
"Pria akan bertarung lebih keras kepada sesuatu yang mereka inginkan daripada sesuatu yang merupakan hak mereka"
-Napoleon Bonaparte
Benturan Koin Silver
"Filda! Tolong ambilkan aku keranjang didapur!"
Teriak seorang ibu-ibu tua memanggil Filda.
"Iya sebentar" ,jawab Filda yang berada didalam sebuah dapur.
Dapur ini cukup kotor dengan beberapa noda gosong hitam.
Beberapa bagian dapur ini masih berantakan karena beberapa anak-anak main disini mencari makanan dengan berantakan.
Filda sedang berada disebuah penampungan yatim piatu yang berada didekat Kuil putih.
Tempat penampungan yatim piatu ini cukup besar tapi beberapa bagiannya rusak karena angin dan hujan. Tapi tenang saja penduduk desa sudah memperbaiki beberapa bagiannya.
Filda kemudian mengambil sebuah keranjang kayu dan berjalan keluar dari dapur tersebut.
"Kakak Filda! Tolong bacakan buku dongeng ini!" ,Teriak seorang anak-anak memanggil Filda dengan wajah senangnya.
"Nanti dulu ya..kakak mau bantu bibi Mordhe.." ,ucap Filda dengan lembut.
"Baiklah! Nanti bacakan ya!" ,ucap anak tersebut melompat kecil kesenangan.
"Iya..tenang saja" ,ucap Filda yang kemudian melanjutkan berjalan membawa keranjangnya.
Didalam hatinya Filda merasa senang dan hangat, melihat anak-anak yang menderita seperti mereka senang.
Entah seperti apa penderitaan yang mereka hadapi sebelum datang keKuil putih yang menampung anak yatim piatu ini.
Sebagian besar dari mereka merupakan korban perang dimana orang tua mereka mati dimedan tempur sedangkan beberapa berasal dari desa lain yang dijarah.
Kemudian Filda membuka pintu keluar untuk menemui Ibu-ibu tua yang tadi memanggilnya.
Sinar matahari terang terbentang dihadapannya ketika ia membuka pintu tersebut.
*Hanno dan Ayah selamat tidak ya dijalan? Semoga Tuan cahaya melindungi mereka..* ,pikir Filda dengan rasa sedikit khawatir dihatinya.
"Oi Filda jangan merenung! Cepat kesini! Bantu aku gantung pakaian ini!" ,ucap bibi Mordhe dari jauh.
Terlihat Bibi Mordhe menggantung beberapa pakaian anak-anak yatim piatu yang lain.
"Ah! Ah! Iya!" ,ucap Filda yang kemudian berjalan kearah Bibi Mordhe dengan cepat.
Kemudian Bibi Mordhe mengambil dengan cepat keranjang ditangan Filda.
"Demi Pembawa Cahaya, kau itu lambat sekali bawanya" ,ucap Bibi Mordhe.
"Ma-maafkan aku bi.." ,ucap Filda ketakutan.
"Udah bantu aku aja! Cepat!" ,ucap Bibi Mordhe.
"Ah! Baiklah!" ,ucap Filda.
Filda kemudian membantu menggantung beberapa jemuran dan mengambil beberapa kain yang sudah kering kekeranjangnya.
Cahaya matahari bersinar terang hari ini membuat hari menjadi lebih indah.
Kuil putih menjadi terlihat lebih terang dan beberapa bagian lama insfraktrukturnya yang rusak terlihat.
Kuil putih yang sekarang merupakan kuil yang dibangun dari reruntuhan kuil yang lama.
Bahkan beberapa bagian Kuil putih ini merupakan bagian dari Kuil dewa petir yang sudah runtuh.
"Kau ini merenung terus, tenang saja ayahmu siGuslau pernah kehutan sendirian dan membawa babi hutan sebesar 4 sapi untuk dijual kedesa. Aku akan bunuh diri dia akan mati terhadap bandit dijalan dari kota Ballerius" ,ucap Bibi Mordhe sambil mengambil jemuran yang sudah kering kekeranjangnya.
*Bibi benar...sudah seharusnya aku tak khawatir, semuanya akan baik-baik saja..tapi kok rasanya aku merasakan sesuatu yang buruk akan datang..* ,pikir Filda
"Ck! Dasar sialan! Kotoran ngompol ini! Susah nian dicuci!" ,ucap Bibi Mordhe dengan kesal sambil melihat pakaian yang terlihat terkotori warna coklat yang sedikit memudar yang sudah dicuci berkali-kali.
"Nama juga anak-anak bi, mereka itu suka ngompol. Sabar aja tuan cahaya kan memerintahkan kita untuk sabar disetiap keadaan" ,ucap Filda dengan lembut.
"Hahh..kau mungkin bisa bersabar, tapi aku tidak. Kau pikir sudah berapa kali aku mencuci pakaian ini...masih belum juga hilang kotorannya!" ,ucap Bibi Mordhe sambil duduk kelelahan ditanah.
"Sabar bi.." ,ucap Filda dengan lembut.
"Heh sabar, aku capek Filda bekerja terus menerus dari tadi pagi mengurus anak-anak. Aku sudah tua, jangan memerintahkan aku untuk bersabar seakan-akan kau tahu apa itu hidup diusia tua" ,ucap Bibi Mordhe.
Filda hanya tersenyum sambil ikut melihat rumput ditanah dan duduk disamping Bibi Mordhe.
"Indah ya dunia ini...aku benar-benar bersyukur, tuan cahaya membuat dunia ini.." ,ucap Filda.
"Ya bersyukur...perang tanpa henti dan ratusan orang kehilangan keluarganya, kelaparan serta kemiskinan dimana-mana. Aku sungguh bersyukur" ,ucap Bibi Mordhe.
"Bibi!" ,ucap Filda dengan nada kesal.
Kadang Filda heran kalau Bibi Mordhe ini pendeta cahaya atau tidak, karena Bibi Mordhe terkadang tak mencerminkan sikap pendeta.
Tapi terkadang Filda melihat Bibi Mordhe mendoakan sesuatu, Bibi Mordhe sendiri orang yang pesinis dan tak terlalu seperti pendeta. Tapi Bibi Mordhe lah yang sebagian besar memungut anak yatim piatu dikuil ini dan bahkan membantu keuangan pembangunan kuil putih ini.
"Kau ini suka merenung...pasti memikirkan sesuatu.." ,ucap Bibi Mordhe menatap Filda dengan tatapan sinis.
"Ehh...?" ,ucap Filda kebingungan dengan Bibi Mordhe.
"Kau merenungkan anak yang katanya kau tumpang dirumahmu itu ya? Siapa namanya Hann? Hanna? Hanni? Aku tak ingat" ,ucap Bibi Mordhe.
"Hanno bi.." ,ucap Filda dengan wajahnya yang kemudian memerah.
"Kau jatuh cinta pada anak itu" ,ucap Bibi Mordhe.
"Tidak! Aku tidak! Aku..tidak.." ,ucap Filda dengan wajahnya yang masih memerah.
"Iya kau jatuh cinta padanya, jangan pikir aku tidak tahu nak. Aku juga pernah jatuh cinta dan tahu wajah seseorang yang jatuh cinta" ,ucap Bibi Mordhe.
"Aku tak boleh jatuh cinta bukan?..bukankah aku pendeta tuan cahaya?...aku tak bisa menikah atau memiliki anak.." ,ucap Filda.
"Kau belum mengucapkan sumpah pendeta, kau bisa keluar dari pendeta dan melanjutkan hidup dengan anak bernama Hanno itu" ,ucap Bibi Mordhe.
"Aku tak bisa...aku sudah bertujuan untuk menjadi pendeta sejak kecil bi.." ,ucap Filda.
"Kalau begitu putuskan, aku tak bisa memaksamu karena kau anak muda. Anak muda harus bisa membuat keputusannya sendiri" ,ucap Bibi Mordhe sambil mengangkat keranjangnya yang berisi pakaian kering.
Bibi Mordhe kemudian berdiri dan berjalan.
"Boleh aku tanya sesuatu?..apakah Bibi pernah menyesal sebagai pendeta?" ,ucap Filda bertanya.
Bibi Mordhe kemudian berbalik menoleh kearah Filda, dengan tatapan sinis ia memandang Filda.
"Pernah tapi cuma sebentar, karena Bibi memilih waktu dan umur yang tepat untuk menjadi pendeta. Kau tak perlu menjadi pendeta untuk menjadi seorang pelayan setia dari tuan cahaya, kau bisa menjadi seorang pelayan setia tuan cahaya meskipun beristri dan memiliki anak. Tinggal ajari anak dan suamimu ajaran tuan cahaya, kau juga masih bisa mengunjungi kuil ini meskipun kau mempunyai anak" ,ucap Bibi Mordhe sambil melihat kearah Filda.
Filda merasa ragu dalam hatinya, ia ingin membuat keputusan tapi rasa hatinya bagaikan dipotong dua. Yang satu sisi dengan cintanya dan yang satu sisi dengan kepercayaannya.
"Buat keputusanmu"
Ucap Bibi Mordhe sambil berjalan menjauh dari Filda dan masuk kedalam kuil.
Semakin menjauh Bibi Mordhe pergi, pikiran Filda bertambah dan makin berpecah belah.
Ia tak tahu pilihan mana yang akan dia pilih.
"Filda!"
Teriak seseorang memanggilnya.
Kemudian seorang remaja perempuan terlihat berlari kearahnya.
"Filda!" ,ucap perempuan tersebut sambil memeluk Filda dengan cepat.
Ia langsung memeluk Filda, membuat Filda yang tak siap langsung merasa terkejut sekaligus kesakitan.
Filda bahkan hampir terjatuh tapi berhasil menahannya.
"Yiara! Sakit!" ,ucap Filda.
"Aku rindu dirimu..sudah lama kau tak datang kedesa sejak beberapa minggu yang lalu" ,ucap Yiara dengan suara imut.
Yiara merupakan teman masa kecilnya, seorang wanita yang liar dan memiliki kelakuan tak seperti wanita. Tapi memiliki hati yang polos dan menyenangkan. Meskipun kadang membuat kesal.
"Aduh sakit Yiara...janganlah begitu.." ,ucap Filda merasa kesakitan.
"Maaf...aku sudah terlalu rindu, lagipula ayahmu itu melarang diriku untuk mengunjungi rumahmu lagi.." ,ucap Yiara dalam nada sedih yang seperti anak-anak.
"Siapa suruh mencuri daging rusa punya ayahku seperti pencuri?" ,ucap Filda.
Yiara pernah sekali mencuri daging rusa bakar punya Ayah Filda karena kelaparan. Ayah Filda marah karena itu dan setiap Yiara datang kerumah Filda, ayah Filda berlari mengejarnya dengan kapak ditangannya.
"Oi! Yiara! Jangan ganggu Filda! Biarkan Filda lakukan pekerjaannya!" ,ucap Bibi Mordhe dari jauh berteriak.
"Tidak kok bik! Aku cuma main sebentar!" ,ucap Yiara membalasnya.
"Kau ini! Hahh...." ,ucap Bibi Mordhe sambil terlihat menghela nafas dan pergi menjauh kearah kuil putih.
*Tunggu dulu aku ingat anak..anak..aku butuh membacakan anak-anak cerita dahulu* ,pikir Filda dalam hatinya.
"Udah Yiara, aku mau pergi keanak-anak dulu" ,ucap Filda.
Tapi kemudian Filda menyadari sesuatu terdapat bau yang Filda kenali tercium dibadan Yiara.
"Kau bau serbuk kayu, kau baru bantu bangun apa?" ,tanya Filda.
"Aku baru bantu ayahku bangun patung dewa baru ditengah kota!" ,ucap Yiara dengan ceria.
"Oi Filda! Anak-anak belum makan siang tuh! Udah taruh jemurannya disitu! Nanti aku yang kerjakan aja!" ,ucap Bibi Mordhe berteriak lagi dari jauh.
*Bukan...bukan membacakan cerita dahulu...mereka belum makan siang* ,pikir Filda dalam hatinya
"Ya bibi! Maaf Yiara...bisa tolong lepaskan..aku mau ke anak-anak dahulu" ,ucap Filda sambil mencoba melepaskan pelukan Yiara.
"Baiklah! Aku lepaskan!" ,ucap Yiara yang langsung melepas pelukannya.
Filda kemudian berdiri dan berjalan masuk kearah penampungan yatim piatu.
"Bagaimana keadaan anak-anak Filda?" ,bertanya Yiara yang tersenyum ceria.
"Bagus kok, mereka sudah dapat makan enak. Juga makasih kepada ayahmu, atapnya bagus sekali jadi tak bocor lagi" ,ucap Filda tersenyum berjalan dan kemudian menyentuh pintu tempat penampungan yatim piatu tersebut kembali.
"Baguslah, ayah bekerja bagus membangun atapnya" ,ucap Yiara sambil merapatkan kedua tangannya dengan mata senang.
*Treekk*
Suara pintu bergeser terdengar.
Filda kemudian membuka pintu dan berjalan masuk kedalam tempat yatim piatu ini bersama Yiara yang berada dibelakangnya.
"Bagaimana kabar ayahmu? Dia pergi kekota Ballerius lagi kah? Oh iya apakah dia pergi bersama anak bernama Hanno itu?" ,ucap Yiara bertanya semua hal dengan cepat.
Wajah Filda kembali memerah, ia ingin sebentar berhenti memikirkan Hanno.
"B-bisa tolong kau jangan bicara apapun tentang Hanno dan diam sebentar?" ,ucap Filda dengan sedikit kesal.
"Baiklah! Aku akan diam!" ,ucap Yiara sambil seperti bermain suatu permainan.
Kemudian semakin ia masuk kedalam tempat ini. Dan ruangan dimana kamar main bersama terlihat didepannya.
Suara bising terdengar.
Canda,tawa,marah,dan langkah kaki anak-anak memenuhi seluruh lorong yang Filda langkahi.
"Kejar aku!"
"Aku sang pahlawan!"
"Centaurus dan Orc datang!"
"Aku penyihir besar dari Pulau Suci Cyronia!"
Puluhan anak-anak bermain dan bergerak bagaikan ulat yang numbuhkan tangan dan kaki didepan mereka berdua.
Beberapa buku berserak berantakan dilantai sedang beberapa anak laki-laki bermain pedang-pedangan kayu, beberapa bermain mainan patung kayu replika rusa dan burung hantu.
Anak-anak perempuan duduk dan melihat lukisan gambar dibuku meskipun tidak bisa membaca tulisan dibuku tersebut, beberapa anak perempuan bahkan bermain mengejar dengan anak lelaki.
"Adik-adik! Duduk rapi! Kita mau bersiap makan!" ,ucap Filda dengan kencang sekaligus lembut.
Kemudian semua tatapan anak-anak mengarah kearah Filda.
"Bukannya kakak mau bacakan cerita?" ,ucap anak tadi yang meminta Filda untuk membacakannya cerita.
"Iya...Malla...tapi Malla harus makan dulu.." ,ucap Filda tersenyum lembut.
"Aishhh..." ,ucap Malla merajuk.
"Siapa paling belakang anaknya Orc!"
Teriak anak-anak sembari berlari kearah ruang makan.
"Anak-anak! Hati-hati!" ,ucap Filda memperingati anak-anak.
Semua anak-anak berlari dengan cepat kearah ruang makan dengan semangat. Hanya satu anak-anak yang tidak berlari dengan cepat dan terlihat tak bersemangat karena merajuk.
Anak itu yang tadi mau dibacakan ceritanya oleh Filda namanya Malla. Tapi Filda mau anak-anak makan siang dahulu sebelum bermain.
"Ayo sini..Malla jangan merajuk.." ,ucap Filda sambil memegang bahu Malla.
Filda kemudian menuntun Malla dan anak-anak kedapur bersama Yiara.
Yiara juga nampaknya mau ikut duduk makan, karena dia suka bermain dengan anak kecil yang kadang memiliki sifat yang sama dengannya.
"Ehh! Bagus udah mandiri Riama ya! Bawa piring sendiri tanpa disuruh! Pintar!" ,ucap Filda tersenyum manis sambil menyentuh pipi salah satu anak perempuan.
Anak perempuan yang dipanggil Riama tersebut kemudian memerah wajahnya karena dipuji oleh Filda.
Anak-anak kemudian semuanya bersiap duduk diatas meja, sedangkan Filda mengambil sebuah baskom besar berisi bubur gandum yang disumbang beberapa petani ketempat yatim piatu ini didalam lemari.
Ia juga ikut mengambil piring dan sendok.
"Yiara tolong ambilkan beberapa gelas" ,ucap Filda.
"Baik! Baik!" ,ucap Yiara yang kemudian bergerak mengambil beberapa gelas.
Beberapa anak-anak bermain diatas meja bahkan berkelahi.
"Eh Walda dan Hada! Jangan berkelahi! Duduk tenang karena kita mau makan!" ,ucap Filda.
Piring dan sendok kemudian dibagikan keanak-anak.
Beberapa anak-anak terlihat senang dan bercanda bersama teman-temannya.
"Filda!" ,teriakan Bibi Mordhe terdengar dari jauh.
Langkah kaki kerasnya mulai terdengar masuk kearah ruang makan dimana Filda dan anak-anak berada.
Bibi Mordhe kemudian muncul didepan ruang makan.
"Ada apa bik?" ,ucap Filda dengan sopan.
"Itu ayahmu mencari didepan kuil" ,ucap Bibi Mordhe.
"Ayah? Baguslah...terima kasih tuan cahaya memberkatiku.." ,ucap Filda sambil menaruh tangannya didadanya bersyukur.
"Udah, cepat kunjungi ayahmu nanti dia dobrak kuil ini lagi kayak tahun kemaren" ,ucap Bibi Mordhe.
"Baik buk...anak-anak? Makan siang ya meskipun kakak tak ada, oh iya Yiara! Tolong temani mereka makan! Mainlah ya dengan mereka!" ,ucap Filda yang kemudian melangkah dengan cepat.
Ia kemudian berjalan dilorong dengan cepat. Dibelakang iya meninggalkan Bibi Mordhe dan Yiara menemani anak-anak.
"Ayo! Yang menang main panco dengan kakak dapat sesendok bubur tambahan!"
Teriakan Yiara terdengar hingga jauh, terdengar suara senangnya dan cerianya.
Filda hanya mewajari hal tersebut dan membiarkannya. Filda berjalan melewati beberapa ruangan dikuil ini.
*Sudah 4 hari...4 hari yang panjang sekaligus cepat, Hanno dan Ayah..4 hari berlalu cepat..akhirnya mereka sampai dengan selamat* ,pikir Filda dalam hatinya.
Kemudian tak lama kemudian ia sampai didepan kuil putih.
Terlihat dihadapannya, Ayahnya dan Hanno berdiri dengan kereta dagang mereka dibelakang mereka berdua.
Ia kemudian mendekat berjalan kearah mereka berdua dan memeluk ayahnya dengan cepat.
Ayahnya juga membuka tangannya dan terlihat menyambut pelukan Filda.
*Pakk*
*Baunya masih sama, bau alkohol dan keringat tapi bau debu jalanan juga bercampur* ,pikir Filda sambil memeluk Ayahnya.
Filda kemudian mengalihkan pandangannya keHanno yang terlihat baik-baik saja dan normal seperti biasa.
Wajahnya hanya sedikit berdebu dan kering. Keringat juga terlihat diwajah Hanno dan Ayah Filda.
"Udah! Udah selesai peluknya! Ayo pulang! Mataku sudah rabun bahkan melihat kuil menjijikan ini!" ,ucap Ayah Filda.
"Ayah!" ,ucap Filda dengan kesal.
"Udah! aku sudah lelah! Aku mau antar kain wanita tua sialan itu baru pulang kerumah!" ,ucap Ayah Filda.
Anak dan ayah itu nampak berkelahi lagi, bagi beberapa orang hal itu sudah wajar terutama yang mengenal Guslau selama bertahun-tahun.
Beberapa petani dan orang-orang yang melihat mereka berdua hanya bisa tertawa.
"Hanno!" ,ucap Jean dengan senyuman senangnya.
Terlihat ia memeluk Hanno dengan erat dari belakang dan rambut Hanno terlihat menyentuh dadanya.
"Hari ini merupakan hari yang indah bagiku loh Hanno! Fufu...tapi sayang..kita berpisah lagi padahal aku ingin menghabiskan waktu denganmu.." ,ucap Jean dengan nada nakal sambil memeluk Hanno dan mengelus-elus kepalanya.
"Kau!" ,ucap Filda yang langsung memisahkan keduanya.
Filda kemudian memegang bahu Hanno dengan cepat dan menarik Hanno kearahnya.
Jean hanya tersenyum dan tertawa kecil sambil menjauh dari Filda.
"Fufu...kenapa nak? Kau cemburu?" ,ucap Jean tersenyum licik.
"Diam! Sudah ayo ayah mari pulang!" ,ucap Filda yang tak menghiraukan ejekan Jean dan segera melangkah pergi menarik Hanno.
"Hanno kita akan berjumpa lagi...tapi mungkin tidak dengan cara lembut" ,ucap Jean tertawa kecil.
Ayah Filda naik keatas kereta, Hanno dan Filda juga ikut naik kemudian.
"Oi kalian udah naik?" ,ucap Ayah Filda sambil menoleh kebelakang kereta kudanya.
"Udah Ayah" ,ucap Filda.
"Bagus, sekarang aku mau antar kain pesanan nenek-nenek sialan itu. Baru kita pulang" ,ucap Ayah Filda.
Cambuk kuda bergoyang dan kereta kuda yang dinaiki mereka bertiga bergerak melewati jalanan pedesaan yang damai.
Terlihat beberapa petani berjalan, beberapa membawa rumput untuk memberi makan binatang ternaknya.
Ada patung dewa baru dijalan desa ini, beberapa rakyat nampaknya menaruh daging ataupun makanan dibawah kakinya.
Tapi diantara kesibukan lain rakyat terlihat sebuah kumpulan orang-orang yang sedang berdoa dan berteriak paling kencang.
"Pahlawan dari dunia lain sudah datang!" ,teriak seorang pendeta dewa petir berteriak.
"Ini tanda bahwa Raja Iblis sudah datang! Mari kita dekatkan diri kita ketuhan dan bertobat!"
Teriakan terus terdengar, mengganggu mungkin tapi orang-orang cuma membiarkannya. Karena orang Victa biasanya mentoleransi agama lain dan tak terlalu peduli terhadap sesuatu yang bising.
Dewa orang Victa asli sendiri memiliki upacara yang lebih bising dimana 9 babi dipukul dan dibiarkan berteriak kencang. Yang paling kencang teriakannya maka akan dikorbankan kedewa.
"Pahlawan dari dunia lain?" ,ucap Ayah Filda.
"Itu cuma hal palsu Guslau, kau pikir pahlawan dan raja iblis itu benar-benar ada? Hanya legenda yang berumur ribuan tahun" ,ucap seorang bapak-bapak yang mendekat kearah Ayah Filda.
"Pahlawan...apakah ini pertanda dari tuan cahaya?" ,ucap Filda.
"Ck, kau mulai lagi Filda" ,ucap Ayah Filda.
"Kuharap ini cuma pahlawan palsu, jika raja iblis memang datang maka habislah kita" ,ucap bapak-bapak tersebut.
"Dan semua pelanggan kita akan menghilang" ,ucap Ayah Filda.
"Hahahahaha" ,tawa bapak-bapak tersebut.
Kereta terus bergerak dan bapak tersebut tertinggal dibelakang bersama tawanya.
Sementara kereta bergerak. Filda merasa khawatir dan rasa ketakutan bangkit dalam dirinya.
"Dasar ada-ada saja orang jaman sekarang..pahlawan palsu..pfff...bahkan aku bisa membuat bohongan yang lebih bagus" ,ucap Ayah Filda tertawa kecil sambil meminum sekantung air anggur.
*Apakah rasa khawatir dan perasaan suatu bahaya akan datang ini...adalah pertanda raja iblis itu benar-benar datang?* ,pikir Filda.
Filda merasakan ketakutan dan khawatir didalam dirinya tapi rasa ketakutan tersebut membesar ketika ia melihat wajah Hanno.
Mata Hanno yang kosong dan menakutkan membesar, terlihat dirinya seperti benar-benar terkejut. Pemandangan yang Filda tak pernah lihat selama 4 bulan ia tinggal bersama dirinya.
"Ha-Hanno? A-ada apa?" ,ucap Filda dengan gugup.
Hanno mengalihkan pandangannya kearah Filda. Untuk sebentar rasa takut menyelimuti tubuh Filda, kali ini rasa takutnya lebih besar.
Mata Hanno selalu aneh,kosong,dan menakutkan. Kadang matanya terlihat seperti tahu segalanya. Diamnya dirinya selalu menakutkan tapi matanya menambah ketakutannya lebih dari apapun.
"Tak ada.." ,ucap Hanno.
Matanya kembali seperti biasa menjadi mata yang kosong dan terlihat seperti tak punya emosi seperti biasanya.
"Oh iya..." ,ucap Hanno.
Kemudian Hanno terlihat mengambil sesuatu dari pakaiannya.
"Ini.." ,ucapnya dengan suara dalamnya.
Suara Hanno itu lembut,dalam,dan ada suara keras didalamnya seperti sebuah pedang yang jatuh kedalam laut.
Ditangan Hanno, disuguhkannya sebuah mawar yang dibekukan dalam sebuah kaca.
Indah....hanya itu kata-kata yang Filda bisa jelaskan untuk mawar beku didalam kaca ini.
Wajah Filda lebih memerah daripada yang tadi, rasa lembut sekaligus senang bergejolak dari dalam hatinya.
Sebentar rasa hangat ikut menyelimuti hatinya.
"I-ini...hadiah..untukku?" ,ucap Filda dalam hatinya.
"Ya" ,ucap Hanno dengan singkat.
"Begitukah.." ,ucap Filda yang kemudian menyentuh kaca berisi mawar yang dibekukan tersebut.
*Sudah kuputuskan kalau aku takkan menyebut sumpah pendeta..* ,pikir Filda dengan perasaan hangat lebih dalam menyelimuti dirinya.
"Terima kasih.." ,ucap Filda sambik tersenyum lembut.
.
.
.
"Oi ibu-ibu sialan!" ,ucap Ayah Filda sambil mengambil sesuatu dari kereta dan meleparkannya kearah wajah seorang ibu-ibu yang sedang berada didepan rumahnya.
"Guslau anak pelacur! Kenapa kau lempar kewajahku!?" ,ucap ibu-ibu tersebut.
"Bacot! Kau yang minta sendiri untuk dibelikan kain dari kota Ballerius! Itu tuh udah kubelikan! Mana uang imbalannya!" ,ucap Ayah Filda.
"Sabar dulu! Aku mau panggil dulu keponakanku...Salena!! Oi Salena!!" ,ucap ibu-ibu tua tersebut memanggil seseorang yang berada didalam rumahnya.
"Apa bi!!!" ,suara wanita terdengar dari dalam rumah tersebut
"Ambilkan aku sekantung uang silver yang diatas lemari tuh hah!" ,ucap ibu-ibu tua tersebut.
Kemudian suara langkah terdengar dan seorang perempuan keluar dari rumah itu sambil mendobrak pintunya.
"Nih!" ,ucap perempuan tersebut sambil melemparkannya kearah ibu-ibu tersebut.
"Kau ini tak sopan! Beda sekali kau dengan ibu kau yang baik hati itu!" ,ucap ibu-ibu tersebut.
Perempuan keponakan ibu-ibu tersebut tak menghiraukannya dan kemudian kembali kedalam rumahnya.
Kemudian ibu-ibu tua tersebut menghitung berapa uang dikantungnya dan mengikat kembali kantung tersebut.
"Nih uangnya!" ,ucap ibu-ibu tersebut sambil melempar sekantung koin silver kearah wajah Ayah Filda.
"Akhhh..sakit bodoh hidungku!" ,ucap Ayah Filda sambil memegang hidungnya yang terkena lemparan sekantung silver dengan keras.
"Bacot! Kau yang minta uang koin silvermu! Sekarang pergilah!" ,ucap ibu-ibu tersebut.
Filda hanya tersenyum hampir tertawa. Terlihat Filda memiliki banyak kesenangan hari ini.
Hanno bahkan ikut juga tersenyum sedikit diwajahnya.
Tapi saat itu mereka berempat kecuali Hanno merasakan sesuatu bahaya yang akan datang didalam diri mereka..
Dan mereka tak tahu kapan dan dimana itu..