Hannoic War

Hannoic War
Anak Pandai Besi,Tuan Putri,Setengah Mayat (Part 2)



"Terkadang 'Diam' adalah suatu karya seni besar dalam sebuah pembicaraan"


-Marcus Tullius Cicero


Anak Pandai Besi,Tuan Putri,Setengah Mayat


Suara api membakar kayu terdengar.


Duduk Jean dan Hanno berhadapan. Wajah Jean penuh senyuman lebar, sedangkan Hanno hampir terlihat seperti mayat.


Mereka sedang menghidupkan api unggun didalam rumah desa yang sudah dijarah oleh prajurit.


Suara air hujan turun terdengar diluar.


"Prajurit yang menjarah desamu kelihatannya tak tinggal lama karena takut perbuatan mereka ketahuan sama jenderal mereka nampaknya" ,ucap Jean sambil tersenyum.


Hanno hanya duduk dengan mata kosongnya menatap api unggun yang membakar kayu.


"Apakah kau tak mau balas dendam?" ,ucap Jean.


"Balas dendam tak menghidupkan Filda dan ayahnya kembali" ,ucap Hanno dengan suara datarnya.


*Mata nya sangat kosong..* ,batin Jean.


"Anak pintar, kau benar. bukan menghidupkan orang yang membuat mereka balas dendam, tapi rasa nikmat yang beberapa orang cari untuk balas dendam" ,ucap Jean sambil menambah potongan kayu kedalam api unggun untuk dibakar.


Mata kosong Hanno kemudian mengarah kearah Jean.


"Apa kau tak menikmati balas dendam?" ,ucap Jean sambil tersenyum lebih lebar ketika Hanno menatapnya.


"Membunuh tidak pernah memberi kenikmatan bagiku" ,ucap Hanno dengan suara berat.


"Hahahahaha!" ,tertawa Jean mendengarnya.


Tawa keras Jean ditengah hujan sedangkan mayat berbaring dijalanan hanya didepan rumah ini.


"Hahhh....bagaimana dengan menyiksa seseorang? Apakah kau pernah? Dan menikmatinya...?" ,bertanya Jean.


Hanno hanya terdiam tak menjawab Jean, matanya hanya bergerak tenang dan terlihat tak menghiraukan Jean.


*Dia mendengarkan...cuma tak mau menjawab* ,pikir Jean


"Kau kurang ambisi dan rasa haus darah" ,ucap Jean sambil mengambil sesuatu dari tasnya.


Suara hujan dan petir bisa terdengar dari atas atap rumah ini, sedangkan rumah ini cukup berantakan.


Meja makan dan kursi terlihat rusak dengan beberapa keranjang berisi sayuran jatuh ketanah yang basah.


"Nih, makan" ,ucap Jean sambil mengambil roti dari tasnya dan menodongkan rotinya kearah Hanno, "perjalanan kita mungkin akan panjang tergantung target yang kita kejar"


Hanno kemudian mengambil roti tersebut dan menatapnya sebentar.


"Apa target itu?" ,ucap Hanno menyadari apa yang dikatakan Jean.


"Tanya itu ketika kau sudah punya tujuan" ,ucap Jean yang kemudian menaruh roti dimulutnya.


Mayat wanita anak petani yang dibunuh oleh prajurit berbaring disamping mereka sambil dimakan belatung dengan perlahan.


Terlihat wanita tersebut pakaiannya dirobek dan air mata keluar dari matanya yang sudah mati..


.


.


.


.


__-_-___


.


.


.


Duduk Taitus dikasurnya sambil menatap tajam sebuah pisau yang ditaruh diatas meja didepan kasurnya.


Pisau terlihat berwarna biru dengan aliran putih bagaikan tulang bercampur didalamnya.


"Ini....pisau yang digunakan untuk membunuh Kalavvar?" ,ucap Taitus.


"Ya tuanku, ini tak salah lagi Besi yang dicampur Mithril yang dicairkan dan juga pedang ini menembus armour salah satu bodyguard Kalavvar mudah, jadi sangat jelas buktinya ini Mithril" ,ucap pelayan Taitus.


"Ini hal aneh...pembunuh ini bukan pembunuh biasa tapi malah mengincar Kalavvar.." ,ucap Taitus sambil menekan bagian samping kepalanya.


Kemudian ia melihat kearah peta Strantos.



Peta salinan dari peta yang digambar 'Kelenn sang Pembaca' 200 tahun yang lalu.


"Binun Gerald dan Varas Birral...apakah mereka dibunuh dengan pedang yang sama?" ,ucap Taitus sambil menoleh kepelayannya.


"Salah satu bawahan Varas Birral yang melihat pembunuhannya menggambarkan senjata pembunuh itu sebagai 'Biru bagaikan warna laut dan berkilau bagaikan matahari' sedangkan Binun Gerald pembunuhannya tak jelas" ,ucap pelayan Taitus.


"Tak salah lagi itu..penggambaran senjata Mithril" ,ucap Taitus.


Taitus memikirkan siapa yang ingin melakukan ini, motif orang yang menugaskan pembunuh ini untuk Kalavvar dan bangsawan yang lain.


"Mithril itu langka dan sangat mahal...bagaimana mungkin pembunuh-pembunuh ini mendapatkannya? Lagipula kenapa ingin membunuh Kalavvar dan bangsawan lain dengan senjata Mithril?" ,ucap Taitus dengan pusing memikirkannya.


Suara langkah kaki dibalik kamar Taitus terdengar.


*Tuk*Tuk*Tuk*


"Tuan Taitus dari Victa..ini aku Casca" ,ucap Casca dari luar kamar Taitus sambil mengetuk pintunya.


"Masuk" ,ucap Taitus.


*Trrekktttitt*


Pintu kemudian terbuka dan terlihat Casca masuk kedalam.


"Tuanku" ,ucap Casca sambil menunduk kearah Taitus.


"Apa aku sudah boleh keluar?" ,ucap Taitus sambil menatap Casca.


"Belum boleh tuanku, kondisi anda masih belum ditentukan oleh 'Kounsil Jari dan Tangan'. Aku dengar dari berbagai mulut bangsawan lain kalau anda masih disangka sebagai salah satu pelaku dari penyerangan diaula istana tadi malam" ,ucap Casca dengan suara licinnya.


"Aku tidak punya motif bagus untuk melakukan penyerangan aneh tadi malam itu" ,ucap Taitus.


"Hm" ,tersenyum Casca, "tentu saja, tapi rumor dan berita palsu liar lebih selalu mengalahkan logika dikalangan manusia tuanku. Aku dengar orang mulai menjuluki serangan tadi malam sebagai 'Pesta Hitam' tuanku" ,ucap Casca.


" 'Pesta Hitam' ? Apakah karena jubah para pembunuh yang menyerang bangsawan tadi malam? Selera humor yang aneh" ,ucap Taitus sambil tersenyum kecil.


"Aku punya satu lagi berita tuanku..entah ini buruk atau baik" ,ucap Casca.


"Apa?" ,ucap Taitus.


*Buruk atau baik?* ,Taitus ingin mengatakan itu tapi menahannya.


"Tuan Pahlawan Cyrus diberi jabatan 'Perdana Menteri' oleh 'Kounsil Jari dan Tangan' " ,ucap Casca dengan senyuman licik terbentuk diwajahnya, "dan aksi pertamanya adalah memberi Tuan Pahlawan Perrin jabatan 'Tangan Kanan Perdana Menteri' "


.


.


.


.


__-_-___


.


.


.


.


Suara tepukan kaki kuda yang ramai dan prajurit yang berjalan dengan armour besi bisa didengar dari jauh.


Begitu juga bendera Burung Hantu Garius yang bisa terlihat berkibar hingga dari jauh.


Berdiri Vesius menghadap kejendela melihat ayah dan sebagian besar pasukan Garius pergi dari ibukota.


Ayahnya yang memimpin didepan dengan armour abu-abu besinya dan kain merahnya yang membalut dadanya.


Ditangan Vesius memegang gelas emas dengan air anggur didalamnya.


Badget menteri perang berwarna merah terpasang didadanya.


"Tuanku" ,ucap Torrmund sambil menunduk kepadanya.


"Hm?" ,ucap Vesius sambil membalikkan kepalanya kearah Torrmund.


"Ada kabar tuanku dari Dalmatia" ,ucap Torrmund sambil membangkitkan punggungnya dari menunduk keVesius.


"Kupikir kau ingin membawaku kemeja kounsil" ,ucap Vesius sambil mendekat kearahnya, "ada apa?"


"Ada terjadi insiden penyerangan diistana Balradius dan dikabarkan Tuan Ratu Dalmatia selamat tapi terkena luka lecet ditangannya, orang-orang memanggilnya 'Pesta Hitam' tuanku" ,ucap Torrmund.


*Penyerangan? Apakah ayah? Tidak mungkin, lalu siapa?* ,pikir Vesius.


"'Pesta Hitam'? Heh" ,tersenyum Vesius mendengarnya, "apakah sudah ditemukan siapa yang dibalik penyerangan ini? Tentunya bukan dari kita bukan?" ,ucap Vesius.


* 'Pesta Hitam'....selera humor yang aneh* ,pikir Vesius.


"Aku sudah memastikan kalau dipihak kita tidak ada yang terlalu kreatif hingga melakukan penyerangan tanpa ijin kita tuanku" ,ucap Torrmund.


"Bagaimana dengan ayah? Bagaimana dengan Tuan Menteri Militer Toran Garius?" ,bertanya Vesius sambil melihat kearah Torrmund.


"Tidak tuanku, aku sangat yakin itu" ,ucap Torrmund.


"Kau benar, ayah merencanakan penyerangan Kastil Has tapi ayah tidak akan mungkin merencanakan penyerangan kekastil Balradius karena merencanakan 2 plot sekaligus itu sulit" ,ucap Vesius.


"Ada juga berita lagi dari Dalmatia tuanku" ,ucap Torrmund sambil mengeluarkan surat dari pakaiannya.


*Kupikir cuma satu berita dari Dalmatia...entah apa yang dewa rencanakan kepadaku..* ,pikir Vesius.


"Apa itu..berita buruk? Atau berita bagus.." ,ucap Vesius.


"Mungkin keduanya tuanku..." ,ucap Torrmund dengan suara tenangnya sambil membuka surat tersebut, "salah satu mata-mataku menyalin sebuah surat yang rencananya dikirimkan buat bangsawan diDalmatia barat"


"Apa itu?" ,ucap Vesius yang setelah itu meminum segelas anggur.


"Seseorang mengaku sebagai sepupu dari Ratu Lumpuh Voa...namanya Trivistane dan dia memahkotai dirinya sebagai raja Dalmatia, dia mendarat dipantai Dalmatia serta mengambil pelabuhan Harlaw dalam 1 malam bersama 30.000 pasukannya, aku dengar sebagian pasukannya merupakan pasukan bayaran" ,ucap Torrmund.


"Trivistane...dalam jangka dekat ini berita bagus sedangkan dalam jangka panjang ini berita buruk, untuk sekarang Dalmatia sedang perang saudara dan teralihkan dengan perang saudara jadi mereka lemah difront Victa saat ini" ,ucap Vesius sambil melihat tangannya yang penuh cincin.


*Trivistane....itu nama orang Akkadia..* ,batin Vesius.


"Putri itu sudah dimahkotai sebagai Ratu Dalmatia dihadapan dewa Aurex dan bangsawan sudah bersumpah kesetiaan kepada Ratu kecil itu sedangkan Trivistane tidak. Sedangkan jika Trivistane yang menang maka Dalmatia akan punya mahkota yang kuat kembali" ,ucap Vesius yang kemudian melihat peta dengan puluhan pion didalamnya.


*Tunggu dulu...pahlawan? Bagaimana dengan pahlawan? Pihak mana yang mereka pilih?" ,pikir Vesius.


"Bagaimana dengan Pahlawan?" ,bertanya Vesius penasaran.


*Jika Pahlawan memilih Faksi Trivistane maka itu sama saja kabar buruk..* ,pikir Vesius sambil meminum segelas anggur untuk menenangkan dirinya sebentar.


"Aku dengar tuanku baru saja ada merpati terbang dari Kastil Balradius, kalau salah satu pahlawan yaitu Tuan Pahlawan Cyrus diberi jabatan Perdana Menteri" ,ucap


"Tuan pahlawan menjadi perdana menteri? Itu berarti...ini bukan lagi pertarungan antara Ratu kecil dan Raja, tapi pertarungan antara Raja dan Pahlawan.." ,ucap Vesius sambil memikirkannya.


Tatapannya diarahkan kepeta dengan ratusan pion didalamnya.


"Kalau Tuan Ratu kecil mati..maka itu berarti pahlawan yang punya kemungkinan besar akan menguasa tahta Dalmatia..." ,ucap Vesius dengan menatap tajam Dalmatia dipeta.


.


.


.


.


.


__-_-___


.


.


.


.


"Itu sudah nak, keluarlah dari tenda. Aku bisa memakai armourku sendiri" ,ucap Glent kepada anak lelaki didepannya.


"Ba-baik tuan" ,ucap pelayan tersebut sambil melepas tangannya dari armour Glent dengan gugup.


Kemudian pelayan tersebut berjalan keluar dari tenda.


*Hahh...Hasteinn..padahal kau tak perlu kirimkan pelayan untukku* ,pikir Glent sambil tersenyum pahit.


Hasteinn terlalu baik untuk Glent, dia mengirimkan Glent beberapa pelayan dan memberi Glent jabatan serta tanah bahkan armour mewah silver yang berkilau.


Padahal Glent tidak mau semua itu, saat Hasteinn berkata kalau dia punya tugas untuk dirinya. Glent berpikir kalau dia hanya akan ditugaskan melindungi Vella dan menjadi bodyguardnya.


*Oh iya...mungkin aku harus mengunjungi Vella..untuk melihat apakah dia baik-baik saja* ,pikir Glent.


Glent kemudian berjalan keluar dari tenda dengan armour mewah sebagai pakaiannya.


Beberapa orang mulai memperhatikannya dan kemudian ratusan tatapan mulai ia rasakan.


Glent merasa telanjang meskipun memakai armour ini.


Berbeda ketika dirinya memakai cuma armour kulit biasa dan besi ringan, tak ada yang memperhatikannya atau melihatnya.


Glent merasa ingin berteriak 'Ini anak yang pakai pakaian armour kulit yang penuh debu semalam kalian semua yang bego!' tapi dirinya menahan.


*Ah tenda Vella..* ,pikir Glent sambil melihat tenda yang terlihat mewah dari tenda lain dengan puluhan prajurit berdiri diluar menjaganya.


Glent kemudian berjalan kearah tenda tersebut dengan pedang dipinggul dan armour silver bersinar yang mewah.


"Katakan siapa namamu" ,ucap salah satu prajurit penjaga yang memperhatikan Glent yang mendekat.


"Aku Glent" ,ucap Glent.


"Nama keluarga?" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


*Ah sial, ketika aku diberitahu oleh Hasteinn kalau aku mau diberi tanah harusnya aku pikirkan nama keluargaku dulu. Jadi setidaknya aku bisa dikenal dengan nama belakangku* ,pikir Glent.


Glent berpikir bagaimana jika dia bisa masuk, haruskah dia bilang kalau dia yang memimpin garda depan diperintah langsung oleh Raja Geralda? Bagaimana prajurit penjaga ini mengenalinya?


Glent sempat berpikir kalau dia mau pergi dan membatalkan untuk ketenda Vella tapi itu malah membuat prajurit penjaga makin curiga.


"Vella! Ini aku Glent mau masuk!" ,teriak Glent sambil tak tahu apa yang ia lakukan dan merasakan satu-satunya yang ia bisa lakukan saat ini.


"Oi! Oi! Siapa kau!" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Veeeeeeeeellllaaaaaa~~" ,ucap Glent memanggil dengan nada.


"Oi! Jangan kurang ajar didepan tenda tuan putri!" ,ucap salah satu prajurit penjaga lagi dengan pedang ia siap hunuskan.


"Veeeeeeeeeeelllllllllaaaaaaaaaaa~~" ,ucap Glent dengan suara yang lebih panjang.


"Oi! Sudah! Mari kita tangkap dia!" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Ucapkan sandinya!" ,suara tuan putri Vella yang imut bisa terdengar dari dalam.


Hal itu membuat prajurit lain berhenti berbicara begitu juga dengan Glent.


Suasana menjadi hening sebentar.


"Apa?" ,ucap Glent.


"Sa-sandinya! 'Sandi untuk tuan nona' !" ,ucap Vella dengan kencang.


*Oh..sial..* ,pikir Glent.


Glent ingat 'sandi untuk tuan nona' , ia ingat sandi itu ketika bermain dikastil Has bersama Vella.


Tapi masalahnya ia cukup malu mengatakannya sekarang..


"......bunga kuburan dicelanaku" ,ucap Glent sambil tersenyum pahit.


Sebagian prajurit penjaga hanya terdiam dan sebagian lagi terlihat menahan tawa.


Ketika dulu Glent mau masuk kekamar Vella maka Glent harus mengucapkan hal itu, agar Glent berhati-hati ketahuan masuk kekamar Vella.


Anak Pandai Besi tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam kamar seorang nona, terutama jika Anak Pandai Besi itu 16 tahun sedangkan Nona itu...13 tahun.


"Tuan Glent masuklah" ,suara wanita lain terdengar dari tenda Vella.


"Tuan silahkan masuk.." ,ucap salah satu prajurit penjaga.


Glent berjalan melewati prajurit penjaga yang menatapnya.


*Ini gara-gara kalian tak memperbolehkan aku masuk sialan..* ,pikir Glent dengan kesal.


Ketika Glent mulai benar-benar dekat dengan tenda, mulai bisa terdengar suara tawa tuan putri Vella dan tawa anak kecil perempuan yang lainnya.


Vella bisa terdengar tidak sendirian didalam tendanya.


Ketika Glent membuka tendanya terlihat beberapa anak perempuan dari keluarga bangsawan lain berada bersama Vella.


Diantara kumpulan anak perempuan kecil yang tertawa terlihat seorang wanita remaja duduk dan tubuhnya lebih tinggi dari wanita lain disini.


"Paman Glent~" ,ucap Vella sambil tersenyum.


*Vella lebih tersenyum daripada biasanya..* ,pikir Glent.


"Tuan Glent, aku sudah dengar keberanian anda dan ayah anda..aku dengar tuan yang menyelamatkan Yang Mulia Hasteinn dari serangan babi hutan" ,ucap wanita remaja tersebut berdiri dari kumpulan anak perempuan yang lain.


"Itu sudah lama...nona Balur" ,ucap Glent.


Layara Balur, anak dari Malare Balur, dia merupakan salah satu nona bangsawan yang paling cantik diGeralda.


Dia terkenal sangat baik dan ramah dikalangan bangsawan bahkan saat dirinya masih kecil.


"Aku sudah dengar kabar kalau tuan Glent itu kenal sekali dengan yang mulia Hasteinn...bisa anda ceritakan bagaimana sifatnya..soalnya kita sudah mendengar ratusan cerita dan rumor sebelum bertemu dirinya" ,ucap Layara tersenyum anggun.


"Membicarakan sifat yang mulia itu seperti upaya pengkhianatan nona" ,ucap Glent.


"Tak perlu begitu serius tuan, perempuan suka membicarakan sifat dan sisi kepribadian seorang pria" ,ucap Layara dengan mata coklatnya yang tajam.


Rambut hitamnya membentang belakang dipunggungnya yang ramping.


"Tak ada yang bisa kuberitahu soal yang mulia" ,ucap Glent.


"Abang Glent! Abang Glent! Katanya sang raja itu jantan dan kuat ya!" ,ucap salah satu anak perempuan dengan semangat.


"Aku ti-


"Tidak! Aku dengar raja itu lincah!" ,ucap salah satu anak perempuan dengan kencang hingga memotong ucapan Glent.


"Tidak kata Vella, sang yang mulia itu pelindung dan baik hati serta rendah hati, lembut dan penyayang.." ,ucap salah satu anak perempuan lagi.


Vella terlihat hanya tersenyum mewajari begitu juga dengan Glent yang tersenyum pahit.


Glent kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Vella.


"Kau tak apa?" ,ucap Glent kepada Vella.


"Iya aku tak apa kok" ,ucap Vella tersenyum bahagia meskipun sedikit rasa sedih bisa dirasakan dari senyumannya.


*Sudah berapa lama dia tersenyum begini? Setelah ibunya mati, kebanyakan senyumnya sedih dan terpaksa tapi setidaknya sekarang ada kebahagiaan dari senyumannya* ,pikir Glent.


"Tuan putri sedang bahagia kok tuan Glent, dia bahagia tadi menceritakan cerita tentang Raja Malada sang Janggut Merah kepada kami" ,ucap Layara sambil berlutut satu kaki dan memegang tangan kecil Vella kemudian tersenyum dirinya kepada Vella.


"Oh..baiklah kalau begitu, apa ada masalah?" ,ucap Glent.


Ada rasa sedih dari wajahnya meskipun dia tersenyum, Glent mengetahui itu.


"Tidak ada..aku cuma mau lihat kakak lagi sebelum dia pergi....kemedan perang.." ,ucap Vella dengan pelan.


Bisa terlihat matanya menahan air mata.


*Dia ketakutan..dia ketakutan kakaknya pergi seperi ibunya, anak ini sudah dipukul dan sadar dengan kenyataan paling sakit didunia ini....semua orang bisa mati kapan saja tak peduli dia raja,pria,perempuan atau apapun dewa yang ia sembah..* ,pikir Glent.


Glent bisa merasakan rasa sedih dari Vella.


*Apa yang bisa kulakukan? Aku tak bisa mencegah Hasteinn pergi kemedan perang, bahkan aku pun mau pergi kemedan perang tak tahu kalau aku akan mati atau tidak* ,pikir Glent.


Hasteinn sudah menjauh, wajah dan tatapannya sudah berubah untuk mengangkat tanggung jawab besarnya. Dia bukan orang yang bermain dengan mereka lagi dikastil itu melainkan seorang raja....


*Dia sudah lega melihat wajahku sebelum kemedan perang, tapi dia butuh kakaknya saat ini...* ,pikir Vella.


"Ush..ush..ush" ,gumam Layara menenangkan Vella karena mengetahui Vella mau menangis, "yang mulia sedang sibuk, kita tidak boleh menganggunya.."


*Apa yang kubisa lakukan? Aku ini anak seorang pandai besi...apa yang bisa kulakukan dengan seorang raja?* ,batin Glent.


"Akan kuminta ijin yang mulia" ,ucap Glent dengan yakin.


Vella dan Layara menatapnya.


Semuanya terdiam.


"Kak Glent?" ,gumam Vella.


"Aku akan minta yang mulia untuk menemui tuan putri sebelum pergi kemedan perang, aku tak bisa mencegah yang mulia untuk pergi kemedan perang tapi aku bisa bicara dengannya" ,ucap Glent.


.


.


.


.


__-_-___


.


.


.


.


"Sudah siap?" ,ucap Jean berbicara yang kepada Hanno yang ia bonceng dikudanya.


"Iya" ,ucap Hanno dengan suara datarnya.


"Hehe tentu saja apa yang kau mau siapkan?" ,ucap Jean sambil tersenyum.


Ringkikan kuda terdengar menyusul dengan suara langkah kaki kuda.


Mereka mengendarai kuda ditengah desa yang dibakar dan ratusan mayat yang dimakan belatung serta burung gagak...


Dan terlihat kuil putih dan panti asuhan yang Filda sayangi terbakar dan hancur...