ,ucap Phierass.
"Apakah mahluk yang kau sebut hewan itu termasuk suamimu?" ,ucap Perrin
"Hewan mungkin tapi tetap saja dia mengambil hatiku dan membuatku jatuh cinta dengannya" ,ucap Phierass sambil tersenyum lembut.
Untuk sebentar wajahnya menjadi lebih cantik dan muda, seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"hewan, nampaknya kau benar. Tapi aku tidak suka mendeskripsikan suatu golongan sebagai hewan terutama jika seseorang yang aku kagumi digolongan itu" ,ucap Perrin.
"Hoohh...kau punya laki-laki yang kau kagumi dan sukai tuan pahlawan?" ,ucap Phierass.
"Tidak aku sukai, hanya kagumi, aku belajar banyak darinya ketika aku bersama dirinya" ,ucap Perrin.
Seketika gelombang memori lama menusuk Perrin hingga kehati.
"Hahh..aku mengingat petualangan dengannya, petualanganku dengannya merupakan suatu kejadian paling yang tak dapat aku lupakan seumur hidupku" ,ucap Perrin.
"Apakah dia masih hidup tuan pahlawan? Kalau dia masih hidup anda beruntung" ,ucap Phierass.
"Tidak dia mati" ,ucap Perrin dengan cepat.
"Ohh...karena apa?" ,ucap Phierass.
"Haruskah aku mengatakannya?" ,ucap Perrin dengan nada berat yang menakutkan.
Phierass hanya terus tersenyum lebih lebar.
"Jadi....disini kita berdiri..dua orang perempuan yang kehilangan orang yang berharga dihidup kita.." ,ucap Phierass sambil mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar tuan putri.
"Hahhh..sungguh ironi, perempuan harus berjuang didunia seperti ini..terutama yang paling kecil dan paling lemah.." ,ucap Phierass.
"Jadi itu yang membuat kau punya simpati terhadap Tuan Ratu?" ,ucap Perrin.
Phierass kembali tersenyum menandakan ia menyukai kata-kata Perrin.
"Bisa dibilang iya..melihat yang mulia kecil dan lemah didunia seperti ini, membuatku mengingat hari dimana aku ditinggalkan suamiku 8 tahun yang lalu" ,ucap Phierass.
*Ohoo..cerita yang nampaknya menarik..* ,pikir Perrin.
Tanpa sadar Perrin tak berhenti tersenyum didalam armournya.
"Aku ingat hari itu dimana aku masih bersedih tentang kematian suamiku, puluhan pria bangsawan mengirim puluhan surat yang berisi tawaran untuk menikahiku. Sudah jelas puluhan pria itu hanya ingin mengontrol tanah yang kukuasai" ,ucap Phierass sambil menyentuh dinding kastil yang terbuat dari tembok putih yang indah.
"Tak lama aku frustasi karena urusan pemerintahan dan politik yang tak pernah dirancang untuk perempuan seperti diriku"
Ucap Nona Phierass sambil tersenyum melihat lentera yang menerangi dinding kastil ini.
"Aku terus frustasi hingga ingin bunuh diri, tapi aku semua frustasi itu menghilang ketika aku melihat anakku yang tersenyum ketika bermain, aku bertanya bagaimana jika aku mati? Apa yang akan terjadi pada anakku? Dia akan dikendalikan dan dikontrol seumur hidupnya. Pada hari itu aku bangkit Sebagai Nona Penguasa Pelabuhan Harlaw"
Untuk sebentar Perrin tidak melihat wajah wanita tapi wajah seorang penguasa...
.
.
.
_______
.
.
.
Tapi jika kalian lihat, pesta ini bukan pesta bangsawan yang sesungguhnya.
Pria makan dengan lahap seperti babi, beberapa nges*x dengan pelacur seperti hewan.
Wanita dan pria menggosip dan membicarakan banyak hal dari utara Victa hingga keselatan Akkadia.
Para badut menari sedangkan penyanyi bernyanyi ratusan lagu dari seluruh Victa.
Beberapa berhasil menahan dan mempertahankan kesopanannya.
Vesius yang termasuk, dia hanya duduk dan makan tapi tak pernah terlihat tertawa. Hal itu bukan membuat ia semakin terlihat sebagai orang tenang ataupun keren melainkan orang melihatnya sebagai orang yang tak nyaman diajak bicara.
Terutama penampilannya yang gendut membuat orang semakin jijik padanya.
Vesius bisa mendengar tawa dan candaan tentangnya.
Sebagian menganggapnya sebagai babi yang hanya tahu makan, cuma mendapat semua kekayaan serta kejayaannya cuma lewat keberuntungan, beberapa orang terdengar membicarakan kalau ia hanya beruntung lahir dikeluarga kuat.
Sebagian menanggapnya sebagai tuan tirani jelek yang licik dan seorang yang jahat, seseorang pejabat korup yang memiliki pasukan dibelakangnya.
*Kenapa aku tak pernah bisa menghiraukannya..sudah dari kecil bukan aku dihina? 'Pengecut' 'babi' 'licik' 'koruptor' 'anak tirani' 'beruntung' 'rakus' ,kenapa? Padahalnya aku harusnya terbiasa..* ,pikir Vesius dalam hatinya.
Disisi lain ia terbiasa dengan ejekan ini, disisi lain ia tetap muak dengan hal ini.
Tapi tetap saja meskipun bisikan dan ejekan terdengar ditelinganya, dia tetap anak menteri militer. Ia tetap harus dihormati terutama reputasi ayahnya yang menakutkan. Membuat siapapun tak berani menghinanya secara terbuka.
"Tuan Vesius! Mari aku nyanyikan lagu tentang kemenangan ayah anda terhadap terhadap pemberontakan Ladirum,perang Tyronia,dan kampanye militer ayah anda melawan dwarf!" ,ucap seorang penyanyi.
Penyanyi tersebut berjalan kearah Vesius sambil menunduk sopan dan nampak kalau ia mempersembahkan sebuah lagu yang ia buat.
*Hohh..aku lumayan tertarik, meskipun cerita tentang ayahku di Pemberontakan Ladirum dan Perang Tyronia sudah membosankan bagiku tapi....Kampanye militer ayah melawan Dwarf? Jarang sekali ada yang mau tahu soal kampanye berdarah itu* ,pikir Vesius dalam hatinya sambil meminum segelas anggur.
"Boleh saya tanya nama anda?" ,ucap Vesius sambil mengusap mulutnya.
"Gulurick 'Sang Hidung Panjang' dari Gunung Hitam" ,ucap penyanyi tersebut tersenyum sambil ia duduk dikursi menyiapkan nyanyiannya.
Biola Violet penyanyi tersebut gesek, suara nadanya gelap sekaligus indah serta menakutkan. Membuat siapapun yang mendengarnya takkan lupa nada tersebut.
"Sang domba~meludah~kepada burung hantu.."
Nyanyi penyanyi tersebut, nadanya pelan dan membuat siapapun merinding.
"Orang pendek menari dibawah cakar besarnya~"
Kemudian seluruh bangsawan yang tadi bising dan berpesta menjadi terdiam ketakutan. Saat itu Vesius sadar kalau ini semua diatur.
*Penyanyi ini...dikirim ayahku..* ,pikir Vesius
"Bangsawan-bangsawan bangga duduk dikastilnya~tak sadar siapa yang mereka hadapi~"
Semua suara menghilang dan semua ejekan serta tawaan yang diarahkan kepada Vesius berhenti terdengar.
"Tapi tanpa sadar~mereka dicenkram..dan kastil mereka tak berbunyi~ tawa berhenti~"
*Nyanyian ini....nyanyian teror..* ,pikir Vesius
"Orang pendek menghilang....tawa mereka tak terdengar lagi...senjata mereka hancur.."
*Nyanyian teror untuk semua bangsawan agar jangan macam-macam kepada Garius*
"Gunung terdiam dan kastil menjadi hening....itulah bayarannya.."
*Ini menceritakan bagaimana Ayahku membantai dwarf diutara dan pemberontak Ladirum* ,pikir Vesius
"Bayarannya melawan burung hantu.."
Beberapa bangsawan hanya bisa terdiam sedangkan beberapa segera bangkit dari mejanya dan menjauh dari pesta.
Kebanyakan yang menjauh dari pesta antara tak mau mendengar lagu itu ataupun marah.
"Dan tertawa dia mendengarnya...Tuan Ladirum.."
Ketika ucapan 'Ladirum' terdengar, beberapa orang hanya bisa terdiam dan menelan ludahnya.
"Tapi sayang tawanya berhenti..dan kastilnya tak bersuara lagi.."
*Entah kenapa aku menikmati melihat mereka seperti ini..* ,pikir Vesius sambil melanjutkan mengunyah sepotong roti lembut.
"Tapi sayang tawanya berhenti...dan kastilnya tak bersuara lagi.."
*Beberapa orang ketakutan, sedang beberapa muak dengan ini* ,pikir Vesius
Kemudian Vesius mengalihkan pandangannya kepara bangsawan dan ksatria Damaltia.
Beberapa mereka tak mengerti arti dari lagu ini.
Tapi beberapa langsung mengerti dan ikut sedikit ketakutan.
Mengerti bahwa Garius tak segan-segan melakukan segala cara untuk membantai habis semua musuhnya.
"Tawa berhenti dan tak ada jiwa yang tertawa lagi.."
Gulurick kemudian terdiam dan berhenti melanjutkan nyanyiannya.
Biola kemudian berhenti dipetik.
Gulurick hanya duduk bersama biola nya sambil tersenyum licik kepada para bangsawan.
Dan saat itu semua orang sadar kalau lagunya berakhir.
Sadar kalau lagu berakhir dengan 'Tak ada jiwa yang tertawa lagi..'
Dan tak ada lagi tertawa setelah mendengar lagu tersebut. Semuanya ketakutan.
Vesius memandang mereka semua yang hanya bisa terdiam.
*Hanya dengan satu lagu...ayahku berhasil membuat sebagian bangsawan dari seluruh Victa ketakutan..* ,pikir Vesius.
*Prokk*Prokk*
Vesius lah yang pertama bertepuk tangan setelah lagu tersebut berakhir.
Saat Vesius bertepuk tangan semua memandangnya.
Tepuk tangan Vesius sendirian.
Kemudian beberapa bawahan Keluarga Garius ikut bertepuk tangan. Termasuk beberapa prajurit Garius memakai lambang burung hantu diarmournya ikut bertepuk tangan.
Kemudian semua bangsawan ikut bertepuk tangan dengan gugup.
Tak ada candaan dan tawa seperti tadi. Hanya tepuk tangan dan bangsawan yang terdiam.
Dan semua tawa berhenti dan kastil hanya diisi satu suara lagi..
.
.
.
___-_-__
.
.
.
Suara pukulan kayu terdengar.
Teriakan perintah dan arahan dari seseorang yang ia kenal terdengar.
Gelapnya malam membuat kastil ini cukup menakutkan.
Beberapa pelayan mondar mandir menyiapkan lentera untuk malam yang sudah datang dikastil ini, beberapa mondar-mondar mandir membawa sapu,kain,dan keranjang membersihkan ruangan dikastil ini.
Terlihat dibawah dimana lapangan kastil, terdapat 2 anak laki-laki bertarung satu sama lain menggunakan pedang kayu.
Sedangkan ada satu pria dari jauh memperhatikan mereka.
"Boen" ,ucap Hasteinn mendekat kearah mereka berdua.
Ia memanggil kepada pria yang dari jauh memperhatikan kedua anak laki-laki itu.
"Tuan muda" ,ucap Boen sambil menunduk kepada Hasteinn.
Kedua anak laki-laki tersebut kemudian berhenti bertarung dan menoleh kearah Hasteinn.
"Tak apa lanjutkan saja latihan kalian" ,ucap Hasteinn.
Kemudian kedua anak laki-laki tersebut melanjutkan pertarungannya.
"Siapa mereka?" ,ucap Hasteinn bertanya kepada Boen disebelahnya.
"Tamu baru dari keluarga Hebeld, Walder Hebeld dan Guruna Hebeld" ,ucap Boen.
"Nampaknya akan ada pertemuan yang lumayan besar dikastil ini.." ,ucap Hasteinn sambil melihat keatas kastil.
"Iya, seluruh adipati dan bangsawan dibarat daya Victa" ,ucap Boen.
"Buat apa?" ,ucap Hasteinn bertanya.
"Pesta panen" ,ucap Boen.
"Pesta panen bukankah itu terlalu cepat? Bukankah biasanya 2 bulan lagi?" ,bertanya Hasteinn.
"Ah sakit!"
"Cuma itu langsung sakit! Ayo lanjutkan!"
Ucap anak-anak tersebut terus bertarung dengan pedang kayu mereka.
"Apa kau tak menegur mereka?" ,ucap Hasteinn
"Biarkan mereka kesakitan, jika mereka terbiasa dengan sakit maka mereka akan mudah berlatih kedepan" ,ucap Boen.
"Ohhh.." ,ucap Hasteinn yang langsung mengerti.
"Kau tak tidur tuan muda?" ,ucap Boen.
"Tidak aku tak bisa tidur...aku merasakan sesuatu..aku merasakan sesuatu yang tidak enak akan datang" ,ucap Hasteinn sambil memegang lengannya dan ia merasakan kalau bulu kuduk ditangan kanannya tegak semua.
"Entah apa itu....aku tak tahu..aku merasakan sesuatu yang aneh.." ,ucap Hasteinn.