Hannoic War

Hannoic War
Pagi Yang Gelap (Part 16)



"Semakin banyak hukum..semakin berkurang keadilan"


-Marcus Tullius Cicero


Pagi yang gelap


'Ada 14.000 pasukan Geralda yang sedang menuju Kastil Fyrr'


Ucapan itu meringing dikepala Vesius sambil ia membuka sebuah surat ditangannya.


"Ada pengendara kuda baru saja tadi bawa surat itu" ,ucap Frudarr sambil membungkuk.


Vesius kemudian membakar surat tersebut disurat.


"Aku sudah dengar tadi...sebentar lagi 14.000 pasukan itu sampai ke Kastil keluargaku...Fyrr.." ,ucap Vesius sambil melihat kertas suratnya dibakar lilin.


"Ya tuanku, sekitar 2 minggu maka pasukan itu akan sampai ke Kastil Fyrr" ,ucap Thormund dengan nada dinginnya.


"Jika aku membawa pasukan untuk membantu Kastil Fyrr menurutmu berapa lama aku bisa kesana?" ,ucap Vesius.


"Sekitar 1 bulan jika 10.000 pasukan...jika ada kuda untuk 10.000 pasukan maka bisa sekitar 1 minggu.." ,ucap Thormund.


"Kita tak punya kuda lagi, banyak pasukan kita saja mulai tak memakai armour" ,ucap Vesius sambil melihat kearah Thormund.


Vesius melihat peta Victa...dipeta bisa dilihat bahwa ibukota dekat dengan Fyrr, tapi itu tak sesimple itu...meskipun dekat, jalan kekastil Fyrr itu banyak rusak dan tak mudah ribuan pasukan untuk melewatinya tanpa masalah.


Pasukan berkuda saja bisa kesulitan, terutama jika memikirkan kereta suplainya.


Vesius kemudian melihat bendera keluarganya....burung hantu duduk diangkasa berwarna putih kosong...


Mata Burung Hantu tersebut menatap Vesius...


'Aku ingin kau jadi orang yang membuat hal itu terjadi'


Kata-kata ayah Vesius meringing dikepala Vesius.


"Jika 19 ksatria mengendara dengan kuda bersama 1 orang gendut kesana, berapa lama menurutmu?" ,ucap Vesius dengan mata hijaunya yang bercahaya redup menatap Tormund.


Tormund kemudian tersenyum kecil, mendengar ucapan tuannya. Tormund kemudian bangun dari menunduknya...


"3 hari...3 hari aku yakin itu tuanku.." ,ucap Tormund.


"Bagus, jika aku tak bisa memberi bantuan 10.000 pasukan.." ,ucap Vesius sambil mengambil pedang yang dipajang didinding ruangan ini, "..aku akan membawa bantuan setara dengan 10.000 pasukan...diriku sendiri.."


Menatap tajam Vesius kedepan...berjalan ia keluar dari ruangan ini.....


.


.


.


.


.


.


.


_____-_-____


.


.


.


.


.


.


.


Diluar gua dungeon terlihat puluhan pahlawan beristirahat dibantu beberapa prajurit,pelayan,dan beberapa penyihir.


"Darahnya terus keluar!" ,ucap salah satu pahlawan wanita sambil memasangkan perban dikaki Willy yang sudah hanya tinggal pahanya.


Willy masih tak sadar dan pingsan daritadi karena kehabisan darah.


Beberapa pahlawan bisa terlihat masih trauma dan putus asa karena serangan monster digua itu.


Terlihat beberapa dari mereka menangis dan berwajah pahit.


"Apakah tak bisa kita bawakan perban yang lebih banyak?" ,ucap Cleorah.


"Percuma, ini sudah banyak perbannya. Tapi darahnya tak berhenti keluar.." ,ucap pahlawan wanita tersebut dengan tangannya dibaluti darah.


Zamrut didahi Willy masih ada tapi nampak bahwa perlahan-lahan zamrut didahinya seperti menggelap.


*Apakah itu menandakan bahwa dia akan mati...* ,pikir Cleorah dengan panik.


Kemudian Cleorah melihat kesekelilingnya..melihat pahlawan yang ketakutan dan beberapa pelayan yang merawat beberapa pahlawan.


*Tidak...tidak boleh ada..tidak boleh ada yang mati lagi.....apapun..siapapun..aku harus menghentikan ini.." ,ucap Cleorah dengan sebagian dirinya menjadi kuat sedangkan sebagian dirinya menjadi panik.


Dia melihat kearah Cyrus yang terdiam dari tadi.


Cyrus nampak sangat diam dan wajahnya gelap.


Tapi Cyrus terlihat hanya terdiam dan melihat kebawah masih merasa bersalah terhadap kematian teman-temannya.


*Cyrus bukan pilihan* ,pikir Cleorah.


Cleorah melihat kearah Sera.


Tapi Sera terlihat ragu,ketakutan,dan panik. Ia terlalu takut untuk melakukan sihir penyembuhannya yang mana bisa berakhir dengan bencana.


*Nampaknya dikastil Balerius adalah hanya satu-satunya pilihan..* ,pikir Cleorah.


Cleorah kemudian berjalan pergi dari kumpulan pahlawan dan berlari dengan cepat.


Cleorah berlari mengarah kekastil Balradius dengan panik.


Cyrus kemudian bergerak..


Dan kemudian Cyrus melihat Cleorah dengan tatapan sipitnya yang terlihat malas dan kelelahan.


Cyrus kemudian melihat kearah Sera.


Berdiri Cyrus perlahan..


Berdiri Cyrus secara perlahan dari duduknya dengan lemas.


"Hmh" ,ucap Cyrus sambil hampir terjatuh…


*tek*


Tapi Szeth mencegahnya dengan pegangan.


"Nampaknya kau mau bangun? Aku bantu" ,ucap Szeth yang nampak juga kelelahan sambil merangkul Cyrus.


Cyrus kemudian menggeleng dengan tanpa tenaga, memberi tanda kalau ia mau Szeth melepaskan tangannya dari tubuhnya.


Szeth kemudian melepaskan rangkulannya dan menjauh sedikit dari Cyrus.


Cyrus kemudian berjalan kearah Sera.


Terlihat wanita itu ketakutan dan panik serta penuh dengan kebingungan...


Cyrus dengan tanpa banyak tenaga berlutut satu kaki didepan Sera....


Dengan tatapan kelelahannya Cyrus menatap Sera...


Dengan tatapan lelah Cyrus....Sera tiba-tiba merasakan kalau rasa cemas,kebingungan,dan paniknya hilang..


Dia bingung ada apa dengan Cyrus...


"Keberanian itu memang bodoh, kebanyakan keberanian itu kebanyakan berisi kebodohan. Tapi gunakan keberanian yang sesungguhnya...berani untuk melangkah diantara ketakutan...itu lah yang keberanian yang paling murni....dan kami butuh keberanian yang paling murni saat ini.." ,ucap Cyrus dengan suara yang terlihat tanpa tenaga, tak seperti dirinya biasanya..., "kami butuh sihir penyembuhanmu"


Ucap Cyrus sekali lagi sambil memegang bahu Sera.


.


.


.


.


.


.


____-_-__


.


.


.


.


.


Suara api unggun membakar kayu bakar terdengar ditengah-tengah hutan.


Api melumbung besar diantara Charla dan Hanno.


Mereka berdua menatap api unggun itu dalam waktu lama.


Menunggu daging ayam yang mereka beli dibar ini sudah masak dari dibakar diapi unggun ini.


"Sayang sekali tak ada lemon Legata yang bisa kita pakai untuk membumbui daging ayam ini" ,ucap Charla sambil mengotak-atik isi tasnya.


Lemon merupakan bumbu yang asik untuk sebuah daging ayam, dengan rasa asamnya itu menambah selera makan ayam. Juga bau mentah ayam bisa menghilang karena lemon.


"Oi Hanno" ,panggil Charla kearah Hanno.


Terlihat Hanno yang merenung dan terdiam dari tadi.


Kemudian Hanno menolehkan kepalanya kearah Charla.


"Kita harus berpura-pura disaat jalan berbahaya seperti ini..." ,ucap Charla kemudian mengeluarkan sebuah tali dari tasnya.


Tali itu cukup kecil tapi cukup untuk mengikat sesuatu.


"Aku ingin kau membantuku mengikat dadaku dan menutupi payudaraku dengan tali ini" ,ucap Charla sambil membentang tali itu.


Hanno hanya terdiam, seperti tak menanggapi, tapi Charla bisa lihat ia mendengarkan.


"Jika kau bertanya buat apa, aku ingin menyamar sebagai pria. Lebih aman dijalan, wanita dijalanan seperti sekarang takkan mudah lari dari ***** bandit dijalanan" ,ucap Charla sambil membentang tali tersebut lebih banyak.


Kemudian Charla menaruh tali itu ditanah dan membuka kancing jubah didadanya secara perlahan.....membuka jubahnya..


Jubahnya kemudian ditaruh ditanah.


Kemudian terlihat pakaian Charla dibalik jubahnya adalah armour rantai yang lumayan sudah rusak. Beserta pakaian kain yang kusam..


Kemudian Charla membuka armour rantainya...


Selanjutnya pakaian kusamnya...


Dibalik kain rantai dan pakaiannya terlihat tak ada lagi yang menutupi perut maupun lengannya...


Hanya buah dadanya yang ditutupi kain berwarna hitam yang diikat kuat kebelakang punggungnya.


Charla sudah melupakan rasa sesak ketika diikat kain berwarna hitam ini beberapa bulan yang lalu...


"Aku akan membuka kain berwarna hitam ini, dan kemudian berbalik, kemudian kau ikat dari belakang. Maaf susah mengikat banyak tali dari belakang" ,ucap Charla.


Hanno hanya mengangguk.


Terlihat Hanno tak terlalu masalah dengan itu...


Atau 'malu' yang Charla pikirkan..


Hanno malah dari tadi melihat ke wajah Charla daripada tubuhnya.


*Hahh...apa yang harus kuharapkan dari anak ini? Hanno adalah Hanno..* ,pikir Charla sambil menghela nafas.


Setelah itu Charla berbalik membelakangi, dan Hanno kemudian berjalan mendekat kearah Charla.


Suara langkah kaki Hanno melangkah kearahnya terdengar.


Kemudian Hanno merendahkan tangannya kearah Charla dan melututkan satu kaki.


"Tak usah buka kainnya, biarkan aku sendiri yang membukanya. Tugasmu hanyalah mengikatkan talinya" ,ucap Charla sambil memegang bagian ikat kain hitam dibelakang punggungnya.


Tangan Hanno kemudian menjauh dari ikatan kainnya mendengar hal itu.


Dan dengan cepat Charla membuka ikatan kain hitam tersebut.


Dan Charla menjadi telanjang dada dan tak ada yang menutupi punggungnya.


Charla kemudian menutupi *********** dengan tali dan mulai mengikat talinya secara perlahan.


"Hanno" ,ucap Charla sambil melihat kebelakang.


Hanno langsung mengerti dan memegang tali tersebut.


Hanno terlihat tak terlalu peduli terhadap ini...


*Hanno harusnya tak bisa melihat payudaraku dari belakang...* ,pikir Charla.


Tapi Charla mengharapkan Hanno bisa sedikit memiliki rasa peduli terhadap Charla yang telanjang dada sekarang...


Tapi Hanno tidak..dia tidak memedulikannya....


*Kenapa aku berharap terus menerus? Kau harusnya tahu anak ini lebih baik dari siapapun Charla..* ,pikir Charla.


Hanno kemudian mengikat tali tersebut secara perlahan, lebih lembut dari Charla pikirkan..


"Kau sudah dengar dari bar itu bukan?" ,ucap Charla dengan tatapan tajam kedepan.


"Iya" ,ucap Hanno dengan cepat sambil merapikan ikatan talinya.


"Apa-ekh" ,gumam Charla sambil mulai merasakan ketatnya ikatan tali.


"Maafkan aku buk" ,ucap Hanno dengan hormat.


"Iya tak apa, lanjutkan mengikatnya. Aku hanya ingin mengetahui apa saja yang kau dengar.." ,ucap Charla sambil menggeser lehernya mencoba melihat kebelakang.


Charla sudah mendengarnya...


Kastil Has sudah diambil kembali oleh pasukan keluarga Malibax.


sedangkan Vespasian...


..Vespasian bersama 39.000 pasukannya sudah sampai di Sungai Pedang Angin.


Charla mengharapkan taktik brilian dari Vespasian lagi...


Atau Vespasian langsung melaksanakan penyerangan untuk merebut Kastil Has kembali...


Charla tak pernah bisa menebak apa yang akan dilakukan Vespasian lagi..


Charla sudah mendengar kabar lagi.


Ada beberapa pertempuran kecil di sekitar Sungai Hitam.


Beberapa pertempuran kecil lainnya diperbatasan diteritori pemberontak Geralda dan Victa.


200 bertempur dengan 500..


100 bertempur dengan 200...


400 bertempur dengan 400...


1.000 bertempur dengan 800..


"Ada pertempuran antara kelompok bandit disekitar Jalan Hitam. Ada juga pertempuran lain antara pasukan Geralda dan Victa dijembatan Halum ada yang bilang 200 lawan 100 sampai 400 lawan 500" ,ucap Hanno sambil terus lanjut mengikat.


"Pertempuran antara kelompok bandit?" ,ucap Charla sambil membantu mengikat.


" 'Iblis dari Sungai Hitam' beberapa orang memanggilnya pemimpin salah satu dari kelompok bandit itu" ,ucap Hanno dengan wajah datar.


"Iblis..dari Sungai..Hitam.....tunggu sebentar.." ,ucap Charla menyadari sesuatu.


*Hanya satu orang yang pernah dipanggil seperti itu diStrantos..* ,pikir Charla.


"Kalavvar? Itu julukan Jenderal Kalavvar, kenapa bandit itu memakai julukan itu?" ,ucap Charla sambil merasakan ikatan didadanya makin kuat hingga *********** terasa sangat tertekan.


Rasa kasar tali ini bisa dirasakan ditubuh Charla, meskipun tak nyaman, Charla mencoba membiasakannya.


*Haruskah aku memikirkannya? Siapa Iblis dari Sungai Hitam ini?* ,pikir Charla.


'Iblis dari Sungai Hitam'....julukan untuk Jenderal Kalavvar setelah Pertempuran Sungai Hitam.


Setelah Pertempuran Sungai Hitam, nama Kalavvar sempat menjadi yang nama yang paling terkenal dikalangan orang-orang.


Bagaimana tidak? Kalavvar membunuh Krakull 'SiRambut Biru'.


Sipemimpin Orang Tyronia yang terkenal pernah memukul mundur 21.000 pasukan hanya dengan 3.000 pasukan.


Ratusan legenda dan mitos terdengar ditelinga Charla waktu itu, ada yang bilang Kalavvar mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Tyronia dan Raja Victa, ada yang bilang kalau Kalavvar membunuh Krakull dengan tusuk gigi.


Ada banyak mitos aneh lainnya saat itu...masa yang simple...setelah Perang Tyronia....masa saat perang berakhir..masa damai sebentar.


"Ada berita lainnya yang kau dengar Hanno?" ,bertanya Charla.


Hanno mungkin pendiam tapi pendengar yang bagus.


Bukan cuma itu bagi Charla, Hanno orang yang enak menemani dirinya, tak pernah berbicara aneh,melucu tak jelas dan bercerita cerita karangan...Charla sudah bosan dengan semua itu.


Hanno kebanyakan diam dan sering hanya berbicara ketika Charla memerintahkannya.


"Ada pasukan yang katanya sedang menuju Kastil Fyrr" ,ucap Hanno.


"Pasukan darimana?" ,ucap Charla sambil


"Aku tak tahu, hanya pasukan yang sedang menuju Kastil Fyrr orang dibar itu bilang" ,ucap Hanno.


"Huh..." ,ucap Charla memikirkannya.


*Geralda atau Victa? Kemungkinan Geralda...memang buat apa Victa mengirimkan kesana? Tapi kalau pasukan Geralda memang kesana.....maka kemungkinan pasukan Geralda akan menyerang Kastil Fyrr..* ,pikir Charla.


"Apa ada lagi yang lain? Yang kau dengar?" ,bertanya lagi Charla.


Hanno hanya terdiam dan kemudian menggelengkan kepalanya.


"Katakan tidak atau ya" ,ucap Charla dengan nada kuat.


"Tidak, aku tak mendengar apa-apa lagi" ,ucap Hanno sambil menguatkan ikatan tali itu.


Suara ikatan tali terdengar lebih kencang seiring Hanno mengikatnya..


Dan akhirnya..


"Sudah?" ,ucap Charla.


"Sudah..sudah selesai buk" ,ucap Hanno sambil menjauhkan tangannya dari punggung Charla secara perlahan.


Tali dipunggung Charla terasa sangat ketat sekarang...


Charla kemudian berbalik menghadap kearah Hanno.


Terlihat Hanno masih tak berwajah merah...tak seperti yang Charla selalu harapkan..


"Bisa kau ambilkan cermin nak?" ,ucap Charla.


Charla kemudian melihat kedadanya...


*********** benar-benar ditutupi tali sekarang....


Hanno langsung bergerak dan segera mengambil tas kecil disekitar api unggun.


Charla bisa merasakannya...ikatan tali ini bagus...sempurna? Mungkin..


Charla hanya bisa mengatakan ikatan tali ini bagus..


Tak bertumpuk membuatnya takkan bisa terlihat dengan mudah ketika memakai pakaiannya


"Bisa kau ambilkan juga cat rambutku?" ,ucap Charla.


Hanno terus melanjutkan mengotak-atik tasnya.


Charla selalu berpikir kenapa Hanno tak merasa takut sedikitpun dengan mata merahnya ataupun rambut putihnya..


Tapi Hanno pasti punya ketakutan..


"Kau takut apa yang akan terjadi setelah kematian nak?" ,bertanya Charla.


Charla bisa merasakan angin malam menggelitik lengannya yang tak ditutupi kain.


Hanno tak menjawabnya.


"Jawab nak" ,ucap Charla dengan suara perintah.


Hanno terus tak menjawabnya.


"Hahh...kau takut, itulah kenapa kau memutuskan untuk hidup. Itu wajar" ,ucap Charla sambil tersenyum hangat.


Charla kemudian menghadap kearah api unggun untuk menghangatkan dirinya.


Charla merasa cukup dingin sekarang meskipun didepan api unggun.


Charla sempat ingin memeluk dirinya sendiri tapi berhenti. Dia memutuskan untuk tetap kuat...didepan Hanno.


"Kau takut apa yang akan terjadi setelah kematianmu, itu wajar. Karena tidak ada yang tahu nak, ratusan agama berkata ratusan nasib. Mulai dari utara Victa hingga ke Selatan Akkadia" ,ucap Charla.


Tangan Charla kemudian merasa bosan dan merapikan kayu disekitar api unggunnya.


Cahaya membuat mata Charla sedikit sakit sekarang.


"Aku juga begitu...rasa takut itu hal yang wajar nak..orang bodoh itu adalah orang yang tak takut banyak hal" ,ucap Charla.


Charla kemudian tersenyum.


"Kebodohan adalah keberanian yang tak didampingi ketakutan sedikitpun" ,ucap Charla.


Kemudian sesuatu bisa terasa dipunggung Charla...


Kain...


Jubah kemudian turun menutupi punggung dan bahunya Charla..


Membuatnya menjadi hangat.


Tangan seseorang kemudian diletakkan dibahu Charla membantu menutupi tubuhnya...


Tangannya kuat sekaligus memiliki rasa lembut didalamnya.


"Ini cerminnya buk" ,ucap Hanno dengan wajah datar tanpa emosinya.


Bisa dilihat Hanno sedang duduk disamping Charla...


"mau aku bantu cat untuk rambutnya juga?" ,ucap Hanno sambil melepas pegangannya dari bahu Charla.


"Tidak...tidak usah" ,ucap Charla dengan senyuman hangat sambil mengambil botol cat dari tangan Hanno.


*Ya...aku ingin...aku ingin* ,pikir Charla dengan perasaan hangat dihatinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


___-_-_____


.


.


.


.


.


.


Tangan Sera ditaruh diatas perut Willy yang mulai menjadi pucat karena kehabisan darah.


Sera menarik nafas mengingat semua beban teman-temannya ditaruh diatas bahunya...ia ingat perkataan Cyrus...


Cyrus melihatnya saat ini dengan mata yang serius.


Sera kemudian mengingat ucapan Willy untuk membangkitkan kekuatannya...


"The Magic Skill Activated: The Old God Bandage" ,ucap Sera dengan nada serius.


Kemudian sebuah cahaya keluar dari tangan Sera...membentuk lingkaran sihir. Willy yang tak sadar terlihat bernafas lebih stabil, sedangkan pendarahannya terlihat berhenti.


Terlihat pahlawan yang lain melihat Charla lega melihatnya, termasuk Cyrus.


*Berhasil...satu lagi mantranya..* ,pikir Sera.


"The Mothers Bless" ,ucap Sera sambil mengayunkan tangannya diatas tubuh Willy.


Butiran cahaya turun ketubuh Willy.


Beberapa pahlawan terlihat lega dan kagum dengan hal ini. Mata mereka setidaknya bisa dihangatkan dengan butiran cahaya keluar dari tangan Sera.


*Kakinya...aku harus bisa menumbuhkan kakinya..* ,pikir Sera.


Sesaat Sera memikirkan hal itu, lingkaran sihir Sera membesar dan cahayanya bisa terlihat menjadi lebih terang. Bukan cuma bahkan pahlawan disekitarnya merasakan hangat dan merasa lebih kuat.


Tapi masalahnya...


*Kenapa kaki Willy tidak tumbuh? Kenapa? Kenapa!?* ,pikir Willy.


Wajah Willy terlihat lebih segar dari yang tadi, zamrud didahinya menjadi terang kembali tapi kakinya tak terlihat tumbuh.


*Harusnya bisa! Harusnya bisa! Harusnya bisa!...kenapa!? Kenapa!?* ,batin Sera merasa panik dan menyesal tak bisa.


"Stabilkan sihirmu, ini terlalu kuat dan menyebar" ,ucap seseorang dengan nada tua dari belakang.


Pahlawan lain dan Sera mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.


"Tuan Flynn?" ,ucap Sera kaget.


"Jangan mengalihkan pandanganmu, fokus pada target" ,ucap Tuan Flynn sambil memegang bahu Sera.


"Ba-baik" ,ucap Sera sambil perlahan kembali fokus pada Willy.


"Apa yang kulewatkan?" ,ucap Cleorah sambil ikut kedalam kumpulan pahlawan melihat Willy yang sedang disembuhkan Sera.


"Kau kemana saja?" ,ucap Cyrus dengan nada yang terdengar lebih semangat dari dirinya yang tadi.


Mata Cyrus terlihat masih lelah dan hampir terlihat seperti mengantuk, tapi dirinya nampak lebih serius dan kuat dari yang tadi.


"Aku pergi memanggil tuan Flynn dikastil Balradius" ,ucap Cleorah.


Cyrus hanya terdiam dan menoleh kembali kearah Sera.


Sera masih terlihat panik meskipun Flynn berada disampingnya


"Kenapa kakinya tak tumbuh!? Kenapa!? Padahal aku bisa menumbuhkan banyak daging aneh ketika berlatih!? Kenapa!? Kenapa!?" ,ucap Sera yang terlihat hampir menangis.


Sera terlihat tidak ingin merasa bersalah karena Willy....bisa terlihat tangannya bergetar, dan matanya terlihat benar-benar ingin menangis. Sera memang wanita lemah dan punya sensitif besar terhadap rasa bersalah serta tanggung jawab.


Cleorah ingat Sera pernah menangis karena dia tak berhasil menyelamatkan kucing yang tertabrak mobil dijalanan yang bahkan Sera tak kenal.


Tapi tahun berubah dan Sera mulai dewasa tapi tetap saja...dia ingin menangis karena rasa bersalah.


"Tenang nak...tenang.." ,ucap Flynn sambil memegang bahu Sera.


Salah satu perawat didekat Willy kemudian membuka perban yang mereka taruh dikaki Willy secara perlahan.


"T-tuan....bagaimana aku bilang ini?..kakinya sembuh..tapi ka-kakinya tak tumbuh kembali.." ,ucap pelayan tersebut dengan gugup.


Sera menggeser kepalanya kearah pelayan tersebut ketika mendengar ucapannya.


"Aku bisa tumbuhkannya kembali...aku bisa..aku bisa...aku bisa..." ,ucap Sera dengan air mata mulai turun dari matanya.


Lingkaran sihir ditangan Sera mulai menghilang secara perlahan dan pada akhirnya terlihat Sera tak bisa mengeluarkan sihirnya lagi.


Sera bahkan mencoba mengayunkan tangannya tapi sihir tak keluar-keluar.


"Aku harus...aku harus...aku harusnya bisa.." ,ucap Sera sambil terus mengayunkan tangannya mencoba mengeluarkan sihir tapi tak bisa.


"Sudah nak, itu sudah terlambat. Kalau kau mengeluarkan mana mu lebih dari ini maka tanganmu akan mulai rusak" ,ucap Tuan Flynn.


"Aku bisa...aku bisa..aku harusnya bisa..tidak ada kata terlambat bukan? Tidak ada kata terlambat bukan? Bukankah kata terlambat itu hanya dipakai orang bodoh?" ,ucap Sera terlihat panik dan putus asa.


Flynn melihatnya mata biru tuanya melihat Sera, terlihat dirinya hanya cemberut mendengar ucapan Sera.


"Tidak...yang mengatakan kalau 'kata terlambat itu hanya dipakai orang bodoh' adalah orang yang terlalu optimistik...orang bodoh..orang yang tak tahu apa-apa soal dunia ini bekerja" ,ucap Flynn sambil perlahan berjalan menjauh dari pahlawan.


Pahlawan lain terlihat hanya terdiam dan berwajah pahit karena tak bisa mencegah hal ini terjadi.


Suara erangan menyesal mereka terdengar ditelinga Cleorah.


Sedangkan Cyrus....dia hanya terdiam dan melihat kebawah..


Cleorah juga merasakan rasa bersalah dihatinya..


Mereka semua bersalah pada hari itu...membiarkan 3 teman mereka mati...dan 1 menjadi lumpuh..


.


.


.


.


.


.


.


____-_-__


.


.


.


.


"Apakah sudah siap?" ,ucap Perrin dengan memakai armour dari kepala sampai kaki sambil melihat peta dimejanya.


Suara ombak laut terdengar diluar, sedangkan suara orang-orang sibuk sambil menyiapkan sesuatu diluar ruangan Perrin lebih terdengar.


"Sudah siap tuanku" ,ucap prajuritnya.


"Mari lepaskan tentakel kraken" ,ucap Perrin sambil berjalan keluar dengan pedang ditangannya.