
"Ada kambing dengan tanduk besar diantara kumpulan para domba dan kambing tersebut bisa membunuhmu"
-Lem Lemoncloak
Nama dan Berita
Suara barang-barang diangkut terdengar.
*Drukk*
Suara beberapa kotak dimasukkan kekereta Ayah Filda.
"Hanno kau masukkan beberapa kotak racun berburu itu kekereta" ,ucap Ayah Filda duduk diatas kereta sambil tubuhnya berkeringat sedikit kelelahan.
Hanno kemudian mengangkut kotak racun tersebut dan menaikkannya keatas kereta.
Dan kemudian duduk disamping Ayah Filda setelah mengangkut kotak racun keatas kereta.
Bau jalanan tercium,lumpur,ikan,daging,dan beberapa bau bawang juga tercium.
Suara pedagang dan keramaian berjalan terdengar.
Terlihat para prajurit tertawa dan bercanda.
Sedangkan para rakyat biasa berbelanja dan membawa belanjaan mereka.
"Oi nak, kau mau makan roti dan minuman sebelum kita pulang?" ,ucap Ayah Filda sambil menyuguhkan roti dan sekantung air kepada Hanno.
"Ya" ,ucap Hanno sambil mengambil sepotong roti dan memakannya setelah itu meminum air dari kantung airnya.
Terlihat seorang wanita terjatuh dan bawang yang ia beli tergeletak kemana-mana.
Wanita tersebut mencoba memungut bawangnya dan meminta maaf pada keramaian karena menggangggu.
Beberapa menghiraukannya begitu juga dengan Hanno dan Ayah Filda yang tak mau ikut campur.
"Daging-daging! Daging Rusa Raksasa Besar dari Hutan Tangan Besi!" ,teriak salah satu pedagang muda menarik perhatian pelanggannya.
"Heheh"
Ayah Filda kemudian tertawa kecil.
"Daging Rusa Raksasa Besar dari Hutan Tangan Besi? Apa itu salah satu tipuanmu Hanno?" ,tanya Ayah Filda keHanno.
"Ya..." ,ucap Hanno.
"Itu pintar nak, kau bisa dengan mudahnya menipu pedagang pemula dan penjual ini" ,ucap Ayah Filda.
"Itu tidak pintar paman, itu lebih licik" ,ucap Hanno merendahkan diri dan merasa jijik kepada dirinya sendiri.
"Jangan merendah diri, dalam bisnis tidak ada yang namanya curang atau licik yang ada hanya keuntungan" ,ucap Ayah Filda.
*Gluk*Gluk*
Ayah Filda kemudian meminum segelas kantung air.
"Tut..tut..turut..tutu..tutu" ,nyanyian anak kecil terdengar tapi dari suaranya terdengar seperti wanita dewasa yang menyanyikan itu.
"Hai paman!" ,teriak Jean tiba-tiba muncul disamping Ayah Filda.
"Kau selalu saja seperti itu sialan" ,ucap Ayah Filda dengan wajahnya yang membuat cemberut pahit .
"Ayolah paman, kau selalu membosankan seperti itu~~" ,ucap Jean terdengar seperti kekanak-kanakan.
Kemudian ia menoleh keHanno yang berada disamping Ayah Filda dan sedang mengunyah roti.
"Benarkan Hanno?" ,tanya Jean kepada Hanno.
Kemudian Hanno menelan roti dimulutnya dan kemudian berdiri.
"Kapan kita pulang paman?" ,tanya Hanno berdiri sambil menyingkirkan beberapa remah roti dipahanya.
"Ayolah~jangan mengabaikan aku Hanno~" ,ucap Jean dengan lemut.
"Beberapa jam lagi, dari pengalamanku prajurit biasanya kadang lengah memungut 'pajak pergi dari kota' kalau mereka sudah benar-benar bosan dan kelelahan" ,ucap Ayah Filda sambil ikut mengunyah roti dimulutnya.
Hanno kemudian memperhatikan sekitarnya.
Suara langkah kaki keramaian terdengar dimana-mana dan teriakan pedagang juga ikut terdengar.
Kemudian langkah kaki yang terdengar mendekat kearah mereka bertiga.
"Oi kakak! Jangan menghilang kemana-mana!" ,teriak seorang wanita kepada Jean mendekat dengan berlari.
"Haah...haahhh" ,tarik dan hela nafas wanita tersebut dengan cepat karena kelelahan.
Ia kemudian menaruh tangannya dipinggang kemudian menggunakan tangannya yang dibalut sarung tangan untuk mengelap keringat dikepalanya.
"Kupikir aku kehilanganmu kak" ,ucap wanita tersebut.
Wanita tersebut memiliki wajah yang putih pucat.
Seputih tulang dan lebih putih dari apapun yang Ayah Filda pernah lihat.
Sedangkan matanya berwarna ungu bercampur merah darah.
Dan memiliki kantung mata yang cukup tebal diwajahnya, Memperlihatkan jam tidurnya yang buruk.
Rambut hitam bercampur dengan beberapa rambut putih dikepalanya.
Nampaknya rambutnya dicat hitam agar ia sedikit kelihatan normal.
Tapi sayang cat hitam tersebut sudah terlihat memudar.
Wanita tersebut memakai kain yang menutup kepalanya, tapi kain kepala tersebut tanpa sadar terbuka tanpa sepengetahuannya.
Dan wajahnya terlihat oleh Hanno dan Ayah Filda.
Beberapa keramaian juga pasti melihatnya tadi tapi kebanyakan pasti menghiraukannya.
*Pasti ada alasan keramaian menghiraukannya*, pikir Ayah Filda dalam hati.
"Kak jangan menghilang lagi, aku kekelahan nyari sekeliling pasar cuma buat mencarimu" ,ucap Wanita tersebut sambil menoleh keJean.
"Tenang saja kok Charla, aku cuma merasakan muridku tadi jadi aku menghampirinya" ,ucap Jean tersenyum manis seperti anak-anak kewanita yang diketahui bernama Charla tersebut.
"Mu..rid?" ,ucap Charla cukup kebingungan.
Kemudian Charla melihat keHanno dan Ayah Filda.
"Yang mana muridmu?" ,tanya Charla keJean.
"Siapa orang ini? Wanita sialan" ,ucap Ayah Filda dengan kasar.
"Hati-hati mulutmu pak" ,ucap Charla.
"Tenang-tenang" ,ucap Jean tersenyum menenangkan mereka berdua.
Hanno terlihat memandang Charla dengan penasaran, tapi Charla memperhatikannya juga.
"Jean, aku perkenalkan ini muridku Hanno" ,ucap Jean sambil memegang bahu Hanno dan menggoyangkannya, "dan Hanno ini Charla dari keluarga Ohara, adik setengah kandungku."
"Ohara?!" ,ucap Ayah Filda terkejut.
*Ohara? Salah satu keluarga terkuat dan terkaya diseluruh Victa?* ,pikir Ayah Filda.
Hanno sedikit terkejut menyaksikan reaksi Ayah Filda.
"Paman? Boleh aku tanya siapa namamu?" ,ucap Jean tak menghiraukan reaksi Ayah Filda.
"Oi Hanno, ayo pulang sekarang" ,ucap Ayah Filda sambil menarik tangan Hanno untuk pergi.
Tapi Hanno ditahan bahunya oleh Jean.
Bahu Hanno dipegang kuat oleh Jean, cukup kuat sehingga Hanno merasakan rasa sakit diremuk-remuk dibahunya sekarang.
Kekuatan Jean ternyata lebih kuat dari penampilan dan gayanya, dia sekuat dengan seorang pria berotot kalau bisa dibilang.
Tapi disisi lain Ayah Filda terus memegang tangan Hanno dengan kuat.
Kekuatan Ayah Filda cukup kuat, dilatih dengan pengalaman puluhan tahun memegang busur.
Dan pedang jika diklaim oleh Filda yang mengatakan bahwa ayahnya adalah mantan prajurit.
"Apa yang kau lakukan? Biarkan Hanno pergi" ,ucap Ayah Filda dengan suara berat.
"Ayolah kenalkan dirimu pada adikku, aku ingin adikku dan muridku mengenal lebih baik~" ,ucap Jean dengan nada lembut tapi pegangan tangan dibahu Hanno tak selembut suaranya.
"Sialan, Hanno bantu aku lepaskan tangannya dari bahumu" ,ucap Ayah Filda.
Hanno mau melepaskannya tapi nampak tak bisa dan dia hanya ingin netral saat ini diantara keduanya.
"Hanno ayo mari kesini sebentar, aku bisa memberimu beberapa makanan enak~" ,ucap Jean sambil terus memegang dengan kuat bahu Hanno.
"Oi kakak apa yang kau lakukan? Siapa dia? Ayahnya Hanno? Dan om kuharap kau bisa sedikit sopan dihadapan kakakku" ,ucap Charla ikut campur dalam konflik.
"Hanno mari pergi saja, kita tidak ingin mencampuri urusan bangsawan keluarga besar sekarang" ,ucap Ayah Filda.
"Paman boleh aku tanya siapa namamu?" ,ucap Jean dalam nada lembut yang biasa ia pakai.
"Wanita sialan lepaskan bahunya sekarang" ,ucap Ayah Filda dalam suaranya yang lebih kasar.
Ayah Filda kemudian mencoba menarik Hanno lebih kuat tapi gagal.
"Siapa namamu paman?~~" ,ucap Jean dalam nada lembut dan senyuman yang sedikit mengerikan.
"Ck, biarkan dia pergi.." ,ucap Ayah Filda mendecakkan lidahnya.
Ayah Filda mencoba menarik Hanno sekali lagi lebih kuat tapi gagal.
"Namamu paman~" ,ucap Jean dalam senyuman yang lebih mengerikan.
"Guslau...Guslau..tanpa nama belakang, aku tak punya nama keluarga" ,ucap Ayah Filda yang kemudian pasrah dan melepaskan genggaman tangannya dari Hanno.
"Begitu dong~ jadi penurut~" ,ucap Jean tersenyum manis kemudian ia perlahan melepaskan pegangannya dari bahu Hanno.
"Sekarang mari kita berkenalan ya!" ,ucap Jean kepada mereka bertiga.
Beberapa keramaian melihat hal tersebut tapi mereka semua tahu kalau Charla itu dari keluarga Ohara dan menghiraukannya.
Takut kepala mereka berada menjadi pajangan didinding jika menganggu.
Mereka kembali keurusan mereka masing-masing daripada mengurusinya.
.
.
.
_____
.
.
.
Dihadapan Vesius terpampang meja panjang dengan ukuran besar.
Dengan makanan serta buah-buahan diatasnya juga ada ayam bakar kesukaan Vesius berada dipiring diatas meja.
Ia memakan ayam tersebut dengan lahap.
Air anggur mengalir dari mulutnya hingga ketenggorokannya ketika ia meminumnya.
Rasa manis anggur terasa dilidahnya, sedangkan rasa daging dimulut terasa lebih lembut ketika dimakan.
Sedangkan Vesius duduk disamping meja.
Ayahnya Toran duduk didepan meja sambil makan dengan aura menakutkannya yang masih kuat.
Hanya mereka berdua yang ada dimeja panjang ini.
Beberapa pelayan berada dipinggir ruangan menunggu perintah ataupun menuang air anggur kegelas mereka ketika gelas mereka kosong.
Prajurit bodyguard diluar dan beberapa bawahan mereka tidur ditempat yang disediakan untuk mereka dikastil ini.
Hanya ada suara mengunyah Toran dan Vesius.
Vesius sendiri makan dengan lahap dan sempat mengambil sepotong daging sapi dengan kesusahan, karena lemak diperutnya.
Pelayan kemudian melangkah membantunya dan memotong daging sapi dengan pisau baru setelah itu menaruh daging sapi dipiring Vesius.
"Kau sudah terlalu gendut" ,ucap Toran dengan sedikit keras.
"Ayah, makanan ini terlalu banyak untuk dibuang-buang" ,ucap Vesius sambil melempar daging sapi dilidahnya.
"Kupikir 15 tahun dimedan perang akan mengubahmu" ,ucap Toran sambil meminum air anggur kemulutnya, "ternyata tidak"
"Tenang saja ayah, lemak dan kegendutanku takkan mengubah penampilan tampanku" ,ucap Vesius dengan santai.
"Hah! 'Penampilanmu', penampilanmu lebih terlihat ke babi pemalas daripada anak dari darah keluarga Garius" ,ucap Toran menghina.
"Babi pemalas dapat menutupi kegendutan dan kemalasannya dengan cara mengalahkan pejantan lain ayah" ,ucap Vesius membalas.
"Kau bisa menghindari ejekanku dengan kata-kata pintarmu, tapi itu takkan mengubah penampilan pemalasmu" ,ucap Toran dengan kasar.
"Tenang saja masih banyak pria yang menakutiku disana dan wanita yang menyukaiku disana" ,ucap Vesius tersenyum.
"Pria yang menakutimu hanya sedikit, ada banyak rumor aneh tentangmu diluar sana dan aku yakin para wanita diluar sana yang menyukaimu hanya pelacur" ,ucap Toran sambil mengunyah beberapa daging sapi.
"Masih banyak yang ayah belum lihat" ,ucap Vesius yang juga ikut mengunyah daging sapi.
Suara sunyi kemudian tercipta.
Toran dan Vesius menatap satu sama lain.
Toran mencoba meminum anggur dari gelasnya tapi kemudian sadar anggur telah habis.
Kemudian pelayan melangkah kearah Toran dan menuangkan anggur kegelasnya.
"Olivvar" ,ucap Toran kepelayan disebelahnya.
Pelayan tersebut terdiam dan mundur sedikit.
"Ada apa tuan?" ,ucap Olivvar.
"Panggilkan Torrmund untuk datang kesini, aku ingin tahu kalau ada laporan tentang apa akhir-akhir ini diseluruh negeri kita" ,ucap Toran.
"Baik tuan" ,ucap Olivvar.
Kemudian Olivvar menjauh dari mereka berdua dan membuka pintu untuk keluar dari ruang makan tersebut.
"Aku tahu semua muka diruangan ini, aku tahu semua pelayan diistana ini. Beberapa dari mereka telah melayaniku sejak kecil tapi aku belum dengar dari yang satu disudut dilorong masuk sebelah kanan dengan wajah yang sedikit manisnya itu" ,ucap Vesius sambil mengunyah sepotong apel.
"Siapa?" ,tanya Toran.
"Rambut pirang dengan lambang kucing berbaring diarmournya, itu lambang keluarga Basileus, kenapa dia disini?" ,ucap Vesius.
"Oh dia, namanya Gan Harar, ksatria keluarga Basileus yang dikirim tuan muda keluarga Basileus" ,ucap Toran.
"Gan Harar?...ohhh Gan harar..aku tahu dia, dia ada pada dipertempuran Avurrayl saat pemberontakan Aquantania" ,ucap Vesius.
"Kau diberada dipertempuran yang sama dia saat itu tapi kau tak mengenalnya? Sangat jarang kau seperti itu" ,ucap Toran dengan cemberut.
"Saat pertempuran itu dia mukanya lebih dilapisi lumpur dan debu tapi mukanya lebih bersih disini daripada yang aku lihat 6 bulan yang lalu dipemberontakan Aquantania" ,ucap Vesius sambil memakan lagi buah apelnya.
Kemudian Vesius memakan beberapa daging ayam dan mengunyahnya.
Sedangkan Toran makan sedikit daging ayam dengan beberapa tuang air anggur kemulutnya.
Pelayan melangkah kesampingnya.
Vesius kemudian mengambil sapu tangan dari talam besi ditangan pelayan tersebut.
Dan kemudian mengelap sapu tangan kemulutnya serta wajahnya memastikan apa ada sisa makanan diwajahnya.
Toran sendiri sudah selesai juga makan dan dengan cepat mengelap mulutnya dengan sapu tangan tanpa Vesius sadari.
"Lihat makanan ini, bukankah makanan ini terlalu banyak dimasa-masa perang panjang dan perbanditan ini?" ,ucap Vesius.
"Masa-masa perang sebentar lagi akan berakhir dengan menikahnya dirimu dengan wanita Hasral itu" ,ucap Toran.
Vesius tersenyum pahit.
"Biarkan aku memilih wanita yang ingin aku nikahi ayah" ,ucap Vesius.
"Kau harus menikah dengannya atau tak lama lagi negeri kita akan jatuh kekehancuran dan perang yang tak bisa kita menangkan" ,ucap Toran.
"Selalu ada kesempatan ayah dibalik resiko kecil" ,ucap Vesius.
"Kesempatan? Kau tahu seberapa kecil kesempatan itu?! 24.000 pasukan Hasral dengan orang-orang Geralda dibelakang mereka mau memberontak kepada kita!" ,ucap Toran memandang Vesius dengan tatapan tajam.
"Apa kau tak bisa beri aku pilihan untuk wanita-
"Ini kesempatan yang kau bilang Vesius, Kita bisa menghentikan perang ini tanpa harus mengeluarkan darah. Kita bisa menghentikan perang hanya dengan menikah" ,lanjut Toran memotong perkataan Vesius.
"Kenapa tidak keorang lain saja atau bawahan setia keluarga kita?" ,ucap Vesius.
"Jangan kau pikir kau yang paling menderita disini. Akan ada ribuan orang yang menderita ketika kau menolak pernikahan ini" ,ucap Toran melanjutkannya kat
*Trekk*
Suara pintu bergeser terbuka.
"Ma-maafkan aku tuan menganggu makan malam anda" ,ucap seorang pria tua berkumis dengan tubuh sedikit tinggi masuk.
Toran dan Vesius terdiam sebentar.
Sedangkan pria berkumis tersebut dan Olivvar terdiam sebentar ketakutan.
Toran dan Vesius menatap melihat masing-masing.
Kemudian Toran menoleh kembali kepria berkumis tersebut dan Olivvar.
"Masuk Torrmund, aku ingin mendengar laporan diruangan ini sekarang" ,ucap Toran kepria berkumis yang dipanggil Torrmund tersebut.
Torrmund kemudian melangkah masuk sedangkan para pelayan mundur.
"Pelayan keluarlah" ,ucap Vesius memerintahkan para pelayan.
Pelayan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan mereka bertiga disana.
*Trreettttt*
Suara pintu ditutup terdengar.
"Apa ada laporan malam ini? Karena aku ingin tidur nyenyak memastikan" ,ucap Toran sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.
"Ada tuanku, dari musuh kita Dalmatia" ,ucap Torrmund dengan wajah tenang.
"Oh, apa itu?" ,ucap Vesius.
"Putri Voa dari keluarga Gandaria yang berumur 12 telah dimahkotai Ratu Dalmatia."
"Apakah ini berarti pertanda?" ,ucap Vesius.
"Dia hanya boneka, kounsil jari dan tangan yang akan memimpin negeri sesungguhnya, ada lagi yang lain?" ,ucap Toran dengan suara kerasnya
"Ada 39 pahlawan dari dunia lain muncul diDalmatia dan melayani tuan putri Voa" ,ucap Torrmund.
"Pahlawan? Ini nyata? Atau ini hanya gosip belaka?" ,ucap Vesius.
"Ini asli tuan muda, mata-mata kita menginformasikan kita bahwa mereka datang dipemahkotaan tuan putri Voa sebagai penjaganya" ,ucap Torrmund.
"Apa mata-mata itu bisa dipercaya?" ,ucap Toran.
"Tuanku dia telah melayani Garius selama 20 tahun tuanku" ,ucap Torrmund.
"Geralda sudah melayani Victa selama lebih dari 100 tahun sejak penaklukkan jenderal Buraul, tapi mereka berencana memberontak sekarang, jangan berikan aku informasi gosip belaka dari petani" ,ucap Toran dengan keras.
Torrmund sedikit terdiam kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
Vesius melihat hal tersebut.
"Katakan Torrmund" ,ucap Vesius, "katakan apa yang kau mau"
Torrmund melihat Vesius dan kemudian meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakannya.
"Ini bukan gosip belaka dari petani pak, puluhan mata-mata kita dari berbagai Dalmatia melaporkan hal yang sama, berita ini juga sudah menyebar diperbatasan pak" ,ucap Torrmund.
Toran berdiri dan Torrmund dengan ketakutan mundur.
"Kenapa hal ini datang dimasa-masa akhir hidupku..." ,ucap Toran dengan suara berat.
"Kalau itu benar..." ,ucap Vesius.
"Kalau itu benar....39 pahlawan, sama saja dengan 39 orang yang memiliki kekuatan sihir, Victa tak memiliki banyak penyihir kuat lagi" ,ucap Toran dengan sedikit getaran dimulutnya.
"39 pahlawan, apakah ini tipuan? Torrmund apakah ada penyihir yang bisa kita sewa untuk memastikan bahwa mereka adalah pahlawan yang dipanggil dari dunia lain yang asli?" ,ucap Vesius.
"Taitus sudah melakukannya pak, dia menyewa salah satu penyihir dari Cyronia dan sudah memastikannya, setidaknya mereka dipastikan memiliki jaringan mana yang sangat kuat dan energi sihir yang besar" ,ucap Torrmund.
"Ini tidak mungkin, apa penyihir itu bisa dipercaya?" ,ucap Vesius.
Toran menutupi wajahnya dengan tangannya.
Terlihat ia sangat frustasi.
"Penyihir yang disewa itu berasal dari Sekte Matahari, sangat jarang Sekte Matahari menipu pelanggannya lagipula mereka mengirim penyihir mereka yang paling bagus" ,ucap Torrmund.
"Apa ada berita lagi?" ,tanya Toran kepada Torrmund.
"20 penyihir sekte putih menghilang sejak 2 bulan yang lalu ada yang bilang kalau kemungkinan mereka sudah mati, tapi 1 penyihir sekte putih muncul dipemahkotaan tapi tidak 19 yang lainnya" ,ucap Torrmund.
"Sudah jelas 19 penyihir tersebut dijadikan tumbal untuk memanggil pahlawan, tapi tetap saja Dalmatia sekarang memiliki tambahan kekuatan sihir yang banyak" ,ucap Toran.
"Kita tak punya penyihir yang masih kuat diseluruh Victa, kebanyakan tua, kebanyakan bahkan sudah tak bisa menggunakan sihir ataupun mengontrolnya" ,ucap Vesius.
"39 pahlawan, kalau bisa mereka bisa mengulang kembali Pertempuran Mjalnia. Kalau ada 1 dari mereka yang bisa menggunakan sihir besar maka setidaknya 10.000 pasukan veteran kita tak ada tandingannya 1 dari mereka" ,ucap Toran sambil memegang dahinya dengan frustasi.
Pertempuran Mjalnia...suatu hal yang takkan pernah dilupakan seluruh orang Victa.
"Apa berita ini sudah tersebar?" ,ucap Vesius.
"Ya tuanku" ,ucap Torrmund.
"Kita harus mengadakan pernikahanmu secepat mungkin" ,ucap Toran.
"Apa boleh buat, jika tidak maka keluarga Hasral akan mencari kesempatan ini untuk memberontak" ,ucap Vesius dengan tenang sambil meminum segelas anggur.
"Torrmund, apa sudah ada balasan dari Kyrah Hasral menerima usulan pernikahan tersebut?" ,ucap Toran keTorrmund.
"Belum ada pak" ,ucap Torrmund.
"Jika dia berani menolaknya maka dia berani menentang seluruh kekuatan militer kita, dan sudah jelas bahwa berita tentang dia merencanakan pemberontakan itu benar" ,ucap Vesius.
"Kita harus adakan pernikahanmu terlebih dahulu baru setelah itu kita rencanakan hal lain" ,ucap Toran dengan suara yang lebih berat.
"Tuanku, haruskah aku siapkan pernikahan ini segera?" ,ucap Torrmund.
"Tidak, jangan sekarang, lebih baik kita tunggu setelah Kyrah memberitahu kalau dia setuju atau tidak tentang pernikahan ini" ,ucap Vesius.
"Ya...." ,ucap Toran sambil membawa segelas anggur keujung ruangan dan meminumnya, "malam ini kita sebaiknya tidur tenang...Torrmund, panggil pelayan agar membereskan ruangan ini" ,ucapnya dengan suara perintah.
Vesius berdiri dan kemudian mengginggit bibirnya, agak sedikit frustasi dan stres.
"Aku mau tidur" ,ucap Vesius.
"Ya selamat malam.." ,ucap Toran dengan suara berat.
"Besok dan mungkin 1 tahun kedepan akan menjadi tahun yang berat buat kita" ,ucap Vesius sambil membuka pintu ruangan tersebut.
*Trreettttt*