Hannoic War

Hannoic War
Tak ada yang mengerti mereka (Part 20)



"Perang adalah Ayah dan Raja dari segalanya...beberapa dia telah buat seorang dewa, beberapa dia buat seorang pria, beberapa dia buat budak, beberapa dia buat menjadi bebas..."


-Herodotus di Heraclitus dari Ephesus


Tak ada yang mengerti mereka


Kaki kuda menghentuk-hentukkan jalanan ibukota, dengan Vesius dan perut gendut nya menunggangi kuda tersebut.


Angin pagi yang dingin bisa terasa melewati armour Vesius, sedangkan cahaya matahari pagi sedang memanjat naik ke tembok dinding ibukota.


Langit masih cukup gelap karena betapa paginya mereka berangkat.


"Vale, sudah siap?" ,ucap Vesius sambil memakan daging ayam ditangannya.


"Iya tuanku, semua 19 ksatria terloyal keluarga Garius sudah siap semua untuk melindungi kastil rumah anda tuanku" ,ucap Vale dengan wajah serius tua nya.


"Heh" ,tersenyum Vesius mendengarnya, "ayah akan marah padaku karena memberikan jabatan pengganti Menteri Militer kepada Torrmund, satu ludah terakhir kewajahnya sebelum aku mati dimedan perang mungkin"


Vesius kemudian melihat kebelakang, 19 ksatria berbaris dengan rapi dengan menunggangi kuda kastil dan pedang kuat mereka.


Diarmour mereka terukir lambang Burung Hantu yang telah menjadi bagian badan mereka bertahun-tahun.


*Beberapa sudah tua dan melayani keluargaku lebih dari puluhan tahun..ada juga yang telah melayaniku selama Perang Tyronia..mungkin aku bisa merasa aman selama perjalanan* ,pikir Vesius sambil mengunyah daging ayam dimulutnya menatap setiap Ksatria yang mengikutinya.


Jalanan ibukota lebih sepi dan kosong dipagi hari tapi ada juga rakyat biasa yang menyiapkan toko dan jualannya didini hari.


Beberapa dari mereka menatap Vesius dari tadi dengan tatapan penasaran sekaligus tatapan takut.


Vesius hanya kembali menatap kedepan dengan tajam..


Mata hijaunya bersinar redup menatap tajam kedepan...


Dan senyuman terbentuk diwajahnya.


"Biarkan kematian taruhannya" ,ucap Vesius sambil memacu kudanya dan menjatuhkan ayamnya kejalanan ibukota.


Dan kemudian ksatria Vesius mengikutinya...


Untuk sebentar bayangan Vesius terlihat bagaikan burung hantu raksasa yang sedang terbang keangkasa...


.


.


.


.


.


___-_-__


.


.


.


.


.


.


.


Rasa dingin lumpur dan kayu bisa dirasakan dikakinya.


Gelap malam membuatnya tak bisa melihat banyak.


Terkunci tangannya oleh rantai, sudah mencoba dirinya dari tadi melepas rantai ini tapi tak bisa.


Tersenyum dirinya…


"Bahkan dikurungan seperti ini, kau masih punya senyuman aneh itu, dasar pengkhianat dan penghancur sumpah sakral" ,ucap Hakoon dari luar kurungan kayu melihat Aethel yang dikurung didalamnya.


"Oh, kau Hakoon, kupikir seorang babi yang bisa bicara, hehe" ,ucap Aethel sambil tersenyum dengan wajahnya yang dipenuhi lumpur yang basah maupun kering.


"Kau beruntung langsung menyerahkan dirimu langsung kepada Tuan Mallibax beberapa hari yang lalu, kalau tidak aku sudah melihatmu digantung sekarang" ,ucap Hakoon dengan wajah jijik kepada Aethel.


"Hehe" ,tertawa kecil Aethel dengan nafasnya yang terdengar kotor.


Aethel ingat beberapa hari yang lalu, bagaimana dengan dirinya...dengan canda terbaiknya...


'Aku raja Geralda sekarang'


Ucapan bercandanya masih lebih teringat dirinya daripada ratusan wajah wanita yang menangis ketika ia bunuh dan diperkosa oleh bawahan Tuan Jahae.


Setelah ia merasakan kursi hangat singgasana Raja Geralda atau Adipati Geralda, ia langsung berdiri.


'Aku bercanda! Aku menyerahkan diri! Aku menyerahkan diri! Hahahahha!'


Teriaknya dengan kencang.


Sambil ia ikut tertawa kencang dan gelap.


Tak ada yang mengerti canda dan leluconnya.


Hanya Nona Merry yang ikut tersenyum dan tertawa kecil dengan wajah yang ikut menggila yang kemudian berganti menjadi menangis.


Semuanya hanya bisa terheran,terbengong,dan kebingungan.


Dan kemudian suara gebrokan gerbang ruang singgasana terdengar.


"DAN JENDERAL CALLIBAX DARI KELUARGA MALLIBAX YANG TERHORMAT,BAIK HATI,AGUNG,HEBAT,MENGAGUMKAN,DAN BIJAK MENGAMPUNI PRIA MANAPUN YANG MENYERAHKAN DIRINYA! HHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHHA!" ,suara Aethel sangat kencang hingga semua prajurit yang berada disekitar kurungannya.


"Kau memang sudah gila, dewa nampaknya mengambil setengah pikiranmu setelah kau melanggar sumpah sakralmu" ,ucap Hakoon dengan wajah yang selalu Aethel lihat selama bertahun-tahun....


Wajah jijik kepada dirinya…


"Dewa heh, Mana dewamu ketika aku memasukkan batangku keseorang anak perempuan petani didesa waktu aku muda hah? Dimana aku membuatnya menangis dan mengalir darah keperawanannya dibijiku" ,ucap Aethel dengan matanya yang melebar dan senyuman.


"Dewa akan datang setelah dirimu mati Aethel, kau hanya tinggal menunggu" ,ucap Hakoon dengan wajah dinginnya.


"Heh, kapan? Setelah aku memperkosa ratusan wanita lagi? Setelah aku membantai jutaan manusia lagi? Setelah aku membuat batangku menjadi berwarna merah gelap karena darah keperawanan wanita yang kuperkosa?" ,ucap Aethel sambil berdiri perlahan.


Ketika Aethel berdiri dirinya kembali bagaikan setengah iblis setengah orang gila.


Senyuman lebih keiblis sekarang daripada kegilaan.


"Kapan? Aku sudah menghancurkan sumpah sakralku untuk melayani Keluarga Mahald…mana dewamu hah?" ,ucap Aethel.


"Dewa akan datang kepadamu 'Penghancur Sumpah', kau dan tuanmu melempar anak perempuan kecilku kedalam penjara, ketika tuanmu diambang kekalahan kau malah meninggalkan tuanmu dan membunuhnya, itu akan membuat dewa marah padamu" ,ucap Hakoon sambil mengerutkan alisnya.


"Dan Jenderal Callibax mengampuniku karena itu...mungkin dia adalah dewa yang sesungguhnya, kau mau membunuhku Hakoon? Atau menceramahiku? Hehehahaha coba bunuh aku, aku dilindungi 'hukum merah bangsawan', setiap bangsawan yang menyerahkan dirinya langsung tanpa perlawanan tak boleh dibunuh secara sembarangan loh...hehehe" ,ucap Aethel sambil mencoba mengeluarkan kepalanya dari kurungan kayunya.


"Aku mendengar dari Jenderal Callibax kau akan digantung karena melanggar sumpah sakralmu, Aethel" ,ucap Hakoon.


"Hehehhehe dan menyingkirkan 'hukum merah bangsawan' itu diperlukan ijin dari raja kecil umur 15 tahun itu, dan kau ingat diruang singgasana itu kau berkata kau perlu berbulan-bulan untuk mengirim surat kepada dirinya? Hehe" ,tertawa kecil Aethel diakhir.


Aethel merasa tak bisa berhenti tertawa terus menerus karena menampar setiap ucapan Hakoon.


"Dalam berbulan-bulan kau akan tetap disini Aethel bersama lumpur dan rantai...menunggu kematianmu.." ,ucap Hakoon dengan wajah mengadili Aethel.


"Boleh aku tanya Hakoon?" ,ucap Aethel dengan senyuman.


"Apa?" ,gumam Hakoon.


"Apa kabarnya Nona Merry?" ,bertanya Aethel.


"Apa masalahmu dengan janda nya siTuan Jahae? Dia baik-baik saja, dia sedang bersama pelayan dan tabib yang menyembuhkan luka siksaan dari Tuan Jahae, sebentar lagi Tuan Callix akan mengangkutnya keKeluarganya kembali" ,ucap Hakooon.


Aethel hanya bisa tersenyum bagaikan iblis…


*Srekk!*


Dengan cepat Aethel menarik Hakoon dari celah kurungannya.


Tangannya keluar dari kurungan dan menarik sekuat tenaga tubuh berlemak Hakoon.


Dengan kuat Aethel memegang pakaian Hakoon.


"Ekh!" ,gumam Hakoon sambil ditarik oleh Aethel.


Belum sempat Hakoon berteriak kemudian Aethel menggapai sesuatu dipinggul Hakoon.


*Shhhrrringgggggg!*


Pedang Hakoon diambil oleh Aethel dengan cepat.


Pedang besi segar keluar dari sarungnya dan menggeres tajam yang disentuhnya…..termasuk tangan manusia…


"Akhhhh!!!!" ,ucap Hakoon sambil terjatuh ditanah.


Terlihat bagian lengannya yang berdarah parah karena digores pedangnya.


Beberapa prajurit yang memperhatikan, kemudian langsung bergerak kearah Aethel.


"Apa! Ada apa?!" ,ucap prajurit penjaga yang langsung mendekat.


*Bbbrukkkk!*


Suara kurungan kayu Aethel yang dihancurkan terdengar.


*Bbbrukkkk!*


Aethel terus menendang kurungan kayu nya kemudian keluar bagaikan iblis yang dikunci ribuan tahun.


Meskipun dengan rantai mengikat kedua tangannya jadi satu terlihat Aethel masih tersenyum….


Tapi kali ini dia punya pedang besinya…


Pedang ditangannya ia angkat keangkasa.


Aethel tak bersuara dan hanya tersenyum bagaikan iblis.


Menunjukkan giginya yang putih.


Dengan dikelilingi puluhan prajurit…


Besi pedangnya Aethel berkilau sambil memantulkan cahaya obor kamp.


.


.


.


.


.


.


___-_-____


.


.


.


.


.


.


Berjalan Cleorah diruangan perpustakaan kerajaan Dalmatia ini, ruangan yang biasanya gelap berubah menjadi terang dengan lebih banyak lilin menerangi perpustakaan ini.


Tentu saja perpustakaan ini menjadi lebih terang bukan tanpa alasan..


"Suami mu aku dengar menyukai kue Solem dari Akkadia, apakah itu benar?" ,suara yang terdengar dari wanita setengah remaja setengah ibu-ibu bisa terdengar ketika Cleorah berjalan dalam keperpustakaan.


"Iya! Anakku juga menyukainya. Tapi sayang bahannya lendir buah semir itu susah dicari, kalau ketemu palingan mahal" ,suara seorang wanita lain juga terdengar.


"Aku ada loh buah semir yang kubeli dari Akkadia~ banyak digudangku diPelabuhan Harlaw...tapi sayang pengkhianat Trivistane..itu..." ,ucap seorang wanita dengan nada emosi disuaranya cepat berubah.


Ketika Cleorah sampai kearah sumber suara itu, bisa terlihat Nona Harlaw sedang berbicara keseorang wanita.


Mereka berdua nampak terlihat duduk didekat meja panjang diperpustakaan ini dengan dikelilingi rak buku.


"Tenang saja, anakku sedang pergi berperang dipasukan Tuan tangan kanan Perrin. Mereka pasti akan membawa kemenangan dan anak Nona Harlaw pasti akan dibebaskan!" ,ucap wanita yang berbicara dengan Nona Harlaw dengan nada semangat, terlihat wanita itu memegang tangan Nona Harlaw dengan tenaga postitif.


"Terima kasih..aku berterima kasih, memang Keluarga Traimor adalah salah satu keluarga paling loyal.." ,ucap Nona Harlaw sambil mengusap sedikit air matanya.


"Nona Harlaw...dan..nona Traimont" ,ucap Cloerah dengan nada lembut.


Kedua wanita itu kemudian menoleh secara tiba-tiba kearah Cleorah, bisa terlihat mereka berdua cukup kaget melihat Cleorah.


"Tuan Pahlawan.." ,ucap Nona Harlaw sambil membungkuk dari kursinya sambil tersenyum.


"T-tuan pahlawan" ,ucap Nona Traimont sambil ikut membungkuk.


"Boleh aku tanya kenapa Nona Harlaw ada disini?" ,bertanya Cleorah.


"Hanya membaca beberapa buku tuanku, dan mengobrol dengan Nona Traimont tuan. Terutama dimalam begini banyak hal yang bisa dibicarakan untuk kedua orang ibu" ,ucap Nona Harlaw sambil membangunkan punggungnya dari membungkuk.


"Ouh...ok" ,ucap Cleorah.


"Ok?" ,ucap Nona Harlaw sambil mengerutkan alisnya.


*Aku lupa kalau ini dunia lain...dunia asing..dunia yang tak menyambutku secara baik..* ,pikir Cleorah.


"Sesuatu yang unik tuanku, tapi ngomong-ngomong Nona Traimont..ini sudah larut malam, dan banyak hal yang perlu anda lakukan untuk besok pagi, seorang ibu perlu tidur.." ,ucap Nona Harlaw sambil menolah kepada Nona Traimont dan tersenyum.


"Bagaimana dengan anda Nona Harlaw...bu-bukankah Nona perlu tidur juga?" ,ucap Nona Traimont dengan gugup.


"Aku sebagai Nona Harlaw masih punya banyak hal yang kukerjakan" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman setengah ramah setengah berbahaya.


"Ba-baiklah nona" ,ucap Nona Traimont yang langsung berdiri dari kursi dan kemudian memberi kesopanan menunduk terakhir kepada Cleorah dan Nona Harlaw baru setelah itu berjalan keluar dari perpustakaan.


Ketika Nona Traimont pergi...Cleorah dan Nona Harlaw menatap tajam satu sama lain.


Untuk sebentar suasana menjadi tegang dan hening.


"Fufu...suaminya cukup bagus tubuhnya loh Cleorah" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman licik nya, "hahh...sekarang Keluarga Traimont aman disisi kita.."


Cleorah hanya bisa mengerutkan alisnya dan berwajah sinis.


Bibir Nona Harlaw benar-benar lembut dan indah menyatu dengan wajahnya yang lebih cantik.


Terutama rambutnya yang diikat rapi, membuatnya menjadi seorang wanita idaman bagi pria bahkan wanita..


"Kenapa? Kau tak menyukai ku?" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman.


Cleorah tak menjawab dan hanya terdiam.


Melihat Nona Harlaw.....Cleorah mengingat banyak masa lalu waktu sekolahnya, dirinya ingat memiliki wajah yang cantik dan juga sifat yang imut membuat banyak pria membantu dan berteman dengannya.


Menukar nomor telepon dengan banyak pria demi perhatian. Kemudian pacaran dengan banyak pria untuk perhatian…


Dia juga meminta uang dan perlindungan mereka, untuk keuntungannya sendiri.


Hingga dirinya bertemu Cyrus….pria yang perhatian dan mengerti Cleorah lebih dari pria yang lain..


Dan kemudian dirinya berubah demi mendapatkan cinta Cyrus..


Kemudian dirinya bertemu monster dari para monster...Perrin dan Julius…


Bertemu teman-teman dan ratusan karakter kompleks bagaikan novel…


Tanpa sadar hidupnya berubah tanpa ia sadar….


"Ayolah...segitunya dirimu tidak menyukai diriku, hingga kau tak membalas ucapanku? Kau menganggapku pelacur bukan? Heh..aku sudah wajar dengan itu" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman licik.


"Tidak, aku mengerti kenapa kau melakukan itu" ,ucap Cleorah.


*Aku bisa mengerti, yang kau lakukan itu...demi hidup..demi menang...saat ini aku tak sebodoh diriku saat aku dimasa lalu..* ,pikir Cleorah dengan tatapan tajam.


"Heh, Tuan Perrin memang punya banyak teman yang menarik" ,ucap Nona Harlaw.


Nona Harlaw kemudian membuka buku sejarah ditangannya...bisa terlihat ratusan lembar tebalnya..dengan ratusan kata didalamnya..


"Sejarah Strantos dari pertamanya manusia datang ke Strantos.." ,ucap Nona Harlaw sambil membaca buku itu, "kau mau tahu 'manis'?"


*'manis'?* ,pikir Cleorah dengan makin mengerutkan dahinya.


"Fufu..kenapa? Kau tak suka dipanggil manis oleh wanita yang lebih tua dari dirimu?" ,ucap Nona Harlaw tersenyum dengan bibir merahnya.


"Kenapa kau belum tidur? Kenapa kau masih disini untuk berbicara denganku?" ,ucap Cleorah dengan kesal.


"Kenapa? Dasar anak muda...cepat marah dan tak berpikir lebih lama lagi....aku mau berbicara saja soal kita.." ,ucap Nona Harlaw sambil menyentuh dadanya sendiri.


"Soal kita?" ,ucap Cleorah.


"Ya kita…" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman yang lebih lebar, "..aku menghormati tuanmu Sang Tuan Perrin, dia bukan orang bodoh sembarangan. Dia tahu bekerja sama dengan musuhnya demi memeras keuntungan"


Nona Harlaw kemudian berdiri perlahan dari kursinya…


Kalung emas dan perhiasan ditubuhnya bergoyang dan memantulkan cahaya seiring Nona Harlaw berdiri.


Sedangkan tubuh Nona Harlaw sendiri cukup tebal dan berlemak tapi cukup seimbang membuatnya makin cantik…


"Tapi apa yang kau buat dengan memintaku untuk memberimu uang yang 20 kali setara dengan gelang berlian abu-abu mu itu….benar-benar cara yang mirip dan mengomando sama seperti Tuan Perrin...kau belajar darinya?" ,ucap Nona Harlaw sambil mendekat ke Cleorah.


Nona Harlaw bisa dirasakan lebih tinggi daripada Cleorah, membuat Cleorah tambah gugup.


Menelan ludah Cleorah..


"Tidak perlu ketakutan nak, aku juga belajar melakukan metode yang sama dengan ibu ku. Tuan Perrinmu itu benar-benar berbeda dia, kadang dia memberi kita ucapan tanpa surat dan hanya simbolism yang dia pakai...sama seperti gelang berlian abu-abu mu itu" ,ucap Nona Harlaw.


"Kadang dia datang sendiri kekita untuk mengucapkan sesuatu tanpa surat" ,ucap Cleorah.


"Hm, kau benar" ,ucap Nona Harlaw, "ini masa yang aneh nak, kau tahu ini mungkin satu-satunya masa dimana wanita memimpin Dalmatia?"


"Aku rasa mungkin…" ,ucap Cleorah dengan nada ragu.


*Dalmatia pasti punya ratu dimasa lalu...yang punya kekuatan komando dan kekuasaan seperti Perrin kan..?* ,pikir Cleorah.


"Hm, kau tak tahu banyak sejarah kurasa?" ,ucap Nona Harlaw sambil menyipitkan matanya.


"Itulah kenapa aku kesini" ,ucap Cleorah sambil berjalan maju dan melewati Nona Harlaw.


Kemudian berhenti didepan rak buku.


*Dimana buku sejarah Dalmatia…? Kata Tuan Casca buku sejarah Dalmatia ada dibagian rak buku ini..* ,pikir Cleorah sambil menyentuh satu persatu buku dirak tersebut.


" 'Buku sejarah Dalmatia dari berdiri sampai zaman Raja Halann ii' ada dirak buku sana dibagian paling tengah kedua" ,ucap Nona Harlaw sambil menunjuk kearah sebuah rak buku.


Cleorah kemudian bergerak dan berjalan kearah rak yang sesuai ditunjuk oleh Nona Harlaw.


Ketika sampai dirak buku tersebut, Cleorah mencari bukunya…


*Mana?* ,pikir Cleorah.


Tatapan Nona Harlaw membuat Cleorah tak nyaman...membuat Cleorah menjadi sedikit gugup..


"Pfff.." ,bisa terdengar tawa Nona Harlaw tersangkut ditenggorokannya.


Cleorah langsung membalikkan pandangannya kearah Nona Harlaw ketika mendengar tawanya.


"Kau percaya kataku? Aku berbohong. Buku yang kau tak ada disana, tapi disini" ,ucap Nona Harlaw dengan tersenyum sambil menutup bukunya.


Terlihat buku yang ia pegang selama pembicaraan dengan Cleorah disampulnya berjudul 'Buku sejarah Dalmatia dari berdiri sampai zaman Raja Halann ii'


"Manusia itu bisa mudah percaya sesuatu nak, terutama ketika dia merasa tak nyaman" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman yang kuat.


"Apa yang kau mau dari bicara dengan diriku?" ,ucap Cleorah dengan makin mengerutkan dahinya.


"Sudah kubilang, aku hanya ingin bicara bersama..terutama denganmu...orang yang paling banyak belajar dari Tuan Perrin" ,ucap Nona Harlaw.


"Kenapa? Kau terobsesi dengannya?" ,ucap Cleorah dengan nada kuat dan kencang.


Suasana menjadi hening, dengan perpustakaan yang sedang gelap dan istana Balradius yang senyap.


Nona Harlaw hanya tersenyum sambil menyeret jari lembutnya dari ujung keujung sampul buku sejarah Dalmatia tersebut.


*..tuk*


"Lihat…? Kau punya nada suara yang kuat sama dengannya.." ,ucap Nona Harlaw sambil melangkahkan kakinya.


Nona Harlaw kemudian mendekat kearah Cleorah..


Tubuh Nona Harlaw sekali lagi terlihat lebih besar dan tinggi daripada Cleorah.


Nona Harlaw kemudian menyentuhkan buku sejarah Dalmatia tersebut ke perut Cleorah.


"Aku mendoakan Kemenangan untuk Tuan Perrin sama sepertimu...aku mendoakan dirinya untuk membebaskan rumahku Pelabuhan Harlaw dari okupasi pengkhianat Trivistane..membebaskan anak-anakku dari rantai tawanan.." ,ucap Nona Harlaw dengan tatapan paling tajamnya yang pernah Cleorah lihat.


*Apa yang dia inginkan?* ,pikir Cleorah.


"Kau mencintai anak-anakmu?" ,bertanya Cleorah penasaran.


"Tentu saja, kau pikir seorang ibu tak menyayangi anaknya? Seorang ibu seperti diriku bahkan akan bertarung dengan setengah rakyat Dalmatia demi melindungi anaknya" ,ucap Nona Harlaw dengan senyuman.


Cleorah menelan ludah mendengarnya.


Cleorah menjadi lebih gugup dan ketakutan…


*Apakah memang begitu? Apakah memang begitu cinta seorang ibu? Apakah monster ini memang memiliki sisi seperti itu? Sisi seorang ibu yang menyayangi anaknya?* ,pikir Cleorah.


Bahkan Cleorah melangkahkan kakinya kebelakang mendengarnya.


"Kau ragu bukan? Seorang ibu akan selalu memiliki rasa sayang kepada anaknya nak, bahkan dari monster seperti diriku" ,ucap Nona Harlaw sambil menyentuh dadanya dengan jarinya.


Cleorah hanya menyipitkan matanya ketika mendengarnya.


"Hahh...remaja sepertimu takkan tahu, kau belum memiliki seorang anak. Bulla anakku bahkan sempat punya perkelahian denganku karena aku memerintahkan dirinya untuk tak pergi kemana-mana tanpa bodyguard" ,ucap Nona Harlaw dengan mata setengah sedih setengah kuat.


Cleorah lumayan terkejut..semua orang yang ia anggap monster ternyata memiliki sisi seperti ini..


Mereka punya sisi lemah mereka..


Ia ingat Perrin ketika dikamarnya memasang mata hangat ketika menceritakan Julius…


Jauh berbeda daripada Perrin yang kuat,memiliki aura komando,menakutkan,dan serius.


Sekarang…


Nona Harlaw seorang wanita yang setengah pelacur setengah strategis politisian yang berpengalaman…dan seorang wanita yang demi kekuatan akan melakukan apapun termasuk mengorbankan tubuhnya..


Jauh berbeda dari setengah tatapan dimatanya yang sekarang...seorang ibu yang merindukan anaknya..dan takut akan kondisi anaknya yang ia tak dengar berminggu-minggu...


Nona Harlaw kemudian menodongkan bukunya kearah Cleorah.


Mata biru lautnya bersinar redup dikegelapan menatap tajam Cleorah.


Menghilangkan hampir semua tatapan hangat dimatanya...


"Kalian anak remaja takkan mengerti perasaan kami seorang dewasa seperti kami, kadang kalian berpikir kalian itu tahu, tapi faktanya tidak" ,ucap Nona Harlaw dengan kuat.


Cleorah menjadi gugup dan kemudian berjalan lebih mundur.


*Trudk*


Kemudian Cleorah menyenggol seretan buku tanpa sengaja.


*Trduddk*..Trudduk*


Buku lainnya kemudian ikut tersenggol dan terjatuh kelantai.


*Trudduk*Truddduk*Trdduududk*


Banyak buku kainnya terjatuh.


Cleorah kemudian hanya tersenyum pahit melihatnya.


"Hm" ,tersenyum Nona Harlaw melihatnya, "dasar para remaja, ceroboh"


Cleorah kemudian mengambil satu persatu buku dilantai.


"Hahh.." ,menghela nafas Cleorah.


Dan mengembalikannya kedalam rak buku.


"Tak perlu dibereskan, itu pekerjaan pelayan" ,ucap Nona Harlaw.


Cleorah tak menghiraukan ucapan Nona Harlaw.


Nona Harlaw hanya ikut menghela nafas dan kembali duduk dimeja.


Tapi Cleorah kemudian melihat sesuatu….


*Apa itu?* ,pikir Cleorah sambil menyipitkan matanya melihat sesuatu dikegelapan.


Ada sesuatu dibalik rak buku ini..dibagian rak buku lain..


Sesuatu…


Ada yang berbaring..


*Apa itu?* ,pikir Cleorah mencoba melihat lebih dekat.


Jantungnya berdetak kencang…


Tubuhnya terkejut melihatnya..


Cleorah kemudian menutup mulutnya menahan teriakan ketika melihatnya..


*Trduddk*


Buku ditangannya tanpa sengaja terjatuh kembali kelantai…


Dan kakinya secara ketakutan mundur.


Nona Harlaw yang melihat kelakuan Cleorah langsung berdiri dari mejanya.


Dan mendekat penasaran..


"Ada apa?" ,bertanya Nona Harlaw penasaran.


"Itu.." ,ucap Cleorah menunjuk.


"Apa…?" ,ucap Nona Harlaw sambil melihat kearah yang Cleorah tunjuk...kebalik rak buku..


Nona Harlaw kemudian melihat itu juga..


"Mayat.." ,ucap Nona Harlaw.