Hannoic War

Hannoic War
Tubrukan Para Raja dan Monster telah dimulai (Prologue Arc 1)



"Terkadang 'Diam' adalah suatu karya seni besar dalam sebuah pembicaraan"


-Marcus Tullius Cicero


Tubrukan Para Raja dan Monster telah dimulai (Prologue Arc 1)


Sebuah kaca dengan berisi mawar yang dibekukan ditaruh diatas tumpukan tanah berisi mayat Filda yang sudah dikubur oleh Hanno.


Ditaruh barang tersebut dengan tangan lembut Hanno yang sudah kehilangan jari kelingkingnya.


Terlihat tangan Hanno dibalut dengan kain yang diberi Charla Ohara waktu dikota Ballerius untuk membalut luka kehilangan kelingkingnya. Tangan Hanno sekarang sedikit kotor dengan debu dan tanah menempel ditangannya.


Disebelah kuburan Filda terdapat kuburan ayah Filda, dikubur dengan bantuan Jean.


Jean hanya berdiri dibelakang Hanno menatapnya.


"Sudah selesai?" ,bertanya Jean.


Hanno tak menjawab apa-apa dan hanya terdiam dirinya sambil terus menatap mawar beku didalam kaca tersebut.


Kemudian Hanno berdiri.


"Kau sudah siap? Tak perlu bawa apa-apa lagikan?" ,bertanya Jean sambil menatap mata Hanno.


"Aku tak punya apa-apa lagi" ,ucap Hanno dengan mata kosongnya.


"Kau akan punya sesuatu" ,ucap Jean sambil memegang tali pemacu kudanya, "dan percaya padaku hal tersebut takkan bisa hilang dalam sekejap dan akan bisa tetap punyamu selamanya"


Jean kemudian menaiki kudanya, suara ringkikan kudanya yang kecil bisa terdengar. Sedangkan pelana kudanya yang dingin bersuara kecil ketika Jean naik diatasnya.


"Apa itu?" ,bertanya Hanno dari bawah melihat kearah Jean yang berada diatas kudanya.


"Tujuan" ,ucap Jean sambil memberi tangan untuk Hanno agar naik keatas kudanya.


.


.


.


.


___-_-____


.


.


.


.


Angin menghembus melewati wajahnya.


Duduk Hasteinn diatas sebuah batu sambil dikelilingi prajurit bodyguard.


Dihadapan Hasteinn terbentang kamp pasukan yang membentang jauh, dengan padang rumput dan hutan mengelilingi kamp pasukan tersebut.


Beberapa sisa-sisa reruntuhan Kastil Maladum terlihat menyatu dengan pasukannya yang menjadikannya tempat istirahat dan mengobrol.


Bahkan beberapa prajurit memainkan batu sisa-sisa Kastil Maladum itu.


Bisa terlihat ribuan pasukan sedang bersiap untuk berangkat dan merapikan kamp.


Hasteinn menatap tajam sebuah Peta dengan puluhan pion diatasnya.


*Srek*Tuk*Srek*Tak*


Suara langkah kaki seseorang memijak reremputan kemudian terdengar mendekati Hasteinn.


"Ya-yang mulia" ,ucap Glent dengan gugup sambil menghadapi semua tatapan prajurit Hasteinn.


Hasteinn kemudian mengangkat tangannya memberi aba-aba kepada prajurit bodyguardnya.


"Berbalik dan menjauh 8 langkah" ,perintah Hasteinn.


Suaranya keras bagaikan orang dewasa, meskipun tubuhnya merupakan anak remaja 15 tahun...


Beban dihatinya lebih berat dari apapun didunia.....dan untuk hal itu dia perlu melampaui umurnya.


Semua prajurit kemudian berbalik dan menjauh 8 langkah dari Hasteinn.


"Hehehehe kau masih terlihat aneh jika berlaku sopan" ,ucap Hasteinn sambil tertawa mengejek Glent.


"Ini gara-gara kau jadi raja sialan" ,ucap Glent sambil mendekat kearah Hasteinn.


"Apa boleh buat Glent, harapan mereka ditaruh dipundakku saat ini" ,ucap Hasteinn sambil melihat kembali petanya.


Matanya berwarna biru laut lebih tajam dan kuat daripada biasanya.


*Dia sudah berubah..* ,pikir Glent.


"Jadi kau sedang merancang strategi seperti seorang jenderal sekarang?" ,bertanya Glent sambil melihat kepeta yang dilihat Hasteinn.


Puluhan pion ditaruh diatasnya.


"Menurutmu berapa banyak pasukan yang kita punya sekarang?" ,ucap Hasteinn.


"35.000? 38.000? 40.000?" ,ucap Glent menebak sambil melihat kearah kamp pasukan yang besar.


"37.500" ,ucap Hasteinn.


"Dekat dengan tebakanku" ,ucap Glent


"Dekat tapi tak mencapainya, semua orang hanya berpikir tentang dekat tapi tak pernah mencapainya" ,ucap Hasteinn.


"Hahhhh...jadi? Apa yang kau mau bicarakan denganku?" ,ucap Glent sambil menghela nafas.


"Aku sudah memerintahkan 8.000 pasukan dipimpin Callix Malibax untuk mengambil kastil Has....rumah kita" ,ucap Hasteinn.


"Kenapa kau tidak sendiri? Itu rumah kita kan? Sedangkan sisa 29.000 pasukannya mau apakan?" ,bertanya Glent kebingungan.


"Tenang saja Glent, kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah membicarakannya dengan bangsawan lain. Aku sudah memberimu tugas" ,ucap Hasteinn.


"Tugas? Apa maksudmu? Aku ini anak pandai besi? Apa yang bisa kukerjakan?" ,ucap Glent makin kebingungan dengan Hasteinn.


"Aku memerintahkan 14.000 pasukan untuk pergi kekastil Fyrr, rumah keluarga Garius dan mengambilnya...sedangkan kau kawan.." ,ucap Hasteinn sambil memegang bahu Glent.


"Apa?" ,ucap Glent.


"Kau akan memimpin 4.000 pasukan garda depan, garda depan di 14.000 pasukan untuk mengambil kastil Fyrr" ,ucap Hasteinn.


"Aku? Aku mengomando pasukan garda depan? Apakah bangsawan lain tak marah?" ,ucap Glent sambil menaikkan alisnya.


"Tenang saja, hal itu tinggal aku yang harus mengurusnya" ,ucap Hasteinn dengan mata biru langitnya.


"Itu tak bagus Hasteinn untuk membuat marah bangsawan diawal perang, jika mereka tak suka denganmu yang menaruh sesuka hati seorang anak pandai besi dari antah berantah untuk mengomando garda depan pasukan mereka. Maka mereka akan membawa pasukan keluarga mereka untuk pulang. Maka pasukanmu akan berkurang bahkan sebelum pertempuran ada" ,ucap Glent dengan tatapan tajam.


"Kau takkan jadi anak pandai besi dari antah berantah lagi" ,ucap Hasteinn sambil tersenyum.


"Hah?" ,gumam Glent.


Kemudian Glent mengambil surat yang ditempelkan didadanya.


Kemudian Glent membuka kertas tersebut.


"Ini...aku tak bisa membaca Hasteinn" ,ucap Glent.


"Ck, emang kau ini" ,ucap Hasteinn, "ini perintah langsung dari Raja Geralda sang Hasteinn dari keluarga Vehan untuk memberi Glent sang anak dari Jolen sebuah tanah disekitar 'Sungai Pedang Angin' yang sebelumnya dimiliki oleh Jahae Mahald sang pengkhianat orang Geralda"


Glent kemudian terdiam sedangkan angin mengibas rambut mereka berdua.


Keduanya terdiam untuk beberapa waktu sedangkan Glent terbengong dan Hasteinn menyeringai.


"Aku...jadi Tuan Sungai Pedang Angin?" ,ucap Glent sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, karena siapa lagi yang bisa kuberi setelah kuambil tanah punya Jahae Mahald. Kau akan berkembang biak dan membuat keluarga baru disana" ,ucap Hasteinn sambil berdiri.


Kemudian Hasteinn menggulung petanya, setelah itu menaruh semua pionnya ditas kulit miliknya.


Dan berjalan menjauh Hasteinn dari Glent yang masih bengong.


Ketika Hasteinn berjalan dirinya kemudian diikuti prajurit penjaganya.


"Hasteinn" ,ucap Glent memanggil temannya yang berjalan menjauh.


Hasteinn kemudian berbalik dan memandangnya.


"Hm?" ,gumam Hasteinn.


"Jika kau mati apa yang akan kulakukan?" ,bertanya Glent.


Tersenyum Hasteinn.


"Kau akan membuat Vella sebagai Ratu Geralda atau mati dalam prosesnya" ,ucapnya sang Raja Geralda sambil berbalik berjalan.


Apa yang Glent lihat sebentar bukan wajah teman tapi wajah seorang raja.


Dengan puluhan prajurit penjaga mengikutinya dibelakang..


.


.


.


___-_-____


.


.


.


Berjalan Vesius dengan pasukan penjaga merah milik ayahnya mengikuti.


Ayahnya akan pergi kemedan perang.


Sementara ayahnya pergi, Toran meninggalkan sebagian bodyguard elitnya yaitu 'pasukan penjaga merah' untuk menjaga Vesius.


Berjalan Vesius mengarah kesebuah kamar diistana pedang perunggu.


Dengan ringingan armour pasukan penjaga merah mengikutinya kemanapun ia berjalan.


Pelayan menunduk lebih rendah kepadanya ketakutan melihat pasukan penjaga merah.


Kemudian Vesius melihat tempat yang ia tujui.


Terlihat 2 prajurit penjaga merah berdiri didepan pintu kamar tersebut.


"Kalian berdua jangan ikut masuk kekamar ini, tunggu didepan kamar" ,perintah Vesius kepada prajurit bodyguardnya sambil berjalan kearah pintu kamar tersebut.


Kemudian dibukakan pintu tersebut oleh salah satu prajurit pasukan penjaga merah.


Ketika pintu tersebut dibuka terlihat ayahnya siap dengan armour lengkap dan pedang disamping pinggangnya.


"Vesius.." ,ucap ayahnya Toran Garius memandang Vesius yang masuk kedalam kamar.


Terlihat ayahnya membakar sebuah kertas surat dililin.


Pintu kemudian ditutup oleh prajurit pasukan penjaga merah.


"Apakah kau tidak akan membagikan rencana terhadap anakmu?" ,ucap Vesius.


"Kau tidak perlu tahu semua itu Vesius, kau hanya perlu kalau Vespasian dengan 39.000 pasukannya ditimur akan menyerang orang Geralda dari ditimur. Sedangkan 12.000 pasukan dari keluarga Gerald akan ikut menyerang Geralda dari barat. Sedangkan sudah ada 21.000 pasukan keluarga Ohara sudah berkumpul dibarat dan aku akan memimpin 15.000 pasukan keluarga Garius untuk menyerang Geralda bersama 12.000 pasukan Gerald" ,ucap Toran Garius sambil menyaksikan api membakar kertas surat ditangannya.


Kemudian Toran berbalik menatap Vesius setelah membakar surat tersebut.


"Apakah kau tak memberiku setidaknya ucapan selamat tinggal?" ,ucap Vesius.


"Tidak perlu, kau hanya perlu melakukan kewajibanmu sebagai pengganti menteri militer selama aku pergi" ,ucap Toran Garius.


"Ibu dan bibi setidaknya memberiku ucapan selamat tinggal ketika aku pergi ketika aku diseret untuk terjun keperang Tyronia olehmu" ,ucap Vesius sambil menatap tajam mata ayahnya.


"Ibu dan bibimu sudah mati, tak perlu lagi membicarakannya" ,ucap Toran Garius ikut menatap tajam wajah anaknya, "aku akan mati kemudian kau akan mati, kita semua akan mati, semua orang akan mati. Tapi hanya satu hal yang perlu kau ketahui Vesius"


Ayahnya kemudian mendekat kearah Vesius dan memegang bahu kanannya, dengan tatapan tajam ayahnya menatap wajah anaknya.


Mata Toran Garius berwarna Hijau kuat, bagaikan pemangsa mencari mangsanya dan aliran menerkam mengalir lebih tajam dan menatap jauh bagaikan burung hantu.


"Ketika kita semua mati yang hanya berharga hanyalah peninggalan keluarga kita, orang yang akan terus membawa bendera burung hantu kita ketika kita semua mati, semua harta dan kekuatan yang akan diwariskan keanak-anak kita. Yang berharga bukan negara,kejayaan,harta,atau kehormatan tapi peninggalan dan keluarga yang bertahan ketika kita berdua mati" ,ucap Toran Garius.


Kemudian Toran Garius memegang pipi anaknya dengan tangan kuat dan kurus miliknya.


"Kita akan membuat keluarga dinasti yang bertahan ribuan tahun ketika semua nama dan kehormatan kita mati, hanya itu yang berharga Vesius...bukan negara atau Republik ini tapi keluarga ini. Aku ingin kau jadi orang yang membuat hal itu terjadi.." ,ucap Toran Garius dengan menatap wajah anaknya lebih tajam.


Kemudian Toran melepas tangannya dari pipi anaknya dan berjalan kearah pintu sambil menenteng pedang dipinggangnya.


"Oh iya" ,ucap Toran sambil memegang pegangan pintu tersebut.


Vesius kemudian menatap ayahnya yang memegang pegangan pintu tersebut.


"Apa semboyan kita?" ,ucap Toran dengan suara berat.


" 'Kewajiban' " ,ucap Vesius.


"Hm, bagus kau mengerti....bukan negaramu..bukan kejayaanmu yang akan diingat semua orang...bukan moral atau ke loyalanmu...tapi keluarga...keluarga yang akan bertahan ratusan tahun kedepan..keluarga yang akan terus kuat bahkan ratusan tahun kedepan setelah kita berdua mati...biarkan kita menghilang disejarah....tapi keluarga kita akan terus memimpin dunia ini..Keluarga Garius.." ,ucap Toran dengan tenggorokannya yang kuat seperti pedang dengan ratusan jenis besi dimasukkan kedalamnya.


*Kau selalu begitu ayah....kau selalu memikirkan keluarga...kau hanya memedulikan dinasti kita dan peninggalanmu setelah mati..dasar..* ,pikir Vesius dengan setengah benci,setengah mewajari,setengah mengagumi,setengah mencintai ayahnya...


"..25 tahun aku mengajarimu....aku ingin kau yang akan mewujudkan impianku..bukan senat,bukan Taivarr,bukan Torrmund,bukan Victa...tapi dirimu..dirimu..aku harap kau paham itu Vesius.." ,ucap Toran dengan suara kuatnya.


"Aku paham ayah" ,ucap Vesius.


*Selalu paham...tapi meskipun aku paham, tapi aku membencinya...* ,pikir Vesius.


"Bagus" ,ucap Toran Garius sambil keluar dari ruangan ini dengan suara ringingan armour prajurit mengikutinya


Kemudian bayangan Ayahnya terlihat berbentuk Burung Hantu yang mencenkram seluruh lantai dibawahnya.


Dan semua prajurit dan Vesius dicenkram olehnya....