Hannoic War

Hannoic War
Sigil dan Keluarga (Part 19)



"Bahkan orang paling bodoh terbesar didunia bisa lebih pintar daripada yang menertawakannya"


-Tywin Lannister


Sigil dan Keluarga


"Hahh.." ,menghela nafas Charla kelelahan.


Dirinya memikirkan sesuatu yang membuatnya sakit kepala.


Jabatan Kepala Keluarga Ohara akan menjadikan tanya-tanya untuk berbulan-bulan kedepan dan dia takut kalau keluarga Ohara menjadi terpecah keberbagai faksi. Lebih takut lagi kalau ia tak bisa mencegahnya.


Banyak bangsawan yang mati karena alasan misterius dan sudah 4 yang dibunuh dengan cara perutnya ditebas termasuk pamannya, pelaku kematian bangsawan ini masih belum ditemukan dan dia takut kalau kakaknya Vespasian atau teman-temannya yang selanjutnya.


Sejauh yang ia tahu hanya 1 orang yang bertahan hidup setelah penyerangan diperut yang ia dengar adalah 'Kalavvar siperemuk orang Tyronia'.


Atau 'Iblis Sungai Hitam' beberapa orang memanggilnya. Bagaimana tidak dia membantai 40.000 pasukan hanya dengan 20.000 pasukannya, membunuh 'Krakull sirambut biru' dan mengakhiri Perang Koalisi Tyronia.


Ia sudah mendengar orang tersebut tapi ia tak pernah melihatnya secara langsung dan menurut Charla dengar dari Khasrow. Ia cuma pemabuk dan bajingan beruntung yang membunuh banyak orang Tyronia.


*Aku tak percaya dia cuma bajingan pemabuk yang beruntung, pertempuran sungai hitam yang ia pimpin bukan cuma pertempuran biasa, dia membantai pasukan Krakull sirambut biru yang dua kali jumlah pasukannya dipertempuran itu*, pikir Charla dalam hatinya


Kemudian ia menaikkan kedua kakinya.


Merapatkan pahanya ketubuhnya.


Membuat kepalanya menyentuh lututnya.


Ia hanya kembali merenung semuanya dan merasa frustasi serta sedih.


"Ck."


Dia mendecakkan lidahnya.


Kemudian seorang menepuk bahunya.


"Hai~" ,ucap Jean menepuk bahu Charla membuat Charla terkejut.


Charla bahkan tak mendengar langkah kakinya.


"Ka-kakak!" ,ucap Charla terkejut.


"Yo! Apa kabar adikku yang tercinta!" ,ucap Jean mendekat keCharla.


"Ba..bagaimana kakak bisa disini!" ,ucap Charla masih terkejut.


Sudah sekitar 4 tahun, Charla tak pernah melihat ia lagi.


Kakak setengah kandungnya.


Mereka berdua memiliki ayah yang berbeda tapi ibu yang sama. Ibunya Jean, Hera Berrau merupakan ibu bagi Charla dan Vespasian juga.


Tapi suami pertama Hera Berrau adalah Girr Berrau yang merupakan ayah kandung Jean.


Tapi kemudian Girr Berrau mati dipertempuran membuat Hera Berrau menjadi janda.


Hera Berrau kemudian menikahi Blourr Ohara


Hera kemudian nantinya melahirkan Charla dan Vespasian yang merupakan anak hasil dari perkawinannya dengan Blourr Ohara.


Membuat Jean menjadi kakak setengah kandung mereka.


Mereka berdua pada awalnya tinggal disatu kastil yang sama.


Tapi kematian Blourr Ohara karena dipertempuran berbeda membuat mereka berpisah, dengan Hera Berrau kembali kekastil keluarganya sedangkan Charla juga Vespasian tinggal diGelaria belajar dibawah pengajaran keluarga Ohara.


Vespasian dan Charla tumbuh menjadi prajurit dan liar karena mencontoh perilaku Jean yang juga liar.


Karena itu keluarga Ohara cukup tak menyukai Jean yang membuat buruk perilaku Vespasian dan Charla.


Mereka berdua juga tidak memiliki nama keluarga yang sama.


"Kau kelihatan lebih berotot dari sebelumnya aku menemuimu 4 tahun yang lalu, kau sudah tumbuh dimedan perang nampaknya" ,ucap Jean mendekati Charla.


"Kenapa kakak bisa disini?" ,ucap Charla terus menanyai Jean.


"Aku kesini untuk menemani muridku~" ,ucap Jean dengan nada ceria.


"Mu-murid? Kakak punya murid?" ,ucap Charla makin bingung dan terkejut.


"Iya~ dia punya wajah manis loh~" ,ucap Jean dengan tersenyum.


Kemudian Jean memegang tangan Charla dan duduk disebelahnya dengan ceria, kemudian dengan perlahan senyum Jean memudar berganti menjadi wajah sedih.


"...aku sudah dengar kok" ,ucap Jean dengan nada lembut, "paman Tairar sudah meninggal."


"...iya" ,jawab Charla dengan sedih.


"Jangan berlarut-larut terlalu lama, kau tidak bersalah atas kematiannya" ,ucap Jean menenangkan Charla.


"Tidak, aku gagal melindungi keluargaku...harusnya aku menemaninya dengan prajurit untuk mengantarnya kepenginapan" ,ucap Charla dengan suara lemah.


"Sudahlah....yang sudah tetaplah yang sudah" ,ucap Jean sambil memegang bahu Charla, "apa motto keluargamu?"


"E-ah?" ,ucap Charla bingung.


"Motto keluargamu, motto keluarga Ohara" ,ucap Jean menjelaskan.


"Tumbuh..kuat..diantara...Paku" ,ucap Charla dengan sedikit lambat.


Kata-kata itu menenangkan sedikit Charla, kata-kata yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka.


"Ya, kau sebagai Ohara harus tumbuh kuat karena rintangan dan hambatan" ,ucap Jean menyemangati, "kematian pamanmu merupakan paku, oleh karena itu kau harus belajar dari kematiannya dan tumbuh kuat."


Senyum Jean.


Charla juga ikut tersenyum.


"Kakak masih tidak berubah sejak lama" ,ucap Charla.


Jean hanya tersenyum ceria dan dia sempat bersiul menyanyikan sebuah lagu.


Kakinya bergerak seperti anak kecil ketika ia duduk dikursi.


Charla hanya melihatnya dan mewajarinya.


Sadar bahwa kakaknya Jean tak berubah meskipun sudah bertahun-tahun.


Kemudian suasana menjadi sedikit hening dan sepi.


"Jadi bagaimana Vespasian?" ,tanya Jean.


"Seperti biasa dia dingin tapi aku rasa dia juga sedikit bersedih" ,ucap Charla.


Wajah orang itu sudah lupa senyum maupun tertawa juga menangis.


Vespasian tak pernah terlihat tersenyum,menangis,ataupun tertawa selalu serius juga dingin seperti es.


Tak ada yang mengingat kapan terakhir kali Vespasian tersenyum,tertawa,dan menangis.


Vespasian hanya pernah satu kali mengakui seseorang sebagai temannya yaitu Vesius Garius.


Ia ingat bagaimana Vespasian diumur 10 melindungi Vesius dari tuduhan kalau ia menghilangkan pisau emas milik kakaknya.


Charla ingat bagaimana Vespasian berteriak 'Tuduhan palsu itu tuduhan tanpa bukti valid!'.


Saat ditanya siapa dirinya oleh kakak Vesius, Charla mengingat selalu hal itu seumur hidupnya


'Aku? Aku Vespasian dari keluarga Ohara dan teman dari Vesius dari keluarga Garius!'


Vespasian sangat dingin bahkan diumur yang masih kecil dan tak ada yang menduga bahwa mereka akan mendengarkan hal tersebut dari mulut Vespasian.


"Sudah kuduga" ,ucap Jean.


"Kenapa kakak berada disini, dikota Ballerius?" ,tanya Charla.


"Bukankah sudah kubilang? Kalau aku hanya ingin mengikuti muridku?" ,ucap Jean sambil memiringkan sedikit kepalanya.


"Muridmu...muridmu itu siapa? Aku tak menyangka kakak memiliki murid dan lagipula aku tak tahu kalau kakak berminat menjadi guru seseorang" ,ucap Charla.


"Tenang saja, kalau mengajarnya itu urusanku" ,ucap Jean.


"Siapa namanya?" ,tanya Charla.


"Hanno" ,jawab Jean.


"Hanno? Kalau nama keluarga?" ,tanya Charla.


"Aku tidak tahu...lagipula aku tidak yakin dia punya nama keluarga.." ,ucap Jean.


"Kurasa" ,ucap Jean.


"Kakak memang aneh seperti biasa" ,ucap Charla yang kemudian menurunkan satu kakinya, "lagipula bagaimana kakak mau merekrutnya sebagai murid? Apa yang begitu hebat hingga kakak membuatnya menjadi murid?"


Saat Charla kebingungan, Jean tersenyum lebih lebar daripada biasanya.


"Fufufu..Kau akan tahu ketika kau menemuinya" ,ucap Jean tersenyum.


.


.


______-_-______


.


.


Ibukota telah ramai kembali dengan rakyat biasa berjalan-jalan dijalanan sedangkan pedagang kembali menjual dagangannya keibukota.


Suara dagang pasar telah kembali terdengar.


Sedangkan banyaknya prajurit kota keluarga Garius yang berada diibukota bertambah.


Dari cuma 6.000 menjadi 17.000.


Sedangkan bangunan-bangunan yang terbakar kembali dibangun oleh para kuli dan pekerja.


"Kuingat beberapa minggu yang lalu kota ini bahkan tak ada petani yang berjalan-jalan dijalanan" ,ucap Kalavvar yang menyembunyikan dirinya dengan jubah coklat pudar, "sekarang lihatlah para rakyat biasa sudah mulai membuat kotoran kejalanan."


"Toran Garius nampaknya sudah melakukan tugasnya sudah baik" ,ucap ksatria Scerl juga ikut dengan Kalavvar memakai jubah coklat pudar dengan pedangnya ditaruh dipinggang dibungkus dengan kain.


"Ini wajar nak, Toran sudah ahli dalam memerintah sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan sebelum ibumu sudah pandai membuka selangkangannya" ,ucap Kalavvar sambil meminum segelas anggur yang ditaruh digelas kulitnya, "aku ingat bagaimana Victa menjadi benar-benar makmur sekitar 31 tahun yang lalu dibawah pemerintahannya."


"Pak..." ,ucap pelayannya Tedrick dibelakang yang juga mengikuti mereka berdua dengan ragu.


"Apa Tedrick?" ,jawab Kalavvar.


"Itu segelas anggur yang terakhir pak" ,ucap Tedrick.


"Hah?" ,ucap Kalavvar yang kemudian memeriksa gelas kulitnya dan memeriksa beberapa tetes anggur yang tersisa, "sialan, kenapa kau tidak bawa lebih banyak Tedrick?" ,ucap Kalavvar.


"Sudah pak, ayo kita kembali ke aula keluarga Basileus disana lebih aman" ,ucap ksatria Scerl.


"Ayolah! Kau ini ksatria! Mana sensasi petualanganmu" ,ucap Kalavvar.


"Tapi pak, dijalanan bapak tidak aman" ,ucap Scerl meyakinkan Kalavvar.


Kalavvarlah yang meyakinkan mereka berdua agar ikut dengannya.


Scerl sudah pasrah dan menyerah untuk meyakinkan Kalavvar untuk tak keluar, oleh karena itu ia memilih untuk mengikutinya selama Kalavvar keluar.


Sedangkan Tedrick hanya dipaksa saja oleh Kalavvar.


"Harusnya bapak ingat bagaimana anda dilukai dengan pedang diperut anda oleh pembunuh bayaran beberapa bulan yang lalu" ,ucap Scerl.


"Tenang saja nak, dengan dirimu disini maka aku takkan mudah dilukai" ,ucap Kalavvar.


"Saat itu bapak punya 3 prajurit didekat anda, saya tak bisa menjamin kalau anda aman saat ini" ,keberatan Scerl.


"2 prajurit dan 1 pelayan nak" ,ucap Kalavvar.


"Iya tuan tapi tetap saja aku masih tak bisa menjamin keamanan anda" ,ucap Scerl.


"Ayolah Scerl" ,ucap Kalavvar sambil memegang bahu Scerl, "kau itu terkenal akan kekuatan dan keloyalanmu, Tedrick dan aku takkan semudah itu mati oleh pembunuh jika kamu didekat kami" ,ucap Kalavvar sambil segera melepaskan pegangan bahunya pada Scerl dan menjauh.


Scerl kemudian berjalan mendekati Kalavvar dan mencoba tetap meyakinkannya.


"Tapi pak-


Kemudian terlihat rakyat biasa menjauh dari jalanan dan prajurit berbaris.


Hal tersebut membuat Scerl berhenti berbicara.


Sedangkan Tedrick dan Kalavvar berhenti berjalan dan bergabung dengan rakyat biasa melihat pemandangan yang mereka lihat.


Suara kuda dan kereta terdengar.


"Minggir! Minggir!"


Prajurit juga terdengar menyingkirkan rakyat biasa agar menyingkir agar membiarkan sesuatu lewat.


Kemudian bendera burung hantu keluarga Garius mengibar diangkasa.


Kereta tertutup terlihat mendekat dengan beberapa pasukan keluarga Garius berbaris menjaga kereta tertutup tersebut.


"Garius? Garius mana yang datang? Bukankah Toran Garius sudah berada dikota ini? Atau kakek menyeramkan itu keluar berburu diluar kota?" ,ucap Kalavvar bertanya-tanya.


"Itu tuan muda keluarga Garius, atau 'burung hantu besar' orang-orang memanggilnya" ,ucap Scerl mendekat keKalavvar.


"Hehehehe, kau bodoh jika ingin memanggilnya sebagai burung hantu besar" ,ucap Kalavvar tertawa


Terlihat orang gendut keluar dari kereta tertutup tersebut dan meregangkan tubuhnya.


Dia cukup gendut hingga pintu kereta tertutup tersebut lebih luas dirancangnya daripada kereta tertutup biasanya.


Ia lah yang orang panggil Vesius siburung hantu besar atau burung gendut beberapa orang menghinanya.


Salah satu dari 2 anggota keluarga Garius terakhir selain Toran yang menakutkan.


Anak muda yang terakhir memiliki darah raja Victa didarahnya.


Garius memiliki darah raja Victa yang terakhir tapi darah raja itu tak menghalang mereka bekerja sama dengan keluarga lainnya untuk menggulingkan raja dan medirikan Republik Victa.


Sedangkan seorang ksatria tua yang suram mengikuti dari belakang dengan armour silvernya yang terlihat cukup kotor dan penuh goresan senjata.


Tak salah lagi dia anak petani yang naik menjadi Ksatria setia keluarga Garius.


Wale namanya.


"I-itukah Vesius Garius yang orang panggil-panggil Burung hantu besar?" ,ucap Tedrick dengan gugup mendekat ketuannya.


"Apa? Maksudmu yang gendut itu?" ,ucap Kalavvar.


"B-bukan itu maksud saya pak tapi yang dibelakangnya pak" ,ucap Tedrick.


"Hah? Kalau ksatria tua suram itu namanya Wale, ksatria petani setia milik keluarga Garius kalau yang didepan itu burung hantu besar" ,ucap Kalavvar menjawab Tedrick dengan heran.


Kalavvar pernah menemuinya saat diperang Tyronia dikamp prajurit. Mereka juga pernah mengobrol tentang strategi pertempuran bersama, berdua mereka mengalahkan pasukan Tyronia diVuruda.


Kalavvar cukup menyukai kepintaran Vesius dalam strategi.


"O-orang gendut itu Vesius siburung hantu besar? Aku dengar dia suram serta sama menakutkan dengan ayahnya Toran" ,ucap Tedrick cukup kaget.


"Jaga mulutmu Redrick, kalau salah satu prajurit Garius mendengar apa yang kau ucapkan dan melaporkannya keToran Garius maka mungkin kau akan kehilangan lidahmu dimalam hari ketika kau tidur" ,ucap Scerl memandang Redrick dengan tatapan tajam.


"Hah! Ma-maafkan aku pak" ,ucap Tedrick.


"Itu hanya rumor nak, aku sudah lama menghina keluarganya sejak aku muda tapi lidahku masih belum dipotong" ,ucap Kalavvar.


.


.


"Terima kasih atas pelayananmu mengantar kami kesini Taivarr" ,ucap Vesius berterima kasih kepada seorang pria yang menunggangi kuda didepannya.


"Tak perlu berterima kasih tuan, ayah anda membuat stabilitas untuk negeri ini, sudah seharusnya aku mengantar dirimu dengan aman" ,ucap seorang pria yang tua dengan kerutan wajah yang sudah mulai terlihat dengan umur sekitar 50-an tahun, "lagipula aku ingin mengunjungi ibukota ketika sudah aman dan kembali juga mengunjungi pertemuan senat" ,ucapnya.


Pria tua tersebut bernama Taivarr Bluebearr, seorang politisian dan senat yang beraliansi dengan ayah Vesius.


Dia sudah puluhan tahun menemani ayah Vesius dalam senat dan sudah membantu kekuatan ayah Vesius tetap kuat disenat meskipun ayah Vesius saat itu berada pengasingannya diutara melawan Dwarf.


Taivarr adalah seorang politisian hebat, yang bahkan ayah Vesius sang Toran yang menakutkan tak pernah terlihat memarahinya bahkan..mengakuinya.


Taivarr adalah salah satu orang yang Vesius hargai nasihatnya seorang politikus veteran dan memiliki pemikiran politik yang lebih tajam dari manapun diVicta kecuali Vespasian.


"Aku harap ayah tak mengulangi kesalahan yang sama, aku tak mau dia kembali diasingkan lagi oleh senat ke utara melawan Dwarf" ,ucap Vesius.


"Aku tahu itu tuan muda, banyak kekacauan yang terjadi ketika absennya" ,ucap Taivarr.


"Baiklah...." ,ucap Vesius berhenti sebentar, "mari aku menemui ayah tercintaku."


Ucap Vesius kemudian ia berjalan dengan puluhan prajurit veteran yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun dibelakang menjaganya sebagai bodyguard.


Sigil Burung Hantu berkibar bangga.


Sedangkan pedang menghiasi orang dibawahnya.