Hannoic War

Hannoic War
Semua manusia percaya sesuatu (part 25)



"Ada kambing dengan tanduk besar diantara kumpulan para domba dan kambing tersebut bisa membunuhmu"


-Lem Lemoncloak


Semua manusia percaya sesuatu


"Wahh..." ,ucap Jean dengan matanya yang bersinar-sinar melihat sesuatu yang menakjubkan.


Sebuah bunga mawar merah diawetkan dalam kaca berbentuk kotak.



Sesuatu yang menakjubkan dan indah bagi siapapun yang melihat.


"Berapa harganya?" ,tanya Hanno.


"250 koin" ,ucap pedagang yang menjual barang tersebut.


"Bisa direndahkan?" ,ucap Hanno dengan suaranya yang dingin.


"Maaf tak bisa, apalagi itu cukup mahal dari sananya, lagipula itu dijual ama penyihir dari pulau suci Cyronia dan katanya dibuat dengan sihir" ,ucap pedagang tersebut dengan suara yang sedikit malas.


"Harganya tak bisa turun ya..." ,ucap Hanno sambil berpikir agar ia bisa membelinya.


"Kau nampaknya sangat ingin membelinya.." ,ucap Jean.


"Iya" ,ucap Hanno.


"Kau mau beli itu buat apa?" ,tanya Jean sambil penasaran dengan wajah cerianya.


Hanno hanya terdiam sambil terus menatap Jean.


Tatapan diam mereka cukup panjang dan selama beberapa menit mereka hanya menatap satu sama lain terdiam.


Jean tahu ini tanda kalau Hanno tak mau memberitahu apa yang ia mau.


"Kau tak mau beritahukah.." ,ucap Jean sambil menoleh kearah pedagang.


"Jadi? Kau mau beli apa tidak? Jangan lama-lama nanti ada yang mau beli juga itu" ,ucap pedagang tersebut.


"Kalau kubelikan, kau mau memberitahunya kan?" ,ucap Jean.


Hanno kembali hanya terdiam dingin dan menoleh kembali kepedagang.


"Pak! Aku beli 250 koin!" ,ucap Jean mengangkat tangannya.


"Aku akan membeli sebagian harganya dengan uangku" ,ucap Hanno.


"Baiklah! Aku beli dengan 100 koin sedangkan kau 150 sisanya" ,ucap Jean dengan ceria.


Hanno hanya mengeluarkan koinnya dimeja pedagang tersebut.


Sedangkan Jean sedang mengeluarkan uang dari kantungnya memeriksa jumlahnya.


"Ah ini.....bagus, pas, ini milikmu sekarang" ,ucap pedagang tersebut.


"Yeee!!! Sekarang kita tos!" ,ucap Jean sambil mengangkat tangannya keatas menandakan ia menginginkan tos tangan dari Hanno.


Hanno hanya terdiam sambil menaruh kantung uangnya kembali dan mawar yang diawetkan dalam kaca tersebut dikantung pakaiannya.


Ia kemudian berjalan pergi menjauh dari Jean tanpa menjawab tos Jean.


Jean kemudian berjalan mendekatinya.


"Ayolah...jangan membosankan begitu..." ,ucap Jean dengan kekanak-kanakan, "jadi? Ayo beritahu kenapa kau beli itu?" ,ucapnya dengan penasaran.


"Aku...aku ingin membelinya untuk Filda.." ,ucap Hanno dengan tenang.


"Ohoooo...ternyata kau punya sedikit hati lembut juga ya..." ,ucap Jean tersenyum.


Hanno hanya terdiam kemudian mereka berdua melihat seseorang yang mereka kenal.


"549...550...pas" ,ucap seorang pedagang yang kemudian mengambil masuk uang tersebut kekantungnya.


Terlihat Charla didepannya membawa sebuah tas berisi banyak barang.


Kebanyakan barang-barang medis dan beberapa sarung tangan serta beberapa anak panah.


"Oh..hai" ,ucap Charla melambaikan tangannya dengan rendah kepada Hanno dan Jean.


"Hai~" ,ucap Jean dengan ramah.


Kemudian mereka berdua berjalan mendekati Charla.


Terlihat Charla membawa dua tas besar yang terlihat berat ditangannya.


"Wahh...adikku ternyata sudah berkembang jadi orang kuat yah~" ,ucap Jean dengan mata bersinar-sinar


"Jadi? Kalian beli apa?" ,ucap Charla bertanya sambil menenteng kedua tas ditangannya.


Hanno kembali terdiam dan tak menjawab apa-apa. Kemudian Jean memegang bahu Hanno.


"Ini nih Hanno mau beli sesuatu demi tunangannya~" ,ucap Jean dengan ceria.


"Tunangan? Oh kau punya hati lembut terhadap wanita juga. Heh, kupikir kau hanya mahluk dingin aneh" ,ucap Charla dengan tawa mengejek Hanno.


Hanno tak meresponnya dan tak menghiraukannnya.


"Aduhh..jangan begitu dong Charla...apa jangan-jangan kau tertarik untuk menikah?" ,ucap Jean menggoda Charla.


"Aku berniat untuk tak menikah seumur hidupku kak" ,ucap Charla sempat berhenti berjalan dan menoleh kebelakang


"Iya-iya..aku hanya bercanda...lagipula aku sudah tahu itu fufu" ,ucap Jean tertawa iseng dengan imut.


"Barang-barang medis, sarung tangan baru, gunting,pisau,jarum dan benang jahit...ini barang-barang medis untuk prajurit ya.." ,ucap Hanno yang tertarik dengan apa dibawa Charla.


"Hohh...ternyata kau tahu apa yang kubeli ya, pengamatan yang bagus nak.." ,ucap Charla tersenyum mendengar hal tersebut.


Kemudian Charla kembali berjalan dengan menenteng kedua tas tersebut dengan ringan.


"Untuk apa semua itu?" ,bertanya Hanno.


"Aku ini paramedis untuk pasukan dimedan perang, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai prajurit" ,ucap Charla sambil melihat tasnya.


"Kewajiban sebagai prajuritkah..." ,ucap Hanno berpikir.


"Wah Hanno! Kau tertarik dengan hal seperti ini ya!?" ,ucap Jean dengan ceria dan mata yang bersinar-sinar.


"Ya" ,ucap Hanno.


"Apa yang buat kau tertarik!?" ,ucap Jean dengan mata yang lebih bersinar-sinar.


Charla kemudian merasakan kalau Hanno pasti sedikit kelelahan dengan kakaknya yang selalu penasaran dan mengelilinginya, "Kakak jangan bertanya terlalu banyak nanti kau buat anak itu kesal denganmu-


"Bagaimana rasanya hidup sebagai paramedis pasukan? Seperti Neraka bagimu? Surga? Kebebasan? Rasa takut dimana-mana? Atau kau menikmatinya?.." ,ucap Hanno menoleh keCharla memotong ucapannya.


*Jadi...ini apa yang kakak bilang kalau dia lebih tak tertebak dari 'dia', anak ini kadang bisa banyak bicara, kadang hanya diam saja..* ,pikir Charla dalam hatinya.


Hanno menoleh keCharla dengan tatapannya yang aneh. Charla berbalik menatap Hanno dan kali ini ia berjalan mendekat kearahnya.


*Jujur saja aku tak suka saat dia mengatakan kalau medan perang itu dianggap surga* ,pikir Charla.


Charla kemudian menghela nafasnya dan dengan tatapan tajam ia melihat kearah Hanno.


"Aku tidak pernah menikmatinya nak, kau pikir aku merasakan kebebasan ditenda panas dengan ratusan prajurit yang berteriak setiap hari? Atau merasakan surga dengan darah serta usus mereka yang keluar dari badan mereka? Atau bau mereka? Kau bodoh jika pikir aku merasakan surga dan kebebasan didalamnya.." ,ucap Charla yang berjalan mendekati Hanno dan melihat wajahnya


Rambutnya yang berwarna dengan warna cat hitam dan warna putih albino asli nya berkibar ditiup angin. Rambutnya panjang diikat dibagian belakang kepalanya, sedangkan beberapa bagian rambut depannya tebal menutupi dahi dan mata kirinya.


"Kau pikir aku menikmatinya? Tidak, aku tidak menikmati medan perang. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai prajurit dan paramedis.." ,ucap Charla dengan aura yang menakutkan.


Hanno hanya terdiam dan tenang melihatnya dan mendengarkan apa yang ia katakan.


Aura Charla terlihat tak mengganggu Hanno sedikitpun.


Charla tersenyum melihat reaksi Hanno, ia mulai sadar kalau ia mulai menyukai anak yang diadoptasi kakaknya sebagai murid ini.


Ia juga mulai sadar kenapa kakaknya Jean mengajari anak dari entah berantah bernama Hanno ini.


*Ketika aku melihat dirinya aku mengingat seseorang...sekarang aku tahu kenapa kakak mau mengajar anak ini..* ,pikir Charla dalam hatinya.


"Jadi apa yang kau inginkan? Kau tidak menikmatinya dimedan perang, jadi apa yang kau cari?" ,ucap Hanno.


"Rasa lega" ,ucap Charla berbalik melihat matahari.


"Lega?" ,ucap Hanno.


"Rasa lega melakukan kewajibanku, rasa lega bisa membantu golongan yang paling tak dipedulikan disebuah perang" ,ucap Charla sambil berbalik kepalanya melihat kearah pasar yang lumayan ramai.


Charla memperhatikan beberapa prajurit remaja tertawa dan bersenang-senang terlihat beberapa dari mereka kehilangan tangan dan jarinya. Kelihatan bahwa mereka tak memedulikan hilangnya bagian tubuh mereka.


"Prajurit" ,ucap Charla.


"Prajurit?" ,ucap Hanno.


"Ya, coba lihat mereka" ,ucap Charla yang kemudian berbalik memandang Hanno kembali, "alasan kenapa aku masih dimedan perang yang seperti neraka itu hanyalah rasa legaku melayani mereka"


Hanno kemudian memandang Charla, nampak ia sedikit penasaran apa yang Charla katakan.


"Ya prajurit mereka hanya berjuang demi apa yang mereka pikir benar tapi beberapa dari mereka tak mendapat imbalan yang layak, ya beberapa dari mereka ada yang menjarah dan memperkosa. Tapi masih ada prajurit yang berasal dari rakyat polos yang tak tahu apa-apa tentang perang. Atau mereka cuma pria yang tak bisa melakukan apa-apa ketika teman mereka menjarah serta memperkosa" ,ucap Charla, "prajurit melewati neraka dan dewa kematian setiap hari nak"


Hanno hanya dengan tenang dan diam mendengarkan


"Tapi apa yang mereka dapatkan? Gaji rendah atau bahkan siksaan dari tuan yang mereka layani dan bertahun-tahun berada jauh dari rumah mereka" ,ucap Charla dengan matanya yang lurus dan kuat


Matanya memiliki corak ungu dan merah bercampur didalamnya. Matanya kuat dan lurus seperti tombak berlian yang tak bisa dibengkokkan kecuali dihancurkan berkeping-keping.


"Itu hal yang kupercayai nak, semua orang punya sesuatu yang mereka percaya. Aku yakin kau punya sesuatu yang seperti itu, manusia diberi berkah untuk mempercayai apa yang mereka percayai" ,ucap Charla menoleh keHanno dengan mata lurusnya.


Ia melihat Hanno dengan matanya yang mirip tombak berlian itu.


Hanno menatapnya juga dengan mata dinginnya. Mata Hanno berwarna hitam dan memiliki warna coklat gelap didalamnya seperti orang kebanyakan.


Tapi matanya lebih kelam, kosong, aneh dan menakutkan. Mata Hanno seperti mata yang menunjukkan tahu segalanya.


Tapi Charla tak takut ia sudah melihat mata seperti itu ratusan kali setiap hari.


"Ada yang percaya Stabilitas...ada yang percaya kekuatan...ada yang percaya keluarga mereka...dan ada yang percaya kemakmuran" ,tanya Charla dengan suara yang berat dan dingin.


"Sedangkan kau Hanno apa yang kau percayai?" ,ucap Charla tersenyum sambil mendekatkan wajahnya kewajah Hanno.


"Kalian berdua! Jangan bicara terlalu lama!" ,teriak Jean yang terlihat sudah jauh didepan.


Hanno dan Charla kemudian menoleh kearah Jean.


suara langkah kakinya melewati mereka berdua bahkan tak terdengar.


.


.


.


---------_-_--------


.


.


.


"Duduk disini Hasteinn" ,ucap Ayah Hasteinn sambil menaruh tangannya dikasur memerintahkan anaknya Hasteinn duduk.


Tuan Kyrah dari keluarga Hasral Ayah dari Hasteinn memasang wajah kelamnya seperti biasa.


Hasteinn hanya menelan ludah dan kemudian berjalan duduk dikasur menuruti keinginan ayahnya.


"Ke-kenapa ayah disini?" ,ucap Hasteinn terbata-bata.


"Kau pikir, kau cuma yang tahu trik dan tipuan? Aku sengaja memerintahkan pelayan agar mengunci diriku dikamar ini sampai kau datang agar kau mengira kau tidak ketahuan keluar" ,ucap Ayahnya yang memandang wajahnya sambil memberi senyuman pahit, "kau pikir aku buta? Kau pikir aku tak tahu kalau kau keluar lagi dari kastil ini? Aku tahu kau akan mengulangi lagi keluar dari kastil meskipun aku sudah memperingatimu berkali-kali"


Kemudian dengan Ayahnya menatap Hasteinn dengan tatapan pria yang sudah melewati ratusan pertempuran.


"Kau pikir aku percaya kalau kau mengunci dirimu dikamar setiap bulan karena mau tidur? Kau pikir aku percaya kalau kau suka pergi berburu setiap minggu bersama dengan Glent? Kau memang berbakat dalam trik dan menggunakan loyalitas Hasteinn...itu yang kusuka dari dirimu" ,ucap Ayahnya.


Hasteinn tak menjawab, satu bagian dari diri Hasteinn sudah menduga hal tersebut, satu bagian lagi terkejut dan ketakutan kalau ayahnya menghukumnya atau menghukum temannya Glent.


Kemudian ayahnya melanjutkan, "hari bersenang-senangmu sudah berakhir dan hari itu sudah datang dimana kau akan menjadi tuan adipati dari wilayah ini, aku sudah tua nak dan...adikmu sudah waktu baginya menikah.."


"Vella..menikah? Dengan siapa?" ,ucap Hasteinn penasaran.


"Kau juga akan menikah" ,ucap Kyrah dengan ringan.


"Me-menikah kah...kalau untuk diriku tak masalah...tapi Vella...dia baru 13 tahun ayah" ,ucap Hasteinn keberatan.


*Ayah benar, ini waktunya diriku menikah...aku akan meninggalkan keseharian bersenang-senangku dan petualanganku dan rasa cintaku..* ,pikir Hasteinn dengan pasrah dalam hatinya.


Tapi dalam hati Hasteinn banyak bagian hatinya yang melawan atau tak terima hal ini.


Hatinya saat ini bercampur-campur dengan rasa kesal ataupun rasa kewajiban yang berat.


Disisi lain ia lebih kasihan kepada adiknya.


"Vella akan ditunangkan keseseorang agar menguatkan kekuatan keluarga kita, berapapun umurnya itu adalah kewajibannya" ,ucap Kyrah sambil.


"Apakah ia sudah mendengarnya?" ,ucap Hasteinn.


"Tidak" ,ucap Ayahnya.


"Dengan siapa? Aku ingin tahu" ,ucap Hasteinn.


"Aku tidak ingin memberitahu kepada siapapun kali ini" ,ucap Kyrah.


"Kenapa?" ,ucap Hasteinn penasaran.


"Terakhir kali aku memberitahu seseorang tentang rahasia aku kehilangan istriku....haruskah kau bertanya kenapa aku tak ingin memberitahumu?.." ,ucap Kyrah dengan suara berat yang kelam.


Hasteinn terdiam dia tidak memiliki balasan lainnya dan mengingat bagaimana cerita ayahnya tentang bagaimana ibu mereka mati.


"Kau akan menikah dan begitu juga dengan adikmu Vella, aku ingin masa yang bahagia baik buat kalian berdua sebelum aku mati" ,ucap ayahnya yang kemudian berdiri dengan satu kakinya yang diganti kaki kayu.


"Sudah waktunya kau memimpin" ,ucap Kyrah berjalan kepintu sambil membawa tongkat ditangannya.


Terlihat ayahnya berjalan dengan tongkat kayunya.


Ia cukup sulit berjalan terutama ia hanya punya 1 kaki dan sudah tua.


Hasteinn ditinggalkan sambil duduk dikursinya memikirkan masa depan keluarganya dan dirinya yang sebenarnya.